Showing posts with label Musik. Show all posts
Showing posts with label Musik. Show all posts

08 May 2011

The Virgin: Hayo, Anak Siapa Ini?... Aaaargghh

The Virgin datang ke Jember. Kali ini mereka kembali membuat warga Jember, terutama cewek-cewek remaja tanggung, histeris. Ada yang menangis. Ada pula yang kehilangan anak.

Duet Dara dan Mitha ini tampil di atas panggung yang didirikan di tengah Jalan Sultan Agung, Minggu (8/5/2011). Sekujur jalan ditutup. Arus lalu lintas dialihkan, dan para fans mereka, termasuk ibu-ibu, asyik bergoyang dan bernyanyi. "Ini jalan raya kan? Ditutup untuk panggung. Luar biasa," kata Dara.

The Virgin tampil dalam acara peringatan ulang tahun Sevendream yang dihelat bersama Journalist Pro. Di Jember, Sevendream dikenal sebagai kelompok multi-usaha: mulai dari hotel hingga kelompok musik menggunakan nama ini.

Tak ada yang menyangkal, Dara memang cantik. Mengenakan T-shirt putih bertuliskan 'Scissors' dengan rok mini putih pula dan rambut merah menyala, cewek bernama lengkap Dara Rizki Ruhiana tampil memesona.

"Kau kan slalu tersimpan di hatiku, meski ragamu tak dapat kumiliki. Jiwaku kan slalu bersamamu, meski kau tercipta bukan untukku. Tuhan berikan aku cinta satu kali lagi," demikian 'Cinta Terlarang' dilantunkan duet ini.

Sementara, Mitha dengan pakaian serba putih dan rambut menyala serupa Dara, tak perlu diragukan memiliki gaya petikan gitar yang gahar. Rock abeesss... Berkali-kali, ia melemparkan alat petik gitarnya ke penonton, yang tak perlu diminta dua kali akan segera berebut.

Beberapa cewek di bibir panggung histeris sekali saat berhasil menyentuh tangan Mitha dan Dara. Beberapa kali duet asuhan Dhani Ahmad itu memang mengulurkan tangan untuk bersalaman kepada para penonton, yang rata-rata panitia, di bawah panggung. Saya berharap, semoga suara cewek-cewek ini tak serak setelah pertunjukan selesai, karena kebanyakan berteriak.

Di atas panggung, Christawati Haryati Pramitha adalah 'yin dan yang' bagi Dara. Jika Dara mewakili kelembutan dan feminin, Mitha, walau cewek, cenderung punya aksi panggung galak. Namun ia suka bergurau pula, agaknya. Saat salah satu effect sound gitar tidak berbunyi seperti yang diharapkannya, ia malah menepuk kepala salah satu krunya sambil ketawa-tawa.

Mitha pula yang bikin Virginity, sebutan fans The Virgin, berteriak histeris, saat pengumuman seorang anak perempuan berusia lima tahun yang kehilangan orang tuanya. Anak itu, entah bagaimana, terpisah dari orang tuanya di tengah kerumunan. "Anak siapa ini?" kata pembawa acara di panggung.

Mitha pun menggendong si anak yang menangis, sembari berkata enteng: "Kalau tidak ada yang ngaku, Mitha bawa pulang."

Dan para fans pun kembali berteriak: "Aaaaargggh...."

Setelah dua cewek The Virgin menghilang dari atas panggung, yang tersisa adalah seorang gadis remaja dihadapan saya tengah mewek. Tidak kebagian pick (alat petik gitar) yang ditebarkan Mitha.

Alamak, mendadak saya ingat usia saya tiga hari lalu sudah 34. Saya mendadak merasa tua. [wir]

Baca Selengkapnya..

17 January 2009

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight


A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

Baca Selengkapnya..

03 October 2008

Bandara Jember Diserbu Fans Dewi Perssik

Bandara Notohadinegoro Jember diserbu puluhan warga dari berbagai usia, Jumat (3/10/2008). Mereka ingin menyaksikan artis dangdut Dewi Perssik yang hendak bertolak ke Surabaya dengan pesawat Let 410.

Para penggemar Dewi Perssik berada di halaman bandara. Mereka menanti sang idola di pintu masuk ruang check in. Bahkan ada sebagian yang duduk-duduk di tepi landasan pacu pesawat (runway), walau tak terlalu dekat.

Rombongan Dewi terdiri dari tujuh orang, hendak kembali ke Jakarta setelah berlebaran di Jember, kota kelahiran Dewi. Mereka diantarkan ke bandara oleh keluarga besar Dewi, termasuk kedua orang tuanya Mochammad Abdil dan Sri Munah. Kakak-kakak Dewi juga datang dengan membawa anak-anak mereka.

