26 December 2007

Bertemu Andreas Harsono

Seberapa banyak pelajaran yang bisa saya petik dari Pantau dan para mentor baru saya.

“Ayo, siapa mau ikut renang?”

Tawaran itu meluncur dari Andreas Harsono. Ia baru saja bangun dari ‘tidur ayam’ di ruang kerja Pantau, yang terletak di lantai empat sebuah gedung di Kebayoran Lama 18 CD. Saya sebut tidur ayam, karena saya yakin dia tidak nyenyak tidur seperti ayam. Sedikit-sedikit ia terbangun saat ponselnya berdering.

Dayu Pratiwi, staf Pantau, menolak halus. Ia masih harus membereskan beberapa tugas. Dayu baru-baru saja bekerja di Pantau. Berjilbab, lulusan Universitas Lampung, mantan anak pers kampus. Kami beberapa kali saling telpon menjelang keberangkatan saya ke Jakarta.

Tak satu pun staf Pantau yang menerima ajakan Andreas. Hanya saya dan Mujidi, kawan saya satu kamar selama kursus jurnalisme sastrawi, yang setuju. Saya sih nggak bisa berenang. Saya ingin ikut Andreas karena ingin banyak diskusi dan lihat koleksi buku atau majalah the New Yorker di apartemennya.

Andreas adalah direktur Yayasan Pantau. Ia asli Jember, kota tempat saya tinggal. Keturunan China. Saya mengenal nama Andreas saat membaca majalah Pantau, majalah yang mengkhususkan diri pada jurnalisme.

Andreas dikontrak lima tahun sebagai direktur Pantau. Ia senang mengelola yayasan ini. Suasananya penuh kekeluargaan dan tidak formal. Setelah majalah Pantau tidak terbit, tulisan dari 80 kontributor kini dialihkan dalam bentuk online, di kantor layanan berita feature www.pantau.or.id.

Pantau juga rajin menggelar kursus jurnalisme sastrawi dan kursus narasi. Kursus jurnalisme sastrawi adalah gagasan Goenawan Mohamad, diampu Andreas dan Janet Steele, seorang profesor jurnalisme asal George Washington University.

Kelas jurnalisme sastrawi sudah mencapai angkatan ke empatbelas dan dikhususkan untuk wartawan atau orang yang pernah menulis rutin untuk media massa. Sementara kelas narasi untuk kelompok umum yang berminat belajar menulis. Linda adalah salah satu alumnus angkatan pertama kelas jurnalisme sastrawi.

Saya suka mendownload artikel-artikel Pantau dan dari blog Andreas (www.andreasharsono.blogspot.com), baik yang berbahasa Inggris atau Indonesia. Sebagian saya gunakan sebagai pedoman menulis feature. Istilah jurnalisme sastrawi atau reportase naratif saya kenal dari Pantau dan Andreas.

Kesan saya pertama terhadap Andreas sebelum bertemu, orangnya kalem, tenang. Saya mendefinisikan demikian, saat menerima telpon dari dia dua kali. Pertama, saat ia memberitahu soal tawaran beasiswa kursus jurnalisme sastrawi; dan saat penyuntingan tulisan saya berjudul Prosalina.

Andreas selalu menggunakaan kata ‘saya’ untuk menunjuk dirinya, dan memberikan penekanan pada kata ‘saya’ itu, saat bebicara dengan kalimat panjang. Kalimatnya tertata rapi.

Saat bertemu di hari pertama kursus jurnalisme sastrawi, sangkaan saya tak sepenuhnya salah. Andreas memang kalem. Tapi ia juga suka bercanda. Saat berkenalan dengan semua peserta kursus jurnalisme sastrawi angkatan XIV, ia sudah bisa menebak asal mereka, dan berbincang akrab tak ubahnya kawan lama tak jumpa.

Eko Rusdianto, peserta kursus narasi asal Makassar, sempat mati gaya saat berhadapan dengan Andreas. “Saya dibilangin sama Mbak Dayu, ‘kamu jangan malu-malu sama Mas Andreas’. Bagaimana tidak malu? Selama ini aku Cuma baca tulisan dia lalu ketemu orangnya,” katanya.

Menurut Eko, imajinasinya mengenai andreas yang diperoleh dari tulisan tak sepenuhnya tepat. Tulisan Andreas meledak-ledak. Tapi ternyata si penulis justru kalem.

Eko membandingkan imajinasi tentang Andreas dengan imajinasi tentang Goenawan Mohamad. Eko sempat bersemangat sekali ingin bertemu Goenawan saat sampai di Jakarta. Ia penganggum Catatan Pinggir, kolom esai Goenawan di majalah Tempo.

Tapi saat diberitahu bahwa Goenawan tipe orang yang angin-anginan, ngeperlah dia. Sosok Goenawan semakin bikin mengkeret, setelah sempat ada cerita ia menyemprot seorang peserta kursus narasi gara-gara pertanyaan yang dianggapnya tak tepat.

Andreas tipe wartawan langka di Indonesia. Tipe wartawan umumnya di Indonesia adalah seperti saya. Dengan hanya mengandalkan gaji yang saya terima saat ini, saya tidak akan bisa beli mobil Hyundai Vega warna silver seperti Andreas sampai tua. Kecuali dapat undian berhadiah, tentunya.

Andreas senang bicara soal Jember dan Pontianak. Dia tanya-tanya soal Pontianak ke Mujidi, seorang wartawan harian Borneo Tribune. Andreas banyak kenal redaktur di harian itu, karena beberapa di antara mereka sempat mengikuti pelatihan di Pantau.

Belakangan, saya tahu dari Mujidi, model pelatihan jurnalisme sastrawi ala Pantau diterapkan untuk Borneo Tribune. Setiap wartawan baru diharuskan mengikuti pelatihan selama dua pekan. Persis kursus jurnalisme sastrawi Pantau. Pengampunya adalah alumnus kursus di Pantau.

Model tulisan di harian itu juga sebisa mungkin mengembangkan cita rasa naratif. “Misalkan ada pembakaran rumah. Kita ambil lead-nya begini: ‘Bakar. Bakar. Bakar. Teriakan itu terdengar dari kerumunan massa di jalan ini, Kamis tanggal sekian-sekian,” kata Mujidi.

Bagi saya itu menarik. Dalam model piramida terbalik untuk straight news, tak banyak yang mau menggunakan gaya penulisan seperti itu. Mujidi menyatakan, tidak semua tulisan dibuat dengan sentuhan narasi. Tapi menurut saya, satu dua tulisan pun, asal itu straight news, tidak masalah. Itu ciri Borneo Tribune.

Hubungan Andreas dengan redaktur Bornero Tribune terpelihara rapi. Kebetulan juga, Andreas memiliki keterikatan dengan Pontianak. Istrinya, Sapariah Saturi adalah keturunan etnis Madura yang lama mendiam di sana. Ia wartawan di harian Jurnal Nasional, Jakarta.

Andreas juga suka Pontianak, karena di sana ia menemukan banyak bahan cerita tentang konflik etnis, sesuatu yang digelutinya. Jauh-jauh hari, sebelum ada benturan antara etnis Melayu dengan China, 6 Desember 2007, ia sudah membuat ramalan. Jitu.

“Saya bilang ke Sapariah. Setelah pemilihan gubernur, pasti akan ada masalah. Waktu itu kan semua senang, waaah, pemilihan gubernur berjalan aman. Semua ketawa,” kata Andreas.

Kerusuhan di Kalimantan Barat terjadi setelah anak seorang tokoh masyarakat Melayu di Pontianak menyerempet mobil BMW orang China. Di Pontianak, jumlah warga beretnis China dan Melayu berimbang. Selama bertahun-tahun etnis Melayu memimpin.

Dalam pemilihan kepala daerah tempo hari, pasangan wakil dari etnis Dayak dan China menjadi pemenang: Cornelis dan Cristiandy Sanjaya. Mereka menggeser incumbent Usman Jakfar – Laurentius H. Kadir. Usman beretnis Melayu Sekadau, dan Kadir memiliki darah Dayak.

Kerusuhan menyebar cepat. Ini kerusuhan kesekian di Pontianak, setelah sebelumnya warga Melayu berbenturan dengan warga Madura. Menurut Andreas, ada stereotip kental di kalangan Melayu yang ditempelkan kepada warga Madura: “Kalau kecil milik kita, besar milik saya.” Maksudnya, warga Madura serakah dan ingin menguasai setelah cukup kuat.

Para redaktur Borneo Tribune melakukan kontak intensif malam kerusuhan itu dengan Andreas. Andreas memberikan saran dan background untuk penulisan berita kerusuhan tersebut. Pontianak siaga satu.

Namun, Andreas sempat kecewa juga dengan berita yang diturunkan Borneo Tribune. “Kenapa etnis yang berselisih tidak disebutkan,” katanya.

