Jangan ragu, dengan sesuatu yang berbeda
Oleh Siti Nurrofiqoh
“Kenapa kita membahas ini? karena background-nya sangat menarik,” kata Andreas Harsono yang mengisi sesi ketujuh kelas narasi di gedung Strategy, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Malam itu, mereka membahas tulisan-tulisan karya Ryszard Kapuscinski.
Ia seorang wartawan, penyair, penggubah puisi dan publisher sekaligus. Lahir di Pinsk (sekarang Belarus) dari pasangan Jozef dan Maria, pada 4 Maret 1932. Sejak tahun 1960 dia mulai menerbitkan buku yang memperlihatkan kemampuannya dalam penulisan bergaya narasi. Tulisan yang sebelumnya dibuat dengan paragraf pendek-pendek, mulai ditulis dengan panjang dan dalam. Beberapa buku hasil karyanya adalah The Emperor, Syah of Syah, The Soccer War, dan Travels with Herodotus.
“Hebat, ya?” komentar Andreas selesai membacakan biografi Ryszard Kapuscinski.
Pertemuan kelas Narasi, tanggal 18 Desember 2007 itu, kedatangan peserta tamu. Mereka adalah Dian Lestariningsih dan Oryza Ardyansyah. Datang dari Jogja dan Jember untuk mengikuti kelas Jurnalisme Sastrawi selama dua minggu. Namun, malam itu mereka tertarik untuk masuk ke kelas Narasi.
Malam itu mereka membahas The Soccer War di awal diskusi. Tulisan yang menceritakan perang enam hari antara Honduras dan El Savador akibat pertandingan sepakbola antarkedua negara tersebut. Intro yang diambil adalah suatu percakapan, lalu komentar pendek yang menyatakan pasti perang, kemudian pertimbangan bermanfaat tidaknya pergi ke negara tersebut, dan berikutnya sudah meninggalkan Meksiko hingga berada di Honduras El Savador.
Ringkas, padat, tak bertele-tele, tergambar dalam tulisan Kapuscinski. Potret-potret psikologis yang dia terapkan ketika meliput adalah hal yang luar biasa. Dalam mendeskripsikan seseorang, tidak hanya soal baju yang dikenakan, kacamata, rambut atau kerutan di kening. Ia juga mampu membaca dimensi tersembunyi dari adegan-adegan yang ada di baliknya.
Untuk mengetahui psikologi dalam diri seseorang, kita harus melihat sesuatu lebih dalam dari sekedar apa yang terlihat, apa yang dipakai, termasuk jabatan. Kapuscinski menggambarkan Syah Iran sebagai orang yang punya jabatan, tapi tidak sekedar karena jabatannya. Ia membuat penggambaran yang tidak biasa.
“Ada pertanyaan?” tanya Andreas.
The Soccer War kembali dibaca meski tidak seluruhnya. Para peserta tertarik dengan tempo yang dimainkan.
“Wah, kalau saya mungkin masih akan bermain-main dan berkutat pada pemikiran pergi atau enggak, seimbang atau enggak, Mas,” komentar Dian sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Peserta mengomentari paragraf yang memasukkan pribadi Ryszard Kapuscinski ketika ia tergesa masuk ke kamar hotel, memasukkan selembar kertas ke mesin ketik, harus bergerak cepat, bagaimana ia menabrak drum dan terguling-guling sepulang dari kantor pos dan seterusnya. Narsis-kah? Oryza menanyakan pendapat Andreas soal itu. Narsis atau tidak jika penulis memasukkan hal pribadi di dalam tulisannya? Leila Mona juga punya pendapat senada, bahkan ia punya pengalaman pribadi ketika sang dosen menyuruhnya menghapus penggunaan kata saya dalam disertasinya. Menurut sang dosen, itu narsis dan tidak bisa dipakai di Indonesia. Saat itu di hati Mona sempat terbersit, apakah karena budaya Indonesia yang collectives?
Setelah diam beberapa saat Andreas menjawab, “Harus dicari yang relevan dengan story. Bahwa dia nabrak drum sampai terguling-guling ke bawah, karena seluruh kota itu dimatikan lampunya supaya nggak dibom. Dia hanya bisa mengirimkan telegram di kantor pos karena waktu itu nggak ada internet atau warnet. Soal pribadi Ryszard Kapuscinski masuk di cerita, karena untuk menceritakan betapa gelapnya kota itu, betapa susahnya mengirim berita. Itu masih relevan bagi pembaca. Itulah. Soal sepakbola yang tak lepas dari soal politis, konspiratif, juga masalah-masalah pribadi. Itulah kira-kira gambaran perang itu seperti apa. Ada komentar?” tanya Andreas lagi.
Andreas mencoretkan ujung spidol pada sebuah karton. Tarikan dengan garis panjang ke atas ke bawah, lalu disambung dengan tarikan sedang ke atas ke bawah, dilanjutkan dengan tarikan sangat pendek ke atas ke bawah. Berganti-ganti hingga membentuk sebuah pola segaris.
“Kalau anda mau menulis, supaya konsentrasi pembaca nggak turun, buatlah naik turun seperti ini. Nah ini, panjangnya alinea. Jangan konstan. Itu akan membosankan. Tapi alinea diatur dengan adanya diskusi, dialog dan kesimpulan-kesimpulan yang menarik, itu tak membosankan. Biasanya yang pendek-pendek itu deskripsi. Menulis data dan angka-angka akan membuat daya pembaca menurun. Harus diangkat lagi dengan deskripsi-deskripsi. Supaya menarik,” Andreas menerangkan maksud coretan-coretannya tadi.
