Teror? Teror Apa?
Aksi teror kembali terjadi di Indonesia. Kali ini di Jakarta, Kamis (14/1/2016).
Kali ini bukan aksi bom berdaya ledak besar layaknya bom Bali. Namun kali ini ada aksi baku tembak di ruang publik, layaknya film-film Hollywood (sesuatu yang nyaris tak pernah dilakukan para teroris dan tukang bom di Indonesia sebelumnya, kecuali jika hendak ditangkap).
Jika Anda membayangkan Tom Cruise yang berperan sebagai Ethan Hunt nan tampan dalam film Mission Impossible tengah melepaskan pelor ke arah musuh, drama teror di Jakarta kemarin menghadirkan sosok polisi ganteng bernama Teuku Arsya Khadafi. Namanya mendadak tenar dan dibicarakan mbak-mbak maupun emak-emak di media sosial.
Mendadak kita semua merasakan betapa heroiknya perlawanan terhadap teror. Berbeda dengan Prancis yang terkesan mengiba-iba dengan tagar 'doa' sebagai pengikat solidaritas, bangsa kita diikat dengan keberanian. #KamiTidakTakut. demikian tagar itu diletupkan di jagat dunia maya, melebihi kecepatan peluru penebar kengerian.
Tukang sate yang tetap berjualan dan mengipasi sate dengan kalem. Orang-orang yang berkerumun di sekitar arena pertempuran antara polisi dan teroris. Semuanya menjadi simbol bahwa bangsa ini adalah bangsa pemberani. Teror? Teror apa?
Namun spekulasi tetap saja berhamburan di media sosial. Tentu saja ada nalar konspiratif di sana. Curiga.
"Ini ulah gerombolan ISIS (Negara Islam Irak-Suriah)."
"Ah, bukan. Ini hanya pengalihan isu terkait urusan saham Freeport."
"Tidak, tidak mungkin. Ini pasti ada kaitannya sama penghapusan isu penangkapan politisi terduga korup."
"Ah, jangan ngawur. Ini pasti..."
"Ini pasti..."
"Ini..."
"Pasti..."
Seorang cendekiawan-ekonom Indonesia pernah mengatakan dalam sebuah esai, kira-kira seperti ini: mereka yang berpikir konspiratif adalah orang-orang yang lebih suka mencari pembenaran dengan menyederhanakan masalah.
Mungkin cendekiawan ini benar. Namun kecurigaan dan nalar konspiratif selalu ada di mana-mana, karena ini sesuatu yang purba. Ini bagian dari insting manusia untuk selalu bertanya-tanya, bahwa ada sesuatu yang lebih besar di balik suatu peristiwa.
Insting ini, apa boleh buat, selain membuat manusia saling bunuh, juga membuat manusia bisa bertahan melewati zaman di bawah ancaman.
Lagi pula, jika memang persekongkolan tak ada, buat apa setiap negara mendirikan badan intelijen?
Sejarah juga mengajarkan bahwa apa yang awalnya dianggap demikian adanya, ternyata ada sesuatu di baliknya. Kita baru tahu tahu (dengan data kongrit sebagaimana dalam buku Legacy of Ashes karya jurnalis Tim Weiner), jika ada campur tangan Amerika Serikat dalam Gerakan 30 September 1965.
Kita juga baru 'ngeh', jika rezim pembangunan Orde Baru yang dirancang kaum cendekiawan terhormat ternyata melibatkan persekongkolan gelap dengan industrialis Amerika, sebagaimana dalam buku Economists with Guns karya Bradley Simpson.
Terakhir, kita melongo setelah Ken Conboy dalam buku 'Intel: Inside Indonesia's Intelligence Service' mengungkapkan bahwa Komando Jihad ternyata bukan urusan berjuang di jalan Tuhan. Intelijen bermain di sana pula.
Semua itu terungkap puluhan tahun kemudian dari waktu kejadian.
Persekongkolan? Konspirasi? Biarkan waktu yang bicara. Semua pengungkapan dan pembuktian konspirasi butuh waktu lama dan kerja keras. Tim Weiner, Bradley Simpson, Ken Conboy, adalah contoh para pekerja keras itu.
Mereka bergerak, menggali-gali informasi dan data, setelah asap tebal di sekeliling kejadian mulai hilang atau bahkan sirna sama sekali, sehingga semua bisa melihat dengan jernih.
Memperdebatkan apakah aksi teror itu adalah bagian dari suatu konspirasi hanya menghabiskan energi untuk sesuatu yang tidak perlu. Lebih baik kita melihat sisi baik dari peristiwa di Jalan MH Thamrin, Jakarta, kemarin: bangsa kita menjadi lebih bersatu menghadapi rasa takut.
Persatuan yang mahal, yang menunjukkan bahwa kita bukan bangsa penakut. Sesuatu yang kita yakini namun hilang itu kini telah kembali. Itu yang penting. [wir]
15 January 2016
Labels: Esai, Hukum, Obrolan Kota, Peristiwa, Politik
24 May 2011
Ini Ada Apa, Pak? Teroris!
Warga Lingkungan Telengsari Kelurahan Jember Kidul Kecamatan Kaliwates sempat dihebohkan oleh kabar penangkapan teroris di sana. Satu regu aparat kepolisian turun dan melakukan penggerebekan di salah satu rumah. Kabar ini masih jadi pembicaraan di antara warga.
Kisah penggerebekan ini diceritakan Ketua RT 03 RW I, Maftukhin, Selasa (24/5/2011), di rumahnya. "Kejadiannya Sabtu subuh, 14 Mei lalu. Saat itu saya dibangunkan subuh-subuh oleh petugas kepolisian," katanya.
Polisi rupanya mau menggerebek salah satu rumah di Jalan Sunan Ampel. Maftukhin sempat ditunjukkan fotokopi KTP seseorang, namun ia mengaku tak kenal. Rumah yang hendak digerebek itu berganti-ganti penghuni. Penghuni terakhir yang mau digerebek adalah sepasang suami-istri yang baru tinggal di sana selama 16 hari. "Mereka jarang berkumpul dengan warga," katanya.
Maftukhin sempat kebingungan melihat sejumlah aparat kepolisian bersenjata lengkap bersiap-siap. Ia dengan hati-hati bertanya, "Ini ada apa, Pak?"
Salah satu petugas, menurut Maftukhin, menjawab dengan tegas: 'teroris'.
Mendengar jawaban itu, Maftukhin ketakutan. "Bayangan saya penangkapan teroris seperti di televisi. Dar-der-dor," katanya menggambarkan adegan tembak-menembak.
Ketua RW I M. Rizky membenarkan adanya penggerebekan aparat kepolisian. Satu regu aparat malah sudah mengintai alias nyanggong sejak pukul 11 malam, dan baru menggerebek subuh. "Ada tiga orang sniper (penembak jitu) yang mengintai dari atas bangunan," katanya. Akhirnya seorang pria dibawa aparat kepolisian hari itu.
Ternyata penggerebekan yang terjadi di Jalan Sunan Ampel bukanlah penangkapan teroris. Polisi membekuk tersangka penipuan atau penggelapan uang.
Belakangan, Maftukhin menerima surat dari Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Jawa Tengah. Ini surat tugas penangkapan terhadap seseorang yang bernama Sandim Rinjani alias Slamet Handoyo (36).
Saat mendatangi rumah yang dimaksud, saya ditemui oleh Diah Eko (21), yang mengaku istri Sandim. "Suami saya ditangkap kemungkinan karena kasus penggelapan, Mas. Kasus sanjipak," katanya, menunduk malu.
Diah mengaku berasal dari Banyuwangi, dan Sandim mengaku dari Mojokerto. "Polisi semua sudah menjebak. Surat penangkapannya soal penggelapan uang. Saya belum tahu berapa nilainya," katanya. Selain menangkap sang suami, polisi menyita satu mobil CRV dan sepeda motor. [wir]
03 May 2011
Kue Tar untuk Buruh
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jember Moch. Thamrin menyambut aksi unjuk rasa ratusan aktivis Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) di halaman kantornya, Selasa (3/5/2011), dengan kue tar.
Ratusan aktivis Sarbumusi mendatangi kantor Disnakertrans Jember untuk memperingati Hari Buruh Sedunia. Mereka menuntut agar Disnakertrans tegas menindak setiap pelanggaran aturan ketenagakerjaan.
Di luar dugaan, Thamrin justru menyiapkan kue tar untuk para aktivis buruh itu. Dengan didampingi Kepala Bidang Perselisihan Hubungan Industrial Budi Utami, ia memberikan kue tar itu kepada salah satu aktivis.
"Ini ucapan simpati ulang tahun Hari Buruh Internasional. Harapannya ke depan dalam mengurus bangsa ini menjadi lebih efektif dan lebih nyaman, tidak perlu bersitegang," kata Thamrin.
Budi Utami mengamini Thamrin. "Maknanya pemerintah ikut berjuang bersama-sama buruh menegakkan aturan untuk kesejahteraan buruh," katanya.
Kue tar ini jadi taktik baru Disnakertrans menghadapi unjuk rasa, setelah sehari sebelumnya Thamrin diteriaki aktivis mahasiswa dan buruh, di halaman kantornya.
Para pengunjukrasa tergabung dalam Aliansi Buruh Jember, yang berasal dari sejumlah organisasi seperti Serikat Buruh Migran Indonesia, Aliansi Jurnalis Independen, Studi Kebijakan dan Transformasi Sosial (Sketsa), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, dan Himpunan Mahasiswa Islam.
Pengunjukrasa menyampaikan sepuluh tuntutan, yakni ratifikasi konvensi migran tahun 1990 mengenai perlindungan hak-hak pekerja migran dan anggota keluarganya; amandemen UU Nomor 39/2004 tetang PPTKILN; revisi perda Nomor 5/2008 tentang pelayanan dan perlindungan TKI asal Jember; menyeriusi penanganan kasus-kasus buruh migran Jember; dan penempatan buruh migran dilakukan oleh pemerintah dan bukan swasta.
Tuntutan lainnya adalah penghapusan outsourcing, upah layak untuk jurnalis, peningkatan kesejateraan buruh, pemenuhan hak-hak buruh, dan pemberian upah sesuai upah minimum kabupaten.
Thamrin setuju dan bisa memahami tuntutan para demonstran. "Ke depan akan diterapkan pemberian upah per sektor pekerjaan. Soal outsourcing saya setuju dengan tuntutan Anda," katanya.
Terkait penanganan persoalan buruh migran, Thamrin memuji Achmad Mufti, Ketua SBMI Jember yang menjadi koordinator aksi. Ia merasa terbantu oleh Mufti. "Oleh sebab itu, dalam buku saya, nama Mas Mufti ini akan saya masukkan dalam ucapan terima kasih," katanya.
Mendengar pernyataan Thamrin, beberapa aktivis berteriak: 'Gak penting!' Mendapat teriakan itu, Thmrin tersenyum. "Gak penting ya," katanya, kemudian melanjutkan penjelasannya mengenai hal lain. [wir]
02 May 2011
Aktivis HMI Semprotkan Parfum di Ruang DPRD
Perwakilan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam menuntut kepada DPRD Jember untuk memperjuangkan nasib buruh dan rakyat. Saat bertemu anggota Dewan, mereka menyemprotkan parfum di ruangan gedung parlemen, Senin (2/5/2011).
Para aktivis HMI melakukan aksi unjuk rasa memperingati Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional. Mereka memandang masih banyak ketidakadilan di bidang perburuhan dan pendidikan.
Bertemu dengan Ketua Komisi D Ayub Junaidi dan Ketua Fraksi PDI Perjuangan Indonesia Raya Bukri di ruang Komisi B, perwakilan HMI meminta ijin untuk menyemprotkan parfum. "Teman-teman, mari berdiri dulu untuk menyemprotkan minyak wangi, karena DPRD sudah tak wangi lagi," kata Ulil, salah satu aktivis.
Ulil menyatakan, HMI mendesak penghapusan komersialisasi pendidikan, penghapusan kapitalisasi pendidikan, adanya hukuman bagi birokrat-birokrat pembelok pendidikan, dan pemberian keterjaminan pendidikan kepada masyarakat kurang mampu.
"Pendidikan di Kabupaten Jember dinyatakan bebas tuna aksara dan mendapat penghargaan nasional. Tapi ternyata yang buta huruf masih banyak," kata Rahman, salah satu aktivis HMI.
Terkait buruh, HMI menuntut DPRD untuk merekomendasikan tindakan tegas kepada perusahaan-perusahaan yang melanggar aturan ketenagakerjaan. Ulil mencontohkan Perusahaan Daerah Perkebunan yang kerap diberitakan tidak membayar buruh sesuai upah minimum kabupaten.
"Ini preseden buruk. Masa perusahaan daerah tidak bisa memberi contoh kepada perusahaan swasta," kata Ulil. HMI juga menuntut agar perusahaan-perusahaan di Jember mau memberikan jaminan sosial kepada para buruh.
Ayub Junaidi menyatakan siap memperjuangkan aspirasi para aktivis HMI. "Kami juga menolak kapitalisme dalam pendidikan. Saya juga setuju jika PDP memberikan contoh kepada perusahaan swasta lainnya. Dalam waktu dekat kami akan panggil PDP," katanya. [wir]
Labels: Pendidikan, Peristiwa, Politik
25 March 2010
Wartawan Beritajatim.com Raih Piala Prapanca
Surabaya (beritajatim.com) - Portal berita online yang baru berusia empat tahun, Beritajatim.com, berhasil menempatkan salah satu wartawannya sebagai peraih penghargaan karya tulis jurnalisme Piala Prapanca. Ini pertama kali wartawan sebuah media online memenangkan penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Timur tersebut.
