Imagined Persebaya: Bukan Sekadar Sejarah Sepakbola
oleh: Jojo Raharjo
Persebaya yang dilahirkan 18 Juni 1927 boleh saja (sementara) tiarap, tapi buku ini membuktikan kebesaran perjalanan klub kebanggaan Arek Suroboyo yang fanatisme ‘pemiliknya’ bahkan melebihi hooligan Inggris.
Oryza Ardyansyah Wirawan dikaruniai bakat menulis dan memori yang kuat. Selain itu, ia punya kelebihan khusus: menjaga dokumentasi tulisannya agar tak terserak diterbangkan waktu. Maka, lahirlah buku: ‘Imagined Persebaya’ (Persebaya, Bonek, dan Sepakbola Indonesia).
Diterbitkan oleh Litera pada 2015, buku 322 halaman membendel 63 tulisan jurnalis yang sehari-hari bekerja di situs Beritajatim.com ini. Dengan kreatif, kumpulan artikel itu dibaginya dalam lima bab bertajuk You Can’t Buy History, Bonek (Bin Chelsea), Rivalitas, Battle of Surabaya, serta Hikayat Sepakbola Indonesia. Di lembar awal masing-masing bab ditandainya dengan lima huruf khusus: B, O, N, E, dan K.
Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang melakukan penelitian tentang fans sepakbola di Indonesia, melukiskan dengan tepat dalam pengantar ‘Imagined Persebaya’, “Buku ini adalah artefak tentang Persebaya, bonek, dan sepakbola Indonesia. Sejarah sepakbola adalah sejarah Persebaya. Pun demikian, Bonek juga sejarah penting dalam sejarah perkembangan sepakbola di Indonesia.”
Judul ‘Imagined Persebaya’ dipilih karena merujuk pernyataan peneliti sosial Benedict Anderson bahwa Indonesia merupakan komunitas yang dibayangkan (imagined community). Senada dengan Anderson, Persebaya lebih dari sebuah klub, namun imagined community bagi para fansnya. Bagi Bonek, kecintaan pada Persebaya bak api nan tak kunjung padam, imajinasi yang mempertautkan mereka sebagai saudara, meski mungkin tak pernah bertemu, dan bahkan tidak pula berasal dari kota atau provinsi yang sama.
Buku ini menulis, sebutan Bonek pendukung Persebaya ternyata bukan hanya mereka yang dilahirkan atau pernah tinggal di Surabaya, tapi juga menjadi milik penggemar Persebaya di Pasuruan, Jember, bahkan kota-kota di Jawa Tengah, luar Jawa hingga mancanegara. Slogan Bonek ‘No leader just together’ (tiada pemimpin kecuali kebersamaan) dan ‘Tidak ada Bonek yang paling Bonek’ menjadi pemersatu, sekaligus menunjukkan karakter dan sifat egaliter khas budaya Arek.
Bercerita langsung
Tidak hanya berisi opini, buku ini menjadi ‘basah’ karena liputan langsung. Semisal kisah Oryza yang hadir menonton Liga Primer Indonesia mempertemukan Persebaya melawan Persija di awal Juni 2012. Tak direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya menonton pertandingan itu, pilihannya membawa kepada sejarah: bentrok suporter dan polisi berhias gas air mata. Tapi, ‘keikutsertaan’-nya dalam peristiwa ini membuka mata pada sudut pandang lain. Betapa Bonek tak lagi menjadi momok menakutkan bagi warga Tambaksari dan sekitarnya. Warung-warung dan pedagang makanan tetap buka, bahkan saat kerusuhan menjalar ke luar stadion.
Sebagaimana buku ini mengutip lagu Working Class Hero – nya John Lennon, Bonek dianggap sebagai representasi kelas pekerja yang butuh hiburan sehabis penat bekerja sepekan. Persis seperti penggemar sepakbola di Inggris yang awalnya didominasi buruh kasar macam kuli pelabuhan Liverpool dan Manchester. Tak beda dengan penggila klub-klub di Sao Paulo di Brasil, buruh-buruh kereta api di Rusia pendukung Lokomotive Moskow, dan pendukung ideologis Internazionale di Milan yang berasal dari kaum sayap sosialis anti kapitalis.
Oryza, jurnalis pemenang penghargaan Prapanca 2010 –penghargaan tertinggi untuk jurnalis Jawa Timur, saat itu dengan tulisan berseri Hikayat Bank Gakin, meliuk-liuk dengan kata-kata dan bagaimana ia mendokumentasikan sejarah Persebaya, Bonek serta keprihatinan terhadap sepakbola Indonesia. Bukan tak ada kelemahan tentunya.
Soal akurasi, misalnya, pada tulisan ’10 Tim Kontroversial dan Tak Disukai di Indonesia’, di urutan pertama ayah dua putera ini memilih Timnas Pra Olimpiade 1988. Tim itu dianggap mengundang kehebohan saat empat pemainnya diketahui terlibat suap di Hongkong dan Tokyo. “… Mereka adalah Noach Maryen, Elly Idris, Bambang Nurdiansyah, dan Louis Mahodim. Mereka menjadi ajang cemoohan, dan kasus ini menjadi kasus kesekian di mana penyuapan terjadi dalam sepakbola Indonesia di era 1970 dan 1980-an…” Di era teknologi seperti ini, tak susah untuk mengecek bahwa ejaan nama yang benar ialah Noah Meriem dan Louis Mohidin.
Buku ini layak menjadi salah satu referensi dan koleksi terbaik yang ada di perpustakaan pribadi mereka yang mengaku sebagai penggemar sepakbola Indonesia. Teruslah menulis, Oryza, dan mengabadikan sejarah sepak bola dengan filosofi kehidupan di dalamnya… [jurnalis]
16 July 2015
06 April 2011
Rupanya Mahasiswa Lebih Ganas daripada Rayap
Mahasiswa adalah musuh terbesar bagi buku. Saya memperoleh kata-kata ini dari seorang pustakawan yang bekerja selama hampir 30 tahun di perpustakaan Universitas Jember: Tri Lestari Megaminingsih.
Saya rasa, kata 'musuh' layak digarisbawahi. 'Musuh' itu menghancurkan, memperlakukan 'mereka yang berseberangan' dengan rasa merendahkan. Mahasiswa yang menjadi musuh buku: mereka merobek lembar-lembar halaman buku, jurnal, mencoret-coretnya dengan spidol. Ada yang memilih untuk mencuri buku-buku, dan menjualnya ke pasar loak, atau mahasiswa lain yang memesan.
Mereka mencuri buku dan menjual buku anatomi seharga Rp 600 ribu dengan banderol hanya Rp 200 ribu. "Untuk beli makan dan rokok," kata salah satu pegawai perpustakaan. Mereka merobek satu atau dua lembar halaman buku, mungkin karena malas untuk menyalin dengan mesin fotokopi.
Mahasiswa bisa lebih ganas daripada rayap, rupanya. Rayap menggerogoti buku yang telah berbau apak, tanpa bisa membedakannya dengan makanan yang lain. Rayap tidak menjual buku untuk menghisap sebatang rokok.
Saya tidak tahu, apakah ada keterkaitan antara kegagalan dalam studi dengan kebencian terhadap buku. Tapi, Bu Tri mengatakan, mereka yang mencuri buku adalah mahasiswa yang terancam drop out dari kampus. Jujur saja, saya agak ragu mahasiswa menjadi lebih ganas daripada rayap karena indeks prestasi kumulatif mereka jeblok.
Oknum pegawai di instansi pendidikan milik negara, yang bersekongkol untuk mengurangi jatah pengadaan buku bagi siswa sekolah, jelas orang-orang terpelajar. Namun mereka jelas melebihi rayap, karena rayap memakan buku tanpa menganggap pengadaan buku sebagai proyek belaka. Atau jangan-jangan saat kuliah, mereka pernah mencuri buku di perpustakaan? Ah, saya terlalu mengada-ada.
Asosiasi pedagang buku antik Amerika menyebut ada lima tipe maling buku: kleptomania yang tak tahan ingin mencuri, maling yang mencuri demi memperoleh keuntungan, pencuri yang mencuri karena marah, pencuri biasa, dan maling yang mencuri untuk digunakan sendiri.
Mencuri adalah mencuri, dan itu sebuah kejahatan. Namun mahasiswa yang merusak buku karena malas memfotokopi, atau mencurinya untuk modal beli rokok, atau birokrat yang mengorupsi uang pengadaan buku, tentu bukanlah sosok dengan motivasi seperti John Gilkey.
Gilkey adalah lulusan perguruan tinggi UC Santa Cruz, Amerika Serikat. Usianya sekitar 30 tahunan, saat menjelajah sejumlah perpustakaan dan pameran buku untuk mencuri. Dan, ia memilih buku-buku langka dengan harga mahal sebagai sasaran.
Gilkey sejak kecil menyukai buku. Ia mengoleksi komik Richie Rich, kisah bangsawan kecil kaya-raya itu. Richie memiliki segalanya. Namun, Gilkey dengan ayah seorang manajer transportasi dan ibu yang tak bekerja yang harus menghidupi delapan anak, tentu tak punya cukup duit untuk memuaskan dahaganya terhadap buku.
Dan, ini yang disebut Gilkey tak adil. Ia tak mau menggunakan uangnya untuk membeli buku-buku langka berharga ribuan dollar. "Saya punya gelar bidang ekonomi. Semakin banyak buku yang saya peroleh secara gratis, kalau perlu menjualnya, saya bisa dapat keuntungan seratus persen."
"Aku senang dengan perasaan bisa memegang buku seharga lima atau sepuliuh ribu dollar. Dan aku menyukai kekaguman yang akan kuperoleh dari orang lain." Jurnalis Allison Hoover Bartlett menuliskan kisah Gilkey ini dalam buku The Man Who Loved Books Too Much.
Gilkey tak sendiri. Seorang agen buku bernama Rosenbach menyatakan: ada orang-orang rela mempertaruhkan nasib mereka sendiri, berbohong, mencuri, demi mendapatkan sebuah buku. Namun mereka tak akan merusak buku. "Semua pencuri buku adalah pembohong sejati," kata Ken Sanders, seorang bibliodick alias detektif buku.
Di perpustakaan Universitas Jember, sejumlah lorong di gedung perpustakaan ditutup, agar akses masuk menuju ruang koleksi terbatas dan terpantau. Saya sempat mendapati sebuah anak tangga yang diselimuti debu dan sarang laba-laba, karena sudah tak dilewati.
Sejauh ini, perpustakaan Unej melaporkan, angka pencurian minim. Namun agaknya perlu juga di dinding perpustakaan di mana pun, atau di ruang-ruang rapat tender proyek buku di instansi negara, dipampang besar-besar teks kutukan sebuah manuskrip dari biara San Pedro di Barcelona. Teks kutukan ini cukup ampuh digunakan oleh kawan saya untuk 'mengancam' para peminjam agar segera mengembalikan bukunya.
"Barang siapa yang mencuri buku ini dari pemiliknya, atau meminjam dan tidak mengembalikannya... semoga dia menderita kelumpuhan, dan seluruh anggota badannya hancur... Semoga cacing menggerogoti isi perutnya, dan ketika akhirnya dia menerima hukumannya yang terakhir, semoga api neraka membakar untuk selama-lamanya..."
Terlalu berlebihan untuk sebuah buku? Ya? Tidak? [wir]
Labels: Buku, Esai, Pendidikan
28 February 2011
Billy Kwan
Sekretaris Kabinet Dipo Alam menyerukan boikot terhadap tiga media massa. Tiga media massa itu (Media Indonesia, Metro TV, dan TV One) dinilai terlalu tendensius terhadap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Agaknya dia menduga, ada itikad buruk di balik kritik tiga media itu.
Tendensius. Saya tidak tahu sejauh mana dan dengan apa seorang pejabat pemerintah menakar kritik sebagai hal yang tendensius, ada maksud di balik berita. Saya juga tidak paham, bagaimana maksud di balik berita bisa ditakar sebagai sesuatu yang buruk, bahkan dianggap makar. Adakah Dipo Alam mengharapkan wartawan melakukan sesuatu di luar prosedur jurnalistik untuk melontarkan kritiknya?
Saya hanya bisa menduga, Dipo Alam tidak pernah tahu soal Billy Kwan. Billy, seorang kameramen, jurnalis bertubuh cebol, dalam novel Christopher J. Koch, A Year of Living Dangerously. Ia seorang asing, yang mencintai Indonesia, mencintai Sukarno, di masa sang presiden masih kuat berkuasa.
Dalam film berjudul sama dengan bukunya, Billy pernah memacak diri mirip Sukarno (lengkap dengan kacamata hitam dan kopiah) dan datang ke sebuah pesta para koresponden media asing di Jakarta. Semua bertepuk tangan.
Namun, Billy lantas jatuh kecewa, saat Udin kecil mati karena sakit. Udin kecil dan keluarganya ditemukan Billy di tengah-tengah perkampungan miskin di Jakarta. Ia memberikan uangnya untuk keluarga itu, agar ibu si Udin membelikan makanan yang layak.
Udin jatuh sakit. Badannya panas, demam. Mungkin karena air sungai yang tercemar itu. Billy memberikan uangnya lagi: 'Ibu, dokter."
