Mengikuti kata-kata Fauzan Mukrim, sahabat yang tak pernah berjumpa,
kalau menyuruh dengan tegas dan keras anak saya yang sudah usia 7 tahun salat subuh berjamaah, salat berjamaah di masjid itu bagian dari radikal(isme) dan fundamental(isme), kayaknya saya ikhlas deh dicap fundamentalis.... daripada anak saya tak bisa salat dan tak bisa mendoakan keluarganya...
Ketimbang Menkominfo memblokir situs-situs radikal. ada baiknya Menkominfo memblokir situs ManWho dan turunannya saja dah... lebih bagus bagi rakyat! ...Mereka sudah jelas-jelas menyatakan diri setan lo... setan merah...
31 March 2015
Labels: Agama, Keluarga, Obrolan Kota
21 March 2014
Pacaran di Mata Avel
"Hiii.....bunda pacaran sama yanda" kata avel.
Kebetulan saya lagi dikamar sama suami, kami hanya senyum-senyum sambil mengeryitkan dahi....
"Lho, pacaran apa sih dek?" tanya saya.
"Pacaran itu bercinta."
"Haahhhh.."
"Lah, bercinta itu apa dek?"
"Bercinta itu ciuman," kata avel santai.
"Haaaahhhhh...."
Kami hanya bisa melongo mendengar jawaban Avel, sampai yandanya berbisik ke saya: "tau dari mana dia"
"Gak tau, dr film kartun mungkin"
Sungguh....gak pernah terlintas dibenak saya dan juga suami saya, si avel akan berkata seperti itu...masnya aja gak pernah berkata-kata seperti itu...
hmmmm, bahan renungan buat kami.....
Tulisan: Heni Agustini
Labels: Keluarga, Pengalaman, Seksualitas
02 December 2013
Menanti Raisya
Cerita seorang dokter muda yang melahirkan melalui bedah cesar.
RABU PAGI, 22 MARET 2006, DI JEMBER.
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Mas Ryza. Dari Ibu. “Say, ibu SMS, katanya Dik Kiki mau melahirkan. Ibu tanya, kapan mau ke Surabaya. Aku bilang, besok kamis,” kata Mas Ryza.
“Lho, iya ta? Kiki sudah mau melahirkan,” sahut Mbak Heni, istri Mas Ryza, dari dapur.
Lalu Mas Ryza menghubungi Dik Arif. Arif sebenarnya baru saja pulang ke Jember. Selama dua pekan lebih sebelumnya ia ada di Surabaya, menungguku melahirkan. Tapi karena aku tak juga melahirkan, ia memutuskan balik ke Jember. Apalagi tugas kuliah menantinya.
Arif ternyata sudah dihubungi Ibu. Ia pun berencana pulang setelah kuliah. “Aku bareng, Mas,” katanya via SMS kepada Mas Ryza.
Mas Ryza, nama lengkapnya Oryza Ardyansyah Wirawan. Ia kakakku, anak pertama dalam keluarga Ahmad Budi Wirawan. Lahir di Situbondo, 5 Mei 1977. Dua tahun lebih tua dariku. Sekarang tinggal di Jember, sebuah kota yang terletak 200 kilometer dari Surabaya. Ia kuliah di Universitas Jember. Begitu lulus memutuskan untuk tinggal di Jember, dan bekerja di harian Radar Jember milik Jawa Pos Group. Menikah dengan Heni Agustini, adik kelasnya saat kuliah.
Arif Budi Wicaksono, adalah adikku yang pertama. Anak ketiga dalam keluarga Wirawan. Kuliah di Universitas Jember, di Fakultas Ekonomi. Seorang yang baik hati dan ringan tangan, meski kadang suka marah-marah. Sedikit. Tapi, sungguh, ia baik hati dan suka menolong.
Mbak Heni, kakak iparku. Ia dua tahun lebih muda daripada aku. Mbak Heni lahir 14 Agustus 1981, dan aku 8 Agustus 1979. Kami sama-sama lahir di Situbondo, sebuah kota kecil yang mayoritas penduduknya bersuku Madura. Mbak Heni keturunan Madura, sementara aku asli Jawa.
Tiga saudaraku itu berangkat ke Surabaya dengan bus patas. Dik Arif yang baru saja sampai di Jember hari Selasa, dan harus balik lagi ke Surabaya, bercerita lucu. “Aku diledek teman-teman. Kata mereka, Raisya lahir nunggu aku pulang ke Jember. Soalnya dia takut sama aku. Nggak sopan,” katanya, nyengir.
JUMAT PAGI, 24 MARET 2006. PUKUL 07.45. Rumah sakit Bersalin Sayang Ibu Surabaya. Rumah sakit yang terletak di Jalan Cimanuk ini sepintas tak seperti rumah sakit dalam pengertian banyak orang. Tidak besar, rumah sakit ini seperti rumah biasa dari depan. Rumah sakit ini didirikan dokter Subandi. Ia seorang dokter spesialis kandungan yang sukses, dan mempunyai sejumlah klinik di lain tempat. Konon, dia punya lima klinik bersalin.
Aku memilih melahirkan di sini, karena aku mendengar rumah sakit ini bermutu. Yang penting lagi, dokternya perempuan. Beberapa kawanku kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dulu, Hadnah, Erlinda, dan Ica juga melahirkan di sini. Aku ngamar sejak Kamis pagi kemarin. Dan, pagi ini aku harus bersiap melahirkan melalui bedah cesar, karena air ketubanku pecah duluan.
Di ruang VK, aku terbujur di atas ranjang rawat dengan berselimut putih lurik. Selang infus yang mengalirkan cairan ringer lactat terpasang di pergelangan tangan kananku. Di sebelahku Mas Rifki berdiri menanti, saat pintu ruangan mendadak terbuka. Mas Ryza dan istrinya Mbak Heni, Bu Apit, Ibu, masuk ke dalam ruangan. Disusul Dik Pipit dan Dik Arif.
Dik Pipit, nama lengkapnya Rizka Paramita Safitri. Putri bungsu keluarga Wirawan. Sekarang kuliah di Universitas Airlangga Fakultas Ekonomi Jurusan Studi Pembangunan. Adikku satu ini manja, tapi seorang yang suka mengalah. Hitam manis, dan wajahnya paling fotogenik dibandingkan tiga saudaranya yang lain.
“Hei, Maaaas…Kapan kamu datang? Mbak Heniiii…Kalian datang bareng Dik Arif ya?” Aku menyapa. Dengan tekanan nada yang selalu sama
“Iya, kemarin sore,” jawab Mas Ryza.
Mbak Heni lalu mendekat dan mengelus-elus perutku. Lalu perutnya yang juga melendung, karena hamil tujuh bulan. Aku tersenyum. “Neo, ini Dik Raisya. Dik Raisya mau lahir,” katanya, mengelus-elus perutnya sendiri.
Neo (dibaca: Niyo) adalah panggilan untuk jabang bayi Mas Ryza dan Mbak Heni, yang diperkirakan bakal lahir pada bulan Juni tahun ini juga. Menurut dokter berdasar hasil USG di usia kehamilan enam bulan, jabang bayi itu berkelamin laki-laki. Ini anak pertama setelah mereka menikah selama dua tahun.
“Iya, tapi adiknya lahir duluan,” jawabku.
Mas Ryza berdiri di samping kanan tempat tidur. Ia memperhatikan tabung besar oksigen yang dialirkan melalui slang yang ditempelkan di bawah lubang hidungku.
Tangannya membawa kamera digital merek Nikon 2200 yang terbungkus. Kamera itu pemberian kantor tempat Mas Ryza bekerja sebagai wartawan. Saat resepsi pernikahan di Surabaya dan Jombang, Mas Ryza jadi fotografer dengan kamera itu.
“Bagaimana perasaanmu, Dik? Sudah tidak sakit lagi,” tanyanya.
“Tidak. Sekarang aku malah deg-degan,” jawabku.
Bu Apit dan Ibu berdiri di sisi kiri ranjang, bersebelahan dengan Mas Rifki. Bu Apit adalah bibiku. Ia istri Pak Pri, Ahmad Budi Priyatmoko, adik kandung Bapak. Orangnya periang dan pintar masak. Pak Pri dan Bu Apit punya dua anak, Aan dan Ian.
Aan kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang dan Ian besekolah di SMUN 20 Surabaya.
Keluargaku dan keluarga Pak Pri sangat dekat. Aku dan Aan juga akrab. Saat diberitahu Bu Apit bahwa aku akan melahirkan, dia menangis. Ia ingin ikut menemani, tapi tak bisa.
Ibu dan Bu Apit mengobrol sendiri, sementara aku mulai bercerita tentang betapa sakitnya, ketika kandunganku harus dirangsang dengan menggunakan obat supaya berkontraksi, dan bisa melahirkan secara normal.
Arif lalu keluar dari ruangan.
“Aduuh sakit. Akhirnya Mas Rifki memutuskan berhenti, dan operasi cesar saja,” kataku.
“Aku kan sudah bilang, ‘operasi saja ta?’. Tapi Adik nggak mau,” sahut Mas Rifki.
Mbak Heni mengelus-elus perutnya mendengar ceritaku. Mungkin ia khawatir juga.
“Mas, kamu di sini sampai kapan?” tanyaku pada Mas Ryza.
“Insya Allah seminggu,” jawab Mas Ryza.
“Lho, kerjaanmu menggarap koran Dewan sudah selesai?” tanyaku.
“Majalah Dewan. Sudah beres,” jawab Mas Ryza, membetulkan.
“Hore, aku ada temannya. Mas, aku ada temannya,” ujarku pada Mas Rifki. Mas Rifki tersenyum.
Mas Ryza lalu mengeluarkan kameranya dari tas kecil. Ia lantas mengarahkan moncong kameranya untuk menjepretku. Aku tertawa. Mas Ryza mengambil kali enam jepretan. Terakhir, aku berfoto bareng Pipit, Mbak Heni, Mas Rifki, Ibu, dan Bu Apit.
Pukul 08.05, seorang perawat masuk ke ruangan. “Minta tolong ya, yang lainnya keluar dulu. Mbaknya mau dibawa ke ruang operasi,” katanya.
Ibu mengelus-elus kepalaku. Aku tersenyum. “Doakan yaaa…” Mereka lalu berjalan keluar dari ruangan VK. Ini adalah ruangan di Rumah Sakit Bersalin Sayang Ibu tempat di mana pasien sebelum menjalani operasi cesar. Di ruang ini pasien masih diizinkan berjumpa dengan sanak kerabatnya, sebelum masuk ruang persiapan operasi.. Tinggal Mas Rifki yang menemani.
Perawat mendorong ranjangku menuju ruang persiapan operasi di sebelah. Pakaianku dicopoti, dan tubuhku dipasangi kateter. Lalu dokter Vita Maya, dokter kandungan yang akan mengoperasiku datang.
Mas Rifki beranjak hendak meninggalkan ruangan. Aku lantas menyalaminya, mencium tangan dan pipinya. “Salam buat Bapak Ibu. Doakan aku ya,” kataku.
Perawat menempelkan kabel-kabel yang tersambung dengan monitor operasi di tubuhku. Monitor itu untuk memantau kondisi bagian-bagian vital di tubuhku selama operasi. Untuk tahu, apakah aku baik-baik saja.
Lalu pintu ruangan terbuka. Ibu masuk dengan pakaian yang sama dikenakan dengan para perawat saat berada di ruang operasi. Warnanya hijau muda. Aku Ibu mencium pipiku. Aku sudah tidak bisa mencium kedua tangan Ibu, karena kedua tanganku sudah diikatkan pada penyangga lengan di kaki meja operasi.
“Ya sudah, baca Bismillah. Baca Al Fatihah, Al Ikhlash,” kata Ibu membesarkan hatiku. Aku mengangguk, dan Ibu lantas meninggalkan ruangan.
Dokter Vita menyapaku. Ia menanyakan kondisiku.
“Bagaimana?”
“Aduh, saya jadi nggak kuat,” jawabku.
“Sampai jam berapa OD?”
“Cuma sampai jam sebelas malam, dok,” Aku berkata dengan nada sesal.
Tak lama setelah Dokter Vita, Dokter Bambang masuk ruang operasi. Dia ahli Atesi. Dalam operasi ini memang ada dua dokter: dokter kandungan yang bekerja membedahku, dan dokter Atesi yang memastikan bius bekerja di tubuhku, sehingga tajamnya pisau bedah tak menyakitiku.
“Bu, dibius dari belakang, ya,” katanya.
Aku mengangguk. Lalu ia menyuntikkan obat bius di punggungku. Dan aku merasa tiba kakiku merasa tebal. Kesemutan. Aku merasa lemah. Lumpuh.
“Bagaimana, Dok? Sudah siap?” tanya Dokter Vita Maya kepada rekannya.
“Sip,” sahut Dokter Bambang. Dia termasuk yang memegang kendali dalam operasi meski bukan operator.
MALAM, 10 FEBRUARI 2006. Rumah Sakit X sedang ramai. Sejak jam 01.00 dini hari hingga pagi pukul 07.00 saja, ada delapan pasien. Berarti setiap jam ada satu pasien.
Rumah sakit ini salah satu rumah sakit yang dikenal publik bagus di Mojokerto, meski dari fisik tak terlampau besar. Aku mulai bekerja di sana sejak 1 November 2005 sebagai dokter tidak tetap, setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga 17 Desember 2004. Aku ingin melanjutkan kuliah dan menjadi spesialis kandungan. Jumlah dokter perempuan spesialis kandungan di Indonesia masih belum sebanding dengan dokter spesialis kandungan lelaki.
Hari itu aku dapat giliran jaga malam di Unit Gawat Darurat, bersama seorang resepsionis dan dua perawat. Untunglah tidak ada kasus yang terlampau gawat. Tapi tetap saja malam panjang yang melelahkan. Aku memang seharusnya hanya bertugas di UGD. Tapi karena aku satu-satunya dokter yang bertugas malam hari, maka aku juga bertanggungjawab atas semua pasien di seluruh rumah sakit. Aku berada di garis depan.
Malam itu nyeri di vaginaku menghebat. Nyeri ini muncul sejak usia kandunganku tujuh bulan. Ada varises di vaginaku. Kalau sakit itu sudah mendera, untuk jalan pun aku kesulitan, termasuk malam itu.
Aku sempat menelpon Ibu. “Bu, kok nyeri banget ya.”
“Kenapa sih kamu nggak ngambil cuti duluan,” jawab Ibu.
“Tidak mungkin boleh,” sahutku. Aturan di rumah sakit memang ketat. Untuk cuti hamil selama tiga bulan, yakni satu bulan sebelum melahirkan dan dua bulan sesudahnya. Aku sebenarnya baru akan cuti tanggal 1 Maret nanti, karena dokter kandunganku memperkirakan aku bakal melahirkan tanggal 25 Maret.
