Showing posts with label Sosok. Show all posts
Showing posts with label Sosok. Show all posts

02 November 2015

Pesan Terakhir



Saya bukan perokok. Sejak muda, saya sama sekali tidak pernah mencobanya sekalipun. Saya juga adalah salah satu orang yang tidak suka dengan perilaku perokok yang antiroleransi, menyedot dan membuang asap rokok di antara banyak orang yang bukan perokok, di antara anak-anak dan kaum wanita. Saya menaati pesan ayah yang pernah melakukan operasi jantung: jangan merokok.

Namun ketidaksukaan tak seharusnya membuat seseorang benci membabibuta. Saya tidak suka rokok adalah sebuah preferensi hidup. Namun membenci rokok tak lagi sebuah pilihan biasa, namun ada nilai-nilai ofensif: karena saya membenci rokok, maka saya harus memusnahkan rokok. Maaf, saya tidak bisa dipaksa seperti itu, sekalipun saya tak menyukai perilaku sebagian (besar) 'ahlul hisap' yang tidak toleran.

Membenci berbeda dengan tidak menyukai. Saat kita membenci, maka ada nalar yang dimatikan. Kita tidak menerima fakta dan lebih menyukai eksklusi terhadap hal-hal untuk mendukung kebencian kita. Salah satu kematian nalar yang sedang berjalan dari para pembenci rokok adalah isu soal kepemilikan perusahaan nasional: Djarum, Sampoerna, Gudang Garam sudah dikuasai asing.

Isu itu memposisikan diri sebagai kontra-wacana bahwa mempertahankan industri rokok (terutama kretek) adalah bagian dari menampik intervensi asing melalui rokok putih. Industri rokok kretek adalah benteng terakhir kedaulatan. Jadi jika memakai logika isu ini: bagaimana mau bilang mempertahankan benteng terakhir kedaulatan, jika sejumlah pabrik besar sudah dikuasai asing.

Herry Chaeriansyah dari Koalisi Rakyat Bersatu Melawan Kebohongan Industri Rokok menyebut Sampoerna dikuasai Philip Morris, Gudang Garam dibeli Jepang, Djarum pun dibeli Japan Tobacoo. Sebagaimana layaknya sebuah propaganda anti-wacana, apa yang dikemukakan itu tak sepenuhnya benar.

Saat menyebut PT Djarum, saya tidak tahu, acuan data mana yang dipakai untuk mengatakan adanya penguasaan mayoritas saham oleh asing. Namun tentu saja, sebagian orang tak peduli, setidaknya mereka yang membenci. Kebencian tak membutuhkan argumen atau fakta detail, termasuk fakta sejarah bagaimana Djarum dibangun dengan kerja keras dan nilai-nilai tradisi Jawa yang kuat.

Semua berawal dari Kudus, Jawa Tengah, saat orang-orang di sana merajang cengkeh, mencampurnya dengan tembakau, dan dilinting dengan daun klobot menjadi rokok. Suara khas 'kemretek' menjadikan rokok ini disebut kretek. Mendadak rokok kretek menjadi populer, dan sejumlah pabrik pun berdiri memproduksinya, termasuk Djarum.

Oei Wie Gwan membeli perusahaan rokok NV Murup pada 1951. Perusahaan yang nyaris bangkrut itu diubahnya menjadi lebih kuat dan produksi rokok Djarum Gramofon diubah menjadi Djarum. Pabrik itu nyaris hancur, karena kebakaran di era Orde Lama dan matinya Oei Wie Gwan. Gwan mewariskan bisnis ini kepada dua anaknya, Budi dan Bambang Hartono. Perusahaan ini bangkit lagi dan melewati tiga zaman peralihan politik tanpa banyak terguncang.

Saya tak menemukan data di internet dan dokumen kliping yang menyatakan Djarum dikuasai asing sepenuhnya. Satu-satunya informasi itu justru saya peroleh dari Wikipedia, dan tanpa ada acuan sama sekali. Di sana hanya tertulis: Pada tanggal 1 Januari 2005, PT Gallaher Indonesia membeli seluruh saham Djarum dan menjadi bagian dari Gallaher Group. Kita tahu, Wikipedia adalah situs ensiklopedia bersama yang bisa diedit siapapun dengan bebas. Ironisnya, jika kita cari di Google, kalimat informasi itu muncul di laman-laman blog pribadi yang tentu akurasi dan otentisitasnya harus dipertanyakan ulang.

Informasi yang saya terima justru menunjukkan tidak cukup ada alasan bagi pemilik Djarum untuk menyerahkan perusahaan itu ke tangan asing. Tahun 1972, Djarum sudah mengekspor kretek lintingan tangan ke pengecer tembakau di seluruh dunia. Sementara tahun 1997, saat krisis ekonomi, mereka bagian dari konsorsium yang membeli Bank Central Asia dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Saya tidak tahu bagaimana nalar ekonominya, sehingga warisan Oei Wie Gwan itu harus digadaikan ke asing.

Tapi baiklah, kita turuti argumen bahwa perusahaan-perusahaan rokok telah dikuasai asing. Namun pernahkah kita berhitung, bahwa perusahaan rokok bukan hanya Djarum, Gudang Garam, Bentoel, atau raksasa-raksasa sejenisnya. Ini bukan hanya kretek. Di sejumlah sentra tembakau, ada perusahaan-perusahaan yang tumbuh dan berkembang dengan dikelola modal dalam negeri alias modal sendiri. Mereka mengolah rokok dari jenis tembakau beragam, bukan hanya Voor Oogst, tapi juga Na Oogst yang menjadi bahan baku rokok cerutu. Sudahkah kita berhitung sinisme gebyah-uyah 'perusahaan rokok dikuasai asing' bakal menghantam mereka?

Salah satu perusahaan yang masih setia dengan kekuatan lokal adalah Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara (Kopa TTN). Ini sebuah koperasi yang didirikan empat serangkai pada 1990. Mereka bertemu di sebuah rumah di Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Mereka adalah orang-orang yang sudah lama bergelut di dunia tembakau: Achmad Ismail (pemilik NV Ismail), Soejitno Chandra Hasan (pemilik Fasuda dan UD Daun Madu), Heru Tisdamarna (Kepala Cabang NV Ismail), dan sang tuan rumah Abdul Kahar Muzakir (mantan direktur utama PT Perkebunan 27).

“Kami datang ke sini, untuk mengajak rembugan apa yang bisa kita lakukan. Saya punya gudang, saya punya manajemen, orang-orangnya ada,” kata Ismail.

“Saya tak punya modal. Tapi saya menguasai teknologinya (tembakau bawah naungan), memiliki akses pasar. Itu komoditas yang biasa kami budidayakan,” kata Kahar. Mereka sepakat berbisnis tembakau bawah naungan Besuki Na Oogst untuk diekspor ke Eropa sebagai bahan baku cerutu.

Kahar mengusulkan agar badan usaha ini berbentuk koperasi. Mereka perlu memanfaatkan momentum pemerintah yang tengah bergiat membangun dunia koperasi di Indonesia. Saat itu perizinan pendirian koperasi dipermudah. Fasilitas kreditnya pun memiliki bunga di bawah kredit komersial perbankan. Mereka juga ingin mengambil jiwa koperasi: gotong royong. Koperasi menonjolkan asas kekeluargaan, untung dan rugi ditanggung bersama.

