10 August 2015

Rusdi dan Filosofi Coming From Behind

Empat tahun lalu, 7 Agustus, Rusdi Bahalwan meninggal dunia. Seorang legenda: sebagai pemain membawa Persebaya Surabaya menjadi juara perserikatan era 1977-1978, dan sebagai pelatih menjuarai Liga Indonesia musim 1996-1997. Dalam sejarah Persebaya, sependek ingatan saya, hanya Jacksen F. Tiago yang berhasil meniru Rusdi, yakni menjuarai Liga Indonesia pada 1996-1997 saat menjadi pemain dan mengangkat trofi yang sama pada 2004 saat melatih tim berjuluk Bajul Ijo ini.

Namun Rusdi memiliki kelebihan dibandingkan Jacksen. Selain berstatus arek Surabaya asli, ia tak hanya menghadirkan trofi di Wisma Persebaya di Karanggayam. Alumnus SMA Negeri 6 Surabaya ini juga mewariskan filosofi sepak bola 'Coming from Behind'.

'Coming from Behind' atau bergerak dari arah belakang adalah taktik sepak bola ofensif yang mengandalkan kecepatan lini kedua untuk menyengat pertahanan lawan. Para pemain harus aktif bergerak dan melakukan 'passing support'. Begitu memberikan umpan, pemain lini kedua harus muncul tiba-tiba dari belakang, memberikan kejutan saat pemain bertahan lawan berkonsentrasi terhadap barisan penyerang.

Taktik 'Coming from Behind' mirip dengan taktik Indra Sjafri di tim nasional Indonesia U19, namun lebih efektif, karena tak senantiasa berputar-putar dengan penguasaan bola layaknya Barcelona. Tiga gol ke gawang Korea Selatan berasal dari kaki Evan Dimas yang jelas-jelas pemain gelandang, yang muncul tiba-tiba saat pemain lawan berkonsentrasi menghadapi pemain-pemain depan timnas. Bedanya, Indra menggunakan formasi 4-3-3 yang mengandalkan trisula di barisan penyerang. Sementara, menurut Yani Fathurrachman, Rusdi menyukai formasi 4-4-2.

Yani adalah kapten Persebaya era 1990-an. Arek asli Jember ini direkrut kuartet pelatih Rusdi Bahalwan, Subodro, Totok Risantono, dan Zulkifli Yasin masuk tim inti Persebaya untuk mengikuti turnamen Piala Jawa Pos 1990. Usianya waktu itu 20 tahun, dan Persebaya tengah meremajakan mesin mereka. Para pemain yang berhasil menjuarai kompetisi perserikatan 1987-1988 seperti I Gde Putu Yasa dan Syamsul Arifin digeser, digantikan pemain-pemain berusia di bawah 23 tahun seperti Winedi Purwito, Yusuf Ekodono, Ibnu Grahan. Satu-satunya pemain tua yang tersisa adalah Usman Hadi.

Rusdi memberikan tugas gelandang pengangkut air alias holding midfielder kepada Yani. Yani mendapat jatah nomor punggung 7, yang sering disebut nomor keramat atau magnificent seven di sejumlah klub di dunia seperti Liverpool dan Manchester United. Di Liverpool, nomor punggung tujuh dikenakan pemain fenomenal seperti Kenny Dalglish, Kevin Keegan, Peter Beardsley, atau Luis Suarez. Sementara di United, ini nomor punggung milik Cristiano Ronaldo, George Best, David Beckham, atau Angel di Maria.

Yani masih ingat benar bagaimana Rusdi mewajibkan penguasaan bola dalam filosofi 'Coming from Behind'. "Tiap hari latihan possesion minimal 30 menit, minimal harus 150 kali sentuhan bola. Pemain tidak boleh cepat kehilangan bola," katanya, mengenang.

Yani memahami benar betapa beratnya tugas gelandang bertahan. "Gelandang bertahan harus punya power dan punya jiwa perusak. Begitu bola kena lawan, saya kejar, saya cut. Kalau main dari belakang (zona pertahanan), saya yang mengelola. Kalau bek kanan dan kiri naik membantu serangan, saya bergeser (menutup area yang ditinggalkan)," katanya.

Xabi Alonso, maestro lapangan tengah yang bermain untuk Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Munchen, mengatakan, seorang gelandang bertahan harus bersabar. Di matanya, seorang gelandang bertahan adalah penghubung antara lini belakang dan lini serang. Ia bertugas membuat permainan mengalir dengan memainkan banyak operan dan menjaga keteraturan di lapangan tengah.

"Peran saya adalah membuat membuat struktur dan keseimbangan dalam permainan dan membuat rekan setim bisa memaksimalkannya. Saya mencoba membuka ruang saat rekan satu tim membutuhkannya untuk mencetak gol. Saya mencoba menutup ruang yang bisa dimanfaatkan lawan di belakang," kata Xabi dalam wawancara dengan Fifa.com.

Xabi sama seperti Yani. "Kalau stopper minggir, saya ke tengah. Tidak saling mengandalkan. Yang terdekat dengan bola, itu yang mengejar bola," kata Yani.

Posisi dirijen orkestra pengatur serangan diserahkan sepenuhnya kepada Winedi Purwito dan Ibnu Grahan. "Posisi saya agak ke dalam, di belakang dua pemain itu. Saya bagian mengantisipasi serangan lawan dan melakukan serangan balik, melindungi dua bek tengah. Saya bekerjasama dan saling mengisi dengan stoper," kenang Yani.

Filosofi Rusdi mirip filosofi 'Pass and Move' Liverpool yang kuat di era 1970 dan 1980. Kekuatan gaya 'Pass and Move' ala Liverpool dan 'Coming from Behind' adalah pada kecepatan yang memunculkan banyak opsi dalam serangan dan operan lebih variatif. Tak boleh ada pemain yang berjalan santai. Semua harus berinisiatif mencari bola dan memberikan operan. "Tunggu teman muncul, langsung kasih bola. Kalau teman diikuti pemain lawan, kita bawa sendiri, cari ruang kosong," kata Yani.

Konsekuensinya taktik ini mengharuskan tim memiliki pemain dengan kemampuan hebat dalam mengontrol dan bergerak dengan bola. Baik gaya 'Pass and Move' dan 'Coming from Behind' membutuhkan pemain-pemain yang cepat dalam bergerak dan mengumpan. Jika terlampau lambat, tim lawan bisa cepat membangun area pertahanan.

"Pass and Move. This style is quite obvious really, the whole idea of controlling the ball well, finding a pass and then always moving to a different angle or space, never standing still," kata Paul Barratt, salah seorang mantan pemain Liverpool yang melatih di Akademi Liverpool di Indonesia.

Klub Jember United yang dilatih Yani Fathurrachman berutang budi kepada almarhum Rusdi. Gaya permainan yang menjadi karakter dan ciri khas sepak bola menyerang Rusdi diterapkan sangat apik oleh tim senior dan muda Jember United. Tiga trofi utama diraih Jember United dalam usia empat tahun dengan menggunakan filosofi sepak bola ini. Bukan kebetulan jika kemudian Jember United memiliki pemain-pemain yang cepat di tim senior maupun tim muda. Sebut saja Paulo Sitanggang dan Faisol Yunus. Paulo kini bermain untuk Barito Putra.