“Iya, daripada kesakitan terus begitu,” jawab Ibu.
Aku lalu memutuskan untuk tiduran di salah satu kamar yang disediakan untuk dokter jaga. Saat aku tiduran, datanglah Mbak Nina, bidan jaga malam itu. Ia hendak meminta resep kepadaku.
“Sebentar, Mbak,” aku berjalan pelan-pelan, turun dari ranjang. Sakit sekali, hingga mataku berair.
Mbak Nina tampak heran. “Lho, Dok, kenapa?”
Sambil meringis, aku menjawab, “Vaginaku nyeri, Mbak.”
Mbak Nina memegang-megang perutku. “Hamil berapa bulan? Lho kok kenceng?” Perut yang kencang pertanda terjadinya kontraksi rahim.
“Delapan bulan,” aku masih kesakitan.
“Dulu waktu saya hamil, juga mengalami nyeri pada vagina. Jangan-jangan ada bukaan, Dok. Saya lihat, ya?”
Seorang yang hendak melahirkan biasanya mengalami sepuluh bukaan. Bukaan pada mulut rahim sampai dengan 10 centimeter disebut bukaan lengkap. Saat itu sang ibu diminta mengejan. Tapi ini jika usia kandungan sudah 9 bulan 10 hari.
“Biasanya periksa dengan dokter siapa?” tanya Mbak Nina.
“Dokter Sumadi,” jawabku.
“Saya periksa, terus saya telponkan Dokter Sumadi, ya,” kata Mbak Nina.
Aku kontan menolak. “Tidak usah, Mbak. Sungkan.”
Mbak Nina tampak bimbang. “Ya sudah pokoknya saya periksa dulu, nanti kalau hasilnya mengkhawatirkan baru lapor ke Dokter Sumadi,” katanya memutuskan.
Perempuan muda yang baik itu lalu mengambil alat-alat periksanya. Ia periksa kondisi tubuhku. Kata Mbak Nina, denyut jantung calon anakku bagus.
Ia lalu memeriksa bagian dalam vaginaku yang nyeri luar biasa. “Ada darah, Dok,” katanya.
Aku berdebar-debar. Aku pun meminta agar Mbak Nina menelponkan Dokter Sumadi untukku.
Dokter Sumadi menanyakan kondisiku. “Sudah kamu minum obat dulu. Lalu segera bed rest. Segera pulang, dan tak usah jaga. Kalau rumahmu jauh, ngamar saja di situ. Saya tidak mau ambil risiko. Bayimu sebentar lagi lahir. Eman-eman, kalau lahir prematur,” katanya. Ia juga memintaku memasang infus, bila obat yang diresepkannya jarak jauh tak meredakan kontraksi dan pendarahan.
Mbak Nina diminta untuk mengawasiku. “Kalau ada apa-apa beritahu saya,” kata Dokter Sumadi.
Aku lantas menghubungi Dokter A, Kepala Bagian Pelayanan Medis rumah sakit X, untuk minta izin pulang. Dia atasanku. Tapi dokter itu tak meloloskan permintaanku begitu saja. Ia memintaku mencari dokter pengganti untuk berjaga.
Sesuatu hal yang mustahil dilakukan. Rumah dua dokter yang biasanya bertugas jaga malam jauh dari Rumah Sakit X. Satu orang di Surabaya, satu lagi di Jombang. Tak mungkin aku memaksa mereka datang menggantikanku dini hari begini.
Dokter A memintaku menghubungi Dokter Dian, salah satu dokter jaga rumah sakit X yang tinggal di Jombang. Namun ponselnya tak diangkat. Telpon rumahnya diblokir atas permintaan pelanggan
Aku lalu kembali menghubungi Dokter A. “Dok, Tidak bisa dihubungi.”
Dokter A berkeras. “Tak mungkin. Kan ada HP-nya. Telponkan rumahnya,” tukasnya.
“Tidak bisa, Dok.”
“Cari ganti teman-temanmu yang rumahnya dekat sana,” kata Dokter A.
Aku mencoba menahan diri. “Dok, daripada begitu, saya minta tolong agar digantikan salah satu dokter tetap yang rumahnya dekat sini.”
Suara Dokter A meninggi. “Tidak bisa. Prosedurnya tidak begitu.”
Tak mau berdebat, akhirnya aku menghubungi Titin, salah satu rekan sejawatku yang tinggal di Balung Bendo, Sidoarjo. Namun, bisa ditebak, ia menolak. “Aduh, suamiku sedang tidak ada di rumah. Lagian jam segini gimana caranya,” katanya mengingatkan, bahwa saat itu pukul satu dini hari.
Kesulitan Titin aku jelaskan kepada Dokter A. Tapi dokter itu tetap saja keras kepala. “Bilang ke dia, kalau hambatannya transportasi, akan dijemput dengan mobil rumah sakit,” katanya.
Aku meneruskan pesan ini ke Titin. Tapi dengan suara ragu, antara tidak enak untuk menolak dan enggan menerima, ia berujar: “Aduh, bagaimana ya Kik. Suamiku tidak ada di rumah.”
Aku memahami kesulitan Titin. Seorang perempuan dengan satu anak yang masih kecil, dan suami sedang tak ada di rumah, apa lagi yang bisa diharapkan darinya?
Aku lantas memutuskan untuk menghubungi Dokter A kembali. Tapi seperti kusangka, dokter itu masih bertahan dengan pendapatnya.
“Lho, tadi katanya hambatan kendaraan. Mau dijemput kok dia nggak mau,” katanya.
Aku tak tahu Dokter A ini benar-benar tidak mengerti atau pura-pura tak paham, bego atau pura-pura bloon. Tapi aku sudah jengkel sekali. Betapa berbelitnya birokrasi, ketika aku harus menanggung risiko keselamatan anakku dalam kandungan.
“Begini lho, Dok, saya tak perlu tahu alasan Titin kenapa tidak mau. Dia itu perempuan berkeluarga dengan anak satu dan suami sedang tidak di rumah.Itu yang penting, dan saya tak mau memaksa,” suaraku meninggi. Emosiku sudah sampai ubun-ubun. Birokrasi...birokrasi….birokrasi…
Dokter A lalu menyuruhku menghubungi Anggi, salah satu temanku yang dulu melama ke rumah sakit X. Tapi aku sontak menolak. “Dia sudah kerja di Rumah Sakit B. Kenapa bukan Pak Darus dan Bu Elis,” sahutku. Keduanya dokter tetap yang tinggal di Mojokerto.
Dokter A tak mau tahu. “Tidak, hubungi temanmu dulu.”
Tapi cukup satu kali menelpon, dan Anggi menolak. “Aku harus jaga pagi besok di Gatul,” katanya.
Dokter A tidak ambil pusing. Ia lantas menyuruhku tetap menghubungi Dokter Dian untuk menggantikanku berjaga. “Pokoknya bagaimanapun caranya, harus hubungi Pak Dian, sampai bisa,” katanya dingin, dan menutup telpon.
Aku berusaha meredakan kegeramanku. Aku meminta tolong kepada operator untuk terus menghubungi Dokter Dian. Aku akan menunggu hasilnya di kamar. Namun, setelah mencoba hampir satu jam, hasilnya nihil.
Aku lantas mengumpulkan semua perawat jaga. Aku meminta mereka menggantikanku sementara sebagai dokter. “Mas Hendra, sampeyan periksa pasiennya. Lihat gejalanya, lalu laporkan ke saya. Nanti kalau butuh resep, aku yang bikin,” kataku kepada salah satu perawat.
Dan, malam itu, aku tetap berjaga sembari menahan sakit hingga pukul tujuh pagi. Aku bersyukur para perawat mau menolongku. Setiap tidak ada pasien, mereka berkunjung ke kamarku untuk mengulurkan tangan, sembari mengumpati Dokter A yang dinilai tidak toleran dan punya rasa empati. “Padahal anaknya sudah empat. Dia kan juga dokter kandungan…”
Setelah itu aku mencoba beristirahat ditemani Mas Rifki yang datang ke rumah sakit X beberapa saat kemudian untuk menemani.
Pagi hari, Dokter Dian menelponku. “Ada apa sih kok telpon aku tadi malam,” tanyanya.
Lalu teman yang menerima telpon itu bercerita tentang kejadian semalam. “Kebacut Pak A ini. Bagaimana Bu Kiki? Tidak apa-apa kan? Syukurlah kalau begitu,” katanya.
DI LUAR RUANG OPERASI, ketegangan tampak di wajah-wajah anggota keluargaku. Bapak tampak tepekur di kursi kayu ruang lobi rumah sakit bersalin. Diam. Garis-garis di wajahnya yang keriput tampak menggurat lebih jelas dari hari-hari sebelumnya.
Mas Rifki, suamiku, tampak gelisah. Sesekali matanya menatap televisi di ruang lobi yang dihidupkan dengan volume rendah. Ada film India.
Di dalam kamar rawat inap yang biasa kutempati, Ibu berbincang dengan Mas Ryza. “Adikmu itu sebenarnya ingin melahirkan secara normal. Tapi ia kesakitan sekali, saat diberi OD. Akhirnya harus cesar. Tapi tidak apa-apa, toh ia sudah membuktikan berusaha lahir normal,” kata Ibu.
Usai bercakap dengan Mas Ryza, Ibu mengambil air wudhu. Ia hendak salat sunnah Dhuha. Salat Dhuha adalah salat yang dianjurkan di pagi hari sebelum Dhuhur. Tuhan berjanji mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya yang sembahyang di pagi hari.
Bu Apit menyusul masuk kamar. “Aku juga mau salat dulu,” katanya.
Tidak ada sajadah, akhirnya Bu Apit menggunakan koran sebagai alas salat. Ia berdiri di belakang Ibu yang mulai berdoa. Mengatupkan tangan, dan berbicara lirih. Memohon keselamatan untuk anak dan cucu pertamanya.
Setelah itu, Ibu mengambil sebuah buku surat Yasin. Ia lalu membacanya dengan suara yang tak terdengar. Begitu pelan. Bu Apit belum selesai salat. Mas Ryza sudah memutuskan untuk memotret momen-momen bahagia nantinya.
AKU TAK BISA MELIHAT apa yang dilakukan Dokter Vita. Mataku hanya bisa menatap langit-langit dan sorot lampu operasi yang benderang. Aku juga tidak bisa merasakannya, karena bius yang bekerja di tubuhku. Namun aku bisa menerka apa yang tengah dilakukannya. Aku pernah ikut melakukan operasi, mendampingi dokter yang lebih senior.
Aku akrab dengan suara gunting dan pisau operasi yang bekerja. Menyayat kulit. Memotong. Halus. Lembut. Penuh kehati-hatian. Operasi bedah tak ubahnya sebentuk seni di dunia kedokteran. Ia membutuhkan ketelatenan, kesabaran, keuletan, kecekatan, dan ketangkasan berpikir.
Operasi selain aman juga harus indah. Dokter Puruhito dalam salah satu tulisannya di Buku Ajar Ilmu Bedah menjelaskan, “tindakan membedah tidak seperti melakukan coretan atau sapuan pada lukisan oleh seorang pelukis; apa yang dihasilkan oleh pembedah merupakan produk yang tidak akan dapat dicoret, disapu, atau diulang kembali..Dia harus dapat melakukannya dengan penuh keyakinan pada diri sendiri.”
Bedah sesar sendiri dikenal sebagai seksio sesarea. Ini persalinan buatan untuk melahirkan janin melalui insisi pada dinding perut dan dinding rahim. Syaratnya, rahim dalam keadaan utuh dan berat janin di atas 500 gram.
Sebenarnya, seorang ibu yang melahirkan tak perlu dioperasi bedah atau dikenal sebagai bedah cesar. Jika normal, seorang ibu bisa melahirkan melalui vaginanya. Dengan dibantu kontraksi pada sang ibu dan janin serta dilicinkan dengan air ketuban, maka kelahiran bisa terjadi.
Namun, di dunia ini, tak semuanya berjalan sempurna. Ada film bagus, judulnya Jewel in The Palace yang bercerita tentang seorang dokter perempuan pertama dalam sejarah Korea: Seo Jang Geum. Saat itu abad 15, dan dunia kedokteran Korea yang dikuasai para pria tak mengenal tubuh manusia yang diiris. Apalagi oleh seorang wanita.
Namun Jang Geum melakukannya. Dalam gua tepi pantai, ia menemukan seorang perempuan hamil tua dan kesakitan. Bayinya akan lahir sungsang. Maka Jang Geum meminta izin kepada sang suami untuk membedah sesar perempuan itu. Ibu dan bayinya selamat.
Aku tak tahu sudah berapa lama operasi berjalan. Rasanya lama sekali. Sunyi. Bau antiseptik menyengat hidung. Aku merasa kedinginan. Tubuhku telanjang dan hanya ditutupi selimut.
“Dok, dada saya kok sesak,” kataku memecah kesunyian.
“Oh, tidak apa-apa. Memang begitu,” sahut Dokter Bambang.
“Saya mual, saya mau muntah,” aku merasa lemah.
“Tidak apa-apa,” Dokter Bambang berusaha meyakinkanku.
Aku tidak tahu apa yang menyebabkan ingin muntah. Belakangan aku ketahui, kawan-kawanku yang pernah dibedah sesar bahkan muntah di tengah operasi. Aku beruntung tidak separah itu.
Dalam sunyi aku berdoa: “Ya Allah, semoga anakku bisa lahir selamat dan dalam kondisi sehat tak kurang apapun. Biarkan ia hidup. Berilah aku kesempatan untuk melihat anakku…”
AKU MEMANGGILMU RAISYA. Mulanya pada usia awal kandunganku, aku memanggilmu Billy. Mas Rifki memang mengharapkan seorang bayi laki-laki.
“Lho, terus kalau bayinya perempuan bagaimana?” tanyaku.
Mas Rifki tidak menjawab. Aku minta dia mencari nama untuk bayi perempuan. Tapi, ia tak juga beranjak.
“Gampang. Nanti,” katanya.
Aku tidak memaksa. Mungkin ia masih berharap aku bakal melahirkan bayi laki-laki.
“Bagaimana kalau Billa?” kata Ibu dan Dik Pipit mengusulkan, pada suatu hari.
Nama yang bagus. Tapi aku belum memutuskan, sampai pada suatu hari di bulan Februari, Mas Rifki mengusulkan sebuah nama: Raisya. Artinya, gelar kebangsawanan. Dalam bahasa Arab, Rais artinya pemimpin. Mungkin kalau dalam bahasa Jawa Raisya setara dengan raden ayu. “Kelihatannya bagus,” katanya.
