Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

01 January 2011

Terapung, Imaji Nusantara dalam Balutan Makanan

Benedict Anderson berkata: Indonesia dibangun dari sebuah imaji, kenangan dan rasa tentang hidup bersama. Orang lalu menyebut nusantara, dan meneguhkan kebersamaan itu: berbagai etnis dari barat hingga timur merentang menjadi satu bangsa. Mungkin imaji itulah yang membuat kita selalu mencintai negeri ini.

Imaji bisa terbangun dari mana saja. Makanan adalah salah satunya. Dan di sebuah restoran di Jember, imaji itu coba dikukuhkan. Restoran itu: Rumah Makan Mangli Indah. Orang sering menyebutnya ‘Terapung’.

Restoran ini berada di atas tanah seluas satu hektare, dengan kapasitas pengunjung maksimal 400 orang. Yasin Antoni membangunnya dengan semangat untuk menghargai keragaman Indonesia yang diwakili oleh tiga tampilan etnis. Atap gedung berbentuk rumah tanduk Minangkabau. Tempat-tempat makan berbentuk joglo (rumah Jawa) dan rumah Bali di atas kolam ikan (oleh sebab itu disebut terapung).

Jika dilihat lebih awas, bagian atas bangunan yang berbentuk rumah tanduk membentuk ornamen yang sangat dikenal: burung garuda. Garuda menyimbolkan imaji nusantara itu. Imaji keragaman yang lain, tentu saja, dari sisi makanan. “Ratusan jenis makanan di sini, Chinese food, Indonesian food, dan mulai European food,” kata Saeri, asisten manajer rumah makan.

“Kami menawarkan pesona taman, masakan, dan pelayanan. Restoran di sini nyaman untuk bersantai,” kata Saeri. Para wisatawan asing berdatangan pada musim libur, Juni-Juli: mereka dari Belanda, Prancis, Swedia, Inggris, Thailand, Malaysia, dan Belgia. Pada bulan di mana Eropa tengah libur itu, jumlah pengunjung bisa naik 25 persen dari hari biasa.

Ini rumah makan yang menarik. Ada filosofi di dalamnya. Baiklah. Mari kita bayangkan saja, sembari menyantap cumi-cumi telur renyah, udang putri malu, iga bakar madu, atau bistik lidah sapi yang menggoyang lidah. Top markotop. Ini empat sajian yang paling populer di Terapung.

Cumi-cumi telur renyah, dengan harga Rp 45 ribu satu porsi. Telur dan cumi-cumi dikocok, lalu digoreng. Daging cuminya empuk sekali, serasa lumer di lidah.

Udang putri malu, harga satu porsi Rp 50 ribu. Namanya unik, karena diibaratkan udang bak putri pemalu, karena harus ditutupi dengan banyak bumbu. Udang dibalut tepung dan digoreng, lalu diguyur dengan saus. Dalam udang itu sendiri, dimasukkan daging cincang.

Iga bakar madu, Rp 35 ribu per porsi. Sebelum dibakar, iga dimasak tim (semacam dikukus) dan diberi bumbu. Iga menjadi semakin enak, karena diberi guyuran madu tawon asli.

Bistik lidah api, sebuah makanan Eropa dengan harga Rp 40 ribu per porsi. Saos tomato pasta, tomato kecap, dikombinasikan dengan bumbu Eropa. [wir]

Baca Selengkapnya..

08 July 2008

Es Tebu dan Hongkong

Ada satu hal yang saya selalu sukai saat kembali ke Surabaya: es tebu dan hongkong. Saya kini menetap di Jember, sebuah kota yang terletak sekitar empat jam perjalanan kereta api dari Surabaya. Dan, saya selalu merindukan mereka.

Es tebu dan hongkong dijual di pinggir jalan raya. Saat saya masih duduk di bangku SMA, satu gelas es tebu dihargai Rp 500. Kini, ada penjual yang mematok tarif Rp 1.000 atau Rp 1.500 per gelas.

Es tebu sangat menyegarkan. Saat bersepeda motor menuju kantor saya di jalan Ciliwung di siang yang terik, mata saya terpancang pada seorang penjual es tebu. Saya menepi, dan mencoba bernostalgia dengan manis dan dinginnya minuman itu.

Tidak enak jika hanya meneguk es tebu. Saya suka jika menyelinginya dengan makan hongkong, sembari menggigit cabe yang pedas. Jika bibir belum mendesis karena lidah serasa terbakar, rasanya belum pas.

