Dari Kartun Anak-Anak
Dari film kartun anak-anak, kita belajar tentang banyak hal yang melegakan: bahwa pilihan-pilihan yang benar untuk kalah dan menang kadang heroik, kendati terkesan ganjil dan agak tak waras. Dalam dunia anak-anak, apa yang kadang kita sebut 'tak waras' dalam pikiran dewasa justru sesuatu yang patut dipuji.
Syahdan, dalam sebuah film animasi garapan Pixar dan Walt Disney, hiduplah sebuah mobil balap merah: Lightning McQueen. Hidupnya dipenuhi obsesi menjuarai turnamen balap dan merengkuh Piala Piston, sebuah trofi bergengsi.
Hidup Lightning didedikasikan untuk adu cepat di sirkuit. Namanya yang berarti 'kilat' memang pas betul untuk kecepatan roda-rodanya. Pers meramalkan dia bisa muncul sebagai juara termuda Piston Cup sepanjang sejarah. Itu memang mimpi Lightning: menjadi pembalap bagi sebuah perusahaan yang dicukongi miliarder macam Dynoco, fasilitas mewah, dan semua kemanjaan hidup.
Lightning sudah bosan dengan serombongan mobil-mobil berkarat yang menjadi sponsornya. Mobil balap yang merah mengkilap tentu tak pantas berada di antara mobil tua dan penuh karat. Mesin minyak yang menjadi sponsornya pun tak akan bisa menyelamatkan mobil-mobil berkarat itu agar bisa mirip dirinya.
Untuk itulah ia harus menang. Tujuan hidupnya adalah menjadi nomor wahid. Tak ada waktu bagi pecundang.
Namun tersesat di sebuah kota, Radiator Spring, mengubah pandangan Lighting. Mungkin seperti lagu 'Sang Penghibur' yang dinyanyikan Padi, kelompok musik asal Surabaya: hidup tak harus selalu berlari. Ambisi tak menyehatkan kehidupan sosialnya.
Lalu tibalah hari penentuan itu. Lightning harus berlaga berhadapan dengan dua mobil balap yang lebih senior: Strip Weathers, dan Chick Hicks, Si Hijau. Strip Weathers bertahun-tahun merajai sirkuit, oleh sebab itu ia disebut Sang Raja. Chick, spesialis nomor dua, di bawah bayang-bayang Sang Raja, dan tahun ini berharap bakal mengudeta tahta Strip Weathers.
Lightning berada di depan. Ia jauh meninggalkan Chick dan Sang Raja. Tak ada yang bisa menghentikannya, hingga pada suatu titik Strip Weathers terpelanting keluar sirkuit karena digasak secara curang oleh Chick. Sang Raja bersalto, terguling-guling. Tubuhnya remuk redam.
Lightning teringat dengan Doc, sang mentor yang harus meninggalkan arena balap karena kecelakaan berat yang dialaminya di masa muda. Dan, Lightning memilih untuk menghentikan lajunya tepat di depan garis finis. Ia tidak menyelesaikan perlombaan, dan Piala Piston yang tinggal sejengkal di hadapannya pun melayang.
Ia memilih berputar dan mendekati Strip Weathers yang terluka, dan mendorongnya menuju garis finis. Untuk apa ia melakukan itu semua, Strip Weathers, dan semua orang, bertanya "Itu hanya piala kosong," kata Lightning.
Piala kosong. Saya tidak tahu apakah Anda akan merasa tertampar menyaksikan film animasi Cars. Saya merasa dongeng anak-anak selalu lebih jujur menyampaikan, bagaimana hidup telah tercoreng-moreng oleh perebutan cita-cita yang berubah menjadi ambisi kosong.