Yani mengadaptasi apa yang dilakukan Rusdi di Persebaya dulu, yakni menggembleng mental pemain. Pola 'Coming from Behind' membutuhkan semangat juang kuat. "Rusdi kalau briefing untuk menyemangati anak buahnya sangat berkesan. Masuk ke kami: 'Ayo kalian bisa, kerahkan semua apa yang kita latih. Jangan setengah-setengah, kita bergerak dengan bola. Jangan takut salah, jangan takut dimarahi, lepas terus kayak kita latihan," kata Yani.

Menurut Yani setiap ucapan Rusdi masuk ke hati pemain. Jika ada pemain yang tak bermain bagus, Rusdi tak pernah memarahi habis-habisan, namun cukup diajak bicara hati ke hati. "Kalian jangan merasa pintar, masih ada yang lebih pintar. Kalian harus belajar. Saya ingat omongan Rusdi itu. Kalian juara, tahun depan belum tentu juara. sampai juara. harus belajar lagi. Latihan tambah lagi. Jangan mudah puas."

Penulis buku The Manager: Inside the Minds of Football's Leaders, Mike Carson, menyebut pemimpin yang hebat memiliki pola pikir yang ingin selalu belajar. Ia menyitir kata-kata Brendan Rodgers, pelatih Liverpool: 'Tetap belajar. Saya makin tua, tapi para pemain akan selalu muda. Demi kepentingan mereka, saya tak boleh hanya diam'.

Filosofi lain Rusdi Bahalwan adalah sepak bola relijiusnya. Yani belajar banyak tentang bagaimana 'sepak bola dan ketakwaan' darinya.Semasa hidup, Rusdi dikenal sebagai sosok yang disiplin. Bersama Subodro, dia berhasil menciptakan kebersamaan di tubuh Persebaya, sehingga menjadikan klub berjuluk Bajul Ijo ini ditakuti tim lain. "Ibarat bapak dan anak, beliau selalu siap mendampingi," kata Yani.

Yani paham, hedonisme sangat merusak pemain sepak bola dan pada gilirannya merusak tim. Semua pelatih kelas dunia berusaha menjaga anak-anak asuhnya agar tak jatuh dalam godaan kehidupan glamor dan instan dunia sepak bola. Manajer legendaris Liverpool Bill Shankly dalam otobiografinya mengingatkan betapa hedonisme bisa membuat pemain menjadi lemah. "Terlalu banyak makan dan tidur bisa sama buruknya dengan terlalu banyak minum, terlalu banyak merokok, terlalu banyak begadang, dan terlalu banyak berhubungan seks," katanya.

Rusdi tak hanya mengajarkan sepak bola, tapi juga menciptakan kekompakan dan kebersamaan dengan jalan salat berjamaah. Setiap magrib, setelah salat, dia memberikan dakwah dan siraman rohani kepada anak-anak asuhnya. Setiap ada pemusatan latihan, setelah latihan sore dan mandi, para pemain segera ke musola.

Ada kalanya Rusdi menyuruh salah satu pemain untuk mengimami salat magrib dan isyak. Mereka juga makan malam bersama-sama. "Saya mendapat ilmu yang besar sekali manfaatnya untuk hidup selama dilatih Pak Rusdi. Pengalaman di lapangan oke, siraman rohani oke," kata Yani.

Perpaduan sepak bola dan agama ini diterapkan Yani di Jember United. Setiap kali Jember United bertanding, di mana pun, ia selalu membawa anak asuhnya ke musola saat magrib tiba. "Latihan jam lima sore, habis mandi langsung ke musola," katanya.

Sang tukang gedor Sabeq Fahmi Fahrezy mendapat tugas sebagai tukang azan. Yani menjadi imam salat dan memimpin doa bersama serta salawat. Di Jakarta, sebelum pertandingan final Divisi III melawan PS Gianyar, tim Jember United menginap di Taman Mini Indonesia Indah. "Di sana ada musola besar, dan kami selalu salat jamaah di situ saat magrib dan isyak," kata Yani.

Salat berjamaah memberikan ketenangan mental kepada para pemain Jember United. Saat final, mereka mengempaskan PS Gianyar 2-0, melalui gol dari kaki Galuh Triatma Putra. Jember mengakhiri puasa gelar sejak 2002. Gelar sepak bola bergengsi tingkat nasional akhirnya mampir ke Jember pada 2013.

Andai masih hidup dan menyaksikan, Rusdi mungkin akan tersenyum: apa yang diwariskannya telah membawa kegembiraan dan kebanggaan pada sebuah kota yang terletak sekitar 200 kilometer dari kota kelahirannya. Rusdi seperti Shankly: He Made People Happy. [wir]

Baca Selengkapnya..

08 August 2015

Hikayat Seorang Bupati, 10 Tahun, 300 Kilometer

Gerak jalan Tanggul-Jember Tradisional 30 kilometer yang diselenggarakan pada Sabtu (8/8/2015) adalah momentum terakhir bagi keikutsertaan Bupati Jember MZA Djalal. Djalal mengakhiri jabatannya pada September mendatang, setelah memimpin Jember selama dua periode, 2005-2010 dan 2010-2015. Selama sepuluh tahun, tak sekalipun Djalal absen mengikuti Tajemtra.

Djalal tak hanya membuka acara seremonial. Setiap tahun, ia juga ikut berjalan sejauh 30 kilometer dari alun-alun Kecamatan Tanggul hingga alun-alun pusat kota Jember. Jika ditotal, pria asli Jember ini sudah berjalan kaki menempuh 300 kilometer. Sebagai perbandingan: jarak Banyuwangi dengan Surabaya adalah 272 kilometer.

Sejumlah orang dekatnya bercerita, jika Djalal berjalan kaki dengan kecepatan relatif konstan. Bahkan, beberapa kepala satuan kerja yang mencoba setia mendampinginya sampai garis akhir akhirnya angkat tangan. Mereka menyerah dan memilih berhenti pada kilometer tertentu.

Djalal hanya berhenti cukup lama untuk menunaikan salat Asar di masjid tepi jalan. Dalam suatu kesempatan, ia memang meminta kepada semua masjid untuk buka selama pelaksanaan Tajemtra dan menjadi tempat untuk salat. "Jangan sampai salat dilupakan," katanya beberapa tahun lalu.

Stamina Djalal diakui Pimpinan Kantor Bank Indonesia Perwakilan Jember Achmad Bunyamin. "Saya jadi ingin tahu apa rahasia stamina beliau," katanya.

Usia Djalal hendak memasuki kepala enam. Namun, ia masih giat mengikuti kegiatan olahraga fisik seperti bersepeda dan bersepeda motor trail melintasi alam. Bahkan ia pernah bersepeda angin dari Jember menuju Madura sejauh 400 kilometer. Sesuatu yang membuat Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengacungkan jempol.

Saat hendak menerima penghargaan sebagai salah satu tokoh olahraga dari Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Timur, Djalal memilih menuju Surabaya dengan bersepeda angin.

Djalal adalah sedikit kepala daerah yang keranjingan olahraga, dalam arti sebenarnya. Ia pernah menggelontorkan Rp 5 miliar untuk klub sepak bola Persid Jember. Namun ia kecewa setelah pengelolaan manajemen Persid tak berjalan bagus. Bahkan pemain sempat berunjukrasa karena terlambat digaji.

Saat Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ), sebuah agenda pariwisata tahunan pada 2008, Djalal membiayai pendirian klub bola voli Jember Pemkab Indomaret dan menjadikan Jember tuan rumah kompetisi Proliga. Tujuannya: mempromosikan Jember, melalui siaran langsung pertandingan bola voli di televisi.