Memang bagus. Mas Rifki tampaknya sreg betul dengan nama itu. Ia senantiasa menyapa bayi dalam perutku dengan nama itu. Saat salin kirim pesan pendek via ponsel, ia juga menanyakan kabarku dan kabarmu yang ada dalam rahimku dengan sapaan Raisya.
Jadilah kami memanggilmu Raisya, nak.
Kami lalu melengkapi nama belakangmu: Paramesthi. Nama itu kami temukan, saat mencari buku nama-nama indah di Gramedia, sepuluh hari menjelang kelahiranmu. Paramesthi, artinya yang berdiri terdepan. Kamu memang anak pertamaku, anak terdepan. Kelak, aku berharap kamu juga menjadi pemimpin.
Setelah kamu lahir, kami menambahkan nama ‘Dyah’ sebagai nama tengah. Jadi nama lengkapmu: Raisya Dyah Paramesthi.
Aku menaburkan harapan di atas kepalamu, anakku. Oleh sebab itu, aku memilih untuk segera cuti 13 Februari, yang berarti lebih awal sebagaimana saran Dokter Sumadi beberapa hari setelah mengalami pendarahan. Aku langsung memutuskan istirahat total. Tidak ada yang lebih penting dari keselamatan Raisya.
Aku tak sabar menunggu kelahiran Raisya. Aku segera ingin tahu wajah anak manusia yang selama berbulan-bulan menendang-tendang di dalam rahimku.
“Insya Allah anakmu lahir Jumat ini,” sahut Ibu.
Aku tersenyum. “Kucatat ya, Bu. Bener atau tidak,” kataku.
Aku menuliskan di atas secarik kertas kecil: “21 Maret 06. Kata Ibu, insya Allah anakku lahir Jumat ini. Doakan ya… Amin.” Kertas itu aku tanda tangani.
Selama masa istirahat menjelang persalinan, kakiku membengkak. Gejala normal bagi perempuan hamil, meski harus tetap diwaspadai. Aku jadi lebih banyak tiduran, dan jarang berjalan-jalan. Aku lebih banyak di dalam rumah.
Satu-satunya yang menyenangkan adalah aku masih bisa memasak makanan enak-enak yang aku sukai. Aku selalu ingin mencoba resep baru. Bahan-bahan makanan apapun aku beli. Padahal, aku bukan tipe perempuan yang mencintai dapur. Kata orang, kegemaranku ini bawaan bayi. Bawaan Raisya.
Semuanya aku rasa baik-baik saja, hingga tanggal 23 Maret. Pagi itu, perutku kembung dan merasa ingin kentut. Ada Pipit di kamarku.
“Pit, awas aku mau ngentut.”
“Iih, nggilani iki,” sahutnya.
Tapi tiba-tiba cairan mengalir deras dari antara dua kakiku. Aku bingung. Ciaran itu mengalir tanpa aku mampu menahannya. Warnanya bening, agak kuning.
“Lho, Mbak. Kok keluar airnya,” kata Pipit.
Aku bertanya kepada Ibu. “Bu, aku nggak kebelet kencing. Tapi kok mengalir terus. Aku nggak bisa menahannya,” suaraku cemas.
“Ki, jangan-jangan ketubanmu pecah,” kata Ibu.
Aku tak merasa kesakitan. Aku mencoba berpikir tenang. Aku hapal prosedur kelahiran di luar kepala. Malam sebelumnya saat aku kontrol ke dokter, diperkirakan aku baru melahirkan tiga hari lagi atau tanggal 25 Maret. Obatku kemudian ditambah dosisnya dan aku diminta terus merangsang kontraksi rahim.
Namun belum lagi obatku kuminum, ketubanku pecah duluan. Aku heran, kenapa ketubanku pecah duluan.
Aku minta diantar ke Rumah Sakit Sayang Ibu. Namun, Bapak lebih suka aku diantar dengan taksi daripada diantar sendiri dengan mobil pribadi. Bapak takut panik. Dalam situasi begini, kepanikan mudah terjadi, karena dalam kondisi darurat, jalanan di Surabaya adalah hambatan. Kemacetan di mana-mana. Apalagi Sayang Ibu terletak di daerah pusat kota yang sibuk.
Aku mulai menjalani rawat inap di salah satu kamar. Dokter memutuskan untuk menginjeksikan oksitosin melalui selang infus, dikenal dengan Oxytocin Drip (OD), setelah sebelumnya mengobservasi selama 12 jam untuk melihat kemajuan persalinan.
Namun tidak ada kemajuan. Oksitosin diinjeksikan ke tubuhku untuk merangsang kontraksi di rahimku. Untuk mempermudah kelahiran. Seharusnya, obat ini diberikan dua kali melalui infus dalam jangka waktu 16 jam.
Tapi reaksi obat ini menyakitkan. Aku tidak kuat menahannya. Baru dua jam, aku sudah kesakitan sekali. Aku meraung tertahan menahan sakit yang sangat.
Mas Rifki tampak menangis melihatku kesakitan. “Lelaki macam apa Mas ini, membiarkan istri Mas kesakitan.”
Tak tahan melihatku kesakitan, Mas Rifki memutuskan agar aku melahirkan melalui jalan bedah sesar. Pemberian oksitosin lantas dihentikan, karena tidak ada perkembangan bahwa aku bisa melahirkan normal.
Aku merasa menyesal. “Maafkan aku, ya,” kataku. Mas Rifki tersenyum.
TELEVISI DI RUANG TUNGGU MASIH MENYIARKAN FILM INDIA. Ibu biasanya suka menonton film India. Kadang ia dan Mas Ryza berdebat kecil soal film Bollywood. Mas Ryza tidak senang menonton film India. Katanya, “Tidak mendidik, bikin orang tidak pintar.”
Menurut Mas Ryza, film India kadang tidak logis. “Sejak awal diceritakan bahwa tokohnya adalah manusia biasa. Tapi kenapa saat berkelahi, ia bisa membuat lawan terpelanting hingga bermeter-meter jaraknya, seperti orang sakti.”
Kalau sudah begitu, Ibu pasti bilang: ‘Yo wis, biarin.”
Namun pagi itu tidak ada perdebatan. Tidak ada yang memperhatikan film di televisi. Ibu baru keluar dari kamar rawat. Habis salat.
Mas Rifki mengambil buku Yasin. Ia lalu menjauh dari depan televisi dan mulai membaca. Mas Ryza mengambil fotonya beberapa kali. Hasilnya, gambar itu kabur. “Goyang,” kata Mas Ryza, singkat.
AKU BERUSAHA MENATAP DOKTER VITA. Namun gagal. Aku merasa perutku didorong.
“Dok, saya diapakan?”
Dokter Bambang menyahut, “Ini bayinya sedang dikeluarkan. Tidak apa-apa.”
Lalu, tangis itu memecah kesunyian. Tangis bayi yang lama kurindukan.
“Wah, gendhuk,” sahut Dokter Vita. Gendhuk adalah sebutan untuk anak perempuan.
“Bayinya perempuan,” tambah Dokter Bambang.
Aku tersenyum. Lemah. Tak bisa bergerak. Perasaaanku campur aduk…
PUKUL 08.40, SUARA TANGIS DARI KAMAR OPERASI membuat Arif dan Pipit terloncat dari tempat duduknya. Bapak pun bangkit. “Itu suaranya,” kata Mas Ryza.
Hati Ibu mencelos. Lega, seperti lepas dari tumpukan ribuan batu. “Alhamdulillah,” katanya.
Ibu lantas memanggil Mas Rifki. “Mas, bayinya sudah lahir,” katanya.
Mas Rifki menutup buku Yasin dan berjalan mendekati Ibu.
Mata Ibu tampak berkaca-kaca. Sebutir air mata menetes ke pipi kanannya. Pipit pun tampak menahan tangis. Mata Dik Arif memerah.
Film India masih berputar. Seorang perempuan menyanyi-nyanyi dengan bahasa Urdu. “Burung gagak hitam terbang tinggi…” Mas Ryza melihat sekilas teks terjemahan di layar kaca.
Bapak berjalan menuju kamar rawat inap. Ia langsung sujud syukur di sana. Bu Apit juga. Arif dan Pipit bersujud syukur di depan pintu kamar rawat inap. Pipit benar-benar menangis.
Semuanya nyaris tanpa kata-kata.
Bapak memeluk Ibu lama sekali. Keduanya menangis sunyi. Mencium pipi Ibu kiri dan kanan. Bapak juga memeluk dalam-dalam Mas Rifki yang sudah bisa tersenyum. Semua saling bersalaman dengan wajah lega. Mas Ryza menjepretkan kamera digitalnya berkali-kali.
“Itu suaranya keras sekali,” kata Ibu. Semua tertawa. Benar-benar lega.
Dokter Mia, seorang dokter spesialis anak, keluar dari ruang operasi. “Mana suaminya?”
Mas Rifki maju. “Ya, ada apa Dok?”
“Bayinya perempuan lahir sehat, sekarang sedang dibersihkan,” katanya.
“Bisa saya…” Mas Rifki mengangkat tangannya seperti orang menimang.
“Ya, bisa. Nanti setelah dibersihkan,” jawab Dokter Mia.
“Terima kasih, Dok,” kata Mas Rifki.
Ibu tampak sibuk mengirimkan pesan pendek ke sanak kerabat lainnya, memberitakan kelahiran Raisya. Ia juga menerima telpon beberapa kali. “Wah, besar ya beratnya hampir empat kilogram. Makanya sulit keluar,” kata Ibu.
AKU MELIHAT RAISYA DILARIKAN KE KAMAR SEBELAH. Beberapa saat kemudian, seorang perawat berkata dengan suara keras: “perempuan, 3,9 kilogram, 52 centimeter, lengkap.”
Aku merasa lega.
Lalu salah satu perawat membawa Raisya yang tubuhnya sudah dibungkus kepadaku. Diperlihatkan kepadaku. Tapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena belum berani bergerak.
Perawat itu kemudian menyentuhkan pipi Raisya ke bibirku. Dan, aku pun menangis.
Terima kasih, ya Allah.
Tubuhku lantas dibersihkan, dan dokter mulai menutup dengan jahitan. “Sudah, Bu, tinggal nutup,” kata Dokter Bambang.
Namun aku merasa ada rasa sakit yang mencubit-cubit di daerah perutku. Aku merasa seperti ada yang linu. Nyeri. Aku mengira Dokter Vita tinggal menyelesaikan jahitan luar ternyata. Ternyata, “Masih jahitan dalam,” katanya.
“Dok, kok kemeng ya,” kataku, dengan suara hati-hati.
“Tidak apa-apa. Tidur saja, ya, Bu,” sahut dokter anestesi.
Ia lalu memasukkan obat lewat infus. Aku pun merasa ngantuk sekali. Lalu tertidur.
Aku tidak tahu berapa lama tertidur. Tapi aku tiba-tiba bangun dengan rasa sakit yang semakin mencubit-cubit. Dokter Bambang lantas menginjeksikan kembali obat bius lewat infus, dan aku terlelap lagi.
RAISYA DIBAWA KELUAR RUANGAN dalam gendongan seorang perawat. Mas Rifki mendekat dan mengambilnya.Bapak dan Ibu berdiri di sampingnya. Dengan lirih dan hati-hati, suamiku itu lantas membacakan azan dan iqomah ke telinga kanan dan kiri Raisya.
Mata Raisya membuka dan mengerjap-kerjap. Sepertinya ia mengerti. Dik Arif terus menyorotkan handy cam-nya ke arah Mas Rifki.
Kami tertawa, saat tiba-tiba Raisya bersin. “Ha ha ha…” Gelak tawa menyambut bersin Raisya.
Perawat kemudian mengambil Raisya dari pelukan Mas Rifki. “Sudah mau dihangatkan dulu,” katanya. Ibu dan Bu Apit mengelus-elus pipi Raisya, sebelum dibawa berlalu ke lantai atas.
Ibu, Pipit, Mas Rifki, Bu Apit, Arif lalu menjenguk Raisya yang dimasukkan sejenis boks penghangat di lantai atas. Mbak Mus, bibiku istri Pak Bambang adik Ibu, yang datang belakangan bersama dua anaknya, Leli dan Putri, juga ikut menengok anak pertamaku itu.
Raisya sedang tertidur tenang. “Heeh, menggemaskan,” kata Bu Apit.
“Hidungnya nyeprok,” kata Ibu.
RASA SAKIT TAK BERPERI MENGGIGIT TUBUHKU SETELAH OPERASI. Mulanya aku tak begitu merasakan, saat dipindahkan dari ruang operasi ke kamar rawat inap dengan hanya ditutupi sepotong kain bermotif batik. Bius masih bekerja di tubuhku.
Seorang perawat berjilbab memasangkan sebuah infus di pergelangan tanganku. Mas Rifki mencium keningku di bawah kilatan blitz kamera digital Mas Ryza dan sorotan handycam Arif.
Aku tertawa tertahan mendengar cerita Ibu dan Mas Rifki bahwa Raisya bersin saat diazani. “Bersin, bau rokok Bapaknya,” kata Ibu.
Rasa sakit perlahan mencubit-cubit daerah perutku. Aku mendesis, dan mengeluarkan air mata. Menahan rasa sakit itu.
Aku tersenyum senang melihat seorang perawat membawa Raisya ke kamar. “Masya Allah, cantiknya,” kataku.
Sang perawat lalu menggendong dan menyorongkan bibir Raisya ke payudaraku, mencoba untuk disusui. Aku mengelus-elus ubun-ubunnya dengan jemariku. Namun, air susu tak juga keluar. Setelah beberapa saat, perawat memutuskan mengembalikan Raisya ke dalam boks dan di bawa ke kamar depan untuk disusui dengan botol.
Dan, rasa sakit itu mencubit kian keras, kian kuat. Aku menangis. Mengerang.
“Aduuh, Bu. Sakiiit, aku tidak tahan.”
“Aku mau dibius terus. Sakiittt. Ya Allah, sakit sekali.”
Bu Apit, Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku hanya terdiam. Kasihan. Tidak tega melihat aku kesakitan. Sangat.
“Iya, Ki. Iya. Sakitnya dipindahkan ke Ibu saja, ya,” kata Ibu, dengan nada dalam, menahan diri untuk tidak ikutan menangis.
Mas Rifki mengernyitkan dahi. Ia tak bisa berbuat apa-apa.
Dik Arif memanggil perawat. Saat perawat datang, Mas Rifki langsung menyemprot, “Ini bagaimana sih, Mbak?”
“Sudah saya beri penahan rasa sakit. Dobel malah. Mungkin belum bekerja. Baru setengah jam. Mbaknya tidak tahan sakit,” kata perawatnya, sembari memeriksa kondisiku.
