Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

15 June 2011

Contekonomics

Bapak-bapak, Ibu-ibu...Pertama, saya akan mengawali tulisan ini dengan sebuah pengakuan yang menyakitkan: saya juga pernah mencontek semasa sekolah. Sependek ingatan saya, saya baru memberanikan diri untuk mencontek saat duduk di bangku sekolah menengah atas.

Saya tidak pernah membaca survei seberapa banyak orang mencontek semasa sekolah. Kendati demikian, saya optimis (untuk menutupi rasa malu saya): hampir semua orang yang bersekolah pasti pernah mencontek.

Namun berpengalaman dalam urusan contek-mencontek tidak membebaskan saya dari keterkejutan terhadap apa yang terjadi di Sekolah Dasar Negeri Gadel 2 Surabaya. Seorang siswa mengaku guru mereka yang mengatur upaya contekisasi masal di antara siswa sendiri saat ujian nasional. Tentu saja, ini agar semua siswa bisa lulus dengan angka lumayan.

Lalu yang tersisa adalah kehebohan. Dari ruang kelas, persoalan ini menggedor jantung pembuat kebijakan: parlemen dan pemerintahan. Pengamat menuding: ini kesalahan sistim ujian nasional. Sosiolog asal Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, memandang masyarakat adalah korban ketakutan yang berlebihan terhadap Unas.

Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh, tentu saja membantah. "Jangan sampai ada satu kasus, tapi digeneralisir semuanya salah, seakan-akan ini salah sistemnya. Bisa saja kesalahan itu berangkat dari kesalahan personal semata."

Bapak-bapak dan Ibu-ibu... Saya tak seberapa tertarik ikut berbantah-bantah dengan Pak Nur dan Pak Bagong Suyanto. Saya lebih tertarik memandang urusan contekisasi ini dari betapa ambigunya kita memaknai apa yang disebut sebagai keadilan distributif, individualisme, dan kolektivisme. Kalau sudah begini, persoalan pendidikan bukan semata persoalan pendidikan, tapi juga urusan ekonomi.

Masyarakat kita meyakini kehidupan dalam berbangsa dan bernegara sudah semestinyalah ada keadilan. Tak ada yang bisa menakar rasa keadilan ini, tentu saja. Seseorang yang sangat kaya, hidup di tengah masyarakat miskin bisa menyentil rasa keadilan. Sebuah negara dengan perputaran uang deras namun dipegang segelintir orang, tentu saja rentan dianggap tak adil.

Sekian lama, keadilan adalah 'hantu' dalam masyarakat. Ia bergentayangan, dan pelan-pelan menjadi keyakinan, bahwa keadilan yang merata hanya muncul dalam kolektivitas, bukan persaingan antarindividu. Dalam keyakinan ini, seseorang seharusnya bergotong-royong, saling membantu, dengan demikian kehidupan menjadi lebih adil dan merata.

Negara pun melakukan pembangunan dengan didasarkan bukan saja pada pertumbuhan, tapi pemerataan. Pemerataan ada dalam semangat kolektivisme, dan menjanjikan keadilan. Pemerintah dianggap berhasil, jika pemerataan itu terjadi: sebuah negara kesejahteraan di muka bumi.

Kuncinya adalah subsidi dan insentif. Dalam semangat pemerataan berkeadilan, pemerintah menggunakan uang negara (sebagian dari hasil pajak) untuk menyubsidi dan memberikan bantuan langsung tunai kepada rakyat miskin. Warga miskin digratiskan untuk berobat di rumah sakit milik negara. Orang-orang yang tak punya pekerjaan di desa dikirim bertransmigrasi. Terlepas apakah mereka miskin karena dimiskinkan secara struktural atau karena malas (saya belum pernah dengar penelitian soal kategorisasi ini).

Di dunia pendidikan, pemerintah mengucurkan bantuan operasional sekolah (BOS) untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Uang bulanan biaya sekolah dihapuskan. "Sekolah gratis," demikian kampanye dalam pemilihan umum dua tahun silam.

(Iklan politik di televisi menayangkan seorang anak miskin sedang mendengarkan radio, dan tahu ada program pemerintah yang memungkinkannya bersekolah. Iklan diakhiri dengan senyum lebar si anak dan orang tuanya, karena si anak bisa bersekolah.)

Bapak Guru Oemar Bakrie, pegawai negeri yang naik sepeda kumbang dari jaman Jepang, tinggal nyanyian nostalgia Iwan Fals. Para guru, baik yang berstatus pegawai negeri dan swasta, mendapat tunjangan profesi pendidikan. Nominalnya bisa melebihi para pegawai negeri rata-rata. Dan, para guru mendadak menjadi 'pemburu sertifikat': mengikuti berbagai seminar dan berharap memperoleh sertifikat sebanyak-banyaknya untuk memenuhi persyaratan mendapat tunjangan tersebut.

Seorang pejabat pendidikan berkata: ini upaya pemerintah untuk menghargai jasa para guru. (Syukurlah guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa.)

Dalam semangat kolektivisme juga, guru-guru yang belum tersertifikasi beramai-ramai protes ke gedung parlemen. Mereka menuntut keadilan. Mereka juga ingin tunjangan yang setara satu kali gaji dari kocek negara.

Singkat kata, insentif dan subsidi diberikan pemerintah dalam semangat keadilan distributif dan kolektivisme, dengan menggunakan uang negara (sebagian dari hasil pajak). Sebanyak 20 persen pengeluaran anggaran pendapatan dan belanja negara diharuskan untuk sektor pendidikan.

Sempurna tampaknya. Tapi ini Indonesia, sebuah negara yang konsisten dalam ketidakkonsistenan. Semangat kolektivisme dan berkeadilan hanya untuk penggunaan uang negara sebagai insentif dan subsidi. Namun seiring dengan perbaikan kondisi guru, semakin mahal juga biaya pendidikan yang ditanggung masyarakat.
Sekolah negeri didefinisikan sebagai sekolah yang dibangun dan dibiayai oleh negara.

Jika konsisten dengan semangat kolektivisme dan berkeadilan, insentif dan subsidi negara membuat ongkos bersekolah di sana murah. Namun hari ini, untuk masuk ke sebuah sekolah negeri yang lumayan bermutu, ibarat masuk tempat pelelangan. Kursi di sana sedikit banyak tergantung dari berapa juta perak uang yang bisa disumbangkan untuk 'pembangunan dan pengembangan sekolah'.

(Pemerintah memeratakan perekonomian untuk pembangunan semangat kolektivisme berkeadilan. Namun di sekolah 'pembangunan' dijadikan dasar untuk individualisme: persaingan ekonomi pasar terbuka antar orang tua siswa.)

Saya belum pernah melakukan survei. Namun dengan semakin tingginya ongkos 'pembangunan dan pengembangan sekolah' yang dibayarkan sebelum siswa resmi diterima, maka logikanya, sekolah negeri bermutu akan diisi anak-anak dari keluarga berstrata sosial menengah ke atas yang mendapa asupan gizi cukup. Sebagian besar anak-anak ini tidakdibesarkan oleh orang tua yang kerepotan memilah antara kebutuhan sehari-hari dengan peralatan belajar. Sekolah negeri yang lumayan bermutu menjadi bagian dari gengsi keluarga, apalagi jika si anak bisa menduduki rangking atas di kelas.

Anak-anak dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu bersaing dalam 'pelelangan', terpaksa minggir. Mereka memilih sekolah negeri yang mutunya di bawah (acap disebut sekolah pinggiran), yang membutuhkan biaya lebih murah. Status favorit tidaknya sekolah bukan bagian dari gengsi keluarga, karena sekolah hanya bagian dari pemenuhan kebutuhan pendidikan.

Perbedaan latar belakang status sosial siswa berpengaruh terhadap kualitas lulusan. Tak heran, jika dari rerata nilai kelulusan, sekolah-sekolah pinggiran tak akan pernah mendobrak dominasi sekolah-sekolah negeri bermutu yang didominasi anak-anak berstrata sosial ekonomi lebih baik. Jika beruntung, sekali-kali ada satu dua orang siswa dari sekolah pinggiran bisa mencapai nilai tertinggi. Namun itu pun jarang.

Di tengah kesenjangan ini, pemerintah pusat menerapkan standar kelulusan ujian nasional yang 'menakutkan'. Hasil ujian nasional sejak beberapa tahun silam menghasilkan angka ketidaklulusan yang tinggi. Tahun ini pemerintah melonggarkan standar itu, namun sekolah-sekolah dengan angka ketidaklulusan memprihatinkan masih ditemui.

Ujian nasional membuat kepentingan sekolah, kepentingan orang tua siswa, dan kesalahkaprahan dalam memandang kolektivisme dan keadilan bertemu dalam satu cawan. Sekolah bermutu berkepentingan mempertahankan predikat favorit, sementara sekolah pinggiran berkepentingan untuk meluluskan siswanya seratus persen. Para guru tak ingin kredit karir mereka tercoreng dengan ketidaklulusan siswa.

Orang tua siswa berkepentingan anak-anak mereka lulus dengan nilai baik. Pandangan pragmatis orang tua, baik di sekolah negeri favorit dan sekolah pinggiran, sukses di sekolah bagian dari sukses untuk memperoleh pekerjaan. Apalagi mereka sudah mengeluarkan uang cukup besar untuk biaya sekolah. Pada akhirnya, sekolah tak sekadar tempat pendidikan nilai-nilai kemanusiaan, tapi tempat awal menanamkan prinsip-prinsip kapitalisme dalam kehidupan nyata kelak.

Benturan terjadi. Pemerintah mengharapkan 'kompetisi bebas individu' siswa dalam ujian nasional untuk mengukur kualitas capaian pendidikan. Ada harapan 'persaingan sempurna' di antara para siswa, di mana mereka hanya mengandalkan kemampuan masing-masing. Ujung-ujungnya, seperti teori Darwin: hanya yang bisa menyesuaikan diri dengan standar kelulusan yang berhasil. Ujian nasional, mengutip filsuf Nietzsche, seharusnya menciptakan ubermensch atau manusia super.