Penghargaan diberikan oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo kepada Oryza A. Wirawan, wartawan Beritajatim.com yang menempati wilayah liputan eks Karesidenan Besuki, dalam Resepsi Hari Pers Nasional dan HUT PWI, di Ballroom Hotel Shangri-La, Kamis (25/3/2010) malam.
Oryza menulis liputan mendalam berjudul Hikayat Bank Gakin: Bank Keluarga Miskin Bermodal Saling Percaya. Tulisan ini tentang Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat (LKMM) yang dikembangkan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Jember. "LKMM ini disebut Bank Gakin, yang sedikit banyak mengadaptasi Grameen Bank Ahmad Yunus," katanya.
Nominator pemenang penghargaan antara lain: Achmad Supardi dan Arif Kurniawan dari Surabaya Post, M. Irfan dan Edy Jacub dari Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, serta Dzurriah Nisa dari Kabarbisnis.com.
Sementara itu, peraih penghargaan Piala Prapanca untuk karya foto adalah Suswantoro, fotografer Harian Surabaya Post. Ia memotret kerusuhan sepakbola dengan judul Nasib Pengadil yang Tidak Adil. Nominator penghargaan ini adalah Trisnadi (Harian Duta Masyarakat), Beki Subeki (Jawa Pos), Eric Siswanto (LKBN Antara), dan Dita Surendra (Jawa Pos). [kun]
Labels: Jurnalisme, Pengalaman, Peristiwa
07 January 2010
Kejaksaan Jember Amankan 'Gurita Cikeas'
Baru sehari beredar di arena pameran Pesta Rakyat Jember, buku karya George Junus Aditjondro berjudul Membongkar Gurita Cikeas langsung diamankan oleh petugas Kejaksaan Negeri setempat, Kamis (7/1/2010).
Menurut keterangan dari sejumlah sumber, dua orang yang mengaku dari Kejaksaan Negeri Jember itu menemui pedagang salah satu stan buku. Lalu belasan buku 'Gurita Cikeas' yang ada langsung diambil. Hari, salah satu panitia pameran mengatakan, tidak tahu persis kejadian tersebut. "Tapi kata orang-orang terjadi pagi hari sebelum pameran dibuka," katanya.
Pantauan beritajatim.com, Rabu malam (6/1/2010) saat buku itu pertama kali dijual, poster fotokopian kover buku itu ditempelkan di dinding. Udin, salah satu penjual mengatakan, buku itu berasal dari Jogja. "saya cuma disuruh menjualkan, Mas. Harganya Rp 80 ribu," katanya.
Harga Rp 80 ribu jelas di atas bandrol resmi Rp 36 ribu. Namun jelas jauh lebih murah jika dibandingkan harga di kota lain yang bisa mencapai Rp 300 ribu per eksemplar. "Saya tidak tahu kalau buku itu dilarang. Pokoknya saya hanya jual," kata Udin.
Kendati dipajang Rabu malam itu, buku tersebut ternyata tak banyak menyita perhatian pengunjung. Tak satu pun pengunjung terlihat bertanya-tanya kepada sang penjual. Udin sendiri tampak gembira, saat mengetahui kehadiran buku Gurita Cikeas di stand-nya hendak diberitakan sebuah koran harian lokal di Jember. Namun siapa nyana, ternyata setelah berita kehadiran Gurita Cikeas ditampilkan Kamis pagi di koran lokal itu, justru yang hadir adalah petugas kejaksaan.
Beritajatim.com belum berhasil meminta konfirmasi dari Irdam, Kepala Kejaksaan Negeri Jember. Namun, sumber kuat beritajatim.com di Kejaksaan Negeri Jember membenarkan penyitaan itu. Namun ia menampik jika itu disebut penyitaan. "Ini pengamanan berdasarkan surat edaran Jaksa Agung," bisik sumber tadi.
Menurutnya, 14 buku diambil dari arena pameran. "Sementara dipelajari di kantor. Nanti baru akan ditentukan apakah masuk buku yang dilarang beredar atau tidak. Kalau nanti dalam penelitiannya tidak terlarang, ya dikembalikan ke penjualnya," katanya.
Bagaimana dengan penjualnya? "Tentu saja dia tidak terkait," kata sumber tadi.
Buku George Junus Aditjondro berjudul Membongkar Gurita dari Cikeas membuat panas kuping Presiden SBY dan pendukungnya. Menyoroti dugaan penyalahgunaan kekuasaan di tubuh istana, buku itu menghilang dari peredaran. Sejumlah toko buku besar takut menjualnya. [wir/bjo]
Labels: Buku, Obrolan Kota, Peristiwa, Politik
09 June 2009
JK Ogah Politisasi Jasa di Suramadu
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla tidak mau bersaing dengan Susilo Bambang Yudhoyono untuk tampil menjelang peresmian jembatan Suramadu. JK terkesan enggan bersaing memolitisasi jasanya yang cukup besar dalam pembangunan jembatan itu.
"Saya tidak ada agenda ke Suramadu. Saya setelah di Sidoarjo, saya akan ke Mojokerto," kata Jusuf Kalla kepada wartawan, saat berkunjung ke pusat semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (9/6/2009).
Terakhir, JK justru mengunjungi jembatan Suramadu pada Maret 2009 untuk memastikan agar jembatan itu bisa diresmikan dan beroperasi pada Juli ini. "Begitu jembatan itu sudah jadi, tugas saya sudah selesai," kata JK saat dihubungi via ponsel oleh beritajatim.com, dalam perjalanan kembali ke Jakarta.
Sikap JK yang tak ingin pamer jasa di jembatan Suramadu terlihat dari minimnya atribut kampanye bergambar dirinya di sekitar jembatan. Bahkan, JK tak berkomentar di media, soal tersingkirnya gambar dirinya dari baliho besar peresmian, digantikan gambar Kristiani Yudhoyono, istri SBY. Dibanding atribut JK dan Megawati, atribut SBY justru mendominasi sekitar jembatan tersebut.
Saat diberitahu adanya baliho raksasa peresmian Suramadu yang tidak memampang gambar JK sebagai pendamping SBY, pengamat ekonomi dari Institue for Development of Economics dan Finance (Indef), Mohamad Fadhil Hasan, tertawa. "Itu berlebihan. Pak SBY sendiri kan bilang jangan merasa paling berjasa, kita harus rendah hati," katanya.
Fadhil Hasan dan anggota DPR RI Drajat Wibowo secara terpisah sama-sama menyatakan, JK memiliki peran sangat besar dalam pembangunan jembatan Suramadu. "Pak JK mendapat surat dari SBY sebagai orang yang diberi kewenangan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, salah satunya jembatan Suramadu," kata Hasan.
"Ketika Suramadu macet, Wapres JK-lah yang langsung meninjau dan memerintahkan Menteri Pekerjaan Umum untuk segera mengatasi kemacetan tersebut. JK turun tangan langsung mencari solusinya, bukan orang lain," tambah Drajat.
Drajat benar. April 2008, saat meninjau jembatan Suramadu, JK menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin yang optimistis. "Jembatan itu harus selesai sebelum kampanye 2009," tegas JK, saat itu.
"Soal dana yang mencapai Rp 4,5 triliun, insya Allah kita mengupayakan. Memang masih ada dana yang belum cair, besarnya Rp 900 miliar. Tapi itu tidak perlu dikhawatirkan. Itu masih dalam proses pencairan di Bappenas. Pasti cair," sambung JK yang kini menjadi calon presiden nomor urut tiga.
Apa yang dikatakan JK sejalan dengan kenyataan. Jembatan Suramadu selesai sebelum pemilihan presiden digelar. Masalah dana pun tak menjadi persoalan. JK menjadi motor untuk melobi pinjaman ke Bank Exim China sebesar Rp 2,1 triliun.
Sebagai ketua umum Partai Golkar, JK juga berhasil mengomando para legislator partainya yang menjadi pemilik kursi terbesar di DPR RI, untuk meloloskan anggaran pembangunan Suramadu. kader Golkar Paskah Suzetta juga banyak berperan dalam pembahasan anggaran Suramadu di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Menurut Fadhil Hasan, JK memang tidak ingin mengklaim peran di Suramadu. "Ini prestasi bersama. Pembangunan jembatan Suramadu tidak hanya dibangun pada masa pemerintahan SBY-JK, tapi juga pada masa pemerintahan Bu Mega," katanya.
Kwik Kian Gie, mantan Kepala Bappenas di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, juga menolak klaim jasa SBY dalam pembangunan Suramadu. "Wah, tidak betul itu. Yang merintis dari nol justru Bu Mega. Saya waktu itu ikut menangani segala macam. Pak SBY di dalam kabinet. Tapi waktu itu, dia kan Menko Polkam," katanya.
JK sendiri mengakui peran pemerintah sebelum pemerintahan dirinya bersama SBY dalam pembangunan Suramadu. "Saya memberi perhatian besar pada pelaksanaannya. Jembatan ini sudah melalui lima presiden, dan pelaksanaannya tidak lancar. Melalui jaman Presiden Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, hingga sekarang, Susilo Bambang Yudhoyono," katanya dalam salah satu buku. [wir]
Labels: Ekonomi, Obrolan Kota, Peristiwa, Politik
22 May 2009
Hercules, Wajah Militer Indonesia
Kematian meluncur deras dari langit Magetan. Dan di daratan, kita mendadak membutuhkan penjelasan-penjelasan. Dalih-dalih. Mungkin juga kebohongan.
Maut di Magetan adalah yang kedua dalam dua bulan beruntun. Awal April silam, tepat sebelum pemilu, sebuah fokker limbung dan jatuh menghantam tanah di Bandung. Kita seperti tak pernah belajar, bahwa ada persoalan di tubuh militer kita.
Jatuhnya pesawat Hercules di Magetan menyisakan perdebatan tentang borok itu. Presiden Yudhoyono membantah, bahwa minimnya anggaran menjadi faktor pemicu. Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla memilih berterus terang tentang anggaran sebagai pangkal soal.
Otoritas militer berjanji melakukan investigasi, namun naga-naganya penjelasan sudah disiapkan: faktor cuaca. Soal puluhan warga sipil di atas pesawat yang akhirnya menjadi korban tewas, panglima TNI membantah adanya komersialisasi pesawat sebagai alasan banyaknya korban sipil.
Sementara, di media massa berkembang jawaban irasional dan berbau supranatural: Hercules yang hancur itu, dulu digunakan untuk mengangkut jenasah mantan Presiden Suharto. Nahas seakan-akan datang karena tuah Suharto.
Menyalahkan cuaca. Menyalahkan yang telah mati. Agaknya itu semua lebih nyaman daripada menuding muka sendiri.
Tragedi Hercules semestinya dilihat dalam perspektif dunia militer kita yang lebih luas. Akademisi Universitas Indonesia Andi Widjajanto menulis, minimnya anggaran membuat Departemen Pertahanan hanya bisa memenuhi 40-50 persen kebutuhan pertahanan. Terakhir, anggaran militer kita 0.69 persen dari produk domestik bruto. Sementara itu, di tengah keterbatasan itu, Angkatan Darat memperoleh porsi anggaran yang jauh mengangkangi Angkatan Udara dan Angkatan Laut.
Ini hal yang ganjil sebenarnya, mengingat Indonesia memiliki samudra lebih luas daripada daratan, dan langit yang membentang untuk dikawal. Akibatnya, kita dengar, para tentara kita beroperasi dengan pesawat atau kapal yang berusia lanjut, dan bahkan suku cadangnya mungkin harus dibongkarpasang alias dikanibal.
Ketidakseimbangan anggaran ini melanjutkan paradigma militer masa Orde Baru. Sejak masa Orde Baru, Angkatan Darat menikmati privelese paling besar. Anggaran mengguyur deras. Para prajurit kelas bawah tak mendapatkan kesejahteraan semestinya, sementara para jenderal dan perwira bisa berbisnis di mana-mana: mulai dari bisnis terang-benderang hingga bisnis kelabu. Para purnawirawan dan keluarga mereka direkrut menduduki jabatan-jabatan empuk negara, membangun usaha, dan ikut menciptakan konglomerasi.
Di masa damai, tentara-tentara yang disebut oknum menjadi beking diskotik dan bisnis terlarang. Di wilayah konflik, senjata dan peralatan perang ikut dibisniskan. Terutama di wilayah konflik ini, syahwat bisnis tentara tak hanya menjadi urusan personil di Angkatan Darat, tapi juga dua angkatan lainnya yang juga ingin cari untung. Celakanya, lagi-lagi, syahwat bisnis lebih banyak menguntungkan mereka yang berpangkat tinggi.
George Junus Aditjondro, mantan wartawan yang aktif menginvestigasi persoalan militer, pernah menulis bahwa rakyat di Papua 'menyubsidi bisnis TNI/AU, yang mengomersialisasikan pesawat-pesawat Hercules'. Tiket dijual bagi siapa saja yang ingin terbang ke Jawa setiap pekan pertama dan ketiga. Harganya lebih murah daripada pesawat milik maskapai penerbangan komersial. Tahun 2000, harga tiket dari Sentani ke pangkalan udara Iswahyudi di Madiun hanya Rp 900 ribu.
"Hasil penjualan tiket-tiket Hercules itu dibagi antara komandan pangkalan TNI/AU Merauke, komandan TNI/AU Papua Barat, pilot Hercules, dan komandan pangkalan TNI/AU di Madiun," tulis Aditjondro lima tahun silam.