Lalu Andreas meminta Emmy Kuswandari membacakan halaman 160 dalam buku The Soccer War.
“Do you think it’s worth going to Honduras? I asked Luis, who was then editing the serious and influential weekly Siempre.
“I think it’s worth it,” he answered. “Something’s bound to happen.”
I was in Tegucigalpa the next morning.
“Stop,” Andreas meminta Emmy berhenti.
“Lihat kecepatannya bergerak. Set, set, set! Nggak perlu menceritakan susahnya mencari tiket, atau capeknya mengantri di loket. Juga tidak perlu menuliskan mengisap rokok yang biasa dialami oleh penulis laki-laki kebanyakan. Menulis dengan paragraf pendek-pendek. Cepat. Nggak bertele-tele,” tandas Andreas.
“Itu benar enggak sih seperti itu? Maksudnya, ketika dia hanya menuliskan hal yang pendek-pendek begitu?” tanya Mona.
“Benar. Efisien,” jawab Andreas.
Membiasakan membaca buku tentang suatu negara yang akan dikunjungi adalah salah satu kebiasannya. Inilah persiapan yang memang harus dilakukan oleh orang yang akan membuat liputan. Tidak hanya sekedar berangkat dan tak mengerti apa-apa. Bahkan Kapuscinski tidak hanya sekedar pergi ke tempat-tempat yang diinginkan, tapi juga ke tempat-tempat yang bermasalah. Ia juga juga sangat telaten untuk mendengar beraneka ragamnya orang-orang yang dia jumpai. Untuk mengetahui dimensi-dimensi yang tersembunyi dari setiap gerak-geriknya.
“Ada pertanyaan?” tanya Andreas.
“The Soccer War ditulis setahun setelah perang. Resminya The Soccer War terbit dalam bahasa Inggris tahun 1978, jadi sembilan tahun setelah perang. Sedang versi Polandia sekitar 2-3 tahun setelah itu. Selama dia berkarir, ada bias tidak dengan profesi dia sebagai Agent?” tanya Dian.
Menurut Andreas itu merupakan pertanyaan menarik, meski tidak mudah menjawabnya. Tapi soal bias, hampir semua orang mempunyai bias. Itulah kenapa, penggunaan kata saya lebih transparan dibanding kata penulis, karena lebih bertanggung jawab. Saya vs penulis, adalah perdebatan panjang. Tidak sesederhana pemikiran bahwa saya dapat diganti dengan penulis, meski sekilas punya kesamaan. Saya dan penulis adalah dua kubu dengan cara pandang dan prinsip yang berbeda. Kubu yang suka menggunakan kata penulis beranggapan bahwa penggunaan kata saya dianggap subyektif dan tidak independen karena tidak berjarak. Sementara, kubu yang memilih menggunakan kata saya, justru mempertanyakan arti subyektifitas itu sendiri.
Setiap orang pasti punya bias terhadap nilai-nilai tertentu. Percaya bahwa dirinya tidak obyektif, pemikirannya lebih bisa diterima. Itulah perlunya transparansi, karena dengan transparan kita bisa memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menilai dan mengukur derajat kepercayaannya terhadap tulisan yang dibaca. Hal ini bukan hanya demi kenyamanan pembaca, namun agar tidak bersembunyi di balik kalimat pasif dengan menyebut dirinya penulis.
Andreas mencontohkan, bagaimana para dosen atau kalangan akademisi yang merangkap sebagai politikus, tim sukses, terlibat di partai, jadi penasehat, dan sebagainya. Bagaimana mau independen dan obyektif? I’m sorry…jika saya merasa ragu,” tegas Andreas.
Tulisan Kapuscinski yang dibahas berikutnya adalah Syah of Syah yang dimuat majalah The New Yorker dalam dua edisi di tahun 1985. Lain dengan The Soccer War yang bertempo cepat, kekuatan tulisan ini ada pada detil, kemampuan menggunakan metafor, perumpamaan dan sudut pandang yang diambil dari foto-foto. Kontras memang. Dari tempo yang penuh dengan loncatan, berpindah ke tempo yang lambat, penuh dengan detil dan kedalaman, serta paragraf-paragraf panjang. Sempat membingungkan.
Di sela keheningan, Mona kembali bertanya soal ukuran untuk mempercepat atau melambatkan tempo dalam tulisan, kapan mengabaikan detil dan kapan harus menggalinya.
“Syah of Syah lebih lambat dan hanya berkutat pada foto-foto, karena foto adalah entry untuk masuk ke cerita, untuk menggambarkan profil seorang ayah dan anak dengan karakter yang berbeda dan masuk ke psikologisnya. Dalam konteks ini detail menjadi relefan,” komentar Oryza.
“Inilah cara penulis yang terlatih, ketika soal sepak bola harus ditulis sepeti apa, dan ketika menulis soal profil juga seperti apa,” Eko menambahi.
“Polanya gimana ya mas…? Sebagai penulis mas pasti tahu bagian mana yang perlu digali dan tidak?” pinta Leila Mona.