Kendati di Jember, Dewi tidak lepas dari tampilan trendi. Ia mengenakan bandana, berhem merah, dengan rompi dan celana jins abu-abu. Sepatunya boots hitam yang kusam karena terkena debu.

Para penggemar berteriak-teriak memanggil, saat Dewi berada di pintu masuk ruang check in. "Mbak Dewi, Mbak Dewi..." Mereka berebut untuk bersalaman dan mengambil gambar dengan kamera atau kamera ponsel.

Petugas bandara tampak kewalahan menahan para fans ini agar tak masuk ke dalam ruang check in. Dewi pun tak segera masuk ke dalam ruang check in. Ia menyempatkan diri melayani penggemarnya.

Dewi juga sempat diwawancarai untuk keperluan promosi sebuah biro perjalanan, yang memberinya tiket gratis selama setahun untuk bepergian ke Jember. Ia juga diwawancarai via ponsel oleh Radio Republik Indonesia

Achmad Hafidz, Aviation Security, meminta agar rombongan segera masuk, karena pesawat harus segera berangkat. Dewi pun memeluk ayah dan bundanya. Ia cium dahi keduanya, bersimpuh di kedua kaki mereka, dan menyentuh telapak kaki.

"Cepat sembuh, Ya," Dewi memeluk dan mencium salah satu keponakannya.

Rombongan berjalan bergegas ke appron, tempat pesawat buatan Cekoslowakia itu menanti. "Ini pesawat yang bikin Dewi Perssik seneng, karena bisa ketemu keluarga dengan cepat," katanya di depan kamera televisi.

Hafidz pun tampak tak sabar melihat Dewi masih disapa oleh beberapa orang kru bandara. "Ayo cepatlah. Hujan. Mbak Dewi kan bukan sekarang saja ke Jember," katanya, menunjuk langit yang memang mendung.

"Terima kasih." Dewi menyapa orang-orang di sekitarnya, sebelum menghilang di dalam pesawat.

Let 410 milik maskapai Tri MG melesat ke udara, disertai lambaian tangan orang tua dan kerabat Dewi. Sampai jumpa lebaran tahun depan. (*)

Baca Selengkapnya..

24 July 2008

Burger Kill Terilhami Eksekusi Mati

Sebuah surat elektronik dari Eben, gitaris Burger Kill kepada saya. Ia mengatakan, tersentuh dengan eksekusi mati Sumiarsih dan Sugeng. Mereka ingin membuat sebuah lagu.

Saat tengah menanti detik-detik eksekusi mati terhadap dua jagal keluarga Purwanto, Sumiarsih dan Sugeng, iseng-iseng saya membuka website Burger Kill. Ini band metal asal Ujungberung Bandung yang membuat saya terkesan dengan lagu Tiga Titik Hitam.
Saya menulis email untuk mereka:
Bung,

Kenalkan saya Oryza Ardyansyah Wirawan, reporter beritajatim.com, sebuah media online terbesar di Jawa Timur.

Saya mengetik surat untuk Anda pukul 23:35, Jumat malam, 18 Juli 2008. Saat ini, kami semua, wartawan di Surabaya tengah tegang menantikan detik-detik eksekusi dua terpidana mati Sumiarsih dan Sugeng. (Anda bisa baca di media massa).

Anda tahu, saya menulis kisah detik-detik kematian kedua orang itu di tangan eksekutor dengan mendenmgarkan lagu Anda:

TIGA TITIK HITAM

Barusan ini, pintu gerbang Rumah Tahanan Medaeng sudah terbuka. TIGA TITIK HITAM langsung saya setel keras-keras di kantor.

Saya menghayati, dua orang dengan oenuh rasa takut berjalan masuk ke mobil. Menuju tempat eksekusi.

Mata ditutup.

Menghadap regu tembak

dan BERTERIAKKK...

TERIAKKAN NAMAMU
DI KESUNYIAN HATIKU
MERABA MERANGKUL SURYAMU
DI KEHANGATAN JIWAMU...

Kematian mengerikan, Bro...
Mengerikan, Bro...

Saya akan selalu terkenang momen ini.... Dan salah satunya dengan lagu Anda....

NB:
Salam untuk semua, jangan sungkan balas email saya.

Warm regard
Di kehangatan jiwamu


Email saya dibalas oleh Eben, gitaris Burger Kill. Dia mengatakan:

Hi Oryza...

Sebelumnya terimakasih untuk waktunya menuliskan cerita ini kepada kami, mmmm... jujur saja kami sedikit kaget membacanya, benar2 kejadian yang sangat memilukan hati dan sangat menyentuh. Kami sempat membahas cerita ini bersama2 dan coba kami angkat menjadi sebuah wacana untuk penulisan lirik. Yah mudah2an saja mereka yang telah pergi bisa mendapat tempat terbaik disisi-Nya dan diampuni segala dosa2nya.