Tapi dokter tidak datang. Udin meninggal. Billy mencatatnya di buku harian: "Si kecil Udin dimakamkan hari ini... Ibu, dengan memeluk Udin, duduk di becak yang terdepan, di mana sehelai kain kuning diikatkan: warna kematian... Sekarang, Ibu menangis dalam becaknya. Adakah ratapannya sampai ke telingamu, Bung Karno, di Istana Merdeka?... Aku menuduh Sukarno yang membunuhnya... Cukuplah... akan selalu ada cara untuk mengakhiri kebodohan seorang tirani."
Selalu ada cara untuk mengakhiri kebodohan seorang tirani. Dan, Billy sudah tak terlampau percaya lagi dengan kata-kata di koran-koran bisa didengar. Mungkin ia sudah tahu, pemerintah sudah memboikot koran-koran, radio-radio, sebagai salah satu bahan pengambilan keputusan.
Maka, Billy memilih cara terakhir. Ia pilih sebuah kamar di lantai atas sebuah hotel, menanti iring-iringan Sukarno lewat. Dari jendela yang terbuka, si kecil yang sebenarnya tak terlampau berani itu mengibarkan spanduk besar: 'Sukarno Feed Your People'.
Agen intelijen mengejarnya. Mendobrak pintu kamar. Billy terjatuh dari jendela itu, tubuhnya menghantam aspal. Mati. Spanduk itu digulung oleh para intel, sebelum Sukarno lewat. Bahkan, upaya perlawanan terakhir dengan kata-kata pun adalah perlawanan yang gagal.
Saya percaya Dipo tak punya cukup imajinasi untuk membayangkan wartawan Indonesia akan meniru Billy. Namun, satu hal yang sama antara Billy dan semua wartawan di dunia: mereka percaya terhadap kata-kata. Dan kata-kata menjadi sesuatu yang tak selamanya disukai oleh penguasa. Apalagi ada ruang di mana kata-kata tak bisa dikontrol.
Saya tak hendak mengatakan tiga media massa yang membuat Dipo geram itu malaikat. Tidak. Jurnalisme menyediakan kemungkinan-kemungkinan untuk berbuat salah. Namun jurnalisme yang baik bukanlah jurnalisme yang tak pernah salah. Jurnalisme yang baik justru muncul ketika ada ruang di mana publik bisa ikut serta, bahkan untuk menilai kinerja wartawan.
Satu dasawarsa lebih kebebasan pers Indonesia bukannya tanpa kelemahan. Namun, bagai nyala lilin di malam hari, ia lebih baik ada daripada gelap.
Ada kritik, ruang redaksi media massa kita masih belum sepenuhnya independen dari tekanan pemilik. Apalagi kepemilikan media massa di Indonesia tersentral di beberapa tangan taipan cum politisi saja. Namun, itu bukan alasan bagi pemerintah untuk mengatakan 'tidak' kepada media massa. Bisnis media massa bekerja berdasarkan logika kepercayaan publik. Selama publik masih percaya, maka sebuah media massa akan tetap hidup, bahkan di bawah ancaman boikot dari aparat negara.
Begitulah. [wir]
15 February 2011
Resureksionis
Ehem.
(nguung... suara feedback dari pelantang suara)
Selamat malam, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu.
Terima kasih telah berkumpul malam ini. Ini saat yang cukup gawat. Ada puluhan mayat bayi yang dicuri dari makamnya. Kita yang tergabung dalam Persatuan Mayat Seluruh Dunia mengutuk peristiwa ini. Kita belum tahu apa-apa mengenai pelakunya. Burung hantu dan kelelawar di kuburan belum memberikan informasi apapun.
Tapi ini tidak bisa diterus-teruskan. Sudah cukup citra kita, sebagai mayat yang tenang di pemakaman, diperburuk dengan film-film Indonesia yang tak karuan itu: pocongan, kuntilanak, wewe gombel. Kita tak dihargai sebagai penanda terakhir seseorang pernah hidup di alam fana. Tidak bisakah kita dibiarkan hilang, lenyap bersama waktu, tertelan bersama tanah: dari debu kembali menjadi debu, namun tak dilupakan.
Pencurian mayat bayi menunjukkan bahwa kaum resureksionis sama sekali tidak menghargai keberadaan kita sebagai mayat. Kaum resureksionis, tak ada kaitannya dengan komunis, zionis, atau ereksi. Tapi kita pernah mendengar kerja kaum gali kubur ini: tulang-belulang anak-anak dikirim ke Calcutta, India, untuk diolah dan diekspor. Tulang-tulang tua dan berlumut itu, sebagian ada yang digali dari China atau diambil dari ladang pembantaian di Kamboja.
Di Eropa abad pertengahan, tubuh kita, para mayat, telah menjadi sasaran perburuan dengan alasan medis. Suatu ketika di London, tepatnya di tahun 1828, sebuah sekolah kedokteran menyewa sepuluh orang untuk menggali makam-makam untuk mengambil mayat di dalamnya. Mereka dibayar seribu dollar per tahun, dan sudah tiga ratus lebih mayat diambil. Merekalah kaum resureksionis.
Ehem. Kita bisa tahu ini dari buku jurnalis Mary Roach, Stiff: The Curious Lives of Human Cadavers.
Kita masih menghargai siswa di Kandahar, Afganistan, yang menggali kuburan neneknya, dan mengambil tulang-belulangnya untuk digunakan bersama-sama kawan kuliahnya di Fakultas Kedokteran, seperti yang ditulis New York Times.
Tapi kita sangat marah, saat mayat-mayat dirampas paksa, tanpa etika oleh para perampok resureksionis. Para perampok ini (ya mereka adalah perampok yang mengganggu ketenangan) tak perlu menggali seluruh makam. Sekolah kodekteran hanya butuh mayat yang segar dan tak begitu berbau. Tukang gali cukup membuka ujung atas makam, dan menarik mayat itu dengan tali yang dilingkarkan ke leher atau bawah lengan. Hanya butuh waktu satu jam untuk mengeluarkan mayat yang dikehendaki.
Ahli anatomi dan bedah, Astley Cooper, mengutuk kaum resureksionis. Namun, kurang ajarnya, ia memerintahkan bawahannya untuk menggali makam dan mencari mayat-mayat baru untuk dibedah. Ia berbaik-baik dengan keluarga pasiennya. Ketika sang pasien itu meninggal dunia, maka ia memerintahkan bawahannya untuk menggali makam dan mengambil mayatnya.
Abad pertengahan adalah masa awal kelam bagi kita para mayat. Di Skotlandia, beberapa sekolah kedokteran bersedia membuka peluang biaya kuliah dibayar dengan mayat, dan bukannya uang tunai. Thomas Sewell, seorang dokter tenar dihukum di tahun 1818, karena menggali mayat perempuan muda.
Betapa malangnya orang-orang miskin. Kaum resureksionis menawarkan mayat-mayat segar orang-orang yang mati dalam kemiskinan. Mereka memperjualbelikan mayat seseorang yang tidak bisa membayar uang sewa semasa hidupnya. Ya, alangkah malangnya.
Sekarang, mari kita bicarakan apa motif pencurian mayat-mayat bayi di Sidoarjo itu. Adakah ini seperti sebuah teori ekonomi: ada keuntungan material yang diperoleh dengan memanfaatkan nalar-nalar takhayul, tak rasional, sebagian orang Indonesia. Ada uang ada barang, ada permintaan ada suplai. Ada dupa, ada ilmu gaib.
Kita para mayat tidak bisa membentuk tim investigasi sendiri (bayangkan betapa hebohnya dunia jika bisa). Kita harus ikhlas menyerahkan urusan ini kepada para polisi Indonesia yang kadang aneh (tangkas mengusut terorisme, namun tak lekas mengantisipasi kerusuhan bermotif agama).
Terakhir, sebelum kita menutup pertemuan darurat malam ini: rapatkan barisan. Jangan tertawa, mari kita serukan: mayat-mayat sedunia bersatulah.
Terima kasih. Selamat malam. [wir]
12 February 2011
'A9ama' Saya adalah Jurnalisme Presiden Yudhoyono dalam peringatan Hari Pers Nasional di Kupang meminta, media massa agar tak provokatif, dan tak merusak hubungan kerukunan umat beragama. Liputan pers sebaiknya segaris dengan tekad dan komitmen memperkokoh toleransi.
Saya kira permintaan Yudhoyono tak berlebihan. "Bagi seorang wartawan, dia harus mendahulukan jurnalisme. Agamanya, kewarganegaraannya, ideologinya, latar belakang sosial, etnik, dan sebagainya harus dia tinggalkan di rumah begitu dia keluar dari pintu rumah dan jadi wartawan," tulis Andreas Harsono.
Andreas, asli Jember, Jawa Timur, pernah bekerja di The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur). Dia adalah salah satu mentor saya di dunia jurnalisme. Suatu haru, ia mengirimkan sebuah buku karyanya berwarna sampul merah. Judulnya, 'A9ama Saya adalah Jurnalisme'.
"Kalau masih ditanya juga soal apa agama saya, saya akan jawab: agama saya adalah jurnalisme. Saya percaya bahwa jurnalisme sangat berguna untuk kebaikan masyarakat," katanya, saat diwawancarai Radio 68 H.
Saya tak tahu seberapa serius Andreas menyatakan diri beragama jurnalisme. Mungkin itu ungkapan kekecewaannya terhadap kehidupan beragama di Indonesia yang dipenuhi kekerasan. Mungkin ia percaya kepada jurnalisme, karena seorang jurnalis pada hakikatnya meneruskan peran kenabian: 'menyampaikan apa yang benar', melayani publik, melayani umat.
Dalam buku bunga rampai itu, Andreas mengupas sembilan elemen jurnalisme yang menjadi semacam 'sembilan perintah bagi wartawan'. Sembilan elemen tersebut agaknya yang membuatnya meyakini jurnalisme tak ubahnya agama.
Sembilan elemen ini dituahkan gurunya di Nieman Fellows, Bill Kovach: kebenaran fungsional, loyal terhadap warga, disiplin verifikasi, independen, memantau kekuasaan, jurnalisme sebagai forum publik, menjadikan berita menarik dan relevan, menjaga berita komprehensif dan proporsional, dan mendengarkan hati nurani.
Namun semudah itukah berharap pada jurnalisme di sebuah negeri yang tengah koyak seperti Indonesia? Jurnalisme memang hadir untuk melayani publik, menyampaikan kebenaran. Dengan demikian, publik bisa melanjutkan hidupnya, dan menentukan pilihan-pilihan berdasarkan informasi tersebut. Namun, jurnalisme di Indonesia dalam praktik tak selamanya sejalan dengan jurnalisme di langit gagasan.
Jurnalisme Indonesia menghadapi persoalan dari awal, justru dari masalah kemampuan wartawan dalam menulis. Andreas menulis: banyak redaktur mengeluh tentang betapa sedikitnya wartawan yang bisa menulis berita dengan benar. Kesalahan terjadi dalam proses rekrutmen.
Media-media besar cenderung melakukan rekrutmen dengan jalan 'konservatif', sebagaimana layaknya rekrutmen pegawai di perusahaan non media. Calon wartawan ditanyai berapa tinggi indeks prestasi kumulatif di bangku kuliah. Mereka dites oleh orang-orang personalia, seringkali tanpa melibatkan tulisan sang wartawan, dan melalui tes psikologi.
Padahal, apa pula relevansi indeks prestasi kumulatif semasa kuliah dengan kemampuan menulis? Apalagi, rata-rata wartawan Indonesia tidak memiliki latar belakang pendidikan sekolah jurnalistik. Mereka berasal dari perguruan-perguruan tinggi umum yang tak terkait sama sekali dengan jurnalisme.
Mengandalkan sekolah jurnalistik untuk memasok wartawan di Indonesia juga tak cukup. Jurnalisme adalah panggilan jiwa, bukan sebuah pekerjaan biasa. Lagipula, dalam masa reformasi, terjadi lonjakan jumlah media cetak, televisi, radio, dan online. Wartawan saat ini diperkirakan sekitar 8.000-10.000 orang.
Sekolah jurnalisme juga mengalami persoalan: terhambat 'kurikulum nasional', tak memiliki interaksi antara pendidikan jurnalisme dan industri media, tak dilengkapi teknologi memadai, dan 80 persen terletak di Jawa sehingga tak memiliki persebaran merata di seluruh Indonesia.
Andreas mengkritik model pencarian jurnalis televisi melalui model 'festival' ala Indonesian Idol atau Akademi Fantasi Indonesiar. Model pencarian jurnalis 'festival' ini cenderung instan dan seorang calon wartawan tak diukur rekam jejak kemampuan jurnalismenya.
Bagi seorang Sonny Rawls, mantan wartawan dan redaktur The Philadelphia Inquirer, sebuah koran di Amerika, mencari wartawan adalah seni, dan perlu dilakukan sendiri oleh redaktur puncak media massa bersangkutan. Tulisan adalah utama. Rawls jarang memasang pengumuman lowongan, dan justru memilih melakukan talent scouting di media-media kecil.
Dari persoalan kemampuan, hambatan berikutnya jurnalisme Indonesia adalah masalah bias. Tak mudah bagi wartawan Indonesia melepaskan bias dalam liputan, terutama terkait dengan konflik sosial, politik, agama, atau nasionalisme. Di Ambon, laporan reportase Majalah Pantau dengan gamblang menyebutkan, bagaimana media massa terbagi dalam keberpihakan dua kelompok penganut agama yang saling bertikai.