“Saya kan yang mengajar mereka. Kadang saya merasa sedih…” Saya paham.

Menurut Andreas, sebuah konflik etnis atau agama harus diterangkan secara terang benderang di media massa. Jangan ditutupi. Ia tidak setuju dengan Johan Galtung, penyeru jurnalisme damai.

Media penganut aliran jurnalisme damai menolak menyebut dengan jelas latar belakang aktor yang terlibat konflik etnis atau agama. Saat konflik Ambon, Harian Kompas – media massa terkemuka Indonesia yang getol dengan jurnalisme damai – tidak menyebutkan jelas ketika ada pembakaran rumah ibadah: gerejakah yang dibakar? Masjidkah yang dibakar?

“Akhirnya pembaca bertanya-tanya. Yang berkembang kemudian adalah rumor. Dan, rumor itu jahat, Saudara,” kata Andreas.

“Saya punya kritik cukup serius terhadap istilah jurnalisme damai. Saya kira ini genre yang tidak akan bertahan. Sebuah genre disebut genre kalau dia memperkenalkan metode baru untuk memperkuat jurnalisme. Genre ini, dengan segala hormat saya kepada Johan Galtung, saya kira tidak berhasil menekan berbagai macam sengketa etnik di Indonesia.”

***

TRANSPARANSI ADALAH PRINSIP YANG DIAJARKAN Bill Kovach dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme. Andreas sangat mengagumi Kovach. Dalam kelas jurnalisme sastrawi hari pertama, Senin (10/11/2007), Andreas menutup materi sembilan elemen jurnalisme dengan menjelaskan sosok Kovach.

“Dia orang Albania, ayahnya muslim, ibunya Kristen. Kata Goenawan Mohamad, orang ini susah dicari salahnya. Ya nggak perempuan, ya nggak minum, ya nggak uang. Susah dicari salahnya.”

“Orangnya sebetulnya pendiam, keras, tidak suka publikasi. Waktu muda pernah berkelahi. Tipikal orang (Amerika Serikat) bagian selatan. Orangnya kasar, seperti orang Madura-lah, kalau saya ngomong stereotip.”

Kovach dulu pernah mau difilmkan oleh Hollywood. Hidupnya dinilai berwarna. Saat menjadi pemimpin redaksi The Atlanta Journal-Constitution, ia sempat berselisih paham dengan pemilik koran itu.

Kovach sebenarnya berjasa membuat koran itu memenangkan Pulitzer, salah satunya melalui artikel The Color of Money. Artikel ini ditulis Bill Dedman dan mulai dipublikasikan 1 Mei 1988. Ini artikel investigasi interpretatif mengenai ketidakadilan bank dalam memberikan pinjaman kredit antara nasabah kulit hitam dan kulit putih.

Namun, Kovach memilih mundur ketika ruang redaksi diintervensi. “Pemimpin redaksi yang baik harus berani pasang badan, jika ada yang mau masuk. Ia harus memberikan kebebasan kepada reporter untuk bekerja,” kata Andreas.

Kegigihan Kovach memang menarik untuk difilmkan. Hollywood toh juga pernah bikin film soal wartawan seperti The Insider yang dibintangi Al Pacino. Draft naskah film itu diberikan ke Kovach…dan marahlah dia.

Dalam draft naskah itu ada adegan Kovach bersenggama dengan istrinya sebelum menikah. Ia menilai adegan ini tidak faktual. Ternyata Hollywood membumbui hidup Kovach dengan adegan ranjang agar lebih menarik.

Batallah film itu. “Kovach bilang, ‘goddamit, aku seumur hidup menjaga nama baikku, tahu-tahu dibuat kayak gini. Nanti anak cucuku liat aku gimana. Nggak perlu difilmkan.’ Rupanya dia sebelum menikah dengan istrinya masih perawan, begitu pula dengan istrinya,” kata Andreas.

Saya semakin yakin Andreas adalah diehard fans-nya Kovach, setelah belakangan ia memamerkan sesuatu kepada saya di apartemennya. “Ini sketsa buatan Kovach. Ia suka menggambar sketsa.” Sketsa seukuran kartu pos itu dibingkai di dinding. Sketsa itu samar menunjukkan candi borobudur.

Kovach memang pernah ke Indonesia untuk memberi studium generale mengenai sembilan elemen jurnalisme di sejumlah kota besar di Indonesia. Andreas mengawal ketat sinsei-nya itu.

Secara bercanda saya sebut mengawal ketat, karena dalam tulisannya mengenai kunjungan Kovach di Indonesia disebutkan, Andreas sempat menerima telpon dari Lynne, istri Kovach.

Lynne minta Andreas untuk memastikan Kovach tak naik ke puncak candi Borobudur. “Dia khawatir suaminya kelelahan. ‘Bill punya masalah dengan urat syaraf tulang punggungnya,’ kata Lynne. Saya mengiyakan dan menyampaikan pesan Lynne kepada Bill. Bill mengomel sedikit, tapi setuju.”

Ikatan guru-murid dengan Kovach terjalin saat Andreas menjadi santri Kovach di Nieman Fellowship tahun 1999.

Di Indonesia, sebenarnya masih ada Goenawan Mohamad (Tempo) dan Ratih Harjono (Kompas) yang pernah menjadi murid Kovach. Namun, hari ini, di Indonesia, saya kira dari tiga orang itu, Andreas yang pantas disebut epigon Kovach.

Perspektif Andreas soal jurnalisme mengambil mutlak ajaran Kovach. Bahkan, ia memasang standar tinggi bagi jurnalisme di Indonesia. Bukan hanya standar dalam hal penulisan dan reportase, tapi juga honor untuk karya wartawan.

Saya pernah merasakan dua kali mendapat honor di atas Rp 1 juta, untuk dua tulisan saya yang dimuat di website Pantau. Pertama tulisan resensi soal buku Bondan Winarno, Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi, dan tulisan soal persidangan mantan Bupati Jember Samsul Hadi Siswoyo yang disiarkan langsung radio lokal Jember bernama Prosalina.

Andreas heran dengan bos-bos media di Jakarta. “Saya ini dibilang merusak harga, karena dianggap memberi honor tulisan terlalu tinggi kepada wartawan. Lho, bagaimana? Memberikan honor yang layak kok dibilang merusak harga.”

Pantau rencananya malah akan menaikkan honor dari Rp 400 menjadi Rp 500 per kata. Saya jadi membayangkan, berapa duit yang saya terima kalau tulisan saya dimuat Pantau.

Saya bilang ke Andreas, honor tulisan yang saya terima dari Pantau adalah honor tertinggi yang saya terima selama menjadi wartawan. Satu kali honor melebihi gaji satu bulan.

Andreas tertawa. “Anda terima honor berapa?”

“Untuk tulisan soal Bre-X, saya terima sekitar Rp 1,8 juta. Istri saya senang sekali. Saya kaget saat cek buku tabungan, dan melihat duit honor sudah ditransfer.”

Saya cerita, saya sebenarnya tak berniat mengirimkan artikel soal Bre-X ke Pantau. Mulanya, saya hanya mau bikin resensi 5 halaman untuk dikirimkan ke Kompas atau Jawa Pos. Kebetulan, tahun 2007 tepat sepuluh tahun penerbitan buku tersebut. Tapi ternyata saya keasyikan menulis, hingga melar menjadi 15 halaman atau sekitar 5.000 kata.

Lalu, saya teringat Pantau. Lagipula saya kirim artikel beberapa kali ke Kompas tidak pernah dimuat. Mungkin karena nama saya tidak terkenal. Saya bukan selebritis penulis yang biasa mejeng di Kompas meski tulisannya sangat biasa-biasa saja.

“Saya ingat, pagi-pagi jam setengah enam, saya dibangunkan bunyi ponsel. Ada yang telpon. Nomor dari mana nih? Saya angkat, terdengar suara: ‘Halo, Oryza, saya Linda Christanty. Tulisan kamu soal Bre-X mau saya muat. Tapi saya edit ya?”

“Saya kaget. Saya terjaga sepenuhnya. Saya tidak tahu harus bilang apa. Saya bilang, ‘Ya udah deh, Mbak. Edit saja deh’.” Hati saya senang bukan kepalang.

Andreas tertawa kecil mendengar cerita saya. Mungkin dia menganggap saya seperti anak kecil yang senang baru dapat permen.

Andreas becerita soal honornya. Ia pernah menerima honor 15 ribu dollar Amerika Serikat. Rp 150 juta. Namun untuk media Indonesia, bagi tulisannya Dari Thames ke Ciliwung yang dimuat lengkap di majalah Gatra, ia hanya terima sekitar Rp 2 juta.

“Saya ingin kalian bisa menulis bagus. Kursus ini ingin menaikkan harga kalian (sebagai penulis),” kata Andreas.