Namun, tidak ada 'persaingan sempurna' di dunia ini. Selalu ada 'tangan tak tampak' (invisible hand) yang ikut campur. Dalam konteks ini adalah kepentingan orang tua siswa, sekolah, dan guru yang bersatu dalam semangat 'kolektivisme, gotong royong, dan pemerataan'.

Saat saya mencontek di masa sekolah sebagai aktivitas pribadi, saya harus melakukannya dengan takut-takut. Ketakutan agar tak ketahuan guru ini menunjukkan bahwa masih ada nilai yang dipegang: mencontek adalah perbuatan yang salah. Ia memunculkan rasa malu jika diketahui pihak yang berwenang. Guru adalah 'polisi dan otoritas moral', parameter dan panduan, bagi siswa-siswanya. Tidak ada 'invinsible hand'.

Namun apa yang terjadi di SDN Gadel 2 Surabaya menunjukkan adanya 'invisible hand' yang tak pernah saya temui di masa sekolah: guru memberikan 'subsidi' dan 'insentif' kepada siswa-siswa yang agak tertinggal di bidang pelajaran untuk mencontek siswa yang lebih pandai. Sesaat kita lupa, bahwa nilai-nilai pendidikan terabaikan oleh nilai ujian. Nilai-nilai pendidikan yang terdesak jauh itu antara lain kemandirian, kepercayaan pada diri sendiri, dan kejujuran.

Kecurangan model begini sebenarnya bukan fenomena khas Indonesia. Di Amerika Serikat, seorang siswa kelas 5 SD di Oakland dengan lugunya bercerita kepada ibunya bahwa sang guru dengan baik hati menuliskan kunci jawaban ujian nasional di papan tulis. Ada juga modus yang licin: mengisikan lembar jawaban siswa yang masih kosong tersisa.

Saya teringat salah satu cerita yang ditulis ekonom Ken Schoolland tentang petualangan Jonathan Gullible. Dalam cerita itu, Gullible mampir ke sebuah pulau yang aneh. Di pulau itu, anak-anak diajarkan untuk menjadi yang terbaik dan berprestasi di atas rata-rata. Namun sekolah memutuskan memakai sistim insentif nilai untuk mengajari para siswa itu tentang kebajikan.

Nilai ujian diberikan bukan berdasar prestasi, tapi kebutuhan. "Murid terburuk akan mendapat nilai A dan murid terbaik akan mendapat nilai F. Menurut mereka (sekolah), murid terburuk lebih membutuhkan nilai baik dari murid terbaik," kata seorang perempuan kepada Gullible dalam cerita itu.

"Ini merupakan tindakan kemanusiaan yang berani. Murid-murid terbaik akan belajar tentang kebajikan dan pengorbanan manusia, dan murid-murid terburuk akan diajari kebajikan sikap tegas."

Alamak.[wir]

Baca Selengkapnya..

17 May 2011

Oh Nasib... TV pun Dirantai di Universitas Jember


Krisis kepercayaan, etika, dan moral melanda hingga kampus Universitas Jember. Perangkat televisi pun terpaksa dikerangkeng dan dirantai di ruang kelas.

Krisis moral dan etika ini menjadi bahasan Dekan Fakultas Sastra Universitas Jember Syamsul Anam, saat bertemu dengan wartawan, di di sela-sela acara Pekan Chairil Anwar 2011, di aula FS Unej, Selasa (17/5/2011).

Syamsul dengan blak-blakan mengecam etika dan moral masyarakat Indonesia, termasuk di kampus. Saat ini rasa kepercayaan antara sesama rakyat Indonesia sudah menipis. Yang muncul adalah kecurigaan dan rasa waswas, karena sudah tidak tahu lagi mana yang bisa dipercaya.

"Ini televisi sampai harus dibeginikan, sudah begitu digembok dan masih dilas gemboknya. Sebenarnya ya kurang bagus. Tapi kalau tidak dibeginikan, besok ya hilang," kata Syamsul, menunjuk satu set televisi di depan ruang kelas aula.

Bukan hanya televisi yang dikerangkeng. Pintu ruang kelas pun dikerangkeng. Berbeda dengan tahun 1990-an, saat ini pintu ruang kelas selain dikunci juga masih harus dirangkap dengan pintu jeruji yang tergembok.

Ini kenyataan pahit. "Di kampus, etika sudah tidak ada. Mahasiswa malah lebih menghormati tukang pentol cilok daripada dosennya," kata Syamsul.

Syamsul bercerita bagaimana seorang mahasiswa melayangkan SMS kepada dosen pada malam hari, saat sang dosen sedang beristirahat. Mahasiswa itu hanya ingin menanyakan apakah keesokan harinya ada ujian.

Syamsul bertanya-tanya, apakah ini karena tidak adanya lagi pelajaran budi pekerti. "Dulu ada pendidikan kesejahteraan keluarga. Anak itu diajarkan unggah-ungguh, tata krama, jam berapa berkunjung ke rumah orang. Sekarang sudah tidak ada, ditambah lagi dengan tayangan televisi yang mem-blow up peristiwa (negatif) yang mjudah ditiru," katanya.

Etos belajar mahasiswa juga lemah. Fakultas Sastra memasang zona hotspot gratis agar mahasiswa mudah mengakses internet, dan mengunduh bahan-bahan kuliah gratis. Tapi ternyata akses internet hanya digunakan untuk bermain Facebook dan chatting.

M. Ikhwan, salah satu dosen Fakultas Sastra, mengatakan, bangsa Indonesia tidak siap menghadapi pengaruh televisi dan internet. "Kita tak punya desain konsep budaya dan konsep politik yang jelas. Sehingga setiap elemen yang punya kepentingan, bisa mengail di air keruh. Kita tak bisa mengalahkan kapitalisme dan globalisasi. Tapi kita bisa menyiasatinya," katanya. [wir]

Baca Selengkapnya..

TV Swasta Lebih Baik Tak Gratis

Tayangan televisi menyumbangkan persoalan moral yang kompleks terhadap bangsa ini. Perlu dipikirkan, sebaiknya siaran televisi swasta tidak digratiskan.

Pemikiran ini disampaikan Dekan Fakultas Sastra Universitas Jember Syamsul Anam dan Dekan Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Alexandri Luthfi R., di sela-sela acara Pekan Chairil Anwar 2011, di aula FS Unej, Selasa (17/5/2011).

"Kita lihat, perkembangan pertelevisian di luar negeri (diawasi) sangat ketat, ketika membagi mana televisi publik dan mana televisi komersial," kata Lutfhi.

Stasiun televisi komersial memberikan tayangan tidak gratis. Orang harus berlangganan agar bisa mengakses. Ini berbeda dengan stasiun televisi publik yang biasanya dimiliki negara, seperti TVRI.

Mereka yang benar-benar membutuhkan hiburan alternatif dari stasiun televisi sawasta adalah orang yang secara sosial ekonomi mampu. Sementara, warga lainnya yang tidak mampu atau tidak mau membeli tayangan swasta, cukup mengakses informasi dari stasiun televisi milik pemerintah.

Ini memang terkesan membatasi. Namun, menurut Luthfi, pembatasan memang diperlukan. Saat ini, tayangan stasiun televisi swasta begitu mudah masuk ke rumah tangga. Berbagai model tayangan program atau iklan komersial membombardir anak-anak hingga orang dewasa dan menimbulkan dampak psikologi yang tak sepenuhnya positif. Apalagi, stasiun televisi cenderung lebih suka menayangkan tayangan berbau sensasional.

Syamsul mencontohkan tayangan bunuh diri dengan cara melompat dari menara. "Di-blow up sedemikian rupa oleh televisi. Bahkan momen-momen mau loncatnya itu diabadikan. Ini akhirnya gampang ditiru dan jadi tren," katanya.

Namun agak sulit berharap dari pengelola stasiun televisi agar mau menyadari dampak negatif itu. Luthfi mengeluhkan minimnya sumber daya manusia pertelevisian yang berlatar belakang akademis dunia televisi. Rata-rata tenaga produser adalah alumnus dari fakultas dengan bidang ilmu yang tak sama dengan yang mereka geluti di dunia televisi. Ini juga memengaruhi idealisme dalam menayangkan program televisi. [wir]

Baca Selengkapnya..

02 May 2011

Aktivis HMI Semprotkan Parfum di Ruang DPRD

Perwakilan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam menuntut kepada DPRD Jember untuk memperjuangkan nasib buruh dan rakyat. Saat bertemu anggota Dewan, mereka menyemprotkan parfum di ruangan gedung parlemen, Senin (2/5/2011).

Para aktivis HMI melakukan aksi unjuk rasa memperingati Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional. Mereka memandang masih banyak ketidakadilan di bidang perburuhan dan pendidikan.

Bertemu dengan Ketua Komisi D Ayub Junaidi dan Ketua Fraksi PDI Perjuangan Indonesia Raya Bukri di ruang Komisi B, perwakilan HMI meminta ijin untuk menyemprotkan parfum. "Teman-teman, mari berdiri dulu untuk menyemprotkan minyak wangi, karena DPRD sudah tak wangi lagi," kata Ulil, salah satu aktivis.

Ulil menyatakan, HMI mendesak penghapusan komersialisasi pendidikan, penghapusan kapitalisasi pendidikan, adanya hukuman bagi birokrat-birokrat pembelok pendidikan, dan pemberian keterjaminan pendidikan kepada masyarakat kurang mampu.

"Pendidikan di Kabupaten Jember dinyatakan bebas tuna aksara dan mendapat penghargaan nasional. Tapi ternyata yang buta huruf masih banyak," kata Rahman, salah satu aktivis HMI.