Dalam sebuah konflik, kebenaran tak selamanya segaris dan sejalan dengan posisi tertentu: entah itu posisi sosial, politik, kelompok agama, maupun ideologi. Kebenaran adalah kebenaran, sesuatu yang fungsional, yang selalu bisa diperbaiki terus-menerus melalui proses verifikasi. Jurnalisme bukan propaganda, dan tak memiliki label dengan paham apapun.
Tak mudah bagi wartawan untuk memantapkan posisi mereka sebagaimana diidealkan. Terlebih lagi industri media massa tak banyak memberikan ruang pada independensi. Sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat, para redaktur menerapkan gaya manajemen yang disebut 'management by objections'.
Dalam model manajemen ini, pendapatan seorang redaktur dikaitkan dengan penjualan iklan. Andreas, mengutip dari Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, menilai, model seperti ini bisa menggeser loyalitas media massa dari kepada masyarakat terhadap keuntungan perusahaan alias pemasang iklan.
Konglomerasi media massa membuat posisi jurnalisme di Indonesia lebih menjadi arena pertarungan kepentingan bisnis dan politik pemilik media. "Gerak bisnis media massa lebih cepat daripada gerak redaksional," keluh Andreas. Redaksi bisa melakukan sensor internal jika tak sesuai dengan kepentingan pemilik bisnis atau politik modal atau media.
Pertanyaan penting berikutnya: masihkah ada jalan keluar? Andreas menegaskan: ruang redaksi bukanlah tempat di mana demokrasi dijalankan. Ruang redaksi bahkan punya kecenderungan menciptakan kediktatoran. Membolehkan tiap individu wartawan menyuarakan hati nurani pada dasarnya membuat urusan manajemen menjadi lebih kompleks.
Tugas setiap redaktur memahami persoalan ini. Keputusan final ada di tangan redaktur. Namun. mereka harus senantiasa membuka diri, agar setiap orang yang hendak memberikan kritik bisa langsung datang kepada mereka.
Andreas mengutip Bob Woodward, wartawan The Washington Post yang kesohor itu. "Jurnalisme yang paling baik seringkali muncul ketika ia menentang manajemennya." [wir]
Labels: Buku, Esai, Jurnalisme
30 January 2011

Mazhab Tegalboto dan Kematian Pegiatnya
Tegalboto adalah nama kawasan di Kecamatan Sumbersari, tempat Universitas Jember berada. Sejak lama, nama Tegalboto selalu dikait-kaitkan dengan semacam joke atau 'guyonan' aliran intelektual tertentu.
Waktu saya masih kuliah di Universitas Jember, para aktivis pers kampus menyebut diri mereka 'kuliah di ITB'. ITB di sini bukan Institut Teknologi Bandung, tapi 'Institut Tegal Boto'. Tegalboto di sini merujuk pada nama majalah yang diterbitkan Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa Unej.
Buku terbitan Pena Salsabila, Januari 2011, berjudul Selamat Jalan Pegiat Madzhab Tegalboto mengaitkan Tegalboto dengan mazhab (aliran pemikiran). Sepintas, penyebutannya agak mirip-mirip dengan penyebutan Frankfurt untuk Mazhab Frankfurt, sebuah aliran pemikiran sosiologi dan filsafat yang dikenalkan oleh para pemikir dari Universitas Frankfurt Jerman, seperti Horkheimer, Adorno, atau Habermas.
Terlalu muluk dan berlebihan, tentu, menyetarakan Mazhab Tegalboto dengan Mazhab Frankfurt. Namun judul buku ini memang memancing orang untuk bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan Mazhab Tegalboto. Orang yang belum pernah bergumul dengan dunia intelektual kampus Unej, tentu juga akan bertanya: siapakah Dr. A. Habibullah MSi.
Buku ini dipersembahkan untuk semacam menjadi eulogia bagi Habibullah yang meninggal tahun lalu. Penulisnya adalah para aktivis mahasiswa atau mantan mahasiswa Habib di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember. Isinya, selain esai riwayat singkat Habib, berisi sejumlah pengalaman dari para aktivis selama bersinggungan dengannya. Namanya saja pengalaman, tentu yang manis-manis.
Nur Hasan, Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumnus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, menuliskan kepedulian Habibullah terhadap para aktivis organisasi mahasiswa berbasis NU itu. "Mas Habib membuka pintu rumahnya lebar 24 jam ketika ada kader PMII yang akan berkonsultasi," tulisnya.
Di Medan, Sumatera Utara, Edy Wahyudi, salah satu mantan aktivis PMII, pernah menyaksikan 'ke-mbelingan' Habibullah. Mereka berdua meninggalkan salah satu sesi acara pelatihan, dan memilih di depan televisi: menyaksikan timnas Indonesia melawan Uruguay. Habibullah memang penggila sepakbola, dan sama seperti saya, sama-sama penggemar Liverpool.
Achmad Faidy Suja'ie, mantan Ketua Umum PMII Jember, menyebut Habibullah Facebooker yang militan. Akun FB Habibullah tak pernah sepi dari perdebatan soal sepakbola. Posisi Habibullah dalam konteks relasi PMII dan organisasi alumnusnya diibaratkan seperti posisi Ahmad Bustomi, saat bermain untuk Arema dan timnas Indonesia.
"Dia memang tidak sepopuler Irfan Bachdim, Christian Gonzales, maupun Markus Haris Maulana. Tapi peran yang dimainkannya cukup vital," tulis Faidy.
Akhirnya, buku ini lebih banyak berisi romantisme dan kenangan bersama Habibullah. Tak banyak pemaparan mengenai apa itu 'Mazhab Tegalboto' dan mengapa Habib menjadi pegiatnya. Ada tulisan dari MN Harisudin, seorang dosen, yang judulnya dijadikan judul buku ini. Namun tak banyak menyentuh hal-ihwal Mazhab Tegalboto.
Menurut Harisudin, ide mazhab ini pertama kali disuarakan oleh Abdul Halim Soebahar, dalam pengukuhan guru besarnya di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember, 23 Januari 2010. Mazhab sebagai diwacanakan ini sedikit lentur pengertiannya.
"Menurut saya, pengertian mazhab di sini adalah sekelompok orang dalam sebuah komunitas yang berdiskusi secara intensif dengan ikhtiar memunculkan gagasan yang berserakan untuk kemaslahatan kemanusiaan," tulis Harisudin.
Jika mengacu dari buku yang diangkat dari hasil penelitiannya untuk meraih gelar doktoral, posisi intelektual Habibullah terang-benderang: antiliberalisme pasar. Ia salah satu orang yang masih 'mengimani' negara bekerja bagi kemaslahatan banyak orang.
Jadi, memang 'Mazhab Tegalboto' jika itu diartikan sebagai sebuah aliran pemikiran jelas belumlah tuntas. Buku ini tidak banyak menjawab, bahkan belum bisa menjawab. Namun sebagai bagian dari itikad untuk mengenang, dan mengenang sebagai bagian dari 'melawan lupa', buku ini memang perlu ada. [wir]
01 May 2010
Dari Diskusi Budaya Membaca di Bojonegoro
Negara Ramah Buku?
Redaktur Beritajatim.com, Ainur Rahim menyatakan, lemahnya budaya baca di masyarakat tak lepas dari mahalnya harga buku dan kuatnya budaya oral atau verbal. Demikian kesimpulan pemaparan makalah dalam diskusi budaya dalam Pekan Bojonegoro Membaca, Jumat (30/4/2010) malam.
Apa boleh buat. Ini angka yang pahit. UNDP menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia berada di rangking 96, yang disejajarkan dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Di Asia Tenggara, Indonesia hanya unggul atas Kamboja dan Laos.
Penelitian International Education Achievement (IAE) tahun 2000 menunjukkan, dalam hal minat baca, siswa sekolah dasar di Indonesia menduduki peringkat 38 dan siswa sekolah menengah pertama menduduki perinkat 34 dari 39 negara yang diteliti. Nilai tersebut diukur dari kemampuan membaca rata-rata.
Tahun 1998, Bank Dunia membuat laporan berjudul "Education in Indonesia - From Crisis to Recovery". Di sana disebutkan, anak-anak kelas enam sekolah dasar di Indonesia tertinggal jauh dalam hal kemampuan membaca dibandingkan Filipina, Thailand, Singapura, dan Hongkong.
Dra. Berlina Sjahudhym dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menunjukkan fakta pahit lainnya, sebagaimana dimuat Kompas, 5 Maret 1990: 81,58% responden mahasiswa UI mengaku kurang membaca karena malas.
Semua angka itu menjelaskan satu hal: betapa rendahnya minat dan kemampuan baca masyarakat Indonesia. Tak ada yang secara khusus mau bertanggungjawab terhadap fenomena ini. Namun, pemerintah mengakui, bahwa urusan minat dan kemampuan baca yang letoy berujung panjang ke mana-mana. Tahun 2001, sebagaimana dikutip dari Majalah Gatra, Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional Makmuri Muchlas mengatakan, minat membaca juga berpengaruh terhadap daya saing tenaga kerja Indonesia yang menduduki urutan ke-46 di dunia, di bawah Singapura (2), Malaysia (27), Filipina (32) dan Thailand (34).
Dari mana kita mengurai benang kusut ini? Ada banyak faktor yang tentunya bisa dituding. Namun, tak ada faktor yang bisa berdiri sendiri. Dari sisi sosiologis, sebenarnya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang mengalami gegar budaya, terkaget-kaget dengan perubahan zaman tanpa mampu mengantisipasi dan mengikutinya.
Masyarakat Indonesia tumbuh dalam kultur agraris, yang menempatkan budaya oral, getok tular, dalam menyampaikan pengetahuan. Pengetahuan dibentuk oleh seorang agen yang dianggap bijak dan berpengetahuan luas, seperti tokoh masyarakat, pemimpin desa, tokoh agama. Pengetahuan ini disampaikan dari mulut ke mulut, melalui cerita, kisah-kisah, dan membentuk mitos. Dunia pada akhirnya digambarkan atau direkonstruksi melalui mitos yang dibangun itu, misalkan jangan menebang pohon besar karena ada penunggunya, atau bencana timbul karena ada dewa yang marah.
Indonesia modern adalah Indonesia yang semakin terindustrialisasi. Sawah-sawah digusur dijadikan kompleks perumahan atau pabrik. Desa-desa dimasuki listrik dan televisi. Gaya hidup baru sebagai masyarakat visual yang serba instan, masyarakat yang suka nonton dan terpengaruh oleh apa yang ditonton, mulai terbangun namun belum sepenuhnya selesai. Sementara gaya hidup lama, budaya ngobrol, tak sepenuhnya ditinggalkan dan tergantikan.
Jadi tak heran, kalau infotainment alias gosip di televisi menjadi acara yang cukup diminati. Untuk acara yang lebih serius, bincang-bincang berita alias talkshow sebagaimana di TV One, lebih diminati ketimbang format berita konvensional. Acara bincang-bincang ini biasanya membahas topik serius dengan mendatangkan narasumber yang berkompeten, seperti anggota DPR, akademisi, tokoh LSM, pejabat pemerintah. Peran tokoh masyarakat, pemimpin desa, dan tokoh agama lokal sebagai agen pembentuk dan penyampai pengetahuan tergantikan oleh mereka.
Di mana posisi buku, koran, dan bahan bacaan lainnya sebagai salah satu perekonstruksi pengetahuan? Di Indonesia, satu surat kabar dibaca 45 orang. Idealnya, satu eksemplar surat kabar dibaca sepuluh orang. Namun dibandingkan Filipina (satu surat kabar dibaca 30 orang) dan Srilangka (satu surat kabar dibaca 38 orang), masyarakat kita jelas 'tak terlalu bersahabat' dengan surat kabar.
Nasib buku juga tak kalah apes. Buku-buku soal isu-isu kontemporer yang menarik perhatian masyarakat seperti kasus Bank Century, Susno Duadji, korupsi, dan lain-lain memang banyak beredar. Buku-buku ini bukan sekadar kumpulan kliping, namun juga cukup analitis dan memberikan pengetahuan komprehensif kepada masyarakat tentang sebuah kasus atau kejadian. Namun, dari belanja buku masyarakat, kita tahu bagaimana posisi buku hari-hari ini. Hasil Suvei Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) tahun 1999 menyebutkan: dalam setahun belanja masyarakat untuk buku dan suratkabar hanya sebesar Rp 1,9 trilyun. Angka ini berlipat-lipat di bawah belanja rokok (Rp 47 triliun).
Terdepaknya posisi bahan bacaan oleh bahan tontonan sebenarnya tak lepas dari beberapa hal. Bagi sebagian besar masyarakat kita, membaca adalah pekerjaan tak mudah. Saat kita membaca berarti kita berkenan memberikan ruang dan sedikit waktu bagi impuls otak kita untuk menerjemahkan, meresapi, dan memaknai apa yang dibaca sebelum berujung pada 'memahami'. Bandingkan dengan 'menonton' atau 'mendengar cerita orang' yang tak memerlukan 'rantai' sepanjang aktivitas membaca untuk sampai pada sebuah pemahaman. Dalam membaca, orang butuh untuk menganalisis dalam kadar tertentu.