Perawat itu lantas menawarkan untuk memberikan morfin, analgesik yang paling topcer. “Tapi saya konsultasikan dulu,” katanya. Namun dokter menyuruh paha kananku disuntik pethidin yang biasa digunakan di ruang operasi.
“Nggak apa-apa, nangis saja, biar nanti waras,” kata Ibu.
Aku terus-menerus beristighfar. “Kenapa sakitnya nggak ilang-ilang, Bu. Sakit ya, allah.”
Aku menderita, hingga kemudian rasa lelah meremasku. Mungkin biusnya bekerja. Mungkin aku capek menangis terus. Mungkin. Entahlah. Aku tertidur. Tertidur.
MATA RAISYA MENGERJAP-KERJAP, saat aku membacakannya dongeng dari sebuah buku cerita: fabel tentang sekumpulan binatang yang bersahabat. Sudah dua hari setelah aku pulang dari rumah sakit. Kini Raisya tidur di atas ranjangku di rumah Surabaya. Mendengar dongeng. Mas Rifki pulang pergi Jombang – Surabaya untuk bisa menengoknya, karena disibukkan oleh urusan pekerjaan.
Kondisi tubuhku masih lemah. Aku belum bisa menggendong anakku sendiri. Untuk mandi pun, Raisya dimandikan oleh Ibu, neneknya sendiri. Jika Raisya menangis karena mengompol, maka Pipit, Ibu, Mbak Heni, Bapak, Mas Ryza ikutan datang. Ikut menggoda, dan mengelus-elus kulitnya yang halus.
Air susuku belum keluar banyak. Beberapa kali aku mencoba menyusuinya sendiri dengan dibantu Ibu. Tapi air susuku sulit keluar, sehingga Raisya menangis keras. Mungkin ia marah. Ia baru diam, setelah diminumi susu dari botol.
Dongeng itu terus kubacakan di bawah temaram lampu bohlam di kamarku.
“Paman Ajah pelan-pelan mengambil kaleng berisi Emut dan sepotong roti dengan belalainya yang panjang…Apa yang terjadi kemudian? Mio dan kawan-kawannya langsung berteriak kegirangan. Emut masih hidup! Ia keluar sambil melambaikan tangan.”
Aku menguap. “Kok Ibu yang jadi ngantuk, ya Dik.”
Aku menengok ke arah Raisya. Matanya masih terbuka, tapi mengerjap-kerjap mau tertidur.
“Ayo, bobo yo, sama Ibu,” kataku.
Mataku sudah mengantuk. Raisya menjadi samar-samar. Aku lelah, dan kulihat Raisya samar-samar juga mulai tertidur. Selamat tidur, anakku sayang. (***)
Catatan:
Tulisan ini khusus saya buat untuk adinda tercita Dwi Rizky Wulandari (Kiki). Seorang dokter muda yang kelak bertekad membuka klinik di desa, setelah menjadi spesialis anak.
Tulisan naratif ini direkonstruksi dari pengalaman penulis saat menanti persalinan sasar Kiki, keterangan Kiki saat menjalani persalinan, dan pengalaman Kiki saat menjalani kehamilan usia tua. Saya menggunakan teknik yang dipakai Norman Mailer, yang memposisikan narator sebagai orang pertama.
16 January 2011
Antara Kalibaru dan Garahan dengan Kereta Mini
Neo, bocah berusia empat tahun itu, tertawa-tawa senang saat seekor ayam lari cepat-cepat menepi dari rel. Sementara itu, ibunya, Agustini, menjerit-jerit saat Argo Raung melewati jembatan dengan ketinggian puluhan meter dari atas rumah penduduk.
Ini hari yang menyenangkan. Langit mendung, namun tidak hujan. Agustini dan dua anaknya bersama beberapa wartawan menyusuri rel dari Stasiun Kalibaru Banyuwangi hingga Stasiun Garahan Jember dengan kereta Argo Raung. Ini sebuah kereta mini dengan kapasitas delapan penumpang.
Kereta ini sengaja didesain untuk perjalanan wisata transportasi. Awalnya, tahun 1995, PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 9 mengoperasikan kereta mini ini, setelah melihat tingginya minat turis mancanegara, khususnya Belanda. Mereka tertarik melihat perkebunan kopi Gunung Gumitir.
"Kami waktu itu lantas bekerjasama dengan Hotel Margo Utomo untuk menggelar one day tour sebagai bagian dari paket wisata," kata Burhan Sultoni, humas PT KAI Daop 9 Jember. PT KAI menyediakan dua unit kereta.
Jalur Kalibaru-Garahan memang potensial sebagai tempat wisata. Selama perjalanan yang memakan waktu kurang lebih satu jam ini, kereta melewati dua terowongan yang dibangun tahun 1910 dan 1923, masing-masing sepanjang 90 meter dan 790 meter. Kereta juga melewati tujuh jembatan, yang terpanjang 178 meter dan tertinggi dari permukaan tanah 43 meter.
Para wisatawan bisa meminta kereta berhenti di perkebunan kopi sekaligus melihat pengolahan biji kopi. "Kalau sedang musim kopi, bau kopi harum," kata Burhani.
Sepanjang perjalanan memang menyenangkan. Berukuran kecil, suara mesin kereta memang berisik. Getaran juga terasa. Untuk bercakap-cakap harus nyaris berteriak.
Namun, ukuran kereta yang kecil juga memungkinkan para penumpangnya lebih akrab dan bisa menikmati keindahan alam. Apalagi jalur Kalibaru-Garahan begitu menghijau. Indah. Segar.
"Kalau pas di atas jembatan yang tinggi, rasanya lebih menegangkan," kata Agustini. Beberapa kali, anaknya, Neo, juga melambaikan tangan, dan melihat beberapa orang melambaikan tangan pula, saat kereta lewat. Saat melewati terowongan nan gelap, Pak Paidi, sang masinis, beberapa kali membunyikan bel.
Para penumpang meminta kereta wisata berhenti, begitu keluar dari terowongan. Sejenak mereka berfoto bersama di depan kereta tersebut, atau dengan berlatar belakang terowongan. Tak semua jalur kereta api memiliki terowongan seperti itu. Jadi kapan lagi mau foto-fotoan?
Di masa jayanya, kereta wisata Argo Raung ini begitu diminati. Tahun 2001, Bali digoncang ledakan para teroris yang mengatasnamakan agama, dan mendadak masa kejayaan itu pun surut. Bisnis kereta wisata ini sempat vakum selama tiga tahun sejak tragedi bom itu. Hotel pun mulai menghilangkan paket kereta itu dari paket wisata hotel untuk mengurangi biaya.
Baru dua-tiga tahun belakangan ini, bisnis kereta wisata ini mulai menggeliat kembali. "Kami tidak punya jadwal tetap. Kalau ada satu keluarga yang ingin memesan, tinggal menghubungi pemasaran di kantor daop atau di stasiun-stasiun di wilayah Daop 9," kata Burhani, menyebut harga Rp 500 ribu untuk sewa satu kereta sekali pulang pergi dari Kalibaru ke Garahan. Promosi dilakukan lewat situs internet resmi milik PT KAI.
Stasiun Garahan. Perhentian terakhir. Salah satu penumpang kereta wisata bercerita, biasanya jika ada kereta api masuk ke stasiun ini, ada warga yang memberikan tanda dengan memukul tiang listrik keras-keras. Tak menunggu lama, pedagang-pedagang nasi pecel bermunculan menawarkan dagangannya kepada penumpang kereta.
Mungkin karena itu hari itu hanya kereta mini yang lewat, tak tampak ada pedagang nasi pecel. Beruntung ada seorang pedagang, dan ia bersedia mengambilkan nasi pecel dari rumahnya yang dekat stasiun. Perjalanan wisata hari itu diakhiri dengan menyantap nasi pecel Garahan yang terkenal pedasnya. [wir]
Labels: Keluarga, Pengalaman
20 February 2010
Anak-Anak yang Bergembira di Niagara
Ini akhir pekan yang menyenangkan bagi kakak-beradik, Neo dan Marvel. Usia mereka baru 3,5 dan 1,5 tahun. Ini pengalaman pertama mereka berenang dan bermain bersama di kolam renang besar. Lihatlah bagaimana keduanya tertawa-tawa menepuk-tepuk air yang jernih, dan sesekali menenggelamkan badan mereka di kolam khusus anak-anak.
Avel beberapa kali menceburkan diri, dan bikin sang bunda tergopoh-gopoh. Sang anak belum bisa berenang. Namun, ia tertawa-tawa ketika Sang Bunda menegurnya. Bersama sang kakak, ia menjerit-jerit kesenangan. Sementara, di bagian lain kolam besar itu, Nur Widiatmoko, seorang warga Jember, bermain-main bersama istri dan anaknya. Sang anak menendang sebuah bola besar yang terbuat dari plastik.
Semakin siang, pengunjung semakin ramai. Anak-anak. Remaja. Orang dewasa. Sutikno tersenyum senang. Ia pemilik tempat wisata dan kolam pemandian bernama Niagara itu.
Di Amerika Serikat, nama Niagara adalah milik sebuah air terjun tersohor dan terbesar di dunia. Namun di Ambulu, Jember, ini menjadi tempat wisata murah yang menyenangkan, adan alternatif bagi warga. Untuk masuk ke dalam arena bermain, kita cukup membayar tiker Rp 10 ribu per orang.
Di arena Niagara, ada tempat bermain ‘meluncurkan diri’ sejenis waterboom, kereta kecil mainan, dan panggung musik yang didesain sedemikian rupa sehingga enak dipandang, dengan panjang 22 meter. Panggung itu bisa untuk acara pesta pernikahan, ulang tahun, maupun musik. Ada pula hall meeting dengan kapasitas 60 orang, dan kantin yang menyajikan makanan yang sedap.
Sutikno mengatakan akan segera melengkapi Niagara dengan berbagai fasilitas wisata dan bermain, secara bertahap. “Ke depan kita harapkan ada tempat outbond, sirkuit untuk go kart. Flying fox, maupun waterboom yang lebih luas,” katanya. Empat hingga lima tahun lagi setelah fasilitas bermain terpenuhi semua, Sutikno berniat membangun fasilitas semacam cottage. “Barangkali keluarga luar kota Jember ingin weekend, bisa jadi alternatif,” katanya.
Bagi Sutikno, membangun Niagara tak ubahnya sebuah perjudian besar. Ia sukses di bisnis transportasi, dan mulai merambah bisnis wisata. Namun, tidak membangun tempat wisata di daerah sekitar pusat kota, ia justru membangun Niagara di atas lahan seluas 5,5 hektare, di Dusun Langon Desa ambulu Kecamatan Ambulu (sekitar 40 kilometer dari pusat kota Jember ke arah selatan). Niagara baru dibuka untuk umum 19 September 2009 silam.
"Bukan kita ingin (sok) asing. Kita punya anggapan, Niagara kalau di buku pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) sudah ada: air terjun di Amerika Serikat. Kenapa ambil Niagara, ini biar orang mudah untuk mengingat. Itu kan tempat yang sudah punya nama," kata Sutikno, tertawa.
Lantas kenapa dibangun di pinggiran Jember yang jauh dari pusat kota? Sutikno membenarkan, dari segi bisnis, sangat riskan membuat tempat wisata di Ambulu, apalagi di daerah pinggir. "Nomor satu alasan saya, saya ingin membuat catatan kenangan di Ambulu, daripada ke lain daerah. Nomor utama memang karena faktor putra daerah. Ini karena kita putra daerah Ambulu, kita ingin memajukan Ambulu," katanya.
Tak ingin tempat wisatanya mati muda, Sutikno mencoba mengadopsi Jatim Park di Malang. Niagara hendak disulap menjadi tempat wisata yang komplet. Terletak di lereng gunung, Sutikno hendak memadukan wisata alam dengan buatan. “Dalam masalah alamnya, saya lestarikan. Kita sudah punya angan-angan, di sini kita tumbuhi tanaman sebanyak mungkin macamnya. Pohon jati kita selingi tanaman itu. Ada pemikiran ke arah agroturisme,” katanya. [wir]
Labels: Keluarga, Lingkungan
05 August 2009
Setelah Banjir Datang…
Mengapa Anda butuh bank seperti BNI? Satu pertanyaan, banyak jawaban, tentu saja. Banyak motif untuk menabung ke BNI. Namun, bagi orang seperti Tutik, emak mertua saya, bank adalah ‘makhluk asing’ yang harus bisa menjawab satu hal mendasar: kepercayaan.
Tutik, perempuan sederhana. Sehari-hari dia menghidupi diri dan keluarganya dengan berdagang di sebuah toko kecil yang terletak di sebuah kampung tepi sungai, di Situbondo, Jawa Timur. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Oleh karena itu, ia enggan berurusan dengan birokrasi. Namun, ia mampu memahami angka-angka: sebuah kebutuhan fungsional untuk bertahan hidup.
Tutik mempercayai dirinya sendiri untuk mengurus bisnis kecil itu. Ia menyimpan semua uangnya di sebuah kotak di lemari pakaian. Ia tidak menyukai bank: urusan birokrasi rumit. Mungkin juga, ia merasa minder. Istri saya berusaha meyakinkan emaknya itu berkali-kali. Sampai suatu saat, kami yakin, bahwa emak menanti itu: kepercayaan.
Lalu, datanglah banjir itu. Suatu malam, 8 Februari 2008. Sungai yang berjarak selemparan batu dari rumah mertua saya bergolak. Kami semua melarikan diri menuju bukit terdekat. Ini banjir kedua terbesar di Situbondo, setelah enam tahun sebelumnya. Emak mertua saya menyelamatkan apa saja yang bisa dibawa. Kotak berisi uang diambilnya dari dalam lemari. Malam terasa panjang di pengungsian. Untunglah, air cepat surut, dan kami kembali ke kampung, ke rumah kami yang sudah dipenuhi lumpur.
Banjir bandang di Situbondo diakibatkan oleh gundulnya hutan di kabupaten tetangga, Bondowoso. Letak Bondowoso secara geografis lebih tinggi daripada Situbondo. Maka, aliran air dari hutan yang tak terserap oleh tanah akan meluncur ke sungai-sungai kecil yang semuanya mengarah ke Situbondo. Banjir Situbondo, wajah alam yang rusak.
Emak mertua saya pulang dari pengungsian dengan pandangan yang berubah. Uang simpanannya selamat, namun banjir masih bisa datang sewaktu-waktu. Entah besok, entah lusa, atau tahun depan. Selama hutan di Bondowoso dibiarkan hilang, maka ancaman banjir akan menjadi bagian dari hidup emak mertua saya itu hingga akhir hayat.