Sekali lagi terimakasih banyak untuk segalanya, mudah2an kita bisa bertemu di lain waktu dan membahasnya bersama2 :) ok! Please keep in touch, Take care...
(*)

Baca Selengkapnya..

19 July 2008

Tiga Titik Hitam
(Soundtrack Eksekusi Mati Sumiarsih dan Sugeng)

Tiga Titik Hitam adalah lagu kelompok Burger Kill yang berkolaborasi dengan Fadly, vokalis Padi. Saya sering mendengarkan lagu ini saat di kantor beritajatim.com. Lagu ini menemani saya, saat mengedit dan menulis berita-berita yang dilaporkan dari lapangan oleh kawan-kawan reporter, yang meliput eksekusi mati Sumiarsih dan Sugeng.

Saya merinding, saat mendengarkan lagu ini, dan membayangkan bagaimana Sumiarsih dan Sugeng dibawa ke tempat eksekusi. Mata ditutup. Mereka terdiam. Peluru menerjang jantung. Kematian datang begitu dekat dan cepat.

Berikut, lirik lagu itu TIGA TITIK HITAM:


Ketika semua bayang menjauh dari tubuh
Dan ketika semua angan enggan menyapa
Terbaring aku, terjebak aku
Di keheningan dalam ketiadaan

Kucoba cahayai ruang jiwa ini
Terus berharap dan terangi
Kucoba sembunyikan suara hati
Terus menampik dan berlari

Kutenggelam dalam kelam
Dan menjauh tanpa bayang
Kucoba menelan luka yang tak kunjung usai

Teriakan namamu
Dikesunyian hatiku
Meraba, merangkul suryamu
Dikehangatan jiwamu

Saat kebenaran tak lagi bermakna
Aku tersandar dan terdiam
Kemana akan kubawa diriku pergi
Semakin jauh, semakin rapuh

Lepaskan diri, jatuh membusuk
Biarkan aku, hilang .. Muak !

Baca Selengkapnya..

21 May 2008

'Sempurna' untuk Istriku Tersayang

Aku menghadiahi istriku koor lagu 'Sempurna' dari stadion Notohadinegoro. Sebuah kejutan untuk istriku, karena telah bersedia melengkapi hidupku bersama Neo, anakku.

Rabu malam ini musik rock pulang ke Jember. Andra and The Backbone, sebuah band rock yang digawangi gitaris Dewa 19 Andra Junaidi, vokalis Dedy Lisan, dan gitaris kedua Stevie Item, tampil di stadion Notohadinegoro.

"Iki musik rock, bro," kata Heru Putranto, fotografer Radar Jember. Ia senang dengan lagu-lagu Andra and The Backbone. Setiap pagi, ia memutar album pertama kelompok ini dari MP3 di komputer.

Duo cewek T2 (Tiwi dan Tika) menjadi pembuka yang cukup menghibur. Dua alumnus Akademi Fantasi Indosiar ini dengan gaya nan centil bisa membuat penonton bergoyang. Terutama saat lagu Oke! yang oleh sejumlah penonton dipelesetkan menjadi poke! (sejenis kata-kata jorok dalam bahasa Madura).

Namun tak ada yang lebih dinanti kecuali Andra and The Backbone. It's time to rock!

Penonton menjerit, saat melihat gitaris Andra Junaedi, gitaris Stevie Item, dan vokalis Dedy Lisan berada di atas panggung. Mereka dibantu dua additional player di drum dan bass.

Andra adalah gitaris kelompok Dewa 19. Ia adalah salah satu gitaris terbaik di Indonesia. Kenal dekat dan terpikat dengan gaya permainan gitar Stevie Morley Item, ia bersepakat membentuk kelompok Andra and The Backbones. Ini solo project Andra.

Dedy terpilih sebagai vokalis setelah melalui audisi yang tak ruwet. Nama Dedy direkomendasikan oleh Ari Lasso, mantan vokalis Dewa 19. Dedy sebelumnya adalah jurnalis majalah HAI yang meliput konser-konser musik, termasuk konser Dewa 19.

Persenyawaan trio ini menghasilkan dua album, dan menghasilkan lagu-lagu hit yang mentereng seperti Musnah, Lagi Lagi dan Lagi, Sempurna, dan terakhir Main Hati.

Memilih jalur rock sejak awal, persenyawaan ini yang membuat kelompok tersebut tampil meledak di stadion Notohadinegoro. 'Muak' membuka reportoar mereka. Penonton berteriak dan berjingkrak.

Dedy sempat gagal mengambil nada yang pas di awal lagu. Namun, ia cepat menyesuaikan dan tampil garang.Dedy bisa melakukan improvisasi sehingga tak kehilangan elan lagu yang ber-beat cepat itu.