Industri buku dan surat kabar juga tak terlalu menunjang. Oplah dan sirkulasi surat kabar tak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia. Jika satu surat kabar dibaca 45 orang, berarti oplah seluruh surat kabar se-Indonesia, jika digabungkan, hanya sekitar 4,4 juta eksemplar. Itu pun distribusinya tak merata. Jawa menjadi 'pusat peperangan' industri media cetak, dengan munculnya koran-koran lokal. Namun di luar Jawa, tak semua wilayah terjangkau media bermutu.
Begitu juga buku. Setiap bulan, setiap tahun, selalu ada buku yang terbit. Namun, ada banyak hambatan orang membaca buku. Sebagaimana koran dan majalah, masalah distribusi jadi salah satu kendala. Tak semua kota memiliki toko buku, dan tak semua toko buku memiliki jaringan penerbit yang bagus. Masyarakat pulau Jawa masih lebih dimanja dengan ketersediaan buku yang memadai dibandingkan masyarakat di pulau lain.
Kendala terbesar tentu saja masalah ekonomi. Harga koran tak pernah bisa stabil, karena harus disesuaikan dengan harga kertas internasional. Kecenderungannya harga koran dan majalah selalu naik. Harga buku setali tiga uang. Selain ongkos kertas, pajak dan pembelian hak cipta untuk buku-buku luar negeri ikut mendongkrak harga jual buku.
Pemerintah juga tak terlalu membantu. Tahun 1966, subsidi kertas murah untuk penerbit buku dihapus. Menurut Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), mulanya tahun 1950 penerbit yang menjadi anggota IKAPI 13 penerbit, dan pada akhir masa Orde Lama naik menjadi 600 lebih. Tahun 1973 yang tersisa hanya 100 penerbit buku. Hari-hari ini jumlah penerbit buku yang tergabung dalam IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) kembali menjadi 600 penerbit, dengan 2.500 judul buku yang diterbitkan setiap tahun.
Dengan jumlah warga miskin yang masih banyak dan masih kuatnya kultur oral ketimbang literal, semua hambatan itu memperlengkap lemahnya budaya baca di Indonesia. Bagi orang-orang berpunya, buku masih belum dipandang sebagai bagian dari investasi masa depan. Bagi orang miskin, buku adalah barang mewah.
Jadi, apa solusinya? Banyak yang berharap terhadap perpustakaan. Perpustakaan, terutama milik pemerintah daerah dan sekolah, hadir untuk menjadi alternatif toko buku. Di sana, masyarakat bisa menjadi anggota dan meminjam buku.
Tapi, sayang sekali, perpustakaan cenderung masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah, terutama pemerintah daerah. Tanpa bermaksud melakukan generlisasi, mari kita memandangkan mata ke Kabupaten Jember. Ini kabupaten terbesar ketiga di Jawa Timur, setelah Surabaya dan Malang. Kehidupan masyarakatnya lebih dinamis dibanding kabupaten lain, terutama dipicu oleh adanya perguruan tinggi negeri Universitas Jember.
Namun, di Jember, Perpusda tidak memiliki tenaga pustakawan profesional, sementara jumlah pengunjung selama 2000-2007 sudah mencapai 109.206 orang. Padahal, Perpustakaan Daerah bertugas membina perpustakaan-perpustakaan yang ada di Jember.
Di Perpustakaan Daerah Jember, pada tahun 2008, jumlah staf yang berstatus pegawai negeri sipil 9 orang dan staf berstatus tenaga sukarelawan 11 orang. Semua tenaga administrasi. Tidak ada satu pun yang layak secara fungsional menjadi pustakawan, dalam artian memiliki ijazah pendidikan pustakawan. Tenaga pustaka Perpustakaan Daerah hanya ditempa pengalaman bekerja selama belasan tahun.
Perpusda di Jember juga belum bisa melakukan modernisasi sistem pustaka. Belum ada pemasangan barcode yang memungkinkan pemantauan buku yang hilang. Selama ini, buku yang hilang dan rusak kurang lebih lima persen.
Di Jember, status Perpustakaan Daerah masih UPT (unit pelaksana teknis) di bawah Dinas Pendidikan. Padahal, semakin maju negara, perpustakaan semakin dibutuhkan. Sesuai Peraturan Pemerintah nomor 41 tahun 2007, perpustakaan wajib minimal berstatus kantor. Peningkatan status ini tentu akan berdampak pada anggaran perpustakaan, terutama untuk pengadaan buku. Semakin lengkap perpustakaan, semakin menarik minat masyarakat untuk datang.
Repotnya, di Indonesia perpustakaan identik dengan meminta sumbangan dan hanya berdasarkan budget atau proyek dalam pengadaan buku-buku terbaru. "Kami dari perusahaan penerbit tidak pernah menemukan ada permintaan dari perpustakaan untuk membeli sejumlah buku baru yang dikeluarkan penerbit," kata Ketua Kompartemen Promosi dan Pameran Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Arianto, sebagaimana dikutip kapanlagi.com.
Beruntunglah, dalam masyarakat sekarang ada semacam gerakan sosial literasi. Ada banyak filantropis perorangan yang bersedia dengan uang sendiri mendirikan perpustakaan untuk didatangi masyarakat sekitar. Mereka menerima sumbangan buku-buku dari berbagai kalangan.
Di mana peran pemerintah? Mungkin perlu didengar apa yang dikatakan Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Setia Dhama Madjid pada tahun 2008. Menurutnya, kebijakan menyediakan buku murah bagi pelajar di Indonesia bisa saja tercapai asalkan pemerintah bersinergi dengan kalangan penerbit, salah satunya lewat subsidi pajak kertas. Subsidi kerras penting karena 60 persen biaya buku tergantung pada kertas.
Pemerintah daerah sudah saatnya memberikan perhatian lebih kepada perpustakaan daerah. Jangan biarkan gerakan sosial literasi para filantropis itu berkembang sendiri. Mereka mungkin tak butuh bantuan pemerintah, namun dengan upaya pemerintah memperhatikan lebih serius pengelolaan perpustakaan daerah, cita-cita untuk menjadikan 'buku sebagai hak untuk semua' akan tercapai. [wir]
Labels: Buku
26 April 2010
Sultan Khan
Bahkan di negeri yang buta huruf pun, buku-buku di rak toko milik Sultan Khan dianggap jadi agen subversif yang paling meresahkan. Ia seorang pedagang buku di Kabul, dengan buku yang beragam: sejarah novel, koleksi puisi, kisah-kisah legenda.
Dalam hidupnya yang sumpek dengan banyak istri dan anak, Sultan berada pada perbatasan stigma dua rezim yang hidup bergantian, rezim anti Tuhan dan rezim pemerintahan yang bertuhan. Di mata rezim komunis, ia borjuis kecil yang mencintai kapitalisme. Namun di mata Departemen Pembinaan Kebajikan dan Penghapusan Dosa milik Taliban (hanya Tuhan yang tahu apakah di akherat ada departemen macam begini), ia tak cukup Islami. Jenggot, salat lima waktu, berpuasa, dan pakaian shalwaar kameez yang cingkrang itu tak menyelamatkannya dari penjara.
Siang yang terik di bulan November itu, orang-orang buta huruf yang merasa membawa lisensi dari Tuhan datang: menyegel toko bukunya. Hari itu, mereka mencari buku-buku yang bergambar makhluk hidup. Tak butuh waktu lama untuk membuat api unggun dengan bahan bakar ratusan buku, di persimpangan Charhai e-Sadarat: sebuah api untuk memuliakan Yang Maha Berpengetahuan.
"Mulanya komunis membakar buku saya, lalu datang Mujahidin yang merampas dan menjarahnya. Terakhir, Taliban membakar semuanya," kata Sultan.
Jurnalis Asne Seierstad dalam buku The Bookseller of Kabul menunjukkan di Afghanistan, saudagar buku adalah salah satu pekerjaan yang paling berbahaya, yang memungkinkan orang seperti Sultan Khan berhadapan dengan para polisi syariat dan orang-orang yang menggengam kalashnikov.
Mereka menghanguskan buku-buku yang satu, tapi memaksa Sultan menjual buku-buku yang lain yang telah cemar.
Satu buku pelajaran Matematika versi Taliban yang digunakan untuk anak-anak kelas satu sekolah dasar bercerita tentang Omar dan Kalashinikov-nya.: Si Omar punya kalashnikov bermagazin tiga. Satu magazin berisi 20 butir pelor. Si Omar menembakkan dua pertiga pelor dan membunuh 60 orang murtad. Berapa orang murtad yang berhasil ditewaskan dengan setiap peluru?
Apa yang membuat buku dianggap begitu berbahaya? Saya tentu saja tak sanggup menyebutkan bertumpuk alasan rezim diktator di dunia yang membenci buku. Namun buku tentu saja mengakhiri rezim oral, folklore, cerita getok tular yang lebih banyak memunculkan mitos daripada fakta. Rezim cerita mulut ke mulut yang memungkinkan seorang diktator membangun citranya di atas tumpukan kebenaran dan ketidakbenaran, tanpa bisa dikoreksi ulang. Mitos menjalar cepat bagai wabah menular dengan banyak perawi.
Lalu Gutenberg menemukan mesin cetak, dan kita pun sadar: pengetahuan bukanlah monopoli para bangsawan dari puak tertentu dan para agamawan. Buku menjadi bagian dari liberalisasi manusia atas otoritas institusi yang menindas diri mereka atas nama apapun.
Mungkin, karena itulah, karena buku mewakili apa yang disebut semangat pembebasan manusia menembus bilik-bilik pengetahuan, ia menjadi dibenci oleh mereka yang membangun kuasa di atas doktrin. Doktrin, dogma, propaganda, tidak membutuhkan keragaman. Ia tak butuh dipertanyakan.
Buku ditulis dengan kuasa sang author, sang penulis. Namun, 'sang author mati' begitu bukunya dilemparkan ke pasaran dan dibaca banyak orang. Tafsir dan maksud sang author atas sebuah buku, bisa dibantah dan dimaknai berbeda oleh khalayak pembaca. Ini tentu menjengkelkan, dan lebih menjengkelkan lagi bagi rezim penyuka keseragaman, setiap buku berpotensi melahirkan buku tandingan. Terlalu banyak buku dengan pikiran yang berbeda memunculkan banyak kerepotan dan perdebatan.
Maka, kita pun tahu Herman Goebels membakar ribuan buku, saat para tentara Nazi tiba di setiap kota di Eropa. Kejaksaan melarang buku-buku yang dianggap bisa mencemari masyarakat dan tak sesuai dengan konstitusi (entah tafsir konstitusi mana yang dipakai): menyeakankan rakyat adalah domba yang tak berdaya, dan buku-buku adalah serigala-serigala dengan taring nan tajam. Pemerintah tak mau memberikan subsidi bagi penerbit buku agar buku-buku bisa dijual dengan murah. Anggaran untuk perpustakaan daerah lebih kecil daripada anggaran klub sepak bola. Semua berujung pada pemberangusan buku, pemberangusan semangat diseminasi pengetahuan: bahwa ilmu adalah hak untuk semua.
Namun, apa yang bisa didapat dari membakar sebuah buku, memberangusnya? Suatu hari dalam sebuah interogasi di bui, Sultan Khan berkata dengan bangga di hadapan para inkuisitornya: "Kalian bisa saja membakar buku-bukuku, kalian bisa menyusahkan hidupku, bahkan kalian bisa membunuhku, tapi kalian tak akan bisa menghapus sejarah Afghanistan." Hanya rezim yang bebal yang memberangus buku.
Verba volant scripta manent.
Yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi. [wir]
30 January 2010
Tentang Persahabatan, Dari Sebuah Persahabatan
Yoviena Kusuma Tamaranny sedang bungah. Tanggal 4 Februari nanti, ia berulang tahun ke-12. Sebuah kado indah tak terlupakan dalam hidupnya: buku novelnya diterbitkan oleh Penerbit Mizan Dar!, sebuah penerbit buku ternama di Bandung.
Buku itu berjudul Beautiful Friendship. Walau berjudul bahasa Inggris, namun ini novel berbahasa Indonesia. Buku ini berkisah tentang persahabatan masa remaja, tentang seorang gadis yang menjengkelkan yang akhirnya bisa bersahabat setelah ditolong oleh seseorang yang tak disukainya.
Yovi saat ini duduk di kelas lima SD Baitul Amien Jember. "Aku tidak tahu kalau bukuku diterbitkan. Aku tahunya dari Facebook. MUlanya tidak percaya ada teman yang memberitahu. Lalu aku disuruh lihat FB-nya Mizan. Ternyata iya," katanya, malu-malu.
Bagi Yovi, terbitnya buku itu adalah sebuah kejutan yang menyenangkan. Ia ingat menggarap buku itu selama sebulan, sekitar Mei 2009. Idenya berasal dari pengalaman pribadinya di sekolah. Tiga orang sahabat membantu urun ide dan ikut mengetik di komputer: Rani, Farisya, dan Ovi. "Pertama sih mau buat buku tentang Indonesia. Lama-lama jadi buku tentang persahabatan," katanya.
Kenapa persahabatan? "Ya, karena aku punya teman," kata Yovi enteng.
Kelar menulis, Yovi meminta kepada sang mama, Sumiani Syakri, untuk mengirimkan naskah ke Mizan. Kebetulan ia suka membaca buku terbitan Mizan Seri Kecil-Kecil Punya Karya. Ini sebuah seri novel yang ditulis oleh penulis-penulis kanak-kanak. Ide untuk mengirimkan karya ini ke Mizan sebenarnya berasal dari Masyitoh, guru Yovi.