“Hmm, saya nggak merasa mampu menerangkan dengan bagus kapan harus dalam, kapan harus cepet,” kata Andreas, kemudian mengemukakan dua contoh yang disebutnya sebagai contoh ringan. Pertama, penulis harus tahu dulu apa yang mau ditulis. Menguasai teorinya, tahu isu besarnya, tahu di mana strukturnya, baru memilih titik yang mau dimasukkan. Titik masuk yang meski kecil tapi menggambarkan sesuatu yang besar dan orang yang membaca tahu bahwa penulisnya mengerti. Kedua, setelah tahu isi dan teorinya, aturlah keindahannya, sehingga bacaan menjadi bagus tanpa mengorbankan kedalaman analisis. Juga tidak perlu larut untuk menceritakan apapun yang tidak relefan, juga tak perlu menyediakan berhalaman-halaman tulisan hanya agar pembaca mengetahui teori yang dipakai.
“Orang tidak perlu tahu bahwa Pram atau Soekarno mengerti nasionalisme. Tapi, kalau dia nulis orang tahu bahwa dia mengerti nasionalisme,” tandas Andreas.
Di menit-menit terakhir Andreas juga menjelaskan tentang footnote yang sebisa mungkin dihindari. Ini karena nomor bisa mengganggu mata dan otak pembaca. Lalu bagaimana referensinya? Andreas biasa menggunakan halaman terakhir untuk menulis referensi. Hal itu dimaksudkan untuk mengakui bahwa itu bukan hasil pemikiran kita. Supaya tidak memplagiat karya orang lain. Dalam mengutip pun selalu ada batas. Untuk standar membuat buku yang jumlah katanya antara 30.000 -110.000, kutipan tidak boleh lebih dari 800 kata. Kalau lebih dari itu harus meminta ijin dulu dengan sumbernya.
Seiring gerak jarum jam yang terus berjalan, waktu tinggal tersisa beberapa menit untuk sampai pada pukul 9 malam. Layar yang sebelumnya menampilkan tentang sosok Ryszard Kapuscinski hanya menyisakan selembar kanvas putih. Sesi pun diakhiri.
*****
Edited by Eva Danayanti
22 April 2008
Labels: Kursus Jurnalisme Sastrawi
30 March 2008
Jurnalisme Sastrawi di Retorika
Saya baru saja masuk kerja, setelah selama dua pekan lebih terkapar karena sakit, saat seorang mahasiswa Universitas Airlangga menghubungi saya melalui ponsel. Ia mengaku dari majalah mahasiswa FISIP Retorika.
Ia mengaku tahu nama saya dari Ribut Wijoto, redaktur harian Jatim Mandiri. "Saya berharap Mas Oryza bisa memberi materi jurnalisme sastrawi hari Minggu, 30 Maret nanti," katanya.
Saya tidak langsung berjanji. Namun akhirnya saya sanggupi juga. Saya ke Surabaya.
Sebelumnya, saya minta izin kepada Andreas Harsono dan Linda Christanty untuk bisa menggunakan materi kursus jurnalisme sastrawi Pantau. Saya sebenarnya percaya mereka bakal memempersilakan tanpa harus minta izin. Tapi secara etika, lebih santun kiranya jika saya minta izin.
Andreas membalas pesan pendek saya: "Go ahead. Sudah saatnya kamu tampil. Saya senang membaca pesan ini."
Linda pun mempersilakan. "Sukses ya," katanya dalam pesan singkat.
Saya mengirimkan sejumlah materi tulis ke panitia pelatihan jurnalistik via surat elektronik. Saya minta kepada panitia agar menggandakan materi tulis lebih dulu agar bisa dibaca peserta. Jadi, nantinya saat materi jurnalisme sastrawi diberikan, otak peserta tak kosong.
Di kampus FISIP, tak ada yang menyambut saya. Saya memilih duduk di salah satu sudut kampus dan senang melihat dua orang mahasiswa membaca fotokopian materi jurnalisme sastrawi dari saya. Mereka berdiskusi.
Saya duduk saja memperhatikan. Sang mahasiswa, belakangan saya tahu namanya Sigit, berbicara dengan penuh semangat. Sementara kawannya seorang mahasiswi berjilbab dengan wajah menawan hati membaca artikel Jurnalisme Sastrawi yang ditulis Andreas Harsono. Sesekali ia mengisap sebatang rokok.
Seorang panitia melayangkan pesan pendek ke ponsel saya, dan kami bertemu. "Acaranya di lantai tiga, Mas," katanya. Ia memperkenalkan diri Andrian.
"Berapa pesertanya?"
"Empat puluh. Ada yang izin."
Di lantai tiga, saya bertemu Munip. Ia mantan aktivis pers kampus. Sekarang bekerja sebagai redaktur di Duta Masyarakat. Kami ngobrol soal pers kampus dan saya cerita-cerita soal Pantau. Munip berminat menjadi kontributor Pantau. Saya berikan nomor ponsel dan email Andreas.
"Coba saja kirim tulisan. Aku dulu juga begitu," kata saya.
Saya tampil di sesi terakhir, sebagai penutup acara pelatihan jurnalistik. Saya tahu para peserta kecapekan. Tentu cukup berat memberikan materi pengantar jurnalisme sastrawi dalam kondisi begitu. Saya katakan kepada peserta, di Pantau, materi kursus ini diberikan dalam waktu dua pekan.
