Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

02 November 2015

Pesan Terakhir



Saya bukan perokok. Sejak muda, saya sama sekali tidak pernah mencobanya sekalipun. Saya juga adalah salah satu orang yang tidak suka dengan perilaku perokok yang antiroleransi, menyedot dan membuang asap rokok di antara banyak orang yang bukan perokok, di antara anak-anak dan kaum wanita. Saya menaati pesan ayah yang pernah melakukan operasi jantung: jangan merokok.

Namun ketidaksukaan tak seharusnya membuat seseorang benci membabibuta. Saya tidak suka rokok adalah sebuah preferensi hidup. Namun membenci rokok tak lagi sebuah pilihan biasa, namun ada nilai-nilai ofensif: karena saya membenci rokok, maka saya harus memusnahkan rokok. Maaf, saya tidak bisa dipaksa seperti itu, sekalipun saya tak menyukai perilaku sebagian (besar) 'ahlul hisap' yang tidak toleran.

Membenci berbeda dengan tidak menyukai. Saat kita membenci, maka ada nalar yang dimatikan. Kita tidak menerima fakta dan lebih menyukai eksklusi terhadap hal-hal untuk mendukung kebencian kita. Salah satu kematian nalar yang sedang berjalan dari para pembenci rokok adalah isu soal kepemilikan perusahaan nasional: Djarum, Sampoerna, Gudang Garam sudah dikuasai asing.

Isu itu memposisikan diri sebagai kontra-wacana bahwa mempertahankan industri rokok (terutama kretek) adalah bagian dari menampik intervensi asing melalui rokok putih. Industri rokok kretek adalah benteng terakhir kedaulatan. Jadi jika memakai logika isu ini: bagaimana mau bilang mempertahankan benteng terakhir kedaulatan, jika sejumlah pabrik besar sudah dikuasai asing.

Herry Chaeriansyah dari Koalisi Rakyat Bersatu Melawan Kebohongan Industri Rokok menyebut Sampoerna dikuasai Philip Morris, Gudang Garam dibeli Jepang, Djarum pun dibeli Japan Tobacoo. Sebagaimana layaknya sebuah propaganda anti-wacana, apa yang dikemukakan itu tak sepenuhnya benar.

Saat menyebut PT Djarum, saya tidak tahu, acuan data mana yang dipakai untuk mengatakan adanya penguasaan mayoritas saham oleh asing. Namun tentu saja, sebagian orang tak peduli, setidaknya mereka yang membenci. Kebencian tak membutuhkan argumen atau fakta detail, termasuk fakta sejarah bagaimana Djarum dibangun dengan kerja keras dan nilai-nilai tradisi Jawa yang kuat.

Semua berawal dari Kudus, Jawa Tengah, saat orang-orang di sana merajang cengkeh, mencampurnya dengan tembakau, dan dilinting dengan daun klobot menjadi rokok. Suara khas 'kemretek' menjadikan rokok ini disebut kretek. Mendadak rokok kretek menjadi populer, dan sejumlah pabrik pun berdiri memproduksinya, termasuk Djarum.

Oei Wie Gwan membeli perusahaan rokok NV Murup pada 1951. Perusahaan yang nyaris bangkrut itu diubahnya menjadi lebih kuat dan produksi rokok Djarum Gramofon diubah menjadi Djarum. Pabrik itu nyaris hancur, karena kebakaran di era Orde Lama dan matinya Oei Wie Gwan. Gwan mewariskan bisnis ini kepada dua anaknya, Budi dan Bambang Hartono. Perusahaan ini bangkit lagi dan melewati tiga zaman peralihan politik tanpa banyak terguncang.

Saya tak menemukan data di internet dan dokumen kliping yang menyatakan Djarum dikuasai asing sepenuhnya. Satu-satunya informasi itu justru saya peroleh dari Wikipedia, dan tanpa ada acuan sama sekali. Di sana hanya tertulis: Pada tanggal 1 Januari 2005, PT Gallaher Indonesia membeli seluruh saham Djarum dan menjadi bagian dari Gallaher Group. Kita tahu, Wikipedia adalah situs ensiklopedia bersama yang bisa diedit siapapun dengan bebas. Ironisnya, jika kita cari di Google, kalimat informasi itu muncul di laman-laman blog pribadi yang tentu akurasi dan otentisitasnya harus dipertanyakan ulang.

Informasi yang saya terima justru menunjukkan tidak cukup ada alasan bagi pemilik Djarum untuk menyerahkan perusahaan itu ke tangan asing. Tahun 1972, Djarum sudah mengekspor kretek lintingan tangan ke pengecer tembakau di seluruh dunia. Sementara tahun 1997, saat krisis ekonomi, mereka bagian dari konsorsium yang membeli Bank Central Asia dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Saya tidak tahu bagaimana nalar ekonominya, sehingga warisan Oei Wie Gwan itu harus digadaikan ke asing.

Tapi baiklah, kita turuti argumen bahwa perusahaan-perusahaan rokok telah dikuasai asing. Namun pernahkah kita berhitung, bahwa perusahaan rokok bukan hanya Djarum, Gudang Garam, Bentoel, atau raksasa-raksasa sejenisnya. Ini bukan hanya kretek. Di sejumlah sentra tembakau, ada perusahaan-perusahaan yang tumbuh dan berkembang dengan dikelola modal dalam negeri alias modal sendiri. Mereka mengolah rokok dari jenis tembakau beragam, bukan hanya Voor Oogst, tapi juga Na Oogst yang menjadi bahan baku rokok cerutu. Sudahkah kita berhitung sinisme gebyah-uyah 'perusahaan rokok dikuasai asing' bakal menghantam mereka?

Salah satu perusahaan yang masih setia dengan kekuatan lokal adalah Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara (Kopa TTN). Ini sebuah koperasi yang didirikan empat serangkai pada 1990. Mereka bertemu di sebuah rumah di Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Mereka adalah orang-orang yang sudah lama bergelut di dunia tembakau: Achmad Ismail (pemilik NV Ismail), Soejitno Chandra Hasan (pemilik Fasuda dan UD Daun Madu), Heru Tisdamarna (Kepala Cabang NV Ismail), dan sang tuan rumah Abdul Kahar Muzakir (mantan direktur utama PT Perkebunan 27).

“Kami datang ke sini, untuk mengajak rembugan apa yang bisa kita lakukan. Saya punya gudang, saya punya manajemen, orang-orangnya ada,” kata Ismail.

“Saya tak punya modal. Tapi saya menguasai teknologinya (tembakau bawah naungan), memiliki akses pasar. Itu komoditas yang biasa kami budidayakan,” kata Kahar. Mereka sepakat berbisnis tembakau bawah naungan Besuki Na Oogst untuk diekspor ke Eropa sebagai bahan baku cerutu.

Kahar mengusulkan agar badan usaha ini berbentuk koperasi. Mereka perlu memanfaatkan momentum pemerintah yang tengah bergiat membangun dunia koperasi di Indonesia. Saat itu perizinan pendirian koperasi dipermudah. Fasilitas kreditnya pun memiliki bunga di bawah kredit komersial perbankan. Mereka juga ingin mengambil jiwa koperasi: gotong royong. Koperasi menonjolkan asas kekeluargaan, untung dan rugi ditanggung bersama.

Berdasarkan rapat 22 Mei 1990, Ismail didaulat menjadi Ketua I, Kahar menjadi Ketua II, Heru Tisdamarna menjadi sekretaris, dan Soejitno Chandra Hasan menjadi bendahara.

Kahar dan Ismail ke Jakarta untuk Sri Edi Swasono, menantu Mohammad Hatta, proklamator dan Bapak Koperasi Indonesia, di Hotel Indonesia, untuk berkonsultasi tentang pendirian koperasi. Mereka berharap mendapat modal tambahan dengan bunga ringan. Namun diskusi itu tak menghasilkan apapun.

Edi Swasono menyarankan mereka menghubungi Bank Bukopin di Surabaya untuk menanyakan bunga kredit koperasi. Ternyata tak mudah meminta kucuran kredit di Bukopin. Dengan berbagai agunan, bunga mencapai 24 persen per tahun. Sementara bunga kredit di Bank Export Import Indonesia hanya 17 persen. Kahar dan Ismail pun memilih kembali ke kredit komersial.

Juni 1990, mereka mulai melakukan pembibitan dan membangun sarana prasarana untuk budidaya tembakau bawah naungan dari jenis Besuki Na Oogst seluas 26 hektare di kawasan Pancakarya, Kecamatan Ajung, Jember. Baru pada 28 Juli 1990, berdirilah Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara., dan pengakuan sebagai badan hukum diperoleh pada 24 Desember 1990.

Dalam perkembangannya, TTN tak hanya mengekspor tembakau untuk bahan baku cerutu ke Eropa. Perusahaan ini juga memproduksi cerutu sendiri dengan nama Boss Image Nusantara. Ini cerutu bikinan tangan yang berbahan baku daun tembakau bawah naungan dengan varietas dari Kuba dan Sumatra.

Soeripno, orang kepercayaan Kahar, membantunya membudidayakan tembakau Kuba di Jember sejak 1993. Tak mudah membudidayakan tembakau Kuba di sini. Kahar dan Soeripno jatuh bangun, karena tanaman ini mudah terserang penyakit. "Namun setiap kali gagal, selalu kami ulangi, hingga akhirnya tembakau Kuba ini benar-benar melakukan aklimatisasi dan memiliki daya tahan," katanya.

Kahar membudidayakan dua hektare lahan tembakau Kuba untuk dijadikan bahan baku cerutu BOS Image. Produk daun bawah disebut Half Corona, produk daun kaki disebut Corona, dan produk daun atas disebut Robusto.

Ada lima cerutu Corona, yakni Robusto 3 S, Corona 10 S, Corona 5 S, Half Corona 10 S, dan Half Corona 5 S. Sementara untuk cerutu kecil, TTN memproduksi El Nino 20 S, El Nino 5 S, La Nina 20 S, dan La Nina 5 S. Kebanyakan cerutu ini dijual di dalam negeri.

Tiga orang pendiri TTN telah pergi dan tinggal Kahar yang merayakan ulang tahun ke-79 tahun 2015 ini. Di tengah modernisasi produksi rokok dan cerutu serta arus kepemilikan modal asing, TTN masih bertahan dengan nilai-nilai lama yang ditanamkan para pendiri: nasionalisme dan keinginan berbuat untuk orang banyak.

"Pak Kahar adalah sosok yang benar-benar pasang badan untuk membudidayakan tembakau. Pertimbangan utama beliau adalah komoditas ini menyediakan banyak lapangan kerja. Beliau tidak ingin tenaga kerja di Jember lari ke luar negeri menjadi tenaga kerja di sana," kata Manajer Produksi TTN Imam Wahid Wahyudi.

TTN memberikan beasiswa untuk anak-anak yang pandai di sekitar gudang TTN maupun anak-anak buruh. "Saya katakan: saya tidak membiayai anak-anak yang nantinya bakal jadi tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Saya membiayai anak-anak yang pintar sampai ke jenjang pendidikan atas agar mereka kembali ke desa, karena itu yang bisa membangun desa," kata Kahar.