Hercules mengungkap kembali wajah lain tentara Indonesia. Di satu sisi, naiknya tiga jenderal ke pentas pemilihan presiden dan wakil presiden menghadirkan wajah politik. Di sisi lain, tentara Indonesia masih belum bisa lepas dari tabiatnya untuk berbisnis dengan memanfaatkan peralatan perang yang sudah uzur.
Saatnya, pemerintah untuk jujur. Itu langkah pertama yang penting. Ini tak ada kaitannya dengan politisasi menjelang pemilihan presiden untuk menohok rezim Susilo Bambang Yudhoyono. Lagipula, siapa yang bisa mengatur langit bakal runtuh atau tidak sekalipun di ujung masa pemerintahan SBY.
Kejujuran akan membuka langkah berikutnya untuk mengambil langkah-langkah antisipasi, agar hal serupa tak terjadi lagi. Kita tentu tak ingin para serdadu kita selalu mati bukan di medan tempur, dan membawa serta korban sipil pula, bukan? (*)
Daun Asam Ranji di Otak Suswati
Seekor banteng telah mengubah hidup Suswati. Kini ia harus hidup dengan satu mata, setelah sempat menjalani operasi selama enam jam akibat serudukan banteng. Otaknya sempat kemasukan daun asam ranji.
Suswati datang ke kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alama Jawa Timur II, di Jalan Jawa, Jember, Jumat (22/5/2009). Ia ditemani suaminya, Muhammad, dan seorang kerabat lagi. Saat diminta membuka kacamata hitamnya oleh wartawan, perempuan berusia 35 tahun itu sempat menolak.
Suswati baru mau membuka kacamatanya, setelah diminta oleh Kepala BKSDA Jatim II Abdullah Effendi Abbas. Kaca mata dibuka, dan tampaklah mata sebelah kanannya terpejam sama sekali.
"Ini bola matanya sudah diambil. Kata dokter, kalau tak diambil khawatir infeksi," kata Muhammad.
Cerita dibuka pada medio September lalu, saat bulan puasa. Usai bersantap sahur bersama keluarga, Suswati menuju sungai Paliran yang tak jauh dari rumahnya, di Dusun Gunung Remuk Desa Ketapang Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Ia bermaksud mencuci pakaian.
Suara air sungai menulikan Suswati. Ia tidak tahu, jika beberapa orang di sekitarnya berteriak-teriak mengingatkan ada seekor banteng tak jauh darinya. Ia juga tak tahu kapan banteng itu mendekatinya.
Mendadak Suswati terjengkang. Salah satu ujung tanduk banteng itu sudah menancap di mata kanannya, dan menembus kepalanya. Orang-orang ketakutan tak ada yang berani mendekatinya. Banteng itu masih berkeliaran. Syukurlah, Slamet, kakak Suswati segera berlari menyelamatkannya.
"Suswati memakai pakaian warna oranye. Setahu saya korban-korban lain juga pakai pakaian warna agak merah," kata Muhammad.
Dua korban lainnya di lokasi yang berbeda adalah Suhina dan Mat Rasid. Namun, kondisi mereka tak separah Suswati.
"Banteng itu mungkin menganggap sungai tersebut sebagai habitatnya. Jadi saat ada Suswati, secara naluriah banteng ini ingin menyingkirkankannya," kata Abdullah Effendi Abbas. Apalagi, jarak antara sungai itu dengan hutan lindung Perhutani hanya sekitar 2 kilometer.
Suswati segera dilarikan ke Rumah Sakit Islam Fatimah. Kondisinya kritis. Operasi berlangsung selama enam jam. Kepala Suswati dibelah sebagian. Ada selembar daun asam ranji di otaknya. Dokter menyatakan bola mata Suswati tak bisa diselamatkan lagi.
"Kami memberikan uang santunan sekitar Rp 25 juta, sebesar biaya operasi dan pengobatan yang telah dikeluarkan," kata Abbas.
"Sudah takdir. Mau bagaimana lagi?" kata Muhammad, soal kondisi istrinya itu.
Suswati agaknya sudah melupakan peristiwa pahit itu. Bersama suaminya, ia tertawa saat dengan nada gurau saya bertanya, apakah banteng yang menyeruduknya bermoncong putih.
"Ah, sampeyan (Anda) ini bisa saja, Mas," kata Muhammad, disambut tawa istrinya.
Habitat Semakin sempit, Banteng Perlu Embung
Pertemuan antara banteng dengan manusia sebenarnya bisa semakin dikurangi, jika habitat banteng tidak terganggu. Selama ini, habitat banteng semakin terkurangi dengan semakin bertambah dan ekspansifnya manusia.
Musibah yang dialami tiga warga Kabupaten Banyuwangi, salah satunya bahkan membuat cacat permanen, tak sepenuhnya bisa dihindari. Setiap kemarau, banteng akan berupaya mencari lokasi yang menyediakan air. Kebetulan, para banteng ini turun di sungai yang juga digunakan manusia.
Bahkan, salah satu petugas lapangan golf Glantangan pernah berkata, ada keluarga banteng yang turun di padang golf. Mereka mencari minum di danau buatan.
"Kita harus membuat embung-embung, yakni tempat penampungan air. Kami sudah melakukannya di suaka margasatwa Sang Hyang," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur II Abdullah Effendi Abbas, Jumat (22/5/2009).
Effendi mengatakan, saat ini pihaknya baru bisa membuat dua embung. Jika memperhatikan wilayah atau home range banteng yang luas, jumlah embung bisa ditambah.
"Tapi sulit untuk memetakannya, karena jumlah penduduk semakin banyak. Kami hanya bisa menyarankan, agar penduduk pada musim kemarau berhati-hati terhadap satwa liar yang mencari minum," kata Abbas. [wir/kun]
Labels: Lingkungan, Peristiwa
21 May 2009
Adik Korban Hercules, Wartawan Surabaya Pagi Syok
Isma Hakim Rahmat akhirnya kembali ke tanah kelahirannya, Jombang, Kamis (21/5/2009). Namun, wartawan Surabaya Pagi ini datang dalam duka, setelah adiknya, Firdauz Yuyun Negara, menjadi korban dalam kecelakaan pesawat Hercules di Magetan.
"Wajah yang tidak bisa aku lupakan. Wajah adikku yang sangat lugu itu. Sorot matanya aku masih ingat betul. Lugas, jujur, dan senyumannya mirip sekali dengan Bibi Ning, ibunya," tulisnya dalam surat elektronik kepada saya, Kamis (21/5/2009).
Surat elektronik berisi kisah kenangan tentang sang adik juga ditayangkan di halaman Facebooknya.
Firdauz berpangkat terakhir Letnan Satu. Dalam usia 30 tahun, ia menjadi co-pilot di Hercules C-130. Bersama Isma, ia tumbuh di Dusun Jeruk, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang.
"Rasanya baru kemarin aku bersama Firdauz Yuyun Negara bersenda gurau. Kita berdua bermain bersama, manjat pohon asam bersama. Main sepeda pancal bersama," kata Isma.
Isma mendapat kabar sang adik menjadi korban di Magetan, setelah mendapat pesan pendek dari Nur Kumala, adiknya yang lain yang tinggal di Jombang. "Mas, ada kecelakaan pesawat di Magetan. Tolong lihat di TV, katanya dik Fir, ikut di dalamnya,” begitulah isi SMS itu.
Firdauz dan Isma sebenarnya bukan saudara kandung. Namun, sejak kecil, orang tua Firdauz, Zaenal Fanani - Muslikah, yang merawatnya. Bahkan, Muslikah ikut menyusui Isma.
Firdauz kecil menyukai sepakbola. Bersama Isma, ia dilatih langsung oleh paman mereka, M. Cholison, yang pernah menjadi pemain kesebelasan Niac Mitra dan Persebaya Surabaya.
Firdaus dikenal pendiam dan penurut. Isma ingat, sang adik suka makan asam mentah.
Isma dan Firdauz mulai berpisah jalan karena kesibukan masing-masing, saat menginjak bangku SMA. Isma memilih masuk Fakultas Pertanian di Universitas Jember. Sementara, Firdauz masuk ke Akademi Angkatan Udara tahun 1997 dan lulus tahun 2001. "Kalau bisa jadi Jenderal, Mas. Tapi kalau tidak bisa ya jadi mantunya Jenderal," katanya, tertawa.
Zaenal Fanani sering membanggakan putranya di hadapan Isma. "Anakku iki loh sing ngganteng dewe, masuk Akabri Udara. Wah, prestasinya oke. Calon Pilot loh, kim," katanya kepada Isma suatu kali.
Firdauz menikah dengan Analisa Listya Ningrum. Namun, keduanya belum dianugerahi putra, hingga akhirnya Firdauz kembali menghadap Tuhan.
"Rasanya aku ingin sekali mengabarkan kepada dunia: bahwa korban co. pilot di pesawat itu adik saya," kata Isma.
"Firdauz Yuyun Negara sudah memberi kami sekeluarga kebanggaan. Segudang harapan, dan kebanggaan. Walau hanya sekejap. Bagi kami itulah hidup. Hidup ini sudah memiliki peran masing – masing. Kita dituntut untuk ikhlas," kata Isma.[wir/ted]
08 May 2009
7 Tahun= 4.245 Bencana + 180.858 Orang Tewas
Rentang tujuh tahun, sejak 2002 hingga 2008, telah terjadi 4.245 kali bencana yang menewaskan 180.858 orang di Indonesia. Kerugian material mencapai Rp 110,4 triliun.
"Masyarakat luar negeri menyebut Indonesia adalah supermarket of disaster (pasar swalayan bencana). Tapi saya bilang ini laboratorium, yang menantang putra-putri Indonesia bertindak yang terbaik," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Dr. Syamsul Maarif, dalam kuliah umum di Universitas Jember, Jumat (8/5/2009).
Negara Indonesia memang tak pernah mendefinisikan dirinya dalam perspektif bencana. Maarif mengatakan, Undang-Undang Dasar bicara bentuk negara dalam bentuk batas-batas.
"Tidak dikatakan kita di perbatasan simpang lempeng yang selalu bergerak dan mendesak Indonesia. Tak disebutkan kita hidup di negara dengan 160 gunung berapi yang aktif. Kita tidak bicara hazard (bahaya) yang kita hadapi," katanya.
Padahal, warga Indonesia yang hidup di sebuah kawasan rawan bencana, harus bisa hidup harmonis dengan bencana. "Baru setelah itu kita harus tahu bagaimana memenej bencana," kata Maarif.
Maarif mengajak semua pihak menggunakan pandangan holistik dalam menghadapi bencana. Pendekatan holistik menekankan pada adanya bahaya, kerentanan, dan risiko, serta kemampuan masyarakat dalam menghadapi bahaya dan risiko.
Masyarakat tidak hanya bisa bergantung kepada pemerintah dalam menangani bencana. "Jika kita hanya menunggu pemerintah, dipastikan lambat. Di Jogja dan daerah-daerah lain, yang tangkas melakukan penanganan darurat adalah masyarakat di sekelilingnya," kata Maarif.
Walaupun tidak boleh menjadi alasan untuk tidak berbuat maksimal, pemerintah terkendala sejumlah persoalan, terutama masalah geografis. Sebenarnya, masyarakat sudah memiliki kearifan lokal saat menghadapi bencana.
"Saya pernah mendatangi suku terasing di Papua saat bencana. Saya menduga, suku ini sudah habis, tewas semua. Tapi ternyata mereka semua masih hidup. Justru yang tidak selamat adalah kita-kita yang terdidik dan berada di kota. Suku terasing itu justru bisa berkompromi dengan alam," kata Maarif.
Kearifan lokal inilah yang perlu disentuh pemerintah. "Pemerintah perlu mengintervensi dalam artian mengembangkan kemampuan warga," kata Maarif.
Selain itu, Maarif berharap pemerintah daerah membuat peta rawan bencana lebih teliti. "Bencana secara manajerial harus dilihat dari keputusan pembangunan. Bukannya mau ikut campur, misalkan ada jalur lintas selatan dan dibuka penambangan, ini harus dipikirkan," katanya. [wir/kun]
05 May 2009
Tabrak Pos KA, BMW Anggota DPRD Jember Terbalik
Anggota DPRD Jember dari Fraksi Kebangkitan Halim, Ahmad Halim, mengalami kecelakaan, Selasa (5/5/2009). Mobil BMW yang ditumpanginya menabrak pos penjaga palang pintu perlintasan kereta api di Kecamatan Arjasa hingga terbalik.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul tiga dinihari. Saat itu, mobil Halim melaju dengan kecepatan tinggi. Mendadak, mobil itu menghantam pagar pembatas menjelang perlintasan kereta. Tak cukup itu, BM itu kemudian menghajar pos penjaga perlintasan hingga terbalik.
Khoiri, salah satu warga yang tengah asyik tiduran di warung dekat lokasi kejadian, langsung terjaga dan menuju asal terdengarnya suara keras itu. Saat itulah, dia melihat kondisi pos penjaga portal sudah hancur, dan mobil BMW terbalik.
Dalam pos itu, biasanya seorang penjaga pintu bernama Pak Rakit berjaga. Namun saat kejadian, ia tengah keluar untuk buang air kecil. Jadi tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut.
Kecelakaan itu terjadi beberapa menit sebelum kereta api Mutiara Timur Malam jurusan Banyuwangi melintas. "Posisi mobil sudah di tengah rel kereta api. Petugas lalu segera memberikan peringatan ke kereta api supaya berhenti," kata Ayub Junaedi, sahabat Halim, yang juga Sekretaris PKB Jember.