Saya bicara tentang Tom Wolfe. Truman Capote. Jimmy Breslin. New journalism. Robert Vare. Sebenarnya saya masih ingin bicara tentang Hiroshima karya John Hersey. Saya sudah mengirimkan powerpoint tentang Hiroshima milik Pantau ke panitia. Sayang, waktu terlampau singkat.
Seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran bertanya tentang penerimaan media massa cetak di Indonesia terhadap jurnalisme sastrawi dan prospek genre ini. "Orang sekarang ingin informasi lebih cepat," katanya.
Saya katakan, media massa cetak di Indonesia masih belum banyak menerapkan genre ini. "Saya tidak tahu mengapa begitu. Seharusnya peluang itu ada. Kompas Minggu memiliki satu halaman untuk cerpen. Seharusnya itu bisa digunakan untuk naskah naratif."
Saya tetap optimistis genre ini bakal punya pembaca. "Ayat-Ayat Cinta hari ini terjual 400 ribu kopi. Laskar Pelangi karya Andrea Hirata begitu booming. Jadi saya pikir orang masih punya kesempatan baca novel yang panjang."
Jurnalisme sastrawi memiliki struktur novel. Bedanya, karena ini jurnalisme, maka isinya faktual bukan fiksional. Persoalannya, kata saya, masih sedikit jurnalis di Indonesia yang bikin buku jurnalisme naratif.
"Anda silakan ke Gramedia. Di sana novel non fiksi karya Sonia Nazario dan Mark Bowden dijejerkan satu rak dengan novel fiksi," kata saya.
Saya tidak tahu kenapa jurnalis Indonesia masih sedikit bikin karya naratif non fiksi. Saya percaya jurnalis Indonesia mampu. Persoalannya: mau atau tidak.
Sigit, seorang peserta, mengatakan penggarapan jurnalisme sastrawi butuh energi dan ongkos operasional lebih besar. Saya membenarkan. Boleh jadi itu pula yang membuat media massa cetak enggan menginstruksikan wartawannya melakukan reportase naratif yang serius.
"Wartawan Indonesia ini kan dididik menjadi beat reporter. Wartawan harian yang selalu dikejar deadline dan jumlah berita," kata saya.
Ulfa, seorang mahasiswi Fakultas Sastra menanyakan, apakah buku-buku novel non fiksi bisa disebut jurnalisme sastrawi. Saya katakan tidak semuanya. Karena jurnalisme sastrawi adalah jurnalisme, maka harus ada kerja pengumpulan fakta melalui reportase.
"Laskar Pelangi karya Andrea Hirata boleh jadi non fiksi karena itu kisah hidup dia. Tapi itu bukan jurnalisme sastrawi, karena Andrea hanya menuliskan kenangannya tanpa ada proses reportase. Itu lebih layak disebut memoar. Tapi ada juga memoar yang dibuat dengan metode reportase naratif seperti karya Julius Pour soal Benny Moerdani," kata saya.
Waktu berjalan begitu cepat. Saya sendiri kurang puas. Tapi saya pikir sebagai pengantar, semoga apa yang saya jelaskan sudah cukup membantu mereka. Saya sarankan mereka untuk membaca novel-novel non fiksi yang sudah diterjemahkan: Mark Bowden, Joan Didion, Truman Capote, Sonia Nazario. Mereka juga saya sarankan browsing di internet karya-karya naratif.
Sebelum pulang, saya sempatkan mengobrol dengan panitia. saya bertemu dengan Ribut Wijoto. Ini tatap muka kami yang pertama. Seperti dugaan saya, Ribut sosok low profile. Sayang, kami tak bisa berlama-lama ngobrol. "Anakku rewel, sakit demam dan mencret," katanya, mohon diri.
Saya juga mohon pamit. Dari Retorika, saya sempatkan diri mampir ke toko buku Uranus. Uang honor dari panitia saya belikan Ayat-Ayat Cinta pesanan istri saya dan sebuah buku berjudul The Heart Against Al-Qaeda.
Heni ingin baca Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. "Aku nggak mau nonton filmnya dulu. Aku mau baca bukunya dulu," katanya.
Ayat-Ayat Cinta memang sudah difilmkan dan dalam waktu singkat ditonton dua juta orang. Sejumlah tokoh seperti Jusuf Kalla dan Habibie juga ikutan nonton.
The Heart Against Al-Qaeda adalah karya Marianne Pearl, diterjemahkan dari A Mighty Heart: The Inside Story of The Al-Qaeda Kidnapping Danny Pearl.
Marianne adalah istri Daniel Pearl, jurnalis The Wall Street Journal yang tewas dipenggal di Pakistan oleh sekelompok radikalis. Saya selalu terpikat dengan buku-buku mengenai kisah jurnalis. Marianne juga menuliskan narasi memoar itu dengan bagus.
Buku ini juga sudah difilmkan dengan judul A Mighty Heart yang dibintangi Angelina Jolie. (*)
10 December 2007
Silabus Kursus Jurnalisme Sastrawi XIV
Jakarta, 10 – 21 Desember 2007
Hari ini hampir tak ada warga yang mendapatkan breaking news dari suratkabar. Mereka mendapatkannya kebanyakan dari televisi, radio, SMS, telepon atau internet. Tantangan baru muncul: Bagaimana suratkabar bertahan bila mereka tak bisa lagi mengandalkan kecepatan?