Itu hanya piala kosong yang akan berakhir di sebuah garasi tua berdebu dan digunakan sebagai tempat obeng, sekrup, dan perkakas-perkakas lainnya. Persis seperti ambisi yang selalu menghadirkan ruang kosong tak bertepi dalam hidup kita. Selamat Hari Anak Nasional. [wir]
26 July 2010
20 July 2010
Baha'
Seorang kawan menulis di laman Facebook soal revisi arah kiblat oleh Majelis Ulama Indonesia: adakah ini pesanan dari para juragan toko bahan bangunan, karena dengan revisi itu akan banyak takmir harus merehab ulang arah masjid mereka.
Saya percaya, kawan saya itu tengah bercanda. Saya juga tak tahu, seberapa rajinkah ia bersembahyang lima kali sehari. Namun setidaknya mungkin ia ingin meledek sebuah otoritas yang mengeluarkan seruan tentang mana yang boleh, mana yang tidak. Fatwa tentang mana yang sakral, mana yang profan: sebuah ledekan, bahwa produsen tafsir kebenaran bisa saja keliru. Dan kebenaran bisa datang dari mana saja.
Kebenaran bisa datang dari mana saja?
Suatu hari, datanglah di sebuah kampung yang damai, seorang pemabuk bernama Zulfikar Baharuddin. Ia kelasi yang baru turun dari kapal yang tengah membuang sauh. Botol minuman (entah itu arak, ciu, atau air api dari Eropa) ia tenteng dengan enteng.
"Nama awak Baha'," kata dia dengan logat Melayu kental.
Bagi orang kampung yang tertib, Baha' adalah ancaman bagi ketertiban order di sana. Dengan bau alkohol 40 persen menyembur dari mulutnya, ia memasuki sebuah musola kecil dan tertawa-tawa menyindir kedunguan sang marbot.
Baha' datang tidak dengan ayat-ayat maupun kitab. Ia datang dengan sepotong kompas. Dan berikutnya semua orang di kampung itu tahu: arah kiblat musola mereka bertahun-tahun telah salah arah.
Kampung itu gempar. Sang marbot tua jengkel tiada kepalang, karena selama ini ia bersembahyang tidak ke arah Kabah. Ia curiga, kiblat mereka selama ini menghadap ke stadion klub sepakbola Inggris, Manchester United.
Para petinggi kampung yang dulunya memimpin proyek pembangunan musola hanya bisa melongo, karena tak akurat. Namun mereka juga tersinggung, mengapa kebenaran itu datang dari seorang kelasi teler macam Baharuddin.
Saya mengutip cerita di atas dari sinetron Para Pencari Tuhan yang digarap Deddy Mizwar. Dalam film itu, Deddy berperan sebagai marbot tua yang kaya dengan kebijaksanaan karena ditempa oleh hidup, bukan oleh doktrin dan tafsir beku. Dan sang marbot pula yang mengingatkan kepada para orang kampung: kebenaran bisa berasal dari mana saja.
Dalam sejarah peradaban, pada akhirnya kebenaran adalah konsensus tentang bagaimana kita memandang dunia. Namun dunia adalah komik tragis: di mana pada akhirnya monopoli kebenaran membuat para pemegang otoritas, para inkuisitor, mengejar mereka yang berbeda dengan pedang terhunus: bumi itu bulat, pada akhirnya kita tahu inilah kebenaran itu, setelah bertahun-tahun gereja menganggap bumi seperti meja datar, setelah mereka yang menentang gereja Eropa Abad Pertengahan mati di arena eksekusi.
Kebenaran bisa berasal dari mana saja. Saya merasa itu klise yang pahit. [wir]
12 March 2009
Fauzi Badilla dan Sogi Promosikan 'Takut'
Ya, ampuuunnn. Fauzi Baadilah cakep banget! Sogi Indraduaja lucu banget. Bikin ketawan terpingkal-pingkal. Semua berebut ingin foto bareng.