Kematangan aksi panggung Andra and The Backbone tampak di lagu kedua berjudul Sahabat. Teknik blocking yang dilakukan Stevie dan Andra dari ujung panggung timur ke ujung barat memantik emosi para penonton. Penonton tiada henti meneriakkan nama Andra, Dedy, dan Stevie.

"Katamu kau temanku, pasti bukan musuhku. Tapi kau tetap selalu menghalangiku, khianatiku. Lupakah dirimu akan janji setiamu? Sahabatku bersamaku, kita genggam dunia sampai hidup kita berhenti..." (Sahabat)

Aku bertemu dengan Dewi, jurnalis radio, di depan panggung. Ia salah satu The backboners (sebutan penggemar Andra and The Backbone). Kami berjingkrak bersama dan mengikuti lantunan Dedy. Aku paling suka liputan konser rock. It's the good time for a journalist.

Andra memang layak disebut sebagai salah satu gitaris terbaik Indonesia saat memainkan nomor instrumen berjudul Surrender. Warna gitaris Joe Satriani tampak di situ. Beberapa kali penonton mengacungkan tiga jari metal untuk aksi melodius Andra.

Stevie Item juga tak kalah asyik. Di beberapa lagu, ia mengambil melodic part dan giliran Andra yang menjadi gitaris pengiring. Berambut gondrong, Stevie menurutku lebih mirip the nice boy ketimbang tipikal rocker yang kumuh. Ia menarik simpati penonton dengan senyumnya yang menawan.

Namun tidak ada yang lebih dinanti penonton selain lagu Sempurna. “Lagu ini mempengaruhi dan menyentuh banyak orang,” kata Dedy kepada penonton.

Benar. Lagu ini menyentuh banyak orang. Aku dan istriku menyukai lagu ini. Anakku, Neo, menyukai lagu ini. Ia selalu nggeremeng sendiri, kalau mendengar lagu ini dari MP3 atau melihat klip di televisi.

Gita Gutawa menyanyikan kembali lagu ini untuk sebuah soundtrack film. Suara melengking Gita yang bening tentu berbeda dengan Dedy. Namun keduanya sama-sama memiliki warna yang kuat dalam lagu ini.

Aku langsung menelpon istriku, Heni Agustini, yang tengah berada di Situbondo bersama Neo.

"Halo, ada apa, Yanda?"

"Sayang, lagu ini untuk kamu. Dengerin..."

Aku langsung mengarahkan ponsel ke penonton yang menciptakan koor raksasa yang menjadi awal lagu: “Kau adalah darahku. Kau adalah jantungku. Kau adalah hidupku lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu…Sempurna.”

Aku tidak bisa mendengar ucapan istriku. Aku lantas menyanyikan bait pertama lagu itu melalui telpon. Bersama koor penonton di belakangku, dan permainan gitar Andra yang menyentuh.

"Kau begitu sempurna. Di mataku kau begitu indah. Kau membuat diriku akan selalu memujamu. Di setiap langkahku, ku kan selalu memikirkan dirimu. Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu."

"Janganlah kau tinggalkan diriku. Tak kan mampu menghadapi semua. Hanya bersamamu ku akan bisa."

“Kau adalah darahku. Kau adalah jantungku. Kau adalah hidupku lengkapi diriku, oh Sayangku, kau begitu…Sempurna.”

"Kau genggam tanganku. Saat diriku lemah dan terjatuh. Kau bisikkan kata yang hapus semua sesalku."

"Janganlah kau tinggalkan diriku. Tak kan mampu menghadapi semua. Hanya bersamamu ku akan bisa."

“Kau adalah darahku. Kau adalah jantungku. Kau adalah hidupku lengkapi diriku, oh Sayangku, kau begitu…Sempurna.”

Beberapa orang memandangku saat aku menyanyi di telpon. Tapi emang gue pikirin?

Sambungan telpon terputus. Pulsaku habis. Aku langsung menggunakan ponsel CDMA. Untunglah, Flexy tak ngadat seperti biasanya. Aku tersambung dengan ponsel istriku, dan kembali melanjutkan nyanyianku.

Sayang di pertengahan lagu ada gangguan noise (berisik) dari sound system. Dedy mengernyitkan dahi. Namun itu tak membuat penonton berhenti menyanyikan lagu itu.

Aku tak bisa membayangkan wajah istriku malam itu. "Sama siapa, Yanda, nonton konsernya?"

"Sama Heru. Udah ya, sayang," kataku.

Aku kembali berjingkrak dengan lagu penutup: Musnah. Koor kembali tercipta. Diiringi kembang api yang meletup-letup di atas panggung, Andra dan kawan-kawan mengakhiri penampilan enerjik mereka dengan memberi salam kepada semua penonton.

Yang tersisa hanya rasa capai. Tapi aku senang sekali.