Halim segera dilarikan ke RSUD dr. Soebandi. Namun, kondisinya baik-baik saja. Ia hanya mengalami lecet. Sementara, mobilnya ringsek berat. "Memang sulit dipercaya. Mobilnya hancur, tapi Halim tidak mengalami luka berat," kata Ayub.
Saat ditemui di RSUD dr. Soebandi Jember, Halim bercerita, ada pecahan kaca (beling) yang menancap di bagian ban kiri depan. Ia tidak mencabutnya, karena ban yang dipakainya tubeless. [wir/kun]
Labels: Peristiwa
03 May 2009
Bupati Jember Menikahkan Putrinya
Pendapa Wahyawibawagraha mendadak dipenuhi orang berpakaian hem dan berpeci, juga bersarung, Minggu (3/5/2009). Bupati Muhammad Zainal Abidin Djalal sedang punya hajat.
Djalal menikahkan putrinya Astiti Rahayu dengan Abdul Hamid Busthami Nur. Jumlah undangan yang hadir dalam acara tersebut diperkirakan mencapai seribu orang.
Untuk ukuran seorang bupati, acara akad nikah itu terhitung sederhana. Para hadiri yang duduk lesehan, mendapat sajian nasi kuning, ayam goreng, dan lauk-pauk sederhana nan nyaman. Tidak ada hidangan mewah.
Para undangan pun tak hanya orang-orang yang dekat dengan Bupati Djalal. Wartawan dan beberapa orang yang selama ini dikenal sebagai oposisi pemerintahan Djalal pun hadir.
Djalal sendiri yang menjadi penghulu pernikahan bagi anaknya. Sebelum menikahkan sang putri, ia meminta kepada Busthami, agar "mampu membawa anaknya mengarungi hidup sesuai perintah agama."
"Lalu pada akhirnya, kenalkanlah anak saya dengan Rasulullah Muhammad SAW, dan menuju alam surgawi," kata Djalal.
Saat pembacaan akad nikah, Sri Wahyuni, istri Djalal, meneteskan air mata. Beberapa kali, ia menyeka pipinya dengan selembar tisyu. [wir]
Labels: Obrolan Kota, Peristiwa
09 April 2009
Sinyal Bahaya dari Ponorogo
Jelang masa pencotrengan, publik dibuat terperangah oleh kabar dari Ponorogo, Jawa Timur. Suhu politik di Daerah Pemilihan VII untuk DPR dan DPRD Provinsi ini mendadak panas, setelah sejumlah orang melaporkan dugaan money politics.
Ini bukan urusan politik uang biasa. Nama Edhie Baskoro Yudhoyono ikut tersangkut, karena uang Rp 10 ribu dibagikan bersama brosur yang mempromosikan nama putra Presiden SBY itu. Ibas, sapaan akrab Edhie, memang dicalonkan Partai Demokrat di nomor urut ketiga untuk calon legislator DPR RI.
Di berbagai daerah, termasuk di Jawa Timur, modus pembagian uang dengan disertai brosur, stiker, atau ajakan langsung untuk memilih salah satu calon legislator mudah ditemui. Panitia Pengawas Pemilu pun tak segan mengusut pelakunya dan menyeretnya ke pengadilan. Belum pernah terdengar kasus ini kemudian melebar ke mana-mana.
Namun tidak demikian dengan kasus yang membuat nama Ibas terseret. Menanggapi berita yang muncul dari Ponorogo, Ibas dan orang-orang Demokrat terkesan reaksional dan emosional. Ibas langsung melaporkan ke Markas Besar Kepolisian RI, karena merasa nama baiknya dicemarkan.
Reaksi polisi di luar kebiasaan pula. Polisi langsung menetapkan pelapor dugaan politik uang itu sebagai tersangka. Bahkan, tiga pimpinan media massa yakni The Jakarta Globe, Harian Bangsa, dan Okezone.com ikut-ikut jadi tersangka karena dianggap memuat berita palsu. Yang tak biasa pula, polisi langsung menganulir status tersangka tiga pimpinan media tak lama dari masa penetapan. Sementara, orang yang diduga melakukan politik yang justru tak terdengar kabar penanganannya.
Dari kasus di Ponorogo ini, ada sinyal bahaya yang bisa ditangkap publik. Pertama, bagaimana persoalan dugaan politik uang yang seharusnya menjadi musuh bersama dalam kehidupan demokrasi kita, ternyata tak mudah diusut begitu saja jika menyebut nama orang yang dekat dengan kekuasaan di sana.
Kedua, 'kepanikan' polisi menjadikan tersangka tiga pimpinan media menunjukkan bahwa aparat masih belum mampu memahami fungsi pers. Sangkaan awal bahwa tiga media itu membuat berita palsu, menunjukkan betapa aparat tidak mengerti apa yang disebut berita dan bukan.
Selama peristiwa pembagian uang itu faktual, maka memberitakannya bukan membikin berita palsu. Selama pers melakukan tugasnya dengan disiplin yang benar dalam memberitakan, maka tugas pers telah tunai. Tugas aparat hukumlah yang kemudian menindaklanjuti peristiwa itu, dan mencari tahu kebenarannya di mata hukum positif.
Dalam kasus ini, persoalan politik uang yang seharusnya diselesaikan di ranah hukum murni, justru menjadi bias dan teropini di ranah politik. Dijadikannya pelapor praktik politik uang sebagai tersangka adalah preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia. Ini menunjukkan bagaimana negara tidak mampu melindungi warganya yang berupaya aktif membantu aparat untuk memberantas perilaku jahat. Jika ditarik lebih jauh, bagaimana pula negara nanti bisa menjamin keselamatan warganya yang melaporkan tindak kejahatan yang lebih rumit seperti korupsi, misalnya. Orang akan segan menjadi 'peniup peluit', jika kemudian hanya akan dijadikan kambing hitam dan dijerat pasal pencemaran nama baik.
Seharusnya, kepolisian, Ibas, dan Partai Demokrat bersabar mengikuti aturan main yang sudah disepakati bersama. Biarkanlah kasus dugaan politik uang ini diusut tuntas dulu hingga ke pengadilan. Pelaku penyebaran uang ditangani dan diadili. Jika memang tidak terbukti bersalah, maka bisa diambil jalan penuntutan balik terhadap sang pelapor dengan pasal pencemaran nama baik.
Mengacu penanganan kasus politik uang pemilu di sejumlah daerah, sebagian tersangka dinyatakan bersalah dan dihukum badan maupun denda. Namun mayoritas para terhukum itu adalah operator di lapangan yang membagikan uang langsung. Bukannya sang caleg yang namanya dipromosikan bersamaan dengan uang yang dibagikan. Pasalnya, hukum kita membutuhkan bukti material yang bisa menghubungkan satu perbuatan seseorang dengan perbuatan orang lain.
Artinya, Ibas maupun Demokrat tak perlu kebakaran jenggot ketika ada laporan politik uang yang menyeret mereka. Jika memang merasa tidak bersalah, cukuplah sampaikan kepada publik melalui media, bahwa pembagian politik uang tak terkait dengan mereka. Dengan begitu, nama Ibas dan Demokrat tetap terjaga, dan proses hukum tetap dihormati tanpa ada praduga intervensi penguasa.
Media massa yang memberitakan secara kritis kebobrokan perilaku berpolitik tak perlu dimusuhi. Jika memang tidak puas, negara kita sudah menyediakan mekanisme penyelesaian elegan. Kriminalisasi kepada media massa dengan dalih berita hanya akan mematikan demokrasi yang telah kita semai bersama.
Maka mari kita dukung terus Panwaslu dan aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus politik uang di Ponorogo secara adil. Hanya ada satu kata bagi mereka: Lanjutkan! [wir]
02 March 2009
Kursi dan Kancing Sudiyono...
Kepala Dinas Pendidikan Jember Achmad Sudiyono terjatuh dari kursinya, saat mengikuti dengar pendapat dengan Komisi D DPRD Jember, Senin (2/3/2009). Pertanda apa?
Rapat itu berlangsung penuh canda tawa. Padahal yang dibahas tergolong urusan gawat di dunia pendidikan Kabupaten Jember. Sebut saja: persiapan ujian nasional, penerimaan siswa baru, dana bantuan operasional sekolah dan larangan pungutan, masalah dugaan plagiat buku kerja siswa, dan renovasi SDN Kertonegoro III yang ambruk.
Sudiyono menjelaskan semua permasalahan. Beberapa kali canda-canda segar dilontarkan, termasuk soal kepanjangan PSB yang seharusnya Penerimaan Siswa Baru dipelintir jadi Partai Serikat Buruh.
Wakil Ketua Komisi D Sujatmiko lantas menyahuti, "Lha kalau PBB apa singkatannya?"
Kebetulan yang duduk di sebelah Sujatmiko adalah Baharuddin Nur, politisi PPP yang menyeberang ke Partai Bulan Bintan (PBB). Dengan sigap, Baharuddin menjawab, "PBB itu Partainya Bapak Bahar."
Jawaban itu membuat semua yang hadir tergelak, termasuk Sudiyono, Saking bersemangatnya tertawa, ia tergelincir dari kursi yang didudukinya. Kursi itu terguling, dan Sudiyono nyaris berdebam ke lantai.
Giliran bicara, Madini Farouq memuji suasana dengar pendapat antara Komisi D dan Dispendik yang berjalan kondusif. Ia memberi contoh kontras dengan hearing DPR RI dengan Pertamina yang panas.
"Perkara Pak Achmad (Sudiyono) gerah terus kancingnya terbuka satu, ya itu urusan lain. Mungkin karena dari Thailand," kata Madini menunjuk kancing baju Sudiyono bagian atas.
Sudiyono langsung melihat ke bawah, dan buru-buru hendak menutup kancing itu, karena kaus putih di bagian dalam bajunya sudah terlihat. Namun ternyata kancing itu pun copot. "Lho, copot Gus," kata Sudiyono, disambut tawa hadirin.
Dalam penjelasannya soal dugaan plagiasi BKS, Sudiyono mengelak anggapan keterlibatan Dispendik secara institusional. Menurut berita yang dimuat beritajatim.com, BKS yang bernama Jitu (Jember Intelektual dan Bermutu) saat ini beredar luas di hampir seluruh SD di Jember diduga hasil plagiasi dari penerbit lain dan tak mencantumkan identitas penerbit.
Di susunan pengarah, ada sejumlah petinggi Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember, yakni Jumari (Kabid TK/SD), M. Yasin (Kasi Kurikulum Bidang TK/SD), dan Gunayat Suriyono. Dalam BKS itu juga tidak disebutkan tahun penerbitan.
Beberapa contoh BKS Jitu isinya persis dengan BKS dari penerbit lain yang sudah lebih dulu beredar. Misalnya, isi BKS Jitu untuk Pendidikan Kewarganegaraan kelas 5 sama persis dengan BKS Mutiara (Murid Aktif dan Rajin) yang diterbitkan Cipta Media Nusantara.
Perbedaan hanya ada pada sampul kedua BKS itu. Tetapi, setelah dibuka isinya, langsung kelihatan sama persis. Bahkan titik, koma, dan tanda baca lainnya sama. Nama penulis dan pengarah di BKS Jitu adalah para guru dan pejabat Dispendik Jember.
"Saya sangat yakin tim kami bekerja profesional. Selama ini Jember selalu menggunakan karangan orang Sragen, Jogja, Surabaya. Kita orang Jember harus bangga dengan potensi orang Jember sendiri," kata Sudiyono.
Menurut Sudiyono, buku itu sudah digunakan di Jember. Yang membanggakan BKS itu dikerjakan orang Jember sendiri yang bermitra dengan orang-orang yang dianggap mampu.
Mengenai materi yang digunakan dalam buku, sudah ada kesepakatan dengan PT Graha Ilmu Mulia yang ditandantangani 5 Desember 2008. "Materi itu boleh dipakai tim Jember, bisa dipakai semua, bisa dipakai berapa persen. Ini deal, bukan menjiplak," kata Sudiyono.
Anggota Komisi D DPRD Jember Misbahussalam mengatakan, masalah BKS bukan masalah fundamental. "Tapi masalah tataran teknis ini jangan dianggap enteng. Kita khawatir menyalahi aturan," katanya.
Anggota Komisi D lainnya Sanusi Fadillah Muchtar memuji upaya Dispendik. "Kalau memang tak ada plagiatnya ya transparan. Kalau ada pembunuhan karakter, ya tuntut balik saja," katanya.
M. Yasin, Kepala Seksi Kurikulum Bidang TK/SD Dispendik, yang tergabung dalam tim Jitu (Jember Intelektual dan Bermutu), mengatakan, BKS berangkat dari kreativitas para guru dan di luar Dispendik.
"Mereka bekerja dan tentu butuh referensi dari berbagai pihak. Maka diperlukan kerjasama berbagaui pihak, untuk kebutuhan referensi. Tim punya partnership yang berkompeten," kata Yasin.
Usai dengar pendapat, Sudiyono keluar ruang Komisi D dengan menebar senyum. Satu urusan sudah beres. Tinggal satu urusan lagi: menjalani pemeriksaan tim Kejaksaan Agung, Selasa 3 Maret. "Pemeriksaan anggaran APBD," katanya singkat. (*)
Labels: Pendidikan, Peristiwa
08 January 2009
Kisah di Balik Tragedi Antrokan
Dengan ocehan polos khas remaja, Rizka Amalia mendesak Fitriana untuk pelesir ke air terjun kecil di kawasan Sumberlangon Kelurahan Slawu Kecamatan Patrang.