Tawaran ini di New York dan sekitarnya dimunculkan Tom Wolfe pada 1973. Wolfe mengenalkan sebuah genre baru saat itu: New Journalism. Ia mengawinkan disiplin keras dalam jurnalisme dengan daya pikat sastra. Ibarat novel tapi faktual. Genre ini mensyaratkan liputan dalam namun memikat. Genre ini kemudian dikenal dengan nama narative reporting atau literary journalism. Sejak 1980an, suratkabar-suratkabar di Amerika banyak memakai elemennya ketika kecepatan televisi memaksa tampil dengan laporan mendalam.
Di Jakarta, genre ini diperkenalkan lewat sebuah kursus pada Juli 2001. Mula-mula hanya dua kali namun permintaan tetap datang. Angkatan-angkatan baru pun dibuat setiap satu semester. Pesertanya datang dari berbagai kota, dari Banda Aceh hingga Jayapura, dari Pontianak hingga Kuching, dari Ende hingga Kupang. Khusus angkatan XIII diadakan di Banda Aceh. Alumninya, kini mulai bermunculan, dengan prestasi karya individu maupun kemajuan karir di manajemen. Ada yang menulis buku. Ada yang jadi pemimpin redaksi. Ada yang sekolah lanjut.
Kursus akan diadakan pada:
10 – 21 Desember 2007
Pukul 10.00 – 15.00
Kursus ini dibuat berseling yaitu satu hari sesi di kelas, satu hari tugas membaca dan menulis di rumah. Peserta adalah orang yang biasa menulis untuk media. Setidaknya berpengalaman lima tahun. Peserta maksimal 16 orang agar pengampu punya perhatian memadai buat semua peserta. Calon peserta diharapkan mengirim biodata dan contoh tulisan agar pengampu mengetahui kemampuan dasar peserta lebih awal.
Biaya pendaftaran Rp 3 juta. Biaya tersebut sudah termasuk buku dan materi kursus non buku sekitar 200 halaman serta coffe break dan makan siang. Pilihan menu makan siang cukup mengundang pujian! Kali ini akan dicoba masakan Thailand: thom yam gong, pad thai dan lainnya. Namun juga bakal coba makanan Itali: spaghetti carbonara, ravioli isi ikan, pasta plus terung bakar dalam lasagna. Menu nasi bungkus pisang ala Sunda, tak ketinggalan. Juga sayur asem, ikan asin, empal manis ala Jawa.
Pengampu
Janet Steele -- Associate Profesor dari George Washington University. Mengajar mata kuliah narrative journalism. Janet berminat pada masalah-masalah pers yang terjadi di berbagai negara maupun di Indonesia. Menulis buku Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia. Pada 2005-2006 Janet menerima Fullbright Scholarship untuk mengajar jurnalisme di Indonesia.
Andreas Harsono -- Ketua Yayasan Pantau, pernah bekerja di beberapa media internasional, anggota International Consortium of Investigative Journalists, pada 1999-2000 mengikuti Nieman Fellowship di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Sekarang Andreas sedang menyelesaikan buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism yang membahas kompleksitas hubungan antara media, kekerasan, etnik dan agama dengan nasionalisme di Indonesia.
Remy Sylado --guest speaker, cerita soal pengalaman menulis, bagaimana mengatur disiplin dan segala isi dapur seorang pengarang. Sesi khusus ini diadakan di rumah Remy Sylado.
MINGGU PERTAMA oleh Andreas Harsono
Senin, 10 Desember 2007 pukul 10:00-12:00 -- Diskusi soal jurnalisme dengan The Elements of Journalism karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Mencari tahu di mana letak jurnalisme sastrawi. Diskusi tentang persoalan etika, pengelolaan emosi pembaca dan sebagainya.
Bacaan: “The Elements of Journalism” karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel; “Media Bias in Covering the Tsunami in Aceh” karya Andreas Harsono. Buku Sembilan Elemen Jurnalisme terjemahan karya Kovach dan Rosenstiel disediakan dalam paket.
Senin, 10 Desember 2007 pukul 13:00-15:00 – diskusi tentang jurnalisme sastrawi, tentang prinsip-prinsip dasar dalam melakukan reportase, membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi, kriteria dari gerakan “literary journalism.”
Bacaan: “Kegusaran Tom Wolfe” oleh Septiawan Santana Kurnia; “Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita” oleh Andreas Harsono dalam buku Jurnalisme Sastrawi; laporan-laporan dalam Nieman Narrative Journalism Conference.
Tugas untuk Rabu: Bikinlah deskripsi dengan padat. Manfaatkan indra penciuman, pendengaran, warna, gerakan, kasar-halus, kontras (lucu, aneh, menarik) dan sebagainya. Hindarkan klise macam “nyiur melambai” atau “angin sepoi-sepoi.” Bikin deskripsi yang akan merampas perhatian pembaca! Maksimal 500 kata.
Rabu, 12 Desember 2007 pukul 10:00-12:00 – Diskusi lanjutan soal jurnalisme dan nasionalisme, jurnalisme dan agama, jurnalisme dan etnik, ideologi, gender, dengan contoh-contoh di Indonesia. Membaca tugas deskripsi dari hari Senin.