Hongkong yang saya maksud di sini adalah jajanan yang dalam bahasa Jawa disebut ote-ote. Hongkong adalah kosakata bahasa Madura. Orang Jember menyebut jajanan itu demikian. Ini sebenarnya jajanan berupa tepung basah yang diisi dengan sayuran dan kadang daging atau udang, lalu digoreng. Rasanya...mak nyus (meniru Bondan Winarno).

Saya heran, kenapa di Jember es tebu tidak mudah saya temui. Padahal Jember adalah salah satu produsen tebu. Maka, saya bersyukur bisa menikmati es tebu kembali setelah bertahun-tahunn tak mengecapnya. (*)

Baca Selengkapnya..

20 May 2007

Menyantap Ikan Bakar Sambil Nonton Kapal Karam

Warung ikan bakar Matori di Pantai Pancer Kecamatan Puger boleh jadi tak setenar ikan bakar Jimbaran di Bali. Namun, warung ini bisa jadi warung ikan bakar terunik di dunia.

Terunik? Benar, sebab di warung ini, sembari menyantap menu ikan bakar yang lezat dan maknyus, kalau beruntung kita bisa menyaksikan kapal karam. Setidaknya, kita disuguhi tontonan adu kelihaian nelayan menantang ombak laut selatan yang ganas.

Warung ikan bakar milik pria asli Puger bernama Matori ini sudah dibuka sejak 15 tahun silam, di Pantai Pancer. Dari pusat kota Jember, pantai ini berjarak sekitar 50 - 60 kilometer dan bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi.

Di warungnya yang sederhana tapi nyaman, ia menyajikan berbagai jenis ikan seperti kakap merah, kerapu, kakap karet, putihan, bawal, udang, dan sebagainya. "Ikan bisa dibakar dan diberi bumbu rujak. Pengunjung biasanya cocok dengan sambalnya," kata Matori.

Pantai Pancer banyak dikunjungi Sabtu dan Minggu. Terbanyak saat ada acara petik laut setahun sekali. Jika sedang ramai pengunjung, Matori bisa menghabiskan 30 kilogram ikan.

Pantai Pancer acap disebut sebagai pantai wisata, meski kondisinya memprihatinkan dan cenderung tak terurus. Akses jalan menuju pantai itu masih belum diaspal. Di atas pantainya yang dipenuhi pasir yang berwarna putih tersebar sampah di sana-sini. Pantai ini juga tampak tandus, minim pepohonan.

Kendati begitu, Pantai Pancer menjadi sasaran kunjungan pasangan remaja yang sedang asyik kasmaran. Mereka biasa datang dengan berombongan naik sepeda motor, dan kemudian berkasih-kasihan di tepi pantai sembari memandang deburan ombak samudra selatan yang dahsyat.

Dari Pantai Pancer ini, kita bisa menyaksikan para nelayan yang hendak melaut atau pulang dari samudra selatan. Pantai Pancer berdekatan dengan pelawangan, sebuah area yang menjadi semacam pintu masuk dan keluar nelayan menuju Samudra Indonesia.

Di pelawangan, kehandalan seorang nelayan diuji betul. Ia tidak bisa begitu saja menuju laut lepas atau mendarat, karena ombak setinggi 3 meter bisa menghantam sewaktu-waktu. Jika tak pandai-pandai membaca situasi, kapal jukung yang ditumpangi nelayan bia terbalik atau bertabrakan satu sama lain.

Tontonan itu menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjung pantai Pancer, terutama sembari menanti Pak Matori membakar ikan. Mereka bisa melihat perjuangan para nelayan lebih dekat dengan menyusuri bebatuan besar yang menjorok ke laut selatan yang menjadi pemecah gelombang atau breakwater.

Keunikan makan ikan bakar di Pantai Pancer ini diakui oleh Rudi, salah satu pengunjung. "Cita rasa ikan bakar di warung Cak Matori berbeda dengan di tempat lain. Yang paling membuat berbeda juga adalah lokasinya. Kita bisa melihat laut selatan dan para nelayan yang berangkat atau pulang melaut," katanya.

Rudi menjadi saksi bagaimana dua perahu jukung terbalik dihantam ombak dahsyat. Kejadian itu sempat membuat para pengunjung bergerombol menyaksikan langsung dari atas breakwater. "Kejadian seperti ini yang tidak akan ditemui di tempat lain," katanya.

Matori sendiri mengaku merasa beruntung bisa berjualan di Pantai Pancer yang memiliki keunikan itu. Seperti laut selatan, para pengunjung pun tak pernah surut. Warungnya menjadi tempat tujuan keluarga yang ingin berlibur.[*]

Baca Selengkapnya..