Berdasarkan rapat 22 Mei 1990, Ismail didaulat menjadi Ketua I, Kahar menjadi Ketua II, Heru Tisdamarna menjadi sekretaris, dan Soejitno Chandra Hasan menjadi bendahara.

Kahar dan Ismail ke Jakarta untuk Sri Edi Swasono, menantu Mohammad Hatta, proklamator dan Bapak Koperasi Indonesia, di Hotel Indonesia, untuk berkonsultasi tentang pendirian koperasi. Mereka berharap mendapat modal tambahan dengan bunga ringan. Namun diskusi itu tak menghasilkan apapun.

Edi Swasono menyarankan mereka menghubungi Bank Bukopin di Surabaya untuk menanyakan bunga kredit koperasi. Ternyata tak mudah meminta kucuran kredit di Bukopin. Dengan berbagai agunan, bunga mencapai 24 persen per tahun. Sementara bunga kredit di Bank Export Import Indonesia hanya 17 persen. Kahar dan Ismail pun memilih kembali ke kredit komersial.

Juni 1990, mereka mulai melakukan pembibitan dan membangun sarana prasarana untuk budidaya tembakau bawah naungan dari jenis Besuki Na Oogst seluas 26 hektare di kawasan Pancakarya, Kecamatan Ajung, Jember. Baru pada 28 Juli 1990, berdirilah Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara., dan pengakuan sebagai badan hukum diperoleh pada 24 Desember 1990.

Dalam perkembangannya, TTN tak hanya mengekspor tembakau untuk bahan baku cerutu ke Eropa. Perusahaan ini juga memproduksi cerutu sendiri dengan nama Boss Image Nusantara. Ini cerutu bikinan tangan yang berbahan baku daun tembakau bawah naungan dengan varietas dari Kuba dan Sumatra.

Soeripno, orang kepercayaan Kahar, membantunya membudidayakan tembakau Kuba di Jember sejak 1993. Tak mudah membudidayakan tembakau Kuba di sini. Kahar dan Soeripno jatuh bangun, karena tanaman ini mudah terserang penyakit. "Namun setiap kali gagal, selalu kami ulangi, hingga akhirnya tembakau Kuba ini benar-benar melakukan aklimatisasi dan memiliki daya tahan," katanya.

Kahar membudidayakan dua hektare lahan tembakau Kuba untuk dijadikan bahan baku cerutu BOS Image. Produk daun bawah disebut Half Corona, produk daun kaki disebut Corona, dan produk daun atas disebut Robusto.

Ada lima cerutu Corona, yakni Robusto 3 S, Corona 10 S, Corona 5 S, Half Corona 10 S, dan Half Corona 5 S. Sementara untuk cerutu kecil, TTN memproduksi El Nino 20 S, El Nino 5 S, La Nina 20 S, dan La Nina 5 S. Kebanyakan cerutu ini dijual di dalam negeri.

Tiga orang pendiri TTN telah pergi dan tinggal Kahar yang merayakan ulang tahun ke-79 tahun 2015 ini. Di tengah modernisasi produksi rokok dan cerutu serta arus kepemilikan modal asing, TTN masih bertahan dengan nilai-nilai lama yang ditanamkan para pendiri: nasionalisme dan keinginan berbuat untuk orang banyak.

"Pak Kahar adalah sosok yang benar-benar pasang badan untuk membudidayakan tembakau. Pertimbangan utama beliau adalah komoditas ini menyediakan banyak lapangan kerja. Beliau tidak ingin tenaga kerja di Jember lari ke luar negeri menjadi tenaga kerja di sana," kata Manajer Produksi TTN Imam Wahid Wahyudi.

TTN memberikan beasiswa untuk anak-anak yang pandai di sekitar gudang TTN maupun anak-anak buruh. "Saya katakan: saya tidak membiayai anak-anak yang nantinya bakal jadi tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Saya membiayai anak-anak yang pintar sampai ke jenjang pendidikan atas agar mereka kembali ke desa, karena itu yang bisa membangun desa," kata Kahar.

Inilah filosofi nilai-nilai TTN sebagaimana terkandung dalam nama perusahaan itu sendiri. Kahar mengusulkan nama Tarutama kepada kawan-kawannya. "Taru itu daun, Tarutama berarti usaha utama kita adalah daun tembakau," jelasnya.

Tambahan nama ‘Nusantara’ berasal dari diskusi Kahar dengan Wolfgang Gustaf Kohne dari Hellmering Kohne and Co. (HKC). HKC adalah salah satu broker yang bergerak di balai lelang Bremer Tabakborse Bremen, Jerman. Ia sudah mengenal Wolfgang sejak bekerja menjadi direktur utama PT Perkebunan 27.

Wolfgang saat itu mengatakan, satu kata masih kurang untuk nama badan usaha. Kahar teringat wawasan Indonesia, yakni archipelago, nusantara. Kahar berharap kelak koperasi baru ini tak hanya membuka usaha di Jember dan karesidenan Besuki, tapi juga berekspansi ke seluruh Indonesia. Wolfgang setuju dengan tambahan nama ‘Nusantara’.

Badai dahsyat datang pada medio 2000. Burger Sohne AG, pembeli 50 persen tembakau TTN, mendadak pergi. TTN sama sekali tak mengerti alasan mereka pergi. Produk tembakau TTN ditolak dengan alasan tak masuk akal. Standar tembakau tak ada masalah. Burger Sohne hanya memersoalkan masalah cita rasa (taste). Namun mereka sendiri tak bisa menjelaskan detail bagaimana standar cita rasa itu.

Penolakan terhadap produk tembakau TTN terjadi dua kali. Ini sama saja membunyikan lonceng kematian. Jajaran manajemen atas mencoba menutupi persoalan ini supaya karyawan tak panik. Karyawan sendiri sebenarnya bisa merasakan ketegangan suasana ini. Bahkan sempat ada keraguan apakah TTN terus menanam tembakau hingga beberapa bulan ke depan.

Keragu-raguan itu tak dibiarkan menggantung terlalu lama. Manajemen harus membangun kepercayaan, yakni dengan menanam tembakau terus atau tutup. Jika perusahaan tutup, tentu akan ada banyak dampak negatif. Tapi dengan menanam terus, TTN harus menata ulang semuanya, karena kerugian saat itu cukup tinggi. Akhirnya, TTN memutuskan tanam terus agar tetap hidup, dan perusahaan ini hidup hingga saat ini.

Dalam usia 25 tahun, TTN cukup percaya diri tak membiarkan kepemilikan asing masuk. Padahal mereka memiliki reputasi bagus. Cerutu mini produksi TTN diterima pasar Eropa. Sebuah perusahaan Polandia mengimpor cerutu produksi TTN. "Soal nama, itu terserah mereka, karena TTN hanya memasok produksi cerutu," kata Kahar.