Inilah filosofi nilai-nilai TTN sebagaimana terkandung dalam nama perusahaan itu sendiri. Kahar mengusulkan nama Tarutama kepada kawan-kawannya. "Taru itu daun, Tarutama berarti usaha utama kita adalah daun tembakau," jelasnya.

Tambahan nama ‘Nusantara’ berasal dari diskusi Kahar dengan Wolfgang Gustaf Kohne dari Hellmering Kohne and Co. (HKC). HKC adalah salah satu broker yang bergerak di balai lelang Bremer Tabakborse Bremen, Jerman. Ia sudah mengenal Wolfgang sejak bekerja menjadi direktur utama PT Perkebunan 27.

Wolfgang saat itu mengatakan, satu kata masih kurang untuk nama badan usaha. Kahar teringat wawasan Indonesia, yakni archipelago, nusantara. Kahar berharap kelak koperasi baru ini tak hanya membuka usaha di Jember dan karesidenan Besuki, tapi juga berekspansi ke seluruh Indonesia. Wolfgang setuju dengan tambahan nama ‘Nusantara’.

Badai dahsyat datang pada medio 2000. Burger Sohne AG, pembeli 50 persen tembakau TTN, mendadak pergi. TTN sama sekali tak mengerti alasan mereka pergi. Produk tembakau TTN ditolak dengan alasan tak masuk akal. Standar tembakau tak ada masalah. Burger Sohne hanya memersoalkan masalah cita rasa (taste). Namun mereka sendiri tak bisa menjelaskan detail bagaimana standar cita rasa itu.

Penolakan terhadap produk tembakau TTN terjadi dua kali. Ini sama saja membunyikan lonceng kematian. Jajaran manajemen atas mencoba menutupi persoalan ini supaya karyawan tak panik. Karyawan sendiri sebenarnya bisa merasakan ketegangan suasana ini. Bahkan sempat ada keraguan apakah TTN terus menanam tembakau hingga beberapa bulan ke depan.

Keragu-raguan itu tak dibiarkan menggantung terlalu lama. Manajemen harus membangun kepercayaan, yakni dengan menanam tembakau terus atau tutup. Jika perusahaan tutup, tentu akan ada banyak dampak negatif. Tapi dengan menanam terus, TTN harus menata ulang semuanya, karena kerugian saat itu cukup tinggi. Akhirnya, TTN memutuskan tanam terus agar tetap hidup, dan perusahaan ini hidup hingga saat ini.

Dalam usia 25 tahun, TTN cukup percaya diri tak membiarkan kepemilikan asing masuk. Padahal mereka memiliki reputasi bagus. Cerutu mini produksi TTN diterima pasar Eropa. Sebuah perusahaan Polandia mengimpor cerutu produksi TTN. "Soal nama, itu terserah mereka, karena TTN hanya memasok produksi cerutu," kata Kahar.

"Saya sebenarnya menganggap cerutu dengan ukuran kecil bukanlah cerutu. Itu hanya mainan. Namun kondisi membuat saya cenderung menjadi industrialis. Kalau saya tetap memaksakan diri bergelut dengan cerutu besar, konsekuensinya adalah terlempar dari pasar. Selama ini kami beruntung, karena nilai tukar Euro dengan rupiah yang fluktuatif. Jadi saya memproduksi cerutu kecil dan sudah memperoleh pasar di Polandia," kata Kahar.

Kahar kini mengelola perusahaan dengan dibantu anaknya dan anak para pendiri. Febrian Ananta Kahar, anaknya, memegang posisi direktur produksi dan teknik. Agusta Jaka Purwana, putra Heru Tisdamarna, menjabat direktur umum dan sumber daya manusia. Sementara Hesti Setiarini, putri Soejitno Chandra Hasan, menjabat direktur keuangan. Hanya putra Ismail yang melepas hak atas TTN karena tak berminat bergelut di sana.

Penutup

Medio Januari 1994. Achmad Ismail tahu, usianya tak akan lama. Abdul Kahar Muzakir berdiri di hadapannya. Ia menggamit sang sahabat dan berbisik. "Pak Kahar, saya boleh mati. Tapi TTN jangan sampai mati."

Ismail meninggal dunia pada 11 Januari 1994. Pesan terakhir itu masih terawat hingga saat ini. [wir]

Baca Selengkapnya..

16 July 2015

Imagined Persebaya: Bukan Sekadar Sejarah Sepakbola

oleh: Jojo Raharjo

Persebaya yang dilahirkan 18 Juni 1927 boleh saja (sementara) tiarap, tapi buku ini membuktikan kebesaran perjalanan klub kebanggaan Arek Suroboyo yang fanatisme ‘pemiliknya’ bahkan melebihi hooligan Inggris.

Oryza Ardyansyah Wirawan dikaruniai bakat menulis dan memori yang kuat. Selain itu, ia punya kelebihan khusus: menjaga dokumentasi tulisannya agar tak terserak diterbangkan waktu. Maka, lahirlah buku: ‘Imagined Persebaya’ (Persebaya, Bonek, dan Sepakbola Indonesia).

Diterbitkan oleh Litera pada 2015, buku 322 halaman membendel 63 tulisan jurnalis yang sehari-hari bekerja di situs Beritajatim.com ini. Dengan kreatif, kumpulan artikel itu dibaginya dalam lima bab bertajuk You Can’t Buy History, Bonek (Bin Chelsea), Rivalitas, Battle of Surabaya, serta Hikayat Sepakbola Indonesia. Di lembar awal masing-masing bab ditandainya dengan lima huruf khusus: B, O, N, E, dan K.

Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang melakukan penelitian tentang fans sepakbola di Indonesia, melukiskan dengan tepat dalam pengantar ‘Imagined Persebaya’, “Buku ini adalah artefak tentang Persebaya, bonek, dan sepakbola Indonesia. Sejarah sepakbola adalah sejarah Persebaya. Pun demikian, Bonek juga sejarah penting dalam sejarah perkembangan sepakbola di Indonesia.”

Judul ‘Imagined Persebaya’ dipilih karena merujuk pernyataan peneliti sosial Benedict Anderson bahwa Indonesia merupakan komunitas yang dibayangkan (imagined community). Senada dengan Anderson, Persebaya lebih dari sebuah klub, namun imagined community bagi para fansnya. Bagi Bonek, kecintaan pada Persebaya bak api nan tak kunjung padam, imajinasi yang mempertautkan mereka sebagai saudara, meski mungkin tak pernah bertemu, dan bahkan tidak pula berasal dari kota atau provinsi yang sama.

Buku ini menulis, sebutan Bonek pendukung Persebaya ternyata bukan hanya mereka yang dilahirkan atau pernah tinggal di Surabaya, tapi juga menjadi milik penggemar Persebaya di Pasuruan, Jember, bahkan kota-kota di Jawa Tengah, luar Jawa hingga mancanegara. Slogan Bonek ‘No leader just together’ (tiada pemimpin kecuali kebersamaan) dan ‘Tidak ada Bonek yang paling Bonek’ menjadi pemersatu, sekaligus menunjukkan karakter dan sifat egaliter khas budaya Arek.

Bercerita langsung

Tidak hanya berisi opini, buku ini menjadi ‘basah’ karena liputan langsung. Semisal kisah Oryza yang hadir menonton Liga Primer Indonesia mempertemukan Persebaya melawan Persija di awal Juni 2012. Tak direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya menonton pertandingan itu, pilihannya membawa kepada sejarah: bentrok suporter dan polisi berhias gas air mata. Tapi, ‘keikutsertaan’-nya dalam peristiwa ini membuka mata pada sudut pandang lain. Betapa Bonek tak lagi menjadi momok menakutkan bagi warga Tambaksari dan sekitarnya. Warung-warung dan pedagang makanan tetap buka, bahkan saat kerusuhan menjalar ke luar stadion.

Sebagaimana buku ini mengutip lagu Working Class Hero – nya John Lennon, Bonek dianggap sebagai representasi kelas pekerja yang butuh hiburan sehabis penat bekerja sepekan. Persis seperti penggemar sepakbola di Inggris yang awalnya didominasi buruh kasar macam kuli pelabuhan Liverpool dan Manchester. Tak beda dengan penggila klub-klub di Sao Paulo di Brasil, buruh-buruh kereta api di Rusia pendukung Lokomotive Moskow, dan pendukung ideologis Internazionale di Milan yang berasal dari kaum sayap sosialis anti kapitalis.

Oryza, jurnalis pemenang penghargaan Prapanca 2010 –penghargaan tertinggi untuk jurnalis Jawa Timur, saat itu dengan tulisan berseri Hikayat Bank Gakin, meliuk-liuk dengan kata-kata dan bagaimana ia mendokumentasikan sejarah Persebaya, Bonek serta keprihatinan terhadap sepakbola Indonesia. Bukan tak ada kelemahan tentunya.

Soal akurasi, misalnya, pada tulisan ’10 Tim Kontroversial dan Tak Disukai di Indonesia’, di urutan pertama ayah dua putera ini memilih Timnas Pra Olimpiade 1988. Tim itu dianggap mengundang kehebohan saat empat pemainnya diketahui terlibat suap di Hongkong dan Tokyo. “… Mereka adalah Noach Maryen, Elly Idris, Bambang Nurdiansyah, dan Louis Mahodim. Mereka menjadi ajang cemoohan, dan kasus ini menjadi kasus kesekian di mana penyuapan terjadi dalam sepakbola Indonesia di era 1970 dan 1980-an…” Di era teknologi seperti ini, tak susah untuk mengecek bahwa ejaan nama yang benar ialah Noah Meriem dan Louis Mohidin.

Buku ini layak menjadi salah satu referensi dan koleksi terbaik yang ada di perpustakaan pribadi mereka yang mengaku sebagai penggemar sepakbola Indonesia. Teruslah menulis, Oryza, dan mengabadikan sejarah sepak bola dengan filosofi kehidupan di dalamnya… [jurnalis]

Baca Selengkapnya..

28 February 2015

Pahlawan, Kota, dan Ziarah Masa Lampau

APA arti pahlawan bagi sebuah kota?

Saya ingat medio 1996 lalu, saat pertama kali datang ke Jember sebagai seorang mahasiswa. Tak banyak yang saya ketahui tentang kota ini sebelumnya. Bahkan setelah saya kuliah dan aktif di pers kampus Universitas Jember, tak banyak yang saya bisa definisikan dari kota ini. Artikel pertama saya di Radar Jember soal kota ini adalah bagaimana tak adanya 'identitas asli' yang mengikat warga, dibandingkan dengan Banyuwangi, misalnya.

Kota ini butuh penanda, dan masa silam adalah salah satunya. Di Eropa, masa lalu dirawat dengan rapi, seperti dikatakan Goenawan Mohamad dalam salah satu esainya tentang Bruges: “Tak ada yang aus: masa silam hadir secara rutin, dan secara bangga.”