Pujian-pujian bernada gemas seperti ini yang meluncur dari beberapa orang, termasuk kawan wartawati di sebelah saya, saat menyaksikan Fauzi dan Sogi duduk bareng di atas panggung, Kamis (12/3/2009). Di aula Fakultas Ekonomi Universitas Jember, mereka mempromosikan film 'Takut' (Faces of Fear).
Ini kompilasi enam film pendek (rata-rata durasinya 10 - 20 menit), yang disutradarai tujuh orang: Rako Prijanto, Riri Riza, Ray Nayoan, Robby Ertanto, Raditya Sidharta, Kimo Stamboel, dan Timo Tjahjanto.
Ini bukan film horor biasa. Di setiap film bertaburan bintang-bintang top, seperti Fauzi dan Sogi, Marcella Zalianty, Lukman Sardi, Dina Olivia, dan lain-lain.
"Ini film thriller," kata Sogi yang bermain dalam film berjudul 'Rescue', bareng Eva Celia Lesmana.
"Saya nanya dulu ini yang nulis (naskah) siapa? Oke, orang bule. Boleh gue ganti kalimatnya nggak? Apa yang saya mau semua dibolehkan," kata Fauzi yang bermain dalam film 'The List' bersama Shanty.
Fauzi mengatakan, tak pernah bermain dalam sebuah film horor. "Gue takutnya terjebak di film horor yang jelek," katanya. Ia baru mau terjun dalam sebuah film, jika benar-benar sudah yakin dengan kemampuan orang-orang yang membuat film tersebut.
Fauzi senang bisa bermain dalam The List. Untuk pertama kalinya, ia bekerjasama dengan pekerja film luar negeri. Ia juga memang ingin bermain dalam film yang ringan dan menghibur seperti The List.
Kepada para peminat film dan pekerja film independen di Jember, Fauzi menyarankan untuk tidak takut menampilkan ide-ide apapun. "Keluarin aja apa yang ada di otak lu," katanya.
Sogi justru memberi saran enteng: tonton film yang jelek. "Semakin banyak nonton film jelek, kalian bisa tahu bagaimana membikin film yang bagus," katanya. [wir]
Labels: Film
05 February 2008
Man of The Year
Sesungguhnya, setiap komedi politik adalah perlawanan terhadap kekuasaan mapan yang manipulatif. Ketidaksopanan selalu dibutuhkan, untuk mengusik sesuatu yang sudah pakem. Ketidaksopanan adalah lalat yang membuat terganggu, dan mengajak orang untuk memikirkan ulang apa yang dianggap normal, apa yang seharusnya. 
Tom Dobbs. Dia sang komedian itu. Dia sang pelawak. Dia memahami teori itu. Namun, dia terusik, tak merasa cukup dengan humornya yang menyodok, yang mengili-kili kuping para politisi. Ia merasa saatnya ambil bagian: sang pelawak harus turun gelanggang, seperti seorang begawan yang tak sabar melihat perubahan.
Awalnya adalah sang penonton. Seorang perempuan cantik berbaju biru, di studionya, berpikir bahwa Tom bisa menjadi alternatif dari pilihan-pilihan yang disodorkan dua gajah dalam pemilihan presiden: Partai Demokrat dan Republik.
Tom, entah apa yang ada dalam pikirannya, sepakat. Ia memang harus turun gelanggang, berhadapan dengan para kandidat dari Partai Demokrat dan Republik. Dan, Tom membawa ketidakmapanan dalam kampanyenya: ia naik bus berkeliling satu negara bagian ke negara bagian lainnya, tidak mau mengeluarkan uang untuk kampanye di televisi.
“Hei, saya tidak mau berutang kepada industrialis,” demikian kira-kira Tom beralasan.
Tom punya rumus. Bagaimana bisa seorang kandidat presiden akan memperhatikan rakyat saat terpilih, ketika dalam perjalanan ke Gedung Putih ia harus mengemis kiri-kanan, menerima derma dari para saudagar yang memang berkepentingan dengan kuasa. Para saudagar, tak ubahnya pejudi, yang menaruh botoh di semua jago, dan akan mendapatkan keuntungan dari jago yang menang.