Bacaan tambahan: “The Ethnic Origins of Religious Conflict in North Maluku Province, 1999-2000” oleh Chris Wilson, “Indonesia’s Unknown War and the Lineages of Violence in West Kalimantan” oleh Jamie S. Davidson dan Douglas Kammen, “Fire Without Smoke and Other Phantoms of Ambon’s Violence” oleh Patricia Spyer.
Rabu, 12 Desember 2007 pukul 13:00-15:00 – Diskusi struktur narasi dengan contoh “Hiroshima” karya John Hersey.
Bacaan: “Hiroshima” oleh John Hersey; “Menyusuri Jejak John ‘Hiroshima’ Hersey”oleh Bimo Nugroho.
Tugas untuk hari Jumat: Carilah seseorang yang menarik serta wawancarailah dia. Gunakan wawancara itu guna membuat deskripsi dan dialog. Pilih kalimat-kalimat yang bernas, memikat, indah, kuat, serta menyentak. Maksimal satu halaman. Pikirkan dampak dari setiap kalimat dalam mengikat emosi pembaca.
Jumat, 14 Desember 2007 pukul 10:00-12:00 - Satu isu namun muncul dalam empat pendekatan. Isunya Aceh namun muncul dengan empat naskah, empat gaya, empat struktur. Perhatikan perbedaan masing-masing struktur. Perhatikan masing-masing "tokoh cerita." Juga akan mendiskusikan pekerjaan rumah.
Bacaan: “Orang-orang di Tiro” karya Linda Christanty; “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah; “Republik Indonesia Kilometer Nol” karya Andreas Harsono; “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” karya Chik Rini.
Jumat, 14 Desember 2007 pukul 13:00-15:00 - Mendiskusikan sumber anonim, dan teknik interview. Juga menonton film “Untuk Kaum Muda” karya Erfan Agus Setiawan tentang Majalah Aktuil. Remy Sylado ikut jadi wartawan Aktuil.
Bacaan: “Tujuh Kriteria Sumber Anonim”, “Ten Tips for Better Interviews”, “Interviewing Sources” oleh Isabel Wilkerson.
GUEST SPEAKER Remy Sylado
Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 10:00 – 13:00 – Berangkat pukul 9:00 dari kantor Pantau. Naik bus dari Kantor Kebayoran Lama. Sekitar 90 menit mencapai Bogor. Mendiskusikan pengalaman menulis. Makan siang di rumah Remy Sylado juga. Remy mengarang lebih dari selusin buku. Pilihlah salah satu dan bacalah. Ini membantu memahami karya Remy.
MINGGU KEDUA oleh Janet E. Steele
(Steele tiba dari Washington hari Senin pagi, 17 Desember 2007, buth istirahat dulu)
Selasa, 18 Desember 2007 pukul 10:00 – 12:00 – Diskusi sekali lagi tentang kemungkinan jurnalisme sastrawi untuk keperluan surat kabar, lebih praktis, serta sejarah dan perbedaan antara “new”, “literary”, dan “Narrative” journalisme.
Bacaan: “The Girl of the Year” oleh Tom Wolfe; “Dua Jam Bersama Hasan Tiro“ oleh Arif Zulkifli; “A Boy Who Was Like a Flower” oleh Anthony Shadid, “For Now, Indonesian Fishermen are Forced to Abandon the Sea Ofiicials Must Move Quickly to Revive Industry, Advocates Say” oleh Ellen Nakashima, “Soldiers Face Neglect, Frustation at Army’s Top Medical Facility” oleh Dana Priest dan Anne Hull, “Violence Change Fortunes of Storied Baghdad Street” oleh Sudarsan Raghavan.
Selasa, 18 Desember 2007 pukul 13:00 – 15:00 -- Diskusi lanjutan tentang definisi jurnalisme sastrawi, dari Tom Wolfe hingga Mark Kramer, dan pengaruhnya pada perkembangan suratkabar mainstream di Amerika Serikat.
Tugas untuk Rabu: Menulis tentang sebuah peristiwa yang disaksikan. Mulai dengan adegan, tanpa ada “penjelasan”. Berdasarkan karya Tom Wolfe “The Girl of The Year”. Topiknya bisa apa saja tapi yang bisa memikat pembaca untuk membaca narasi itu. Mohon tak membuat lebih panjang dari dua halaman, dua spasi agar semua peserta bisa mendapat bagian membacakan karyanya.
Rabu, 19 Desember 2007 pukul 10:00 – 12:00 – Diskusi tentang pekerjaan rumah.
Bacaan: “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” oleh Chik Rini; sebagian dari buku “In Cold Blood” karya Truman Capote dan kliping dari harian The New York Times pada 1959 “Wealthy Family, 3 of Family Slain.”
Rabu, 19 Desember 2007 pukul 13:00 – 15:00 – Diskusi tentang immersion reporting berdasarkan karya Truman Capote “In Cold Blood” serta membandingkannya dengan “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft.”
Tugas untuk Jumat: Tulislah sebuah narasi dengan gaya orang pertama (“saya” atau “aku” atau “abdi” atau ”gua” atau lainnya) untuk menggambarkan sebuah adegan. Gunakan model “Buru, Menziarahi Negeri Penghabisan” oleh Amarzan Loebis, dimana Amarzan memasukkan dirinya dalam laporannya. Bahan ini akan dibacakan di depan kelas. Panjang maksimal dua halaman dua spasi.