Namun apakah masa silam itu bagi sebuah kota seperti Jember? Kota ini sejatinya tak pernah diikhtiarkan untuk menjadi seperti sekarang. Ini mulanya sebuah kota afdeeling perkebunan di bawah naungan Gewestelijk Bestuur Besoeki. Terbagi enam distrik, yakni Jember, Sukokerto, Mayang, Rambipuji, Tanggul, dan Puger, Gubernur Jenderal De Graeff baru menetapkan Jember menjadi regentschap yang setara kabupaten pada 9 Agustus 1928.

Lalu, berikutnya adalah perdebatan. Pemerintah daerah menetapkan 1 Januari 1929 sebagai hari jadi kota, penanda berdirinya kota. Namun sebagian kalangan menampiknya, karena menilai Jember sebagai sebuah wilayah lebih tua daripada yang ditetapkan. Lagipula, seharusnya alur sejarah didefinisikan oleh diri sendiri dan bukan tanda tangan seorang gubernur jenderal Belanda.

Sebuah kota bukanlah sekadar nama. Ia tidak hanya terdiri atas tembok-tembok dan bangunan tua, namun dibentuk sekumpulan cerita, hikayat, mitos, juga epos, yang mengalir dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Sejarah tak ubahnya aliran sungai yang berhulu dari sebuah mata air waktu, melewati bebatuan peristiwa, menuju muara kekinian. Apa yang dilakukan masyarakat Jember kini adalah mengikhtiarkan pencarian mata air yang mengawali sungai sejarah kota ini dan menentukan bebatuan-bebatuan peristiwa yang dilewatinya.

Saya kira di sinilah arti kehadiran pahlawan bagi sebuah kota seperti Jember. Pahlawan itu menyejarah, dan menjadi penanda adanya sebuah semangat pada suatu zaman, pada suatu masa. Nama Jember hari ini memang lebih terdengar nyaring karena sebuah karnaval fesyen masal. Jember Fashion Carnaval adalah apa yang disebut Dick Hebdige dalam

Subculture: The Meaning of Style sebagai pernyataan: saya berbicara melalui pakaian saya. Namun Jember tak bisa mengidentifikasi diri hanya melalui sebuah tontonan.

Jean Baudrillard dalam In The Shadow of The Silent Majorities, menyebut tontonan mengubah individu menjadi mayoritas yang diam. Dan jagat tontonan adalah padang pasir tanda-tanda (desert of signs) raksasa tak bertepi. Semua bisa memaknai, dan bahkan Baudrillard mewanti-wanti: 'Di tengah padang pasir, orang akan kehilangan identitasnya.'

Maka, penggalian terhadap sosok etos dan kepahlawanan di Jember tetap dibutuhkan, karena melalui penggalian itu orang bertanya terus-menerus mengenai dirinya. Seorang kawan menuliskan di laman Facebook, kala masih kecil, sering menunjuk sebuah sosok patung pria berpakaian perwira yang berdiri dalam posisi tubuh tegap di depan kantor Pemerintah Kabupaten Jember: siapa dia, mengapa dia di sana, tidakkah dia capek berdiri terus, dan bagaimana jika dia kebelet pipis.

Ketika rangkaian pertanyaan hadir, bahkan oleh seorang bocah, maka di situlah awal lahirnya penanda kota. Saat dewasa, kawan saya itu akhirnya tahu, patung tersebut adalah sosok Letnan Kolonel Moch. Sroedji, seorang pemimpin pasukan Damarwulan yang diperhitungkan Belanda pada masa Perang Kemerdekaan.

Penanda akan menjadi penanda ketika dimaknai secara sadar oleh warga kota, karena ada rasa memiliki. Dibutuhkan waktu tak sebentar untuk membawa kesadaran pemaknaan itu. Maka langkah Pemerintah Kabupaten Jember bersama keluarga Moch. Sroedji untuk mengusulkan sang letkol sebagai pahlawan nasional, bisa dianggap sebagai ikhtiar terobosan untuk memunculkan kesadaran pemaknaan itu sebagai kesadaran bersama.

Langkah ini diawali sebuah napak tilas yang diikuti ribuan orang pada 8 Februari 2015 yang menjadi pengingat bagi semua orang tentang pertempuran terakhir Brigade III Damarwulan pada 1949 di Desa Karangkedawung, Kecamatan Mumbulsari. Sroedji gugur bersama anak buahnya yang lain, setelah terlibat baku tembak berhari-hari dengan pasukan Belanda. Ia menolak menyerah, dan memilih mati muda pada usia 34 tahun.

Sroedji tidak dimakamkan di taman makam pahlawan, namun di sebuah pemakaman umum biasa di Kreongan, Patrang. Sebagian mungkin bertanya: mengapa. Lainnya mungkin menilai: ini tak patut. Namun "pahlawan mati hanya satu kali." Saya mengutip kalimat itu dari lakon terjemahan karya John Galsworthy. Justru dengan dimakamkan di pekuburan biasa, Sroedji meninggalkan sebuah warisan makna: laku patriotisme dan kepahlawanan tak boleh dicabut dari akarnya dan harus tetap di tengah-tengah rakyat.

Ikhtiar mengusulkan Moch. Sroedji menjadi pahlawan nasional adalah salah satu cara menjaga warisan makna itu. Kita tidak tahu, apakah pemerintah pusat dengan mudah akan meluluskan permintaan pemerintah daerah dan rakyat Jember. Seandainya berhasil, gelar pahlawan nasional itu akan menjadi milik semua orang, rakyat sipil dan tentara, yang berjuang dan mati di medan tempur bersama Sroedji.

Ini juga akan menjadi pintu bagi nama-nama lain di Jember untuk diusulkan mendapat gelar kepahlawanan. Kita tahu, Sroedji bukan satu-satunya tokoh pemimpin perjuangan di masa itu, atau yang mati dalam sebuah pertempuran heroik. Jika nama-nama itu diungkap, maka akan kembali muncul pertanyaan-pertanyaan, penggalian-penggalian, yang pada akhirnya akan selalu memicu kesadaran pemaknaan pada warga kota. Jika nama-nama seperti dr. Soebandi atau KH Achmad Shiddiq berhasil memicu kesadaran pemaknaan, pada akhirnya warga kota ini bisa semakin mengidentifikasi diri mereka.

Sebenarnja kita belum pernah mengenal mereka

ibu-bapa kita jang mendongeng

tentang tokoh-tokoh itu, nenek-mojang kita itu, tanpa menjebut nama.

Mereka hanjalah mimpi-mimpi kita,

kenangan jang membuat kita merasa

pernah ada.


- Ziarah (1967) karya Sapardi Djoko Darmono

Dari identifikasi, muncul kebanggaan dan penghormatan terhadap masa lampau. Masa lampau dihargai sebagai bagian dari yang membangun kota ini, hari ini, dan akan selalu menjadi tetenger masa mendatang: tempat kita berziarah. [Wir]

Baca Selengkapnya..

02 January 2015

1 Januari dan Matinya Gary Ablett

SELAMAT tahun baru. Tanggal 1 Januari adalah saat untuk mengenang Gary Ablett, seorang pemain sepak bola yang menyatukan dua klub sekota yang terlibat 'rivalitas bersahabat' (friendly derby): Liverpool dan Everton.

Bagi Liverpool, Ablett tak hanya dikenang karena jasanya mempersembahkan dua gelar juara liga (1987/1988 dan 1989/1990) dan satu gelar juara Piala FA (1989) selama enam musim masa pengabdiannya. Dia juga akan dikenang sebagai pemain belakang yang menunjukkan bagaimana mentalitas berjuang melawan penyakit kanker.

Pemain asli kawasan Aigburth, Liverpool, ini mulai bermain untuk klub pujaannya pada musim 1986/87. Saat itu usianya baru 21 tahun, dan Liverpool tengah dilatih Kenny Dalglish. Dia dikenal sebagai bek tengah dan bek kiri pekerja keras.

Debut kandang pertamanya melawan Nottingham Forest pada 18 April 1987 membuat terkesan banyak orang. The Times menyebut Ablett berhasil menunaikan tugas bertahan dengan elegan dan mencetak gol voli pada menit 68. Kelak hingga akhir hayatnya, ini akan dikenang satu-satunya gol selama 147 kali memperkuat Reds.

Ablett pindah ke rival sekota Liverpool, Everton, pada Januari 1992 dengan nilai transfer 750 ribu pound. Bersama Everton, ia menjuarai Piala FA pada 1995 dengan mengalahkan Manchester United dan bermain 156 kali. Ia juga sempat menjadi pelatih di Akademi Everton, dan pada 2006 menjadi manajer Tim Cadangan Liverpool.

Sebagai manajer, Ablett berhasil membawa Tim Cadangan Liverpool menjuarai Liga Tim Cadangan Primer Utara pada April 2008. Ia juga berhasil mengalahkan Juara Liga Tim Cadangan Selatan, Aston Villa.

Ablett sebenarnya lebih merasa menjadi seorang Liverpudlian. Ia mencintai Liverpool, namun dikecewakan karena ditendang Manajer Graeme Souness dan hanya bermain 23 kali di semua ajang musim 1991-1992. "Jadi saya fokus di Everton dan ingin membuktikan jika Liverpool salah melepas saya," katanya.

Liverpool sebenarnya dua kali membuatnya patah hati. Terakhir, ia terpinggir dari posisi manajer tim cadangan oleh restrukturisasi Rafael Benitez, Manajer Liverpool.

Ablett mencoba peruntungan sebagai manajer Stockport County, klub League One (setara Divisi III). Sial, klub itu malah terdegradasi pada musim 2009-2010. Dia sempat ditawari menjadi staf pelatih Ipswich Town oleh Roy Keane, mantan bintang Manchester United. Namun kanker melahap tubuhnya.

Ablett didiagnosa terkena kanker limfoma, penyakit yang menewaskan pemain Arsenal David Rocastle pada 2001. Ablett berjuang keras untuk sembuh. Dia menjalani semua yang menyakitkan selama 16 bulan: kemoterapi, tranfusi darah, hingga transplantasi sumsum tulang. Namun ia tak bertahan dan pergi selamanya pada 1 Januari 2012. Usianya baru 46 tahun.

"Saya beruntung telah melatih dua klub terbaik di dunia," kata Ablett, sebelum meninggal dunia.

Liverpool dan Everton beruntung memiliki seorang Ablett, yang senantiasa mengingatkan bahwa rivalitas tak selamanya berbuah kebencian. (Wir)

Baca Selengkapnya..

01 June 2011

Pancasila

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Baca Selengkapnya..

18 May 2011

Kementerian Agama dan Pancasila

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Asvi Warman Adam meminta agar Kementerian Agama diubah menjadi Kementerian Agama dan Pancasila.

Usulan ini dikemukakan Asvi, dalam acara seminar nasional dalam rangka Pekan Chairil Anwar 2011, yang digelar Fakultas Sastra Universitas Jember, di Gedung Sutardjo, Rabu (18/5/2011).