Andreas memasang patokan: peserta kursus jurnalisme sastrawi angkatan ini setidaknya harus bisa menyaingi Linda Christanty. Ia akan satu panel dengan sejumlah sastrawan dunia kelas wahid dalam sebuah acara.


***

MOBIL ANDREAS MELAJU MEMASUKI bilangan Palmerah. Jalanan tidak terlampau padat.

Puncak kompleks apartemen Permata Senayan kelihatan dari jauh. Menjulang. Saya tidak pernah mengunjungi apartemen mewah. Apartemen Andreas terletak di lantai 18. Mulanya, saya mengira, apartemennya jauh benar dari Pantau. Saya salah.

Dalam perjalanan menuju apartemen yang tak jauh dengan pasar Palmerah itu, ia bercerita soal harga tanah di Jakarta yang gila-gilaan. Ada yang mencapai sekian miliar rupiah di daerah Palmerah. Itulah salah satu alasan, mengapa ia tidak punya rumah sendiri di Jakarta sampai sekarang.

Ia sempat tinggal di sebuah apartemen yang disebut kumuh dalam surat elektronik Bambang Wisudo, wartawan Kompas. Saya lupa menanyakan alamatnya kepada Andreas.

Di sana, sejumlah wartawan merancang aksi menolak pembreidelan majalah Tempo tahun 1994. Tempo dibreidel setelah memberitakan pembelian kapal perang Jerman Timur oleh Habibie. Namun, dalam buku Wars Within, Janet Steele menjelaskan bahwa sejak lama ada gelagat rezim Orde Baru memang jengkel dengan Tempo.

Apartemen Andreas saat ini disewa dengan harga Rp 40 juta per tahun. Ia tinggal di sana selama kurang lebih empat tahun. “Saya penyewa lama, jadi harganya segitu. Kalau penyewa baru saya kira sudah mencapai di atas Rp 60 juta,” katanya.

Kami melewati kantor PT Gramedia. Menurut Andreas, Gramedia menjadi kelompok penerbitan pertama yang menempati Palmerah. Berikutnya beberapa penerbitan lain, seperti Jakarta Post, Jawa Pos.

Apakah memang by design, tanya saya. Andreas berpikir sejenak. “Saya kira tidak. Nature saja. Wartawan kan sukanya berkelompok. Misalkan saya pecahan dari media ini, bikin media baru, tempatnya ya nggak jauh-jauh.”

“Oryza, Mujidi, nanti ingatkan saya untuk membawa kalian ke lantai puncak atas sana. Nanti akan saya tunjukkan tempat kantor media-media itu. Secara bergurau saya menyebutnya media palmerah,” kata Andreas, menunjuk lantai teratas apartemennya.

Tapi sampai kami pulang, Andreas tidak jadi membawa kami ke lantai puncak. Hari gelap, masih agak gerimis. Mungkin memang kurang bagus, kalau suasana begitu ngintip kantor orang, meski cuma dari puncak apartemen.

Apartemen Andreas tidak terlalu luas. Ada dua kamar, satu kamar mandi, satu ruang untuk meja makan, dan ruang tengah yang diisi sofa, satu set televisi, dan satu meja kerja. Majalah, buku, dan kertas-kertas berserakan di mana-mana.

“Kalau cari The New Yorker di sini gampang,” Andreas mengangkat beberapa bantal sofa, dan menarik beberapa majalah bergambar kartun berwarna dari tumpukan buku dan majalah di samping sofa.

Salah satu sampul majalah menarik perhatian. Kartun bergambar seorang perempuan bule berbikini dan berambut blonda, diapit dua perempuan berpakaian relijius hitam: sebelah kiri berjilbab dan bercadar, sebelah kanan berpakaian rapat ala suster Katolik. Tidak ada judul berita. Hanya tulisan The New Yorker warna putih.

The New Yorker. Ini lagi kesukaan Andreas, selain Bill Kovach. Ia mengenal majalah ini sejak kuliah di Salatiga, dan terpikat setelah membaca artikel berjudul The New Order katya Raymond Booner.

Keterpikatannya itu sempat dituliskannya dalam artikel Cermin Jakarta, Cermin New York yang diterbitkan majalah Pantau edisi Maret 2001.

Andreas menulis keterpikatannya begini: “Saya agak lupa berapa lama saya baca laporan Bonner. Semuanya 40 halaman tanpa foto. Tapi seingat saya, semalam suntuk saya pakai buat membacanya. Esok hari saya terlambat bangun. Dalam kantuk, saya perhatikan apa nama majalah yang memberi tempat buat artikel sedahsyat ini. Namanya ... The New Yorker.”

“Harold Ross mendirikan majalah The New Yorker sebagai majalah yang disebutnya ‘sophisticated’. Oplahnya sekarang 1,5 juta per minggu. Targetnya, orang sekolahan, yang suka seni, suka sastra, butuh informasi dan analisis mendalam.”

“Kalau anda mau tahu tren pemikiran di Amerika yang progresif, yang maju, bukan yang kuno, seharusnya baca ini. Saya suka membaca ini sampai hari ini karena untuk mencocokkan pikiran saja. Kalau saya mau tahu apakah analisis saya benar atau tidak, saya baca ini.”

Di salah satu kamar tidur terdapat rak buku. Saya tidak berani masuk. Dalam adat Jawa, tabu masuk kamar orang. Tapi saya mengira di antara dereta buku di sana terdapat buku-buku mengenai The New Yorker seperti yang ditulis Ben Yagoda.

Setelah beberapa hari mengenal Andreas dengan baik, buku Ben Yagoda berjudul About Town: The New Yorker and The World It Made. Saya fotokopi lengkap, hanya habis duit Rp 53.800. Lumayan.

Andreas masuk ke kamarnya. Di sana ada Norman, anaknya, sedang menata lemari plastik. Mereka bertegur sapa dalam bahasa Inggris.

Saya dan Mujidi dijamu kopi hangat oleh dua kerabatnya. Salah satunya adik Sapariah, istri Andreas. Saya lupa namanya. Tapi, Andreas memanggilnya ‘Ce’ (huruf e dibaca seperti kalau membaca huruf ‘c’ dalam bahasa Indonesia). Ada juga seorang perempuan tua. Kalau tidak salah, Mak Isah. Mereka beretnis Madura.

Kopi itu legit. Pas dengan suasana hujan di luar sana. Cangkir mug warna hijau yang saya pegang bertuliskan “Journalism is the closest thing I have to a religion”. Sebuah kalimat dari…Bill Kovach.

Mug merah yang dipegang Andreas juga sama. Hanya mug Mujidi yang bukan.

Senja mulai turun. Langit mendung. Kami memilih turun ke lantai dasar dan bercakap-cakap di dekat kolam, sembari melihat Norman berenang. Menyeruput kopi, bawa bacaan The New Yorker.

Andreas bercerita banyak hal. Ia menyukai reportase soal air dan konflik. Tidak dibayar pun, tak apalah, katanya. Riset dan reportasenya soal privatisasi PAM Jaya menjadi salah satu reportase ekonomi yang saya sukai. Judulnya: Dari Thames ke Ciliwung.

Ini soal bagaimana pemerintahan Soeharto membelah pengelolaan Ciliwung untuk air minum menjadi dua: untuk Suez (perusahaan Prancis) dan untuk Thames (perusahaan Inggris). Anak-anak Soeharto dan kroninya tentu saja dilibatkan.

Andreas sempat menunjukkan air yang merembes deras dari lantai dasar apartemennya. “Itu lihat besar sekali, dan bersih,” katanya, mengambil sejumput dengan tangannya dan meminumnya. Ia memperkirakan ada sumber mata air yang bersih di bawah lantai basement.

“Bukan rembesan air PAM yang bocor?” tanya saya.

“Bukan, saya kira bukan.”

Andreas membandingkan dengan kesulitan perusahaan air minum Jember dan Pontianak mengalirkan air bersih ke seluruh warga kota. Saya memang sempat bercerita soal Perusahaan Daerah Air Minum Jember yang baru bisa melayani 20 persen warga. Ini gara-gara Andreas menanyakan adanya sejumlah bekas luka di tangan saya pada hari pertama kursus.

“Kenapa itu?” tanyanya saat itu.

“Oh, alergi, air. Saya pakai air sumur. Di Jember sebagian besar warganya pakai air sumur. Kebetulan, kalau pas kemarau, airnya surut, dan buruk kualitasnya. Akhirnya ya begini…”

Andreas boleh bersyukur memperoleh air jernih di apartemennya. Saya menatap air di kolam renang. Bening. Norman bermain-main, tanpa perlu takut kena gatal-gatal.