Jumat, 21 Desember 2007 pukul 10:00 – 12: 00 -- Diskusi tentang pekerjaan rumah yang dibuat berdasarkan “Buru, Menziarahi Negeri Penghabisan” serta persoalan kata “saya.”
Bacaan: “Tikungan Terakhir” (laporan kematian wartawan Rudi Singgih) oleh Agus Sopian; “It’s an Honor” oleh Jimmy Breslin dan “Buru, Menziarahi Negeri Penghabisan” oleh Amarzan Loebis.
Jumat, 21 Desember 2007 pukul 13:00 – 15: 00 -- Diskusi tentang persoalan struktur narasi, dan bagaimana memanfaatkan narasi dalam berita hangat (breaking news) dengan contoh “Tikungan Terakhir” oleh Agus Sopian dan “It’s an Honor” oleh Jimmy Breslin. Penutupan serta tanya jawab. Diskusi struktur bila ada peserta yang punya rencana bikin liputan panjang. Penyerahan sertifikat oleh Andreas Harsono.
Labels: Kursus Jurnalisme Sastrawi
Deskripsi peserta kursus Jurnalisme Sastrawi XIV
Jakarta, 10-21 Desember 2007
Inilah 16 orang peserta Kursus Jurnalisme Sastrawi Angkatan XIV. Kami beragam. Kami dari Aceh. Palembang. Jakarta. Semarang. Jember. Borneo. Makassar. Keberagaman adalah hal yang akan menyelamatkan sebuah ruang redaksi.
Abdul Razak Asri, bergabung dengan www.hukumonline.com sejak tahun 2005. Razak pernah menjadi researcher untuk MaPPI dan LeIP tahun 1999 – 2003. Tahun 2003 – 2004 bergabung dengan legal officer di PT Catur Yasa. Tahun 2004 – 2005 menjadi research consultant di PA Asia Ltd. Jakarta.
Bhayu Mahendra Hendrobaskoro, pengalamannya di bidang jurnalistik sejak tahun 1993 – 2004 mulai dari Swadesi, EnCube Design, Men’s Health Indonesia dan Suksesi. Ketika mahasiswa aktif dalam buletin mahasiswa Ekspresi dan majalah kampus Suara Mahasiswa UI. Penghargaan yang pernah diraih tahun 2005, 3rd winner, Emotion Intelligence Journalistic Writing Competition. Tahun 1996, 2nd winner, Two Days Snapshot Photo Competition. Tahun 1995 1st winner, Archaeology Photo Competition. Tulisan terbaru Bhayu bisa dilihat di www.lifeschool.wordpress.com dan www.bhayu.wordpress.com
Buyung Maksum, setelah lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Fajar Makassar, ia bergabung dengan tabloid politik Intim pada tahun 1999. Sejak tahun 2001 Buyung bekerja pada harian Fajar. Pengalaman liputannya mulai dari kerusuhan Ambon, politik pemilu, tsunami Aceh, sampai muktamar PKB di Semarang dan gempa Yogyakarta tahun 2005. Selama kursus ia akan menginap di mes Fajar daerah Palmerah Barat. Weblognya www.buyungmaksum.blogspot.com
D.W. Gumay, menjadi koordinator Informasi Flora & Fauna International Aceh Programme sejak Juni 2007. Agustus 2007 sampai sekarang menjadi pemimpin redaksi Jurnal ULU Masen dwi bulanan. Gumay juga menjadi penulis untuk berbagai Outreach dan publikasi media Wahana Lingkungan Hidup Indonesia [WALHI] Aceh, redaktur bulletin Tanah Rencong, WALHI Aceh. Gumay pernah mengikuti traning jurnalistik lingkungan untuk non government organization oleh LBH Palembang Oktober 2002 dan training jurnalistik dan publikasi media oleh eksekutif nasional WALHI kerjasama dengan Aceh Kita, September 2005. Artikel-artikelnya dimuat di Serambi Indonesia, Raja Post, dan Aceh Magazine. Weblog. www.dewagumay.wordpress.com
Dahlia, alumni jurusan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Palembang 2007. Penghargaan yang pernah diraih adalah pemenang harapan 3 penghargaan penulis “Esai Sastra 2007” di koran lokal Palembang, diselenggarakan oleh Balai Bahasa Propinsi Palembang dan pemenang harapan 3 penghargaan penulis “Artikel Kepemudaan 2007” tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Menteri Kebudayaan dan Olahraga. Saat ini Dahlia menjadi Duta Bahasa Propinsi Sumatra Selatan 2007.
Dian Lestariningsih, ketika duduk di Sekolah Menengah Umum mendapatkan JICE (Japan International Corporation Centre) Exchange Program to Japan tahun 1999 – 2000. Penghargaan yang pernah diterima yaitu Third Prize National Writing Contest 2000, First Prize Yogyakarta – Jawa Tengah Province Writing Contest about Archeology 1999, and Third Place Yogyakarta Province Writing Contest about Economic 1998. Sejak tahun 1996 – 2000 menjadi redaktur dari Gema-BERNAS. Tahun 2006 – sekarang menjadi kontributor untuk The Beat Magazine (Java, Bali&Australia lifestyle & gig guide). Saat ini Dian aktif sebagai relawan di Kerabat Desa Kota (KDK) mendampingi 9 dusun binaan yang tersebar di wilayah korban gempa DIY-JATENG.