"Pemandangannya bagus. Ada huruf S, muter-muter katanya," kata Fitriana mengenang perkataan Rizka. Rizka memang sudah terbiasa ke Antrokan (air terjun kecil) itu bersama Hendrik, pacarnya.
Fitriana dan Rizka adalah kawan satu sekolah di SMP Nurul Islam. SMP ini di bawah pembinaan Pondok Pesantren Nurul Islam, milik Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Muhyiddin Abdussomad.
Fitriana sebenarnya enggan menerima ajakan Rizka. Ada perasaan kuat yang membuatnya tak ingin pergi. Sang ibu, Sani, juga sudah melarangnya. Tapi ia tak bisa menampik bujukan Rizka. Berangkatlah Fitriana bersama lima kawan sekolahnya: Rizka, Siti Vera, Mega Susantri, Faridatul Mutmainah, dan Hesti Silvia.
Mereka ditemani Misbahul Gofar, Fendik, Hendrik, dan Tris. Ali, remaja yang tinggal di sekitar air terjun, menjadi penunjuk jalan.
Rabu (7/1/2009) adalah hari yang tepat untuk bersenang-senang sebenarnya. Mereka baru saja menyelesaikan ujian matematika yang bikin pusing kepala.
Namun, setiba di lokasi air terjun sekitar pukul 14.00, perasaan Fitria semakin tak enak. Ia ketakutan. Cuaca mendung.
"Aku udah ngajak pulang, takut," kata Fitriana, menceritakan peristiwa Rabu kelabu itu kepada beritajatim.com, di rumahnya di Jalan Slamet Riyadi, Kamis (8/1/2009).
Apa yang membuat Fitriana takut?
Rizka & Mega Menggoda Soal Bakal Ada yang Mati
Fitriana tumbuh besar di tengah kultur masyarakat yang mempercayai bahwa mimpi punya makna. Sebelum ia plesir ke air terjun Sumberlangon, sahabat baiknya, Siti Vera, punya mimpi aneh.
Vera bermimpi bagian poni di rambutnya dipangkas. Rizka Amalia dan Mega Susantri menggoda Vera. "Kalau mimpi rambutnya dipotong, katanya bakal ada yang mati."
Vera meminta Mega benar-benar memangkas rambut poninya. Mimpi tinggal mimpi. Enam sekawan tetap bertamasya ke air terjun itu.
Fitriana berangkat ke lokasi dengan membonceng sepeda motor Gofar. Namun ia menolak jika disebut berpacaran dengan Gofar. "Cuma teman akrab," katanya kepada beritajatim.com, saat menceritakan kembali peristiwa tersebut.
Fitriana mencoba mengebas rasa takutnya, saat sebelas remaja itu sudah tiba di lokasi air terjun. Namun, ia memilih tak ikut mandi, menikmati guyuran air. Bersama Gofar, Hesti, dan Mega, ia memilih duduk-duduk di batu besar, memperhatikan kawan-kawannya yang lain bermain air.
Hujan rintik-rintik. Aliran air terjun dan air sungai tidak deras.
Air Terjun Mendadak Bak Air Bah Berwarna Coklat
Waktu serasa berjalan cepat, seperti kelibatan-kelibatan bayangan, saat air terjun itu mendadak menumpahkan air lebih deras. Warnanya coklat.
Jeritan. Teriakan.
Tolong.
Tolong.
Panik. Takut. Ngeri. Kematian ada di depan mata.
Air terjun dan sungai yang tadinya jernih dan segar, mendadak berubah. Hujan gerimis. Namun air terjun dan sungai seperti mengamuk.
Air bercampur lumpur menggerojok cepat dan keras. Fitriana menyaksikan beberapa gelondongan kayu ikut meluncur bersama air terjun dari bagian tebing.
Mereka yang tadinya berenang dan bermain air langsung terbandang air. Fendik berteriak-teriak meminta bantuan kepada Gofar. Namun Gofar juga tak berdaya menghadapi air bah. Dalam 24 jam ke depan, keduanya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, sekitar 10 kilometer dari air terjun.
Fitriana berupaya menyelamatkan diri. Ia sudah tak memikirkan kawan-kawannya yang lain. Ia melihat kawan-kawannya ada yang berpegangan di bebatuan di balik air terjun.
Faridatul Mutmainah berteriak minta tolong kepada Vera. Vera tak berdaya.
Dengan wajah panik, Rizka bisa mendekati Fitriana yang mencoba bertahan di sebuah batu besar. "Pacar aku ke mana?" Rizka menanyakan nasib Hendrik kepada Fitriana.
"Aku nggak tahu, aku nggak ngurusi pacarmu."
"Fit, aku mau jatuh."
Rizka memegang erat tubuh Fitriana. Tangan Fitriana terlalu lemah berpegangan di batu yang licin, dan keduanya terlempar ke sungai.
Keduanya hanyut. Ada pohon. Fitriana sempat berpegangan kuat-kuat. Rizka terbawa air.
Lalu sunyi. Hanya suara air.
Fitriana Tertekan, Didatangi 2 Sahabatnya yang Mati
Saya melihat Fitriana pertama kali di salah satu rumah warga di Sumberlangon Kelurahan Slawu Kecamatan Patrang, Rabu petang (7/1/2009). Bersama Siti Vera, ia baru saja diselamatkan oleh warga.
Tubuh mereka menggigil. Sebuah selimut besar dan tebal dirapatkan ke tubuh mereka. Namun keduanya tetap menggigil. Polisi kesulitan meminta keduanya agar mau datang ke kantor kepolisian sektor Patrang untuk dimintai keterangan.
Fitriana tak ingat siapa yang menolongnya. Ia hanya ingat ada seorang yang bersarung menghampirinya.
Kamis siang (8/1/2009), saya menemui Fitriana di rumahnya di Jalan Slamet Riyadi. Saya tidak melihat ada kesedihan mendalam di wajahnya. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan lancar, dan ditingkahi tawa.
Sebelumnya, saya membayangkan akan bertemu dengan seorang gadis remaja yang enggan berbicara karena trauma. Bagi saya, kehilangan tiga sahabat sekolah bukanlah peristiwa yang mudah dilupakan.
Saya sebenarnya tak sepenuhnya salah. "Aku masih trauma, stres mikiri itu. Kapok banget," kata Fitriana.
Fitriana sulit tidur setelah kejadian itu. Ia berkali-kali terjaga. Mimpi buruk.
"Aku didatengi hantunya anak-anak. Didatangi Mega sama Rizka."
Dalam mimpinya itu, Rizka berkata kepada Fitriana: "Fit, koen kok tego ninggalin aku, dilepas tanganku."
Mega mengatakan kepada Fitriana, jika takut sendirian di sana. Tidak jelas apa yang dimaksud dengan di sana. "Aku disuruh nemenin. Mega bilang, kalau dua cowok (kawan mereka) ada di sawah, tidak tahu jalan," kata Fitriana.
Fitriana bercerita kepada saya tentang mimpinya semalam sekitar pukul 10.30 pagi. Pukul 14.00, Misbahul Gofar dan Fendik ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di sungai di wilayah kecamatan Ajung.
"Aku takut banget sama Mega, karena disuruh nemenin. Aku paling akrab memang sama Mega."
Fitriana tak tahu kapan akan kembali ke sekolah. Ia memilih beristirahat dulu. Saya pamit, saat kawan-kawan sekolahnya mulai berdatangan untuk menjenguknya.
Dua Korban Selamat Dipecat
Dua orang korban tragedi air terjun Antrokan yang selamat, Fitriana dan Siti Vera, dikeluarkan dari SMP Nurul Islam. Tidak jelas alasan sekolah mengeluarkan keduanya.
Tragedi Antrokan memakan korban jiwa 6 pelajar yang asyik bermain di sana, Rabu (7/1/2009). Sebagian besar korban adalah siswi SMP Nurul Islam, sebuah sekolah milik Yayasan Nurul Islam yang dibina oleh KH Muhyiddin Abdussomad, Ketua Pengurus Cabang NU Jember.
Fitriana sempat mengalami trauma akibat kehilangan empat kawannya. Namun belum lagi trauma itu hilang sepenuhnya, dia mendapat kabar tak boleh lagi bersekolah di Nurul Islam. "Tahunya dari Pak Adi (Adi Purwanto, salah satu guru) kalau dikeluarkan dari sekolah," kata Fitriana, yang tengah sakit saat diwawancarai beritajatim.com, Senin (19/1/2009).
"Begitu tahu dikeluarkan saya nangis. Saya nggak terima. Saya maunya sekolah," kata Fitriana.
Fitriana dan orang tuanya tidak tahu alasan tindakan sekolah itu. Keluarga Fitriana tidak pernah menerima selembar suratpun mengenai keputusan sekolah itu. Bahkan, rapor Fitriana belum diterima.
"Kata Pak Adi, disuruh nunggu. Nunggu lama, lalu kata Pak Adi rapornya mau diantarkan sendiri. Tapi Pak Adi belum ke sini," kata Juwariyah, kakak Fitriana.
Eni Suhartini, wali kelas III A, mengatakan, sekolah sudah tidak mampu dan kedua siswa itu dikembalikan kepada orang tua masing-masing. "Saya tidak berani komentar," katanya, mempersilakan beritajatim.com bertanya kepada Kepala SMP Nurul Islam.
Fitriana mendengar Adi Purwanto tengah mengupayakan dirinya dan Vera bersekolah di SMP Muhammadiyah, setelah dikeluarkan dari SMP Nurul Islam.
Adi pula yang membela Fitriana dan Vera agar tak dikeluarkan dari sekolah. "Pak Adi tidak terima (saya dikeluarkan), akhirnya juga mengundurkan diri," katanya.
Kepala SMP Nurul Islam Samak merasa tidak pernah menandatangani surat drop out (sanksi keluar dari sekolah) untuk dua siswi korban tragedi air terjun Antrokan, Fitriana dan Siti Vera.
Saat diwawancarai beritajatim.com, Samak tidak bisa menutupi kecemasannya. "Aduh, maaf, saya grogi, soalnya tidak pernah diwawancarai begini," katanya saat ditemui di rumahnya, Senin (19/1/2009).
Beberapa kali Samak menghela napas panjang, dan memandang menerawang. "Saya tidak tahu soal kedua anak itu. Sudah ada yang ngurusi, yaitu Pak Adi Purwanto (wakil bidang kesiswaan)," katanya.
Dari Adi Purwanto, Samak diberitahu, bahwa kedua siswa tersebut akan dipindah ke SMP Muhammadiyah. "Alasannya permintaan orang tua. Yang saya tanda tangani surat mutasi ke SMP Muhammadiyah," katanya.
Pernyataan Samak bertentangan dengan pernyataan keluarga Fitriana. Keluarga Fitriana tidak pernah minta sang anak pindah sekolah. Apalagi, beberapa bulan mendatang, Fitriana harus menghadapi ujian nasional.
"Orang tua mereka memang tidak pernah menghadap saya. Saya hanya percaya ke Pak Adi Purwanto," kata Samak yang membenarkan bahwa tidak ada permohonan resmi dari orang tua Fitriana untuk pindah sekolah.
Mengenai Adi Purwanto yang mengundurkan diri dari SMP Nurul Islam karena membela Fitriana dan Vera agar tak dikeluarkan, Samak mengaku tak tahu. "Itu urusan Yayasan (Nurul Islam)," jelasnya.
Adi Purwanto, guru SMP Nurul Islam yang dikabarkan keluar dari sekolah karena membela hak dua siswi korban air terjun Antrokan, memilih bungkam.
"Saya tidak berani berkomentar. Saya memikirkan nasib dua anak ini," kata Adi kepada beritajatim.com, Senin (19/1/2009).
Dua orang korban tragedi air terjun Antrokan yang selamat, Fitriana dan Siti Vera, dikeluarkan dari SMP Nurul Islam. Tidak jelas alasan sekolah mengeluarkan keduanya.
Tragedi Antrokan memakan korban jiwa 6 pelajar yang asyik bermain di sana, Rabu (7/1/2009). Sebagian besar korban adalah siswi SMP Nurul Islam, sebuah sekolah milik Yayasan Nurul Islam yang dibina oleh KH Muhyiddin Abdussomad, Ketua Pengurus Cabang NU Jember.
Berkali-kali didesak, Adi tetap bungkam. "Apa Anda bisa menjamin saya," katanya. Tidak jelas apa yang dimaksud dengan menjamin.
Komisi D Bidang Pendidikan DPRD Jember menyayangkan dikeluarkannya dua korban tragedi Antrokan dari sekolah. Anggota Dewan meminta agar sekolah mau menerima kedua siswa itu lagi.
Sebagaimana diberitakan, dua siswa korban tragedi air terjun Antrokan, Fitriana dan Siti Vera, dikeluarkan (drop out atau DO) dari SMP Nurul Islam. Tidak jelas alasan mereka dikeluarkan. Padahal keduanya dalam beberapa bulan mendatang harus menghadapi ujian nasional.
Ketua Komisi D Miftahul Ulum mengatakan, sekolah tidak bisa semena-mena mengeluarkan siswa. "Harus ada kesepakatan-kesepakatan antar elemen di lembaga sekolah itu," jelasnya, Selasa (20/1/2009).