Dia membiarkan adik saya mengurus administrasi untuk menjadi nasabah BNI. Saya dan istri saya menyarankan dia untuk menjadi nasabah BNI saja, sama seperti kami. Emak saya, memang tidak tahu apa-apa soal bank. Dia hanya menitipkan pesan, tentang kepercayaan, sebuah bank yang bisa dipercaya, yang tak mudah runtuh dilibas krisis saya rasa. Uang emak saya mungkin tidak besar. Namun saya bisa membayangkan betapa berartinya uang hasil berdagang itu.
Jujur saja, sebenarnya saya sendiri tidak tahu persis, secara akademis, bagaimana sebuah bank bisa dipercaya. Apakah kapitalisasi pasar yang besar adalah acuan sebuah bank bisa dipercaya? Saya kira, BNI bukan yang terbesar. Kapitalisasi BNI Rp 26,9 triliun, masih kalah dibandingkan bank empat lain di Indonesia.
Apakah karena gebyar hadiahnya? Terus terang saja, bagi saya dan keluarga, hadiah dan bonus mobil tidak masuk dalam pertimbangan untuk menciptakan kepercayaan. Apalagi, BNI dalam urusan gebyar hadiah relatif ketinggalan dibandingkan bank-bank lainnya.
Saya hanya percaya: kepercayaan ada, ketika kita merasa aman. BNI memang punya sejarah terpuruk tahun 1999, saat krisis ekonomi. Namun, bank ini dalam jangka waktu 10 tahun sudah mampu pulih. Kedua, saya lebih mempercayai negara dalam mengurus uang saya, daripada pemodal asing. Saya tidak anti-asing. Namun, BNI menjadi salah satu bukti yang menginspirasi saya: bahwa orang Indonesia masih ada untuk mengurus dirinya sendiri. BNI, bank pertama pemerintah kita masih ada.
BNI memfokuskan pemberian kredit kepada sektor usaha kecil menengah, seperti usaha emak mertua saya (58 persen kredit untuk usaha kecil dibandingkan kredit korporasi). Tentu saja, saya berharap, kelak emak mertua saya itu tak hanya sekadar menjadi penyimpan uang. Saya berharap, ia bisa memperbesar usahanya.
Satu hal lagi yang mungkin sangat berarti bagi seorang yang selalu terancam bencana seperti emak mertua saya. BNI memiliki program Green Living. Pemberian satu pohon utnuk setiap nasabah griya BNI menunjukkan kepedulian sebuah bank terhadap persoalan lingkungan. Mungkin emak mertua saya tidak akan dalam waktu dekat menjadi nasabah kredit perumahan dari BNI. Namun setidaknya sebuah kepedulian menunjukkan bahwa semua kehidupan betul-betul berarti: termasuk sebatang pohon. (*)
Labels: Ekonomi, Keluarga, Pengalaman
04 January 2009
Bapak sudah Pulang ke Rumah
Bapakku sudah sehat lagi dan pulang ke rumah. Satu ring (cincin) yang disebut Tsunami Stand sudah terpasang di saluran darah menuju jantungnya. Saluran darah ini tersumbat oleh kerak, yang kemungkinan disebabkan oleh kebiasaan merokok yang sudah tak dilakukan lagi 20 tahun lalu.
Betapa berbahayanya rokok... (tak heran jika sebagian orang bersikeras melarang rokok).
Bapak pulang, dan disambut makanan kupang dari Mbak Mus. Enak sekali. Mbak Mus adalah istri adik kandung Ibu, Bambang Priambodo.
Ada banyak cerita dan fakta selama Bapakku dirawat di rumah sakit yang sebenarnya bagus untuk ditulis sebagai kritik bagi dunia kedokteran. Tapi aku menghormati keinginan Bapak agar tidak menuliskannya, demi kebaikan semua orang.
Tapi suatu saat aku tetap akan menuliskannya. Entah kapan. Bisa satu tahun lagi atau bahkan 20 tahun lagi. Selama aku masih hidup dan menjadi wartawan yang meliput pelayanan publik, aku akan tetap akan menuliskannya suatu saat kelak.
Karena aku yakin itulah fungsi jurnalisme: mengingatkan semua orang, apapun harga yang harus dibayar. Termasuk harga untuk diriku sendiri. Ini sesuatu prinsip, dan prinsip itulah yang dulu diajarkan ayahku: mengatakan apapun yang dianggap benar, walau itu pahit. (*)
29 December 2008
Bapak Masuk Rumah Sakit
Ayahku masuk rumah sakit. Minggu dinihari, Bapak mengalami kesakitan teramat sangat di dada. Napasnya sesak. Ia membangunkan Ibu. Bapak harus ke Instalasi Rawat darurat untuk diobservasi. Bahasa awam, jantung Bapak kekurangan pasokan oksigen. Ini bisa disebabkan karena pembuluh darah menuju jantung tersumbat.
Tidak ditemukan hasil negatif dalam pemeriksaan darah dan sebagainya. Bapak diizinkan pulang. Dalam perjalanan pulang, aku sempat menelponnya, dan ia tertawa-tawa. "Wong gak apa-apa begini, Lho," katanya.
Namun, Minggu malam, Bapak terserang rasa sakit yang lebih hebat lagi. Tak ada yang tahu Bapak kesakitan saat itu. Semua tidur. Adikku, Arif Budi Wicaksono, yang hendak salat Isya yang menemukan Bapak tengah kesakitan. Pipit, adikku yang bungsu, bilang, Bapak sempat tak sadarkan diri.
Bapak kembali harus masuk RSUD dr. Sutomo. Ada kemungkinan, ia mengalami penyakit jantung koroner.
Observasi tak menemukan apapun. Akhirnya, adikku, Kiki, yang juga seorang dokter, memutuskan Bapak masuk ke Graha Rawat Inap Utama (Griu). Kami takut Bapak mendadak anfaal lagi.
Bapak setahuku tak punya riwayat penyakit jantung. Tapi entahlah. Usia Bapak sudah 60 tahun pada 5 Desember 2008. Siapa yang tahu penyakit orang tua?
Aku, Heni, dan dua anak kami berangkat ke Surabaya Senin siang, 29 Desember. Selasa, 30 Desember, Bapak harus menjalani pemeriksaan lebih serius. Kiki mengatakan, ada kemungkinan dada Bapak harus dibelah. (*)
27 December 2008
Lima Tahun Pernikahan
Hari ini lima tahun pernikahan saya dengan Heni Agustini. Heni adalah adik kelas saya saat kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Usia kami terpaut empat tahun. Saya Jawa, dia Madura. Saya dibesarkan dalam kultur Islam modernis, dia dalam kultur Nahdliyyin.
Kata orang, lima tahun adalah fase pertama membuktikan cinta. Saya tidak tahu apakah pernyataan itu benar. Yang jelas, lima tahun pernikahan kami adalah lima tahun yang luar biasa. Kami banyak belajar menghadapi hidup bersama-sama.
Saya menikah, begitu Heni lulus kuliah. Saya sudah mengontrak rumah, namun saya belum punya cukup uang untuk merenovasinya, sehingga layak ditempati. Lalu April 2004, datanglah badai pertama dalam hidup kami.
Setelah sejak tahun 2002 meliput berita politik di Jember, saya dipindahkan ke Biro Bondowoso. Bondowoso sebuah kota kecil, 30 kilometer dari Jember. Sebuah kota yang tenang. Kota pensiun.
Banyak yang menganggap pemindahan ini adalah pembuangan. Itu benar. Saya dipindahkan setelah menulis berita tentang kontroversi penggunaan komputer dan sarana informasi teknologi milik Komisi Pemilihan Umum oleh Desk Pemilu Pemerintah Kabupaten Jember. Itu terungkap dalam rapat redaksi kilat yang dipimpin Andung Kurniawan, General Manager Radar Jember.
Di Bondowoso, karir saya tak berkembang. Bondowoso terlalu tenang. Pemindahan saya ke Bondowoso membuat semua rencana kami berantakan. Kami pernah hanya memiliki uang 5.000 perak di saku dalam sehari. Tapi kami bertahan, dan hidup bersama keluarga Suroso, pegawai iklan Radar Jember, yang tinggal di kantor Biro Radar Jember.
Puncak badai itu terjadi Juli 2004. Belum lagi sebulan aku merayakan resepsi pernikahan, saya sudah dipaksa hengkang dari Ahmad Yani 99. Karir pertama saya di dunia jurnalistik dibunuh dengan alasan aku tidak masuk kerja tanpa izin. Sebuah alasan yang dibuat-buat, karena izin cuti dengan alasan resepsi pernikahan, saya utarakan sendiri di hadapan Andung Kurniawan.
Saya keluar dengan uang gaji Rp 270 ribu. Tapi saya keluar dengan kepala tegak. Saya yakin orang-orang yang menzalimi saya akan menuai badai di kelak kemudian hari (pada akhirnya, Andung memang dilengserkan dari posisi GM Radar dan menjadi redaktur biasa di Radar Surabaya, dan beberapa pegawai Radar dikeluarkan dengan tidak hormat oleh Jawa Pos).
Saya tak punya pekerjaan. Kami tinggal di sebuah rumah kos, dengan kamar yang gelap. Suram. Rumah kami masih harus direnovasi. Selain menghabiskan uang tabungan, saya harus meminjam uang dari orang tua dan mertua.
Syukurlah, saya diterima menjadi wartawan di Harian Suara Indonesia yang dipimpin Dhimam Abror Djuraid. Saya dua tahun bekerja sebagai reporter di Jember, dan merasakan bagaimana sebuah koran yang menhdapai sakratul maut. Saya sempat tidak menerima gaji selama berbulan-bulan, karena koran ini dililit hutang di penerbitan.
April - Mei 2006, saya bekerja untuk dua media, Harian Jatim Mandiri dan Beritajatim.com. Inilah pertama kali saya merasakan bagaimana tahun-tahun awal sebuah media dotkom. Hingga saat ini, saya masih bertahan di Beritajatim. Namun saya diberhentikan dari Jatim Mandiri dengan alasan yang tak pernah diberikan secara resmi: tidak bisa mencari iklan.
Dulu, sewaktu masih belum memiliki anak, kami selalu berkhayal, dua anak kami akan bermain bersama-sama di alun-alun Jember. Kini kami dianugerahi dua anak, Neo dan Marvel. Mereka anugerah terindah dalam hidup kami. Hari-hari kami tak pernah sepi.
Lima tahun pernikahan, kami memang pernah bertengkar. Kami pernah berselisih paham. Tapi itu tak membuat kami terpisah. Pertengkaran dan perselisihan bukanlah penyebab kami harus saling berjarak.
Suatu pagi sebelum saya berangkat kerja, Heni mencium bibir saya: 'Terima kasih telah menjadi suami yang baik bagi seorang istri yang cerewet'. Saya rasa saya juga harus berterima kasih bagi lima tahun yang luar biasa kepada istri dan anak-anak saya. Saya belum bisaq memberikan banyak untuk mereka. (*)
Labels: Esai, Keluarga, Pengalaman
25 December 2008
Jika Percaya Sinterklas, Jangan Baca Artikel Ini!
Peringatan: Jika Anda mengharapkan kunjungan dari Sinterklas (Santa Claus) tahun ini -- pria riang yang tinggal di Kutub Utara -- berhentilah membaca artikel ini sekarang. Sungguh. Artikel ini berisi sebuah rahasia yang dihargai sepanjang zaman.
Demikian awal dari artikel berjudul 'Mommy, is there a Santa Claus?' yang ditulis reporter Chicago Tribune pekan ini, Julie Deardoff. Artikel ini bercerita tentang upaya Deardorff dan suaminya untuk mencari jalan agar bisa menceritakan tentang sosok Sinterklas atau Santa Claus.
Ini artikel ringan dengan panjang 749 kata. Tapi Chicago Tribune mencekalnya untuk tampil di edisi cetak, dan lebih memilih untuk menampilkannya di edisi online.
Apa alasannya?
Al Tompkins dari Poynter Institute, sebuah lembaga jurnalisme di Amerika Serikat, mewawancarai Deardorff via surat elektronik. Kepada Tompkins, Deardorff menjelaskan, bahwa anak-anak para pembaca Tribune juga membaca edisi cetak koran tersebut.
"Redaktur menginginkan agar koran ini tetap bersahabat dengan keluarga (family-friendly). Kendati, item blog tahun lalu mengenai topik yang sama, memunculkan kemarahan yang lebih dibandingkan tahun ini," kata Deardorff.
Dalama artikel tersebut diceritakan, Sinterklas berasal dari seorang laki-laki bernama St. Nicholas of Myra (sekarang Turki). Dia melambangkan kepolosan kanak-kanak dan kepedulian. Sinterklas selalu hadir sebagai bagian dari perayaan natal.
Kehadiran Sinterklas ini memunculkan perdebatan etis, karena hikayat ini dianggap lebih banyak diwarnai khayali dan kebohongan. Sebut saja bagaimana Sinterklas masuk rumah tanpa mengetuk pintu hingga berkendara dengan kecepatan tiga ribu kali kecepatan cahaya.
Saat orang tua memakan kue yang dikhususkan anak mereka untuk Sinterklas, agar sang anak yakin bahwa Sinterklas telah datang, kesan yang muncul: anak-anak tidak boleh berbohong kepada orang tua, tapi orang tua boleh melakukannya kepada anak-anak mereka.
Perdebatan sederhana ini menjadi benang merah artikel Deardorff. Sebagian orang tidak mempersoalkan cerita mitos macam Sinterklas atau Peri Gigi. Namun hikayat Sinterklas melampaui sebuah cerita, karena ini dimanfaatkan dan dikembangkan oleh industri komersialisme. Akankah orang tua rela berbohong agar tak menyakiti anak-anak mereka, atau justru menceritakan sebenarnya?
"Ini problem yang sangat nyata yang dihadapi banyak orang tua dalam budaya saat ini. Artikel saya ini bukan soal Sinterklas semata; tapi soal penghormatan terhadap dua tradisi berbeda dalam sebuah keluarga," kata Deardorff.
Deardorff berpikir itu hal sepadan karena Sinterklas memiliki dampak pada semua orang, terlepas kita percaya atau tidak. "Jika Anda tidak percaya pada Sinterklas, ada aturan tak tertulis bahwa Anda tidak mengungkapkannya kepada orang lain. Banyak orang tua yang tidak merayakan tradisi yang terkait Sinterklas terpaksa menceritakan pria ini kepada anak-anak mereka agar anak-anak mereka tidak merasa ketinggalan," katanya.
Yang mengejutkan, mitos Sinterklas begitu kuat dan persuasif sehingga anak-anak tidak mempercayai kebenaran yang diceritakan orang tua mereka. Anak-anak cenderung mempercayai televisi, bahwa Sinterklas datang untuk memberi mereka hadiah. "Anak-anak lebih mendengarkan media dan kawan-kawan mereka," kata Deardorff.