Kegilaan Djalal terhadap olahraga sempat diprotes pendukung Persid Jember. Ini gara-gara ia menyulap Stadion Notohadinegoro menjadi sirkuit motokros. Rumput lapangan sepak bola rusak, dan Persid terpaksa menjalani laga kandang kompetisi sepak bola Divisi I di Lumajang.

Namun Djalal membayar impas kesalahannya kepada suporter dengan mendirikan stadion baru di Kecamatan Ajung berkapasitas 20 ribu penonton. Suporter yang tadinya kecewa dan antipati pun berbalik arah dan mengusulkan agar stadion itu dinamakan MZA Djalal Stadium.

Jelang lengser, Djalal menginstruksikan agar Jember menjadi sentra pembinaan sepak bola. Ia terilhami dengan sukses klub Jember United menjuarai turnamen yunior Piala Suratin. Para pemain sepak bola berprestasi seperti Sabeq Fahmi Fachrezy, Paulo Sitanggang, dan Cakra Yudha mendapat beasiswa untuk kuliah ke perguruan tinggi negeri di Jember.

Hari ini, Tajemtra terakhir bagi seorang bupati bernama MZA Djalal. Siapa bupati Jember kelak yang bakal berjalan 30 kilometer setiap tahun seperti dia? Siapa pemimpin daerah Jember yang kelak akan menjaga api olahraga di kota ini?

Waktu akan menjawab. Kepala daerah datang dan pergi. Namun Tajemtra tak boleh mati. Ini salah satu simbol bahwa olahraga, rakyat, dan peran negara hadir dalam satu sinergi. Begitulah. (wir)

Baca Selengkapnya..

26 July 2015

Raheem Sterling dan Paulo Sitanggang

Raheem Shaquille Sterling, Liverpool, dan Manchester City mengingatkan saya kepada Paulo Oktavianus Sitanggang, Jember United, dan Barito Putra. Raheem dan Paulo sama-sama pemain belia dan memperkuat tim nasional negara masing-masing. Mereka juga sempat membuat heboh dengan operasi transfer yang kontroversial.

Raheem dibesarkan di London, ibu kota Inggris, di bawah naungan akademi klub Queens Park Rangers. Usianya sebelas tahun waktu itu. Dalam waktu tiga tahun, ia mendapat kesempatan bermain di tim U18 klub tersebut. Pemandu bakat Liverpool, Mark Anderson, terpesona melihat penampilan Raheem saat QPR menghadapi Crystal Palace dalam sebuah pertandingan yunior.

Liverpool harus bersaing dengan klub-klub besar Liga Inggris untuk mendapatkan Raheem, seperti Chelsea, Arsenal, dan Manchester City. Namun The Reds bertindak cepat. Manajemen klub mengundang Raheem dan orang tuanya untuk datang ke Anfield dan mendapat kursi terbaik menyaksikan sebuah pertandingan Liverpool. Raheem dan orang tuanya jatuh hati dengan perlakuan manajemen klub. Selanjutnya mereka boyongan ke Merseyside.

Tak ada klub besar yang melirik Paulo awalnya, kendati talenta besarnya sudah terlihat. Lahir dari pasangan M. Sitanggang dan E. Silalahi di Medan, 17 Oktober 1995, semula Paulo berlatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) Kurnia, Medan, dan pindah ke SSB Surya Putra Mariendal Medan.

Tahun 2011, Paulo terpilih sebagai salah satu pemain muda yang bisa mengikuti AC Milan Junior Camp. Sayang, ia cedera jelang dikirim ke Milan. Namun, pelatih Indra Sjafri tetap merekrutnya untuk memperkuat tim nasional Indonesia U17. Di sanalah, Paulo berkenalan dengan Sabeq Fahmi Fachrezy, pemain asal Jember, yang belakangan menjadi 'mak comblang' untuk bergabung dengan Jember United. "Sabeq bilang ke saya ada gelandang bagus. Saya tertarik dan ketemu anak itu (Paulo). Rupanya kami satu hati, dan dia mau ke Jember," kata Manajer Jember United Sirajuddin.

Paulo pindah ke Jember United dalam usia 16 tahun. Sirajuddin tak menawarkan fasilitas mewah kepada Paulo. Ia hanya menemui keluarga Paulo dan melakukan pendekatan kekeluargaan. Salah satunya memastikan agar Paulo tetap bersekolah. "Paulo jadi anak angkat saya. Namanya masuk dalam kartu keluarga saya. Orang tuanya memang berharap demikian. Saya membiayai dia sekolah," kata Sirajuddin.

Raheem dan Paulo pemain itu sama-sama memiliki kelincahan. Mereka gesit dan pekerja keras. Tak butuh waktu lama, keduanya menjadi bagian dari tim inti klub masing-masing. Bahkan, Paulo menjadi bagian dari tim yang mengantarkan Jember United menjuarai Divisi III 2012.

Seperti halnya Raheem pada masa-masa awal bersama Liverpool, Paulo sangat menghormati manajemen Jember United. "Manajemen bagus. Pak Sirajuddin lebih dari manajer, seperti bapak sendiri. Saya kalau ada (keperluan) apa-apa (berbicara) ke dia juga," katanya, terkesan dengan suasana kekeluargaan di antara para pemain Jember United.

Paulo bahkan mendapat penghargaan tinggi dari Bupati Jember MZA Djalal, karena prestasinya di tim nasional U19. Sang kepala daerah memberikan beasiswa kepadanya untuk bisa kuliah di perguruan tinggi manapun di Jember. "Kalau dikasih dalam bentuk uang kan cepat habis. Saya sudah kontak orang tua Paulo di Medan, Sumatra Utara, ternyata alhamdulillah mereka setuju, kuliah memang jauh lebih penting," kata Sirajuddin.

Paulo diperlakukan istimewa di Jember. Ia sudah dianggap berjasa ikut memunculkan nama Jember di pentas sepak bola nasional. Besarnya sambutan untuk Paulo bisa dilihat saat peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2013.

Usai upacara Paulo menjadi rebutan foto bareng. Tak hanya siswi-siswi peserta upacara, pejabat-pejabat pun berfoto bersama dengan Paulo. Paulo ditarik ke sana kemari oleh para pelajar itu. Dari alun-alun, Sabeq, Paulo, dan pemain Jember United lainnya yang menjadi kapten tim Jawa Timur untuk Pekan Olahraga Nasional Cakra Yudha, diarak keliling kota.

Komite Nasional Pemuda Indonesia menggandeng Paulo dan Sabeq memimpin pembacaan 'Sumpah Pemuda Antinarkoba', dalam acara sosialisasi antinarkoba di Hotel Aston, Kamis, 7 November 2013. Acara ini diikuti puluhan perwakilan pelajar di Jember. Paulo mengaku senang hidup di Jember. "Di Jember saya bilang masih banyak baiknya. Daripada Medan, lebih enakan di Jember," katanya.

Sebagaimana halnya kisah Raheem dan Liverpool, kisah cinta Paulo dengan Jember dan Jember United tak bertahan lama. Raheem dan Paulo sama-sama memikat klub besar lain, karena tampil cemerlang, terutama saat di tim nasional. Namun di sini pula perbedaan antara Raheem dan Paulo, dan boleh jadi secara umum juga perbedaan pemain-pemain sepak bola di Inggris dan Indonesia.