Sebuah pesan pendek masuk ke ponselku. Dari istriku. "Trims lagunya, aku sayang yanda...muuahh...sayang Neo dah tidur, kalau gak pasti ikut nyanyi..." (*)

Baca Selengkapnya..

02 March 2008

Kilatan Blitz di Tengah Musik

Menonton konser musik bersama seorang fotografer lokal yang mengatasi semua keterbatasan untuk mengabadikannya.

Topi pet warna coklat krem sudah nangkring di kepala Heru Putranto. Tas ransel hitam besarnya sudah dicangklongkan. “Kita berangkat sekarang saja,” katanya kepada saya.

Malam baru saja mulai. Di stadion Notohadinegoro, Ari Lasso dan Bunga Citra Lestari akan tampil satu pentas.

Ari, bekas vokalis kelompok musik asal Surabaya, Dewa 19. Ia keluar dari grup tersebut setelah mengalami ketergantungan terhadap narkoba. Kini, ia bersih dan comeback menjadi solois pria papan atas.

Bunga selama ini dikenal sebagai pemain sinetron muda. Suaranya yang indah dan wajahnya yang permai membuat karirnya melesat sebagai penyanyi solo wanita. Namanya mulai dikenal, saat hadir dalam salah satu lagu di album kelompok rock Pas Band. Kini, Bunga berduet dengan Ari dalam album ‘The Best of Ari Lasso’.

Ini konser gratis. Jadi, Heru memperkirakan penonton bakal membanjiri Notohadinegoro. Kami datang lebih awal untuk mencari lokasi yang enak buat mengambil gambar. Heru sudah hapal lagak laku panitia lokal konser musik di Jember.

“Panitia lokal masih belum bisa menghargai fotografer. Daerah masih memandang wartawan ecek-ecek. Kalau konser besar di Jakarta, fotografer ada ruang sendiri, bebas untuk eksplorasi. Kalau di daerah, harus berpacu dengan waktu, keadaan, dan mepet. Belum lagi model keamanan yang sok garang, kuasa.”

Ketiadaan ruang khusus untuk memotret membuat Heru harus pandai-pandai bersiasat.

Apa yang dikatakan Heru betul. Kami bisa melewati petugas kepolisian yang berjaga. Namun untuk melewati pagar agar bisa berada di bawah panggung, seorang petugas dari panitia lokal langsung melarang.

Heru tidak bisa menunjukkan ID card dari panitia. “Kata panitia yang aku temui, nggak usah ID card nggak apa-apa.” Kartu pers Radar Jember tidak dikantonginya, karena belum jadi.

Ia lalu mendekati Rodik Sugiantoro, komandan satuan samapta kepolisian Jember. Ia tak bisa berbuat banyak. “Nggak bisa. Panitianya yang baju cokelat,” katanya. Kepolisian hanya berjaga.

“Telemu kan kuat?” tanya Rodik. Maksudnya, lensa tele yang dipegang Heru.

Inilah masalahnya. Heru tak punya lensa tele. Ia memang mendapat kamera baru dari kantor, Nikon tipe D-200, dengan lensa zoom 18 – 35 milimeter. Ia menyebut, lensa itu cocok untuk fotografer pemula yang sedang belajar.

“Kalau momen diam bagus. Tapi kalau untuk momen bergerak, sulit.”

Heru memperhatikan pagar jeruji setinggi 150 centimeter yang dipasang mengelilingi panggung. Siapa tahu bisa diterobos. Ia mencoba menyusupkan kepalanya di antara jeruji. Sia-sia. Saya tertawa.

“Ini agak pusing,” matanya menatap dua pembawa acara berpakaian kuning pesta yang ngoceh tiada henti.

Heru bergerak, dan bergabung dengan deretan penonton di bagian depan panggung. Deretan penonton ini dipisahkan pagar jeruji berjarak sekitar dua meter. Dia mencoba menguji kameranya.

Ini posisi maksimal. Dia tahu akan kesulitan memotret dari penonton, ketika konser berlangsung. Penonton yang bergoyang-goyang akan membuatnya kesulitan mengambil gambar. Tubuhnya akan tersenggol kerumunan penonton.

“Bisa dari sini. Yang penting penontonnya diam. Tapi kalau penonton sudah loncat-loncat, aku pilih lompat pagar saja,” kata Heru. Cengengesan.

Kami lantas meninggalkan bagian depan panggung. Heru masih berharap ada keajaiban yang memungkinkannya memotret dari bawah panggung persis. Tapi ia tak tahu keajaiban yang bagaimana.

Fotografer memang harus percaya dengan keajaiban, dan momentum. Momentum tidak datang dua kali. Seorang fotografer kadang harus nekat dan nakal untuk mengambil momentum itu. Namun, fotografer juga harus bisa berpikir dingin untuk memilih angle.