Tom masuk akal. Oleh sebab itu, ia memikat. Ia tidak konvensional. Ia menghidupkan panggung dengan gaya teatrikal. Ia bernyanyi, menggoyang-goyangkan tubuh: “Aku muak dengan Partai Demokrat, aku muak dengan Partai Republik.” Orang pun bersorak. Keputusasaan dan pertanyaan sudah mendapat jawabannya.
Lalu election day, hari pemilihan. Tom, tiada menduga, menang di seluruh negara bagian. Orang terperangah. Demokrat dan Republik dipermalukan. Rakyat tidak percaya kepada partai, dan lebih memilih seorang pelawak.
Tom mulanya ragu. Lalu, ia percaya, sampai datanglah Eleanor Green dengan gaya yang kikuk, menyamar sebagai opsir FBI, bersalaman dengannya, dan diajaknya berdansa.
Eleanor, namanya mengingatkan saya dengan lagu Beatles, menarik Tom kembali ke bumi. “Halo, Anda bukan Presiden. Ada kesalahan teknis mesin pemungut dan penghitung suara yang menggandakan perolehan suara Anda.”
“Jadi, aku tidak terpilih sebagai presiden?”
“Not even closed. Nyaris pun nggak.” Eleanor tahu betul itu, karena dirinyalah yang merancang mesin tersebut.
Kita tahu, Tom mungkin sedih. Kecewa. Namun bukan itu soalnya. Kini, ia harus memilih dalam gamang. Film Man of The Year yang dibintang Robin Williams ini memang sebuah film idealis yang menghadirkan pilihan antara nurani dan godaan kekuasaan. Sebuah pilihan jamak dalam hidup.
Tom, akhirnya percaya pada nurani. Sesuatu yang klise karena terlalu sering diteriakkan tanpa dilakukan. Namun yang klise tak selamanya jelek, dan Tom mengakui: tugas sang pelawak adalah menghibur sang raja, bukan menjadi raja.
Tom mengingatkan kembali bahwa perlawanan sang komedian adalah menghadirkan ketidaksopanan untuk melawan kemapanan. Di sebuah negara demokratik, ketidaksopanan mencegah penyeragaman dan keseragaman. Ia menghindarkan kita dari kultus dan mitos, karena dalam komedi tak ada satu pun yang suci.
Tom memilih mundur, dan tak mengikuti pemilihan ulang. Ia memilih menjadi pelawak. “Tempat saya bersama kalian, di sini,” katanya di hadapan para penonton di studio.
Bodohkah Tom? Naifkah Tom? Hei, Bung, ini film Hollywood. Bukan sinetron politik Indonesia. Tom memang akhirnya tidak diberi anugerah pahlawan nasional karena keberaniannya memilih untuk menampik hasrat kuasa.
Hollywood menyediakan akhir yang lebih gebyar. Lebih gembira. Sang bajik mendapat pahala, sang pendosa masuk penjara. Itu rumusnya. Tom akhirnya menikahi Eleanor, perempuan yang rela menjadi whistle blower, orang dalam perusahaan yang meneriakkan ketidakberesan di perusahaannya sendiri.
Kejujuran membuat nama Tom makin melambung di jagat komedi politik. Dialah tokoh pilihan tahun ini. Tidak perlu SK dari pemerintah Amerika segala. Bos Eleanor yang menutupi kesalahan mesin pun harus berakhir di balik jeruji.