"Saya sebenarnya menganggap cerutu dengan ukuran kecil bukanlah cerutu. Itu hanya mainan. Namun kondisi membuat saya cenderung menjadi industrialis. Kalau saya tetap memaksakan diri bergelut dengan cerutu besar, konsekuensinya adalah terlempar dari pasar. Selama ini kami beruntung, karena nilai tukar Euro dengan rupiah yang fluktuatif. Jadi saya memproduksi cerutu kecil dan sudah memperoleh pasar di Polandia," kata Kahar.

Kahar kini mengelola perusahaan dengan dibantu anaknya dan anak para pendiri. Febrian Ananta Kahar, anaknya, memegang posisi direktur produksi dan teknik. Agusta Jaka Purwana, putra Heru Tisdamarna, menjabat direktur umum dan sumber daya manusia. Sementara Hesti Setiarini, putri Soejitno Chandra Hasan, menjabat direktur keuangan. Hanya putra Ismail yang melepas hak atas TTN karena tak berminat bergelut di sana.

Penutup

Medio Januari 1994. Achmad Ismail tahu, usianya tak akan lama. Abdul Kahar Muzakir berdiri di hadapannya. Ia menggamit sang sahabat dan berbisik. "Pak Kahar, saya boleh mati. Tapi TTN jangan sampai mati."

Ismail meninggal dunia pada 11 Januari 1994. Pesan terakhir itu masih terawat hingga saat ini. [wir]

Baca Selengkapnya..

10 August 2015

Rusdi dan Filosofi Coming From Behind

Empat tahun lalu, 7 Agustus, Rusdi Bahalwan meninggal dunia. Seorang legenda: sebagai pemain membawa Persebaya Surabaya menjadi juara perserikatan era 1977-1978, dan sebagai pelatih menjuarai Liga Indonesia musim 1996-1997. Dalam sejarah Persebaya, sependek ingatan saya, hanya Jacksen F. Tiago yang berhasil meniru Rusdi, yakni menjuarai Liga Indonesia pada 1996-1997 saat menjadi pemain dan mengangkat trofi yang sama pada 2004 saat melatih tim berjuluk Bajul Ijo ini.

Namun Rusdi memiliki kelebihan dibandingkan Jacksen. Selain berstatus arek Surabaya asli, ia tak hanya menghadirkan trofi di Wisma Persebaya di Karanggayam. Alumnus SMA Negeri 6 Surabaya ini juga mewariskan filosofi sepak bola 'Coming from Behind'.

'Coming from Behind' atau bergerak dari arah belakang adalah taktik sepak bola ofensif yang mengandalkan kecepatan lini kedua untuk menyengat pertahanan lawan. Para pemain harus aktif bergerak dan melakukan 'passing support'. Begitu memberikan umpan, pemain lini kedua harus muncul tiba-tiba dari belakang, memberikan kejutan saat pemain bertahan lawan berkonsentrasi terhadap barisan penyerang.

Taktik 'Coming from Behind' mirip dengan taktik Indra Sjafri di tim nasional Indonesia U19, namun lebih efektif, karena tak senantiasa berputar-putar dengan penguasaan bola layaknya Barcelona. Tiga gol ke gawang Korea Selatan berasal dari kaki Evan Dimas yang jelas-jelas pemain gelandang, yang muncul tiba-tiba saat pemain lawan berkonsentrasi menghadapi pemain-pemain depan timnas. Bedanya, Indra menggunakan formasi 4-3-3 yang mengandalkan trisula di barisan penyerang. Sementara, menurut Yani Fathurrachman, Rusdi menyukai formasi 4-4-2.

Yani adalah kapten Persebaya era 1990-an. Arek asli Jember ini direkrut kuartet pelatih Rusdi Bahalwan, Subodro, Totok Risantono, dan Zulkifli Yasin masuk tim inti Persebaya untuk mengikuti turnamen Piala Jawa Pos 1990. Usianya waktu itu 20 tahun, dan Persebaya tengah meremajakan mesin mereka. Para pemain yang berhasil menjuarai kompetisi perserikatan 1987-1988 seperti I Gde Putu Yasa dan Syamsul Arifin digeser, digantikan pemain-pemain berusia di bawah 23 tahun seperti Winedi Purwito, Yusuf Ekodono, Ibnu Grahan. Satu-satunya pemain tua yang tersisa adalah Usman Hadi.

Rusdi memberikan tugas gelandang pengangkut air alias holding midfielder kepada Yani. Yani mendapat jatah nomor punggung 7, yang sering disebut nomor keramat atau magnificent seven di sejumlah klub di dunia seperti Liverpool dan Manchester United. Di Liverpool, nomor punggung tujuh dikenakan pemain fenomenal seperti Kenny Dalglish, Kevin Keegan, Peter Beardsley, atau Luis Suarez. Sementara di United, ini nomor punggung milik Cristiano Ronaldo, George Best, David Beckham, atau Angel di Maria.

Yani masih ingat benar bagaimana Rusdi mewajibkan penguasaan bola dalam filosofi 'Coming from Behind'. "Tiap hari latihan possesion minimal 30 menit, minimal harus 150 kali sentuhan bola. Pemain tidak boleh cepat kehilangan bola," katanya, mengenang.

Yani memahami benar betapa beratnya tugas gelandang bertahan. "Gelandang bertahan harus punya power dan punya jiwa perusak. Begitu bola kena lawan, saya kejar, saya cut. Kalau main dari belakang (zona pertahanan), saya yang mengelola. Kalau bek kanan dan kiri naik membantu serangan, saya bergeser (menutup area yang ditinggalkan)," katanya.

Xabi Alonso, maestro lapangan tengah yang bermain untuk Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Munchen, mengatakan, seorang gelandang bertahan harus bersabar. Di matanya, seorang gelandang bertahan adalah penghubung antara lini belakang dan lini serang. Ia bertugas membuat permainan mengalir dengan memainkan banyak operan dan menjaga keteraturan di lapangan tengah.

"Peran saya adalah membuat membuat struktur dan keseimbangan dalam permainan dan membuat rekan setim bisa memaksimalkannya. Saya mencoba membuka ruang saat rekan satu tim membutuhkannya untuk mencetak gol. Saya mencoba menutup ruang yang bisa dimanfaatkan lawan di belakang," kata Xabi dalam wawancara dengan Fifa.com.

Xabi sama seperti Yani. "Kalau stopper minggir, saya ke tengah. Tidak saling mengandalkan. Yang terdekat dengan bola, itu yang mengejar bola," kata Yani.

Posisi dirijen orkestra pengatur serangan diserahkan sepenuhnya kepada Winedi Purwito dan Ibnu Grahan. "Posisi saya agak ke dalam, di belakang dua pemain itu. Saya bagian mengantisipasi serangan lawan dan melakukan serangan balik, melindungi dua bek tengah. Saya bekerjasama dan saling mengisi dengan stoper," kenang Yani.

Filosofi Rusdi mirip filosofi 'Pass and Move' Liverpool yang kuat di era 1970 dan 1980. Kekuatan gaya 'Pass and Move' ala Liverpool dan 'Coming from Behind' adalah pada kecepatan yang memunculkan banyak opsi dalam serangan dan operan lebih variatif. Tak boleh ada pemain yang berjalan santai. Semua harus berinisiatif mencari bola dan memberikan operan. "Tunggu teman muncul, langsung kasih bola. Kalau teman diikuti pemain lawan, kita bawa sendiri, cari ruang kosong," kata Yani.