Boleh jadi fotografer musik tak seprestisius fotografer di medan perang. Namun di Indonesia, tantangan bagi fotografer musik juga cukup berat. Dalam diskusi di fotografer.net, saya baru tahu bahwa memotret konser tak semudah dibayangkan. Di daerah maupun di Jakarta problemnya nyaris sama.

Di Jakarta, manajemen artis luar negeri justru terbilang cerewet soal fotografer. Konser Beyonce sempat menuai protes karena keterbatasan fotografer mengambil gambar. Beyonce adalah solois perempuan nan seksi dan bersuara bening, mantan personil kelompok vokal Destiny Child.

Di lain konser, ada cerita soal fotografer ‘tak resmi’ yang nekat menyelundupkan kamera untuk bisa menjepret artis favoritnya. Berhasil.

“Foto artis selalu punya nilai komersial tinggi. Maka, jangankan yang gak pakai ID, wartawan resmi aja umumnya cuma dikasih 3 lagu pertama untuk motret. Setelah itu boleh masuk lagi asal tanpa kamera....,” kata Arbain Rambey, wartawan foto kenamaan Harian Kompas dalam diskusi di forum www.fotografer.net

”Kalau mau nyolong motret sebagai penonton, belilah tiket festival (untuk musik pop atau rock). Bawa kamera yang ringkas (misal D200 dengan lensa 70-300) diumpetin di dalam baju....Itu kalau bisa lolos yah....,” sambungnya.

Jadi, intinya adalah semangat bonek. Bondo nekat. Modal nekat. Hidup Bonek!

Kini kami duduk di atas rumput, menjauh dari panggung utama. Band pembuka sudah memainkan lagunya.

“Sebelum memfoto, aku merokok sebatang dulu. Lalu maju. Dapat foto bagus, mundur lagi. Rokokan lagi.”

“Begini ini tidak dipaksa. Harus santai.”

Heru mengagumi ketenangan seorang James Nachtwey. Nachtwey adalah fotografer spesialis perang dan bencana kemanusiaan. Ia tak pernah menggunakan lensa panjang, dan lebih suka memotret dari jarak dekat.

Memotret dari jarak dekat tak gampang. Tak semua objek suka difoto dari jarak yang begitu dekat. Mereka akan merasa terganggu. Di sinilah ketenangan dan kenekatan Nachtwey bercampur menjadi satu.

Heru suka cerita soal Nachtwey yang memotret kerusuhan di Ketapang, Jakarta. Saat itu seorang preman Ambon dikejar-kejar massa. Nachtwey mengabadikan peristiwa itu dari jarak sangat dekat. Ia sempat dilarang massa. Ada nada ancaman. Tapi Nachtwey jalan terus. Klik. Klik. Klik.

“Maju. Mundur. Maju. Mundur. Tidak boleh keburu. Memotret dari jarak dekat, kita bisa merasakan aura objek. Kita terlibat.”

Terobsesi Nachtwey, Heru sangat menyukai tantangan memotret konflik berdarah-darah. Ia masih ingat saat Hari TNI tahun 1999, sejumlah aktivis mahasiswa melakukan aksi unjukrasa.

“Saya dengar anak PMII (Pergerekan Mahasiswa Islam Indonesia) yang demo pertama, dibubarkan, dipukuli dan ditembaki. Aku tertantang. Dengar-dengar, di double way Unej aktivis GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) bikin aksi kedua.”

“Mereka jalan ke markas Kodim. Situasi seperti mencekam. Di markas Kodim, tentara sudah jejer-jejer dengan siaga tembak. Tapi anak-anak semangat berdemo. Jumlah yang demo sekitar 30-an orang. Aku santai saja.”

Tiba-tiba, ada instruksi tentara untuk menembak. Dor dor dor dor dor dor….

Para mahasiswa semburat lari ke mana-mana.

“Ada anak aktivis yang cacat, jatuh, ditolong, tapi ditendangi tentara. Aku jepret. Ternyata yang menolong anak itu juga dipukuli. Aku jepret terus.”

Tidak sadar, Heru ternyata sudah terjebak. Tentara di mana-mana. Ia mencoba lari sebisanya, dan memutuskan masuk ke parit. Bersembunyi di sana. Berharap tidak ada yang tahu. Tapi harapannya sia-sia.

Seorang tentara berpakaian preman menodongkan pistol. “Ayo, mau lari ke mana kamu?” bentaknya.

Heru tak berkutik. Ia keder juga. “Aku ditendangi. Mereka mengambil kamera Nikon FM 10 yang kubawa.”

Kamera kesayangannya itu diberikan ke tentara. Ia sempat menanyakan ke markas Kodim 0824 Jember beberapa hari setelah insiden itu. Tapi nihil. Belakangan diketahui, insiden tersebut menyebabkan sejumlah mahasiswa terluka dan harus masuk rumah sakit. Komandan distrik militer 0824 Jember saat itu akhirnya dipindah.