Hubungan pemain dengan klub di Indonesia sangat tidak stabil. Program 'Bapak Asuh' bagi para pemain timnas U19 yang digagas Badan Tim Nasional PSSI pada medio akhir 2013, membuat klub Mitra Kutai Kartanegara yang bermarkas di Tenggarong menawarkan diri untuk menaungi Paulo. Padahal saat itu Paulo tercatat menjadi pemain Jember United.

Bupati Djalal menyatakan keberatan jika Paulo pindah ke Mitra. "Kita pertahankanlah Paulo. Kita kan sudah bekerjasama dan memberikan pembinaan," katanya kepada manajemen Jember United.

Namun diam-diam Paulo memang sudah tak betah di Jember United. Medio 2014, ia memutuskan menerima tawaran Barito Putra, dan proses kepindahannya menghadirkan saga panas di media massa. Semua berawal saat sebuah media massa olah raga terbitan Jakarta memberitakan bahwa Barito sudah menjalin kesepakatan jangka panjang dengan Paulo.

CEO Barito Putra, Hasnuryadi Sulaiman membenarkan adanya ikatan kontrak dengan Paulo selama tiga tahun. Ia mengatakan, rekrutmen Paulo sesuai kebutuhan tim berjuluk Seribu Sungai itu. "Kami melihat tipe dan karakter dia cocok dengan pola permainan Barito," katanya.

Di Inggris, saga panas terjadi setelah Raheem menolak menandatangani perpanjangan kontrak dengan Liverpool. Tawaran transfer dari sejumlah klub besar Inggris pun mampir ke markas The Reds. Manajemen Liverpool bersikeras menampik semua tawaran transfer di bawah 50 juta poundsterling atau setara kurang lebih Rp 1 triliun rupiah. Raheem pun tak bisa semaunya pindah klub, karena masih terikat kontrak dua tahun dengan The Reds.

Kontroversi terjadi karena pernyataan-pernyataan agen Raheem, Aidy Ward, yang cenderung meremehkan Liverpool. Raheem juga tak mendinginkan situasi dengan melontarkan pernyataan kontroversial di media massa dalam suatu kesempatan yang ditafsirkan fans sebagai pelecehan. Mendadak Raheem menjadi musuh bersama fans Liverpool.

Proses kepindahan Paulo ke Barito Putra juga menghadirkan kontroversi di media massa, namun lebih dikarenakan amarah manajemen Jember United akibat merasa ditelikung. "Saya tidak tahu bagaimana ceritanya. Tapi saya tegaskan, Paulo masih bermain untuk Jember United. Saya belum pernah mengeluarkan surat pindah untuk dia. Paulo bergabung dengan Jember United sejak 2012 sampai 2017," kata Sirajuddin.

Sirajuddin tak mau ambil pusing dengan klaim-klaim sepihak atas Paulo di media massa. "Kalau ada yang mengaku, biar saja. Kami sudah punya pengacara. Kalau Paulo dimainkan di luar Jember United dan tim nasional, kami akan tuntut secara hukum," katanya.

Sirajuddin mengingatkan semua klub yang berminat merekrut Paulo untuk mengikuti etika. "Paling tidak, klub yang berminat komunikasi dululah sama kami. Anaknya (Paulo) juga harus pamit, kalau mau mencari klub yang lebih baik. Terakhir, tentu masalah administrasi diikuti," katanya.

Manajemen Jember United siap melepas Paulo dengan banderol Rp 750 juta. Tidak sepadan dengan banderol Raheem tentu saja. Namun untuk pemain yang baru berusia 19 tahun di Indonesia, angka itu terhitung mahal. "Paulo ini pemain timnas. Pantas dihargai," kata Sirajuddin.

Menurut Sirajuddin, 50 persen nilai transfer itu akan diberikan kepada Paulo, 30 persen untuk Jember United, dan 20 persen untuk pelatih yang selama ini membinanya. "Klub sih ambil pemain gampang. Tapi membina pemain itu tidak gampang. Apalagi Paulo selama ini ikut sama saya. Sekolah juga saya yang menanggung. Saya minta agar klub-klub di luar Jember United tidak ada yang mengklaim. Jangan ulangi lagi," kata Sirajuddin.

Raheem punya agen bernama Aidy Ward untuk mengurusi proses kepindahan, tanda tangan kontrak dan sebagainya. Paulo tak punya siapa-siapa. Di tengah kontroversi itu, Sabtu, 1 November 2014, ia datang ke markas Jember United dengan didampingi seorang kawan untuk menemui Sirajuddin dan pelatih Yani Fathurrachman. Mereka mendiskusikan kepindahan Paulo ke Barito.

Di sana, Paulo menjelaskan kepada Sirajuddin, kontak dengan pengurus Barito terjadi di sebuah hotel di Jogjakarta beberapa waktu lalu. "Kebetulan saya ketemu di hotel. Lalu bicara-bicara," katanya. Di Inggris, klub yang menjalin kontak diam-diam dengan pemain klub lain bisa kena sanksi. Namun tidak dengan di Indonesia.

Sirajuddin tak akan menghalang-halangi pengembangan karir Paulo. Ia juga menyambut baik niat Barito jika mau menjalin komunikasi. "Kalau dia punya niat baik, kami welcome. Kalau karir Paulo lebih baik (di Barito) kami lepas, tapi yang prosedural. Saya ini pengurus PSSI Jatim. Kalau pemain dilepas dengan cara begitu (tidak prosedural) kan tidak enak," kata Sirajuddin.

Tidak ada hasil kongrit dalam pertemuan Paulo dengan pengurus Jember United. Sirajuddin kembali menegaskan klub mana pun mengambil Paulo dengan syarat. "Asal klubnya sehat: sehat secara manajemen, sehat secara keuangan, dan sehat secara politik," katanya.

Di Inggris, saga Raheem berakhir gembira bagi setiap orang. Manchester City bersedia menebus 49 juta pound untuk merekrut sang pemain. Liverpool punya dana segar untuk membeli pemain baru. Aidy, tentu saja, semakin kaya dengan sekian persen nilai transfer Raheem.

Di Jember, saga berakhir setelah perwakilan Barito Putra datang ke Jember. Semua diselesaikan secara kekeluargaan, khas Indonesia. Di hadapan Bupati Djalal, dalam acara penyambutan tim Jember United yang menjuarai Piala Suratin, di Pendapa Wahyawibawagraha, Selasa, 16 Desember 2014, Sirajuddin akhirnya secara terbuka mengungkapkan kepindahan Paulo ke Barito Putra.

"Paulo sudah mengikat kontrak dengan Barito. Kami lepas dengan biaya administrasi. Tak ada transfer, karena Paulo masih pemain amatir. Tapi biaya administrasinya Rp 100 juta. Kami tak menghalangi dia. Anak kita itu sudah berjasa, tak bisa bertahan di Jember United, ya kami lepas saja," kata Sirajuddin. [wir]

Baca Selengkapnya..

16 July 2015

Imagined Persebaya: Bukan Sekadar Sejarah Sepakbola

oleh: Jojo Raharjo

Persebaya yang dilahirkan 18 Juni 1927 boleh saja (sementara) tiarap, tapi buku ini membuktikan kebesaran perjalanan klub kebanggaan Arek Suroboyo yang fanatisme ‘pemiliknya’ bahkan melebihi hooligan Inggris.

Oryza Ardyansyah Wirawan dikaruniai bakat menulis dan memori yang kuat. Selain itu, ia punya kelebihan khusus: menjaga dokumentasi tulisannya agar tak terserak diterbangkan waktu. Maka, lahirlah buku: ‘Imagined Persebaya’ (Persebaya, Bonek, dan Sepakbola Indonesia).