Konsekuensinya taktik ini mengharuskan tim memiliki pemain dengan kemampuan hebat dalam mengontrol dan bergerak dengan bola. Baik gaya 'Pass and Move' dan 'Coming from Behind' membutuhkan pemain-pemain yang cepat dalam bergerak dan mengumpan. Jika terlampau lambat, tim lawan bisa cepat membangun area pertahanan.

"Pass and Move. This style is quite obvious really, the whole idea of controlling the ball well, finding a pass and then always moving to a different angle or space, never standing still," kata Paul Barratt, salah seorang mantan pemain Liverpool yang melatih di Akademi Liverpool di Indonesia.

Klub Jember United yang dilatih Yani Fathurrachman berutang budi kepada almarhum Rusdi. Gaya permainan yang menjadi karakter dan ciri khas sepak bola menyerang Rusdi diterapkan sangat apik oleh tim senior dan muda Jember United. Tiga trofi utama diraih Jember United dalam usia empat tahun dengan menggunakan filosofi sepak bola ini. Bukan kebetulan jika kemudian Jember United memiliki pemain-pemain yang cepat di tim senior maupun tim muda. Sebut saja Paulo Sitanggang dan Faisol Yunus. Paulo kini bermain untuk Barito Putra.

Yani mengadaptasi apa yang dilakukan Rusdi di Persebaya dulu, yakni menggembleng mental pemain. Pola 'Coming from Behind' membutuhkan semangat juang kuat. "Rusdi kalau briefing untuk menyemangati anak buahnya sangat berkesan. Masuk ke kami: 'Ayo kalian bisa, kerahkan semua apa yang kita latih. Jangan setengah-setengah, kita bergerak dengan bola. Jangan takut salah, jangan takut dimarahi, lepas terus kayak kita latihan," kata Yani.

Menurut Yani setiap ucapan Rusdi masuk ke hati pemain. Jika ada pemain yang tak bermain bagus, Rusdi tak pernah memarahi habis-habisan, namun cukup diajak bicara hati ke hati. "Kalian jangan merasa pintar, masih ada yang lebih pintar. Kalian harus belajar. Saya ingat omongan Rusdi itu. Kalian juara, tahun depan belum tentu juara. sampai juara. harus belajar lagi. Latihan tambah lagi. Jangan mudah puas."

Penulis buku The Manager: Inside the Minds of Football's Leaders, Mike Carson, menyebut pemimpin yang hebat memiliki pola pikir yang ingin selalu belajar. Ia menyitir kata-kata Brendan Rodgers, pelatih Liverpool: 'Tetap belajar. Saya makin tua, tapi para pemain akan selalu muda. Demi kepentingan mereka, saya tak boleh hanya diam'.

Filosofi lain Rusdi Bahalwan adalah sepak bola relijiusnya. Yani belajar banyak tentang bagaimana 'sepak bola dan ketakwaan' darinya.Semasa hidup, Rusdi dikenal sebagai sosok yang disiplin. Bersama Subodro, dia berhasil menciptakan kebersamaan di tubuh Persebaya, sehingga menjadikan klub berjuluk Bajul Ijo ini ditakuti tim lain. "Ibarat bapak dan anak, beliau selalu siap mendampingi," kata Yani.

Yani paham, hedonisme sangat merusak pemain sepak bola dan pada gilirannya merusak tim. Semua pelatih kelas dunia berusaha menjaga anak-anak asuhnya agar tak jatuh dalam godaan kehidupan glamor dan instan dunia sepak bola. Manajer legendaris Liverpool Bill Shankly dalam otobiografinya mengingatkan betapa hedonisme bisa membuat pemain menjadi lemah. "Terlalu banyak makan dan tidur bisa sama buruknya dengan terlalu banyak minum, terlalu banyak merokok, terlalu banyak begadang, dan terlalu banyak berhubungan seks," katanya.

Rusdi tak hanya mengajarkan sepak bola, tapi juga menciptakan kekompakan dan kebersamaan dengan jalan salat berjamaah. Setiap magrib, setelah salat, dia memberikan dakwah dan siraman rohani kepada anak-anak asuhnya. Setiap ada pemusatan latihan, setelah latihan sore dan mandi, para pemain segera ke musola.

Ada kalanya Rusdi menyuruh salah satu pemain untuk mengimami salat magrib dan isyak. Mereka juga makan malam bersama-sama. "Saya mendapat ilmu yang besar sekali manfaatnya untuk hidup selama dilatih Pak Rusdi. Pengalaman di lapangan oke, siraman rohani oke," kata Yani.

Perpaduan sepak bola dan agama ini diterapkan Yani di Jember United. Setiap kali Jember United bertanding, di mana pun, ia selalu membawa anak asuhnya ke musola saat magrib tiba. "Latihan jam lima sore, habis mandi langsung ke musola," katanya.

Sang tukang gedor Sabeq Fahmi Fahrezy mendapat tugas sebagai tukang azan. Yani menjadi imam salat dan memimpin doa bersama serta salawat. Di Jakarta, sebelum pertandingan final Divisi III melawan PS Gianyar, tim Jember United menginap di Taman Mini Indonesia Indah. "Di sana ada musola besar, dan kami selalu salat jamaah di situ saat magrib dan isyak," kata Yani.

Salat berjamaah memberikan ketenangan mental kepada para pemain Jember United. Saat final, mereka mengempaskan PS Gianyar 2-0, melalui gol dari kaki Galuh Triatma Putra. Jember mengakhiri puasa gelar sejak 2002. Gelar sepak bola bergengsi tingkat nasional akhirnya mampir ke Jember pada 2013.

Andai masih hidup dan menyaksikan, Rusdi mungkin akan tersenyum: apa yang diwariskannya telah membawa kegembiraan dan kebanggaan pada sebuah kota yang terletak sekitar 200 kilometer dari kota kelahirannya. Rusdi seperti Shankly: He Made People Happy. [wir]

Baca Selengkapnya..

08 August 2015

Hikayat Seorang Bupati, 10 Tahun, 300 Kilometer

Gerak jalan Tanggul-Jember Tradisional 30 kilometer yang diselenggarakan pada Sabtu (8/8/2015) adalah momentum terakhir bagi keikutsertaan Bupati Jember MZA Djalal. Djalal mengakhiri jabatannya pada September mendatang, setelah memimpin Jember selama dua periode, 2005-2010 dan 2010-2015. Selama sepuluh tahun, tak sekalipun Djalal absen mengikuti Tajemtra.

Djalal tak hanya membuka acara seremonial. Setiap tahun, ia juga ikut berjalan sejauh 30 kilometer dari alun-alun Kecamatan Tanggul hingga alun-alun pusat kota Jember. Jika ditotal, pria asli Jember ini sudah berjalan kaki menempuh 300 kilometer. Sebagai perbandingan: jarak Banyuwangi dengan Surabaya adalah 272 kilometer.