Heru mulai menghadapi tantangan memotret konser musik, saat bekerja sebagai fotografer harian Radar Jember milik kelompok Jawa Pos. Menurutnya, foto bagus sebuah pertunjukan musik akan membuat perwajahan koran lebih hidup.

“Foto musik membuat wajah koran tampil beda. Ini punya nilai komersial. Musik universal. Tua sampai muda pasti senang. Apalagi artisnya lagi ngetop, ayu, ganteng.”

Ia membuktikan beberapa kali hasil karyanya saat meliput konser Peter Pan, Opick, Ada Band, dan Keris Patih mejeng di halaman pertama Radar Jember sebagai foto A. Foto A adalah foto utama di halaman pertama.

“Fotografi adalah seni, rasa, keindahan. Musik juga begitu. Jadi ada semacam ikatan. Ini dunia seni. Jika kamu suka mendengarkan musik, kamu akan bisa menyukai tantangan memotret show musik.”

Memotret sebuah pertunjukan musik memiliki tingkat kesulitan tinggi. Cahaya yang lemah dalam konser musik di malam hari, membuat penguasaan teknik fotografi dan fasilitas kamera harus benar-benar komplet.

Biasanya, dalam setiap konser musik, Heru punya tele pinjaman untuk memotret. Namun malam itu, ia tak punya ‘hidung panjang’ lagi. Ia harus benar-benar mengandalkan kemampuan teknis dan kameranya. Ia berhara banyak pada momentum panggung.

Seorang fotografer tidak bisa asal jepret, karena harus menunggu momentum yang benar-benat bagus. Heru sudah mempunyai angle untuk memotret Ari Lasso saat berduet mesra dengan Bunga Citra Lestari malam itu. Ia percaya, akan ada satu mementum puncak dan itu yang harus ditunggu dengan sabar.

Heru dan saya beruntung. Akhirnya, kami bisa masuk di venue tepat di depan panggung, berbekal satu kartu pers milik saya. Kami tidak boleh naik panggung. Tapi kami tepat berada di bawah panggung. Ada jarak sekitar dua meter antara penonton dengan bibir panggung, yang dibatasi pagar besi. Jadi ruang untuk memotret cukup bebas.

Gebukan drum yang gagah dan intro yang bertenaga membuat penonton bersorak. Ari Lasso kini ada di depan mereka. Mengejar Matahari, sebuah lagu untuk film layar lebar berjudul sama menjadi nomor pembuka.

“Tetes air mata mengalir di sela derai tawa. Selamanya kita, tak akan berhenti mengejar…Matahari.”

Saya begitu bersemangat ikut menyanyikan lagu ini mulai dari awal hingga akhir. Ini sebuah lagu tentang persahabatan.

Saya selalu suka Ari. Ia entertainer yang konsisten. Banyak yang menilai, termasuk saya, Ari lebih kinclong saat bersolo karir ketimbang bersama Dewa 19.

Saya melihat Heru diam sejenak. Bergerak memilih posisi. Mengarahkan lensanya, saat Ari melambaikan tangan.

Ari memang mangsa empuk untuk kamera. Wajahnya tampan. Penampilannya good looking. Malam itu ia memakai kaos bertuliskan Godfather, sebuah film legendaris arahan Coppola mengenai keluarga mafia Corleone.

Lagu demi lagu mengalir. Kamera Heru mengarah ke penonton. Ia suka sekali mengabadikan histeria.

Setiap konser musik pop selalu menghadirkan pertunjukan wajah histeria penonton. Ada yang menjerit. Menangis. Ikut menyanyi. Wajah manusia selalu akan menarik untuk diabadikan dalam sebuah pertunjukan musik pop.

Penonton adalah nyawa pertunjukan musik. Ini bukan hanya masalah hitung-hitungan duit tiket masuk. Musisi bisa main menggila di atas panggung, jika penonton di hadapannya menggila.

Itulah yang terjadi pada Ari Lasso. Ia sebenarnya tengah berada dalam kondisi tidak fit. Saat pertunjukan di Lumajang, kota tetangga Jember, tubuhnya meriang. “Saya harus disuntik. Tapi melihat kalian semua, saya seperti mendapat tenaga baru,” katanya di depan penonton.

Heru bekerja tanpa bersuara. Ia bergerak tak tertebak. Menurutnya, setiap momen adalah eksklusif bagi seorang fotografer. Satu momen tidak bisa berulang secara otentik. “Ini yang membedakan fotografer dengan wartawan tulis yang bisa merekonstruksi peristiwa,” katanya.

Momen yang ditunggu, Ari berduet dengan Bunga, datang juga. Saat saya terpesona dengan kecantikan Bunga (amboi, kulitnya licin rseperti pualam, giginya putih tak bercela), Heru sudah bergerak meminta seorang polisi bergeser dari sebuah kursi plastik.