Ulum mengingatkan, mengeluarkan siswa dari sekolah harus ada alasan yang pantas. Jika siswa tersebut nakal, sekolah semestinya membimbing dan membina. "Kita imbau lembaga bersangkutan meninjau ulang keputusannya. Apalagi mereka kelas tiga," katanya.
Akhirnya terungkap siapa di balik pemecatan dua korban tragedi Antrokan yang selamat dari SMP Nurul Islam. Menurut keterangan orang tua siswa, inisiatif berasal dari pembina sekolah yakni KH Muhyiddin Abdussomad.
"Kepala sekolah sebenarnya tidak ingin mengeluarkan Siti Vera dan Fitriana," kata Adi Purwanto, guru SMP Nurul Islam yang berani mengundurkan diri untuk membela dua siswanya agar tak dikeluarkan.
Imam Syafi'i, ayah Siti Vera, bercerita, setelah peristiwa Antrokan yang menewaskan enam remaja itu, dia dipanggil ke rumah Muhyiddin Abdussomad. Dia ke sana bersama seorang adik dan kakak Fitriana.
"Menurut Pak Kiai, 'anaknya sudah ndak bisa sekolah lagi di sini. Bawa ke Bali saja. Kalau di sini ndak ada yang jaga'," kata Imam menirukan perkataan Muhyiddin.
Imam ngotot minta agar anaknya tetap sekolah di SMP Nurul Islam. Apalagi sang anak sudah duduk di bangku kelas tiga dan sebentar lagi menjalani ujian nasional.
Namun, Muhyiddin yang sehari-hari dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam dan Ketua Pengurus Cabang NU Jember ini tetap menolak. Alasannya, keluarga siswa korban meninggal tragedi Antrokan menyalahkan Vera dan Fitriana.
"Kalau sampai Vera sekolah di sana lagi, dia akan diumet-umet (diperlakukan kasar) oleh keluarga," kata Imam.
Adi membenarkan, bahwa Fitriana dan Vera dianggap telah mencoreng nama baik sekolah. Apalagi ada isu bahwa keduanya juga melakukan hal yang tak bermoral saat di Antrokan.
"Padahal berdasar data yang saya kumpulkan dari masyarakat sana tidak demikian. Kesan yang saya tangkap, mereka murni ke Antrokan untuk tahu saja," kata Adi.
Merasa dua siswanya diperlakukan tidak adil, Adi pun mengundurkan diri. Suara hatinya prihatin dengan apa yang dialami siswa-siswa ini.
Muhyiddin Abdussomad belum bisa dihubungi via ponsel. SMS dari beritajatim.com pun tak dijawab.
Setelah Dipecat, Dua Siswa Selamat Akhirnya Bisa Sekolah
Fitriana dan Siti Vera, dua korban selamat dalam tragedi air terjun Antrokan yang memakan korban enam jiwa remaja, 4 di antaranya siswi SMP Nurul Islam, akhirnya bisa kembali bersekolah di SMP Muhammadiyah 1. Pasca kejadian, mereka dikeluarkan dari SMP Nurul Islam, tempat mereka belajar selama tiga tahun.
Ditemui di ruang guru SMP Muhammadiyah 1 Jember, Jumat (30/1/2009), wajah mereka tak muram lagi. Dengan berjilbab, keduanya terlihat manis. Saat ditanya soal perasaan saat ini, mereka hanya tersipu malu.
"Saya berterima kasih kepada SMP Muhammadiyah 1 dan Pak Ghafur (Ketua Komisi A DPRD Jember Abdul Ghafur). Saya lega, akhirnya dua anak ini bisa bersekolah kembali," kata Adi Purwanto, mantan guru SMP Nurul Islam.
Adi Purwanto mengundurkan diri dari SMP Nurul Islam setelah kedua siswanya itu dikeluarkan dari sekolah secara semena-mena. Sebagai guru, dirinya sudah cukup terpukul dengan meninggalnya empat anak didiknya karena terbandang air terjun Antrokan, Rabu (7/1/2009). Begitu mengetahui bahwa dua siswi yang selamat dikeluarkan dari sekolah, ia memberontak dan mengundurkan diri.
Jumat ini adalah hari pertama Vera dan Fitriana kembali bersekolah. "Mereka akan kami bina dulu di BK (Bimbingan Konseling), untuk proses adaptasi," kata Kepala SMP Muhammadiyah 1 Edi Kusyono.
SMP Muhammadiyah 1 mau menerima dua siswa tersebut karena pertimbangan kemanusiaan. "Kami ingin membantu mereka. Mereka sudah kelas tiga, dan sebentar lagi ujian nasional. Saya eman (merasa sayang). Tidak ada tendensi lain, selain keinginan memenuhi program wajib belajar sembilan tahun," kata Edi.
Ketua Komisi A DPRD Jember Abdul Ghafur banyak berperan sebagai mediator dengan SMP Muhammadiyah 1. Kebetulan, dia mantan pegawai tata usaha di sekolah itu. "Saya mendapat kabar soal dua anak ini dari Pak Adi Purwanto," katanya.
Ghafur tidak takut jika ada tudingan bahwa dirinya mempolitisasi persoalan dikeluarkannya dua siswa dari SMP Nurul Islam. "Saya hanya menindaklanjuti aspirasi. Justru kalay saya tidak menindaklanjuti, saya salah, dan saya bisa dipanggil Badan Kehormatan DPRD," katanya. [wir/kun]
Labels: Peristiwa
10 November 2008
Pidato Bung Tomo, 10 November 1945
"Selama Banteng - Banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membasahi secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu, tidak akan kita mau menyerah pada siapapun juga..."
Bismillahi rokhmanir rakhim.
Merdeka
Saudara - saudara rakyat jelata diseluruh indonesia
terutama saudara - saudara penduduk kota Surabaya
Kita telah mengetahui bahwa hari ini tentara ingris telah
menyebarkan pamflet - pamfet yang memberikan ancaman pada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka
tentukan menyerahkan senjata - senjata yang telah
kita rebut dari tangan tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah mita supaya kita datang semua pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah pada mereka.
Saudara - saudara didalam pertempuran - pertempuran yang lampau,
kita sekalin telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya,
yang berasal dari Sulawesi, pemuda - pemuda yang berasal daari Bali,
pemuda - pemuda yang berasal dari Kalimantan,
pemuda - pemuda yang berasal dari Sumatra, pemuda Aceh, pemuda Tapanuli dan seluruh pemuda yang berada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan - pasukan mereka masing -masing dengan pasukan rakyat yang dibentuk dikampung - kampung telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol,
telah menunjukkan satu kekuatan hingga mereka itu terjepit di mana - mana.
Hanya karena taktik yang licik dari mereka itu saudara - saudara,
dengan mendatangkan Presiden dan Pemimpin - pemimpin lainnya ke Surabaya ini,
maka kita tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu, mereka telah memperkuat diri, dan setelah kuat, sekarang inilah keadaannya.
Saudara - saudara, kita semuanya - kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tangtangan tentara Inggris itu, dan kalau pimpinan tetara Inggris yang ada di Surabaya ingin mendengar jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini, dengarkan lah ini tentara Inggris!
Ini jawaban kita, ini jawaban rakyat Surabaya, ini jawaban pemuda Indonesia, kepada kau sekalian hai tentara Inggris! Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk padamu! Kau menyuruh kita membawa senjata - senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu. Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekalian akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan seluruh kekutan yang ada! Tetapi inilah jawaban kita
"selama Banteng - Banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membasahi secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu, tidak akan kita mau menyerah pada siapapun juga"
Saudara - saudara rakyat Surabaya bersiaplah. Keadaan genting. tetapi saya peringatkan sekali lagi jangan mulai menembak, baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang meraka itu! Kita tunjukkan bahwa kita ini adalah orang - orang yang benar - benar inggin merdeka! Dan untuk kita saudara - saudara, lebih baik hancur lebur dari pada tidak merdeka!
Semboyan kita tetap! Merdeka atau Mati! Dan kita yakin saudara - saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh kepada kita. Sebab Allah selalu berpihak kepada yang benar.
Percayalah saudara - saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Merdeka
dikutib dari buku : DR H Roeslan Abdulgani - Seratus hari diSurabaya yang Menggemparkan Dunia, yayasan Idayu - Jakarta, 1980
06 November 2008
Barack Obama:
Kemenangan untuk Wujudkan PerubahanInilah pidato pertama Barack Obama sebagai presiden AS terpilih yang dia sampaikan di Grant Park, Chicago, Illinois, Rabu pagi WIB (5/11).
Hallo, Chicago.
Jika ada seseorang di luar sana yang masih ragu bahwa Amerika adalah sebuah tempat di mana segala sesuatu bisa terjadi, yang masih bertanya-tanya apakah mimpi para pendiri bangsa ini masih bisa menjadi nyata di masa sekarang, yang masih mempertanyakan kekuatan demokrasi, malam ini pertanyaan Anda terjawab.
Jawabannya ada pada antrean panjang di sekolah-sekolah dan gereja-gereja yang jumlahnya tidak terhitung, pada orang-orang yang rela menunggu tiga sampai empat jam, dan sebagian besar dari mereka merupakan pengalaman pertama, karena mereka yakin kali ini harus beda dan bahwa suara mereka bisa mendatangkan perbedaan.
Ini adalah jawaban yang dibicarakan orang tua dan muda, kaya dan miskin, Demokrat dan Republik, hitam, putih, Hispanik, Asia, asli Amerika, gay, normal, cacat, dan tidak cacat. Amerika yang mengirimkan pesan kepada dunia bahwa kita bukan hanya kumpulan individu semata atau kumpulan negara bagian merah dan biru.
Kita adalah, dan akan selalu menjadi, The United States of America.
Ini adalah jawaban yang membuat mereka yang sudah sekian lama oleh banyak orang dikatakan sinis serta penakut dan penuh keragu-raguan dalam mencapai sesuatu bisa menumpangkan tangannya pada sejarah dan membelokkannya ke arah harapan yang lebih cerah, sekali lagi.
Sudah sekian lama, tapi (perjalanan baru dimulai) malam ini, karena apa yang kita lakukan hari ini, pada pemilihan kali ini dan pada saat yang menentukan ini, telah mendatangkan perubahan bagi Amerika.
Beberapa waktu lalu, saya menerima telepon ucapan selamat yang luar biasa dari Senator (John) McCain.
Senator McCain sudah melewati perjuangan yang panjang dan sulit selama kampanye. Dan, dia bahkan sudah berjuang lebih lama dan lebih sulit demi bangsa yang dia cintai. Dia sudah lama berkorban bagi Amerika, lebih dari yang kita bayangkan selama ini. Kita menjadi lebih baik berkat pengabdian pemimpin yang pemberani dan tidak egois itu.
Saya mengucapkan selamat kepadanya (McCain); juga kepada Gubernur (Sarah) Palin atas seluruh pencapaian mereka. Dan, saya berharap bisa bekerja sama dengan mereka dalam beberapa bulan ke depan untuk bersama-sama memperbarui janji bangsa ini.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada partner yang selalu mendampingi saya dalam perjalanan ini, seorang pria yang berkampanye dari dalam hatinya, dan berbicara atas nama kaum pria serta wanita yang tumbuh besar bersamanya di Jalanan Scranton dan berkendara bersamanya di kereta jurusan Delaware, wakil presiden terpilih AS, Joe Biden.
Dan saya tidak akan berdiri di sini malam ini tanpa dukungan terus-menerus dari sahabat saya selama 16 tahun terakhir, batu karang keluarga kami, cinta dalam hidup saya, first lady bangsa ini berikutnya, Michelle Obama.
Sasha dan Malia, saya mencintai kalian lebih dari yang bisa kalian bayangkan. Dan, kalian sudah mendapatkan anak anjing baru yang akan menemani kita di Gedung Putih yang baru.
Dan, meskipun dia sudah tidak lagi bersama kita, saya yakin nenek saya melihat, bersama dengan keluarga yang telah menjadikan saya manusia seperti sekarang. Saya merindukan mereka semua malam ini. Saya tahu bahwa utang saya kepada mereka tidak terhitung lagi.
Saudari saya Maya, Alma, seluruh saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, terima kasih banyak atas dukungan yang telah kalian berikan kepada saya. Saya sangat berterima kasih kepada mereka.
Dan kepada manajer kampanye saya, David Plouffe, pahlawan di balik layar yang menciptakan kampanye politik paling hebat, saya rasa, di sepanjang sejarah AS.
Kepada chief strategist saya, David Axelrod, yang menjadi mitra di setiap langkah saya.
Kepada tim kampanye terhebat yang pernah ada di sepanjang sejarah politik. Kalian telah menjadikan semuanya nyata dan saya akan selalu berutang budi kepada kalian atas pengorbanan yang telah kalian berikan.
Tapi, di atas semua itu, saya tidak akan pernah lupa untuk menyampaikan, untuk siapa kemenangan ini sejatinya. Kemenangan ini untuk kalian semua. Ini untuk kalian.
Saya bukanlah kandidat yang paling disukai di sini. Kita tidak memulainya dengan banyak uang atau banyak dukungan. Kampanye kita pun tidak berangkat dari Washington. Melainkan dari halaman belakang Des Moines dan ruang tamu Concord serta serambi depan Charleston. Dibangun oleh pekerja pria dan wanita yang merelakan sebagian tabungan kecil mereka untuk mendonasikan USD 5 (sekitar Rp 54 ribu) dan USD 10 (sekitar Rp 108 ribu) demi kampanye.