Tapi, saya kira, bukan happy ending yang jadi inti pesan moralnya. Saya kira Tom telah mengingatkan kita: bahwa politisi seperti popok yang harus diganti dengan alasan yang selalu sama setiap waktu. Tom tidak mau menjadi popok itu. Ia ingin menjadi orang yang mengingatkan kapan popok itu harus diganti. (*)
14 February 2006
Jewel In The Palace -
The History, Synopis, Photo Album, and Soundtrack
Jewel in the Palace adalah serial TV Korea yang diproduksi tahun 2003 oleh stasiun TV MBC. Berdasarkan figur sejarah pada Dinasti Chosun, serial ini berfokus pada perjuangan Jang Geum (diperankan oleh Lee Young Ae) untuk menjadi dayang utama istana kerajaan namun akhirnya menjadi tabib istana wanita pertama di Korea.
Serial ini dibuat berdasarkan sejarah Korea pada Dinasti Joseon, selama pemerintahan Raja Seongjong, Yeongsangun (1494-1506) dan Raja Jungjong (1506-1544). Cerita berawal saat ibu dari Yeongsangun muda diracun oleh sekelompok prajurit kerajaan dibawah perintah raja yang tidak lain adalah suaminya sendiri.
Setelah kejadian tersebut Seo Chun Soo, seorang prajurit istana, merasa sangat bersalah karena ikut terlibat dalam konspirasi pembunuhan tersebut. Ia mengalami kecelakaan dalam suatu perjalanan dan diselamatkan oleh seorang biksu. Anehnya, biksu tersebut mengatakan bahwa hidup Seo Chun Soo akan dipengaruhi oleh tiga wanita: Chun Soo akan menyebabkan kematian wanita pertama; menyelamatkan hidup wanita kedua namun menjadi penyebab kematian wanita tersebut; dan kehilangan nyawanya akibat wanita ketiga, namun wanita ini akan menyelamatkan hidup banyak orang. Pada akhirnya menjadi jelas bahwa ketiga wanita tersebut adalah ibu dari Yeongsangun, seorang mantan dayang istana yang kelak menjadi istrinya dan ibu Jang Geum, dan wanita ketiga adadalah Jang Geum sendiri.
Seo Chun Soo akhirnya mengundurkan diri sebagai prajurit iri. Kecelakaan tersebut membuat Chun Soo mengundurkan diri sebagai prajurit. Pada saat bersamaan, Dayang Park, seorang dayang istana dapur kerajaan, menjadi saksi konspirasi melawan ibu suri oleh Dayang Choi. Hal ini membuatnya difitnah dan harus menjalani hukuman rahasia sesuai peraturan dayang istana. Dayang Park diselamatkan oleh sahabatnya Dayang Han, dan kemudian diselamatkan oleh Seo Chun Soo. Kedua orang tersebut kemudian tinggal di desa tersembunyi, berpura-pura sebagai orang kelas bawah. Mereka berdua menikah dan memiliki ana perempuan yang sangat cerdas yaitu Seo Jang Geum.
Pada tahun 1954, Yeongsangun memerintahkan penyelidikan terhadap pembunuhan ibunya, dan menemukan bahwa Seo dan keluarganya ikut terlibat. Karena tanpa sengaja Jang Geum cilik menyebutkan bahwa sebenarnya ayahnya mantan prajurit istana, identitas mereka diketahui. Seo ditangkap dan kemungkinan besar dieksekusi. Jang Geum dan ibunya melarikan diri, namun ibu Jang Geum menderita luka yang cukup parah (belakangan diketahui bahwa yang melukainya adalah orang suruhan keluarga Choi). Sebelum meninggal ibunya menyampaikan permintaan terakhir, yaitu agar Jang Geum menjadi dayang utama dapur kerajaan dan mencatat penyebab kematiannya pada jurnal rahasia dayang utama.
Melalui berbagai perjuangan Jang Geum akhirnya bisa masuk ke dapur istana kerajaan. Karena semangat, keingintahuan, bakat, kebaikan, dan kerja kerasnya, Jang Geum akhirnya menjadi asisten Dayang Han. Selama tinggal di istana, Jang Geum banyak mendapat gangguan dari orang-orang yang iri akan bakatnya. Namun Jang Geum tidak menjadi patah semangat dan tetap memasak dengan prinsip bahwa apapun yang terjadi, tujuan memasak adalah untuk membawa kesehatan dan kebahagiaan bagi orang yang memakan masakannya.