Terkait buruh, HMI menuntut DPRD untuk merekomendasikan tindakan tegas kepada perusahaan-perusahaan yang melanggar aturan ketenagakerjaan. Ulil mencontohkan Perusahaan Daerah Perkebunan yang kerap diberitakan tidak membayar buruh sesuai upah minimum kabupaten.

"Ini preseden buruk. Masa perusahaan daerah tidak bisa memberi contoh kepada perusahaan swasta," kata Ulil. HMI juga menuntut agar perusahaan-perusahaan di Jember mau memberikan jaminan sosial kepada para buruh.

Ayub Junaidi menyatakan siap memperjuangkan aspirasi para aktivis HMI. "Kami juga menolak kapitalisme dalam pendidikan. Saya juga setuju jika PDP memberikan contoh kepada perusahaan swasta lainnya. Dalam waktu dekat kami akan panggil PDP," katanya. [wir]

Baca Selengkapnya..

06 April 2011

Rupanya Mahasiswa Lebih Ganas daripada Rayap

Mahasiswa adalah musuh terbesar bagi buku. Saya memperoleh kata-kata ini dari seorang pustakawan yang bekerja selama hampir 30 tahun di perpustakaan Universitas Jember: Tri Lestari Megaminingsih.

Saya rasa, kata 'musuh' layak digarisbawahi. 'Musuh' itu menghancurkan, memperlakukan 'mereka yang berseberangan' dengan rasa merendahkan. Mahasiswa yang menjadi musuh buku: mereka merobek lembar-lembar halaman buku, jurnal, mencoret-coretnya dengan spidol. Ada yang memilih untuk mencuri buku-buku, dan menjualnya ke pasar loak, atau mahasiswa lain yang memesan.

Mereka mencuri buku dan menjual buku anatomi seharga Rp 600 ribu dengan banderol hanya Rp 200 ribu. "Untuk beli makan dan rokok," kata salah satu pegawai perpustakaan. Mereka merobek satu atau dua lembar halaman buku, mungkin karena malas untuk menyalin dengan mesin fotokopi.

Mahasiswa bisa lebih ganas daripada rayap, rupanya. Rayap menggerogoti buku yang telah berbau apak, tanpa bisa membedakannya dengan makanan yang lain. Rayap tidak menjual buku untuk menghisap sebatang rokok.

Saya tidak tahu, apakah ada keterkaitan antara kegagalan dalam studi dengan kebencian terhadap buku. Tapi, Bu Tri mengatakan, mereka yang mencuri buku adalah mahasiswa yang terancam drop out dari kampus. Jujur saja, saya agak ragu mahasiswa menjadi lebih ganas daripada rayap karena indeks prestasi kumulatif mereka jeblok.

Oknum pegawai di instansi pendidikan milik negara, yang bersekongkol untuk mengurangi jatah pengadaan buku bagi siswa sekolah, jelas orang-orang terpelajar. Namun mereka jelas melebihi rayap, karena rayap memakan buku tanpa menganggap pengadaan buku sebagai proyek belaka. Atau jangan-jangan saat kuliah, mereka pernah mencuri buku di perpustakaan? Ah, saya terlalu mengada-ada.

Asosiasi pedagang buku antik Amerika menyebut ada lima tipe maling buku: kleptomania yang tak tahan ingin mencuri, maling yang mencuri demi memperoleh keuntungan, pencuri yang mencuri karena marah, pencuri biasa, dan maling yang mencuri untuk digunakan sendiri.

Mencuri adalah mencuri, dan itu sebuah kejahatan. Namun mahasiswa yang merusak buku karena malas memfotokopi, atau mencurinya untuk modal beli rokok, atau birokrat yang mengorupsi uang pengadaan buku, tentu bukanlah sosok dengan motivasi seperti John Gilkey.

Gilkey adalah lulusan perguruan tinggi UC Santa Cruz, Amerika Serikat. Usianya sekitar 30 tahunan, saat menjelajah sejumlah perpustakaan dan pameran buku untuk mencuri. Dan, ia memilih buku-buku langka dengan harga mahal sebagai sasaran.

Gilkey sejak kecil menyukai buku. Ia mengoleksi komik Richie Rich, kisah bangsawan kecil kaya-raya itu. Richie memiliki segalanya. Namun, Gilkey dengan ayah seorang manajer transportasi dan ibu yang tak bekerja yang harus menghidupi delapan anak, tentu tak punya cukup duit untuk memuaskan dahaganya terhadap buku.

Dan, ini yang disebut Gilkey tak adil. Ia tak mau menggunakan uangnya untuk membeli buku-buku langka berharga ribuan dollar. "Saya punya gelar bidang ekonomi. Semakin banyak buku yang saya peroleh secara gratis, kalau perlu menjualnya, saya bisa dapat keuntungan seratus persen."

"Aku senang dengan perasaan bisa memegang buku seharga lima atau sepuliuh ribu dollar. Dan aku menyukai kekaguman yang akan kuperoleh dari orang lain." Jurnalis Allison Hoover Bartlett menuliskan kisah Gilkey ini dalam buku The Man Who Loved Books Too Much.

Gilkey tak sendiri. Seorang agen buku bernama Rosenbach menyatakan: ada orang-orang rela mempertaruhkan nasib mereka sendiri, berbohong, mencuri, demi mendapatkan sebuah buku. Namun mereka tak akan merusak buku. "Semua pencuri buku adalah pembohong sejati," kata Ken Sanders, seorang bibliodick alias detektif buku.

Di perpustakaan Universitas Jember, sejumlah lorong di gedung perpustakaan ditutup, agar akses masuk menuju ruang koleksi terbatas dan terpantau. Saya sempat mendapati sebuah anak tangga yang diselimuti debu dan sarang laba-laba, karena sudah tak dilewati.

Sejauh ini, perpustakaan Unej melaporkan, angka pencurian minim. Namun agaknya perlu juga di dinding perpustakaan di mana pun, atau di ruang-ruang rapat tender proyek buku di instansi negara, dipampang besar-besar teks kutukan sebuah manuskrip dari biara San Pedro di Barcelona. Teks kutukan ini cukup ampuh digunakan oleh kawan saya untuk 'mengancam' para peminjam agar segera mengembalikan bukunya.

"Barang siapa yang mencuri buku ini dari pemiliknya, atau meminjam dan tidak mengembalikannya... semoga dia menderita kelumpuhan, dan seluruh anggota badannya hancur... Semoga cacing menggerogoti isi perutnya, dan ketika akhirnya dia menerima hukumannya yang terakhir, semoga api neraka membakar untuk selama-lamanya..."

Terlalu berlebihan untuk sebuah buku? Ya? Tidak? [wir]

Baca Selengkapnya..

26 February 2011

Sorry, I Have to Finish This

Delapan mahasiswa itu dari berbagai negara. Berkumpul di sebuah beranda rumah di Jalan Mawar, Sabtu (26/2/2011), dan sama-sama memegang canting: membatik.

Berasal dari Laos, Estonia, Polandia, Prancis, dan Thailand, mereka bagian dari pertukaran pelajar di Universitas Jember. Mereka selama beberapa lama tinggal di Jember dan mempelajari bahasa dan budaya lokal.

Saat tiba di Rumah Batik Rolla, tempat mereka belajar membatik, saya menemui delapan orang yang serius bekerja. Sebagian besar perempuan. Mahasiswi kulit putih tampak berkeringat. Jember hari Sabtu siang tak terlampau panas. Mendung, namun gerah untuk ukuran orang Eropa.

Dibandingkan saya yang pernah ikut sekali memegang canting semasa SMA, hasil karya para mahasiswa asing ini memang jauh lebih bagus. Mereka tekun sekali menggerakkan canting mengikuti motif di atas kain.

Saking seriusnya, seorang mahasiswi berkulit putih menampik untuk diwawancarai wartawan televisi. "No, I have no time. I have to finish this," kata mahasiswi berwajah jelita itu.

"Just two minutes," kata saya. Ia masih menggeleng.

Tri Endah Dananingsih, pembina batik di Rumah Batik Rolla, meminta kepada Siti Fatimah, mahasiswi asal Thailand, untuk menggunakan perasaannya.

Siti Fatimah, mahasiswi asal Thailand, menyatakan senang bisa belajar membatik. "Di Thailand ada juga, Tetapi tidak sama-sama Indonesia," katanya, dengan bahasa Indonesia yang agak kaku.

Fatimah belum pernah mencoba untuk membatik di Thailand. Persentuhannya dengan kerajinan batik baru dilakukan pertama kali di Indonesia. "Pertama kali senang dan takut sedikit kalau membuat. Lama-lama tidak takut dan senang," katanya.

"Pertama sulit dan tangan kaku. Kalau berlama-lama tidak kaku lagi, tidak takut," kata Fatimah.

Tri Endah memuji hasil karya para mahasiswa asing ini. "Sudah bagus. Tinggal pendalaman. Mungkin mereka bisa dilatih seminggu atau dua minggu," katanya.

Mahir membatik membutuhkan waktu tak singkat. Butuh waktu setidaknya dua bulan, dan itu tergantung individu masing-masing. Tri mengingatkan, ini pekerjaan seni dan tidak bisa terburu-buru untuk menguasainya. "Pikiran kalau gelisah bisa mempengaruhi," katanya.

Fatimah berniat serius mempelajari batik. Ia akan belajar batik di Rumah Batik Rolla setiap Jumat dan Sabtu. Tri mengatakan, jika tidak mampu membatik, maka akan diarahkan pada kerja mewarnai atau blok warna. "Kadang ada yang tidak bisa membatik, tapi bisa mewarnai," katanya. [wir]

Baca Selengkapnya..

15 February 2011

'Kontrasmu Bisu' di Kampus Universitas Jember

Selasa siang (15/2/2011). Rumah-rumah itu berdempetan dengan tembok setinggi empat meter. Di balik tembok, ada gedung-gedung tinggi.