"Saya usulkan Kementerian Agama diubah menjadi Kementerian Agama dan Pancasila. Jadi Pancasila disosialisasikan di masyarakat oleh Kementerian. Misalkan ada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Pancasila. Jadi bukan hanya mengurus agama," kata Asvi.

Asvi mengatakan, bukan agama yang memersatukan Indonesia, namun Pancasila. Ironisnya, saat ini Pancasila sudah seperti diabaikan sebagai ideologi bangsa. "Ideologi diperlukan bangsa ini. Kalau ideologi ini tak diisi, maka akan diisi oleh ideologi lain," jelasnya.

Selama ini, bangsa Indonesia terkesan longgar dan sangat tidak peduli terhadap ideologi. Dengan adanya penggabungan itu, maka biaya besar yang ada pada Kementerian Agama bisa digunakan untuk sosialisasi dan penelitian mengenai Pancasila. Selain itu, agama dan Pancasila, dua hal yang selama ini dinilai saling meniadakan, bisa berdampingan. [wir]

Baca Selengkapnya..

SBY dan Tak Selesainya Buku Resmi Sejarah Indonesia

Buku resmi sejarah berjudul 'Indonesia dalam Arus Sejarah' selama bertahun-tahun tak juga terbit, diduga terkait dengan tak disebutnya peran Susilo Bambang Yudhoyono di era reformasi.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Asvi Warman Adam menceritakannya dalam acara seminar nasional dalam rangka Pekan Chairil Anwar 2011, yang digelar Fakultas Sastra Universitas Jember, di Gedung Sutardjo, Rabu (18/5/2011).

Masa Orde Baru kemarin, pemerintah membuat buku babon panduan pengajaran sejarah berjudul Sejarah Nasional Indonesia. "Setelah Orba runtuh, SNI tak berlaku lagi. Juwono Sudarsono meminta kepada Taufik Abdullah untuk membuat buku pegangan baru," kata Asvi.

Membutuhkan waktu hingga 10 tahun, untuk menyelesaikan delapan jilid buku berjudul Indonesia dalam Arus Sejarah. Tahun 2009, buku itu diserahkan kepada Sekretariat Negara. Penerbitan buku ini menjadi bagian dari program 100 hari SBY-Boediono. "Tapi Januari 2009, Januari 2010, dan sampai sekarang, buku itu belum juga terbit," kata Asvi.

Asvi bukan bagian dari tim penyusun buku. Namun ia mengaku mendapat informasi dari orang dalam Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, buku itu tak juga terbit karena di bab tentang reformasi tak diceritakan mengenai peran Susilo Bambang Yudhoyono dalam reformasi TNI.

Asvi tahu, SBY memang sempat menulis karya tentang reformasi TNI. "Kenapa tidak menyuruh tim (penulis) untuk menambahkan bab satu lagi tentang peran SBY itu? Kenapa tak diterbitkan dulu saja. Toh jilid 1 smpai dengan 6 bisa dibuat pegangan pengajaran guru sejarah di sekolah," kata Asvi.

Asvi juga menilai, televisi memiliki sumbangsih besar dalam pendidikan sejarah di Indonesia. Apa yang disajikan program tayangan sejarah televisi swasta lebih lengkap daripada apa yang diajarkan dalam kelas. "Jadi dilema kalau kemudian murid bertanya kepada guru mana yang benar (antara yang diajarkan di sekolah dengan di televisi)," katanya. [wir]

Baca Selengkapnya..

04 April 2011

Usia Jember Lebih Tua daripada Surabaya

Usia Kabupaten Jember diperkirakan lebih tua daripada usia Kota Surabaya. Ada situs yang menyatakan Jember mulai ada di tahun 1088.

Ihwal tahun kelahiran Jember ini tertera di situs prasasti Congapan yang berada di Desa Karangbayat Kecamatan Sumbersari. "Di situ tertulis 'tlah sanak pangilanku' yang artinya tahun 1088," kata Didik Purbandriyo, Koordinator Balai Pelestarian Peninggalan Purbakal Kementerian Budaya dan Pariwisata.

Jika ini menjadi acuan, maka usia Jember saat ini mencapai 923 tahun. Bandingkan dengan Surabaya yang berusia sekitar tujuh abad. Namun, tidak seperti Surabaya yang dipastikan tanggal berdirinya pada 31 Mei, masih sulit mengidentifikasi tanggal pasti lahirnya Jember.

Kendati sudah ada prasasti Congapan yang mengonfirmasi tahun tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember lebih memilih menggunakan staatsblad nomor 322 tentang Bestuurshervorming, Decentralisastie, Regentschappen Oost Java. Pengesahnya adalah Gubernur Jenderal De Graeff. Di situ disebutkan, status Jember ditingkatkan dari afdeeling menjadi regentschap, per 1 Januari 1929. Regentschap setara dengan kabupaten. Inilah yang kemudian dijadikan acuan tanggal lahir Jember.

Didik tidak tahu persis kenapa tahun lahir bikinan Belanda itu yang dijadikan acuan. Yang terang, di Jember ada banyak situs yang menunjukkan usia Jember sudah sangat tua.

"Kalau dilihat di kitab Negara Kertagama, Jember hanya perlintasan turne (perjalanan) Hayam Wuruk ke daerah selatan," kata Didik.

Kelurahan Mangli dulu juga kerajaan kecil di bawah Blambangan. "Perang Sadeng yang termasyhur itu juga diperkirakan terjadi di daerah Kecamatan Balung sekarang. Perang Sadeng kemungkinan ada di sana, karena di Balung sampai Kecamatan Semboro ada temuan benteng," kata Didik. [wir]

Baca Selengkapnya..

13 February 2011

Tafsir Goenawan Mohamad atas Jatuhnya Mubarak
(Ribut Wijoto untuk beritajatim.com)


Bagaimanakah memahami revolusi yang terjadi di Mesir? Apakah peristiwanya sama seperti reformasi di Indonesia? Ataukah, bisa dibandingkan dengan revolusi Iran? Goenawan Mohamad mencoba menafsirkan gejala politik di negeri piramida tersebut.

Menurut penyair, jurnalis, yang juga pengusaha itu, pola pemerintahan di Mesir memang mirip zaman orde baru. Kekuasaan presiden tidak dibatasi dalam satu atau dua periode. Makanya, Presiden Hosni Mubarak bisa berkuasa sampai 30 tahun. Sama seperti Presiden Soeharto yang memimpin hingga 32 tahun.

Pandangan itu disampaikan melalui akun twitter @gm_gm, Sabtu (12/2/2011). Goenawan Mohamad (GM) melihat, mundurnya (dijatuhkannya) Hosni Mubarak, Jumat (11/2/2011), memang sesuatu yang harus terjadi. "Mubarak hrs dijatuhkan, krn tak ada pilihan. Menurut konstitusi Mesir, presiden tak dibatasi berapa kali ia bisa dipilih lagi," tulisnya.

Perihal proses revolusinya, GM melihat yang terjadi pada Mesir sangatlah spesifik. Berbeda dengan revolusi Rusia, revolusi Iran, dan berbeda dengan teori revolusi yang didengungkan Bung Karno. "Kesan saya, unsur spontanitas dlm Revolusi 2011 kuat. Mengagumkan tapi juga mencemaskan. Sebab kini tak jelas: what next? Who next?," paparnya.

Untuk lebih jelasnya, berikut petikan lengkap dari tafsir Goenawan Mohamad:

1. Nah, seperti saya janjikan tadi: ini ttg Mesir, terkait dgn mundurnya Mubarak. Hrs saya katakan: pengetahuan saya ttg Mesir tipis.

2. Mubarak hrs dijatuhkan, krn tak ada pilihan. Menurut konstitusi Mesir, presiden tak dibatasi berapa kali ia bisa dipilih lagi.

3. Tak adanya batas berapa kali presiden bisa dipilih lagi mirip rezim Suharto. Demokrasi menuntut ada batas waktu bagi yg berkuasa.

4. Kita tak tahu bgm kelak demokrasi di Mesir. Tapi bisa dicatat: Mesir melanjutkan tradisi revolusi yang tak memerlukan pembunuhan.

5. Revolusi Mesir 23 Juli 1952 menghabisi monarki. Raja Farouk dimakzulkan. Tapi tak ada spt yg terjadi dlm Revolusi Prancis + Rusia. Heikal, wartawan terkemuka dan teman Nasser (sekarang masih hidup) pernah bercerita: Nasser membaca "The Tale of Two Cities".

6. Dlm novel Charles Dickens itu tergambar betapa buasnya Revolusi Prancis. Nasser, menurut Heikal, tak mau itu terjadi.

7.Tapi elemen kekerasan tak mudah dihapuskan dari Revolusi. Apalagi Revolusi 1952 lebih bersifat 'nasionalistis" ketimbang 'demokratis'.

8. Nasser mengidamkan "nasionalisme Arab" yang bersatu. Hasrat persatuan bisa mengekang perbedaan. Gerakan Ikhwanul Muslimin ditindas.

9. Sifat represif ini berlanjut terus. Terutama setelah pengganti Nasser, Sadat, dibunuh dlm satu parade di tahun 1981.

10. Keadaan darurat pun dimaklumkan. Demo, mis. dlarang. Tapi tak ada kekuasaan yg bisa terus menerus jadi kediktaturan penuh.

11. Adanya parrtai oposisi tak bisa dicegah. Meskipun dibonsai. Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yg berkuasa mirip Golkar kita dulu.

12. Perilaku NasDem Mesir mirip Golkar ketika berkuasa: menginjak-injak partai lain, menguasai apa saja, dan korup.

13. Tapi pelan2 oposisi bergerak. Dlm pemilu Majelis Rakyat 2005 mis. wakil independen yg terkait dgn Ikhwanul Muslimin dpt 88 kursi.

15. Kalau tak salah, di Mesir ada 4 partai oposisi. Tapi tampaknya partai2 ini tak punya peran besar dalam revolusi hari-hari ini.

16. Slavoj Zizek menunjukkan bhw ada sesuatu yg 'universal' dlm protes di Lapangan Tahrir itu. Sesuatu yg mengimbau siapa saja.

17. Tiap Revolusi yg berhasil memang punya 'tenaga universal'. Ia melahirkan militansi dan dukungan yg luas.

18. "Tenaga universal' itu biasanya diartikulasikan dgn penanda (slogan, kata) 'kosong': belum diisi satu pandangan/kemauan sepihak.

19. Revolusi 2011 mudah mendapatkan 'tenaga universal' itu. Berbeda dari Revolusi Rusia, ia bukan agenda satu kelas atau satu partai.

20. Revolusi 2011 juga bahkan tak seperti Revolusi Iran: yg punya pemimpin kharismatis, Ayatullah Khomeini.

21. Revolusi Mesir 2011 juga tak punya 'teori revolusi' ala Lenin. Tak ada agenda ke depan yg dirumuskan dari analisa sosial-politik.

22. Jadi, Revolusi 2011 ini tak mengikuti teori Revolusi Bung Karno dalam "Re-So-Pim": revolusi dgn program sosialis dan pimpinan.