Kepala Sekolah SD Baitul Amien, Muhammad Hafid, memuji Yovi sebagai penulis berbakat. "Waktu saya baca tulisan di mading (majalah dinding), saya berpikir: kok runtut ya tulisan anak ini," katanya. Agaknya bakat Yovi ini dilihat pula oleh gutu pembimbing mading, Masyitoh.
Bakat Yovi terlihat dari kemampuannya mengepul gagasan. "Aku kan berangkat ke sekolah dari Jenggawah naik bus. Saat menunggu bus itu, aku selalu melamun, berkhayal," katanya.
Kini, Yovi sudah menyiapkan buku kedua untuk dikirimkan ke Mizan: The Genuine Friend. Ini kumpulan cerita pendek tentang persahabatan.
Kelak ingin jadi penulis, Yovi? Ia menggeleng. "Aku ingin jadi profesor dokter," katanya. [wir]
Labels: Buku, Pendidikan
08 January 2010
Kanibalisme, Kepala Terpenggal, dan Cinta Indonesia
Menyaksikan kanibalisme di Borneo. Pembunuhan aktivis mahasiswa di Jakarta. Kepala-kepala terpenggal berseliweran. Nyaris memamah sate daging manusia. Terancam jiwa di Timor Timur. Itu semua telah dialami oleh Richard Lloyd Parry, jurnalis The Times Inggris selama 1997-1999 saat meliput Indonesia.
Semua ketegangan dan petualangannya sebagai seorang jurnalis travelog dan politik dituangkan dalam buku In The Time of Madness (yang diterjemahkan Serambi tahun 2008 dengan judul Zaman Edan). Namun, semua kengerian itu tak mengubah perasaan Parry terhadap Indonesia.
"To me this is very obvious, but sadly it hasn’t been obvious to all readers of the book: despite the violence which is the subject of much of my reporting, I love Indonesia. It is my favourite country, and I visit as often as I can for holidays as well as work," kata Parry kepada saya dalam surat elektroniknya yang memperbincangkan bukunya itu.
Sebagai seorang reporter Times, Parry sudah meliput di dua puluh enam negara, termasuk Afghanistan, Kosovo, dan Macedonia. "Tidak ada keraguan, Indonesia telah mengalami perubahan terbesar yang bisa dijalani sebuah negara: dari kediktatoran ke demokrasi. Itu sesuatu yang membuat orang Indonesia memiliki hak untuk berbangga hati," katanya.
Selama di Indonesia, Parry berutang budi pada banyak orang, pada narasumbernya yang sebagian besar tidak diidentifikasi dengan jelas. Menurut Parry, sebagian narasumber menolak disebutkan identitasnya secara jelas. "Dalam beberapa kasus, saya memilih tidak mengidentifikasi mereka secara penuh karena saya merasa ini yang terbaik," katanya.
Parry melahap sejumlah buku, termasuk buku tentang Soeharto. Ia menyanjung tulisan Goenawan Mohammad, jurnalis veteran Majalah Tempo, yang menurutnya diterjemahkan dengan indah ke dalam Bahasa Inggris.
Tanggal 14 Januari mendatang, Parry merayakan ulang tahun ke-41. Ia berharap bisa menulis kembali tentang Indonesia dan Timor. Sebagai orang asing, ia melihat Indonesia akan tetap bersatu. "That’s not to say that Papua (perhaps even Aceh) won’t continue to press for independence, and may get it. But Indonesia’s unity is assured," katanya.
Indonesia adalah bagian dari hasil kejeniusan seorang Sukarno dan para pendiri bangsa, yang membawa rakyat dari beragam ras dan pulau serta tempat, yang dalam hati mereka terpancar kesamaan identitas: ke-Indonesiaan. "An thrilling and beautiful achievement," kata Parry. [wir]
Labels: Buku, Jurnalisme
07 January 2010
Kejaksaan Jember Amankan 'Gurita Cikeas'
Baru sehari beredar di arena pameran Pesta Rakyat Jember, buku karya George Junus Aditjondro berjudul Membongkar Gurita Cikeas langsung diamankan oleh petugas Kejaksaan Negeri setempat, Kamis (7/1/2010).
Menurut keterangan dari sejumlah sumber, dua orang yang mengaku dari Kejaksaan Negeri Jember itu menemui pedagang salah satu stan buku. Lalu belasan buku 'Gurita Cikeas' yang ada langsung diambil. Hari, salah satu panitia pameran mengatakan, tidak tahu persis kejadian tersebut. "Tapi kata orang-orang terjadi pagi hari sebelum pameran dibuka," katanya.
Pantauan beritajatim.com, Rabu malam (6/1/2010) saat buku itu pertama kali dijual, poster fotokopian kover buku itu ditempelkan di dinding. Udin, salah satu penjual mengatakan, buku itu berasal dari Jogja. "saya cuma disuruh menjualkan, Mas. Harganya Rp 80 ribu," katanya.
Harga Rp 80 ribu jelas di atas bandrol resmi Rp 36 ribu. Namun jelas jauh lebih murah jika dibandingkan harga di kota lain yang bisa mencapai Rp 300 ribu per eksemplar. "Saya tidak tahu kalau buku itu dilarang. Pokoknya saya hanya jual," kata Udin.
Kendati dipajang Rabu malam itu, buku tersebut ternyata tak banyak menyita perhatian pengunjung. Tak satu pun pengunjung terlihat bertanya-tanya kepada sang penjual. Udin sendiri tampak gembira, saat mengetahui kehadiran buku Gurita Cikeas di stand-nya hendak diberitakan sebuah koran harian lokal di Jember. Namun siapa nyana, ternyata setelah berita kehadiran Gurita Cikeas ditampilkan Kamis pagi di koran lokal itu, justru yang hadir adalah petugas kejaksaan.
Beritajatim.com belum berhasil meminta konfirmasi dari Irdam, Kepala Kejaksaan Negeri Jember. Namun, sumber kuat beritajatim.com di Kejaksaan Negeri Jember membenarkan penyitaan itu. Namun ia menampik jika itu disebut penyitaan. "Ini pengamanan berdasarkan surat edaran Jaksa Agung," bisik sumber tadi.
Menurutnya, 14 buku diambil dari arena pameran. "Sementara dipelajari di kantor. Nanti baru akan ditentukan apakah masuk buku yang dilarang beredar atau tidak. Kalau nanti dalam penelitiannya tidak terlarang, ya dikembalikan ke penjualnya," katanya.
Bagaimana dengan penjualnya? "Tentu saja dia tidak terkait," kata sumber tadi.
Buku George Junus Aditjondro berjudul Membongkar Gurita dari Cikeas membuat panas kuping Presiden SBY dan pendukungnya. Menyoroti dugaan penyalahgunaan kekuasaan di tubuh istana, buku itu menghilang dari peredaran. Sejumlah toko buku besar takut menjualnya. [wir/bjo]
Labels: Buku, Obrolan Kota, Peristiwa, Politik
03 January 2010
Alami Post-Traumatic Stress Disorder Setelah Meliput di Timtim
"East Timor was the hardest place because it was the most dangerous." Timor Timur adalah tempat reportase tersusah, karena itu tempat yang paling berbahaya.
Pernyaan ini meluncur dari Richard Lloyd Parry, jurnalis The Times London, yang menulis buku In The Time of Madness. Buku ini terbit tahun 2005, dan baru diterjemahkan dengan judul Zaman Edan oleh penerbit Serambi tiga tahun setelahnya.
In The Time of Madness berisi reportase perjalanan (travelog) Parry di Kalimantan, Jawa, dan Timor Timur. Saya pernah mewawancarainya via surat elektronik seputar bukunya tersebut. Saat film Balibo yang bercerita tentang tewasnya enam wartawan Australia dan Inggris saat invasi Indonesia di Timor Timur diputar, saya mendadak teringat petualangan Parry.
Parry menjelaskan dalam suratnya kepada saya dengan gamblang, betapa menegangkan petualangannya di Timor Timur. Dibandingkan dengan saat meliput perang etnis di Borneo dan reformasi 1998 di Jawa, ia merasa jiwanya lebih terancam saat meliput proses referendum Timor Timur tahun 1999.
"Timor Timur dalam keadaan rusuh tak pasti saat saya pertama ke sana... Soeharto telah tumbang lima bulan silam,... atmosfer di Dili telah berubah secara dramatis," tulis Parry dalam bukunya.
Parry terobsesi bertemu dan mewawancarai para pejuang Falintil, Tentara Nasional Pembebasan Timor Timur. Masuk ke Dili, ia menyebutkan identitas pekerjaan sebagai guru yang tengah berlibur kepada petugas di bandara. Ia menginap di Hotel Turismo, hotel yang juga ditempati wartawan Australia yang terbunuh tahun 1975, Roger East. East adalah wartawan senior Australia yang melacak keberadaan lima jurnalis muda televisi. Dalam Balibo yang disutradarai Robert Connolly, East digambarkan tewas ditembak tentara Indonesia di dermaga.
Bersama Jose, seorang pejuang Falintil, Parry masuk hutan untuk menemui para serdadu Falintil yang diisukan telah terkalahkan oleh pemerintah Indonesia. Mulanya, ia takut. Namun setelah bertemu dengan seorang komandan Falintil di hutan, ia menjadi lebih berani. "Jika kami semua terbunuh, maka Anda pun akan terbunuh," kata seorang gerilyawan. "Tapi, selama Commandante masih hidup, senhor akan hidup. Silakan bertanya."
Setelah Presiden Baharuddin Jusuf Habibie menyetujui adanya referendum, suasana di Timor Timur memanas. Anggota milisi pro Indonesia menyerang warga sipil. Para dokter dan guru-guru Indonesia mulai angkat kaki.
Parry tidak ragu-ragu menunjukkan simpatinya kepada kelompok pro kemerdekaan dan antipatinya kepada kelompok pro Indonesia. "Pendukung otonomi (pro Indonesia) tampil memuakkan... Rambut panjang berminyak, lengan atas terbuka, dan dikelilingi tato-tato misterius... Mereka kumal, norak, dan bau, serta mendapatkan banyak uang dari suatu tempat," tulisnya.
Mereka membenci orang asing berkulit putih. "Pulanglah, Inggris," teriak salah satu anggota milisi kepada Parry, saat bertemu di jalan.
Di Timor Timur, wartawan asing bisa menjadi sasaran sewaktu-waktu. Dalam sebuah perjalanan menuju markas Unamet, sebuah otoritas di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengawasi referendum, sejumlah wartawan, termasuk Parry, terjebak dalam serangan pasukan milisi. Seorang koresponden The Washington Post kena sabet golok. Mereka dikepung tembakan-tembakan.
Pendukung kemerdekaan menang akhirnya. Hasil referendum menyatakan, 78,5 persen rakyat Timor Timur menentang opsi otonomi khusus dan lebih memilih merdeka. Situasi tegang. Sepanjang sore suara tembakan terdengar di Dili. Evakuasi mulai dilakukan. Sebagian wartawan dan orang sipil asing mulai diungsikan ke Australia.
Redaktur Times di London menyarankan Parry segera meninggalkan Dili. Parry mulai merasa tak pasti. Berkali-kali ia menuliskan dan menghapus namanya dari daftar orang-orang yang ingin dievakuasi. Berlindung di markas Unamet bukan jaminan keselamatan. Milisi bisa menyerang sewaktu-waktu.
Parry akhirnya memilih mengungsi ke Darwin, Australia. "Saya telah menjadi pengecut dan melarikan diri. Saya sudah lari karena takut terbunuh, atau lebih tepatnya, mati ketakutan," tulisnya dalam buku In The Time.
Ketakutan ini sangat manusiawi. Sebelum meninggal tahun 1975, Roger East sempat memaksa Jose Ramos Horta untuk ke Balibo, mencari lima wartawan muda yang diduga tewas di sana. Namun, East akhirnya memilih 'balik kucing' karena ketakutan setelah diguyur pelor oleh helikopter Indonesia. Ia memilih kembali mencari, setelah ada pergolakan batin dalam dirinya.
Parry menghabiskan waktu dua pekan di Darwin. Kisah-kisah kekejaman pasca referendum mulai menyebar: pembunuhan pendeta, ratusan ribu orang mengungsi ke gunung, pembumihangusan rumah-rumah warga. Dan, Parry mengakui, ia tidak cukup berani berada di tengah-tengah itu semua.
Parry kembali ke Timor Timur setelah pasukan asing ditambah untuk menjaga keamanan. Namun Timor Timur tetap berbahaya bagi seorang jurnalis. Sander Thoenes dari koran Christian Science Monitor, Amerika Serikat, menjadi wartawan asing ketujuh yang tewas di negara itu. Pengadilan Timtim menjatuhkan vonis bersalah kepada seorang mayor Indonesia yang didakwa membunuh Thoenes. Namun, vonis itu adalah vonis kosong, dan sang mayor tetap bebas.
Parry terjatuh dalam kesedihan setelah meliput kekerasan di Timor Timur. Ia menyebut dirinya menderita post-traumatic stress disorder ringan. "Ini sembuh bersama dengan waktu, salah satunya karena saya menulis buku ini (In The Time of Madness)," katanya kepada saya. [wir]
Labels: Buku, Jurnalisme
01 January 2010
Kengerian Jurnalis Asing Meliput Indonesia
Ditawari Sate Daging Manusia di Kalimantan
Awalnya adalah sebuah foto di tahun 1997. Seorang reporter jaringan internasional baru saja kembali dari Kalimantan, dan ia membawa sebuah foto kepala terpenggal. Hari itu, tak ada satu pun media massa Indonesia yang memuat foto seperti itu.