***

NORMAN ANAK HASIL PERKAWINAN ANDREAS yang pertama. Sekarang kelas lima sekolah dasar, di salah satu sekolah internasional di Jakarta. Gandhi International School kalau saya tidak keliru.

Bapak-anak itu seperti kawan saja. Mereka saling adu kentut kalau di dalam kamar.

Saya jadi mengerti dan memahami kedekatan keduanya, setelah membaca tulisan Linda Christanty berjudul Sebentuk Cinta yang Tak Tergantikan. Linda menuliskannya sebagai bagian dari buku kecil yang menjadi undangan pernikahan Andreas dengan Sapariah.

Saya tidak kebagian undangan itu. Yang dapat undangan itu adalah Steven Lenakoly, kawan saya yang sekarang bekerja di detiksurabaya.com. Saat Andreas menikah, saya tidak banyak mengenal orang-orang Pantau. Saya hanya membaca tulisan-tulisan mereka.

Ada adegan yang saya sukai dari Sebentuk Cinta yang Tak Tergantikan. Linda menulis dialog dirinya dengan Andreas yang sedang patah hati karena dibohongi Norman.

“Rasanya sedih sekali dibohongi anak sendiri.” Suaranya serak.

“Bohong tentang apa? Kenapa dia sampai bohong?”

“Soal menonton film. Katanya dia belum sekalipun nonton film itu, padahal sudah tiga kali. Pekerjaan rumahnya belum selesai, jadi aku larang nonton. Dia kemudian bilang begitu. Dia sudah minta maaf. Tapi aku tetap sedih.”

“Mas, saya juga pernah berbohong pada orangtua. Kita semua pernah berbohong pada orangtua. Nggak baik memang. Tapi kemudian kita tidak lantas jadi orang jahat. Yang penting Mas bilang pada dia agar tidak melakukannya lagi,” kata saya.

“Iya, tadi kami juga nangis bersama. Lucu, ya?” Dia terisak.

Linda menjadi terharu. Saya sudah mengenal Andreas dan Norman. Saya melihat bagaimana Andreas bermain-main di kolam renang dengan Norman. Norman memeluk dan mengacak-acak rambut papanya di ruang kelas.

Saya baca surat Norman untuk Andreas dalam bahasa Inggris, yang ditulis dengan huruf cakar ayam. Surat itu dibingkai dengan pigura kecil dan digantung di dinding dekat meja kerja Andreas.

Dalam surat itu, Norman berterima kasih kepada Andreas karena telah menjadi ayah terbaik di dunia.

Saya bisa membayangkan keharuan Linda. Saya juga mendadak haru ingat anak saya, Neo. (Damn! Rasanya saya tidak sedang mengikuti sebuah pelatihan jurnalistik, tapi sedang mencari banyak kawan baru, menemui banyak manusia baru).

Andreas menjelaskan, dirinya mengajak Norman bercakap-cakap dengan bahasa Inggris, sejak Norman bayi. Tapi Norman bisa berbahasa Indonesia dengan bagus.

“Nggak nambah lagi, Mas?” tanya saya. Maksud saya, menambah jumlah anak.

“Nunggu keuangan stabil.”

Andreas bercerita, saat ini ia membiayai dua rumah: Sapariah dan mantan istrinya. Ia sedang berupaya agar hak asuh Norman jatuh ke tangannya. Perjuangan yang berat. “Hukum Indonesia diskriminatif terhadap sosok ayah,” katanya.

Saya tahu perselisihan rumah tangga Andreas dari blognya. Saya bilang, saya segan membaca posting tulisan soal perselisihan itu. Saya tak ingin banyak ikut campur urusan pribadi orang.

Andreas mengatakan, persoalannya, mantan istrinya, dan Norman, bukan persoalan privat, tapi sudah masuk ruang publik. “Kalau Anda bertengkar dengan istri Anda gara-gara salah pilih jalan waktu pergi ke mana, itu privat. Tapi kalau ada kekerasan, itu publik.”

“Selama konflik itu bisa diselesaikan dengan cara-cara yang beradab, maka itu masih ruang privat.”

“Saya lupa angkanya. Tapi Unicef pernah mengadakan penelitian di beberapa kota di Indonesia. Sebagian besar child abuse dilakukan oleh orang terdekat: ayah, ibu, paman.”

Dalam kasus Norman, Andreas memandang anaknya tertekan bila bersama sang ibu. Mantan istri Andreas digambarkan sebagai tipe perempuan Jawa yang keras. Saya tidak pernah bertemu dengannya. Tapi dalam blog Andreas ada cerita soal bagaimana dia memaki-maki mantan suaminya itu.

Ibu Norman tak banyak mengerti mengenai anaknya sendiri, termasuk soal asma yang diderita Norman. Ia tidak percaya jika Norman mudah terkena asma, terutama dengan udara Jakarta yang terpolusi.

Norman cukup cerdas untuk menyadari ketertindasannya. Andreas becerita soal intelijensia Norman yang di atas rata-rata. “Dia browsing internet cari tahu soal asma sendiri,” katanya.

Andreas punya kartu truf untuk memenangkan hak asuh Norman. Komisi Perlindungan Anak beberapa kali mewawancarai Norman, dan mengetahui adanya kecenderungan anak itu untuk lebih suka tinggal dengan dirinya. Dalam beberapa kali tes psikologi, ditemukan hasil yang sama mengenai ketidaknyamanan Norman bersama ibunya.

Norman juga sudah membuat pernyataan hitam di atas putih, soal ketidaknyamanannya selama ini bersama ibunya.

Suatu kali, Norman pernah berdoa dan ditanya oleh Andreas tentang isi doanya.

“Aku berdoa kita menang di pengadilan,” kata Norman.

Andreas lempang saja bercerita soal perkawinan pertamanya. “Saya sebenarnya sudah diingatkan beberapa kawan sebelum menikahi dia. Beberapa tukang dokar di Salatiga juga sudah mengingatkan saya. Keluarganya priyayi kecil.”

***

TENGKAR TERUS. TENGKAR TERUS. Bercerailah mereka. Habis perkara.

Dari bagi hasil gono-gini, Andreas punya modal untuk berpetualang menjelajahi Indonesia. Ia selalu menyebutnya Indopahit atau Mojopahit. Ia mewawancarai banyak orang selama tiga tahun. Di Papua. Aceh. Maluku. Borneo. Timor. Jawa. Sulawesi.

Andreas ingin menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia adalah mitos. Mulanya ia pakai modal sendiri. Lalu turun kucuran duit dari Ford Foundation. Total jenderal, ia habis duit hampir setengah miliar rupiah.

Kini, reportase perjalanan itu sudah selesai ditulis dan tinggal diterbitkan. Andreas menyebutnya a political travelogue. Judulnya: “From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism.”

Calon penerbitnya adalah penerbit kecil di Denmark. Andreas pernah disarankan untuk mencari penerbit lain yang memiliki area distribusi lebih luas. Ia menolak. “Saya memang belum bikin kontrak hitam di atas putih. Tapi sudah terlanjur ngomong, bikin gentlement agreement. Masa gara-gara dia penerbit kecil, lalu ditinggal.”

“Saya sudah capek lihat orang mati, dibunuh.”

Di Aceh, ada seorang petani mati dalam pelukannya, setelah ditabrak mobil tentara. Represi yang dilakukan Jakarta membuat Andreas yakin, hari ini Aceh dan Papua siap merdeka.

Dalam kelas jurnalisme sastrawi, Andreas mengaku sempat bertemu Gubernur Aceh Irwandi Yusuf tempo hari. “Ngomongnya masih bangsa Aceh, bangsa Aceh, bangsa Aceh.”

Konflik adalah tambang bagi reportase naratif. Konflik apapun, apalagi konflik etnis dan agama seperti di Indonesia. Reportase naratif pula yang bisa mendinginkan konflik yang sedang panas.

Dalam kelas, Andreas mencontohkan tulisan Alfian Hamzah, Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan. Artikel itu mengisahkan pengalaman tentara Indonesia di Aceh. Alfian melakukan immersion reporting, mengikuti gerak tentara Batalyon Infantri Dadaha Yodha selama dua bulan.

Suatu saat, Andreas pernah bertemu dengan beberapa orang GAM di Aceh. Mereka bilang menyukai artikel itu. “Abang ini pimpinannya si Alfian?”

Kantor Pantau pernah didatangi seorang opsir berpangkat kolonel. “Jenderal minta dikirimi majalah yang ada artikel itu.”

“Baik, butuh berapa?” Andreas berpikir sang jenderal hanya butuh barang 10 eksemplar.

“500 eksemplar.”

“Waah, ya nggak ada, Pak.” Andreas menceritakan kisah itu lagi kepada saya, sembari tertawa.

Artikel Alfian pernah menjadi bahan diskusi di milis Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Yang dijadikan bahan diskusi bukan isi artikelnya, melainkan teknis senjata yang diceritakan dalam artikel tersebut.