23. Kesan saya, unsur spontanitas dlm Revolusi 2011 kuat. Mengagumkan tapi juga mencemaskan. Sebab kini tak jelas: what next? Who next?

24. Saya tak bisa memprediksi. Yg terjadi di Mesir bagi saya menarik utk mengembangkan wawasan baru ttg 'revolusi'.

25. Mungkin inilah "kejadian' (l'evenement) dlm pengertian Alain Badiou. Bagi yg paham teori, spt @robertus_robet, silakan mengupasnya.

26. Sesekali, kita perlu ambil jarak dari 'politik-politikan' di Twitterland + di luarnya, dan memasuki dunia pemikiran. Ini kan Sabtu.

27. Sekian. Minta maaf jika ada yang tak berkenan di hati. [but]

Baca Selengkapnya..

01 January 2011

Djember, 82 Tahun Sebuah Kota

Sabtu pagi, 1 Januari 2011. Langit masih mendung, setelah semalam, malam tahun baru, Jember diguyur hujan lebat. Awal tahun ini bagi Jember menandakan perubahan usia kota menjadi 82 tahun. Usia yang terhitung muda bagi sebuah kota di Indonesia. Namun Jember bukannya tanpa sejarah.

Bagaimana kita membayangkan Jember pada masa lalu? Mungkin dengan romantisme, walau agak terbatas. Kita membayangkan secuil pasasi pada esai seorang Goenawan Mohamad, wartawan dan seniman kesohor itu: “Tak ada yang aus: masa silam hadir secara rutin, dan secara bangga.”

Goenawan bicara soal Bruges, sebuah kota di Eropa. Tentu jauh sekali dari Jember. Namun, Jember pada masa lalu, adalah Jember yang juga diciptakan oleh peradaban lain yang disebut Barat. Eropa.

Tidak jelas benar, siapa yang memberi nama kota ini Jember. Apa artinya juga tak terang. Ada yang mengatakan Jember dimaksudkan sebagai jembar atau luas atau lapang dalam bahasa Jawa. Nama Jember sendiri dikenali dari arsip-arsip pemerintahan Belanda. Provinciaal Blad ban Oost Java, 7 September 1929.

Jember sejak awal tidak dimaksudkan dikembangkan sebagai sebuah kota administratif, namun sebuah daerah perkebunan. Sekitar tahun 1850, George Birnie, seorang Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan tembakau di Jember, untuk dipasarkan hasilnya ke Eropa. Menurut Andreas Harsono dalam Hoakiao dari Jember, Birnie mendatangkan pekerja dari Blitar dan Pulau Madura. Birnie menikahi Rabina, seorang perempuan Jawa, dan mengirim anak-anak mereka ke Belanda untuk belajar.

Birnie tak hanya menanam tembakau yang menjadi bahan baku cerutu. Dia juga menanam kopi, karet, dan kakao. Kelak Jember menjadi pusat penelitian kopi dan kakao. Jember pada abad 19 adalah sebuah afdeling, bagian dari kabupaten Bondowoso. Tanaman perkebunan dibudidayakan di sekujur lereng pegunungan Argopuro.

Nama perusahaan perkebunan Birnie adalah Lanbhouw Maaschappij Out Djember. Pekerja-pekerja perkebunan yang didatangkan dari beberapa daerah di Jawa Timur, membuat Jember menjadi ramai. Tahun 1805, jumlah penduduk Jember hanya lima ribu orang. Akhir abad 19 sudah mencapai sekitar satu juta orang.

Pertambahan penduduk ini memacu mobilisasi ekonomi. Dari sinilah terjadi perubahan sistem pemerintahan Jember. Sebelumnya, Jember hanyalah sebuah afdeeling di bawah naungan Gewestelijk Bestuur Besoeki, yang dipimpin seorang residen. Jember terbagi menjadi enam distrik, yang masing-masing distrik dipimpin seorang wedana, yakni Distrik Jember, Sukokerto, Mayang, Rambipuji, Tanggul, dan Puger.

Pemerintah Hindia Belanda lantas meningkatkan status Jember dari afdeeling menjadi regentschap. Regentschap setara dengan kabupaten. Sang bupati bukan lagi bule Belanda, tapi pribumi yang berkulit sawo matang. Jember ditetapkan sebagai kabupaten melalui staatsblad nomor 322 tentang Bestuurshervorming, Decentralisastie, Regentschappen Oost Java. Pengesahnya adalah Gubernur Jenderal De Graeff. Jumlah distrik diperluas menjadi tujuh, yakni distrik Jember, Kalisat, Mayang, Rambipuji, Tanggul, Puger, dan Wuluhan.

Sebenarnya surat penetapan Jember sebagai kabupaten ditandatangani 9 Agustus 1928. Namun, surat itu berlaku efektif 1 Januari 1929. Kelak, 1 Januari ditetapkan sebagai Hari Jadi Jember. Dalam konteks ini, sempat ada perdebatan, apakah hari jadi Jember mengikuti tanggal yang ditetapkan pemerintah kolonial Belanda atau mengikuti saat mulai terbentuknya masyarakat di Jember. Jika mengacu yang terakhir, usia Jember memang bisa jadi lebih tua. Namun tak ada catatan pasti mengenai kapan masyarakat Jember terbentuk dan menamakan dirinya sendiri.

Sebagai kota yang dibangun dan dibesarkan Belanda, ada sejumlah bangunan warisan masa lampau yang tersisa dan dipertahankan. Beberapa tahun setelah Indonesa merdeka, pemerintah daerah juga mulai membangun beberapa gedung sendiri yang gaya arsiteknya masih berbau arsitek warisan Belanda. Itu pun tak semuanya bertahan bentuknya.

Gedung yang masih utuh salah satunya adalah gedung bekas kantor maskapai Hindia Belanda atau Nederlandasche Handel Maatschappij, yang sekarang terletak di samping pos polisi Jalan Sultan Agung. Kantor Badan Kepegawaian Daerah sebelum direnovasi menunjukkan bangunan asli kantor pemerintahan Jember setelah menjadi regenstchap tahun 1929. Sementara gedung baru yang dibangun 1950-an antara lain gedung pasar Tanjung, yang kini menjadi padat.

Sayang cukup banyak bangunan kuno peninggalan Belanda yang telah tergusur karena perkembangan zaman. Sebut saja alun-alun, yang tak lagi dikelilingi bangunan-bangunan kuno seperti kantor pengadilan maupun Hotel Djember, walau pakem adanya kantor pemerintahan, masjid, dan penjara di sekelilingnya masih bertahan. Namun bangunannya tak lagi kuno.

Goenawan Mohamad dalam salah satu esainya di tahun 1981 yang menggambarkan indah masa lampau kota-kota di Indonesia, seperti di Jember, yang telah hilang: “Dulu ada alun-alun bersih dengan dua beringin kurung yang akarnya terjela-jela. Dulu di selatan ada kabupaten, ditandai oleh sebuah bangunan kolonial dengan pendopo yang menghadang angin.”

Bekas kantor kawedanan pun berubah menjadi pusat pertokoan. Gedung Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute) yang didirikan 1 Januari 1911 dengan nama Besoekisch Proefstation, pun direnovasi sehingga kehilangan cita rasa warisan masa lalunya.

Entahlah. Mungkin warga Jember seperti warga London, Inggris, menyitir tulisan esais Goenawan Mohamad: “tak mau kotanya menjadi museum.” [wir]

Baca Selengkapnya..

Satu Abad Puslit Kopi Kakao Indonesia

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember tepat berusia satu abad, Sabtu (1/1/2011). Dalam usia satu abad, lembaga penelitian ini berperan besar untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen kakao terbesar di dunia.

Usia Puslit Kopi dan Kakao (Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute) lebih tua daripada usia kemerdekaan Indonesia, bahkan juga lebih tua daripada usia kota Jember. Pertama kali berdiri 1 Januari 1911 dengan nama Besoekisch Proefstation.

Sejak 1981, lembaga non profit ini memegang mandat meneliti dan mengembangkan komoditas kopi dan kakao secara nasional. Mulanya, sejak didirikan PPKKI berkantor di Jalan PB Sudirman nomor 90 Jember. Namun tahun 1987, seluruh kegiatan operasional dipindahkan ke perkebunan Renteng.

Kebun percobaan PPKKI meliputi 160 hektare di Jember, 100 hektare di Malang, dan 11 hektare di Bondowoso. Untuk cokelat atau kakao, PPKKI telah berhasil mengembangkan benih kakao unggul, seperti Lindak Hibrida F1 hasil persilangan terbuka dan bibit kakao asal Somatic Embryogenesis.

Menjelang peringatan seabad Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, para peneliti lembaga tersebut menemukan klon kopi Arabika Andongsari 2 K dan hibrida kakao Lindak ICCRI 6 H.

Peneliti senior Puslit Kopi dan Kakao, Soerip Mawardi, mengatakan, klon Arabika Andongsari memiliki cita rasa yang enak dan tahan penyakit karat daun. "Produksinya juga tinggi, sekitar dua ton per hektare setiap tahun," katanya.

Kehadiran klon ini bak gayung bersambut dengan keinginan pemerintah untuk merevitalisasi tanaman kopi. Prioritas akan dilakukan pada pengembangan kopi arabika. Pemerintah berharap, proporsi ekspor kopi arabika mencapai minimal 30 mpersen dari total ekspor kopi nasional.

Puslit Kopi dan Kakao yang kini di bawah Kementerian BUMN menangkap peluang itu. Puslit memiliki kebun kopi Arabika seluas 100 hektare di Desa Andongsari Kecamatan Pakem Kabupaten Bondowoso. "Breeding kita baru, dari medium ke large bean. Kita breeding pada cita rasa, karena kopi Arabika Indonesia 80 persen masuk pasar specialty. Indonesia sumber penting kopi specialty, yang diperdagangkan berdasar muru dan cita rasa yang unik dan khas," kata Soerip.

Menteri Pertanian RI Suswono meminta kepada Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia untuk ikut membantu petani kopi luwak tradisional, agar kualitas produk mereka bisa lebih dilirik pasar.

"Harga kopi luwak petani Rp 250 ribu per kilogram. Sementara harga kopi luwak Puslit Kopi Kakao bisa Rp 1,3 juta per kilogram. Ini tantangan agar Puslit jangan kaya sendiri, tapi bagaimana petani juga bisa ikut kaya," katanya.

Jika ini tak segera ditangani, bisa memunculkan kecemburuan sosial. Tingginya harga kopi luwak produksi Puslit Kopi dan Kakao tak lepas dari sertifikasi standar terhadap produk tersebut. Hal ini yang tidak ditemui pada petani. "Bagaimana kalau dijadikan plasma, agar standar petani bisa terangkat dan sama," kata Suswono.

Untuk kakao, Puslit mengembangkan teknologi Somatik Embriogenesis. Bibit kakao SE menjadi andalan pemerintah Indonesia dalam Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional tahun 2009. Selama ini, Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kakao terbesar di dunia, di bawah Pantai Gading. Puslit menjadi satu-satunya tempat pengembangan SE di Indonesia.