Richard Lloyd Parry, jurnalis surat kabar Inggris, Times, menggambarkan perasaannya dalam buku In The Time of Madness (2005), saat melihat foto itu: "Kepala itu tergeletak di tanah...Lebih terasa absurd daripada kejam."
Parry memilih terbang ke Kalimantan, meninggalkan keriuhan kampanye pemilu. Di sana, perburuan manusia dalam arti sebenarnya tengah terjadi: orang-orang Dayak memburu kepala orang-orang Madura, tak peduli laki-laki, perempuan, dewasa, atau anak-anak. Parry menuju Pontianak, Kalimantan Barat, tempat pemukiman warga Madura dibumihanguskan.
Di Pontianak, Parry bertemu dengan dua pendeta: Anselmus dan Andreas. "Mereka penonton yang tak berdaya," kata Parry kepada saya, dalam sebuah wawancara melalui surat elektronik. Mereka memang selalu mengajarkan kedamaian dan larangan Tuhan untuk membunuh. Namun dalam sebuah konflik yang berskala luas, ajaran damai itu tak lagi didengar.
Meledaknya perseteruan Dayak melawan Madura lebih banyak disebabkan oleh kabar-kabar tak jelas. Tanggal 29 Januari 1997, beredar kabar dua pria Madura mendobrak masuk tempat dua gadis Dayak, yang tengah berbaring di tempat tidur di tepi kota Pontianak. Kedua gadis itu dianiaya dan pakaian tidur mereka dikoyak dengan arit. Sejak saat itu, peperangan pun dimulai.
Kendati orang-orang Dayak menyerang warga Madura dan rumah-rumah mereka, mereka tidak membakar masjid dan kantor milik pemerintah. Mengutip keterangan salah satu narasumbernya, Parry menulis dalam bukunya, warga Dayak tak ingin pergolakan antaretnis itu berubah menjadi perang antar pemeluk agama Islam dan Kristen. Mayoritas warga Dayak beragama Nasrani. Mereka juga tak mau berhadapan dengan pemerintah, gara-gara merusak fasilitas negara.
Mereka juga tidak menjarah barang. "Mereka bukan orang kaya. Tapi kalau mereka menemukan mobil atau perabotan bagus, mereka membakarnya," tulis Parry dalam In The Time of Madness. Buku ini tiga tahun kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Zaman Edan.
Parry juga mengungkapkan adanya ilmu hitam dalam konflik itu. Mengutip Romo Kristoff, seorang pendeta, orang Dayak yang kesurupan roh perang Kamang Tariu akan kebal tubuhnya. Orang Dayak itu juga tak mengenal capek. Namun, "ia harus makan darah."
Kepada saya, Parry mengatakan, tidak suka menggunakan kata 'evil' (jahat) untuk menjelaskan fenomena di Kalimantan itu. "Kekerasan terjadi karena ketidakadilan yang terjadi selama berdasawarsa-dasawarsa oleh pemerintah Indonesia terhadap orang Dayak," katanya. Ini menyebabkan orang Dayak merasa pilihan mereka satu-satunya adalah kekerasan. Tuduhan adanya provokator di balik terjadinya kekerasan itu hanya digunakan oleh orang yang tidak berani menghadapi alasan kekerasan sebenarnya.
Dari hasil reportasenya di Kalimantan, Parry menulis artikel berjudul What Young Men Do, dimuat di koran Times dan di Majalah Granta. Ia dihujani surat kecaman dari berbagai organisasi hak asasi manusia, yang tak percaya telah terjadi pembantaian warga Madura oleh warga Dayak di Kalimantan.
Tahun 1999, Parry kembali mendatangi Kalimantan. Kali ini ia meliput konflik yang melibatkan etnis Madura, Dayak, dan Melayu. "Saya kembali ke Kalimantan Barat, dan nyaris menjadi seorang kanibal pula," tulis Parry dalam bukunya.
Parry datang tepat pada waktunya, saat konflik memanas. Parry menulis: 'Situasinya sudah sangat buruk. Semua bersiap melakukan pembantaian. Sepanjang jalan pantai... orang Melayu sedang bergerak...menyisir perkampungan orang Madura. Di pedalaman, pasukan perang Dayak juga berkumpul. Dan terjebak di tengahnya adalah puluhan ribu orang Madura'.
Di sebuah desa Madura, Suka Ramai, Parry merasakan tubuhnya bergidik. Sepetak jalan lengket oleh darah. Seorang bocah memamerkan sepotong lengan yang terluka di bagian siku. Lengan manusia. Seluruh jari di potongan lengan itu telah terlepas. Tulang dan otot mencuat.
Bau rumah terbakar membubung di udara. Di desa itu ada sebuah warung sate, dengan arang yang membara di tempat pembakaran daging sate. Di tengah-tengah tempat pembakaran sate itu, sebatang tulang paha manusia terpanggang.
Seorang pria berikat kepala kuning mendekati Parry. Jari-jemarinya yang berminyak memegang setusuk sate daging berserat setengah matang. "Silakan," ia menawarkan sate itu kepada Parry.
Budi, warga lokal pemandu Parry, dengan panik mengajak Parry segera pergi. "Enak seperti ayam," kata pria yang memaksa Parry untuk memakan sate itu.
Si tukang sate Melayu menarik baju Parry. Parry berjuang keras untuk menampik tawaran itu. "Seberapa dekatkah saya dengan seorang Kanibal," pikiran itu sempat terbetik di benak Parry.
Sopir berhasil menyalakan mesin jip yang ditumpangi Parry. Orang-orang itu masih saja berteriak menawarkan sate daging manusia kepada Parry. Namun jip segera melaju, meninggalkan mereka.
Beberapa tahun kemudian, setelah In The Time of Madness terbit, saya melayangkan surat elektronik kepada Parry. Saya menanyakan perasaannya sebagai jurnalis saat itu, menyaksikan kepala-kepala yang terpenggal.
"Saya merasa takjub, grogi (kendati secara pribadi tidak pernah merasa terancam), terpesona -- dan merasa malu dengan keterpesonaan itu. Jujur saja, saya merasa istimewa berada di sana," kata Parry.
Bersimpati kepada korban? "Tentu saja saya merasa bersedih, kendati saya tak pernah bertemu mereka saat hidup atau melihat mereka menderita, sulit untuk menjelaskannya sebagai rasa simpati personal," kata Parry kepada saya.
Parry mencoba meliput peristiwa itu dan menuliskannya secara adil. Namun ia tidak percaya seorang manusia bisa bersikap objektif, kendati sudah berupaya keras untuk itu. "Tujuan saya adalah mendeskripsikan apa yang terjadi, dan juga mendeskripsikan bagaimana rasanya berada di sana," katanya. [wir]
Labels: Buku, Jurnalisme
28 December 2009
Membungkam 'Gurita Cikeas'
Minggu malam, saya menerima SMS dari adik saya. Ia mengabarkan, ada buku 'Membongkar Gurita Cikeas' di salah satu toko buku di Surabaya. Dalam hitungan tak lama, stok buku tersebut di toko itu menipis. Saya melayangkan SMS balik adik saya dan meminta agar segera dibelikan: 'selamatkan satu untukku'.
Saya memilih kata 'selamatkan', karena saya khawatir, saya tengah terlempar dalam sebuah dejavu: sebuah perulangan peristiwa yang pernah saya alami. Saya teringat saat mahasiswa, saya tak pernah bebas membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer, sastrawan kiri dari Lekra. Buku-buku itu diedarkan secara diam-diam, dari tangan ke tangan, karena buku-buku itu dicekal oleh Kejaksaan Agung. Saya ingat, seorang aktivis mahasiswa Jogjakarta harus masuk tahanan, karena tertangkap mengedarkan buku-buku Pram.
Saya merasa saat itu, membaca buku pun (terutama buku-buku berbau kiri) adalah bagian dari heroisme. Ini seperti pernyataan sikap yang terang-benderang: kami masih bisa melawan.
Reformasi datang, dan saya bisa membaca semua buku yang saya suka. Toko-toko buku lebih variatif. Tiada sensor. Saya seperti melihat harapan baru: melalui buku dan media massa, kita membangun Indonesia yang lebih baik.
Ketika Kejaksaan Agung mengumumkan pelarangan beredarnya lima buku, saya menjadi salah satu orang yang terkaget-kaget. Saya seperti melihat awan hitam itu kembali berarak-arak. Kecemasan semakin tebal, saat mengetahui buku 'Membongkar Gurita Cikeas' karya George Junus Aditjondro juga dibayang-bayangi pencekalan.
Buku ini mengundang reaksi keras dari istana dan orang-orang dekat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Juru bicara presiden, Julian Aldrin Pasha, menyatakan: SBY prihatin. Di sebuah toko buku, Membongkar Gurita Cikeas urung dijual karena khawatir. Para pendukung SBY di pemerintahan ramai-ramai menyebut buku itu 'sampah'. Bahkan, ada ancaman untuk memperkarakan Aditjondro.
Di tengah kehebohan ini, kita memang belum mendengar adanya keputusan resmi dari pemerintah untuk melarang buku tersebut. Ini tentu sesuatu yang menggembirakan. Setelah lima buku 'dibungkam' oleh kejaksaan, tentu kita tak ingin satu buku lagi dibungkam begitu saja.
Pemerintahan SBY-Boediono sebaiknya tidak mengulangi buruk laku rezim Soeharto. Soeharto demi alasan stabilitas dengan mudah bisa membungkam penerbitan pers, dan melarang penerbitan buku tertentu. Jika ini dilakukan, maka pemerintahan SBY-Boediono sama saja menganut apa yang diyakini Hermann Goebels, propagandis Nazi yang membakar buku. Namun kita kemudian tahu rezim mana pun yang membakar buku tak pernah bisa bertahan, karena mereka tak akan pernah bisa membendung kebenaran.
Alasan stabilitas tak layak digunakan sebagai alasan untuk melarang sebuah buku. Penetrasi buku di tengah masyarakat Indonesia masih lemah. Klise, budaya baca belum tumbuh bagus di negeri ini. Jika pemerintah merasa terganggu dengan penerbitan buku George Junus Aditjondro, maka tak ada salahnya pemerintah menerbitkan semacam buku tandingan. Ini lebih bagus dan membangun kedewasaan masyarakat dalam berdemokrasi.
George Junus Aditjondro, mantan wartawan Majalah Tempo. Bukan sekali ini saja dia menulis buku yang mengupas borok korupsi di pemerintahan. Tahun 2006, ia menulis buku berjudul Korupsi Kepresidenan. Saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono pun sudah disinggung dengan tajam oleh Aditjondro. Namun, saat itu tidak ada reaksi sekeras sekarang.
Reaksi keras sebenarnya tidak akan menguntungkan pemerintah. Semakin keras pemerintah bereaksi, semakin panjang pulalah antrean pembeli buku ini. Semakin tumbuh dan luaslah semangat perlawanan terhadap pemerintah. Hanya karena mereaksi isi sebuah buku dengan tidak bijaksana. Alangkah sayangnya, bukan? [wir]
12 June 2009
Membedah Seni Kepemimpinan SBY
Saat peresmian jembatan Suramadu, Rabu (10/6/2009), para undangan dan wartawan menerima sebuah bingkisan sederhana: buku karya Dino Patti Djalal. Buku berjudul 'Harus Bisa!' ini cukup bagus untuk menjelaskan bagaimana seni kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono selama menjabat presiden.
Cepat Bebaskan Wartawan Metro, Berani Naikkan Harga BBM
Dino adalah juru bicara SBY. Buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya mendampingi SBY dalam menghadapi berbagai persoalan. Gaya bertutur membuat buku ini enak dibaca.
Beritajatim.com akan mencoba menukil buku tersebut secara bersambung, untuk memberikan gambaran bagaimana sebenarnya sosok SBY. Ada enam bab dalam buku itu: memimpin dalam krisis, memimpin dalam perubahan, memimpin rakyat dan menghadapi tantangan, memimpin tim dan membuat keputusan, memimpin di pentas dunia, dan memimpin diri sendiri.
Dalam tulisan bersambung ini digunakan kata 'saya', yang merujuk pada Dino Patti Djalal sebagai penulis.
***
Tanggal 19 Februari 2005. Saya mendapat telpon mengenai perkembangan penculikan dua wartawan Indonesia di Irak, Budianto dan Meutya Hafid. Mereka dikabarkan diculik oleh sekelompok orang bersenjata, di wilayah Ramadi, sekitar 150 kilometer dari Baghdad, ibu kota Irak.
Malam itu juga saya menelpon ajudan presiden untuk disambungkan dengan SBY. Alhamdulillah, walaupun sudah larut malam, telpon tetap diangkat oleh Kolonel Didit. "Tolong Pak Didit sambungkan saja dengan Bapak. Ini benar-benar kepentingan nasional yang urgent," kata saya.
Pukul 01.25, saya sudah tersambung hubungan telpon dengan SBY. Saya kemudian memberikan laporan situasi kepada Presiden SBY sekaligus analisis intelijen mengenai pola penculikan di Irak selama ini. Kesimpulannya: hope for the best, but expect the worst.