Saya tak sedang bicara tentang lagu 'Kontrasmu Bisu' yang dinyanyikan Iwan Fals. Saya bicara tentang kampus Universitas Jember, kampus milik pemerintah dengan 20 ribu mahasiswa.

Perkembangan kampus Universitas Jember boleh dibilang luar biasa dibandingkan 15 tahun lalu, saat saya pertama kali berkuliah di sana. Kini fakultas-fakultas baru dengan bertumbuhan di wilayah Tegalboto, kawasan kampus tersebut. Fakultas Pertanian bukan lagi satu-satunya fakultas bidang eksakta.

Namun, di tengah kemajuan luar biasa, ada 'kontras bisu'. Di tengah area kampus, mudah ditemui perkampungan penduduk dengan mutu rumah yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan mutu bangunan kampus Unej. Mereka warga asli Tegalboto, yang tinggal selama bergenerasi-generasi, jauh sebelum kampus Unej ada. Mereka menyebut diri 'wong kampungan' atau orang kampung.

Beberapa di antaranya membuka warung di dalam area kampus. Rumah mereka juga dijadikan tempat kos mahasiswa dengan harga lebih miring.

Pak Wakik, seorang warga kampung yang berada di area kampus, menyadari keberadaan perumahan warga setempat di area kampus akan terlihat aneh. Dari dulu sebenarnya ia siap saja pindah, namun tak ada tawaran pembelian yang layak untuk rumah dan tanah keluarganya.

"Unej tidak pernah ke saya langsung. Tapi lewat orang-orang (makelar). Tawarannya hanya Rp 600 ribu per meter persegi. Aduh, di daerah sekitar kampus saja, dekat jalan besar sudah Rp 2 juta per meter persegi," kata Wakik.

Menurut Wakik, banyak warga yang masih belum menjual tanah dan rumahnya dan berada di dalam area kampus. Semuanya menanti tawaran yang bagus. Ia sendiri saat akn pikir-pikir lagi, jika ada tawaran menjual tanah dan rumah.

"Harus rundingan dulu seluruh keluarga. Jangan sampai nanti dijual, tapi uangnya tak cukup untuk membeli tanah dan membangun rumah baru," kata Wakik.

Seperti layaknya warga Madura, Wakik dan keluarga besarnya tinggal di sepetak tanah yang terdiri atas beberapa rumah dan sebuah musola. Tak mudah baginya dan keluarganya untuk membangun tempat tinggal serupa, jika tanah miliknya dijual.

Andang Subaharijanto, Pembantu Rektor III Universitas Jember, mengatakan, semestinya tidak boleh ada rumah warga di dalam kampus. "Berarti kan harus dibeli. Tapi kalau tawar-menawar belum ada, kesepakatan kan belum bisa," katanya, mengaku tidak tahu sejauh mana proses pembelian tanah milik warga.

Ayu Sutarto, guru besar Fakultas Sastra Universitas Jember, menyebut adagium: ombak besar selalu memakan ombak kecil. Dalam perkembangannya, warga lokal Tegalboto di sekitar kampus Unej adalah ombak kecil itu.

Tak mudah meminta kepada 'wong kampunganan' untuk pindah. Sejak lama mereka menganggap rumah dan tanah sebagai pusaka. "Ada orang yang tetap bertahan tak mau menjual tanahnya, apalagi jika belum cocok harga. Ketika harga tanah makin tinggi, kini mereka jadi pemenang," kata Sutarto.

Sutarto menyarankan Unej melakukan pendekatan, tak hanya material tapi juga sentimen primordial. "Hargai mereka. Beli tanahnya dengan harga bagus, lalu jadikan sebagian mereka sebagi karyawan," katanya. [wir]

Baca Selengkapnya..

18 December 2010

Bila Anak Semua Bangsa Bertemu

Saya teringat judul novel Pramoedya Ananta Toer: 'Anak Semua Bangsa', saat menghadiri Seminar On Cross Cultural Understanding di Unit Pelayanan Terpadu Bidang Studi dan Pusat Bahasa Universitas Jember, Sabtu (18/12/2010).

Anak Semua Bangsa. Judul yang indah. Sabtu itu, sejumlah mahasiswa dari berbagai negara yang tengah kuliah di Universitas Jember berbagi cerita tentang negara mereka masing-masing.

Andre dari Timor Leste mengawali acara dengan bercerita tentang negaranya. Ia memakai bahasa Indonesia dengan fasih. Puluhan tahun Timor Leste pernah menjadi bagian dari Indonesia sebelum akhirnya berpisah.

Telinga ini geli juga kadang mendengarkan beberapa mahasiswa dari negara di Asia Tenggara menggunakan bahasa Inggris. Kalau meniru istilah orang Jawa, medoknya kelihatan. Beberapa pelafalan juga tidak jelas. Namun yang patut dipuji: mereka berani mencoba.

T. Sideth dari Kamboja sempat tertatih-tatih membaca luas negaranya dalam bahasa Inggris. Namun, dengan yakin, ia tetap menjelaskan tentang tempat-tempat wisata di negaranya.

Salah satu mahasiswa Kamboja malah ikut mengajak Madamme Elizabeth, pengajar lintas budaya dari Amerika Serikat, menari bersama dengan diiringi musik tradisional negara itu. Elizabeth yang sejak awal antusias menyaksikan paparan tersebut, merespons ajakan itu dengan gembira. Tepuk tangan pun bergema.

Mahasiswa dari Laos sempat mencoba memasukkan beberapa kosakata Bahasa Indonesia, ketika memaparkan profil negaranya. Kamvanth, salah satu mahasiswa, menjelaskan betapa negaranya menjadi jajahan Prancis dan Amerika Serikat. "Tapi rakyat kami berjuang dengan gagah berani," katanya.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan Kamvanth dan perasaan Elizabeth, saat sejarah kelam itu disebutkan. Namun, anak-anak masa depan seharusnya tak terbebani dendam masa lalu. [wir]

Baca Selengkapnya..

07 December 2010

Gara-Gara Limbah Kulit Kopi,
Asmak Ketemu Michael Ballack


Limbah kulit kopi membawa Asmak Afriliana ke Leverkusen, Jerman. Di sana, ia bertemu Michael Ballack, mantan kapten tim nasional Jerman. Sialnya (atau herannya), ia malah tak tahu siapa itu Ballack.

Semua berawal dari perhatian Asmak terhadap limbah kulit kopi di Desa Sidomulyo Kecamatan Silo, tahun 2009. Di sana, kebun kopi milik rakyat di tanah-tanah Perhutani, menghasilkan tumpukan limbah kulit ari kopi. Ide itu muncul: bagaimana jika limbah itu dimanfaatkan sebagai kompos.

Asmak selama ini menekuni kuliah di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Ia tak pernah memelajari cara membuat kompos. Ia patut berterima kasih kepada 'Uncle Google' (sebutan untuk mesin pencari informasi Google), karena bisa memelajari cara pembuatan kompos dari internet.

"Saya memraktekan pembuatannya di rumah kontrakan. Sementara pembuatan pupuk cairnya saya lakukan di laboratorium kampus," kata Asmak. Limbah kulit kopi ini dicampur dengan kotoran ternak kambing. Sementara fermentasi menggunakan urin sapi.

Tahun 2010, Asmak mengembangkan pupuk buatannya dan mengubahnya menjadi model kompos blok atau dibuat berbentuk kotak. Kompos blok ini diujicobakan dengan kerjasama PT Perkebunan Nusantara XII dan Perhutani. Saat ini, di desa tersebut, ada 10 orang yang aktif membuatnya.

Asmak mengajukannya sebagai proposal untuk mengikuti sebuah program sains yang ramah lingkungan yang digelar oleh Bayern, sebuah perusahaan kimia di Jerman. Ia menjadi salah satu dari empat mahasiswa Indonesia yang bergabung dengan mahasiswa lain dari 18 negara. Total ada 60 mahasiswa yang ikut.

Mereka diajak berkeliling melihat pabrik-pabrik Bayern. Dan, di salah satu tempat latihan tim Bayern Leverkusen, mereka bertemu Michael Ballack. Semua terpesona dan senang. Hanya Asmak yang bingung: siapa sih Ballack? Belakangan, ia tersenyum geli, ketika tahu kalau Ballack adalah pemain top.

"Saya tidak suka lihat sepakbola. Apalagi, kalau siaran langsungnya malam hari," kata Asmak, membela diri. Hari ini, ia sudah berstatus alumnus kampus yang membesarkannya. Hari-hari ini pula, ia terus mengembangkan upaya pemberdayaan di bidang pertanian. Dan siapa tahu, mungkin ia kelak mau nonton siaran langsung sepakbola dan tak lagi pangling dengan wajah Ballack. [wir]

Baca Selengkapnya..

28 September 2010

Recehan, Sebuah Filsafat

Dewi Ruci (benar memang namanya Dewi Ruci) datang dengan membawa berbungkus-bungkus uang recehan lima ratus perak. Ia letakkan 39 bungkus plastik es lilin berisi uang receh itu di atas meja teller sebuah bank. "Saya hendak membayar sisa uang sumbangan Poma (persatuan orang tua mahasiswa)," katanya.

Mata si teller bank nan cantik itu menunjukkan kebingungan. Spontan, ia menampik awalnya. Siapa pula yang mau menghitung berkeping-keping uang itu. Dewi mengatakan: total jenderal uang recehan itu berjumlah Rp 780 ribu. Jadi, ada 1.560 keping uang lima ratus perak yang dibawanya.

Ini pilihan yang tak mudah bagi sang teller, tentu saja. Dewi sendiri tampaknya tak mau beringsut. Apapun yang terjadi, uang-uang logam yang dikoleksinya sejak dua tahun silam itu harus diterima oleh bank. "Ini uang juga bukan," katanya kepada saya, dengan nada riang.