Eko Rusdianto, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi [STIKOM] FAJAR Makassar, Jurusan Jurnalistik, 2003 – 2007. Pada Agustus – November 2007 mengikuti Kuliah Kerja Lapang Plus sebagai magang reporter di harian Fajar Makassar. Sejak 6 November 2007, menjadi peserta kursus Narasi III yang diselenggarakan Pantau dan saat ini tinggal di Jakarta dekat dengan kantor Pantau.
Enda Balina, sejak Februari 2005 bergabung dengan World Vision International dan saat ini ditugaskan di Aceh. Menjadi editor of World Vision ITRT’s gender report title ‘Still Standing Tall: Addressing Gender Issues in Banda Aceh’ untuk edisi bahasa Indonesia tahun 2006, contribute in Childview magazine – winter 05/06 edition (published by World Vision Canada) tahun 2005, dan sejak 2004 menulis beberapa berita dan feature yang sudah dipublikasi diberbagai media seperti Alertnet, Reuters-online, Word Vision website dan lain-lain. Menjadi anggota majalah sekolah ketika duduk di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Umum.
Gema Yudha, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Diponegoro dan aktif di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk (http://hayamwuruk-online.blogspot.com). Perkenalannya dengan jurnalisme sastrawi dimulai ketika LPM Hayamwuruk hendak mengadakan workshop Jurnalisme Sastrawi tingkat nasional di Semarang pada Februari 2005. Statusnya pada saat itu masih anggota magang dasar. Kini, Gema bertanggungjawab mengelola pendidikan jurnalistik untuk teman-teman di LPM Hayamwuruk karenanya ia mengikuti kursus Jurnalisme Sastrawi XIV ini.
Hayati Maulana Nur, pengalaman Yati menjadi reporter dimulai ketika tahun 1996 ia bergabung dengan majalah kampus Catatan Kaki. Pengalaman kerja di media sejak tahun 1998 yaitu di tabloid Suara Aliansi, tahun 1999 di tabloid Lensa dan tabloid Fokus. Sempat juga menjadi koresponden radio Merkurius TOP FM (jaringan Trijaya) dan koresponden majalah Tempo dan Tempo News Room tahun 2002. Mulai Maret 2003 menjadi reporter untuk Tribun Kaltim. Weblog www.bergerak.blogspot.com, www.senandung.wordpress.com, www.perempuanapi.multiply.com
Ivana, bekerja pada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, divisi Budaya Kemanusiaan, Subsidi Media Cetak dan menjadi redaktur pelaksana majalah Dunia Tzu Chi. Ivana telah bekerja selama tiga tahun di Yayasan ini. Ivana berharap semoga apa yang dia bagi lewat kata-kata bermanfaat bagi orang lain.
Marta Nurfaidah, sebelum menjadi reporter harian Surya tahun 2005 – sekarang, Marta pernah menjadi reporter di tabloid Nyata tahun 2003 – 2004. Tahun 2006 mengikuti Pelatihan Jurnalisme Anak bersama AJI Surabaya dan Unicef.
Mujidi, pengalamannya dalam dunia jurnalistik sudah dimulai di surat kabar Mediator ketika kuliah semester tujuh. Tiga bulan di Mediator, Mujidi pindah ke koran Equator Pontianak yang merupakan cabang dari Jawa Post. Setelah setahun di Equator, Mujidi bergabung dengan Borneo Tribune bulan Maret 2007 dan bertugas di wilayah kota Singkawang, Kalimantan Barat. Weblog: www.mujidi.blogspot.com
Ninok Hariyani, saat ini bekerja sebagai News Program Manager di DAAI TV. Pengalaman lainnya, selama 9 tahun di PT Indosiar Visual Mandiri, dan 5 tahun di radio Jatayu Angkasa Semarang. Ninok beberapa kali mendapatkan penghargaan seperti The Best Journalist for TV Features Category courtesy of John Hopkins University and Koalisi untuk Indonesia Sehat 2010 tahun 2002, penghargaan Produser Terbaik, Kategori Program Features Televisi, Anugerah Kebudayaan 2005, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan penghargaan untuk program acara Horison sebagai Terbaik III Kategori Media Televisi “Anugerah Pesona Wisata Indonesia 2005” Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.
Oryza Ardyansyah Wirawan, menjadi reporter www.beritajatim.com sejak 1 Mei 2006. Juga bekerja di harian Jatim Mandiri. Sebelumnya bekerja di harian Radar Jember Jawa Pos Group (2002-2004) dan harian Suara Indonesia (2004 – 2006). Ketika mahasiswa aktif dalam kegiatan pers mahasiswa di kampusnya, di majalah mahasiswa Universitas Jember Tegalboto, Oryza pernah mendapatkan Juara I Lomba Artikel Fakultas Teknologi Pertanian UGM tahun 1998 dan Juara IV Lomba Esai kedutaan Besar Korea tahun 1999. Weblog www.manifesto-padi.blogspot.com
Yuyun Hairunisa, sudah 11 tahun bekerja di majalah SWA sejak tahun 1996 sampai sekarang, kini menjabat sebagai redaktur. Sebelumnya ia pernah bekerja di harian Terbit dan majalah Sinar sebagai reporter. (*)
Labels: Kursus Jurnalisme Sastrawi