Diterbitkan oleh Litera pada 2015, buku 322 halaman membendel 63 tulisan jurnalis yang sehari-hari bekerja di situs Beritajatim.com ini. Dengan kreatif, kumpulan artikel itu dibaginya dalam lima bab bertajuk You Can’t Buy History, Bonek (Bin Chelsea), Rivalitas, Battle of Surabaya, serta Hikayat Sepakbola Indonesia. Di lembar awal masing-masing bab ditandainya dengan lima huruf khusus: B, O, N, E, dan K.

Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang melakukan penelitian tentang fans sepakbola di Indonesia, melukiskan dengan tepat dalam pengantar ‘Imagined Persebaya’, “Buku ini adalah artefak tentang Persebaya, bonek, dan sepakbola Indonesia. Sejarah sepakbola adalah sejarah Persebaya. Pun demikian, Bonek juga sejarah penting dalam sejarah perkembangan sepakbola di Indonesia.”

Judul ‘Imagined Persebaya’ dipilih karena merujuk pernyataan peneliti sosial Benedict Anderson bahwa Indonesia merupakan komunitas yang dibayangkan (imagined community). Senada dengan Anderson, Persebaya lebih dari sebuah klub, namun imagined community bagi para fansnya. Bagi Bonek, kecintaan pada Persebaya bak api nan tak kunjung padam, imajinasi yang mempertautkan mereka sebagai saudara, meski mungkin tak pernah bertemu, dan bahkan tidak pula berasal dari kota atau provinsi yang sama.

Buku ini menulis, sebutan Bonek pendukung Persebaya ternyata bukan hanya mereka yang dilahirkan atau pernah tinggal di Surabaya, tapi juga menjadi milik penggemar Persebaya di Pasuruan, Jember, bahkan kota-kota di Jawa Tengah, luar Jawa hingga mancanegara. Slogan Bonek ‘No leader just together’ (tiada pemimpin kecuali kebersamaan) dan ‘Tidak ada Bonek yang paling Bonek’ menjadi pemersatu, sekaligus menunjukkan karakter dan sifat egaliter khas budaya Arek.

Bercerita langsung

Tidak hanya berisi opini, buku ini menjadi ‘basah’ karena liputan langsung. Semisal kisah Oryza yang hadir menonton Liga Primer Indonesia mempertemukan Persebaya melawan Persija di awal Juni 2012. Tak direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya menonton pertandingan itu, pilihannya membawa kepada sejarah: bentrok suporter dan polisi berhias gas air mata. Tapi, ‘keikutsertaan’-nya dalam peristiwa ini membuka mata pada sudut pandang lain. Betapa Bonek tak lagi menjadi momok menakutkan bagi warga Tambaksari dan sekitarnya. Warung-warung dan pedagang makanan tetap buka, bahkan saat kerusuhan menjalar ke luar stadion.

Sebagaimana buku ini mengutip lagu Working Class Hero – nya John Lennon, Bonek dianggap sebagai representasi kelas pekerja yang butuh hiburan sehabis penat bekerja sepekan. Persis seperti penggemar sepakbola di Inggris yang awalnya didominasi buruh kasar macam kuli pelabuhan Liverpool dan Manchester. Tak beda dengan penggila klub-klub di Sao Paulo di Brasil, buruh-buruh kereta api di Rusia pendukung Lokomotive Moskow, dan pendukung ideologis Internazionale di Milan yang berasal dari kaum sayap sosialis anti kapitalis.

Oryza, jurnalis pemenang penghargaan Prapanca 2010 –penghargaan tertinggi untuk jurnalis Jawa Timur, saat itu dengan tulisan berseri Hikayat Bank Gakin, meliuk-liuk dengan kata-kata dan bagaimana ia mendokumentasikan sejarah Persebaya, Bonek serta keprihatinan terhadap sepakbola Indonesia. Bukan tak ada kelemahan tentunya.

Soal akurasi, misalnya, pada tulisan ’10 Tim Kontroversial dan Tak Disukai di Indonesia’, di urutan pertama ayah dua putera ini memilih Timnas Pra Olimpiade 1988. Tim itu dianggap mengundang kehebohan saat empat pemainnya diketahui terlibat suap di Hongkong dan Tokyo. “… Mereka adalah Noach Maryen, Elly Idris, Bambang Nurdiansyah, dan Louis Mahodim. Mereka menjadi ajang cemoohan, dan kasus ini menjadi kasus kesekian di mana penyuapan terjadi dalam sepakbola Indonesia di era 1970 dan 1980-an…” Di era teknologi seperti ini, tak susah untuk mengecek bahwa ejaan nama yang benar ialah Noah Meriem dan Louis Mohidin.

Buku ini layak menjadi salah satu referensi dan koleksi terbaik yang ada di perpustakaan pribadi mereka yang mengaku sebagai penggemar sepakbola Indonesia. Teruslah menulis, Oryza, dan mengabadikan sejarah sepak bola dengan filosofi kehidupan di dalamnya… [jurnalis]

Baca Selengkapnya..

06 April 2015

Cerita dari Gardu Timur

Saya bertemu dengan suami-istri Suyono, di Dusun Gardu Timur, Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada suatu siang. Saya menikmati durian di dusun yang berdekatan dengan Gunung Raung itu.

Dari mereka, saya tahu, loyalitas dalam politik tak selamanya terkait urusan duit. Suami-istri Suyono adalah orang terpandang di desa itu. Mereka kaya raya dari hasil berjualan kayu mahoni, mindi, dan jati olahan untuk bahan bangunan.

Mereka memulai bisnis dari berjualan kayu berukuran kecil. Mereka pernah mengalami kerugian besar karena dirampok. Namun sebagaimana halnya kisah-kisah klise di sisi dunia manapun, keuletan membawa mereka sukses.

Sukses berbisnis kayu tak mengubah penampilan suami-istri itu. Pakaian dan cara bicara mereka jauh dari kesan sosok warga desa yang memiliki usaha dengan penghasilan Rp 400 juta setiap tahun. Sang suami lebih kalem, sang istri lebih ceplas-ceplos jika bicara.

Pernah suatu kali Nyonya Suyono pergi ke kota untuk membeli ponsel baru. Melihat sosok yang tak necis, pelayan toko pasang tampang cemberut. Mungkin dipikirnya: nih orang paling banter hanya beli ponsel harga di bawah satu juta rupiah. Hanya cari yang murah.

Nyonya Suyono jengkel. Dengan logat Madura yang kental, ia meminta ponsel terbaru dan termahal kepada sang pelayan. Tak cukup itu, ia juga mengeluarkan segepok duit dan menyodorkan kepada sang pemilik toko. "Mana kertasnya (sertifikat kepemilikan bangunan dan tanah toko)? Biar saya beli sekalian dengan HP-nya," katanya, keras.

Sang pelayan tak menampakkan batang hidung lagi. Saya tertawa mendengar cerita Nyonya Suyono. Sambil menggigit daging durian yang lembut bak mentega, saya bisa membayangkan, betapa malunya sang pelayan itu.

Pernah pula suatu saat Nyonya Suyono datang ke sebuah restoran waralaba modern. Ia tetap tampil tak necis, walau tak bisa disebut berantakan atau kumuh. Lama memesan, tak juga dilayani. Tak sabar, Nyonya Suyono melabrak sang pelayan sembari mengeluarkan setumpuk uang. "Apa uang saya beda dengan uang orang-orang itu," tanyanya menunjuk sejumlah pembeli yang terlihat jelas seperti punya banyak duit.