Menyerahkan uang-uang recehan itu adalah ide sang ayah. Bersama ayah dan bundanya juga, Dewi membungkus uang-uang logam itu dalam kantung-kantung es lilin. Dewi tak tahu apa yang akan terjadi saat menyerahkan uang itu kepada bank.

Namun Dewi menang. Bank itu akhirnya mau menerima uang-uang receh dari mahasiswi tingkat akhir jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Jember itu. Mbak Teller yang cakep tadi mengambil jalan tengah yang praktis: menghitung jumlah uang yang dibungkus di salah satu plastik es lilin, dan mengalikannya dengan jumlah bungkusan keseluruhan.

Dewi tidak sekali saja membayar sesuatu yang resmi dalam jumlah besar dengan uang recehan. Pernah suatu hari, ia kena tilang karena tak membawa surat ijin mengemudi. Pengadilan mengharuskannya membayar denda Rp 20 ribu, dan ia keluarkan uang-uang receh itu. Urusan denda beres.

"Saya iseng saja," kata Dewi. Tapi keisengan tak selamanya sesuatu yang netral dan bebas nilai. Iseng berarti tak percaya terhadap sesuatu yang selama ini menjadi apa yang lazim. Keisengan, senakal apapun, adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap sesuatu yang mapan, disadari atau tidak.

Keisengan akan memiliki bentuknya, ketika ada seseorang memaknainya. Dewi menolak jika ia membayar uang receh itu karena sakit hati terhadap institusi bank. Dewi adalah salah satu mahasiswa yang pernah terlibat konflik dengan bank dan rektorat karena kasus pembayaran uang kuliah fiktif yang memakan korban banyak mahasiswa.

Namun, Dewi tak menolak jika disebut ingin menguji para pekerja bank yang selama ini lebih banyak berurusan dengan uang kertas. Uang logam lima ratus perak adalah alat pembayaran yang sah, namun selama ini jarang ditemui warga negara yang baik bertransaksi di perbankan dengan uang itu.

Keengganan seorang pegawai bank berurusan dengan uang logam, karena ribet dan tak praktis, seperti menunjukkan, bahwa status uang logam itu sama menyedihkannya dengan status rakyat kecil yang banyak memegang uang jenis ini. Uang logam dan rakyat kecil sama-sama diakui sebagai sesuatu yang absah, namun juga tak mengundang minat karena nominalnya yang kecil. Walau orang acap lupa, uang logam tak pernah dipalsu, sama seperti halnya rakyat kecil yang tak pernah menjalani hidup dengan kepalsuan.

Dewi juga setuju, bahwa apa yang dilakukannya di ruang pengadilan, membayar dengan recehan, adalah bentuk perlawanan terhadap otoritas negara. Negara memungut uang dari rakyatnya melalui sederet denda dan pajak retribusi. Dalam jumlah besar, dan uang kertas. Memberikan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus uang logam menjadi penanda bahwa nominal uang sebesar apapun berasal dari akumulasi recehan-recehan.

Dewi Ruci (memang benar namanya Dewi Ruci) hari itu pulang dari bank dengan wajah cerah. Dan ia mengabarkan kisah itu kepada saya: bahwa masih ada harapan untuk melawan dari sebuah keisengan kecil. [wir]

Baca Selengkapnya..

29 August 2010

Bocah yang Mencintai Matematika dan Komik

Seorang bocah berusia belasan tahun mencintai matematika dan komik sekaligus. Ia mencintai logika, proposisi-proposisi logis, juga fantasi: kelak menjadi juara matematika tingkat dunia.

Bocah itu, Muhammad Adnan Reza. Ia dilahirkan 19 Januari 1997. Seorang anak yang tumbuh setelah Orde Baru tumbang, dan gelombang keterbukaan menggulung Indonesia. Internet. Tayangan-tayangan stasiun televisi swasta yang semakin berjibun. Buku-buku komik impor terjemahan dari Jepang. Dunia pendidikan dengan kurikulum yang memaksa anak tumbuh lebih cepat, mempelajari lebih banyak daripada anak-anak usia yang sama pada generasi sepuluh tahun sebelumnya.

Reza sudah mulai menyukai komik saat berusia empat tahun. Menginjak tahun kelima, ia mengenal matematika sederhana: penjumlahan dan pengurangan. 1+1 = 2, 4-1 = 3, 3+3 = 6. Dan, ia jatuh cinta dengan angka-angka itu, dan kelak tak suka dengan pelajaran apapun yang dihapal.

Dari matematika, Reza belajar tentang nalar yang logis dan runtut. Ia menyukai aljabar, bukan geometri yang dipenuhi rumus. Setiap malam selama dua jam, ia berlatih, mendisplinkan diri dengan angka-angka, bilangan-bilangan.

Ia membayangkan dirinya seorang yang tengah berjuang keras menjadi jawara matematika dunia, kelak. Tidak ada yang lebih memuaskan, selain berhasil menuntaskan soal-soal matematika kompetisi International Wizard Youth Mathematics yang diunduhnya dari internet.

Reza meneruskan tradisi kuno di dunia Matematika. Sejak abad pertengahan, para ahli dan jawara saling tantang saling memecahkan soal yang mereka buat. Steve Olson dalam bukunya, Countdown, menuliskan: "di masa ketika para ahli matematika masih amatir, mereka bisa membangun reputasi dengan memecahkan soal-soal yang tak mampu dijawab orang lain".

Berkebalikan dengan prasangka orang banyak, para ahli matematika ini, bahkan yang remaja, bukanlah tipe orang dengan penampilan tak menarik, serius, dan kening selalu berkerut. Olson menulis, para siswa anggota tim olimpiade dunia matematika dari Amerika Serikat bukanlah stereorip kutu buku.

Paul Zeitz, anggota tim olimpiade matematika AS yang bertanding di Jerman Timur pada tahun 1974, sampai saat ini adalah seorang pemanjat tebing dan pendaki gunung. Ia kini menjadi guru besar matematika di Universitas San Fransisco. "Agar berhasil baik dalam matematika, orang harus teliti sekaligus petualang yang baik," katanya.

Reza bukan Paul Zeitz atau para jagoan matematika dalam buku Olson. Namun, sebagaimana mereka, Reza mengusir stereotip sosok yang serius dalam diri seorang pecandu matematika. Ia tidak memanjat tebing, namun Reza mencintai komik-komik Jepang (manga), sebagaimana layaknya para remaja lain seusianya yang mungkin membenci matematika.

Ia menyukai Detektif Conan. Ini cerita tentang seorang detektif SMA bernama Sinichi Kudo yang mendadak berubah menjadi bocah usia delapan tahun, karena terkena cairan kimia. Bocah berusia delapan tahun ini menyebut dirinya Conan Edogawa, seorang detektif cilik yang bekerja dengan logika deduksi yang runtut.

Ia sangat menyukai Eyeshield 21: komik tentang sebuah tim olahraga American Football. "Saya suka, karena ada cerita taktiknya," katanya. Lagi-lagi soal logika.

Kian hari Reza kian jago, dan hari-hari ini menjadi salah satu andalan sekolahnya, SMP Negeri 2 Jember. Namun, Reza tampak tak peduli dengan kejagoannya itu. Ia tak ingat berapa kali menjadi juara kompetisi matematika sejak sekolah dasar. Yang ia ingat, ia butuh mandi jika hendak mengerjakan soal-soal matematika yang rumit dalam sebuah kompetisi.

Medan, suatu hari di awal Agustus 2010. Entah kenapa mendadak air kamar mandi penginapan Reza macet. Gawat juga, karena pagi itu ia harus mengikuti olimpiade sains nasional. Ini sudah hari kedua lomba. Terpaksalah ia hanya mencuci muka alakadarnya saja.

Di ruang ujian, sebelum mengerjakan soal-soal, Reza menelpon kedua orang tuanya dan seorang guru di sekolah. Ia belum mandi, dan ia berharap doa orang-orang yang dihormati dan disayanginya akan membantunya.

Hanya lima soal yang perlu dikerjakan olehnya. Tapi otaknya serasa berkabut. "Saya tidak bisa berkonsentrasi," katanya. Gara-gara tak mandi, ia pun cukup merasa beruntung dengan raihan medali perunggu, setelah bersaing dengan 98 orang pelajar lainnya dari seluruh Indonesia.

Ada banyak siswa seperti Reza di Indonesia. Tapi yang jelas mereka minoritas. Sementara, para guru dan pejabat di dunia pendidikan di Indonesia suka-suka cepat berbangga hati, bahwa anak-anak seperti Reza adalah wujud keberhasilan sistem pendidikan. Lalu anak-anak seperti itu biasanya mendapat perlakuan lebih khusus dibanding siswa lain yang 'biasa-biasa saja'.

Saya sendiri masuk dalam kelompok orang yang ragu, bahwa Reza adalah bentuk keberhasilan sistem pendidikan. Jangan-jangan Reza memang punya gen dan bakat alam untuk menjadi jenius di bidang matematika. Lagipula, ada berapa banyak sih siswa yang bisa menjadi juara matematika walaupun mandi belasan kali sehari di rumah.

"Di Rumania, ketika orang tahu kau seorang jago matematika, mereka akan berkata, 'aku dulu pintar matematika'. Dan yang bicara begitu adalah para supir taksi. Itulah sebabnya tim-tim (olimpiada matematika) dari Eropa Timur berhasil baik, karena matematika adalah bagian dari budaya mereka," kata Titu Andreescu, Direktur Kompetisi Matematika Amerika Serikat.

Saya tidak sedang ingin berdebat tentang kapan atau bagaimana Matematika bisa menjadi bagian dari budaya kita. Mungkin jika kita sudah bisa memahami bahwa matematika bukanlah sekadar angka, tapi seperti kata Zeitz: matematika adalah kegiatan yang amat sosial, tentang bagaimana kita merenung dan memecahkan persoalan sehari-hari dengan runtut, logis, dan sistematis.