Sukses Puslit mengembangkan teknologi Somatik Embriogenesis membuat negara lain tergiur. "Ada beberapa negara penghasil kakao di Afrika, dari Ghana, Pantai Gading, melalui mitra di Australia mengatakan, apa mungkin teknologi itu ditransfer ke Afrika. Terus terang kami tidak setuju kalau teknologi ditransfer. Tapi kalau materi bahan tanam yang sudah diproduksi ditransfer ke sana, saya setuju," kata Teguh Wahyudi, Direktur Puslit Kopi dan Kakao Indonesia.

"Kami menolak transfer teknologi. Dia mintanya gratis. Padahal kami untuk mendapatkan itu tidak gampang. Katanya mungkin membantu sesama negara berkembang. Tapi masalahnya bukan itu, mereka pesaing kita. Duit itu nomor dua, nasionalisme harus ada," kata Teguh, tertawa.

Saat ini, masyarakat industri kakao dunia menengok ke Indonesia, terutama karena program Gerakan Nasional Kakao. Teguh sempat ke Jenewa, Swiss, dan dimintai penjelasan soal program gernas kakao, karena terkait dengan pasokan bahan baku ke pabrik cokelat di Swiss.

Dengan gernas kakao, dalam waktu 4-5 lima tahun, akan dibudidayakan 70 ribu hektare kakao yang menghasilkan 70 ribu ton. "Saya optimistis 2015, Indonesia akan nomor satu di dunia untuk kakao," kata Teguh.

Beberapa pengusaha di Malaysia mencoba kontak untuk membeli bibit di Puslit Kopi dan Kakao. "Malaysian Cocoa Board sempat datang membicarakan kemungkinan-kemungkinan itu. Kebanggaan. Dari dulu kita belajar ke Malaysia, tapi sekarang mereka datang ke Indonesia," kata Teguh.

Selain mengembangkan diri sebagai pusat penelitian, Puslit juga layak menjadi rujukan tempat studi banding dan wisata pendidikan. Sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi berbasis pertanian acap kali mengirimkan siswa-siswa mereka ke PPKKI untuk belajar dan melihat langsung proses produksi dan pengolahan kopi dan kakao.

“Anak taman kanak-kanak pernah juga datang untuk pengenalan. Kalau ini ada peluang untuk wisata ilmiah, kenapa tidak? Ada rencana ke depan, Pusat Penelitian Kopi Kakao akan dijadikan objek wisata agro. Kita tak hanya bisa memperkenalkan kakao dari budidaya, tapi juga produksi industri hilir kita bisa perkenalkan kepada masyarakat luas,” kata Qithfirul Aziz, salah satu pegawai di sana. [wir]

Baca Selengkapnya..

18 December 2010

Bila Anak Semua Bangsa Bertemu

Saya teringat judul novel Pramoedya Ananta Toer: 'Anak Semua Bangsa', saat menghadiri Seminar On Cross Cultural Understanding di Unit Pelayanan Terpadu Bidang Studi dan Pusat Bahasa Universitas Jember, Sabtu (18/12/2010).

Anak Semua Bangsa. Judul yang indah. Sabtu itu, sejumlah mahasiswa dari berbagai negara yang tengah kuliah di Universitas Jember berbagi cerita tentang negara mereka masing-masing.

Andre dari Timor Leste mengawali acara dengan bercerita tentang negaranya. Ia memakai bahasa Indonesia dengan fasih. Puluhan tahun Timor Leste pernah menjadi bagian dari Indonesia sebelum akhirnya berpisah.

Telinga ini geli juga kadang mendengarkan beberapa mahasiswa dari negara di Asia Tenggara menggunakan bahasa Inggris. Kalau meniru istilah orang Jawa, medoknya kelihatan. Beberapa pelafalan juga tidak jelas. Namun yang patut dipuji: mereka berani mencoba.

T. Sideth dari Kamboja sempat tertatih-tatih membaca luas negaranya dalam bahasa Inggris. Namun, dengan yakin, ia tetap menjelaskan tentang tempat-tempat wisata di negaranya.

Salah satu mahasiswa Kamboja malah ikut mengajak Madamme Elizabeth, pengajar lintas budaya dari Amerika Serikat, menari bersama dengan diiringi musik tradisional negara itu. Elizabeth yang sejak awal antusias menyaksikan paparan tersebut, merespons ajakan itu dengan gembira. Tepuk tangan pun bergema.

Mahasiswa dari Laos sempat mencoba memasukkan beberapa kosakata Bahasa Indonesia, ketika memaparkan profil negaranya. Kamvanth, salah satu mahasiswa, menjelaskan betapa negaranya menjadi jajahan Prancis dan Amerika Serikat. "Tapi rakyat kami berjuang dengan gagah berani," katanya.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan Kamvanth dan perasaan Elizabeth, saat sejarah kelam itu disebutkan. Namun, anak-anak masa depan seharusnya tak terbebani dendam masa lalu. [wir]

Baca Selengkapnya..

26 April 2010

Sultan Khan

Bahkan di negeri yang buta huruf pun, buku-buku di rak toko milik Sultan Khan dianggap jadi agen subversif yang paling meresahkan. Ia seorang pedagang buku di Kabul, dengan buku yang beragam: sejarah novel, koleksi puisi, kisah-kisah legenda.

Dalam hidupnya yang sumpek dengan banyak istri dan anak, Sultan berada pada perbatasan stigma dua rezim yang hidup bergantian, rezim anti Tuhan dan rezim pemerintahan yang bertuhan. Di mata rezim komunis, ia borjuis kecil yang mencintai kapitalisme. Namun di mata Departemen Pembinaan Kebajikan dan Penghapusan Dosa milik Taliban (hanya Tuhan yang tahu apakah di akherat ada departemen macam begini), ia tak cukup Islami. Jenggot, salat lima waktu, berpuasa, dan pakaian shalwaar kameez yang cingkrang itu tak menyelamatkannya dari penjara.

Siang yang terik di bulan November itu, orang-orang buta huruf yang merasa membawa lisensi dari Tuhan datang: menyegel toko bukunya. Hari itu, mereka mencari buku-buku yang bergambar makhluk hidup. Tak butuh waktu lama untuk membuat api unggun dengan bahan bakar ratusan buku, di persimpangan Charhai e-Sadarat: sebuah api untuk memuliakan Yang Maha Berpengetahuan.

"Mulanya komunis membakar buku saya, lalu datang Mujahidin yang merampas dan menjarahnya. Terakhir, Taliban membakar semuanya," kata Sultan.

Jurnalis Asne Seierstad dalam buku The Bookseller of Kabul menunjukkan di Afghanistan, saudagar buku adalah salah satu pekerjaan yang paling berbahaya, yang memungkinkan orang seperti Sultan Khan berhadapan dengan para polisi syariat dan orang-orang yang menggengam kalashnikov.
Mereka menghanguskan buku-buku yang satu, tapi memaksa Sultan menjual buku-buku yang lain yang telah cemar.

Satu buku pelajaran Matematika versi Taliban yang digunakan untuk anak-anak kelas satu sekolah dasar bercerita tentang Omar dan Kalashinikov-nya.: Si Omar punya kalashnikov bermagazin tiga. Satu magazin berisi 20 butir pelor. Si Omar menembakkan dua pertiga pelor dan membunuh 60 orang murtad. Berapa orang murtad yang berhasil ditewaskan dengan setiap peluru?

Apa yang membuat buku dianggap begitu berbahaya? Saya tentu saja tak sanggup menyebutkan bertumpuk alasan rezim diktator di dunia yang membenci buku. Namun buku tentu saja mengakhiri rezim oral, folklore, cerita getok tular yang lebih banyak memunculkan mitos daripada fakta. Rezim cerita mulut ke mulut yang memungkinkan seorang diktator membangun citranya di atas tumpukan kebenaran dan ketidakbenaran, tanpa bisa dikoreksi ulang. Mitos menjalar cepat bagai wabah menular dengan banyak perawi.

Lalu Gutenberg menemukan mesin cetak, dan kita pun sadar: pengetahuan bukanlah monopoli para bangsawan dari puak tertentu dan para agamawan. Buku menjadi bagian dari liberalisasi manusia atas otoritas institusi yang menindas diri mereka atas nama apapun.

Mungkin, karena itulah, karena buku mewakili apa yang disebut semangat pembebasan manusia menembus bilik-bilik pengetahuan, ia menjadi dibenci oleh mereka yang membangun kuasa di atas doktrin. Doktrin, dogma, propaganda, tidak membutuhkan keragaman. Ia tak butuh dipertanyakan.

Buku ditulis dengan kuasa sang author, sang penulis. Namun, 'sang author mati' begitu bukunya dilemparkan ke pasaran dan dibaca banyak orang. Tafsir dan maksud sang author atas sebuah buku, bisa dibantah dan dimaknai berbeda oleh khalayak pembaca. Ini tentu menjengkelkan, dan lebih menjengkelkan lagi bagi rezim penyuka keseragaman, setiap buku berpotensi melahirkan buku tandingan. Terlalu banyak buku dengan pikiran yang berbeda memunculkan banyak kerepotan dan perdebatan.

Maka, kita pun tahu Herman Goebels membakar ribuan buku, saat para tentara Nazi tiba di setiap kota di Eropa. Kejaksaan melarang buku-buku yang dianggap bisa mencemari masyarakat dan tak sesuai dengan konstitusi (entah tafsir konstitusi mana yang dipakai): menyeakankan rakyat adalah domba yang tak berdaya, dan buku-buku adalah serigala-serigala dengan taring nan tajam. Pemerintah tak mau memberikan subsidi bagi penerbit buku agar buku-buku bisa dijual dengan murah. Anggaran untuk perpustakaan daerah lebih kecil daripada anggaran klub sepak bola. Semua berujung pada pemberangusan buku, pemberangusan semangat diseminasi pengetahuan: bahwa ilmu adalah hak untuk semua.

Namun, apa yang bisa didapat dari membakar sebuah buku, memberangusnya? Suatu hari dalam sebuah interogasi di bui, Sultan Khan berkata dengan bangga di hadapan para inkuisitornya: "Kalian bisa saja membakar buku-bukuku, kalian bisa menyusahkan hidupku, bahkan kalian bisa membunuhku, tapi kalian tak akan bisa menghapus sejarah Afghanistan." Hanya rezim yang bebal yang memberangus buku.

Verba volant scripta manent.

Yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi. [wir]

Baca Selengkapnya..

02 December 2008

Pelajaran Tim Weiner

Selama sepekan terakhir, kita dihebohkan oleh buku Legacy of Ashes: History of CIA karya Tim Weiner, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Membongkar Kegagalan CIA.

Pangkal kehebohan adalah isi buku yang menerangkan bahwa Adam Malik direkrut oleh perwira CIA Clyde McAvoy, sebagai bagian dari operasi tahun 1965. Penjelasan tentang peran Adam Malik diperkuat oleh telegram Duta Besar Amerika Serikat saat itu, Marshall Green.