Sejumlah orang dekatnya bercerita, jika Djalal berjalan kaki dengan kecepatan relatif konstan. Bahkan, beberapa kepala satuan kerja yang mencoba setia mendampinginya sampai garis akhir akhirnya angkat tangan. Mereka menyerah dan memilih berhenti pada kilometer tertentu.

Djalal hanya berhenti cukup lama untuk menunaikan salat Asar di masjid tepi jalan. Dalam suatu kesempatan, ia memang meminta kepada semua masjid untuk buka selama pelaksanaan Tajemtra dan menjadi tempat untuk salat. "Jangan sampai salat dilupakan," katanya beberapa tahun lalu.

Stamina Djalal diakui Pimpinan Kantor Bank Indonesia Perwakilan Jember Achmad Bunyamin. "Saya jadi ingin tahu apa rahasia stamina beliau," katanya.

Usia Djalal hendak memasuki kepala enam. Namun, ia masih giat mengikuti kegiatan olahraga fisik seperti bersepeda dan bersepeda motor trail melintasi alam. Bahkan ia pernah bersepeda angin dari Jember menuju Madura sejauh 400 kilometer. Sesuatu yang membuat Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengacungkan jempol.

Saat hendak menerima penghargaan sebagai salah satu tokoh olahraga dari Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Timur, Djalal memilih menuju Surabaya dengan bersepeda angin.

Djalal adalah sedikit kepala daerah yang keranjingan olahraga, dalam arti sebenarnya. Ia pernah menggelontorkan Rp 5 miliar untuk klub sepak bola Persid Jember. Namun ia kecewa setelah pengelolaan manajemen Persid tak berjalan bagus. Bahkan pemain sempat berunjukrasa karena terlambat digaji.

Saat Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ), sebuah agenda pariwisata tahunan pada 2008, Djalal membiayai pendirian klub bola voli Jember Pemkab Indomaret dan menjadikan Jember tuan rumah kompetisi Proliga. Tujuannya: mempromosikan Jember, melalui siaran langsung pertandingan bola voli di televisi.

Kegilaan Djalal terhadap olahraga sempat diprotes pendukung Persid Jember. Ini gara-gara ia menyulap Stadion Notohadinegoro menjadi sirkuit motokros. Rumput lapangan sepak bola rusak, dan Persid terpaksa menjalani laga kandang kompetisi sepak bola Divisi I di Lumajang.

Namun Djalal membayar impas kesalahannya kepada suporter dengan mendirikan stadion baru di Kecamatan Ajung berkapasitas 20 ribu penonton. Suporter yang tadinya kecewa dan antipati pun berbalik arah dan mengusulkan agar stadion itu dinamakan MZA Djalal Stadium.

Jelang lengser, Djalal menginstruksikan agar Jember menjadi sentra pembinaan sepak bola. Ia terilhami dengan sukses klub Jember United menjuarai turnamen yunior Piala Suratin. Para pemain sepak bola berprestasi seperti Sabeq Fahmi Fachrezy, Paulo Sitanggang, dan Cakra Yudha mendapat beasiswa untuk kuliah ke perguruan tinggi negeri di Jember.

Hari ini, Tajemtra terakhir bagi seorang bupati bernama MZA Djalal. Siapa bupati Jember kelak yang bakal berjalan 30 kilometer setiap tahun seperti dia? Siapa pemimpin daerah Jember yang kelak akan menjaga api olahraga di kota ini?

Waktu akan menjawab. Kepala daerah datang dan pergi. Namun Tajemtra tak boleh mati. Ini salah satu simbol bahwa olahraga, rakyat, dan peran negara hadir dalam satu sinergi. Begitulah. (wir)

Baca Selengkapnya..

26 July 2015

Raheem Sterling dan Paulo Sitanggang

Raheem Shaquille Sterling, Liverpool, dan Manchester City mengingatkan saya kepada Paulo Oktavianus Sitanggang, Jember United, dan Barito Putra. Raheem dan Paulo sama-sama pemain belia dan memperkuat tim nasional negara masing-masing. Mereka juga sempat membuat heboh dengan operasi transfer yang kontroversial.

Raheem dibesarkan di London, ibu kota Inggris, di bawah naungan akademi klub Queens Park Rangers. Usianya sebelas tahun waktu itu. Dalam waktu tiga tahun, ia mendapat kesempatan bermain di tim U18 klub tersebut. Pemandu bakat Liverpool, Mark Anderson, terpesona melihat penampilan Raheem saat QPR menghadapi Crystal Palace dalam sebuah pertandingan yunior.

Liverpool harus bersaing dengan klub-klub besar Liga Inggris untuk mendapatkan Raheem, seperti Chelsea, Arsenal, dan Manchester City. Namun The Reds bertindak cepat. Manajemen klub mengundang Raheem dan orang tuanya untuk datang ke Anfield dan mendapat kursi terbaik menyaksikan sebuah pertandingan Liverpool. Raheem dan orang tuanya jatuh hati dengan perlakuan manajemen klub. Selanjutnya mereka boyongan ke Merseyside.

Tak ada klub besar yang melirik Paulo awalnya, kendati talenta besarnya sudah terlihat. Lahir dari pasangan M. Sitanggang dan E. Silalahi di Medan, 17 Oktober 1995, semula Paulo berlatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) Kurnia, Medan, dan pindah ke SSB Surya Putra Mariendal Medan.

Tahun 2011, Paulo terpilih sebagai salah satu pemain muda yang bisa mengikuti AC Milan Junior Camp. Sayang, ia cedera jelang dikirim ke Milan. Namun, pelatih Indra Sjafri tetap merekrutnya untuk memperkuat tim nasional Indonesia U17. Di sanalah, Paulo berkenalan dengan Sabeq Fahmi Fachrezy, pemain asal Jember, yang belakangan menjadi 'mak comblang' untuk bergabung dengan Jember United. "Sabeq bilang ke saya ada gelandang bagus. Saya tertarik dan ketemu anak itu (Paulo). Rupanya kami satu hati, dan dia mau ke Jember," kata Manajer Jember United Sirajuddin.

Paulo pindah ke Jember United dalam usia 16 tahun. Sirajuddin tak menawarkan fasilitas mewah kepada Paulo. Ia hanya menemui keluarga Paulo dan melakukan pendekatan kekeluargaan. Salah satunya memastikan agar Paulo tetap bersekolah. "Paulo jadi anak angkat saya. Namanya masuk dalam kartu keluarga saya. Orang tuanya memang berharap demikian. Saya membiayai dia sekolah," kata Sirajuddin.

Raheem dan Paulo pemain itu sama-sama memiliki kelincahan. Mereka gesit dan pekerja keras. Tak butuh waktu lama, keduanya menjadi bagian dari tim inti klub masing-masing. Bahkan, Paulo menjadi bagian dari tim yang mengantarkan Jember United menjuarai Divisi III 2012.

Seperti halnya Raheem pada masa-masa awal bersama Liverpool, Paulo sangat menghormati manajemen Jember United. "Manajemen bagus. Pak Sirajuddin lebih dari manajer, seperti bapak sendiri. Saya kalau ada (keperluan) apa-apa (berbicara) ke dia juga," katanya, terkesan dengan suasana kekeluargaan di antara para pemain Jember United.