Nyonya Suyono kaya dari bisnis sendiri tanpa kongkalikong dengan pejabat. Mungkin itu yang membuatnya percaya diri, termasuk saat berurusan dengan pejabat pemerintah desa.

Dalam sebuah pemilihan kepala desa, Nyonya Suyono memilih salah satu kandidat. Ia tidak dibayar dan justru mengeluarkan uang untuk kampanye sang kandidat. Alasannya sederhana: cocok di hati.

Singkat kata: kandidat itu menang. Dalam perjalanannya, kepala desa terpilih mulai tak disiplin. Ia kadang terlambat masuk kantor, saat yang lain sudah mulai bekerja pada pukul tujuh pagi.

Nyonya Suyono pun mendatangi istri pak kades. "Yu (sapaan kakak perempuan dalam bahasa Madura), saya memilih suami sampeyan karena ingin dia bekerja baik. Kalau tidak beres bekerja, saya sendiri yang akan menurunkannya," katanya.

Hubungan Nyonya Suyono dengan sang kades pun semakin bagus. Suami-istri itu yang kemudian mendukung sang kades mencalonkan diri dalam pemilu legislatif 2014 setelah pensiun dari pemerintahan desa.

Tuan dan Nyonya Suyono tidak dibayar atau diberi janji imbalan proyek. Bahkan mereka justru keluar duit untuk menggelar tasyakuran begitu sang kades terpilih menjadi anggota DPRD Jember. Lagi-lagi alasannya sederhana: sudah terlanjur cocok di hati.

Iseng-iseng, salah satu kawan saya bertanya: kenapa Tuan atau Nyonya Suyono tidak mencalonkan diri sendiri jadi kades atau legislator ketimbang hanya jadi pendukung?

Pak Suyono tidak menjawab. Sang istri menyahut dengan lantang (sekali lagi dengan logar Madura kental): 'Ya rugi saya, tidak bisa berdagang lagi. Enakan begini, jadi pengusaha kayu.' Nah. [wir]

Baca Selengkapnya..

01 April 2015

Esai 9 Tahun Beritajatim.com

Kami Belajar dari Sepak Bola

Angka sembilan adalah angka penting, karena ia angka tunggal tertinggi. Dalam dunia sepak bola, angka sembilan ditujukan kepada pemain yang didudukkan dengan derajat tinggi, yakni berposisi penyerang tengah atau ujung tombak. Dia bertugas mencetak gol (yang berasal dari bahasa Inggris, 'goal', yang berarti tujuan) yang berujung kemenangan. Sang Nomor Sembilan harus memiliki sekian keistimewaan: mulai dari kecepatan hingga akurasi tembakan ke gawang lawan.

Mungkin karena bertugas mencetak gol yang membawa kegembiraan dan kemenangan, Nomor Sembilan menjadi titik perhatian di lapangan. Pemain lawan akan selalu mengawalnya ketat. Berbahaya melepaskan Nomor Sembilan melaju sendirian di depan gawang, karena itu berarti peluang melesakkan bola semakin tinggi.

Nomor Sembilan selalu dipuja-puja fans. Dalam bursa transfer pemain, harganya bisa lebih tinggi daripada pemain belakang atau kiper. Sejumlah rekor transfer dunia dipecahkan pemain bernomor punggung sembilan.

Rabu, 1 April 2015. Beritajatim.com berulang tahun untuk kali kesembilan. Tidak terlalu berlebihan kiranya, jika usia sembilan tahun tak ubahnya angka sembilan dalam sebuah tim sepak bola. Angka sembilan menunjukkan bahwa kami harus semakin matang dan kuat.

Sebagaimana pemain bernomor sembilan, Beritajatim.com berurusan dengan kecepatan. Jika diibaratkan bisnis media dalam jaringan (daring atau online) adalah sebuah lapangan sepak bola, gawang lawan adalah tujuan akhir yakni pemuatan berita yang layak dibaca khalayak. Sebuah berita yang baik dan bermutu tak ubahnya gol indah.

Namun kami harus bersaing dengan banyak pemain. Kami harus siap menghadapi tantangan dan hadangan. Kalah dalam kecepatan, kami tertinggal dan bola bisa direbut lawan. Dalam bisnis media daring, bola itu adalah momentum berita.

Sebagaimana pemain bernomor sembilan, kami tak boleh disibukkan hanya dengan kecepatan tapi juga akurasi. Apa gunanya menembakkan bola ke gawang tim lawan, jika tak akurat atau akurasinya rendah. Yang terjadi justru membuang-buang peluang dan berdampak ganda: kelelahan dan bikin frustrasi.

Bisakah Anda membayangkan, sebuah media berita daring seperti Beritajatim.com berusaha secepat-cepatnya membawa momentum untuk menjadi berita (gol), namun dalam penyelesaian akhir justru tak akurat. Banyak fakta yang meleset atau keliru. Tentu jika pembaca diibaratkan penonton dalam sebuah pertandingan sepak bola, mereka akan kecewa dan marah. Tak menutup kemungkinan mereka ogah membaca media tersebut dan menjadikan rujukan. Sama ogahnya melihat tim sepak bola yang selalu gagal mencetak gol indah.

Pertanyaan berikutnya dalam dunia jurnalisme daring: bisakah kecepatan dipadukan dengan akurasi. Media cetak harian masih memiliki tenggat cukup panjang untuk mengoreksi dan mencermati fakta-fakta sebelum diterbitkan keesokan harinya. Mereka mungkin tertinggal dengan media daring dalam hal kecepatan, namun mereka relatif bisa lebih akurat.

Bukankah kecepatan berisiko kecelakaan? Di jalan raya, kendaraan yang memacu kecepatan tinggi memiliki potensi bertabrakan lebih tinggi daripada kendaraan yang berkecepatan lebih rendah. Dalam dunia sepak bola, pemain-pemain yang memiliki kecepatan tinggi lebih rawan terkena cedera.

Bukankah kecepatan dan akurasi meliputi dua unsur yang kontradiktif: kecepatan memacu adrenalin dan akurasi membutuhkan ketenangan. Bagaimana memadukannya?

Mungkin di situlah, kita bisa belajar dari seorang Diego Armando Maradona. Tak ada yang membantah kecepatannya dalam berlari. Piala Dunia 1986 di Meksiko menjadi saksi, betapa enam pemain Inggris tidak ada yang bisa menghadangnya, termasuk sang kiper kawakan Peter Shilton.

Apa kelebihan Maradona? Anda mungkin sudah tahu: dia piawai membaca momentum. Dia tahu kapan waktunya harus berlari cepat, menahan bola, tahu kapan saatnya menendang keras dengan akurasi tinggi, tahu kapan harus bertahan dan merebut peluang dari lawan.

Ibarat seorang striker yang tengah menggiring bola, kami tahu berita harus secepat-cepatnya dilesakkan ke publik agar bisa dibaca lekas. Namun kami juga harus bijak dan cerdik seperti Maradona. Tak selamanya kecepatan membuahkan gol. Maka ada kalanya kami mungkin tertinggal dari media massa daring lainnya, atau bahkan dari kabar media sosial. Namun bagi kami ketertinggalan dalam kecepatan itu terbayar, jika kami bisa mencetak gol indah yakni berupa berita yang akurat, benar secara prosedur jurnalistik, dan enak dibaca.