Reportase yang baik tidak akan menimbulkan kemarahan banyak orang. Kuncinya jadilah wartawan. “Anda bisa punya background muslim, Jawa, atau apapun. Tapi di lapangan, jadilah wartawan.”

Wawancara adalah kunci. “Wawancara yang bagus adalah saat kita tidak memperlihatkan asumsi apapun. Anda perlu suatu saat ikut wawancara dengan saya,” kata Andreas.

Andreas mengkritik kebiasaan wartawan Indonesia, terutama televisi, saat melakukan wawancara. Di Indonesia, wartawan kadang lebih banyak bicara ketimbang narasumber yang diwawancarai.

“Dalam wawancara Anda juga harus siap, agar sumber lebih menghargai Anda,” kata Andreas.

Ia pernah tanya kepada Yusril Ihza Mahendra, saat itu Menteri Sekretaris Negara, soal sikapnya yang sinis saat menghadapi wartawan. Ternyata sikap meremehkan Yusril dikarenakan sebagian besar wartawan yang mewawancarainya cenderung tidak siap.

Andreas mengaku tidak pernah bermasalah gara-gara tulisannya. Tulisan berjudul A Lobbying Bonanza menyebut Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati Sukarnoputri, terlibat dalam lobi ke Washington untuk memperbaiki hubungan baik dengan Amerika, dan membuka embargo militer sejak tahun 1991.

Tulisan itu dirangkum menjadi satu oleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) dalam buku Collateral Damage. Sebagian hasil reportase mengenai hal itu ditulis Fahri Salam dan sudah dimuat di www.pantau.or.id., dengan judul yang lumayan menohok: Jaringan Kiemas Terlibat Lobi Washington

Alinea awal artikel itu dengan jelas menyebut:

Taufik Kiemas minta beberapa pengusaha Jakarta menyumbang uang ke yayasannya guna melobi Kongres Amerika. Uang tersebut dikumpulkan pengusaha Yohanes Hardian Widjonarko dan ditaruh dalam rekening Yayasan Kawula Alit Nusantara, yayasan yang dibentuk Kiemas.

Tidak ada gugatan. Aman-aman saja tuh.

Yang ada, The Jakarta Post malah ketakutan memuat tulisannya. Salah satu artikelnya berjudul Murder at Mile 63, urung dimuat di media tersebut.

Artikel ini ditulis Andreas bareng S. Eben Kirksey, Visiting Professor di Deep Springs College, California. Ada tiga seri. Saya kopi lengkap dari blog Andreas. Artikel ini bercerita soal keterlibatan militer dalam pembunuhan tiga guru Freeport berkebangsaan Amerika Serikat di Timika pada tahun 2002.

Reportase itu didasarkan pada dokumen di kepolisian, catatan pengadilan, dan keterangan saksi mata, serta wawancara ekslusif dengan Antonius Wamang yang didakwa melakukan pembunuhan itu.

Menurut Andreas, Eben melakukan riset dan interview selama 17 bulan di Timika dan Jayapura. “Naskah ini intinya mempertanyakan kejanggalan-kejanggalan dalam proses penangkapan, pengadilan dan penghukuman Antonius Wamang dan kawan-kawan. Kini Wamang dan lima rekannya dipenjara di lembaga pemasyarakatan Cipinang, Jakarta,” tulisnya dalam blog.

The Jakarta Post berminat menerbitkan artikel ini untuk edisi Minggu. Andreas bekerja keras menyunting ulang dengan mengurangi jumlah kata dari 8.000 menjadi 6.000 kata agar bisa masuk dua halaman koran itu. “Saya juga menemani layout-nya dan memberi caption foto. Saya ikut proses layout selama tiga jam,” katanya kepada saya.

Tapi, keesokan harinya, kabar buruk datang. Dalam blognya, Andreas bercerita:

“Ati Nurbaiti, redaktur pelaksana, menelepon saya dan bilang naskah saya ‘Murder at Mile 63’ takkan dimuat hari Minggu. Ati bilang ada sumber-sumber militer yang tak diwawancarai. Misalnya, Sersan Puji dan Kopassus. Ati juga bilang Rabu lalu, ketika mengatur tata letak halaman ini, dia tak sadar bahwa halamannya “terlalu grey” –terlalu banyak teks dan kurang gambar.”

”Tidak kecewa, Mas? Kalau saya, bisa kecewa berat,” kata saya.

“Mau bagaimana lagi? Anda mungkin belum banyak mengalami kekecewaan.”

Tapi, dalam blog-nya, Andreas menulis:

“Saya menghibur diri dengan berpikir beberapa naskah saya yang ditolak media Jakarta, pada gilirannya, dimuat media internasional dan saya menang penghargaan disana. Mudah-mudahan "Murder at Mile 63" ini akan mengikuti kakak-kakaknya.”

Dan, Andreas tak perlu kecewa terlalu lama. Saat saya di apartemennya, ia mencetak surat elektronik dari Gerry Van Klinken. Van Klinken adalah Indonesianis KITLV Leiden. Ia editor majalah Inside Indonesia di Australia.

Van Klinken berhubungan baik dengan Pantau. Ia pernah memberikan materi dalam acara tentang konflik etnis di kantor Pantau, 27 Juli lalu.

“Van Klinken memberikan materi bagaimana kita merekonstruksi konflik etnis melalui pemilahan dokumen. Wartawan kan biasanya suka bingung kalau sudah menghadapi tumpukan dokumen,” kata Dayu Pratiwi, staf Pantau, kepada saya.

Van Klinken mengedit Murder at Mile 63. Andreas menunjukkan hasil editan itu. “Mau tahu bagaimana suatu editan?”

Koreksi dari Van Klinken cukup banyak. Tapi rata-rata hanya masalah tanda baca. Sepintas tidak ada yangs substansial. Menurut Andreas, ia jarang diminta mengubah struktur tulisan. Tidak pernah malah.

Namun, Andreas sempat menelpon Santi, juru bicara PT. Freeport Indonesia. Ia hendak menanyakan nama rumah sakit tempat sembilan korban yang selamat dari peristiwa berdarah itu dibawa. “Saya dalam tulisan itu hanya menyebut rumah sakit di Timika.”

Santi ternyata tidak bisa menjawab. “Dia bilang wah saya nggak tahu, Mas. Saya nggak berani njawab, entar salah,” Andreas menirukan ucapan si jubir.

Sebuah tulisan panjang memang harus disunting dengan teliti. Tulisan itu sebaiknya dikembalikan ke penulis setelah disunting. Penulis harus tahu hasil suntingan editor. “Karena bisa saja maksud sang editor tak sama dengan sang penulis, atau sang editor menambahkan sesuatu yang bertentangan dengan penulis.”

Artikel reportase terbaik abad 20, Hiroshima karya John Hersey dari The New Yorker, harus mengalami penyuntingan berkali-kali sebelum dimuat. Hersey menuliskan laporan tentang penduduk yang kena bom atom Amerika itu sepanjang 150 halaman atau 30 ribu kata, selama sebulan lebih.

William Shawn dan Harold Ross menyunting artikel itu bersama-sama. Selama sepuluh hari mereka mengurung diri dalam ruang kerja. Tidak boleh ada yang mengganggu. Hasil editing pertama, Ross memberikan 47 pertanyaan. Jumlah pertanyaan turun menjadi 26 poin pada hasil penyuntingan kedua, dan turun lagi menjadi enam pada revisi kedua.

Menurut Andreas, penyuntingan Hiroshima begitu ketat. “Mereka tidak saja mengajukan pertanyaan, tapi juga meneliti titik kecil tiap fakta, clarity, konsistensi diksi, tata bahasa atau logika; beberapa agak edan tapi banyak komentar yang lucu,” katanya.

Selain menunjukkan hasil penyuntingan dari Van Klinken, Andreas menunjukkan dua buah bundel dokumen yang digunakannya untuk menulis Murder at Mile 63. Ada berita acara pemeriksaan (BAP) kepolisian, yang saya tahu sulit untuk dikeluarkan bagi umum.

Tidak semua wartawan bisa mengakses BAP kejahatan biasa. Tapi Andreas menunjukkan BAP sebuah perkara yang menghebohkan secara nasional. “Kalau hubungan Anda dengan narasumber di kepolisian baik, tentu bisa,” katanya.

***

SOAL NARASUMBER, SAYA SEMPAT MENANYAKAN kemampuan Andreas dan Pantau mengakses narasumber yang berseberangan secara ideologis. “Bagaimana dengan kelompok Islam fundamentalis?”