Buku karya Weiner ini sebenarnya sudah diterbitkan Gramedia sejak September 2008. Namun praktis kehebohan baru terjadi paruh terakhir November, setelah resensi tentang buku ini terbit di harian Kompas. Mendadak semua orang, mulai dari sejarawan, pengamat politik, hingga wakil presiden angkat bicara dan ramai-ramai menolak isi buku Weiner itu.

Keluarga Adam Malik menuntut permintaan maaf dan revisi isi buku. Kejaksaan Agung mempelajari Legacy of Ashes, dan tak tertutup kemungkinan bisa menerbitkan keputusan untuk memberangus buku tersebut. Seorang sejarawan bahkan mengusulkan agar buku tak dilarang, namun bagian tentang Adam Malik dihitamkan alias disensor.

Reaksi masyarakat muncul karena Adam Malik adalah pahlawan dan mantan wakil presiden Indonesia. Namun reaksi itu menunjukkan betapa kita ternyata masih reaktif dan mudah 'berang' oleh hal-hal yang dipaparkan secara rasional sekalipun. Kita ternyata bangsa yang gamang dalam menghadapi sebuah kemungkinan kebenaran.

Buku Weiner memang pahit. Di situ dijelaskan, tak hanya Adam Malik yang menerima duit CIA. Tapi juga Masyumi, Majelis Syuro Muslimin Indonesia, partai tempat pahlawan kita Mohammad Natsir bernaung. Bagi warga eks Masyumi, atau partai yang mengaku sebagai pewaris Masyumi, ini jelas penghinaan.

Namun, sepahit-pahitnya fakta yang disodorkan Weiner tak seharusnya membuat kita jadi gelap mata, dan berniat menyensor atau membredelnya. Apalagi Legacy of Ashes bisa dipertanggungjawabkan. Weiner, sang wartawan The New York Times itu, sudah menjalankan prosedur jurnalisme yang paling penting: verifikasi.

Bahkan, Weiner tak mengutip sumber anonim atau tanpa identitas. Ini suatu hal yang langka bagi karya jurnalisme sekelas Legacy of Ashes. Weiner seolah mengajarkan kepada kita, bahwa karya investigatif tak selamanya didasarkan keterangan sumber anonim yang kadang bisa memicu persoalan dan gugatan terhadap wartawan.

Weiner memang tidak mewawancarai Adam Malik, karena sang tokoh sudah meninggal dunia. Namun, ia mengecek keterangan McAvoy kembali dengan dokumen CIA yang sudah dideklasifikasi. Satu hal lagi, Weiner tidak menuduh Adam Malik menjadi mata-mata CIA. Ia hanya memaparkan fakta sejarah dari perspektif CIA, badan intelijen Amerika Serikat yang memang suka ikut campur urusan dalam negeri orang lain.

Kami justru memandang karya Weiner bisa memperkaya pengetahuan sejarah tentang Peristiwa 1965 yang hingga saat ini masih kontroversial. Tak perlu marah-marah, karena boleh jadi apa yang ditulis Weiner justru benar. Tak perlu berang, karena bisa saja Weiner memang keliru. Siapa yang bisa menjamin kebenaran mutlak sebuah reportase? Weiner sendiri menyatakan berusaha keras agar karyanya mendekati kebenaran, bukan menjadi kebenaran.

Karya Weiner harus diperlakukan sama dengan karya-karya lain intelektual lainnya. Masih terbuka peluang apa yang ditulisnya dibantah oleh karya lain dengan didukung data dan fakta yang lebih kuat dan akurat.

Persoalannya, mampukah kita melakukannya?

Terus terang, selama ini, pengetahuan dan acuan kita tentang peristiwa 1965 lebih didasarkan pada sumber dan hasil kajian ilmuwan luar negeri. Sebut saja Cornell Paper yang begitu 'diagung-agungkan'.

Kita kesulitan menulis sejarah dari perspektif sendiri karena sulitnya data orisinal dari dalam negeri. Kita tak seberuntung warga Amerika Serikat, di mana dokumen negara secara berkala bisa dideklasifikasi dan dibuka untuk publik. Kita hanya bisa menyusun sejarah berdasarkan versi orang per orang. Akhirnya sejarah kita sebatas sejarah oral, dan jarang didukung dengan data dokumen yang kuat.

Jadi, seperti kata Tim Weiner dalam suratnya kepada reporter beritajatim.com, publik perlu diberi kesempatan untuk membaca buku yang tidak didasarkan pada sumber anonim dan didasarkan pada dokumen. Saat ini, itu yang paling mungkin kita lakukan untuk menunjukkan bahwa kita masih merdeka belajar dari siapapun. [wir]

Baca Selengkapnya..

01 December 2008

Tim Weiner: Pemerintah RI Bukan Sasaran CIA

Membaca buku Legacy of Ashes, pada 1950 - 1960, tampak jelas operasi Badan Intelijen Pusat (CIA) dilakukan terhadap Pemerintah Indonesia. Namun, hari-hari ini, menurut penulis buku itu Tim Weiner, Pemerintah Indonesia bukanlah target operasi CIA.

Dalam surat keduanya kepada reporter beritajatim.com, Oryza A. Wirawan, Tim Weiner mengatakan bahwa target CIA adalah gerakan jihad radikal, termasuk di Indonesia.

"The government of Indonesia is not a target of CIA operations. Radical jihadists throughout the world are; if such groups are in Indonesia they would be targets," kata Weiner.

Sayang, Weiner tidak memperinci jawabannya tersebut. Di era perang melawan terorisme saat ini, orientasi CIA memang berubah. Osama Bin Laden adalah target utama, dan CIA mengejar gerakan Islam radikal di seluruh dunia.

Pada halaman 612, disebutkan, bersama-sama dengan tentara pasukan operasi khusus Amerika, mereka (CIA) memburu, menangkap, dan membunuh para pembantu serta prajurit Bin Laden di Afganistan, Pakistan, Arab Saudi, Yaman, dan Indonesia.

Boleh jadi, jika melihat apa yang dipaparkan Weiner di bukunya, daripada bermusuhan dengan Pemerintah RI, Amerika Serikat lebih berkepentingan menggandeng sebagai sekutu untuk memerangi kelompok Islam radikal.

Ini tentu berbeda dengan masa perang dingin, di mana Pemerintah RI condong ke komunis. Membaca Legacy of Ashes, operasi besar CIA terhadap Pemerintah RI terjadi dua kali, yakni tahun 1958 dan 1965. Publik Indonesia saat ini diributkan oleh operasi CIA tahun 1965, karena adanya paparan tentang keterlibatan Adam Malik, dan luput memperbincangkan operasi sebelumnya.

Tahun 1950-an, Weiner menuliskan upaya penggulingan Sukarno, termasuk melalui jalan pemilu. Pada halaman 182 buku itu disebutkan, CIA memompakan sekitar $1 juta ke kantong musuh politik paling kuat Sukarno, Partai Masjumi, pada pemilu 1955. Tapi Sukarno dan Partai Nasional Indonesia tetap memenangkan pemilu.

Tanggal 25 September 1957, Presiden Eisenhower memerintahkan CIA untuk menggulingkan Pemerintah Indonesia. Ada tiga misi. Pertama, menyediakan senjata dan bantuan militer lainnya untuk para komandan militer anti-Sukarno di seluruh Indonesia.

Kedua, memperkuat determinasi, kemauan, dan kepaduan perwira-perwira pemberontak angkatan darat di pulau Sumatra dan Sulawesi. Ketiga, mendukung dan mendorong agar bertindak, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, elemen-elemen nonkomunis dan antikomunis di kalangan partai-partai politik di Pulau Jawa.

Kita mengenal gerakan perlawanan para kelompok militer dan antikomunis tersebut sebagai gerakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/Permesta.

Menteri luar negeri pemerintah revolusioner itu adalah Kolonel Maludin Simbolon, yang menurut Weiner pada halaman 188, diangkat dan dibayar oleh CIA.

Namun gerakan PRRI berantakan. Bantuan militer dari Pemerintah Amerika Serikat terhadap gerakan itu pun tak banyak berarti. Gerakan itu justru dipadamkan oleh perwira militer Indonesia anti komunis didikan Amerika Serikat sendiri, dan dengan bantuan atase militer AS di Jakarta, Mayor Gerorge Benson, yang tidak tahu mengenai operasi CIA itu.

Jenderal Nasution dan Kolonel Ahmad Yani adalah alumnus Kursus Komando dan Staf Umum Angkatan Darat Amerika Serikat di Port Leavenworth, dan teman baik Mayor Benson. Yani minta bantuan peta-peta kepada Benson sebelum melancarkan serangan ke Sumatra, dan Benson dengan senang hati membantunya.

Direktur CIA Alen Dulles menyebut gerakan perlawanan PRRI di Sumatra sebagai gerakan yang aneh. "Tampaknya tidak ada kemauan berperang di pihak pasukan pembangkang di pulau itu," katanya kepada Presiden Eisenhower.

"Para pemimpin pemberontak tidak mampu memberikan ide dan penjelasan kepada tentara mereka mengapa mereka harus berperang. Ini memang perang yang sangat aneh." (*)

Baca Selengkapnya..

29 November 2008

Tim Weiner soal Legacy of Ashes (4-Habis)
Suatu Saat Ingin Kembali ke Indonesia

Penulis buku Legacy of Ashes Tim Weiner berharap, suatu saat nanti bisa kembali ke Indonesia. Ia berharap, rakyat Indonesia membaca bukunya itu.

Dalam surat elektroniknya, Weiner mengatakan, pernah ke Jakarta dan Jogjakarta. Weiner salah tulis Jogjakarta, dan menyebutnya 'Yoyakarta'. "Tentu saja, saya harap orang membaca buku saya, dan saya berharap, bahwa fakta-fakta dalam buku itu berdasarkan dokumen," katanya.

Weiner mengaku sudah berupaya keras untuk menggali kebenaran. "Saya menerima banyak dukungan dari individu-indvidu di CIA setelah buku itu keluar," katanya.

CIA sempat memunculkan rilis pers anonim yang mengkritisi buku tersebut. "Namun buku itu memenangkan banyak tinjauan yang bagus, (dan) telah diterjemahkan dalam 25 bahasa. Buku ini memenangkan penghargaan-penghargaan utama di Amerika Serikat," kata Weiner.

Saat saya mencoba menanyakan pendapatnya soal almarhum Gary Webb, wartawan San Jose Mercury News, yang sempat bikin heboh dengan laporan soal hubungan CIA, gerilyawan Contra, dan perdagangan obat bius, Weiner mengatakan, tidak bisa menerima laporan soal konspirasi CIA dan pergangan obat bius itu. Sayang Weiner tidak merinci lebih lanjut. (*)

Baca Selengkapnya..

10 November 2008

Pidato Bung Tomo, 10 November 1945

"Selama Banteng - Banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membasahi secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu, tidak akan kita mau menyerah pada siapapun juga..."