Lebih jauh kami memiliki filosofi sebuah tim sepak bola: tujuan akhir adalah kemenangan. Satu atau dua gol cepat tidak selalu membawa kemenangan. Kemenangan kadang bisa dicapai justru dengan kehandalan mengatur taktik dan strategi, kapan menyerang cepat, kapan melesakkan bola ke gawang lawan.

Dan kami menyukai tikitaka ala Barcelona, total football ala Belanda, atau pass and move ala Liverpool: hasil akhir harus dicapai melalui proses yang indah dan benar. Dalam dunia jurnalisme, hasil akhir tidak boleh menghalalkan segala cara. Oleh sebab itu, para jurnalis memiliki panduan kode etik dan kepercayaan pembaca.

Jika berita-berita yang kami sajikan berhasil memenuhi kaidah jurnalistik yang benar, mematuhi kode etik, dan menjaga kepercayaan Anda sebagai investasi jangka panjang, berarti kami sudah mendapatkan kemenangan, merengkuh trofi kami dalam persaingan ketat di dunia maya.

Pemimpin yang Otentik

Saat Beritajatim.com pertama kali dibangun, tak sedikit yang pesimistis: bagaimana media ini bisa bertahan dari persaingan pasar yang ketat. Media massa daring bukan hal yang familiar. Apalagi jika cakupannya hanya regional. Bukankah media massa daring seharusnya memiliki cakupan pemberitaan dan wilayah kerja nasional atau bahkan internasional?

Anggapan itu tak sepenuhnya keliru, karena berangkat dari anggapan bahwa internet justru memutus sekat-sekat kewilayahan. Internet meringkas dunia menjadi lebih padat dan meringkus waktu menjadi lebih cepat. Interaksi menjadi lebih nyata. Internet adalah revolusi sosial terbesar kedua yang pernah diciptakan manusia setelah penemuan mesin cetak.

Namun di tengah semua hal yang semakin mengglobal, para pendiri dan penggagas Beritajatim.com sadar, tak selamanya orang membutuhkan informasi nun jauh di sana. Kadang dan seringkali kita membutuhkan informasi-informasi di sekitar kita, yang dekat dengan kita, bahkan mungkin di samping rumah kita. Informasi-informasi yang kadang diremehkan oleh media-media daring besar yang berpikir nasional atau global. Maka sebuah media massa daring lokal dan regional tetap perlu ada untuk mengisi kekosongan dan melayani kebutuhan itu.

Akhirnya keragu-raguan bisa ditepis. Beritajatim.com bertahan hingga usia kesembilan. Bahkan beberapa kalangan menganggap kami adalah 'leader' untuk pasar media online regional dan lokal.

Tentu saja pujian itu kami anggap sebagai sebuah kehormatan bagi Beritajatim.com. Kami sendiri merasa, Beritajatim.com harus banyak berbenah. Menjadi 'leader' itu berat, apalagi 'authentic leader' atau pemimpin yang otentik.

Sekali lagi, kami belajar dari sepak bola, dan kami belajar dari Brendan Rodgers, manajer Liverpool yang menjadi Manager of The Year Liga Inggris dalam usia 40 tahun. Mengacu dari buku The Manager: Inside The Minds of Football's Leaders karya Mike Carson, ada empat prinsip dasar Rodgers untuk menjadi pemimpin yang otentik.

Pertama, mengidentifikasi dan bersandar pada sumber inspirasi kami. Mengetahui siapa dan apa yang menjadi inspirasi kami adalah titik awal langkah kami dan jangkar bagi kami saat berada d bawah tekanan. Sumber inspirasi kami tentu saja Anda: pembaca, publik yang kami layani.

Kedua, mengubah pengalaman menjadi kebijaksanaan. Ketiga, menjaga tujuan. Kami mencoba meneladani para pemimpin otentik yang baik yang tahu tujuan mereka. Gaya bisa beradaptasi, pendekatan bisa berubah, namun kami tahu apa yang kami ingin capai, apa yang kami percayai, dan apa yang kami pertahankan.

Keempat, tetap pada pendirian dan filosofi. Filosofi Beritajatim.com sebagai kantor media massa daring dipertahankan dan dijalankan hingga saat ini. Boleh jadi dalam perjalanan, kami melakukan kesalahan, dan kami harus belajar cepat dari kesalahan itu.

Oleh sebab itu, kelima, kami harus selalu mencoba menjadi pelajar terus-menerus. Para pemimpin otentik memiliki kerangka berpikir untuk selalu belajar.

Itulah kami, itulah Beritajatim.com, dan kami akan selalu mencoba untuk terus tumbuh, berkembang, dan berubah ke arah yang lebih baik. Tak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri.

Brendan Rodgers menyatakan akan selalu belajar. "Saya akan semakin tua, tapi para pemain akan tetap muda (karena selalu berganti-ganti). Demi kepentingan mereka, saya tak boleh mandeg."

Mengadaptasi kata-kata bijak Rodgers: Beritajatim.com akan semakin bertambah usia, namun para pembaca akan selalu muda, karena pembaca berganti, yang tua pergi, pembaca baru akan muncul dari hari ke hari. Oleh karenanya, demi kepentingan publik, demi kepentingan pembaca kami, kami tak boleh terjebak dalam kejumudan dan kemandegan.

Terima kasih. [wir]

Baca Selengkapnya..

31 March 2015

Akhirnya inilah pemain timnas Indonesia sesungguhnya.

Kalah 0-4 dari Korea. Tahun sebelumnya waktu menang 3-2 dengan hatrik evan dimas itu bukan timnas Indonesia... Itu anugerah Tuhan yang mungkin diberikan kepada bangsa kita 50 tahun sekali....

Ya 50 tahun sekali, anugerah timnas terbaik setelah timnas era Ramang dan Maulwi Saelan pada 1960-an,

Anugerah Tuhan yang dirusak sendiri oleh orang yang tidak paham sepak bola. Tanpa Evan Dimas, orkestrasi timnas tak indah, bahkan seperti irama yang chaos...Akankah pemain seperti evan 'pirlo' Dimas lahir 20 tahun sekali?

Baca Selengkapnya..

Mengikuti kata-kata Fauzan Mukrim, sahabat yang tak pernah berjumpa,

kalau menyuruh dengan tegas dan keras anak saya yang sudah usia 7 tahun salat subuh berjamaah, salat berjamaah di masjid itu bagian dari radikal(isme) dan fundamental(isme), kayaknya saya ikhlas deh dicap fundamentalis.... daripada anak saya tak bisa salat dan tak bisa mendoakan keluarganya...

Ketimbang Menkominfo memblokir situs-situs radikal. ada baiknya Menkominfo memblokir situs ManWho dan turunannya saja dah... lebih bagus bagi rakyat! ...Mereka sudah jelas-jelas menyatakan diri setan lo... setan merah...

Baca Selengkapnya..

Sebagai salah satu penikmat situs 17tahun dotkom waktu kuliah, saya masih bertanya-tanya:

apakah situs-situs yang disebut radikal itu mengajarkan cara membuat bom sehingga harus diblokir...

Di situlah kadang saya merasa horny... terutama kalau pas malam jumat

Baca Selengkapnya..

28 February 2015

Pahlawan, Kota, dan Ziarah Masa Lampau

APA arti pahlawan bagi sebuah kota?

Saya ingat medio 1996 lalu, saat pertama kali datang ke Jember sebagai seorang mahasiswa. Tak banyak yang saya ketahui tentang kota ini sebelumnya. Bahkan setelah saya kuliah dan aktif di pers kampus Universitas Jember, tak banyak yang saya bisa definisikan dari kota ini. Artikel pertama saya di Radar Jember soal kota ini adalah bagaimana tak adanya 'identitas asli' yang mengikat warga, dibandingkan dengan Banyuwangi, misalnya.