"Bagaimana kalau saya segera membuat statement, yang intinya mencoba mengetuk hati para penculik untuk membebaskan mereka. Rakyat Indonesia kan tidak terlibat dalam konflik Irak. Coba segera diatur, sekarang, di Istana Merdeka di ruang credential," kata SBY.
Butuh waktu kurang satu jam untuk untuk menyiapkan semua. Associated Press dan Al-Jazeera merekam penampilan Presiden SBY. "Saya Doktor Haji Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan bahwa kedua wartawan itu benar-benar sedang menjalankan tugas profesinya. Mereka sama sekali tidak melibatkan diri dalam masalah politik ataupun masalah konflik yang sekarang sedang terjadi di Irak," kata SBY dalam pidatonya.
"Oleh karena itu sekali lagi, saya mengetuk hati dan minta agar kedua wartawan itu dapat dibebaskan dan kemudian dapat kembali ke Indonesia dengan selamat," lanjut SBY.
SBY berbisik ke telinga saya: "Bismillah saja Din, jangan putus asa. Kita terus berusaha. Mudah-mudahan berhasil." Alhamdulillah, dalam waktu tak terlalu lama, Meutya dan Budianto dibebaskan oleh para penculik dalam keadaan selamat tanpa disakiti sedikit pun.
Dalam masa krisis di mana situasi begulir dengan cepat, satu elemen yang sangat penting adalah respons yang real time. Real time di sini berarti tepat waktu dan tidak tertinggal oleh roda-roda perkembangan kejadian. Kaliber seorang pemimpin di masa krisis juga dapat diukur dari kemampuannya membuat keputusan yang berani.
Dari semua keputusan Presiden SBY, ada dua keputusan besar yang menurut saya sangat berani. Pertama, keputusan SBY untuk memulai kembali perundingan dengan GAM di awal 2005. Kedua, adalah tindakan SBY yang menurunkan subsidi dan menaikkan harga BBM. Apapun yang terjadi dalam kurun waktu 2004-2009, paling tidak dua keputusan besar ini sudah menjadi sejarah capaian Presiden SBY.
Masalah BBM sudah ada di benak Presiden SBY sejak awal. Ketika Presiden SBY dilantik, subsidi BBM melonjak tinggi sampai Rp 70 triliun. Dan defisit APBN 2004 membengkak dari Rp 26,3 triliun menjadi Rp 38,1 triliun. Perubahan memang sulit dilakukan, karena rakyat Indonesia terlalu lama dimanjakan dengan minyak murah.
Era 70-an, produksi minyak kita sempat mencapai 1,7 juta barel per hari, dan sebagian besar diekspor karena kebutuhan domestik waktu itu relatif kecil. Situasi ini mulai berubah di tahun 2004 dan setelahnya. Harga minyak naik terus, hingga USD 60 per barel pada awal 2005. Sementara, produksi minyak Indonesia turun jadi 1,18 juta barel per hari, dan konsumsi dalam negeri melonjak drastis karena semakin banyak orang yang memiliki motor dan mobil. Indonesia kini harus mengimpor minyak rata-rata 400-500 ribu barel per hari.
Subsidi BBM sebagian besar dinikmati kelas menengah ke atas yang tidak berhak menerimanya. SBY melihat masalah subsidi BBM sebagai kebijakan yang tidak rasional, salah kaprah, dan salah sasaran. SBY punya dua opsi: tetap memberikan subsidi seperti tahun 2004, atau mengurangi subsidi dan menaikkan harga BBM.
Di sinilah kepemimpinan SBY diuji. SBY akhirnya memutuskan menaikkan harga BBM. "Pilihan ini adalah pilihan sulit, amat sulit dan pahit. Namun di sini kita harus memilih, mana yang lebih penting dan dibutuhkan rakyat banyak: subsidi BBM atau subsidi kebutuhan pokok," katanya.
Langkah Presiden SBY yang 'ekstrim' itu banyak menarik perhatian, sehingga ada negara yang ingin belajar dari keberhasilan Indonesia menangani masalah BBM. Setelah mengambil keputusan ini, SBY bukannya jatuh namun justru semakin mapan.
Akhir Januari 2008, dunia diguncang krisis ganda: melonjaknya harga pangan dan minyak dunia. Peningkatan tajam harga BBM dunia menyebabkan melonjaknya harga pangan. Majalah The Ecnomist menjuluki krisis pangan kali ini sebagai The Silent Tsunami.
Presiden SBY lantas menulis surat kepada Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa Ban Ki-Moon, Ketua KTT G-8 Yasuo Fukuda, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong. Dalam semua korespondensi itu, SBY selalu menekankan bahwa Indonesia berbeda dengan dunia lainnya, pada saat ini tidak mengalami krisis pangan. Produksi beras Indonesia mencukupi, bahkan surplus.
Presiden SBY menekankan berkali-kali perlunya mengubah krisis menjadi peluang. "Pendekatannya harus crisis action management. Kita harus memiliki mental 'mesti bisa' dan 'harus lebih baik'."
SBY Diminta ke Dukun Agar Bencana Berhenti
Mei 2006, bulu kuduk saya sempat merinding ketika diminta pindah ke Bina Graha menempati ruang yang dulu adalah ruang kerja Presiden Soeharto. Namun itu lebih disebabkan bobot sejarah dari kantor itu. Walau begitu semenjak saya berkantor di sana, semakin banyak orang yang membisikkan takhayul yang berhubungan dengan keris, pusaka, dan lainnya. Istana Bogor dan Cipanas yang sangat agung itu diselimuti oleh kisah misteri.
Banyak orang yang mencoba masuk ke lingkaran pembuat keputusan menawarkan jasa-jasa yang berbau mistik, sebagian karena motivasi keuangan. Alhamdulillah, saya sama sekali tidak pernah melihat gejala ini dalam proses kebijakan SBY.
Dari pembicaraan dengan Presiden atau staf lainnya, saya tahu banyak sekali orang yang mencoba melalui berbagai pintu, menawarkan kekuatan mistik atau solusi magis kepada beliau. Ada yang meminta SBY terbang ke daerah tertentu selama sekian jam untuk bertemu orang pintar.
Ada yang meminta SBY melakukan ritual-ritual tertentu dengan dukun-dukun terkenal untuk mencegah meluapnya lumpur Sidoarjo, atau agar rentetan bencana alam berhenti. Ada yang meminta SBY berkeliling mengunjungi beberapa makam keramat demi kesuksesan pemerintahan. Atau harus menerima berbagai benda pusaka untuk mempertahankan kekuasaan.
SBY biasanya akan mendengar semua nasehat ini dengan santun, namun beliau selalu menolak dengan bijak nasehat, anjuran, dna permintaan yang tidak rasional. Saat hendak mengunjungi para pengungsi di kaki Gunung Kelud, Presiden SBY mendapat peringatan untuk tidak datang ke Kediri. Sudah menjadi legenda di daerah itu, bahwa setiap penguasa yang datang ke Kediri akan jatuh dari tampuk kepemimpinannya. Tapi beliau tetap datang dan bahkan bermalam di tenda bersama masyarakat yang mengungsi di Gunung Kelud yang hampir meletus.
SBY juga sangat tidak suka adegan-adegan sinetron berbau mistik yang banyak ditayangkan televisi. "Tayangan seperti itu bisa mmbuat persepsi yang salah tentang Islam itu sendiri. Apalagi, jika cerita tersebut disampaikan secara berlebihan, di luar kepantasan. Hal-hal berbau mistik itu bisa merusak keimanan," katanya.
"Pemikiran mistik mencerminkan mentalitas jalan pintas, orang yang tidak mau bekerja keras, tidak mau berencana, dan hanya mengharapkan solusi dengan cara gaib. Mistik membuat orang malas, tidak ulet dan tidak bermental tangguh," tambahnya.
Sejak dilantik menjadi presiden, Oktober 2004, saya melihat ada empat transformasi pada diri SBY. Pertama, SBY mentransformasi dirinya menjadi ekonom. Beberapa saat sebelum dilantik menjadi presiden, ia meraih gelar doktor dari IPB, dan menulis disertasi panjang mengenai ekonomi pertanian.
SBY sangat gemar berdebat dengan ekonom mapan -- Boediono, Sri Mulyani, Mari Pangestu -- serta bertukar pikiran dengan pelaku-pelaku pasar. Saya mencatat analisa SBY lebih condong pada ekonomi politik, karena sebagai presiden, SBY harus melihat segala sesuatunya --fiskal, inflasi, energi, investasi, komoditi, sembako, pajak, dan lain sebagainya -- dari sudut pandang makro.
Dalam membaca maupun berdiskusi, Presiden SBY juga tidak menyukai teori-teori abstrak atau akademis: SBY biasanya lebih suka pembahasan yang policy-oriented mengenai isu-isu yang berdampak riil bagi rakyat.
Transformasi kedua, adalah transformasi menjadi 'crisis leader', saat menghadapi bencana Tsunami. Transformasi ketiga, semenjak menjadi presiden, SBY mendudukkan dirinya di atas kepentingan golongan. Masyarakat mencatat meskipun SBY Dewan Pembina Partai Demokrat, tapi dengan tegas ia mengutamakan kepentingan pemerintah dan negara.
Transformasi keempat adalah transfromasi SBY menjadi negarawan internasional. SBY menjadi semacam juru bicara tsunami di pentas internasional. Misalnya, ketika SBY diundang CNN untuk memberikan pidato teleconference mengenai tsunami dalam acara ulang tahun CNN ke -25 di Atlanta. Status SBY sebagai negarawan internasional terus berkembang: sebagai pemimpin ASEAN, promotor millenium development goal (MDG's), sebagai peace-maker di Aceh yang bahkan sempat dicalonkan sebagai pemenang nobel, dan yang paling menonjol sebagai tuan rumah UN Conference on Climate Change di Bali, Desember 2007. [wir]
05 June 2009
Beritajatim Masuk Buku
Aliansi Jurnalis Independen Indonesia dan Yayasan Tifa menerbitkan buku antologi liputan tentang independensi dan profesionalisme media. Judulnya: Wajah Retak Media. Buku ini berisi berbagai liputan jurnalis-jurnalis di beberapa daerah di Indonesia: Jayapura, Kupang, Jember, Banyuwangi, Solo, Cirebon, Jakarta,Medan, hingga Aceh.
Salah satu reporter Beritajatim.com, Oryza Ardyansyah Wirawan, mereportase kantornya sendiri. Ia memilih objek berita yang jarang ada wartawan lain mau melakukannya: tempat mereka sendiri bekerja. Tulisan berjudul Pemoles Citra dari Jalan Ciliwung itu masuk sebagai salah satu karya reportase dalam buku ini.
"Saya memilih meliput tempat saya sendiri bekerja sebagai kritik diri saja. Kebetulan dua pimpinan saya, Pak Lucky dan Pak Air, menyambutnya dengan baik, sehingga relatif reportase saya tidak menemui banyak hambatan," kata Oryza. Sebelumnya, ia mengikuti program beasiswa liputan investigasi indepedensi media yang diselenggarakan AJI Indonesia pada pertengahan Maret 2009.
"Jarang ada jurnalis media yang mengkritik medianya sendiri. Kami harapkan keterbukaan yang telah kami mulai, bisa diikuti oleh media massa yang lain. Kritik bukanlah hal tabu. Justru kritik yang baik adalah berasal dari kalangan pers sendiri yang memahami kinerja jurnalistik, daripada pihak lain yang tak memahaminya," kata Lucky, sapaan akrab Dwi Eko Lokononto, Pemimpin Redaksi Beritajatim.com, Jumat (5/6/2009).
Launching buku ini dilakukan dalam seminar Jumat, 5 Juni 2009, di Hotel Le Meridien, Ruang Sasono Mulyo 1, Lobby Level Jl. Jend. Sudirman Kav. 18-20, Jakarta 10220. Seminar tersebut akan menghadirkan tiga orang pembicara, yaitu Ecep S.Yasa (TV One), Metta Dharmasaputra (Koran Tempo), dan Ramadhan Pohan (Jurnal Nasional). Diskusi dipandu oleh Tina Talisa (TV One). (*)
Labels: Buku, Jurnalisme
01 December 2008
Kontroversi Adam Malik Agen CIA
Tim Weiner Takkan Revisi Legacy of Ashes
Kendati meminta maaf kepada keluarga Adam Malik, Tim Weiner tidak akan merevisi isi buku Legacy of Ashes yang berkaitan dengan hubungan almarhum wakil presiden Indonesia itu dengan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA).
Penegasan ini disampaikan Tim Weiner melalui surat elektronik kedua kepada reporter beritajatim.com, Oryza A. Wirawan, yang diterima Minggu (30/11/2008). Ada lima poin dalam surat kedua yang ditanyakan kepada Weiner, salah satunya mengenai permintaan dari keluarga Adam Malik agar dia merevisi isi bukunya.
Menurut jurnalis harian The New York Times ini, telegram dari Duta Besar Green pada 2 Desember 1965 yang berisi 'Operasi Tas Hitam' tidak bisa direvisi. Namun, ia kembali mengungkapkan permintaan maafnya kepada keluarga Adam Malik, jika pemaparannya mengenai dokumen Green membuat keluarga itu tersudut.
"The Dec. 2 1965 "black bag" cable from Ambassador Green cannot be explained away or revised. My apologies to Mr. Malik's family if they are offended by the cable," kata Weiner dalam suratnya.