Menjadi kuat berkat generasi muda yang mampu menolak mitos, apatis masa kini, serta berani meninggalkan rumah dan keluarga mereka demi melakukan pekerjaan dengan bayaran kecil dan membuat mereka kurang tidur.
Juga dari kalangan yang tidak terlalu muda, yang memberanikan diri menembus dingin dan panasnya udara demi mengetuk satu per satu pintu orang asing, dan dari jutaan warga Amerika yang menjadi sukarelawan serta mengatur diri sendiri dan membuktikan bahwa dalam dua abad mendatang, pemerintahan yang benar-benar berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat masih akan tetap ada.
Ini adalah kemenangan kalian.
Dan, saya tahu bahwa kalian melakukan semua ini bukan semata-mata untuk memenangkan pilpres. Dan, saya juga tahu, kalian tidak melakukannya untuk saya.
Kalian semua melakukan ini semua karena benar-benar memahami betapa banyaknya tugas yang menanti di depan sana. Bahkan, saat kita merayakan (kemenangan) malam ini, kita semua tahu bahwa tantangan yang akan kita hadapi di masa mendatang adalah yang paling berat -dua perang, planet (bumi) yang berada dalam bahaya, krisis keuangan terburuk sepanjang abad.
Saat kita berdiri di sini malam ini, kita juga tahu bahwa sebagian warga Amerika yang pemberani sedang berjaga di padang gurun Iraq dan pegunungan Afghanistan, mempertaruhkan nyawa mereka untuk kita.
Juga ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang selalu terjaga saat anak-anak mereka tertidur, dan pusing memikirkan cara membayar utang mereka atau membayar biaya berobat atau menyisihkan uang demi biaya pendidikan anak-anak mereka.
Ada semangat baru yang harus dimanfaatkan, lapangan pekerjaan baru yang harus diciptakan, sekolah-sekolah baru yang harus dibangun, ancaman yang harus dihadapi, dan perserikatan yang harus diperbaiki.
Jalan yang terbentang di depan kita masih panjang. Yang kita panjat akan curam. Kita tidak akan bisa mencapainya dalam waktu satu tahun atau satu periode sekalipun. Tapi, Amerika, saya belum pernah seyakin malam ini bahwa kita akan mencapainya.
Saya berjanji kepada Anda sekalian, kita semua sebagai rakyat akan mampu mencapainya.
Akan terjadi pengulangan kembali dan awal yang salah. Akan ada banyak orang yang tidak setuju dengan keputusan atau kebijakan yang saya tentukan sebagai presiden. Dan, kita semua tahu bahwa pemerintah tidak bisa selalu menyelesaikan masalah.
Tapi, saya akan selalu jujur kepada Anda semua tentang tantangan apa pun yang kita hadapi. Saya akan mendengarkan Anda semua, terutama saat kita berbeda pendapat. Dan, di atas semuanya itu, saya akan mengajak Anda semua bekerja sama membenahi bangsa ini. Sistem yang baru sekali diterapkan di Amerika selama 221 tahun -blok demi blok, bata demi bata.
Apa yang sudah dimulai 21 bulan lalu di musim dingin yang mencekam tidak bisa berakhir begitu saja di suatu malam musim gugur ini.
Kemenangan ini bukanlah perubahan yang kita cari. Ini hanyalah kesempatan bagi kita untuk mewujudkan perubahan itu. Dan itu tidak akan pernah terjadi jika kita kembali mencontoh masa lalu.
Semua ini tidak akan terjadi tanpa kalian, tanpa semangat pengabdian baru, semangat pengorbanan baru.
Jadi, marilah kita menghimpun semangat patriotisme baru, tanggung jawab baru, di mana masing-masing dari kita seharusnya memutuskan untuk tampil bersama dan bekerja lebih keras dan tidak hanya memedulikan diri sendiri, tapi juga orang lain.
Yang harus diingat-ingat adalah bahwa krisis finansial ini mengajarkan kita untuk tidak perlu memanjakan Wall Street, sementara Main Street menderita.
Di negara ini, kita jatuh dan bangun bersama sebagai satu negara, sebagai suatu masyarakat. Marilah kita menolak godaan untuk kembali jatuh pada paham partisan dan kepicikan dan kekanak-kanakan yang sudah meracuni politik kita sekian lama.
Marilah kita mengingat bahwa manusia dari negara inilah yang kali pertama membawa banner Partai Republik ke Gedung Putih, partai yang dibangun di atas nilai-nilai kepercayaan diri dan kebebasan individu dan persatuan nasional.
Itu adalah nilai-nilai yang bisa kita bagikan. Sementara Partai Demokrat merasakan kemenangan besar malam ini, itu semua dicapai dengan kerendahan hati dan tujuan untuk membalut perpecahan yang menghambat kita untuk maju.
Seperti yang dikatakan Lincoln kepada sebuah negara yang jauh lebih terpecah belah dari kita, kita bukanlah musuh, tapi teman. Meskipun hati bisa terluka, tapi jangan sampai mematahkan semangat kita dan persaudaraan kita.
Dan bagi seluruh rakyat Amerika yang dukungannya belum saya dapatkan, atau yang mungkin suaranya tidak mengantarkan saya pada kemenangan malam ini, saya tetap mendengarkan seruan Anda. Saya membutuhkan bantuan Anda. Bagaimanapun, saya tetap akan menjadi presiden Anda.
Dan bagi semua orang yang menyaksikan pidato malam ini jauh dari wilayah kami, dari parlemen dan istana, juga bagi mereka di sudut bumi yang hampir terlupakan dan mendengar pidato ini dari radio, kisah kami tetap tunggal, tapi nasib kita ditanggung bersama dan fajar baru kepemimpinan Amerika sudah ada di tangan kita.
Bagi mereka yang ingin menghancurkan dunia: Kami akan mengalahkan kalian. Bagi mereka yang mencintai perdamaian dan keamanan: Kami akan mendukung kalian. Bagi mereka yang membayangkan bahwa mercusuar Amerika masih menyala dengan terang: Malam ini kami kembali membuktikan bahwa kekuatan sejati negara ini datang bukan dari militer atau kekayaan, tapi dari kekuatan idelisme kita yang terus hidup. Yakni, demokrasi, liberti, kesempatan, dan harapan tanpa akhir.
Fakta cemerlang tentang Amerika adalah bahwa Amerika bisa berubah. Persatuan kita bisa disempurnakan. Apa yang sudah kita capai hingga sekarang memberikan semangat kepada kita bahwa kita bisa mencapai masa depan.
Pilpres kali ini memiliki sangat banyak kisah dan kejadian perdana yang bakal terus dikenang dari generasi ke generasi. Tapi, satu yang terlintas di benak saya adalah seorang perempuan yang mencoblos di Atlanta. Dia sebenarnya sama dengan jutaan pemilih lain yang berdiri di baris antrean dan ingin suaranya didengar lewat pilpres. Tapi, satu yang membedakannya dengan yang lain. Yakni, bahwa Ann Nixon Cooper sudah berumur 106 tahun.
Dia dilahirkan satu generasi setelah perbudakan berakhir: saat tidak ada mobil atau pesawat; saat seseorang seperti dia tidak bisa memberikan suaranya karena dua alasan. Karena dia perempuan dan karena warna kulitnya.
Dan malam ini, saya berpikir bahwa dia sudah melewati banyak hal selama seabad di Amerika - sakit hati dan harapan; perjuangan dan progresnya; masa-masa di mana kita diklaim tidak bisa, dan orang-orang yang dipaksa meyakini iman Amerika: Ya kita bisa.
Pada suatu masa, saat suara perempuan tidak dianggap dan harapan-harapan mereka dihapuskan, dia hidup untuk mereka, berdiri dan menyuarakan aspirasi mereka, dan berusaha mendapatkan hak pilih. Ya, kita bisa.
Ketika ada keputusasaan dan depresi di negeri ini, dia melihat sebuah bangsa yang mampu mengalahkan ketakutannya sendiri lewat kesepakatan baru, lapangan pekerjaan baru, tujuan baru. Ya, kita bisa.
Saat bom jatuh di pelabuhan kita dan tirani mengancam dunia, dia berada di sana menyaksikan sebuah generasi tumbuh menjadi besar dan menyelamatkan demokrasi. Ya, kita bisa.
Dia berada di sana demi bus-bus Montgomery, selang air di Birmingham, jembatan di Selma, dan pengkhotbah dari Atlanta yang selalu mengatakan kepada orang lain bahwa "Kita akan melewatinya." Ya, kita bisa.
Manusia berhasil mendarat di bulan, tembok Berlin berhasil dirobohkan, dunia disatukan oleh ilmu pengetahuan dan imajinasi kita sendiri.
Dan tahun ini, dalam pilpres kali ini, dia menyentuhkan jarinya di layar dan menentukan pilihan. Sebab, setelah 106 tahun di Amerika, melewati masa-masa sulit dan gelap, dia tahu benar bahwa Amerika bisa berubah.
Ya, kita bisa.
Amerika, kita sudah menempuh perjalanan sejauh ini. Kita sudah banyak melihat. Tapi, masih lebih banyak tugas yang harus kita lakukan. Jadi, malam ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri apakah anak-anak kita masih bisa tetap hidup hingga abad yang akan datang. Jika saja anak-anak perempuan saya bisa seberuntung Ann Nixon Cooper dan berumur panjang, perubahan apa yang akan mereka lihat? Progres seperti apa yang kita buat?
Ini adalah kesempatan kita untuk menjawab panggilan itu. Inilah saatnya.
Masanya sudah tiba, untuk membuat rakyat kita kembali bekerja dan membuka kesempatan bagi anak-anak kita. Untuk mengembalikan kemakmuran dan menjunjung perdamaian. Untuk meraih kembali mimpi Amerika dan menegaskan bahwa kebenaran yang sejati, di antara banyak yang lain, adalah kita semua satu. Sambil kita bernapas, kita pun berharap. Dan, saat kita dihadapkan pada kesinisan dan keraguan dan orang-orang yang mengatakan bahwa kita tidak bisa, kita akan menjawab semua itu dengan iman dan keyakinan yang didapat dari semangat semua orang: Ya, kita bisa.
Terima kasih. Tuhan memberkati Anda sekalian. Dan, semoga Tuhan juga memberkati United States of America. (cnn/hep/ttg)
Sumber: Jawa Pos (6/11/2008)
John McCain:
Amerika Tidak Pernah KalahMeski kalah, John McCain tetap lapang dada. Tak lupa, dia mengucapkan selamat kepada Barack Obama. Berikut pidato kandidat Republik itu yang dia sampaikan di Phoenix, Arizona, Rabu pagi kemarin (5/11):
Terima kasih, teman-teman sekalian. Terima kasih telah bersedia hadir di malam yang indah di Arizona ini.
Teman-temanku sekalian, kita telah sampai di akhir perjalanan panjang kita. Rakyat Amerika harus menyuarakan pendapatnya. Dan mereka telah menyampaikannya dengan sangat jelas.
Beberapa saat lalu, saya telah menelepon Senator Barack Obama untuk mengucapkan selamat kepadanya. Saya mengucapkan selamat kepada beliau karena telah terpilih sebagai presiden negara yang kita cintai ini.
Kita juga telah melalui masa kampanye yang lama dan sulit dan saya salut dengan keberhasilan, kemampuan, dan keteguhan hatinya. Beliau telah membuktikan kepada jutaan rakyat Amerika yang selama ini telah salah menganggap bahwa keberadaan mereka mempunyai pengaruh yang kecil dalam pemilihan presiden Amerika. Saya sangat menghargai keberhasilan tersebut.
Pemilu kali ini sangat bersejarah. Dan saya yakin, hal ini mempunyai makna yang sangat penting bagi rakyat Afrika-Amerika. Mereka pasti sangat bangga malam ini.
Selama ini, saya selalu yakin bahwa Amerika selalu menawarkan kesempatan kepada siapa saja yang mempunyai keterampilan dan kemauan untuk meraihnya. Senator Obama juga meyakini hal itu.
Tapi, kami berdua menyadari, meski kami berjarak begitu jauh dari berbagai ketidakadilan yang terjadi di masa silam yang mencederai reputasi negara kita, memori masa lalu yang kelam itu masih mungkin menimbulkan luka.
Seabad silam, undangan Presiden Theodore Roosevelt kepada Booker T. Washington untuk makan malam di Gedung Putih dianggap sebagai bentuk kebiadaban. Saat ini, Amerika jauh dari kekejaman dan prasangka yang tidak menyenangkan. Namun, memang tidak ada bukti yang lebih baik tentang hal itu, selain dengan terpilihnya sosok Afro sebagai presiden Amerika Serikat.
Semoga tidak ada lagi rakyat Amerika yang tidak bangga dengan kewarganegaraan mereka sebagai warga negara sebuah negara terhebat di bumi.
Tidak dimungkiri, Senator Obama telah mencapai sesuatu yang hebat, baik bagi dirinya maupun untuk negara ini. Saya ucapkan selamat kepada beliau dan saya juga menawarkan simpati saya karena nenek tercinta beliau tidak bisa turut menyaksikan hari ini. Dan sesuai dengan keyakinan yang kita anut, saya yakin beliau beristirahat di samping Sang Pencipta. Beliau pasti bangga dengan pria yang telah dibesarkannya.
Senator Obama dan saya memang memiliki beberapa perbedaan. Dan kami pun sampai mendebatkannya. Tidak dimungkiri bila kami masih menyimpan beberapa perbedaan tersebut.
Saat ini adalah masa-masa sulit bagi negara kita. Dan malam ini saya berjanji menggunakan segala pengaruh saya untuk membantunya melalui semua tantangan yang sedang kita hadapi.