Paulo bahkan mendapat penghargaan tinggi dari Bupati Jember MZA Djalal, karena prestasinya di tim nasional U19. Sang kepala daerah memberikan beasiswa kepadanya untuk bisa kuliah di perguruan tinggi manapun di Jember. "Kalau dikasih dalam bentuk uang kan cepat habis. Saya sudah kontak orang tua Paulo di Medan, Sumatra Utara, ternyata alhamdulillah mereka setuju, kuliah memang jauh lebih penting," kata Sirajuddin.

Paulo diperlakukan istimewa di Jember. Ia sudah dianggap berjasa ikut memunculkan nama Jember di pentas sepak bola nasional. Besarnya sambutan untuk Paulo bisa dilihat saat peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2013.

Usai upacara Paulo menjadi rebutan foto bareng. Tak hanya siswi-siswi peserta upacara, pejabat-pejabat pun berfoto bersama dengan Paulo. Paulo ditarik ke sana kemari oleh para pelajar itu. Dari alun-alun, Sabeq, Paulo, dan pemain Jember United lainnya yang menjadi kapten tim Jawa Timur untuk Pekan Olahraga Nasional Cakra Yudha, diarak keliling kota.

Komite Nasional Pemuda Indonesia menggandeng Paulo dan Sabeq memimpin pembacaan 'Sumpah Pemuda Antinarkoba', dalam acara sosialisasi antinarkoba di Hotel Aston, Kamis, 7 November 2013. Acara ini diikuti puluhan perwakilan pelajar di Jember. Paulo mengaku senang hidup di Jember. "Di Jember saya bilang masih banyak baiknya. Daripada Medan, lebih enakan di Jember," katanya.

Sebagaimana halnya kisah Raheem dan Liverpool, kisah cinta Paulo dengan Jember dan Jember United tak bertahan lama. Raheem dan Paulo sama-sama memikat klub besar lain, karena tampil cemerlang, terutama saat di tim nasional. Namun di sini pula perbedaan antara Raheem dan Paulo, dan boleh jadi secara umum juga perbedaan pemain-pemain sepak bola di Inggris dan Indonesia.

Hubungan pemain dengan klub di Indonesia sangat tidak stabil. Program 'Bapak Asuh' bagi para pemain timnas U19 yang digagas Badan Tim Nasional PSSI pada medio akhir 2013, membuat klub Mitra Kutai Kartanegara yang bermarkas di Tenggarong menawarkan diri untuk menaungi Paulo. Padahal saat itu Paulo tercatat menjadi pemain Jember United.

Bupati Djalal menyatakan keberatan jika Paulo pindah ke Mitra. "Kita pertahankanlah Paulo. Kita kan sudah bekerjasama dan memberikan pembinaan," katanya kepada manajemen Jember United.

Namun diam-diam Paulo memang sudah tak betah di Jember United. Medio 2014, ia memutuskan menerima tawaran Barito Putra, dan proses kepindahannya menghadirkan saga panas di media massa. Semua berawal saat sebuah media massa olah raga terbitan Jakarta memberitakan bahwa Barito sudah menjalin kesepakatan jangka panjang dengan Paulo.

CEO Barito Putra, Hasnuryadi Sulaiman membenarkan adanya ikatan kontrak dengan Paulo selama tiga tahun. Ia mengatakan, rekrutmen Paulo sesuai kebutuhan tim berjuluk Seribu Sungai itu. "Kami melihat tipe dan karakter dia cocok dengan pola permainan Barito," katanya.

Di Inggris, saga panas terjadi setelah Raheem menolak menandatangani perpanjangan kontrak dengan Liverpool. Tawaran transfer dari sejumlah klub besar Inggris pun mampir ke markas The Reds. Manajemen Liverpool bersikeras menampik semua tawaran transfer di bawah 50 juta poundsterling atau setara kurang lebih Rp 1 triliun rupiah. Raheem pun tak bisa semaunya pindah klub, karena masih terikat kontrak dua tahun dengan The Reds.

Kontroversi terjadi karena pernyataan-pernyataan agen Raheem, Aidy Ward, yang cenderung meremehkan Liverpool. Raheem juga tak mendinginkan situasi dengan melontarkan pernyataan kontroversial di media massa dalam suatu kesempatan yang ditafsirkan fans sebagai pelecehan. Mendadak Raheem menjadi musuh bersama fans Liverpool.

Proses kepindahan Paulo ke Barito Putra juga menghadirkan kontroversi di media massa, namun lebih dikarenakan amarah manajemen Jember United akibat merasa ditelikung. "Saya tidak tahu bagaimana ceritanya. Tapi saya tegaskan, Paulo masih bermain untuk Jember United. Saya belum pernah mengeluarkan surat pindah untuk dia. Paulo bergabung dengan Jember United sejak 2012 sampai 2017," kata Sirajuddin.

Sirajuddin tak mau ambil pusing dengan klaim-klaim sepihak atas Paulo di media massa. "Kalau ada yang mengaku, biar saja. Kami sudah punya pengacara. Kalau Paulo dimainkan di luar Jember United dan tim nasional, kami akan tuntut secara hukum," katanya.

Sirajuddin mengingatkan semua klub yang berminat merekrut Paulo untuk mengikuti etika. "Paling tidak, klub yang berminat komunikasi dululah sama kami. Anaknya (Paulo) juga harus pamit, kalau mau mencari klub yang lebih baik. Terakhir, tentu masalah administrasi diikuti," katanya.

Manajemen Jember United siap melepas Paulo dengan banderol Rp 750 juta. Tidak sepadan dengan banderol Raheem tentu saja. Namun untuk pemain yang baru berusia 19 tahun di Indonesia, angka itu terhitung mahal. "Paulo ini pemain timnas. Pantas dihargai," kata Sirajuddin.

Menurut Sirajuddin, 50 persen nilai transfer itu akan diberikan kepada Paulo, 30 persen untuk Jember United, dan 20 persen untuk pelatih yang selama ini membinanya. "Klub sih ambil pemain gampang. Tapi membina pemain itu tidak gampang. Apalagi Paulo selama ini ikut sama saya. Sekolah juga saya yang menanggung. Saya minta agar klub-klub di luar Jember United tidak ada yang mengklaim. Jangan ulangi lagi," kata Sirajuddin.

Raheem punya agen bernama Aidy Ward untuk mengurusi proses kepindahan, tanda tangan kontrak dan sebagainya. Paulo tak punya siapa-siapa. Di tengah kontroversi itu, Sabtu, 1 November 2014, ia datang ke markas Jember United dengan didampingi seorang kawan untuk menemui Sirajuddin dan pelatih Yani Fathurrachman. Mereka mendiskusikan kepindahan Paulo ke Barito.

Di sana, Paulo menjelaskan kepada Sirajuddin, kontak dengan pengurus Barito terjadi di sebuah hotel di Jogjakarta beberapa waktu lalu. "Kebetulan saya ketemu di hotel. Lalu bicara-bicara," katanya. Di Inggris, klub yang menjalin kontak diam-diam dengan pemain klub lain bisa kena sanksi. Namun tidak dengan di Indonesia.