“Habib Riziq. Saya bisa berhubungan dengan dia. Abu Bakar Ba’asyir malah suka dengan Pantau. Dulu pernah santri Ba’asyir menelpon saya dan minta dikirimi majalah Pantau, yang ada laporan Budiman S. Hartojo, Tiga Malam Menyusup di ‘Sarang Teroris’. Untuk hubungan baik, saya mengirimkannya.”

Budiman selama tiga malam tinggal di Pondok Pesantren Ngruki yang diasuh Ba’asyir. Ia dan mencatat semua aktivitas di sana. Tulisan sepanjang 9.672 kata itu memaparkan sisi manusiawi pondok yang dituduh tempat mendidik teroris oleh Amerika Serikat, dan dimuat dalam Pantau edisi Juli 2002.

Andreas belakangan tahu majalah Pantau ditunjukkan Ba’asyir saat diwawancarai salah satu stasiun televisi. “Nah, ini yang betul,” kata Ba’asyir sembari menunjukkan artikel Budiman tersebut, menurut Andreas.

Andreas memegang teguh prinsip independensi yang diajarkan Kovach. Menurutnya, wartawan harus independen terhadap narasumber mana pun.

Saat ada wartawan salah satu televisi bikin liputan menyudutkan Pantau, dengan mengatakan yayasan itu terkait dengan Central Intelligence of America (CIA), ia hanya ketawa.

Menurut dia, itu gara-gara ada undangan makan-makan dari Duta Besar Amerika Serikat yang baru. Sebenarnya, sudah sejak lama Andreas tidak diundang oleh Kedutaan Amerika, karena sering mengkritisi kelakuan jenggo negara itu. Entah kenapa, tempo hari Andreas mendapat undangan lagi.

Andreas batal hadir dalam acara itu karena ada acara sendiri dengan Norman. Entah bagaimana kemudian wartawan televisi itu (saya lupa namanya) mengaitkan Pantau dengan CIA.

Soal prinsip independensi ini, ada cerita.

Suatu saat, Endy S. Bayuni, pemimpin redaksi The Jakarta Post, menanyakan tulisan Andreas tentang Yayasan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menjadi perantara untuk menghapus embargo militer Amerika. Tulisan ini masih terkait erat dengan artikel A Lobbying Bonanza.

Artikel berjudul Jakarta’s Intelligence Service Hires Washington Lobbyists ini maunya dimuat di The Jakarta Post. Tapi Bayuni malah penasaran.

“Ndre, kamu berani menyakiti Gus Dur?”

“Memangnya kenapa?”

“Gus Dur kan satu-satunya orang yang berani menghadapi kaum fundamentalis.”

“So What?”

The Jakarta Post urung memuat artikel itu. Associated Press justru yang mencetaknya. Lucunya, dari AP, berita itu kemudian justru masuk ke Indonesia dan dikutip oleh berbagai media massa, termasuk The Jakarta Post.

Cilakaknya, penayangan berita itu di media massa Indonesia justru menimbulkan masalah, karena banyak yang salah sebut. Gus Dur Foundation disamakan dengan Wahid Institute.

Suara Pembaruan mencetak berita itu dengan judul: BIN Gunakan Wahid Institut Lobi Kongres AS. Dalam blognya, Andreas menyebut Suara Pembaruan membuat kesalahan paling serius.

Tapi kekacauan sudah terlanjur terjadi. Gus Dur terpaksa membantah sana-sini. “Bahkan, ia menangis minta maaf saat bertemu Suciwati,” kata Andreas.

***

DI MANAKAH BATAS seorang jurnalis bisa dikatakan independen itu? “Sangat tergantung si wartawan. Bill Kovach pernah bilang, sesorang disebut independen kalau sudah bisa menulis tentang keluarganya sendiri.”

Di depan ruang kelas, Andreas mengkritik para wartawan tua yang tidak bisa memberi contoh bagus soal independensi. August Parengkuan, Goenawan Mohamad, semua ikut partai. “Wartawan di sini belum-belum sudah ikut partai, jadi tim sukses, jadi ini, jadi itu,” katanya.

“Saya tidak menyarankan Anda ikut LSM, atau organisasi-organisasi lain. Tapi kalau jadi ketua RT boleh nggak ya? Nanti kalau ada masalah di kampungnya, jadi repot juga,” kata Andreas.

Andreas pernah bikin kejutan saat menulis Hoakiao dari Jember. “Gila lo ya, Ndre. Bapak lo, lo beginikan,” kata salah satu koleganya, saat membaca artikel itu. Andreas memang menulis kebiasaan ayahnya yang menjadi womanizer. Tukang kawin.

Andreas bisa saja menunjukkan independensinya melalui Hoakiao dari Jember. Tapi dalam jurnalisme Indonesia, independensi bukan soal gampang.

Sejumlah peserta kursus jurnalisme sastrawi dan pekerja pers alumnus Universitas Diponegoro Semarang sempat kongko-kongko di apartemen Andreas, Senin malam (17/12). Ada Heidy Lugito. Andreas menyebutnya ‘pemimpin redaksi’ majalah Gatra. Ini majalah yang dimodali Bob Hasan, kroni Suharto yang sempat masuk Nusakambangan.

Lugito cerita soal sulitnya urusan jurnalisme jika sudah berbenturan dengan pemasang iklan. Gatra pernah menulis keras soal Temasek yang dianggap memonopoli sambungan telpon seluler. Hasilnya dua perusahaan kartu seluler terbesar di bawah Temasek menarik ulur pemasangan iklan di Gatra. Lugito sempat dag dig dug juga.

“Hari ini media massa tidak takut dengan presiden, dengan tentara, dengan kekuasaan. Media takut kepada kepentingan modal,” kata Lugito.

Repotnya, 90 persen media massa Indonesia dikangkangi oleh modal dari konglomerasi yang bergerak di sektor ekonomi lain. Tanpa duit segelintir orang kaya ini, sebuah media bisa tinggal nama.

Lugito meminta para wartawan muda melakukan perlawanan kecil-kecilan jika ada intervensi terlalu jauh dari pemodal ke ruang redaksi. Tidak ada kesimpulan dalam kongko-kongko sersan (serius tapi santai, soalnya ditemani lontong sate yang enyaak) malam itu.


***

AZAN MAGRIB TERDENGAR. Lampu di sekitar kolam renang belum lagi dinyalakan. Masih gerimis sedikit. Norman masih berenang. Senang sekali dia. “Mau salat? Di atas atau bawah sini saja?” Ia menawari saya kembali ke apartemennya.

“Sini saja.”

“Saya akan cari koran dulu.” Andreas berdiri mencari penjaga. Koran bisa digunakan untuk sajadah, alas salat.

Saya menoleh ke Norman. “Norman, is it cold?”

Norman menoleh. “No,” ia menyelam kembali ke kolam yang lebih kecil.

Andreas menunjukkan tempat untuk mengambil air wudu. Ia menunjuk fitness gym yang berkarpet sebagai tempat salat. “Ke sana,” ia melambaikan tangan ke barat, arah kiblat.

Saya salat duluan tanpa alas. Mujidi datang belakangan dengan membawa sajadah. “Sudah selesai, Bang?”

Saya kembali ke kolam dan melihat Andreas sudah bercelana renang. Ia menceburkan diri ke kolam. Lampu sudah dinyalakan. Temaram. “Wooooww, it’s cold,” teriaknya.

Saya tertawa. Siapa lagi suruh magrib-magrib habis hujan nyebur ke kolam?

Bapak-anak itu berenang sekitar sepuluh menit. Kami lantas kembali ke apartemen.

Andreas lebih segar setelah berenang. Matanya sedikit merah. Kena air mungkin.

Ia kembali menekankan pentingnya saya dan Mujidi menulis soal konflik di daerah masing-masing. Pontianak kaya konflik etnik. Di Jember, ada baiknya menulis soal pembantaian 1965. “Saat itu Kali Jompo merah,” katanya.

Dalam Hoakiao dari Jember, ia menulis: “Di Jember, belasan orang mengatakan pada saya bahwa mereka sering melihat mayat mengapung di sungai. Banyak mayat tanpa kepala.”

Namun ada syarat yang harus dipahami sebelum menuliskan narasi konflik itu. “Kalian harus banyak membaca buku sejarah,” katanya.

Riset adalah kunci. Riset yang baik akan membuat sebuah narasi memiliki relevansi dan kontekstualisasi.

Saya katakan, saya ingin menulis narasi soal Bonek. Bonek, singkatan dari Bondo Nekat (model nekat), sebutan untuk suporter kesebelasan Persatuan Sepakbola Surabaya. Andreas tersenyum. Ia mendengarkan. (Ini yang saya sukai dari Andreas: ia pendengar yang baik. Tak peduli lawan bicaranya masih reporter kurcaci)

“Saya mangkel sama pengamat-pengamat sosial itu. Mereka bilang Bonek adalah akibat frustasi sosial. Masyarakat bawah yang tertindas. Padahal Bonek beragam: ada guru, ada PNS. Yang mati di Jogja dulu adalah satpam (namanya Suhermansyah, saya ingat).”