Mungkin, kita membutuhkan anak-anak seperti Reza, yang sampai kapanpun, tetap membawa semangat seorang bocah yang mencintai matematika dan komik. [wir]

Baca Selengkapnya..

30 January 2010

Tentang Persahabatan, Dari Sebuah Persahabatan

Yoviena Kusuma Tamaranny sedang bungah. Tanggal 4 Februari nanti, ia berulang tahun ke-12. Sebuah kado indah tak terlupakan dalam hidupnya: buku novelnya diterbitkan oleh Penerbit Mizan Dar!, sebuah penerbit buku ternama di Bandung.

Buku itu berjudul Beautiful Friendship. Walau berjudul bahasa Inggris, namun ini novel berbahasa Indonesia. Buku ini berkisah tentang persahabatan masa remaja, tentang seorang gadis yang menjengkelkan yang akhirnya bisa bersahabat setelah ditolong oleh seseorang yang tak disukainya.

Yovi saat ini duduk di kelas lima SD Baitul Amien Jember. "Aku tidak tahu kalau bukuku diterbitkan. Aku tahunya dari Facebook. MUlanya tidak percaya ada teman yang memberitahu. Lalu aku disuruh lihat FB-nya Mizan. Ternyata iya," katanya, malu-malu.

Bagi Yovi, terbitnya buku itu adalah sebuah kejutan yang menyenangkan. Ia ingat menggarap buku itu selama sebulan, sekitar Mei 2009. Idenya berasal dari pengalaman pribadinya di sekolah. Tiga orang sahabat membantu urun ide dan ikut mengetik di komputer: Rani, Farisya, dan Ovi. "Pertama sih mau buat buku tentang Indonesia. Lama-lama jadi buku tentang persahabatan," katanya.

Kenapa persahabatan? "Ya, karena aku punya teman," kata Yovi enteng.

Kelar menulis, Yovi meminta kepada sang mama, Sumiani Syakri, untuk mengirimkan naskah ke Mizan. Kebetulan ia suka membaca buku terbitan Mizan Seri Kecil-Kecil Punya Karya. Ini sebuah seri novel yang ditulis oleh penulis-penulis kanak-kanak. Ide untuk mengirimkan karya ini ke Mizan sebenarnya berasal dari Masyitoh, guru Yovi.

Kepala Sekolah SD Baitul Amien, Muhammad Hafid, memuji Yovi sebagai penulis berbakat. "Waktu saya baca tulisan di mading (majalah dinding), saya berpikir: kok runtut ya tulisan anak ini," katanya. Agaknya bakat Yovi ini dilihat pula oleh gutu pembimbing mading, Masyitoh.

Bakat Yovi terlihat dari kemampuannya mengepul gagasan. "Aku kan berangkat ke sekolah dari Jenggawah naik bus. Saat menunggu bus itu, aku selalu melamun, berkhayal," katanya.

Kini, Yovi sudah menyiapkan buku kedua untuk dikirimkan ke Mizan: The Genuine Friend. Ini kumpulan cerita pendek tentang persahabatan.

Kelak ingin jadi penulis, Yovi? Ia menggeleng. "Aku ingin jadi profesor dokter," katanya. [wir]

Baca Selengkapnya..

17 June 2009

Sukiman Mati, Senin Pagi

Sukiman mati di Senin pagi, dan saya menyadari: satu orang baik telah pergi. Sukiman, dia polisi biasa. Pangkat terakhirnya komisaris, dan menjabat kepala bagian administrasi di kepolisian Kota Blitar. Sebuah serangan terhadap jantungnya yang uzur, ia berusia 54 tahun, mengakhiri hidupnya pagi itu.

Sukiman mati dalam tugas. Namun, ia tidak tengah berhadapan dengan segerombolan bandit. Ia kelelahan, setelah menghalau sekelompok siswa sekolah menengah atas yang sedang berkonvoi merayakan kelulusan. Episode hidup Sukiman berakhir. Ironi dunia pendidikan kita berlanjut.

Saya tidak tahu, apa yang hendak dicapai oleh sistem pendidikan kita sebenarnya. Di Jawa Timur, sekitar 15 ribu siswa SMA tidak lulus dalam ujian nasional. Standar nilai kelulusan dinaikkan, dan mendadak ada satu sekolah yang harus gulung tikar karena tak mampu meluluskan siswanya sama sekali.

Pengamat berteriak: Departemen Pendidikan Nasional telah gagal. Pemerintah menampik, menyalahkan guru kurang profesional dan murid kurang siap, sembari membesarkan hati: kita tidak terlalu buruk. Orang tua siswa pusing tujuh keliling. Mungkin juga ada yang menangis dan merasa kehilangan harapan.

Tapi tidak ada yang menangisi Sukiman, polisi yang baik hati dan mati di Senin pagi. Kematian Sukiman, kematian nilai-nilai pendidikan, kaburnya garis demarkasi di sekolah tentang nilai-nilai tentang apa yang boleh dan tidak, tentang apa yang lazim dan tak normal.

Saya boleh jadi terlalu berlebihan. Tapi saya masih belum bisa memahami, bagaimana setiap tahun, sebuah pesta kelulusan dengan model yang sama selalu terjadi: sebuah konvoi sepeda motor menguasai jalanan, dengan derum keras dan asap knalpot tebal, tak ubahnya gangster-gangster dalam film Amerika.

Kepolisian harus selalu mengerahkan petugas lebih banyak untuk berjaga di jalanan: seakan-akan mereka tengah menghadapi serbuan bandit dan musuh masyarakat.

Para pelajar ini, saya percaya, jelas mereka bukan berandalan. Namun di jalanan pula korban-korban bertumbangan karena kehadiran mereka. Saya tidak tahu angka persis kecelakaan di jalanan di Jawa Timur selama konvoi berlangsung. Namun di Jember, seorang ibu hamil nyaris kehilangan bayinya, setelah becak yang ditumpanginya ditabrak oleh seorang pelajar yang ngebut karena tertinggal konvoi kawan-kawannya.

Setiap kali melihat sebuah pesta kelulusan, saya selalu seperti melihat para narapidana yang meluapkan keriangan setelah bertahun-tahun dalam bui. Adakah sekolah kita adalah penjara? Entahlah. Tapi jika nilai-nilai elementer pendidikan --kejujuran, penghormatan, keberanian, dan harga diri-- tak lagi dipahami, sekolah memang tak ubahnya seperti penjara.

Di penjara, hanya ada nilai kepatuhan yang diajarkan dalam sebuah praktik yang disebut filsuf Michel Foucault sebagai panoptikon. Kepatuhan diajarkan melalui pendisiplinan berbasis ketakutan. Ada empat menara di empat penjuru dengan lampu menyala setiap malam, menyoroti sel-sel para napi. Para petugas tak selamanya memicingkan mata selama sehari penuh mengamati laku mereka. Tapi para napi ini akan selalu merasa terawasi, terkontrol, dan pada akhirnya tertaklukkan.

Di sekolah, nilai-nilai kepatuhan dan pendisplinan diajarkan melalui panoptikon berupa angka-angka di rapor. Angka-angka di atas kertas ujian. Kita semua memuja angka-angka, karena kita meyakini, angka-angka itulah menjadi acuan keberhasilan sebuah pendidikan. Maka, apa yang normal dan abnormal didefinisikan dan didisplinkan melalui angka-angka: 'Hei, Bujang, bodoh betul kamu punya nilai di bawah lima; hei, Upik, alangkah pandainya kau dengan nilai di atas delapan'.

Pada akhirnya, nilai-nilai direduksi menjadi angka-angka.

Saya tidak menolak sebuah standar. Saya tidak menolak angka-angka. Namun saya menolak angka-angka itu menjadi tuhan (dengan t kecil), menjadi berhala baru yang membuat kita seperti manusia-manusia dalam penjara. Pemujaan terhadap angka-angka membuat kita gelap mata, melakukan apa saja untuk memenuhi apa yang disebut normal dan menampik yang tak normal. Kita bersedia melakukan apa saja, termasuk mengajarkan para murid untuk bermain mata, melanggar aturan dan nilai kejujuran.

Saya menolak menuhankan angka-angka, karena tak selamanya sebuah talenta bisa diukur dengan angka. Sistem pendidikan kita menampik apa yang berbeda, yang unik, dan yang ganjil: anak-anak dengan bakat khusus yang tak terkait dengan angka.

Angka-angka membuat kita lupa, bahwa alam juga memiliki logikanya sendiri untuk melahirkan anak-anak luar biasa yang tak selalu bisa didefinisikan dengan merah-biru angka di rapor. Kita lupa bahwa kecerdasan dan kepandaian adalah dua hal yang berbeda, di mana yang pertama tak akan pernah bisa diukur secara kuantitatif. Kecerdasan ditumbuhkan oleh hidup, oleh lingkungan, dan pengalaman. Entahlah, kenapa kita hanya bisa menghargai apa yang pandai, bukan yang cerdas.

Saya curiga, kebiasaan kita mendewakan angka adalah karena cara pandang kita yang terlampau linier tentang hidup anak-anak kita. Guru, orang tua, pemerintah, tak terlampau imajinatif memandang bagaimana hidup berjalan.

Kita membayangkan anak-anak kita melewati fase-fase hidupnya dalam rangking-rangking yang beraturan: luluslah kau sekolah dengan angka tinggi agar kau bisa kuliah; kuliahlah kau hingga dapat angka kumulatif luar biasa agar kau bisa kerja enak.

Kita tak pernah membayangkan hidup tak selamanya lurus, tapi acak. Saat hidup berkelok barulah kita sadar: bukan angka yang kita butuhkan, tapi nilai-nilai. Nilai-nilai tentang kejujuran, keberanian, harga diri, perjuangan, kemandirian.

Dan nilai-nilai itu, apa boleh buat, mati bersama Sukiman, seorang polisi yang baik hati, di Senin pagi. [wir]

Baca Selengkapnya..