Permintaan maaf ini mempertegas permintaan maaf pada surat pertama yang diterima reporter beritajatim.com. Pada surat pertama, Weiner menulis, "I mean no harm to Adam Malik's family. I wish them well. I mean no insult to his memory, to his family, or to the Indonesian people. I am sorry if this book caused them any pain. The events of 1965 are still very sensitive today."
Legacy of Ashes sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia dengan judul Membongkar Kegagalan CIA. Weiner mengatakan, data yang dipaparkan selain berdasar wawancara, juga berdasar dokumen yang dideklasifikasi.
Di halaman 330 disebutkan, bahwa McAvoy merekrut dan mengontrol Adam Malik. "Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut," katanya dalam sebuah wawancara di tahun 2005 dengan Weiner.
Di halaman penjelasan buku itu, yakni halaman 765, Weiner menuliskan bahwa wawancara dengan McAvoy dilakukan via telpon rumah sang mantan agen CIA itu d Hawaii. Peran penting McAvoy sebagai perwira CIA di Indonesia dibenarkan tiga orang rekannya di Dinas.
Weiner menjelaskan kepada Oryza A. Wirawan dalam surat keduanya, bahwa dia tak mewawancarai Adam Malik, karena sang tokoh sudah meninggal dunia, sebelum ia memulai reportasenya pada tahun 1987. "Adam Malik died in 1984. I began covering CIA in 1987," tulisnya.
Namun, dalam surat pertamanya, Weiner menjelaskan, verifikasi tetap dilakukan dengan menggunakan dokumen telegram Duta Besar Marshall Green.
"The documentation of Ambassador Green's 2 December 1965 cable about the "black bag" job --the 50 million rupiah payment to Mr. Malik for Kap-Gestapu activities -- verifies and confirms what Mr. McAvoy said. Marshall Green as the senior diplomat and CIA officers based at his embassy worked closely together in the mid-1960s," kata Weiner, dalam surat pertamanya.
Telegram itu dikirimkan Green untuk Bill Bundy, Asisten Menteri Luar Negeri Amerika untuk Timur Jauh. Dalam telegram itu, Green merekomendasikan pembayaran yang dalam jumlah besar kepada Adam Malik.
Isi telegram tersebut:
"Ini untuk menegaskan persetujuan saya sebelumnya bahwa kita menyediakan uang tunai sebesar Rp 50 juta [sekitar $10.000] buat Malik untuk membiayai semua kegiatan gerakan Kap-Gestapu. Kelompok aksi yang beranggotakan warga sipil tetapi dibentuk oleh militer ini masih memikul kesulitan yang diakibatkan oleh semua upaya represif yang sedang berlangsung..."
"Kesediaan kita untuk membantu dia dengan cara ini, menurut saya, akan membuat Malik berpikir bahwa kita setuju dengan peran yang dimainkannya dalam semua kegiatan anti-PKI, dan akan memajukan hubungan kerja sama yang baik antara dia dan angkatan darat. Kemungkinan terdeteksinya atau terungkapnya dukungan kita dalam hal ini sangatlah kecil, sebagaimana setiap operasi "tas hitam" yang telah kita lakukan."
Di halaman 765 buku itu disebutkan, dokumen tersebut ada dalam FRUS, 1964 - 1968, volume XXVI, halaman 338 - 380. Volume ini secara resmi diberangus oleh CIA dan ditarik dari peredaran --tetapi setelah beberapa salinan dicetak, dijilid, dan dikirimkan. Arsip Keamanan Nasional memublikasikan halaman-halaman yang berhubungan pada bulan Juli 2001.
Weiner mempersilakan reporter beritajatim.com melihat sendiri dokumen-dokumen penting yang sudah dideklasifikasi, di lokasi link http://www.state.gov/r/pa/ho/frus/johnsonlb/xxvi/.
Di halaman 333 buku terjemahan Legacy of Ashes, Weiner menuliskan hubungan mesra Adam Malik dengan pemerintah Amerika Serikat. Setelah Adam Malik dilantik sebagai Menteri Luar Negeri RI, ia diundang selama 20 menit untuk berbincang-bincang dengan Presiden Amerika Serikat di Oval Office.
Weiner menulis, dengan dukungan Amerika Serikat, Malik kemudian terpilih menjadi ketua Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Berarti, apakah hubungan CIA berlanjut dengan Adam Malik hingga saat dia menjadi wakil presiden? Dalam surat pertamanya kepada reporter beritajatim.com, Weiner menyatakan tidak tahu. dan tak punya dokumen mengenai hal itu.
"I have no documentation to show that Adam Malik's role continued after 1966. I do not know that it did continue," kata Weiner.
Dalam surat pertamanya, Weiner berharap pembaca di Indonesia bisa memahami buku itu sebagai karya yang didasarkan dokumen. "Of course I hope people read my book, and I hope they see that the facts in it are based on documentation," katanya. (*)
Labels: Buku, Obrolan Kota, Politik, Sosok
Tim Weiner: Pemerintah RI Bukan Sasaran CIA
Membaca buku Legacy of Ashes, pada 1950 - 1960, tampak jelas operasi Badan Intelijen Pusat (CIA) dilakukan terhadap Pemerintah Indonesia. Namun, hari-hari ini, menurut penulis buku itu Tim Weiner, Pemerintah Indonesia bukanlah target operasi CIA.
Dalam surat keduanya kepada reporter beritajatim.com, Oryza A. Wirawan, Tim Weiner mengatakan bahwa target CIA adalah gerakan jihad radikal, termasuk di Indonesia.
"The government of Indonesia is not a target of CIA operations. Radical jihadists throughout the world are; if such groups are in Indonesia they would be targets," kata Weiner.
Sayang, Weiner tidak memperinci jawabannya tersebut. Di era perang melawan terorisme saat ini, orientasi CIA memang berubah. Osama Bin Laden adalah target utama, dan CIA mengejar gerakan Islam radikal di seluruh dunia.
Pada halaman 612, disebutkan, bersama-sama dengan tentara pasukan operasi khusus Amerika, mereka (CIA) memburu, menangkap, dan membunuh para pembantu serta prajurit Bin Laden di Afganistan, Pakistan, Arab Saudi, Yaman, dan Indonesia.
Boleh jadi, jika melihat apa yang dipaparkan Weiner di bukunya, daripada bermusuhan dengan Pemerintah RI, Amerika Serikat lebih berkepentingan menggandeng sebagai sekutu untuk memerangi kelompok Islam radikal.
Ini tentu berbeda dengan masa perang dingin, di mana Pemerintah RI condong ke komunis. Membaca Legacy of Ashes, operasi besar CIA terhadap Pemerintah RI terjadi dua kali, yakni tahun 1958 dan 1965. Publik Indonesia saat ini diributkan oleh operasi CIA tahun 1965, karena adanya paparan tentang keterlibatan Adam Malik, dan luput memperbincangkan operasi sebelumnya.
Tahun 1950-an, Weiner menuliskan upaya penggulingan Sukarno, termasuk melalui jalan pemilu. Pada halaman 182 buku itu disebutkan, CIA memompakan sekitar $1 juta ke kantong musuh politik paling kuat Sukarno, Partai Masjumi, pada pemilu 1955. Tapi Sukarno dan Partai Nasional Indonesia tetap memenangkan pemilu.
Tanggal 25 September 1957, Presiden Eisenhower memerintahkan CIA untuk menggulingkan Pemerintah Indonesia. Ada tiga misi. Pertama, menyediakan senjata dan bantuan militer lainnya untuk para komandan militer anti-Sukarno di seluruh Indonesia.
Kedua, memperkuat determinasi, kemauan, dan kepaduan perwira-perwira pemberontak angkatan darat di pulau Sumatra dan Sulawesi. Ketiga, mendukung dan mendorong agar bertindak, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, elemen-elemen nonkomunis dan antikomunis di kalangan partai-partai politik di Pulau Jawa.
Kita mengenal gerakan perlawanan para kelompok militer dan antikomunis tersebut sebagai gerakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/Permesta.
Menteri luar negeri pemerintah revolusioner itu adalah Kolonel Maludin Simbolon, yang menurut Weiner pada halaman 188, diangkat dan dibayar oleh CIA.
Namun gerakan PRRI berantakan. Bantuan militer dari Pemerintah Amerika Serikat terhadap gerakan itu pun tak banyak berarti. Gerakan itu justru dipadamkan oleh perwira militer Indonesia anti komunis didikan Amerika Serikat sendiri, dan dengan bantuan atase militer AS di Jakarta, Mayor Gerorge Benson, yang tidak tahu mengenai operasi CIA itu.
Jenderal Nasution dan Kolonel Ahmad Yani adalah alumnus Kursus Komando dan Staf Umum Angkatan Darat Amerika Serikat di Port Leavenworth, dan teman baik Mayor Benson. Yani minta bantuan peta-peta kepada Benson sebelum melancarkan serangan ke Sumatra, dan Benson dengan senang hati membantunya.
Direktur CIA Alen Dulles menyebut gerakan perlawanan PRRI di Sumatra sebagai gerakan yang aneh. "Tampaknya tidak ada kemauan berperang di pihak pasukan pembangkang di pulau itu," katanya kepada Presiden Eisenhower.
"Para pemimpin pemberontak tidak mampu memberikan ide dan penjelasan kepada tentara mereka mengapa mereka harus berperang. Ini memang perang yang sangat aneh." (*)
Labels: Buku, Obrolan Kota, Politik, Sejarah, Sosok
30 November 2008
Kontroversi Legacy of Ashes
Tim Weiner Jurnalis Terhormat, Bukan Jurnalis Kuning
Buku Legacy of Ashes karya Tim Weiner, menelanjangi dinas rahasia Amerika Serikat, CIA. Kendati memunculkan kontroversi di Indonesia, setelah diterjemahkan oleh Gramedia, buku ini disebut-sebut sebagai karya terbaik mengenai CIA.
Pujian meluncur dari dua wartawan Amerika Serikat, Mark Bowden dan Bill Kovach. Bowden adalah wartawan Philadelphia Inquirer. yang menulis buku Black Hawk Down. Black Hawk Down kemudian difilmkan oleh Hollywood. "Saya pikir ini (Legacy of Ashes) adalah sebuah buku yang bagus (yang ditulis) oleh seorang jurnalis yang terhormat," katanya dalam surat elektronik kepada saya.
Dalam website mengenai buku ini di www.randomhouse.com, Bowden menyatakan, Tim Weiner menunjukkan bahwa sistem di CIA bukan sekadar rusak, melainkan tidak pernah bekerja dengan bagus.
Sementara itu, Bill Kovach, sang penulis buku Elements of Jornalism (Sembilan Elemen Jurnalisme), mengatakan, buku itu sebagai karya jurnalisme investigatif. "Tim adalah reporter yang hebat," tulis Kovach dalam emailnya kepada saya.
Menurut Kovach, bagian terhebat dari Legacy of Ashes adalah pembacaan yang cermat tentang sejarah CIA, melalui dokumentasi sejarah dan orang-orang yang mengalami peristiwa di masanya masing-masing. "Dokumen-dokumen tersebut dideklasifikasi di bawah hukum Amerika Serikat," katanya.
Tim Weiner melakukan kajian sejarah yang ketat dengan mewawancarai secara mendalam orang-orang yang pernah terlibat CIA. "Anda bisa menyebut buku ini sebuah investigasi dokumentasi atas sejarah CIA," kata Kovach.
Jika melihat reputasinya, Weiner jelas bukan jurnalis kuning yang haus sensasi sebagaimana yang dituduhkan keluarga Adam Malik. The New York Times, tempatnya bekerja, adalah harian terbesar di Amerika Serikat, dan menjadi referensi publik di sana. The New York Times sendiri punya reputasi bagus mencetak wartawan-wartawan kaliber Pulitzer dengan karya hebat.
New York Times juga punya reputasi bagus dalam urusan membongkar kebobrokan negara. Tahun 1970-an, New York Times pernah menghebohkan Amerika Serikat dengan mempublikasikan apa yang disebut Pentagon Papers. Ini dokumen mengenai peran Amerika Serikat dalam perang di Vietnam.
Weiner sendiri pernah meraih Pulitzer saat masih bekerja di harian Philadelphia Inquirer, pada tahun 1988. Ia meraih penghargaan untuk kategori National Reporting, melalui serial pelaporan tentang anggaran rahasia Pentagon untuk mensponsori riset pertahanan dan pembuatan senjata.
Legacy of Ashes meraih penghargaan kategori non fiksi dalam National Book Award 2007. Sebuah penghargaan yang pantas, karena Weiner sendiri selama puluhan tahun berkarir sebagai jurnalis, selalu menulis tentang CIA dengan mendalam.
Yang patut dicatat adalah kemampuan Weiner untuk memaparkan fakta tanpa harus menyembunyikan identitas narasumber atau sumber anonim. Sebagaimana disebutkan di pengantar buku itu, tidak ada kutipan buta.
Bahkan, Weiner dengan tekun melaksanakan disiplin verifikasi, dengan mewawancarai dua atau lebih narasumber untuk mengetahui sebuah fakta. "I try to have two or more sources for the facts in the book," tulisnya dalam email kepada reporter beritajatim.com.
Menurutnya, publik harus diberi kesempatan membaca dari sebuah buku yang didasarkan tidak pada sumber anonim. (*)
Labels: Buku, Obrolan Kota, Politik, Sosok