Sialnya, akibat konspirasi Dayang Choi dan keponakannya Geum Young, serta pejabat pemerintahan dan pedagang yang ingin memonopoli pasar menyebabkan Dayang Han dan Jang Geum diusir dari istana dan diasingkan ke Pulau Jeju. Dayang Han meninggal dunia dalam perjalanan ke pulau tersebut karena kesehatannya memburuk.
Di Pulau Jeju, Jang Geum berteman dengan seorang tabib wanita yang mengajari Jang Geum mengenai kesehatan. Jang Geum akhirnya kembali ke Istana Joseon, kali ini sebagai calon tabib. Ia lulus dengan nilai tertinggi di kelasnya, meskipun pelajarannya sangat sulit dan ia dianggap sebelah mata karena ia seorang wanita. Jang Geum diterima sebagai staf di rumah sakit kerajaan.
Setelah berbagai permainan politik, orang-orang yang mencoba menyakiti Jang Geum akhirnya mendapat konsekuensi dari konspirasi kejinya. Jang Geum menjelaskan duduk permasalahan sebenarnya dan membersihkan nama baik ibunya dan Dayang Han. Jang Geum terus mempelajari bidang pengobatan, dan akhirnya mengobati permaisuri, ibu suri, dan putra mahkota yang jatuh sakit. Akhirnya ia dapat diterima oleh pejabat dan dokter istana yang awalnya tidak mengakuinya karena ia wanita.
Dengan dukungan bangsawan Min Jung Ho dan sahabat-sahabatnya termasuk Yon Saeng yang telah menjadi selir Raja, Jang Geum menjadi tabib istana wanita pertama di Korea dan diberi gelar Dae Jang Geum dan posisi tingkat ketiga di istana. Catatan:Untuk cerita selengkapnya, lihat ringkasan per episode Jewel in the Palace.
Ada perbedaan jumlah episode Jewel in the Palace yang diputar di sejumlah negara.Di negara China Jewel in the Palace hanya berjumlah 54 episode untuk keseluruhan cerita, dan di Indonesia ada kemungkinan mencapai 70 episode karena ada perbedaan durasi untuk satu kali tayang. (*)
Diambil dari website Televisi Indosiar
Labels: Film
06 February 2006
Jang Geum
Seo Jang Geum melontarkan pertanyaan itu kepada Ibu Suri: "Siapakah dia? Dia seperti layaknya tabib. Di rumah, dia adalah pembantu. Tapi semua orang menaruh kepercayaan kepadanya. Saat dia meninggal, banyak gunung yang dikenal semasa dia hidup ditenggelamkan oleh banjir."
Lalu, aku meneteskan air mata haru, ketika aku tahu bahwa jawabannya: "Dia adalah Ibu"... Tabib pertama di China adalah seorang ibu. Ibu adalah tabib bagi anak-anaknya...Ibu memilihkan mana yang boleh dimakan anak-anaknya, mana yang tidak. Ibu pula yang menjaga anak-anak itu hingga dewasa, dan melindungi dari segala yang menyakitkan tubuh mereka. Ibu menjadi gunung bagi anak-anaknya.
Ibu seperti pembantu yang melayani anak-anak dan seluruh keluarga. Ibu pula yang menjadi tumpuan harapan di rumah.
Ketika ibu meninggal, maka gunung-gunung itu pun rontok dan tersapu banjir air mata dari orang-orang yang mencintainya...Dan aku meneteskan air mata...sungguh...mendengar jawaba itu... Ini episode Jang geum (Jewel in The Palace) terbaik yang pernah aku tonton. (*)
Labels: Film