16 June 2009

Tutup Dialog, JK Sampaikan Salam kepada SBY-Mega

Muhammad Jusuf Kalla menutup sesi dialog dengan calon presiden dengan Majelis Rektor Indonesia, Senin (15/6/2009) malam, dengan menyampaikan salam kepada dua kompetitornya, Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri.

Acara dialog ini disiarkan langsung stasiun televisi TVOne melalui videokonferensi. Dalam debat ini, tiga capres berada di tempat terpisah. Susilo Bambang Yudhoyono di Bandara Soekarno-Hatta, Megawati Soekarnoputri di Hotel Mahkota, Pontianak, Kalimantan Barat. Muhammad Jusuf Kalla di kediamannya, Jalan Ki Mangunsarkoro, Jakarta. Debat lebih banyak menyinggung masalah pendidikan.

Menutup acara dialog itu, pembawa acara Alfito Deanova memberikan kesempatan kepada semua kandidat presiden untuk menyampaikan pesan. Mega yang mendapat kesempatan pertama mengatakan, semua program pendidikan harus mengacu kepada UUD 1945. "Dengan demikian, kita akan lebih konsisten, lebih berkesinambungan dalam menjalankan program yang ada," katanya.

Mega berharap, apa yang disampaikannya didengar oleh rakyat Indonesia. "Rakyat perlu pendidikan politik, sehingga dapat menentukan pilihannya dengan jujur, adil, bebas, dan rahasia pada 8 Juli mendatang," katanya.

SBY yang mendapat giliran nomor berikutnya, sesuai nomor urut, mengingatkan agar, "Apa yang telah kita hasilkan selama lima tahun ini oleh pemerintah, oleh lembaga pendidikan semestinya tetap dipertahankan dan dilanjutkan. Yang belum baik-baik, yang masih kurang-kurang mesti diperbaiki lima tahun."

Ada lima tujuan, yakni mutu pendidikan makin meningkat; akses harus makin besar untuk seluruh rakyat indopnesia; infarstukrur di bawah lebih banyak lagi; kesejahteraan guru, dosen, peneliti, profesor; dan sinergi agar lulusan pendidikan mendapatkan lapangan pekerjaan dengan cara industri, pemerintah, dan lembaga pendidikan bekerjasama.

Mendapat giliran terakhir, JK kembali membuat kejutan seperti saat deklarasi pilpres damai di kantor Komisi Pemilihan Umum beberapa waktu lalu. "Salam untuk Bu Mega dan Pak SBY. Selamat bekerja untuk bangsa ini," katanya. Kelanjutan ucapan JK ditelan oleh tepuk tangan para pendukungnya.

Sebelum melontarkan salam, JK menyatakan, dirinya sepakat bahwa pendidikan adalah dasar dan pondasi kemajuan. Ia mengatakan, infrastruktur pendidikan, termasuk guru, dosen, dan guru besar sebagai komponen penting harus mendapat prioritas. [wir]

Baca Selengkapnya..

15 June 2009

Rektor Unesa Akhiri Debat 3 Capres

Pertanyaan dari Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. H. Haris Supratno, menutup sesi dialog antara tiga calon presiden dengan Majelis Rektor Indonesia, yang disiarkan langsung stasiun televisi TVOne melalui videokonferensi, Senin (15/6/2009) malam.

Dalam debat ini, tiga capres berada di tempat terpisah. Susilo Bambang Yudhoyono di Bandara Soekarno-Hatta, Megawati Soekarnoputri di Hotel Mahkota, Pontianak, Kalimantan Barat. Muhammad Jusuf Kalla di kediamannya, Jalan Ki Mangunsarkoro, Jakarta. Debat lebih banyak menyinggung masalah pendidikan.

"Bagaimana strategi kebijakan Bapak dalam upaya peningkatan kesejahteraan guru dan dosen? Yang kedua, bagaimana usaha-usaha Bapak untuk membangun, mengembangkan perguruan tinggi, khususnya LPTK, dalam rangka nanti menghasilkan guru-guru berkualitas serta dosen-dosen berkualitas, tapi kesejahteraan juga selalu meningkat," kata Haris.

Muhammad Jusuf Kalla diberi kesempatan menjawab. Selanjutnya adalah Megawati Soekarnoputri, dan terakhir adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Dari tiga capres, hanya JK yang dengan lugas menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan berdiri. Sementara, dua kandidat lain memilih untuk duduk. [wir]

Baca Selengkapnya..

Mega: Uang Cari Orang, Bukan Orang Cari Uang

Calon presiden nomor urut 1, Megawati Soekarnoputri, menyatakan, undang-undang mengenai sistem jaminan sosial nasional masih belum diterapkan dengan baik selama ini. Indikasinya, masih banyak pertanyaan mengenai tingkat kesejahteraan guru.

Kritik Mega terhadap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono ini dikemukakan, untuk menjawab pertanyaan Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. H. Haris Supratno, dalam dialog antara tiga calon presiden dengan Majelis Rektor Indonesia. Acara ini yang disiarkan langsung stasiun televisi TVOne melalui videokonferensi, Senin (15/6/2009) malam.

Mega mengingatkan, sebelum masa pemerintahannya berakhir, ia menandantangani undang-undang sistem jaminan sosial nasional. Sebetulnya jika UU ini dijalankan, maka akan menyelesaikan semua masalah kesejahteraan di kalangan tenaga pengajar, pendidik, dan pegawai negeri. "Juga untuk rakyat bIndonesia, dijalankan sistem kesejahteraan secara nasional," katanya.

"Sangat disayangkan, sampai dewasa ini hal tersebut belum dilakukan. sehingga tentunya sepertinya masalah kesejahteraan bagi kalangan pendidik ini, lalu menjadi sporadis. Setiap guru, pengajar lalu bertanya-tanya, apa yang akan diberikan kepada mereka, sebagai satu bagian dari sumbangsih mereka yang telah memberikan darma bakti bagi bangsa dan negara," kata Megawati.

Megawati menyatakan, masih ada guru dan tenaga pengajar di daerah terpencil dan sulit terjangkau yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Mereka harus menahan diri untuk tidak mengambil gaji, karena ongkos transportasi lebih besar daripada gaji pokok dan insentif yang diterima.

"Waktu lalu saya justru telah melakukan, bagaimana caranya, jangan sampai pegawai negeri, termasuk tenaga pendidikan, mencari uang, tapi uang yang harus mencari orang," kata Mega. Caranya adalah melaksanakan UU sistem jaminan sosial nasional dengan baik.

Lebih lanjut, Mega menolak tudingan bahwa dirinya akan mencabut sertifikasi bagi guru dan dosen, jika sudah menjadi presiden. Padahal itu perintah undang-undang. Tidak mungkin itu saya lakukan. Justru saya harus menyelesaikan masalah masalah begitu," katanya. [wir]

Baca Selengkapnya..

JK: Metode Pendidikan Guru Harus Berkembang

Calon Presiden nomor urut 3, Muhammad Jusuf Kalla, mengatakan, pemerintah wajib memenuhi hak-hak guru dan dosen. Namun, lembaga pendidikan guru juga harus mengembangkan metode.

JK menjawab pertanyaan Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. H. Haris Supratno, dalam dialog antara tiga calon presiden dengan Majelis Rektor Indonesia, yang disiarkan langsung stasiun televisi TVOne melalui videokonferensi, Senin (15/6/2009) malam.

"Kita semua duduk dan berdiri (di sini) berkat jasa guru dan dosen. Wajarlah kita memberikan penghargaan yang sepadan kepada guru dan dosen," kata JK.

Sebenarnya, hak-hak guru dan dosen sudah tercantum dalam undang-undang mengenai guru dan dosen, termasuk masalah tunjangan fungsional, sertifikasi, dan tunjangan bagi guru di daerah terpencil. "Kami akan penuhi kewajiban itu. Dan tentu juga fasilitas perumahan, dan fasilitas lain yang memungkinkan," kata JK.

Namun JK mengingatkan, agar lembaga pendidikan guru lebih meningkatkan metode pendidikannya. "Tentu banyak sekarang lembaga pendidikan guru, atau Universitas Surabaya yang dulu IKIP, harus menjadi lembaga yang punya metode-metode yang berkembang. Sama dengan perkembangan universitas lain. Kita harus perbaiki," katanya.

JK berjanji akan melaksanakan undang-undang yang ada dan menaikkan perekonomian bangsa. Ia percaya, tingkat perekonomian dan pendidikan memiliki korelasi. [wir]

Baca Selengkapnya..

SBY Jabarkan Jasanya kepada Majelis Rektor

Calon presiden nomor urut 3, Susilo Bambang Yudhoyono, menjawab pertanyaan penutup dari Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. H. Haris Supratno, dengan menjabarkan jasa apa yang telah dilakukannya selama lima tahun masa pemerintahannya, tanpa menyebut nama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla.

SBY menjabarkan ini dalam acara dialog calon presiden dengan Majelis Rektor Indonesia, yang disiarkan langsung stasiun televisi TVOne melalui videokonferensi, Senin (15/6/2009) malam. "Saya ingin menyampaikan apa yang telah saya kerjakan memimpin negeri ini hampir 5 tahun terakhir," katanya.

SBY mengatakan, "Dua bulan setelah saya memimpin, saya menetapkan guru sebagai profesi. Dulu ada tiga profesi: lawyer, dokter, dan perwira militer. Guru mesti menjadi profesi, bukan sekadar pekerjaan. Satu tahun kemudian lahir undang-undang tentang guru dan dosen."

Dari UU tersebut, menurut SBY, muncul sejumlah peraturan pemerintah, seperti tentang guru, pendanaan pendidikan, tunjangan profesi bagi guru dan dosen di daerah khusus, dan tunjangan profesi bagi guru dan dosen, dan peraturan pemerintah tentang tunjangan kehormatan profesor. "Semua itu langkah kongrit," katanya.