Tak semua sepakat dengan isu etika yang disodorkan Deardorff. Gregory Favre dari Poynter Institute memandang isu yang ditulis Deardorff menarik. "Saya setuju para orang tua perlu memberitahukan hal sebenarnya kepada anak-anak mereka, tapi perlukah menghancurkan semua mitos masa muda kita? Dan perlukah jurnalis terlibat sebagai bagian dalam proses itu? Saya pikir tidak," jelasnya.
Beberapa pekan lalu, setelah salju pertama turun, Deardorff menulis, bahwa putranya bertanya apakah Santa membawakannya hadiah. Deardorff bimbang. "Saya berpikir soal apa yang saya ingin berikan untuk putra saya. Sebuah hadiah yang dia akan lupakan dalam beberapa hari? Atau sebuah momen yang menggetarkan yang akan dia kenang selama bertahun-tahun."
Deardorff akhirnya mengatakan kepada sang suami: mereka harus tetap menjaga semangat Sinterklas hidup menurut cara mereka sendiri. "Kita bisa membacakan dongeng 'The Night Before Christmas' dan 'The Wonderful Adventured of Nils'."
Menurut Deardorff, kelurga mereka bisa menitikberatkan pada makna 'memberi' ketimbang 'menerima'. Dengan kata lain: tangan di atas memang selalu lebih baik daripada tangan di bawah. (*)
Labels: Agama, Jurnalisme, Keluarga, Seni Budaya
16 September 2008
Marvel di Rabu Pagi
Ketuban istriku pecah tengah malam, saat aku sedang bekerja meliput kisruh di KPUD Jember. Rabu pagi, putra keduaku lahir di hari dengan tanggal berangka cantik: 20-08-2008. Kuberi nama dia Muhammad Marvel Ardyansyah Hersey.
Selasa malam, 19 Agustus, pukul 20.50. Ketegangan mendadak menyergap kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah Jember, di jalan Kalimantan. Sekelompok orang yang beratribut Partai Kebangkitan Bangsa datang tanpa permisi.
Mereka berteriak. Ada yang menggebrak meja. Mereka bekerja ringkas, tangkas, merampas sejumlah berkas dokumen pencalonan legislator dari meja petugas penerima pendaftaran di lantai dua.
Aku ditelpon Hari Setiawan, wartawan Radar Jember, soal insiden tersebut. Segera saja aku meluncur secepat-cepatnya. Apalah daya, sepeda motor Yamaha merah bikinan tahun 1979 tak segesit sepeda motor baru. Aku menjadi wartawan pertama yang tiba di kantor KPUD, dan gerombolan itu sudah kembali ke kantor PKB Jember yang berjarak sekitar 500 meter.
Namun aku masih bisa mengumpulkan keterangan dari sejumlah narasumber dan meng-online-kan di Beritajatim.com, mendahului media lainnya. Ini letupan konflik internal PKB. Gerombolan itu merampas berkas pencalonan legislator yang disetorkan Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember yang didirikan Muhaimin Iskandar. Muhaimin tengah bertengkar dengan Gus Dur, dan ujungnya PKB terbelah.
Aku bertahan di kantor KPUD Jember, menulis beberapa angle berita, sebelum akhirnya keluar mencari warung nasi di Gladak Kembar bersama dua anggota KPUD Jember, Sudarisman dan Ketty Tri Setyorini, serta wartawan radio Elshinta dan Prosalina.
Sebelum kembali ke kantor KPUD, Sudarisman mengajakku ke stasiun untuk membeli tiket. Lalu telponku berdering. “Say, pulang dulu sebentar. Aku kok ngompol. Basah semua. Tapi kayaknya bukan air kencing,” kata Heni, istriku, dengan nada panik.
Aku langsung memperkirakan itu air ketuban. “Ya udah, tenang aja. Aku pulang bentar lagi,” kataku.
Perjalanan dari stasiun ke kantor KPUD serasa lama benar. Di luar kantor itu, polisi dan orang-orang yang aku kenali sebagai aktivis PKB. Mereka tidak tersenyum, kendati aku sapa. Ada yang tersenyum, walau agak terpaksa. Sebenarnya, bagus juga jika situasi itu ditulis sebagai berita. Namun aku tak ada waktu lagi.
Berangkat dari rumah ngebut, pulang pun ngebut. Setiba di rumah, aku bergegas masuk, dan melihat Heni berdiri di samping ranjang. Sebagian kain seprai sudah basah. Istriku bercerita mendadak dari vaginanya keluar air. Ia tidak bisa menahannya, seperti layaknya jika kita ingin menahan air kencing.
Lewat tengah malam. Istriku sudah mau melahirkan.
Kami ingin ke bidan Umi di jalan Jawa, di daerah kampus. Tapi rasa takut menyergap kami. Lagipula ini tengah malam. Aku berpikir, mungkin sebaiknya ke rumah sakit. Aku teringat Kiki yang dioperasi Cesar. Aku teringat proses lahirnya Neo, putra pertama kami, yang begitu sulit dan nyaris harus melalui operasi pula.
***
Muhammad Neo Ardyansyah Guerin, lahir 2 Juli 2006. Kelahirannya tidak diawali pecah ketuban di rumah. Tapi Heni kesakitan saat itu. Dini hari, rahimnya seperti diaduk dan ditonjok-tonjok. Ia menghabiskan malam dengan berjalan mondar-mandir di rumah sembari mengatur pernapasan. Aku menemani sembari nonton siaran langsung semifinal Piala Dunia di televisi. Kami menanti fajar, untuk kemudian berangkat ke bidan.
Bidan mengatakan, vagina Heni sudah memasuki fase pembukaan tiga. Namun karena istriku kesakitan, pagi itu juga kami segera ke rumah sakit dr. Subandi, sebuah rumah sakit milik negara. Bu Dartik, bibiku, mengantarkan kami dengan mobil pribadi.
Heni harus kesakitan selama belasan jam. Masuk Subandi pukul 7 pagi, Neo baru lahir pukul setengah delapan malam. Pada saat terakhir, aku pasrah jika istriku harus dioperasi cesar. Posisi kepala calon bayiku agak meneleng, sehingga kesulitan melewati gerbang gua garba.
Syukurlah, Tuhan menghendaki Neo lahir normal: dengan tanda lingkaran hitam tepat di bagian tengah dahinya. Aku merasa anakku sudah ditandai untuk masa depan. Entah ditandai untuk apa. Hari itu, aku berdoa tanda di dahinya adalah pertanda baik bagi masa depannya. “Anak ini presiden Republik Indonesia empat puluh tahun lagi,” kataku kepada Heni.
***
Pukul setengah satu dinihari. Aku tidak ingin Heni mengalami kesulitan lagi dalam proses persalinan. Aku menelpon taksi. Tapi rasanya taksi lambat sekali datang. Aku mengetuk pintu rumah Yakub Mulyono, wartawan harian Memo, yang bertetangga denganku.
Yakub menyalakan mobilnya. Neo yang masih terkantuk-kantuk aku gendong. Anakku itu baru melek sepenuhnya setelah melihat mobil Yakub dalam kantuknya. Ia cinta sekali dengan apapun yang disebut mobil. Setiap kali melihat mobil, baik di jalan raya atau di iklan yang terpampang di koran, ia selalu menunjuk dan berkata: ‘Obi’.
Aku memutuskan ke Rumah Sakit Bina Sehat, sebuah rumah sakit swasta di jalan Jayanegara. Sekitar dua ratus meter dari rumah, kami bertemu dengan taksi yang kami pesan, dan memutuskan untuk naik taksi itu saja ketimbang merepotkan Yakub lebih lama.
“Lewat mana, Pak?” kata sang sopir.
“Terserah, yang penting cepat dan aman,” jawabku.
Jember dinihari, jalanan lengang bak di sebuah kota mati. Taksi melaju kencang, begitu aku beri tahu bahwa istriku akan melahirkan. Tak butuh waktu lama, kami tiba di Bina Sehat.
Saat kami turun dari mobilnya, sopir taksi itu mengucapkan selamat. “Semoga berjalan lancar semua,” katanya.
Heni dibawa masuk ke ruang bersalin. “Sudah bukaan tiga,” kata salah satu perawat.
Aku baru sadar, bahwa kami tidak membawa barang apapun sebagaimana layaknya keluarga menghadapi persalinan. Neo pun memakai kaus kaki tanpa sendal atau sepatu. Agaknya Heni lupa memakaikan sepatu kepadanya.
Padahal, Heni sebenarnya sudah menyiapkan pakaian untuk bayi dan segala sesuatunya. Namun dia belum mengepaknya dalam tas. Kami tidak bersiap, karena Heni diperkirakan akan melahirkan 13 September mendatang. Tepat di bulan puasa.
Aku dan Neo duduk di atas lantai di luar ruang bersalin. Mulanya, Neo agak rewel dan memanggil bundanya. Ia ingin ikut masuk ke ruang bersalin. Neo baru agak tenang, setelah aku jelaskan kalau bundanya hendak melahirkan. Perhatian Neo tersita pada orang yang berlalu-lalang di depan ruang bersalin, dan tertegun saat mendengar suara tangis bayi.
Neo berusaha mengintip ke dalam ruang penitipan bayi melalui kaca. Aku menggendongnya agar bisa melihat lebih jelas. “Adik,” katanya.
Aku sempat masuk ke ruang bersalin dua kali untuk menemui Heni. Heni tampak agak takut. Tangannya sudah diinfus. Ia takut dioperasi.
Heni mencium dahi Neo, sebelum aku membawa anakku keluar ruangan. “Tolong hubungi Ibu, ya,” kata Heni.
“Besok pagi saja. Malam-malam begini Ibu ya sulit ke sini,” kataku.
Aku memesan kamar kelas III untuk Heni. Sebuah ranjang disiapkan di kamar C7. Aku mencoba menidurkan Neo. Aku usap-usap punggungnya hingga terlelap.
Aku ikut tertidur. Tidak nyenyak. Telingaku masih menyerap suara-suara di sekitarku. Atau mungkin itu suara dari mimpiku. Entahlah.
Aku terbangun beberapa kali. Aku lega Neo sudah tidur. Aku salat Isya sekitar pukul tiga dinihari. Lalu aku tidur sebentar kembali.
Di kamar C7 ada tiga ranjang. Dua ranjang sudah dipesan, dan satu ranjang tak berkain seprai. Di ranjang seberang ada seorang perempuan paruh baya baru masuk. Tubuhnya telanjang, hanya ditutupi kain jarik. Ia baru dioperasi cesar, begitu kata perempuan tua yang mendampinginya.
Bayinya perempuan, lahir tengah malam lewat beberapa menit. Belakangan aku mendengar, dokter menyebutnya bayi istimewa, karena lahir pada saat usia sang ibu tak loagi produktif, bahkan rentan. Aku jadi ingat adikku, Pipit, yang lahir saat umur Ibu tak lagi muda.
Fajar menyingsing. Perawat memintaku menyiapkan pakaian dan beberapa hal untuk menyambut kelahiran anakku yang kedua. Heni kian kesakitan. Aku membeli beberapa pakaian bayi di kantin rumah sakit. Sebenarnya kalau Ibu mertuaku sudah datang, aku bisa pulang ke rumah sebentar untuk mengambil pakaian untuk bayiku dan Heni.
Kiki menelpon menanyakan kondisi Heni. Ponsel aku berikan ke Heni. Entah apa yang mereka bicarakan. Sembari menahan rasa sakit, Heni hanya bilang, “Ya, dik. Gak papa. Doakan saja agar selamat.”
Saat ponsel beralih kepadaku barulah aku tahu kalau Kiki menangis. Ia minta maaf tidak bisa datang ke Jember untuk menjenguk dan mendampingi Heni. Belakangan dari Ibu aku tahu kalau Kiki merasa tidak enak. “Kamu dan Heni datang waktu Kiki melahirkan dan waktu Rara ulang tahun,” katanya.
Aku lupa pukul berapa. Heni sudah memasuki bukaan delapan. Ibu mertuaku datang bersama Dewi, adik Heni. Aku mohon pamit dan segera pulang bersama Dewi ke rumah untuk mengambil pakaian.
Aku minta bantuan Yeni, istri Yakub, untuk memilihkan pakaian dan tetek bengek yang dibutuhkan perempuan yang tengah melakukan persalinan. Butuh waktu setengah jam, dan saat aku kembali ke rumah sakit: anakku sudah lahir.
Alhamdulillah.
Laki-laki kecil itu lahir sekitar pukul 07.55, dengan berat 2.999 gram dan panjang 48 centimeter. Normal. Dia lahir normal.
Aku lega.
Aku minta waktu untuk membacakan azan dan qomat di telinga kanan dan kirinya. Tubuhnya lebih kecil daripada Neo waktu pertama lahir. Ia terpejam. Tidak seperti Neo yang memandang wajahku dengan matanya yang lebar itu saat aku membacakan panggilan kemenangan bagi umat Islam.
Butuh waktu dua jam sebelum Heni masuk ke kamarnya. Di ruang bersalin, Heni minta teh hangat. Wajahnya letih. Belakangan, ia bercerita, melahirkan Neo memang lebih sulit. Namun saat itu, kondisinya fit. Saat melahirkan anak kedua kami, kondisi Heni kurang fit, karena terkena diare selama dua hari.
Neo kelihatan girang mengetahui adiknya lahir. Entah apa dalam benak anak itu. Ia hanya tertawa senang.
Ruangan C7 sudah terisi lengkap: tiga perempuan yang baru melahirkan. Hanya istriku yang melahirkan melalui persalinan normal. Dua perempuan lain melalui persalinan bedah.
Siapa nama anak ini? Aku dan istriku berdiskusi lama. Aku ingin pokoknya ada nama wartawan di antara deretan namanya. Pilihanku adalah Hersey dan Ryszard Kapuscinski. John Hersey adalah reporter spesialis perang yang menulis untuk majalah The New Yorker, Life, dan Time. Karya terbesarnya berjudul Hiroshima dinobatkan sebagai karya jurnalisme terbaik abad ini.
Ryszard Kapuscinski adalah wartawan travelogue Polandia. Karya dahsyatnya berjudul Soccer War, bercerita tentang perang Honduras dan El Salvador yang dipicu pertandingan sepakbola kualifikasi Piala Dunia. Aku ingin mengambil nama Ryszard, tapi Heni menolak. “Mirip nama Irsyad, Icad,” katanya. Icad adalah nama panggilan anak tetanggaku.
Aku mengusulkan nama Dwi. Heni menolak.