Bismillahi rokhmanir rakhim.

Merdeka

Saudara - saudara rakyat jelata diseluruh indonesia
terutama saudara - saudara penduduk kota Surabaya
Kita telah mengetahui bahwa hari ini tentara ingris telah
menyebarkan pamflet - pamfet yang memberikan ancaman pada kita semua.

Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka
tentukan menyerahkan senjata - senjata yang telah
kita rebut dari tangan tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah mita supaya kita datang semua pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah pada mereka.

Saudara - saudara didalam pertempuran - pertempuran yang lampau,
kita sekalin telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya,
yang berasal dari Sulawesi, pemuda - pemuda yang berasal daari Bali,
pemuda - pemuda yang berasal dari Kalimantan,
pemuda - pemuda yang berasal dari Sumatra, pemuda Aceh, pemuda Tapanuli dan seluruh pemuda yang berada di Surabaya ini.

Di dalam pasukan - pasukan mereka masing -masing dengan pasukan rakyat yang dibentuk dikampung - kampung telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol,
telah menunjukkan satu kekuatan hingga mereka itu terjepit di mana - mana.
Hanya karena taktik yang licik dari mereka itu saudara - saudara,
dengan mendatangkan Presiden dan Pemimpin - pemimpin lainnya ke Surabaya ini,
maka kita tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu, mereka telah memperkuat diri, dan setelah kuat, sekarang inilah keadaannya.

Saudara - saudara, kita semuanya - kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tangtangan tentara Inggris itu, dan kalau pimpinan tetara Inggris yang ada di Surabaya ingin mendengar jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini, dengarkan lah ini tentara Inggris!

Ini jawaban kita, ini jawaban rakyat Surabaya, ini jawaban pemuda Indonesia, kepada kau sekalian hai tentara Inggris! Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk padamu! Kau menyuruh kita membawa senjata - senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu. Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekalian akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan seluruh kekutan yang ada! Tetapi inilah jawaban kita

"selama Banteng - Banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membasahi secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu, tidak akan kita mau menyerah pada siapapun juga"

Saudara - saudara rakyat Surabaya bersiaplah. Keadaan genting. tetapi saya peringatkan sekali lagi jangan mulai menembak, baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang meraka itu! Kita tunjukkan bahwa kita ini adalah orang - orang yang benar - benar inggin merdeka! Dan untuk kita saudara - saudara, lebih baik hancur lebur dari pada tidak merdeka!

Semboyan kita tetap! Merdeka atau Mati! Dan kita yakin saudara - saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh kepada kita. Sebab Allah selalu berpihak kepada yang benar.
Percayalah saudara - saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Merdeka

dikutib dari buku : DR H Roeslan Abdulgani - Seratus hari diSurabaya yang Menggemparkan Dunia, yayasan Idayu - Jakarta, 1980

Baca Selengkapnya..

21 May 2008

Mei Sepuluh Tahun Silam

Mei 1998 menjadi bulan yang mengguncangkan Indonesia. Sebuah rezim yang berkuasa 32 tahun akhirnya runtuh: oleh desakan massa, desakan krisis ekonomi, perpecahan militer, menguatnya kelas menengah. Bagaimana kronologi hari-hari itu?

Saya mencuplik dan meringkas kronologi Mei 1998 dari buku yang dieditori Edward Aspinall, Herbert Feith, dan Gerry Van Klinken berjudul The Last Days of President Suharto.

Mei – Desember 1997:
Indonesia dihantam krisis ekonomi yang berawal dari Thailand. Nilai rupiah terhadap Dollar anjlok. Michael Camdessus dari International Monetary Fund menyetujui pinjaman 10 milliar dollar untuk Indonesia, namun dengan syarat Suharto harus menjalankan paket reformasi. Sejumlah mega proyek yang tertunda kembali dijalankan. Menjelang tutup tahun, nilai rupiah terhadap dollar anjlok menjadi Rp 5.600.

Januari – April 1998
Presiden Suharto membacakan nota anggaran 1998 – 1999. Rupiah anjlok menjadi Rp 10 ribu per dollar Amerika Serikat. Rumor bakal terjadi kudeta berkembang. Warga panik dan memborong barang-barang di supermarket. Kerusuhan dan penjarahan terhadap etnis China terjadi di 12 kota.

Dari 286 perusahaan yang tercatat di bursa saham, tinggal 22 perusahaan yang tak bangkrut. Suharto menandatangani perjanjian utang 43 miliar dollar dengan IMF.

Suara-suara terhadap perlunya pemerintahan baru semakin gencar. Setahun sebelumnya, Ketua Muhammadiyah Amin Rais menyatakan diri siap menjadi presiden. Tahun ini, giliran Megawati Sukarnoputri menyatakan kesiapannya. Yayan Kerukunan dan Persaudaraan Kebangsaan (YKPK) meminta Wakil Presiden Try Sutrisno mengambil alih kekuasaan Suharto saat berakhir Maret.

Steve Hanke, ekonom Amerika Serikat yang dikenal anti IMF, menyarankan sistem dewan mata uang (currency board system) agar Indonesia tak tergantung terhadap IMF. Tapi IMF, Bank Dunia, dan Bill Clinton mengingatkan Suharto agar tak mencoba sistem itu atau semua bantuan dihentikan paksa.

Para mahasiswa di berbagai kampus mulai berani berunjukrasa seiring dengan semakin terpuruknya ekonomi. Penangkapan dan penculikan mulai terjadi: Pius Lustrilanang diculik. Aktivis PDI Perjuangan Haryanto Taslam diculik. Karlina Leksono, sang astronom perempuan, ditangkap gara-gara menggelar aksi simbolik memprotes kenaikan harga susu.

Memasuki sidang umum MPR, Suharto membuat kejutan dengan mengemukakan program IMF Plus yang merupakan gabungan program IMF dengan ide Hanke soal CBS. Namun Presiden AS Bill Clinton tidak suka dengan gagasan itu, dan mengutus Walter Mondale untuk mendesak Suharto agar patuh terhadap persetujuan IMF.

Di tengah krisis itu, majalah Detektif dan Romantika (D&R) membuat kover Suharto berbentuk raja dalam kartu remi. Menteri Penerangan Hartono langsung membreidel majalah itu.

Suharto jalan terus. Majelis Permusyawaratan Rakyat kembali memilihnya sebagai presiden masa jabatan 1997 – 2002. Ia memilih memasukkan anaknya Tutut dan sohibnya Bob Hasan dalam kabinet.

Sidang parlemen tandingan yang digelar di Jakarta Utara, yakni Kongres Rakyat Indonesia, yang menolak Suharto, dibubarkan aparat dan para aktornya ditangkap. Sementara aksi unjukrasa mahasiswa semakin membesar di mana-mana, dan mulai muncul bentrokan dengan polisi, bahkan berdarah-darah.


Mei 1998
Tanggal 1 – Panglima TNI Jenderal Wiranto membentuk dewan internal ABRI untuk menyelidiki hilangnya para aktivis politik.

Tanggal 2 – Aksi unjukrasa mahasiswa berlangsung makin masif. Suharto masih belum mau turun tahta. Pemerintah menegaskan, presiden terbuka terhadap reformasi politik asal tidak bertentangan dengan keputusan MPR.

Tanggal 4-6 – Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik 20 – 70 persen. Bentrokan terjadi di Medan, Sumatra Utara, antara aparat dengan pengunjukrasa. Dua orang tewas. Petinggi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Ahmad Tirtosudiro menyerukan sidang istimewa MPR untuk mengganti Suharto.

Tanggal 9 – Suharto ke Kairo, Mesir, untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi pemimpin negara-negara Islam.

Tanggal 12 – Empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembak saat berunjukrasa damai di luar kampus mereka.

Tanggal 13 – Pemakaman empat mahasiswa Trisakti dihadiri para tokoh oposisi, seperti Amin Rais dan Megawati. Kerusuhan mulai pecah di mana-mana.

Tanggal 14 – Kerusuhan semakin parah di Jakarta. Toko-toko milik keturunan China dibakar. Ribuan orang tewas, di antaranya terjebak dalam kobaran api di pusat pertokoan. Warga keturunan etnis China melarikan diri ke luar negeri. Di banyak kota, gerakan mahasiswa semakin kuat. Sejumlah tokoh membentuk Majelis Amanat Rakyat (Mara), yakni Amin Rais, Goenawan Mohamad, Adnan Buyung Nasution, Nurcholish Madjid, Ali Sadikin, dan lain-lain. Media massa memberitakan pernyataan Suharto di Kairo yang siap mundur bila tak dikehendaki rakyat.

Tanggal 15 – Kerusuhan di Jakarta dan kota-kota lain meluas. Pengumuman pemotongan subsidi BBM disiarkan. Suharto menyatakan tidak menyampaikan keinginan mundur kepada pers.

Tanggal 16
– Melalui Ketua MPR Harmoko, Suharto menyatakan hendak merombak kabinet. Amin Rais menyatakan itu tak cukup, dan Suharto harus mundur.

Tanggal 18 – Gedung Dewan Perwakilan Rakyat mulai diduduki ribuan mahasiswa. Para oposan berdatangan memberikan dukungan. Harmoko dan sejumlah pimpinan fraksi meminta agar Suharto mengundurkan diri. Wiranto menyatakan pernyataan Harmoko dan para elite DPR adalah opini pribadi.

Tanggal 19 – Suharto menawarkan komite reformasi untuk mengatur reformasi politik dan pemilihan umum. Ia tidak akan maju dalam pemilu sebagai presiden. Jumlah mahasiswa yang menduduki gedung DPR bertambah, dan para pialang di bursa saham berunjukrasa menuntut reformasi politik.

Tanggal 20 – Rencana aksi sejuta massa di lapangan Monas yang hendak dipimpin Amin Rais dibatalkan. Ada kekhawatiran bakal terjadi tragedi Tiananmen seperti di China. Tentara dan polisi berjaga di mana-mana. Namun di kota-kota lain, aksi ribuan orang masih terus berjalan. Di Jogjakarta, digelar aksi pawai sejuta orang.

Mahasiswa di gedung DPR mendesak Harmoko segera melengserkan Suharto. Sebanyak 14 orang menteri melayangkan surat ke Suharto, dan menyatakan tak akan duduk di Komite Reformasi.

Tanggal 21 – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat menelpon Suharto dan memintanya melakukan pergantian kekuasaan. Pukul sembilan pagi, Suharto membacakan pidato pengunduran diri, dan Baharuddin Jusuf Habibie dilantik sebagai penggantinya.

Tanggal 22 – Prabowo digeser dari posisi panglima komando strategis Angkatan Darat. Ribuan orang dari kelompok Islam turun jalan menuju gedung DPR, mendukung kepemimpinan Habibie. Nyaris terjadi bentrokan dengan massa mahasiswa.

Tanggal 23 – Tentara mengosongkan gedung DPR dari mahasiswa. (*)

Baca Selengkapnya..