“Saya tahu betul soal Bonek. Saya pernah bersama mereka. Nonton bola sama-sama. Ke Jakarta sama-sama.”

“Makanya, tidak usah percaya pengamat,” Andreas menanggapi.

“Belum ada orang di Indonesia yang menulis soal suporter sepakbola dengan bagus. Padahal, kalau mau ngomong konflik di Indonesia, sepakbola adalah salah satunya. Ada fenomena menarik. Dulu suporter Surabaya bermusuhan dengan suporter Bandung. Tapi sekarang keduanya bersatu untuk menghadapi suporter Jakarta.”

Andreas mendadak seperti tertarik dengan penjelasan saya. “Sepakbola itu politik,” katanya.

Ia menyarankan agar saya membaca buku-buku tentang hubungan etnis Jawa – Sunda. Ia tampaknya senang saya punya ide liputan narasi seperti itu.

Menurut Andreas, selama beratus-ratus tahun hubungan etnis Jawa dan Sunda sebenarnya diwarnai prasangka. Di daerah Jawa Barat tidak dijumpai jalan bernama Mojopahit. Di daerah Jawa, hampir tidak dijumpai jalan bernama Pajajaran. Saya katakan hampir, karena di Jember ada jalan Pajajaran. Saya tidak tahu bagaimana dengan kota lainnya di Jawa Timur.

Hubungan antara suporter Bandung dan Surabaya menarik untuk ditelaah. Ada apa? Apakah ini menunjukkan bahwa Jawa dan Sunda bisa berdamai saat menghadapi Jakarta? “Tunggu dulu. Ini fenomena beberapa tahun belakangan. Bagaimana dengan fenomena selama beratus-ratus tahun lalu,” kata Andreas.

Andreas mengingatkan, masih adanya prasangka antara Jawa – Sunda, terutama dalam hal perkawinan. Bagaimana dengan fakta itu?

Saya agak terkejut juga dengan usulan Andreas. Saya tidak pernah membayangkan cakupan reportase saya akan seluas itu. Terbayang di benak saya, harus ke Bandung, Jakarta, Surabaya. Keliling-keliling. Aduh, butuh dana berapa banyak?

Saya sebenarnya tidak hendak menulis seserius itu. Saya hanya ingin mengurai struktur dan anatomi Bonek. Saya ingin membuktikan bahwa analisis para pakar sosial soal Bonek adalah salah. Selain itu saya ingin membuktikan tudingan bahwa perilaku anarkis hanyalah milik Bonek adalah salah besar.

Saya senang Andreas mau meminjamkan buku Richard Lloyd Parry, In The Time of Madness. Parry telah tinggal selama sepuluh tahun di Tokyo sebagai koresponden The Independent, dan sekarang The Times. Ia telah meliput di 24 negara, dan menulis pula untuk Granta, the London Review of Books, dan the New York Times Magazine.

Buku In The Time of Madness adalah buku Parry yang mengisahkan perjalanannya meliput konflik selama tiga tahun di Kalimantan, Jawa, dan Timor Timur. Buku ini dipuji sebagai buku laporan perjalanan ke jantung kegelapan, dan menampilkan gaya bertutur (storytelling) ala Conrad, Orwell, dan Ryszard Kapuscinski.

Buku ini langsung saya fotokopi. Saya memang butuh contoh dan referensi tulisan travelogue. Sebelumnya, saya sudah pesan ke Dayu untuk memfotokopi beberapa artikel dari The New Yorker dan majalah lain sebagai referensi model tulisan.

Salah satunya The Soccer War, karya Kapuscinski. Ini cerita soal dua negara di Amerika Latin yang berperang gara-gara sepakbola. Ini contoh bagus untuk rencana narasi saya.

Mujidi dipinjami satu bundel fotokopi penelitian Jimmy Davidson soal Kalimantan. “Saya kira Anda akan menjadi orang pertama yang membacanya di Pontianak,” kata Andreas kepada Mujidi.

Menurut Andreas, penelitian Davidson penting untuk memahami konflik di Kalimantan. “Ini mau diterbitkan, harganya sekitar Rp 1,5 juta per buku,” katanya.

Andreas mengajak kami ke luar makan sate, sekalian pulang. “Tapi sebentar ya, nonton acara ini selesai dulu. Saya senang sekali acara ini,” katanya, menunjuk televisi di depannya.

Saya tidak tahu Andreas sedang nonton apa. Kanalnya saja saya tidak tahu. Yang jelas, ini tontonan berbahasa Inggris tentang kehidupan di Las Vegas.

Andreas di depan ruang kelas suatu kali mengatakan, tidak pernah lagi menonton siaran stasiun televisi Indonesia dan berlangganan koran nasional. “Demi kepuasan batin saya,” katanya.

Saat ini, ia hanya berlangganan The Jakarta Post. Istrinya berlangganan Bisnis Indonesia. Televisi yang ditonton CNN atau BBC. Ia tidak suka dengan sinetron Indonesia. Kebetulan di televisi sempat ada tayangan sinetron Indonesia yang mempertontonkan adegan di rumah mewah. Andreas menganggapnya tidak membumi.

Kami turun dari apartemen. Andreas menyapa banyak orang di sepanjang jalan: petugas keamanan apartemen yang bertampang Papua, tukang ojek di pinggir jalan, pedagang kaki lima. “Saya tinggal di sini empat tahun,” katanya, mengingatkan.

Di warung sate Madura, ia memesan masing-masing sepuluh tusuk sate dengan bumbu kacang. Kami meneruskan diskusi.

Andreas mengecam pemikiran salah satu budayawan Jember yang cukup terkenal, Ayu Sutarto. Tulisan-tulisan Sutarto dinilai tidak memiliki basis keilmuan yang kuat, dan memiliki bias etnisitas juga. Ada unsur fasisnya.

Saya terkejut. Saya mengenal baik Sutarto. Artikel-artikel esainya memang sering dimuat di Harian Radar Jember, koran kelompok Jawa Pos. Ia sering bangga, karena artikel esainya dibaca masyarakat. Saya katakan, belum menemukan unsur fasis itu dalam tulisan Sutarto.

“Berarti Anda perlu membaca lagi ilmu-ilmu dasar soal marxisme, neoliberalisme, dan banyak lagi. Saya dulu sempat dimintai tolong dia untuk mencari funding, tapi saya tidak mau,” kata Andreas.

Sangat penting bagi seorang wartawan untuk bisa menganalisis sesuatu secara cermat dan tepat. Ia memuji James Nachtwey yang disebutnya punya kemampuan bagus dalam menganalisis.

Nachtwey adalah fotografer spesialis perang dan konflik. Dia ada di manapun ada konflik di dunia. “Saya sempat bertemu Nachtwey di Jakarta beberapa hari lalu. Kita jadi bertanya-tanya, ada apa nih, kok Nachtwey di sini? Jangan-jangan ada…ngeri nggak?” kata Andreas.

Nachtwey seorang yang pendiam. Dia seperti pemburu. Suka main game di ponselnya. Kalau ada kejadian, dia cepat bergerak. Salah satu foto fenomenalnya adalah pembunuhan seorang Ambon di Ketapang, Jakarta, oleh massa.

Kadang wartawan bisa terbantu dengan kehadiran narasumber yang pandai menganalisis politik. Kapuscinsky berhasil menjadi wartawan asing pertama yang meliput perang Honduras dan El Salvador karena Luis Suarez. Dengan hanya menganalisis pertandingan sepakbola kualifikasi pra piala dunia, Suarez meramalkan bakal pecah perang.

Di kelas narasi, Andreas bercerita, dirinya pernah terbantu oleh ketepatan ramalan dan analisis seseorang mengenai jatuhnya Presiden Suharto. Desember 1997, kawan Andreas itu memperkirakan Suharto bakal jatuh pada Maret 1998. Indikasinya tepat semua. Suharto akhirnya jatuh pada bulan Mei.

“Orang yang bisa menganalisis dengan tepat itu adalah Rahman Tolleng,” kata Andreas, menyebut nama seorang mantan aktivis 66 yang berasal dari kelompok sosialis.

***

SUATU KETIKA, ANDREAS PERNAH BERTANYA kepada saya: apa manfaat yang saya ambil dari kursus jurnalisme sastrawi.

Ini bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Yang jelas, saya sangat bersyukur bisa mengikuti kursus ini. “Saya mecah celengan untuk biaya ke Jakarta dan tinggal di sini selama dua minggu.”

Andreas mengatakan, Linda Chistanty-lah yang mengusulkan nama saya untuk menerima beasiswa. “Waktu saya telpon Anda, Linda ada di depan saya,” katanya.