Kami sebenarnya berharap memberi nama anak ini Ramadan karena diperkirakan lahir saat bulan suci itu. Tapi karena kelahirannya lebih cepat daripada perkiraan, batal sudah.
Akhirnya, aku mengusulkan nama Marvel. Marvel adalah kosakata bahasa Inggris, artinya: sesuatu yang sangat mengagumkan. Istriku setuju.
Jadilah kami memberinya nama: MUHAMMAD MARVEL ARDYANSYAH HERSEY.
Panggilannya: Avel.
Saat aku memberi kabar kepada keluargaku, rata-rata pertanyaannya adalah apa arti Marvel dan Hersey. Arif, adikku, tampak senang dengan nama Marvel. “Nanti anakmu aku panggil Kapten Marvel,” katanya.
Arif suka komik. Kapten Marvel adalah nama salah satu super hero, rekan Superman. Ia punya kekuatan sedahsyat Superman, berkostum merah, dan memiliki simbol lingkaran dengan petir di dada. Jika hendak mengubah diri dari manusia biasa menjadi manusia super, ia berkata: Shazam!
Neo tidak bisa bilang Avel. Ia selalu bilang: adik, atau Ave (huruf ‘e’ dibaca sama seperti ‘e’ pada kata ‘lemah’.
Arif mengirimkan SMS, memberitahu bahwa tanggal lahir anakku tak ubahnya nomor cantik. 20 Agustus 2008 sama dengan 20-08-2008.
Selamat datang, Marvel, anakku. (*)
Labels: Keluarga, Pengalaman
02 June 2008
Alhamdulillah, Neo sudah Sembuh...
Syukurlah. Neo akhirnya sembuh. Pulang ke Situbondo pekan ini, aku disambut tawa anakku terkecil. Selama sepekan kemarin dia sakit mencret. Muntah. Suhu tubuhnya sempat tinggi.
Namun Sabtu kemarin, Neo sudah sehat kembali. Waktu aku bawakan VCD Hotwheels dan buku bergambar Cars, dia ketawa-ketiwi. "Obil...obil..." katanya, menunjuk-nunjuk Lightning McQueen, mobil balap berwarna merah, jagoan dalam VCD kartun Cars.
Cars, film produksi Disney. Bercerita mengenai mobil balap bernama Ligthning McQueen yang ingin menjadi jawara Piston Cup. Ini film bagus. Berkisah tentang persahabatan, dan bagaimana seseorang tidak bisa hidup sendirian.
Aku bawa VCD Hotwheels. Ini juga film kartun bagus kayaknya. Sayang tidak bisa diputar di VCD player di rumah Situbondo. VCD player itu agak rusak. "Seminggu Neo nggak nonton VCD Cars," kata Heni, istriku.
Aku senang bisa melihat Neo sehat kembali. Waktu aku tidur, aku dibangunkan. "Anda...Anda...Aem," katanya. Maksudnya, aku disuruh makan sama dia.
Sabtu malam, Neo aku ajak jalan-jalan ke alun-alun bersama Heni. Wajahnya gembira, saat naik kereta putar dan becak goyang. Naik kereta putar, ia nambah sekali. Pulangnya, makan bakso Solo. Alhamdulillah. (*)
Labels: Keluarga
25 May 2008
Neo Sakit
Neo sakit. Badannya panas. Sempat beberapa kali muntah. Mencret.
Sabtu siang (24/5), saat aku bertemu dengannya, ia masih bercanda. Dia menunjukkan buku bergambar mobil tokoh film kartun Cars kepadaku. "Obil...Obil...," katanya.
Aku menggendongnya, dan bercanda. Sejak Heni di Situbondo untuk beristirahat, aku bertemu dengan Neo setiap akhir pekan. Anak itu semakin banyak perbendaharaan katanya. "Dia sekarang pinter ngikutin omongan orang," kata Heni.
Di Situbondo, Neo sempat bilang 'emma' (maksudnya 'kemma', mana) dan akek (maksudnya sakek, sakit). Kedua kosakata dari bahasa Madura.
Sabtu malam, saya mengajaknya berjalan-jalan. Neo tidak segirang biasanya. Ia kelihatan agak loyo. Waktu di alun-alun pun, dia rewel. Tak jelas maunya. Aku belikan mobil-mobilan, masih juga rewel. Aku belikan es krim, tak mau dimakan.
Waktu di warung bakso, Neo juga tak mau makan. Ia hanya mau minum es teh. Aku dan Heni memutuskan menyelesaikan acara malam itu, dan membawa Neo pulang. "Dia ngantuk," kataku.
Di boncengan sepeda motor, Neo muntah. Mi yang dia makan tadi siang keluar semua dari perutnya. Ia tidak menangis. Kami memutuskan segera pulang.
Di rumah, Neo banyak sekali minum air. "Inum...inum," katanya.
Satu tegukan, dia minta lagi. "Agi."
Perutnya keras. Heni mengoleskan minyak kayu putih ke sekujur tubuhnya. Tiduran di atas sofa ruang tamu, Neo muntah lagi. Kali ini mengeluarkan air.
Aku khawatir. Esok harinya, Neo berak. Mencret. Ia juga masih muntah. Ini musim kemarau. Musim muntaber. Beberapa anak tetangga, kata Heni, juga mengalami panas, muntah, dan berak.
Neo kelihatan lemas. Ibu menyarankan agar Neo banyak minum air. Agar tidak dehidrasi. Aku belikan dia obat. Sore tubuhnya panas: 38,4 derajat. Wajahnya yang lucu memelas.
Waktu muntah lagi di sofa, Neo menunjukkan bekas muntahan kepadaku. "Utah, utah." Aku kasihan benar dengan anak itu.
"Jangan lupa obatnya diminumkan," kataku kepada Heni, sebelum pulang ke Jember. Aku harus kembali ke Jember. Senin, aku rencananya mau ke Lumajang, meliput gunung Semeru bersama Syaiful, reporter Trans7.
Semoga cepat sembuh, nak. Sabtu depan kita main-main lagi. (*)
Labels: Keluarga
21 May 2008
'Sempurna' untuk Istriku Tersayang
Aku menghadiahi istriku koor lagu 'Sempurna' dari stadion Notohadinegoro. Sebuah kejutan untuk istriku, karena telah bersedia melengkapi hidupku bersama Neo, anakku.
Rabu malam ini musik rock pulang ke Jember. Andra and The Backbone, sebuah band rock yang digawangi gitaris Dewa 19 Andra Junaidi, vokalis Dedy Lisan, dan gitaris kedua Stevie Item, tampil di stadion Notohadinegoro.
"Iki musik rock, bro," kata Heru Putranto, fotografer Radar Jember. Ia senang dengan lagu-lagu Andra and The Backbone. Setiap pagi, ia memutar album pertama kelompok ini dari MP3 di komputer.
Duo cewek T2 (Tiwi dan Tika) menjadi pembuka yang cukup menghibur. Dua alumnus Akademi Fantasi Indosiar ini dengan gaya nan centil bisa membuat penonton bergoyang. Terutama saat lagu Oke! yang oleh sejumlah penonton dipelesetkan menjadi poke! (sejenis kata-kata jorok dalam bahasa Madura).
Namun tak ada yang lebih dinanti kecuali Andra and The Backbone. It's time to rock!
Penonton menjerit, saat melihat gitaris Andra Junaedi, gitaris Stevie Item, dan vokalis Dedy Lisan berada di atas panggung. Mereka dibantu dua additional player di drum dan bass.
Andra adalah gitaris kelompok Dewa 19. Ia adalah salah satu gitaris terbaik di Indonesia. Kenal dekat dan terpikat dengan gaya permainan gitar Stevie Morley Item, ia bersepakat membentuk kelompok Andra and The Backbones. Ini solo project Andra.
Dedy terpilih sebagai vokalis setelah melalui audisi yang tak ruwet. Nama Dedy direkomendasikan oleh Ari Lasso, mantan vokalis Dewa 19. Dedy sebelumnya adalah jurnalis majalah HAI yang meliput konser-konser musik, termasuk konser Dewa 19.
Persenyawaan trio ini menghasilkan dua album, dan menghasilkan lagu-lagu hit yang mentereng seperti Musnah, Lagi Lagi dan Lagi, Sempurna, dan terakhir Main Hati.
Memilih jalur rock sejak awal, persenyawaan ini yang membuat kelompok tersebut tampil meledak di stadion Notohadinegoro. 'Muak' membuka reportoar mereka. Penonton berteriak dan berjingkrak.
Dedy sempat gagal mengambil nada yang pas di awal lagu. Namun, ia cepat menyesuaikan dan tampil garang.Dedy bisa melakukan improvisasi sehingga tak kehilangan elan lagu yang ber-beat cepat itu.
Kematangan aksi panggung Andra and The Backbone tampak di lagu kedua berjudul Sahabat. Teknik blocking yang dilakukan Stevie dan Andra dari ujung panggung timur ke ujung barat memantik emosi para penonton. Penonton tiada henti meneriakkan nama Andra, Dedy, dan Stevie.
"Katamu kau temanku, pasti bukan musuhku. Tapi kau tetap selalu menghalangiku, khianatiku. Lupakah dirimu akan janji setiamu? Sahabatku bersamaku, kita genggam dunia sampai hidup kita berhenti..." (Sahabat)
Aku bertemu dengan Dewi, jurnalis radio, di depan panggung. Ia salah satu The backboners (sebutan penggemar Andra and The Backbone). Kami berjingkrak bersama dan mengikuti lantunan Dedy. Aku paling suka liputan konser rock. It's the good time for a journalist.
Andra memang layak disebut sebagai salah satu gitaris terbaik Indonesia saat memainkan nomor instrumen berjudul Surrender. Warna gitaris Joe Satriani tampak di situ. Beberapa kali penonton mengacungkan tiga jari metal untuk aksi melodius Andra.
Stevie Item juga tak kalah asyik. Di beberapa lagu, ia mengambil melodic part dan giliran Andra yang menjadi gitaris pengiring. Berambut gondrong, Stevie menurutku lebih mirip the nice boy ketimbang tipikal rocker yang kumuh. Ia menarik simpati penonton dengan senyumnya yang menawan.
Namun tidak ada yang lebih dinanti penonton selain lagu Sempurna. “Lagu ini mempengaruhi dan menyentuh banyak orang,” kata Dedy kepada penonton.
Benar. Lagu ini menyentuh banyak orang. Aku dan istriku menyukai lagu ini. Anakku, Neo, menyukai lagu ini. Ia selalu nggeremeng sendiri, kalau mendengar lagu ini dari MP3 atau melihat klip di televisi.
Gita Gutawa menyanyikan kembali lagu ini untuk sebuah soundtrack film. Suara melengking Gita yang bening tentu berbeda dengan Dedy. Namun keduanya sama-sama memiliki warna yang kuat dalam lagu ini.
Aku langsung menelpon istriku, Heni Agustini, yang tengah berada di Situbondo bersama Neo.
"Halo, ada apa, Yanda?"
"Sayang, lagu ini untuk kamu. Dengerin..."
Aku langsung mengarahkan ponsel ke penonton yang menciptakan koor raksasa yang menjadi awal lagu: “Kau adalah darahku. Kau adalah jantungku. Kau adalah hidupku lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu…Sempurna.”
Aku tidak bisa mendengar ucapan istriku. Aku lantas menyanyikan bait pertama lagu itu melalui telpon. Bersama koor penonton di belakangku, dan permainan gitar Andra yang menyentuh.
"Kau begitu sempurna. Di mataku kau begitu indah. Kau membuat diriku akan selalu memujamu. Di setiap langkahku, ku kan selalu memikirkan dirimu. Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu."
"Janganlah kau tinggalkan diriku. Tak kan mampu menghadapi semua. Hanya bersamamu ku akan bisa."
“Kau adalah darahku. Kau adalah jantungku. Kau adalah hidupku lengkapi diriku, oh Sayangku, kau begitu…Sempurna.”
"Kau genggam tanganku. Saat diriku lemah dan terjatuh. Kau bisikkan kata yang hapus semua sesalku."
"Janganlah kau tinggalkan diriku. Tak kan mampu menghadapi semua. Hanya bersamamu ku akan bisa."
“Kau adalah darahku. Kau adalah jantungku. Kau adalah hidupku lengkapi diriku, oh Sayangku, kau begitu…Sempurna.”
Beberapa orang memandangku saat aku menyanyi di telpon. Tapi emang gue pikirin?
Sambungan telpon terputus. Pulsaku habis. Aku langsung menggunakan ponsel CDMA. Untunglah, Flexy tak ngadat seperti biasanya. Aku tersambung dengan ponsel istriku, dan kembali melanjutkan nyanyianku.
Sayang di pertengahan lagu ada gangguan noise (berisik) dari sound system. Dedy mengernyitkan dahi. Namun itu tak membuat penonton berhenti menyanyikan lagu itu.
Aku tak bisa membayangkan wajah istriku malam itu. "Sama siapa, Yanda, nonton konsernya?"
"Sama Heru. Udah ya, sayang," kataku.
Aku kembali berjingkrak dengan lagu penutup: Musnah. Koor kembali tercipta. Diiringi kembang api yang meletup-letup di atas panggung, Andra dan kawan-kawan mengakhiri penampilan enerjik mereka dengan memberi salam kepada semua penonton.
Yang tersisa hanya rasa capai. Tapi aku senang sekali.
Sebuah pesan pendek masuk ke ponselku. Dari istriku. "Trims lagunya, aku sayang yanda...muuahh...sayang Neo dah tidur, kalau gak pasti ikut nyanyi..." (*)
Labels: Keluarga, Musik, Pengalaman
07 May 2008
"Ya Allah, Sembuhkan Adik Saya..."
Hari ini aku tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Aku memang masih melakukan liputan di lapangan untuk beritajatim.com. Namun hatiku kacau. Adikku, Dwi Rizki Wulandari, dalam kondisi kritis di rumah sakit daerah Dr. Soetomo.
Kiki, demikian sapaan akrab adikku itu, terserang demam berdarah. Mulanya dia dirawat di rumah sakit Hasanah Mojokerto, tempat dia bekerja sebagai dokter sejak Ahad lalu (4 Mei). Namun Selasa malam, kondisinya mendadak kritis.
Adik bungsuku Rizka Paramita Safitri menelponku Selasa malam itu. Ia menangis. "Mas, Mbak Kiki kritis. Dia mau dibawa ke Surabaya sekarang. Ibu masih nunggu disana."
"Kamu nggak usah bilang Bapak dulu. Bapak lagi nganterin Mas Arif ke stasiun," kata Pipit, nama panggilannya.
Hatiku mencelos. Meremang. Lidahku tercekat. Dengan susah payah, aku memintanya tenang. "Sudah, sekarang kamu salat dan berdoa. Insya Allah Mbak Kiki nggak apa-apa."