Saya harap, seluruh rakyat Amerika juga sama-sama mendukung saya dan bergabung dengan saya juga, bukan sekadar untuk mengucapkan selamat. Tapi, juga menawarkan niat baik kita kepada presiden baru kita untuk mencari jalan bersama-sama untuk bekerja sama menjembatani perbedaan-perbedaan dan membantu mengembalikan kemakmuran kita, mempertahankan keamanan kita di dunia yang berbahaya ini, dan mewariskan negara yang lebih baik bagi anak dan cucu kita.
Apa pun perbedaan yang kita miliki, kita tetap rakyat Amerika. Dan saya mohon, percayalah kepada saya, tidak ada yang lebih penting dari persatuan.
Ini hal yang sangat natural bila malam ini ada yang merasa kecewa. Tapi, besok kita harus bisa mengatasinya dan bekerja sama demi kemajuan negara kita.
Kita telah berjuang sekuat kita. Meski kita telah kalah, kekalahan itu milik saya, bukan Anda.
Saya sangat berterima kasih kepada Anda atas semua dukungan yang telah Anda berikan kepada saya. Saya sungguh berharap akan berakhir tidak seperti ini, teman-teman.
Sejak awal, jalan yang kita lalui cukup sulit, tapi dukungan Anda dan pertemanan kita tidak pernah surut. Saya tidak bisa menunjukkan betapa besar utang saya kepada Anda.
Saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih secara khusus kepada Cindy, anak-anak saya, ibunda saya tercinta, dan semua keluarga besar saya, juga kepada semua kawan lama dan sahabat yang telah mendukung, baik saat saya bangkit maupun jatuh selama kampanye yang sangat lama.
Saya selalu menjadi orang yang beruntung. Dan itu semua karena cinta dan dukungan yang kalian berikan kepada saya.
Anda semua tahu bahwa kampanye memang terasa cukup berat bagi keluarga kandidat dibandingkan bagi kandidat sendiri. Hal itu benar adanya. Yang bisa saya berikan sebagai bentuk kompensasinya adalah semua cinta dan terima kasih dan janji bahwa akan ada lebih banyak perdamaian di tahun-tahun mendatang.
Tentu saja, saya sangat berterima kasih kepada Gubernur Sarah Palin, yang telah menjadi juru kampanye terbaik yang pernah saya jumpai, dengan suaranya yang mengesankan demi perubahan di partai kita. Juga untuk suami beliau, Todd, dan kelima putra mereka yang telah tanpa letih menunjukkan dedikasinya selama masa kampanye presiden. Kita bisa melihat apa yang akan dilakukannya di masa depan Alaska, Partai Republik, dan negara kita.
Kepada semua teman-teman kampanye, seperti Rick Davis, Steve Schmidt, dan Mark Salter, semua sukarelawan yang telah berjuang keras dan berani, dari bulan ke bulan, untuk melakukan kampanye paling menantang di masa modern ini, terima kasih banyak. Kalah dalam pemilihan ini tidak mempunyai arti apa-apa bagi saya dibandingkan kehilangan kepercayaan dan persahabatan.
Saya tidak tahu cara apa lagi yang bisa kita lakukan untuk memenangi pemilu ini. Silakan diputuskan sendiri. Setiap kandidat pasti mempunyai kesalahan dan saya yakin saya pun begitu. Tapi, saya tidak akan pernah menyesalinya.
Kampanye ini akan selalu menjadi hal penting sepanjang hidup saya. Hati saya hanya dipenuhi rasa terima kasih atas pengalaman ini dan bagi rakyat Amerika yang telah bersikap adil sebelum memutuskan Senator Obama dan teman lama saya, Senator Joe Biden, yang akan memimpin kita selama empat tahun ke depan.
Saya bersyukur bahwa saya telah diperbolehkan mengabdi kepada negara ini selama setengah abad.
Hari ini, saya adalah kandidat jabatan tertinggi di negara yang sangat saya cintai. Dan malam ini, saya hanyalah seorang abdi. Itu sudah cukup dan saya berterima kasih kepada rakyat Arizona untuk itu.
Malam ini, lebih dari malam-malam lainnya, saya hanya mempunyai cinta dalam hati saya kepada negara ini dan semua warga negaranya, baik yang mendukung saya maupun Senator Obama.
Semoga mantan lawan yang akan menjadi presiden saya selalu berhasil. Dan saya menyerukan kepada seluruh rakyat Amerika, seperti yang selalu saya lakukan semasa kampanye, untuk jangan putus harapan dengan semua kesulitan kita saat ini. Yakinlah selalu dengan janji dan kebesaran Amerika karena tidak ada yang bisa diprediksi di sini.
Amerika tidak pernah kalah. Kita tidak pernah menyerah. Kita tidak pernah sembunyi dari sejarah. Kitalah yang membuat sejarah. Terima kasih, Tuhan memberkati Anda semua dan Tuhan memberkati Amerika. Terima kasih banyak. (CNN/dia/ttg)
Sumber : Jawa Pos, Kamis, 6 November 2008
05 November 2008
Edisi Suratkabar yang Bakal Dikenang Sepanjang Masa
Obama Edition
November 5, 2008
Obama Elected President as Racial Barrier Falls
By ADAM NAGOURNEY
Barack Hussein Obama was elected the 44th president of the United States on Tuesday, sweeping away the last racial barrier in American politics with ease as the country chose him as its first black chief executive.
The election of Mr. Obama amounted to a national catharsis — a repudiation of a historically unpopular Republican president and his economic and foreign policies, and an embrace of Mr. Obama’s call for a change in the direction and the tone of the country.
But it was just as much a strikingly symbolic moment in the evolution of the nation’s fraught racial history, a breakthrough that would have seemed unthinkable just two years ago.
Mr. Obama, 47, a first-term senator from Illinois, defeated Senator John McCain of Arizona, 72, a former prisoner of war who was making his second bid for the presidency.
To the very end, Mr. McCain’s campaign was eclipsed by an opponent who was nothing short of a phenomenon, drawing huge crowds epitomized by the tens of thousands of people who turned out to hear Mr. Obama’s victory speech in Grant Park in Chicago.
Mr. McCain also fought the headwinds of a relentlessly hostile political environment, weighted down with the baggage left to him by President Bush and an economic collapse that took place in the middle of the general election campaign.
“If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer,” said Mr. Obama, standing before a huge wooden lectern with a row of American flags at his back, casting his eyes to a crowd that stretched far into the Chicago night.
“It’s been a long time coming,” the president-elect added, “but tonight, because of what we did on this date in this election at this defining moment, change has come to America.”
Mr. McCain delivered his concession speech under clear skies on the lush lawn of the Arizona Biltmore, in Phoenix, where he and his wife had held their wedding reception. The crowd reacted with scattered boos as he offered his congratulations to Mr. Obama and saluted the historical significance of the moment.
“This is a historic election, and I recognize the significance it has for African-Americans and for the special pride that must be theirs tonight,” Mr. McCain said, adding, “We both realize that we have come a long way from the injustices that once stained our nation’s reputation.”
Not only did Mr. Obama capture the presidency, but he led his party to sharp gains in Congress. This puts Democrats in control of the House, the Senate and the White House for the first time since 1995, when Bill Clinton was in office.
The day shimmered with history as voters began lining up before dawn, hours before polls opened, to take part in the culmination of a campaign that over the course of two years commanded an extraordinary amount of attention from the American public.
As the returns became known, and Mr. Obama passed milestone after milestone —Ohio, Florida, Virginia, Pennsylvania, New Hampshire, Iowa and New Mexico — people rolled spontaneously into the streets to celebrate what many described, with perhaps overstated if understandable exhilaration, a new era in a country where just 143 years ago, Mr. Obama, as a black man, could have been owned as a slave.
For Republicans, especially the conservatives who have dominated the party for nearly three decades, the night represented a bitter setback and left them contemplating where they now stand in American politics.
Mr. Obama and his expanded Democratic majority on Capitol Hill now face the task of governing the country through a difficult period: the likelihood of a deep and prolonged recession, and two wars. He took note of those circumstances in a speech that was notable for its sobriety and its absence of the triumphalism that he might understandably have displayed on a night when he won an Electoral College landslide.
“The road ahead will be long, our climb will be steep,” said Mr. Obama, his audience hushed and attentive, with some, including the Rev. Jesse Jackson, wiping tears from their eyes. “We may not get there in one year or even one term, but America, I have never been more hopeful than I am tonight that we will get there. I promise you, we as a people will get there.” The roster of defeated Republicans included some notable party moderates, like Senator John E. Sununu of New Hampshire and Representative Christopher Shays of Connecticut, and signaled that the Republican conference convening early next year in Washington will be not only smaller but more conservative.
Mr. Obama will come into office after an election in which he laid out a number of clear promises: to cut taxes for most Americans, to get the United States out of Iraq in a fast and orderly fashion, and to expand health care.
In a recognition of the difficult transition he faces, given the economic crisis, Mr. Obama is expected to begin filling White House jobs as early as this week.
Mr. Obama defeated Mr. McCain in Ohio, a central battleground in American politics, despite a huge effort that brought Mr. McCain and his running mate, Gov. Sarah Palin of Alaska, back there repeatedly. Mr. Obama had lost the state decisively to Senator Hillary Rodham Clinton of New York in the Democratic primary.
Mr. McCain failed to take from Mr. Obama the two Democratic states that were at the top of his target list: New Hampshire and Pennsylvania. Mr. Obama also held on to Minnesota, the state that played host to the convention that nominated Mr. McCain; Wisconsin; and Michigan, a state Mr. McCain once had in his sights.
The apparent breadth of Mr. Obama’s sweep left Republicans sobered, and his showing in states like Ohio and Pennsylvania stood out because officials in both parties had said that his struggles there in the primary campaign reflected the resistance of blue-collar voters to supporting a black candidate.
“I always thought there was a potential prejudice factor in the state,” Senator Bob Casey, a Democrat of Pennsylvania who was an early Obama supporter, told reporters in Chicago. “I hope this means we washed that away.”
Mr. McCain called Mr. Obama at 10 p.m., Central time, to offer his congratulations. In the call, Mr. Obama said he was eager to sit down and talk; in his concession speech, Mr. McCain said he was ready to help Mr. Obama work through difficult times.
“I need your help,” Mr. Obama told his rival, according to an Obama adviser, Robert Gibbs. “You’re a leader on so many important issues.”
Mr. Bush called Mr. Obama shortly after 10 p.m. to congratulate him on his victory.
“I promise to make this a smooth transition,” the president said to Mr. Obama, according to a transcript provided by the White House .“You are about to go on one of the great journeys of life. Congratulations, and go enjoy yourself.”
For most Americans, the news of Mr. Obama’s election came at 11 p.m., Eastern time, when the networks, waiting for the close of polls in California, declared him the victor. A roar sounded from the 125,000 people gathered in Hutchison Field in Grant Park at the moment that they learned Mr. Obama had been projected the winner.
The scene in Phoenix was decidedly more sour. At several points, Mr. McCain, unsmiling, had to motion his crowd to quiet down — he held out both hands, palms down — when they responded to his words of tribute to Mr. Obama with boos.
Mr. Obama, who watched Mr. McCain’s speech from his hotel room in Chicago, offered a hand to voters who had not supported him in this election, when he took the stage 15 minutes later. “To those Americans whose support I have yet to earn,” he said, “I may not have won your vote, but I hear your voices, I need your help, and I will be your president, too.”
Initial signs were that Mr. Obama benefited from a huge turnout of voters, but particularly among blacks. That group made up 13 percent of the electorate, according to surveys of people leaving the polls, compared with 11 percent in 2006.
In North Carolina, Republicans said that the huge surge of African-Americans was one of the big factors that led to Senator Elizabeth Dole, a Republican, losing her re-election bid.
Mr. Obama also did strikingly well among Hispanic voters; Mr. McCain did worse among those voters than Mr. Bush did in 2004. That suggests the damage the Republican Party has suffered among those voters over four years in which Republicans have been at the forefront on the effort to crack down on illegal immigrants.
The election ended what by any definition was one of the most remarkable contests in American political history, drawing what was by every appearance unparalleled public interest.
Throughout the day, people lined up at the polls for hours — some showing up before dawn — to cast their votes. Aides to both campaigns said that anecdotal evidence suggested record-high voter turnout.
Reflecting the intensity of the two candidates, Mr. McCain and Mr. Obama took a page from what Mr. Bush did in 2004 and continued to campaign after the polls opened.
Mr. McCain left his home in Arizona after voting early Tuesday to fly to Colorado and New Mexico, two states where Mr. Bush won four years ago but where Mr. Obama waged a spirited battle.
These were symbolically appropriate final campaign stops for Mr. McCain, reflecting the imperative he felt of trying to defend Republican states against a challenge from Mr. Obama.
“Get out there and vote,” Mr. McCain said in Grand Junction, Colo. “I need your help. Volunteer, knock on doors, get your neighbors to the polls, drag them there if you need to.”
By contrast, Mr. Obama flew from his home in Chicago to Indiana, a state that in many ways came to epitomize the audacity of his effort this year. Indiana has not voted for a Democrat since President Lyndon B. Johnson’s landslide victory in 1964, and Mr. Obama made an intense bid for support there. He later returned home to Chicago to play basketball, his election-day ritual.
Elisabeth Bumiller contributed reporting from Phoenix, Marjorie Connelly from New York and Jeff Zeleny from Chicago.
Labels: Jurnalisme, Peristiwa