Kota ini butuh penanda, dan masa silam adalah salah satunya. Di Eropa, masa lalu dirawat dengan rapi, seperti dikatakan Goenawan Mohamad dalam salah satu esainya tentang Bruges: “Tak ada yang aus: masa silam hadir secara rutin, dan secara bangga.”

Namun apakah masa silam itu bagi sebuah kota seperti Jember? Kota ini sejatinya tak pernah diikhtiarkan untuk menjadi seperti sekarang. Ini mulanya sebuah kota afdeeling perkebunan di bawah naungan Gewestelijk Bestuur Besoeki. Terbagi enam distrik, yakni Jember, Sukokerto, Mayang, Rambipuji, Tanggul, dan Puger, Gubernur Jenderal De Graeff baru menetapkan Jember menjadi regentschap yang setara kabupaten pada 9 Agustus 1928.

Lalu, berikutnya adalah perdebatan. Pemerintah daerah menetapkan 1 Januari 1929 sebagai hari jadi kota, penanda berdirinya kota. Namun sebagian kalangan menampiknya, karena menilai Jember sebagai sebuah wilayah lebih tua daripada yang ditetapkan. Lagipula, seharusnya alur sejarah didefinisikan oleh diri sendiri dan bukan tanda tangan seorang gubernur jenderal Belanda.

Sebuah kota bukanlah sekadar nama. Ia tidak hanya terdiri atas tembok-tembok dan bangunan tua, namun dibentuk sekumpulan cerita, hikayat, mitos, juga epos, yang mengalir dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Sejarah tak ubahnya aliran sungai yang berhulu dari sebuah mata air waktu, melewati bebatuan peristiwa, menuju muara kekinian. Apa yang dilakukan masyarakat Jember kini adalah mengikhtiarkan pencarian mata air yang mengawali sungai sejarah kota ini dan menentukan bebatuan-bebatuan peristiwa yang dilewatinya.

Saya kira di sinilah arti kehadiran pahlawan bagi sebuah kota seperti Jember. Pahlawan itu menyejarah, dan menjadi penanda adanya sebuah semangat pada suatu zaman, pada suatu masa. Nama Jember hari ini memang lebih terdengar nyaring karena sebuah karnaval fesyen masal. Jember Fashion Carnaval adalah apa yang disebut Dick Hebdige dalam

Subculture: The Meaning of Style sebagai pernyataan: saya berbicara melalui pakaian saya. Namun Jember tak bisa mengidentifikasi diri hanya melalui sebuah tontonan.

Jean Baudrillard dalam In The Shadow of The Silent Majorities, menyebut tontonan mengubah individu menjadi mayoritas yang diam. Dan jagat tontonan adalah padang pasir tanda-tanda (desert of signs) raksasa tak bertepi. Semua bisa memaknai, dan bahkan Baudrillard mewanti-wanti: 'Di tengah padang pasir, orang akan kehilangan identitasnya.'

Maka, penggalian terhadap sosok etos dan kepahlawanan di Jember tetap dibutuhkan, karena melalui penggalian itu orang bertanya terus-menerus mengenai dirinya. Seorang kawan menuliskan di laman Facebook, kala masih kecil, sering menunjuk sebuah sosok patung pria berpakaian perwira yang berdiri dalam posisi tubuh tegap di depan kantor Pemerintah Kabupaten Jember: siapa dia, mengapa dia di sana, tidakkah dia capek berdiri terus, dan bagaimana jika dia kebelet pipis.

Ketika rangkaian pertanyaan hadir, bahkan oleh seorang bocah, maka di situlah awal lahirnya penanda kota. Saat dewasa, kawan saya itu akhirnya tahu, patung tersebut adalah sosok Letnan Kolonel Moch. Sroedji, seorang pemimpin pasukan Damarwulan yang diperhitungkan Belanda pada masa Perang Kemerdekaan.

Penanda akan menjadi penanda ketika dimaknai secara sadar oleh warga kota, karena ada rasa memiliki. Dibutuhkan waktu tak sebentar untuk membawa kesadaran pemaknaan itu. Maka langkah Pemerintah Kabupaten Jember bersama keluarga Moch. Sroedji untuk mengusulkan sang letkol sebagai pahlawan nasional, bisa dianggap sebagai ikhtiar terobosan untuk memunculkan kesadaran pemaknaan itu sebagai kesadaran bersama.

Langkah ini diawali sebuah napak tilas yang diikuti ribuan orang pada 8 Februari 2015 yang menjadi pengingat bagi semua orang tentang pertempuran terakhir Brigade III Damarwulan pada 1949 di Desa Karangkedawung, Kecamatan Mumbulsari. Sroedji gugur bersama anak buahnya yang lain, setelah terlibat baku tembak berhari-hari dengan pasukan Belanda. Ia menolak menyerah, dan memilih mati muda pada usia 34 tahun.

Sroedji tidak dimakamkan di taman makam pahlawan, namun di sebuah pemakaman umum biasa di Kreongan, Patrang. Sebagian mungkin bertanya: mengapa. Lainnya mungkin menilai: ini tak patut. Namun "pahlawan mati hanya satu kali." Saya mengutip kalimat itu dari lakon terjemahan karya John Galsworthy. Justru dengan dimakamkan di pekuburan biasa, Sroedji meninggalkan sebuah warisan makna: laku patriotisme dan kepahlawanan tak boleh dicabut dari akarnya dan harus tetap di tengah-tengah rakyat.

Ikhtiar mengusulkan Moch. Sroedji menjadi pahlawan nasional adalah salah satu cara menjaga warisan makna itu. Kita tidak tahu, apakah pemerintah pusat dengan mudah akan meluluskan permintaan pemerintah daerah dan rakyat Jember. Seandainya berhasil, gelar pahlawan nasional itu akan menjadi milik semua orang, rakyat sipil dan tentara, yang berjuang dan mati di medan tempur bersama Sroedji.

Ini juga akan menjadi pintu bagi nama-nama lain di Jember untuk diusulkan mendapat gelar kepahlawanan. Kita tahu, Sroedji bukan satu-satunya tokoh pemimpin perjuangan di masa itu, atau yang mati dalam sebuah pertempuran heroik. Jika nama-nama itu diungkap, maka akan kembali muncul pertanyaan-pertanyaan, penggalian-penggalian, yang pada akhirnya akan selalu memicu kesadaran pemaknaan pada warga kota. Jika nama-nama seperti dr. Soebandi atau KH Achmad Shiddiq berhasil memicu kesadaran pemaknaan, pada akhirnya warga kota ini bisa semakin mengidentifikasi diri mereka.

Sebenarnja kita belum pernah mengenal mereka

ibu-bapa kita jang mendongeng

tentang tokoh-tokoh itu, nenek-mojang kita itu, tanpa menjebut nama.

Mereka hanjalah mimpi-mimpi kita,

kenangan jang membuat kita merasa

pernah ada.


- Ziarah (1967) karya Sapardi Djoko Darmono

Dari identifikasi, muncul kebanggaan dan penghormatan terhadap masa lampau. Masa lampau dihargai sebagai bagian dari yang membangun kota ini, hari ini, dan akan selalu menjadi tetenger masa mendatang: tempat kita berziarah. [Wir]

Baca Selengkapnya..