Istriku, Heni Agustini, kebingungan. Dia memaksaku menelpon Arif Budi Wicaksono, adikku yang hendak pulang ke Jember. "Arif jangan disuruh pulang dulu. Biar dia di Surabaya dulu," katanya.
Aku setuju. Namun nomor telpon Arif tak aktif. dia pakai nomor yang lain. Saat ditelpon, ternyata dia sudah berada di atas kereta api, menuju Jember.
Aku mengatakan, Arif sebaiknya dibiarkan pulang ke Jember dulu. "Sekarang pukul setengah sebelas malam. Kalau dia nanti turun di Bangil Pasuruan, belum tentu dia dapat kendaraan kembali ke Surabaya," kataku.
Bapak menelponku, memberitahukan kondisi Kiki. "Doakan adikmu," katanya, lirih.
Aku menelpon Ibu untuk mengetahui kondisi Kiki sebenarnya. "Sekarang dia mau dibawa ke Surabaya. Perutnya sudah tidak keisi makanan. Trombositnya naik cuma sedikit," suara Ibu seperti menahan tangis. Ada rasa capek.
Selama sakit, Kiki memang kesulitan makan. Setiap kali makan, selalu muntah. Lambungnya menolak benda asing. Tubuhnya lemah. Trombositnya merosot cepat. "Tapi semangat adikmu untuk sembuh besar," kata Bapak suatu kali.
Tidak ada yang bisa aku lakukan malam itu. Kami semua dilanda ketegangan. Anakku, Neo, bahkan tidak rewel. Ia seperti tahu kedua orangtuanya gelisah. Aku mencium dahi Neo, mencoba meredakan gundah.
"Yang'e wudu dulu, terus salat isya," kataku kepada Heni.
Aku menidurkan Neo di kamar. Malam ini ia benar-benar tenang, dan membiarkan dada dan punggungnya aku gosok sampai tertidur. Biasanya, Neo selalu menolak jika aku gosok, dan lebih suka memilih tangan ibunya.
Aku salat isya setelah Neo tidur.
Aku tak pernah menangis. Terakhir kali aku menangis adalah saat melihat Neo lahir dua tahun lalu dan saat meminta maaf kepada Bapak tahun lalu. Tapi malam itu aku benar-benar menangis setelah salat.
Aku sebenarnya tak ingin menangis. aku hanya mengucapkan, "Ya Allah, nyuwun adik kula diparingi sehat...Ya Allah, nyuwun adik kula diparingi sehat..."
Berulang kali. Lagi. Lagi. Lagi. Tak ubahnya mantera.
Semakin dalam bibirku mengucapkannya, semakin menangislah aku. Aku terisak. Mungkin cukup keras, sehingga istriku yang berada di ruang tamu masuk kamar dan memelukku. Dia mencium dahiku.
"Sudah, Dik Kiki nggak papa. Dia akan ke Surabaya," katanya.
Aku tak berkata apa-apa. Aku hanya mengulang kalimat yang sama dalam hati.
Aku tidak tahu berapa lama duduk di atas sajadah. Aku bersandar di lemari, dan sedikit tertidur.
Aku mencopot sarung, dan mencoba tidur di kasur. Aku harus istirahat. Tidak ada yang bisa aku lakukan malam ini, kecuali berdoa. Pukul setengah tiga dinihari, aku harus ke stasiun Jember menjemput Arif.
Tapi aku tidak bisa tertidur lelap. Aku tidak bermimpi. Tapi sekian gambar, sekian wajah datang dan pergi dalam benakku. Kiki. Bapak. Ibu. Rara. Kiki. Heni. Pipit. Berseliweran.
Ponselku berbunyi. Aku terbangun dengan kepala sedikit pusing. Heni masih tidur. Neo juga.
"Halo?"
"Aku sudah sampek Rambipuji, Mas," suara Arif menerpa telingaku.
Lima belas menit kemudian, aku melaju di atas sepeda motor, membelah malam. Dingin. Jaketku tak kukancingkan. Benakku masih dipenuhi bayangan macam-macam.
Aku sempat melayangkan pesan pendek ke Ibu sebelum berangkat. "Sudah di IRD, masih diobservasi. Alhamdulillah semua teman-temannya membantu. Belum tahu kamarnya di mana. Nanti kalau pasti kamarnya tak kabari lagi. doain semua lancar. Amin."
Aku bertekad tak menyampaikan kabar soal kondisi Kiki kepada Arif sebelum tiba di rumah. Sepanjang perjalanan kami hanya bicara soal sepakbola, website, dan lain-lain.
Arif terdiam saat aku beritahu kondisi Kiki di rumah. Hening sebentar. "Aku pulang Jumat saja ke Surabaya," dia memutuskan mempercepat jadwal acaranya di Jember.
Pesan pendek dari Ibu masuk ke ponselku. "Sekarang (Ibu) sama Pipit n bapak. (Kiki) masih di IRD. Tapi nanti masuk ROI (Ruang Observasi Intensif). Dia sadar kok. Tapi sesak napas."
Kami menghabiskan sisa malam dengan gelisah.
Aku dan Heni sebenarnya ingin segera ke Surabaya. Aku ingin Heni berada di sana untuk membantu Ibu. Aku yakin Ibu dan Bapak butuh bantuan. Di Surabaya, hanya ada Pipit dan Rifki.
Tapi kondisi Heni tidak memungkinkan. Usia kehamilannya sudah memasuki enam bulan dan kandungannya sempat ada masalah. Plasentanya belum stabil berada di posisi rahim bagian atas. Masih ada kemungkinan plasenta itu berada di rahim bagian bawah dan bisa menutupi jalan keluar bayi di vagina.
Rencananya, pekan ini aku hendak mengantarkan Heni ke Situbondo bersama Neo. Aku akan membiarkan mereka beristirahat di sana.
Rabu pagi, aku menelpon Bapak. Ibu yang menjawab. Ibu menangis. Suaranya tak jelas, di antara isak. Namun aku menangkap, bahwa Kiki memiliki daya juang yang luar biasa. Dia sendiri yang menjelaskan kenapa kondisinya kritis kepada Ibu.
Aku mencoba menjelaskan penyebab Kiki kritis semampuku kepada kalian yang membaca tulisan ini. Trombosit Kiki yang anjlok membuat darahnya tidak tidak mampu mengikat air, dan akibatnya air berlimpah masuk ke lambung dan menerabas paru-parunya. Banyaknya air di lambung ini yang membuat Kiki kesulitan makan.
Air dalam lambung dan paru-paru adikku itu yang harus disedot. Aku membayangkan kengerian Ibu dan Bapak di sana.
Ibu mengatakan, sebenarnya keluarga tidak boleh masuk ruang observasi untuk menjenguk Kiki. Namun kawan-kawan Kiki yang menjadi dokter di RSUD Dr. Soetomo memberikan keringanan. Boleh sesekali Ibu, Bapak, atau Rifki (suami Kiki) masuk, namun tak boleh tinggal lama.
Siang hari, aku menelpon Bapak. Aku mendengar suara alat bantu medis berdetik-detik. "Aku berada di kamar adikmu. Adikmu belum bisa bicara."
Bapak mengatakan, penyedotan cairan belum dilakukan.
Aku matikan ponsel. Aku mengirimkan SMS: "Pak, tolong sampaikan salam sayang dan doaku, Heni, dan Neo untuk Bulik Kiki. Semoga cepat sembuh, Bulik. Insya Allah setelah nganter Heni ke Situbondo Ahad ini, aku ke Surabaya." (*)
Labels: Keluarga, Pengalaman
04 April 2008
Nyai Sadi’ah
Nyai Sadi’ah meninggal dunia di Senin sore, jam setengah tiga, pengujung Maret lalu. Tak ada yang tahu persis usianya. Delapan puluh. Sembilan puluh. Konon, hampir seratus tahun. Panggilan nyai adalah panggilan hormat dalam kultur Madura bagi orang yang dituakan.
Hidup Nyai Sadi’ah berwarna. Sejarah hidupnya adalah sejarah orang tertindas. Heni Agustini, istriku dan cucu Nyai Sadi’ah, bercerita soal ini kepadaku. Nyai Sadi’ah pernah dirampas haknya atas tanah waris oleh kerabatnya sendiri. Ia ditipu. Tak berdaya. Tak bisa melawan.
Namun, Nyai Sadi’ah tidak mau menyerah. Ia berjanji tidak akan meninggal sebelum melihat semua musuhnya mati lebih dulu. Ia menyimpan sakit hati itu.
Ia memenuhi janjinya. Semua orang yang pernah melukainya mati satu per satu. Alamiah memang. Namun Nyai Sadi’ah punya waktu untuk melihat bahwa apa yang dirampas darinya tidak membawa sejahtera bagi sang perampas.
Terakhir, ada satu kerabat yang melukainya sempat meminta maaf kepada Nyai Sadi’ah. Saya tidak tahu apakah Nyai Sadi’ah memaafkan. Kerabat yang bersalah itu meninggal. Seorang anak generasi yang lebih muda tidak mau memanfaatkan tanah yang dirampas dari Sadi’ah. Ia tahu tanah itu dikuasai keluarganya melalui sekian tipu culas.
Nyai Sadi’ah punya lima anak. Namun ia memilih lebih banyak tinggal di rumah Sadi, putri bungsunya di Situbondo, sebuah kabupaten yang tak jauh dari Jember. Ia hidup bersama dua cucunya, Heni Agustini dan Dewi Agustini.
Suatu kali Heni pernah berkata kepada Nyai Sadi’ah: “Nyi, jangan keburu meninggal dulu. Tunggu aku menikah.”
Nyai Sadi’ah tak menjawab. Namun, ia memang tidak meninggal dulu, dan melihat Heni menikah denganku, medio 2003.
Aku senang melihat Nyai Sadi’ah. Ia mengingatkanku dengan Eyang Putri, nenekku yang sudah meninggal. Gigi Nyai Sadi’ah sudah meranggas. Saat tersenyum, ia memamerkan kempot pipi. Aku selalu senang dengan senyum yang selalu menyambut kedatanganku ke Situbondo. Tulus.
Dewi menjadi cucu kesayangan Nyai Sadi’ah. Nyai Sadi’ah seperti seorang advokat saat Dewi dimarahi ibu dan bapak. “Anak masih kecil kok dimarahi,” katanya.
Sejak lebaran, aku tak pernah bertemu Nyai Sadi’ah. Ia kini lebih banyak tinggal di desa Silo, di rumah salah satu anaknya. Istriku bersama anakku, Neo, ke sana satu atau dua kali. Nyai Sadi’ah sakit. Matanya berkatarak. Namun sebelum matanya rabun betul, ia masih sempat melihat Neo, dan tersenyum.
Heni bahagia melihat Nyai Sadi’ah bisa bertemu Neo. Ia percaya, hari tua Nyai Sadi’ah lebih bahagia karena bisa bertemu dengan cucu dan cicitnya.
Kami biasanya membawakan Nyai Sadi’ah buah anggur saat menjenguk ke Silo. Tradisi itu tetap kami jaga, hingga suatu hari ia dalam kondisi kritis. Napasnya kembang kempis. Orang-orang sudah membacakan ayat-ayat suci Al quran, mengelilinginya. Lalu kondisinya lebih membaik.
“Nyai mendingan, setelah diberi minum dari orang-orang yang ngaji,” kata Heni.
Namun nyawa pada tubuh manusia punya perilaku tak ubahnya baterai yang hendak kehabisan energi. Sebuah baterai ketika hendak kehabisan energi biasanya justru menunjukkan energi yang bisa membuat kita mengira baterai itu belum habis. Saat dipasang di radio, nyala radio sesaat lebih kuat daripada sebelumnya Tapi setelah itu sunyi. Energi baterai habis. Radio itu mati.
Nyai Sadi’ah meninggal. Aku dan Heni bergegas ke Silo Senin sore itu juga dengan taksi. Saat kami tiba, jasadnya tengah dimandikan. Aku tidak melihat tangis. Anak-anak kecil, cicit-cicitnya, bermain-main.
Neo mulanya agak rewel. Namun beberapa saat kemudian, ia sudah bisa beradaptasi dan bermain dengan sepupu-sepupunya. Ia berlari ke sana kemari. Mengejar ayam-ayam yang kebingungan menjelang senja. Menjerit-jerit.
Prosesi pemakaman dilaksanakan sebelum isya. Aku tidak bisa menghitung berapa orang yang mengantarkan jenasah Nyai Sadi’ah. Tapi lumayan banyak juga. Kami berjalan sekitar 200 – 300 meter, melewati jalan desa yang belum diaspal. Hujan baru turun, lumpur di sana-sini. Mulut kami membacakan doa.
Lubang kubur Nyai Sadi’ah berada di naungan pepohonan, terutama bambu. Saat jasadnya yang terbungkus kafan diturunkan ke dalam lubang itu, aku mendengar isak tangis. Ada kerabatku yang menangis. Tapi Dewi mengisak paling keras, walau tak intens.
Aku beberapa kali mengikuti acara pemakaman. Pemakaman memang selalu mengharukan. Ada getar, bahwa kelak kita semua mati juga. Tapi bagi kerabat, getar yang sesungguhnya adalah kenangan. Kita menangis karena mengenang yang mati, bukan karena takut terhadap mati.
Butuh kurang lebih 25 menit, hingga semua prosesi pemakaman usai. Prosesi ditutup dengan doa, setelah semua pengantar jenasah mengamini bahwa Nyai Sadi’ah adalah orang baik.
Dalam tradisi masyarakat, doa dan tahlil akan dilakukan selama tujuh hari berturut-turut. Heni meminta izin untuk mengambil sejumlah uang di tabungan, untuk membantu pelaksanaan tahlil.
“Yang datang biasanya banyak, Say. Kalau yang datang jauh-jauh, biasanya diberi jajanan, makannya lauk daging (sapi),” kata Heni.
Aku setuju.
Aku membayangkan, berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk menggelar doa dan tahlil. Bagi keluargaku yang dikaruniai rezeki berkecukupan oleh Tuhan, mungkin beban tak terlalu berat. Namun bagi kerabatku di Silo, aku tak bisa membayangkan. Mereka bukan orang yang mampu. Ada beberapa di antara mereka secara ekonomi lebih mampu dari yang lain. Namun itu bukan berarti masuk kategori sangat mampu.
Lalu aku teringat Suherman Rosyidi, pamanku. Orang yang tak begitu mengenalnya pasti mencapnya fundamentalis. Aku pernah mendapat cerita, ia pernah menolak dengan terang-terangan makanan dari keluarga yang berduka. Aku tak tahu persis alasannya. Namun, aku menduga, ia tak mau membebani keluarga yang tengah berduka. (*)