Saat ini, kata SBY, gaji guru minimal Rp 2 juta, sejalan dengan peningkatan gaji abdi negara yang lain. Ia berharap seiring dengan pertumbuhan ekonomi penerimaan negara, gaji guru akan ditingkatkan lagi. Ia juga ingin agar kapabilitas guru ditingkatkan.

"Twin objective, dua sasaran kembar: kemampuan guru agar anak didiknya berkualitas dan kemampuan kesejahteraan guru yang harus kita berikan sekuat tenaga," kata SBY. [wir]

Baca Selengkapnya..

05 June 2009

JK: BHMN Harus Jamin Biaya Pendidikan Tinggi Lebih Murah

Tingginya ongkos pendidikan tinggi negeri (PTN) sebenarnya tidak akan memunculkan diskriminasi terhadap masyarakat miskin, selama manajerial perguruan tinggi bagus. Oleh sebab itu, pengelola PTN harus mulai mengubah kultur dari birokrasi yang kental ke arah kewirausahaan (enterpreneurship).

Demikian intisari dari pendapat dua pengamat dan praktisi pendidikan nasional, Prof Dr. Arif Rahman dan Prof. Eko Budiharjo MSc, Jumat (5/6/2009). Undang-Undang Badan Hukum Milik Negara (BHMN) bukanlah penghambat, namun harus diaplikasikan dengan pandangan positif.

"Perguruan tinggi harus bisa dijangkau dengan seleksi akademis. Mereka yang memenuhi persyaratan harus bisa masuk, tanpa diskriminasi," kata Arif Rahman.

UU BHMN yang sempat memunculkan pro-kontra karena dianggap membuat biaya pendidikan makin mahal. Saat ini uang gedung di PTN saja sudah menyaingi perguruan tinggi swasta, termasuk untuk perguruan tinggi favorit. Di salah satu PTN, untuk masuk Fakultas Kedokteran, orang tua siswa harus menyediakan dana segar Rp 150 juta.

Menurut Prof. Budihardjo, UU BHMN memang mempunyai cacat bawaan yakni multitafsir. "Tergantung penyelenggara pendidikan, apakah rektor-rektor di kampus mengambil tafsir dengan pikiran positif," katanya.

Prof Budihardjo menyarankan, agar rektor-rektor melihat aturan yang ada dengan itikad baik. "Niatnya adalah education for all, pendidikan untuk semua. Implementasinya dilandasi niat baik, segenap lapisan masyarakat bisa menikmati perguruan tinggi," tambahnya.

Wakil Presiden yang juga Calon Presiden nomor urut 3, Muhammad Jusuf Kalla (JK), menyatakan, alokasi anggaran pendidikan dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2004 anggaran pendidikan Rp 16 triliun, tahun 2005 sebesar Rp 23 triliun. Tahun 2007 sebesar Rp 44 triliun, dan tahun 2008 sebesar 49 triliun. Alokasi anggaran untuk pendidikan sebesar itu bukan termasuk gaji guru yang tak dimasukkan dalam anggaran pendidikan secara langsung.

Namun, anggaran sebesar itu tidak cukup jika diperuntukkan subsidi semua tingkat pendidikan sehingga biaya pendidikan menjadi murah. Maka PTN mulai harus melakukan sistem subsidi silang untuk menghidupi diri mereka sendiri. JK mengakui, dia tak menutup mata pada kritik atas makin mahalnya biaya pendidikan di PTN. Ada yang khawatir, program independensi PTN ini akan membuat pendidikan tinggi didominasi orang kaya.

"Kekhawatiran tersebut, sejauh yang saya tangkap, dipicu kecurigaan bahwa penetapan PTN menjadi badan hukum milik negara (BHMN) akan membuat para pengelolanya menaikkan uang kuliah sesuka hati," kata JK.

JK menjelaskan, dengan status BHMN, PTN akan beroperasi mirip perusahaan komersial. Dalam arti, para pengelolanya diberi keleluasaan untuk mencari sebagian dana yang dibutuhkan untuk membiayai kegiatan akademik dan non-akademik.

"Tapi, saya menolak bila BHMN akan membuat biaya pendidikan di PTN menjadi mahal. Sebab, PTN itu tetap berkewajiban menerima dan mendidik mahasiswa dari kalangan keluarga tak mampu, termasuk melalui sistem subsidi. Saya percaya BHMN bisa membuat biaya pendidikan lebih murah. Sebab, sistem ini memaksa PTN bekerja seefisien dan seefektif mungkin, dengan prinsip dasar biaya sekecil mungkin dengan hasil setinggi mungkin," tegas JK.

Menurut JK, dengan status BHMN, kampus-kampus akan bersaing sesamanya untuk memberikan layakan pendidikan yang paling berkualitas dan biaya yang murah. Ini berarti sebuah reformasi pendidikan yang menyeluruh di perguruan tinggi, yang harus dilakukan agar semua pihak--pengelola dan mahasiswa-- diuntungkan.

Arif Rahman membenarkan, BHMN dimungkinkan pelaksanaannya jika rektor dan staf-stafnya adalah manajer yang tangguh. "UI, ITB, dan UGM jauh lebih baik dan bisa membantu mahasiswa yang miskin saat ini," ungkapnya.

Namun, tentu saja membentuk mentalitas sebagai manajer ini tak mudah. Menurut JK, telah berpuluh-puluh tahun PTN hidup dengan mengandalkan subsidi pemerintah. Akibatnya, mereka tak pernah dirisaukan masalah persaingan dan urusan bisnis. Di bawah rezim BHMN, para pengelola PTN harus memperhatikan aspek persaingan dan bisnis agar bisa bertahan hidup.

Arif Rahman menyarankan, di setiap PTN ada pembinaan manajemen yang baik. Rektor-rektor perlu ditatar mengenai pengelolaan manajemen perguruan tinggi. Ia menampik untuk menyatakan, apakah secara umum manajemen PTN di Indonesia
sudah baik. "Itu butuh penelitian. Saya pikir, yang bisa mengukur adalah Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) Depdiknas," katanya.

Sementara itu, Prof. Budihardjo menilai, sudah saatnya pengelola PTN mengubah kultur yang birokratis menjadi enterpreneur. "Perguruan tinggi negeri harus membuka peluang-peluang enterpreneurship. Rektor harus memberi contoh. Mahasiswa sendiri saya pikir lebih senang diajar oleh dosen yang punya pengalaman sebagai praktisi daripada hanya teori," kata mantan rektor Undip Semarang ini.

Arif dan Budihardjo sama-sama sepakat perubahan ini tak boleh mengubah kultur pendidikan yang tidak diskriminatif. Pendidikan tinggi negeri harus bisa diakses oleh siapapun, termasuk yang miskin.

"Mereka yang miskin harus memiliki kesempatan sama dengan orang kaya dalam dunia pendidikan. Tak boleh ada orang yang putus sekolah karena hanya tak punya uang. Saya akan berjuang terus agar anggaran pendidikan nasional benar-benar diarahkan untuk membuka peluang seluas-luasnya bagi kaum miskin agar memperoleh pendidikan yang layak," kata JK.

Arif Rahman mengatakan, di perguruan tinggi harus ada beasiswa, subsidi, pencicilan, dan orang tua asuh untuk mereka yang miskin. Menurut Prof Eko Budihardjo, biaya pendidikan haruslah berkeadilan. "Mereka yang kaya raya, seperti direktur bank, saya rasa tak akan keberatan mengeluarkan banyak uang untuk anaknya kuliah di PTN daripada mereka kuliahkan anak ke luar negeri. Uang ini yang nantinya akan menyubsidi mereka yang miskin," kata Prof Eko Budihardjo. (wir/bj0)

Baca Selengkapnya..

02 June 2009

Dewan Pendidikan Jatim: Tak Ada Pendidikan Murah

Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur Zainuddin Maliki menegaskan, bahwa tidak ada pendidikan yang murah. Namun tugas negaralah untuk menjadikan pendidikan terjangkau untuk semua.

Hal ini ditegaskan Maliki, Selasa (2/6/2009), saat ditanya mengenai program pendidikan para calon presiden. "Pendidikan murah itu tidak ada, kecuali pendidikan yang asal-asalan. Tidak ada barang murah yang bagus. Pendidikan bagus itu mahal," tegasnya.

Problemnya adalah bagaimana agar biaya pendidikan yang tak murah itu bisa dijangkau masyarakat. "Di sinilah tugas pemerintah untuk mengalokasikan anggaran yang cukup agar pendidikan itu menjadi terjangkau. Bisa saja melalui subsidi, beasiswa, BOS (Biaya Operasional Siswa), dan penjaminan anak usia sekolah yang miskin agar bisa menikmati pendidikan," kata Maliki.

Pemerintah memang telah menyediakan anggaran 20 persen untuk pendidikan dalam APBN. Namun, alokasi ini tidak saja diperuntukkan pendidikan secara konvensional, yakni untuk pendidikan di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama. Anggaran pendidikan dan latihan untuk semua departemen juga masuk.

"Tapi kalau digunakan secara efisien dan tepat sasaran, saya kira memadai. Dengan catatan, konsep pendidikan kita harus tepat. Kurikulum kalau berbasis kompetensi ya berbasis kompetensi," kata Maliki.

Maliki melihat, pemerintah Indonesia menghadapi problem konseptual kebijakan dalam mengembangkan dunia pendidikan, bukan anggaran. Siswa saat ini dididik dengan asumsi bahwa yang bersangkutan akan masuk perguruan tinggi. Akibatnya pendidikan yang mulanya diwacanakan berbasis kompetensi menjadi tidak terlaksana baik.

Maliki memandang penting bagi para kandidat presiden untuk menjadikan pendidikan sebagai isu utama. Para kandidat perlu memperjuangkan nasib para guru yang tingkat kesejahteraannya menyedihkan. "Bagaimana bisa profesional kalau kesejahteraan kurang," katanya. [wir]

Baca Selengkapnya..