Saya tidak tahu bagaimana Heru mengusir polisi itu. Yang jelas, menit selanjutnya ia sudah berdiri di atas kursi, mengarahkan kameranya ke atas panggung.

Ari dan Bunga seperti dua sejoli di atas panggung. Bunga tersipu. Mencubit pinggang Ari.

Ari tersenyum, menggandeng Bunga, berjalan dari menyusuri. Penonton berteriak senang. Cemburu juga, mungkin. Inilah momen yang dinanti itu.

Usai mengabadikan Ari dan Bunga, Heru kelihatan lega. Ia tidak menonton pertunjukan, dan memilih duduk di bawah bibir panggung, menghadap penonton. Ia bercakap-cakap dengan seorang petugas sekuriti dari panitia, dan menyalakan rokok.

Pertunjukan ditutup dengan Misteri Ilahi. Ari dan Bunga kembali satu panggung. Heru kembali mengarahkan kameranya. Ia berharap momentum terakhir bisa diabadikan dengan indah.

Tanpa encore, lagu tambahan, Ari menghilang ke balik panggung. Penonton tidak berteriak seperti layaknya penonton luar negeri: ‘Once more, sekali lagi.’ Mereka lebih terpana dengan kembang api yang meletup, meluncur ke langit.

Selamat malam Jember. Tugas sudah selesai. (*)

NB:
Foto-foto Heru Putranto bisa dilihat di www.heruputranto.blogspot.com.

Baca Selengkapnya..

30 December 2007

Bunga Cubit Mesra Pinggang Ari Lasso

Dengan tatapan tersipu, Bunga Citra Lestari mencubit pinggang Ari Lasso. Mesra. Sementara, Ari menebar senyum sembari menggandeng tangan Bunga yang memang berwajah aduhai.

Kemesraan Ari dan Bunga menyanyikan lagu 'Aku dan Dirimu' itu masih menjadi pembicaraan belkasan ribu remaja Jember hingga MInggu siang ini. Maklum duet Ari dan Bunga telah membuat gemas belasan ribu penonton yang memadati stadion Notohadinegoro, Sabtu (29/12/2007) malam.

Mereka menjerit. Berteriak. Menyebut nama dua biduan beda generasi itu. Ari pun berkali-kali mengacungkan jempol dan bertepuk tangan, saat memimpin koor penggemarnya.

Tampil dengan jaket cokelat, celana jeans biru, ia langsung membikin penonton bergerak-gerak, meloncat-loncat, dengan lagu pembuka 'Mengejar Matahari'.

"Saya sebenarnya baru saja sembuh dari sakit. Saya sempat harus disuntik. Tapi melihat kalian rasa sakit saya hilang. Tapi kalau dua jam ke depan saya tidak mampu, maka kalian bantu saya menyanyi," kata Ari.

Ari tak perlu memohon dua kali. Setelah sempat menampilkan sedikit teknik falsetto dalam lagu baru 'Mana Kutahu', mantan vokalis Dewa 19 itu kembali menyihir koor dalam lagu 'Penjaga Hati'.

Ari menunjukkan kematangannya sebagai penguasa panggung, saat berduet dengan Bunga. Bunga seolah seperti gadis yang tengah bermanja-manja, digandeng ke sana kemari, bernyanyi. Tebar senyum sana-sini. Tersipu-sipu. Amboi. Mereka memberi ruang luas kepada fotografer untuk mengabadikan duet itu.

Setelah menyanyikan tujuh lagu, Ari ke balik panggung dan memberi kesempatan Bunga bernyanyi. Berbeda dari Ari yang banyak melakukan improvisasi, penampilan Bunga terbilang miskin improvisasi.

Lantunan suaranya memang indah benar. Penonton ikut bernyanyi. Tapi kita seperti mendengarkan kaset saja.

Setelah Bunga bernyanyi empat lagu, Ari kembali tampil menggebrak. Kini ia sudah memakai kaus hitam bertuliskan Godfather. Tak perlu menunggu lama, sesi kedua ini Ari semakin membuat penonton histeris.

Koor raksasa dari belasan ribu bibir dalam lagu "Rahasia Perempuan" dan "Misteri Ilah" seperti menjadi energi bagi Ari. Penonton dekat saya berteriak habis, meloncat-loncat, demi melihat Ari kembali berduet dengan Bunga dalam lagu Misteri Ilahi. Mereka tahu ini lagu penutup bagi pesta malam itu.

Dan, "Terima kasih Jember. Kalian luar biasa." Ari berteriak mengepalkan tangan. Bunga melambaikan tangan. Mereka berlari ke balik panggung, dan kembang api meluncur dan meledak-ledak di atas panggung.(*)

Baca Selengkapnya..