Sirajuddin tak akan menghalang-halangi pengembangan karir Paulo. Ia juga menyambut baik niat Barito jika mau menjalin komunikasi. "Kalau dia punya niat baik, kami welcome. Kalau karir Paulo lebih baik (di Barito) kami lepas, tapi yang prosedural. Saya ini pengurus PSSI Jatim. Kalau pemain dilepas dengan cara begitu (tidak prosedural) kan tidak enak," kata Sirajuddin.

Tidak ada hasil kongrit dalam pertemuan Paulo dengan pengurus Jember United. Sirajuddin kembali menegaskan klub mana pun mengambil Paulo dengan syarat. "Asal klubnya sehat: sehat secara manajemen, sehat secara keuangan, dan sehat secara politik," katanya.

Di Inggris, saga Raheem berakhir gembira bagi setiap orang. Manchester City bersedia menebus 49 juta pound untuk merekrut sang pemain. Liverpool punya dana segar untuk membeli pemain baru. Aidy, tentu saja, semakin kaya dengan sekian persen nilai transfer Raheem.

Di Jember, saga berakhir setelah perwakilan Barito Putra datang ke Jember. Semua diselesaikan secara kekeluargaan, khas Indonesia. Di hadapan Bupati Djalal, dalam acara penyambutan tim Jember United yang menjuarai Piala Suratin, di Pendapa Wahyawibawagraha, Selasa, 16 Desember 2014, Sirajuddin akhirnya secara terbuka mengungkapkan kepindahan Paulo ke Barito Putra.

"Paulo sudah mengikat kontrak dengan Barito. Kami lepas dengan biaya administrasi. Tak ada transfer, karena Paulo masih pemain amatir. Tapi biaya administrasinya Rp 100 juta. Kami tak menghalangi dia. Anak kita itu sudah berjasa, tak bisa bertahan di Jember United, ya kami lepas saja," kata Sirajuddin. [wir]

Baca Selengkapnya..

06 April 2015

Cerita dari Gardu Timur

Saya bertemu dengan suami-istri Suyono, di Dusun Gardu Timur, Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada suatu siang. Saya menikmati durian di dusun yang berdekatan dengan Gunung Raung itu.

Dari mereka, saya tahu, loyalitas dalam politik tak selamanya terkait urusan duit. Suami-istri Suyono adalah orang terpandang di desa itu. Mereka kaya raya dari hasil berjualan kayu mahoni, mindi, dan jati olahan untuk bahan bangunan.

Mereka memulai bisnis dari berjualan kayu berukuran kecil. Mereka pernah mengalami kerugian besar karena dirampok. Namun sebagaimana halnya kisah-kisah klise di sisi dunia manapun, keuletan membawa mereka sukses.

Sukses berbisnis kayu tak mengubah penampilan suami-istri itu. Pakaian dan cara bicara mereka jauh dari kesan sosok warga desa yang memiliki usaha dengan penghasilan Rp 400 juta setiap tahun. Sang suami lebih kalem, sang istri lebih ceplas-ceplos jika bicara.

Pernah suatu kali Nyonya Suyono pergi ke kota untuk membeli ponsel baru. Melihat sosok yang tak necis, pelayan toko pasang tampang cemberut. Mungkin dipikirnya: nih orang paling banter hanya beli ponsel harga di bawah satu juta rupiah. Hanya cari yang murah.

Nyonya Suyono jengkel. Dengan logat Madura yang kental, ia meminta ponsel terbaru dan termahal kepada sang pelayan. Tak cukup itu, ia juga mengeluarkan segepok duit dan menyodorkan kepada sang pemilik toko. "Mana kertasnya (sertifikat kepemilikan bangunan dan tanah toko)? Biar saya beli sekalian dengan HP-nya," katanya, keras.

Sang pelayan tak menampakkan batang hidung lagi. Saya tertawa mendengar cerita Nyonya Suyono. Sambil menggigit daging durian yang lembut bak mentega, saya bisa membayangkan, betapa malunya sang pelayan itu.

Pernah pula suatu saat Nyonya Suyono datang ke sebuah restoran waralaba modern. Ia tetap tampil tak necis, walau tak bisa disebut berantakan atau kumuh. Lama memesan, tak juga dilayani. Tak sabar, Nyonya Suyono melabrak sang pelayan sembari mengeluarkan setumpuk uang. "Apa uang saya beda dengan uang orang-orang itu," tanyanya menunjuk sejumlah pembeli yang terlihat jelas seperti punya banyak duit.

Nyonya Suyono kaya dari bisnis sendiri tanpa kongkalikong dengan pejabat. Mungkin itu yang membuatnya percaya diri, termasuk saat berurusan dengan pejabat pemerintah desa.

Dalam sebuah pemilihan kepala desa, Nyonya Suyono memilih salah satu kandidat. Ia tidak dibayar dan justru mengeluarkan uang untuk kampanye sang kandidat. Alasannya sederhana: cocok di hati.

Singkat kata: kandidat itu menang. Dalam perjalanannya, kepala desa terpilih mulai tak disiplin. Ia kadang terlambat masuk kantor, saat yang lain sudah mulai bekerja pada pukul tujuh pagi.

Nyonya Suyono pun mendatangi istri pak kades. "Yu (sapaan kakak perempuan dalam bahasa Madura), saya memilih suami sampeyan karena ingin dia bekerja baik. Kalau tidak beres bekerja, saya sendiri yang akan menurunkannya," katanya.

Hubungan Nyonya Suyono dengan sang kades pun semakin bagus. Suami-istri itu yang kemudian mendukung sang kades mencalonkan diri dalam pemilu legislatif 2014 setelah pensiun dari pemerintahan desa.

Tuan dan Nyonya Suyono tidak dibayar atau diberi janji imbalan proyek. Bahkan mereka justru keluar duit untuk menggelar tasyakuran begitu sang kades terpilih menjadi anggota DPRD Jember. Lagi-lagi alasannya sederhana: sudah terlanjur cocok di hati.

Iseng-iseng, salah satu kawan saya bertanya: kenapa Tuan atau Nyonya Suyono tidak mencalonkan diri sendiri jadi kades atau legislator ketimbang hanya jadi pendukung?

Pak Suyono tidak menjawab. Sang istri menyahut dengan lantang (sekali lagi dengan logar Madura kental): 'Ya rugi saya, tidak bisa berdagang lagi. Enakan begini, jadi pengusaha kayu.' Nah. [wir]

Baca Selengkapnya..

28 February 2015

Pahlawan, Kota, dan Ziarah Masa Lampau

APA arti pahlawan bagi sebuah kota?

Saya ingat medio 1996 lalu, saat pertama kali datang ke Jember sebagai seorang mahasiswa. Tak banyak yang saya ketahui tentang kota ini sebelumnya. Bahkan setelah saya kuliah dan aktif di pers kampus Universitas Jember, tak banyak yang saya bisa definisikan dari kota ini. Artikel pertama saya di Radar Jember soal kota ini adalah bagaimana tak adanya 'identitas asli' yang mengikat warga, dibandingkan dengan Banyuwangi, misalnya.