Saya tidak pernah bertemu Linda. Selama ini, kami hanya saling sapa lewat ponsel. Dari nada bicaranya, ia terdengar seperti ceriwis. Tipe orang yang blak-blakan.

Kami sempat saling lempar pesan pendek, saat hari pertama kursus.

Linda : Tidak apa-apa. Cuma mau nanya. Apa kursusnya menyenangkan?

Saya : Sangat menyenangkan. Trima ksh banyak atas ksmpatnya. Sya benernya ingin ktemu mbak linda. Ngobrol. Narasi keluarga bikinan sya sdh sekian persen jadi. Butuh kritik hbis dari mbak.

Linda : Terima ksh jg Oryza sdh senang ikut kursus. Kirim aja narasi itu. Nanti aku akan baca dan beri pendapat utk Oryza. Semoga Oryza semangat terus.

Di depan kelas, Andreas menceritakan sosok Linda yang keranjingan kebersihan. Di Pantau, kata Andreas, dirinya dan Linda adalah sosok orang aneh.

“Linda tidak tahan kekotoran. Saya tidak bisa tinggal di hutan. Saya alergi asap rokok, tidak bisa kena lintah. Saya bisa mati dua bulan di hutan.”

Linda lebih ekstrim. “Linda pernah saya komplain gara-gara membeli tisu basah hampir setengah juta dalam satu bulan, pakai uang kantor.”

“Buat apa? Bersihin lantai. Tisu basah buat bersihin lantai. Agak sakit orangnya ini. Sangat bersih. Kalau tidur di suatu tempat, sprei-nya diganti. Meja-meja debu dibersihin semua.”

“Selesai makan, semua dibungkus di tempat tisu, lalu piring dilap dengan tisu basah.”

Sosok Linda dan Andreas menyadarkan saya, bahwa setiap reporter dan penulis hebat selalu punya kelemahan dan kelebihan.

Selama ini yang selalu tertanam dalam benak saya, seorang reporter yang hebat adalah reporter yang sanggup bertarung dan bertahan di lapangan. Kalau mau contoh, kira-kira seperti Alfian. Reporter at war, bahasa kerennya.

“Yang terpenting adalah memanfaatkan kelemahan Anda menjadi kelebihan. Dan selalu rendah hati,” kata Andreas.

Dalam artikel Orang-Orang Tiro, menurut Andreas, Linda hanya tinggal semalam untuk bertemu dengan para narasumbernya. Tapi Linda sudah memiliki pemahaman yang kuat soal Gerakan Aceh Merdeka dan tokoh-tokohnya sebelum berangkat. Ia sudah punya struktur cerita.

Sementara Andreas menuliskan Republik Indonesia Kilometer Nol sebagai travelogue atau laporan perjalanan. Ia memperkuat kelemahannya dengan referensi pustaka yang bagus.

Bertemu dengan Andreas Harsono, Janet Steele, dan semua orang dalam kursus ini membuat saya semakin memahami diri saya sendiri.

Suatu kali, Andreas pernah berkata kepada saya, “Anda berbakat. Kalau Anda bisa menulis bagus, Anda tidak akan pernah kehabisan pekerjaan.”

“Linda menyebut anda berbakat dan perlu diberi kesempatan (ikut kursus jurnalisme sastrawi),” kata Andreas saat pertama kali menelpon saya.

Janet Steele menuliskan kalimat pujian saat menandatangani buku Wars Within untuk saya: “Bagi Mas Oryza, salah satu ‘wartawan terbaik’ di Suara Indonesia, dan salah satu peserta terbaik di kursus jurnalisme sastrawi.”

Berbakatkah saya? Cukup baguskah saya sebagai jurnalis? Sejak sekolah dasar, saya menyukai pelajaran mengarang, karena saat menulis saya merasa sedang becerita kepada orang lain.

Saat kawan-kawan saya bingung mengerjakan tugas mengarang, saya selalu bisa membayangkan apa yang saya tulis bakal berbunyi seperti saya mendongengkan sesuatu.

Saya tidak tahu apakah itu yang disebut bakat. Namun selama dua pekan di Jakarta, saya semakin disadarkan bahwa bakat tidaklah cukup. Terpenting adalah kerja keras. Kerja keras untuk mengubah kelemahan saya menjadi kekuatan. Rendah hati adalah kunci.

Dan, Pantau telah memberikan saya semua peralatan untuk berburu, menemukan kekuatan saya sendiri: teknik wawancara, teknik pembuatan struktur tulisan, sembilan elemen jurnalisme, immersion reporting, engine, semuanya adalah senjata saya kelak sebagai reporter dan penulis.

Dalam kereta api menuju Surabaya, saya melayangkan pesan pendek untuk dua orang yang sudah saya anggap sebagai mentor. Saya berterima kasih diberi kesempatan untuk belajar dan mengikuti kursus jurnalisme sastrawi.

“Kursus JS menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidup saya.”

Andreas menjawab: “Kami baru tiba di Jakarta malam ini. Norman dan Keke belajar jalan dalam hutan. Senang bisa kenal sampeyan. Selamat berlibur.”

Dari Linda: “Sama-sama, Oryza. Aku harap Oryza tidak hanya makin baik dan sering nulis untuk Pantau, tapi juga semoga ilmu itu berguna untuk Oryza menulis di media apa pun dan bahkan, kalau nanti nulis buku. Teknik meliput, menulis, maupun elemen-elemen Kovach jangan dilupakan ya. Hati-hati di jalan dan sukses terus.”

Tabik. (*)


Tulisan ini adalah pengalaman acak saya selama mengikuti kursus jurnalisme sastrawi XIV, 10 – 21 Desember 2007. Tulisan ini saya buat sebagai bentuk pertanggungjawaban moral saya kepada para mentor saya: Andreas Harsono, Linda Christanty, Janet Steele, dan kawan-kawan saya di Pantau.

9 comments:

Yati said...

uhmm....panjang sekali. saya belum pernah bisa seperti ini! Selamat! Anda memang...Bagus!
--jadi kangen kelas itu lagi :( --

Oryza Ardyansyah W. said...

Yati, apa kabar? Aku juga kangen dengan kelas itu. Menurutku, di kelas banyak kawan-kawan yang hebat. saya belajar dari kalian semua.

Saya belajar dari Dahlia tentang kehebatannya dalam hal berbahasa melayu.

aku belajar dari Mujidi, Marta, Eko, kamu, dan semua. Jadi, sampai jumpa lagi kelak.

Eh, blogmu apa? entar aku jadikan kolega di blog ku...

Anonymous said...

"...Linda adalah salah satu alumnus angkatan pertama kelas jurnalisme sastrawi..."

Maksudnya Linda Christanty?? Harusnya dijelaskan di awal kalau mau buat tulisan bagus. Tidak semua orang tahu maksudmu Linda yang mana..

muhammad as said...

panjang bangeettt.. gw sampe capek membacanya, gw juga lulusan kursus jurnalisme santrawi angkatannya kalau ga salah 9.

Musafir Muda said...

Sebuah tulisan panjang yang bagus. Enak dibaca. Mengalir. Penuh gizi. Saya juga banyak belajar dari mas Andreas Harsono. Tapi, tidak secara langsung atau bertukar sapa seperti Anda. Cuman lewat blognya! Ingin sekali bisa belajar jurnalisme sastrawi itu. Tapi, belum kesampaian. Otodidak saja. Dan, sekarang, blog Anda ini menjadi kawan belajar saya menjadi seorang jurnalis. Meski cuma seorang jurnalis warga. Tapi, bolehkah seorang jurnalis warga yang bersenjatakan blog bisa menulis jurnalistik sekeren dan sebermutu jurnalis profesional? Thanks atas tulisan Anda. Salam kenal! Kalo ada jeda berkunjung ke blog amburadul saya di http://katakataku.com

razak said...

dashyat za, tulisan lu. sejak kenal di kelas JS Pantau (iye kangen juga euy), gw emang haqul yaqin, oryza is the most talented student. tp spt lu bilang, bakat aja tdk cukup. menurut gw, butuh energy and passion, dua faktor ini sangat kentara di diri lu. semoga sukses selalu deh, tp harus lebih hebat dari para mentor lu ya...

salam,

Razak
Jakarta

AnggaJauh said...

Kantuk saya hilang saat baca tulisan ini. Tak diragukan anda adalah pencerita yang baik :)

AnggaJauh said...

Kantuk saya hilang saat baca tulisan ini. Tak diragukan anda adalah pencerita yang baik :)

Anonymous said...

Brokersring.com - Learn how to turn $500 into $5,000 in a month!

[url=http://www.brokersring.com/]Make Money Online[/url] - The Secret Reveled with Binary Option

Binary Options is the way to [url=http://www.brokersring.com/]make money[/url] securely online