Kota ini butuh penanda, dan masa silam adalah salah satunya. Di Eropa, masa lalu dirawat dengan rapi, seperti dikatakan Goenawan Mohamad dalam salah satu esainya tentang Bruges: “Tak ada yang aus: masa silam hadir secara rutin, dan secara bangga.”

Namun apakah masa silam itu bagi sebuah kota seperti Jember? Kota ini sejatinya tak pernah diikhtiarkan untuk menjadi seperti sekarang. Ini mulanya sebuah kota afdeeling perkebunan di bawah naungan Gewestelijk Bestuur Besoeki. Terbagi enam distrik, yakni Jember, Sukokerto, Mayang, Rambipuji, Tanggul, dan Puger, Gubernur Jenderal De Graeff baru menetapkan Jember menjadi regentschap yang setara kabupaten pada 9 Agustus 1928.

Lalu, berikutnya adalah perdebatan. Pemerintah daerah menetapkan 1 Januari 1929 sebagai hari jadi kota, penanda berdirinya kota. Namun sebagian kalangan menampiknya, karena menilai Jember sebagai sebuah wilayah lebih tua daripada yang ditetapkan. Lagipula, seharusnya alur sejarah didefinisikan oleh diri sendiri dan bukan tanda tangan seorang gubernur jenderal Belanda.

Sebuah kota bukanlah sekadar nama. Ia tidak hanya terdiri atas tembok-tembok dan bangunan tua, namun dibentuk sekumpulan cerita, hikayat, mitos, juga epos, yang mengalir dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Sejarah tak ubahnya aliran sungai yang berhulu dari sebuah mata air waktu, melewati bebatuan peristiwa, menuju muara kekinian. Apa yang dilakukan masyarakat Jember kini adalah mengikhtiarkan pencarian mata air yang mengawali sungai sejarah kota ini dan menentukan bebatuan-bebatuan peristiwa yang dilewatinya.

Saya kira di sinilah arti kehadiran pahlawan bagi sebuah kota seperti Jember. Pahlawan itu menyejarah, dan menjadi penanda adanya sebuah semangat pada suatu zaman, pada suatu masa. Nama Jember hari ini memang lebih terdengar nyaring karena sebuah karnaval fesyen masal. Jember Fashion Carnaval adalah apa yang disebut Dick Hebdige dalam

Subculture: The Meaning of Style sebagai pernyataan: saya berbicara melalui pakaian saya. Namun Jember tak bisa mengidentifikasi diri hanya melalui sebuah tontonan.

Jean Baudrillard dalam In The Shadow of The Silent Majorities, menyebut tontonan mengubah individu menjadi mayoritas yang diam. Dan jagat tontonan adalah padang pasir tanda-tanda (desert of signs) raksasa tak bertepi. Semua bisa memaknai, dan bahkan Baudrillard mewanti-wanti: 'Di tengah padang pasir, orang akan kehilangan identitasnya.'

Maka, penggalian terhadap sosok etos dan kepahlawanan di Jember tetap dibutuhkan, karena melalui penggalian itu orang bertanya terus-menerus mengenai dirinya. Seorang kawan menuliskan di laman Facebook, kala masih kecil, sering menunjuk sebuah sosok patung pria berpakaian perwira yang berdiri dalam posisi tubuh tegap di depan kantor Pemerintah Kabupaten Jember: siapa dia, mengapa dia di sana, tidakkah dia capek berdiri terus, dan bagaimana jika dia kebelet pipis.

Ketika rangkaian pertanyaan hadir, bahkan oleh seorang bocah, maka di situlah awal lahirnya penanda kota. Saat dewasa, kawan saya itu akhirnya tahu, patung tersebut adalah sosok Letnan Kolonel Moch. Sroedji, seorang pemimpin pasukan Damarwulan yang diperhitungkan Belanda pada masa Perang Kemerdekaan.

Penanda akan menjadi penanda ketika dimaknai secara sadar oleh warga kota, karena ada rasa memiliki. Dibutuhkan waktu tak sebentar untuk membawa kesadaran pemaknaan itu. Maka langkah Pemerintah Kabupaten Jember bersama keluarga Moch. Sroedji untuk mengusulkan sang letkol sebagai pahlawan nasional, bisa dianggap sebagai ikhtiar terobosan untuk memunculkan kesadaran pemaknaan itu sebagai kesadaran bersama.

Langkah ini diawali sebuah napak tilas yang diikuti ribuan orang pada 8 Februari 2015 yang menjadi pengingat bagi semua orang tentang pertempuran terakhir Brigade III Damarwulan pada 1949 di Desa Karangkedawung, Kecamatan Mumbulsari. Sroedji gugur bersama anak buahnya yang lain, setelah terlibat baku tembak berhari-hari dengan pasukan Belanda. Ia menolak menyerah, dan memilih mati muda pada usia 34 tahun.

Sroedji tidak dimakamkan di taman makam pahlawan, namun di sebuah pemakaman umum biasa di Kreongan, Patrang. Sebagian mungkin bertanya: mengapa. Lainnya mungkin menilai: ini tak patut. Namun "pahlawan mati hanya satu kali." Saya mengutip kalimat itu dari lakon terjemahan karya John Galsworthy. Justru dengan dimakamkan di pekuburan biasa, Sroedji meninggalkan sebuah warisan makna: laku patriotisme dan kepahlawanan tak boleh dicabut dari akarnya dan harus tetap di tengah-tengah rakyat.

Ikhtiar mengusulkan Moch. Sroedji menjadi pahlawan nasional adalah salah satu cara menjaga warisan makna itu. Kita tidak tahu, apakah pemerintah pusat dengan mudah akan meluluskan permintaan pemerintah daerah dan rakyat Jember. Seandainya berhasil, gelar pahlawan nasional itu akan menjadi milik semua orang, rakyat sipil dan tentara, yang berjuang dan mati di medan tempur bersama Sroedji.

Ini juga akan menjadi pintu bagi nama-nama lain di Jember untuk diusulkan mendapat gelar kepahlawanan. Kita tahu, Sroedji bukan satu-satunya tokoh pemimpin perjuangan di masa itu, atau yang mati dalam sebuah pertempuran heroik. Jika nama-nama itu diungkap, maka akan kembali muncul pertanyaan-pertanyaan, penggalian-penggalian, yang pada akhirnya akan selalu memicu kesadaran pemaknaan pada warga kota. Jika nama-nama seperti dr. Soebandi atau KH Achmad Shiddiq berhasil memicu kesadaran pemaknaan, pada akhirnya warga kota ini bisa semakin mengidentifikasi diri mereka.

Sebenarnja kita belum pernah mengenal mereka

ibu-bapa kita jang mendongeng

tentang tokoh-tokoh itu, nenek-mojang kita itu, tanpa menjebut nama.

Mereka hanjalah mimpi-mimpi kita,

kenangan jang membuat kita merasa

pernah ada.


- Ziarah (1967) karya Sapardi Djoko Darmono

Dari identifikasi, muncul kebanggaan dan penghormatan terhadap masa lampau. Masa lampau dihargai sebagai bagian dari yang membangun kota ini, hari ini, dan akan selalu menjadi tetenger masa mendatang: tempat kita berziarah. [Wir]

Baca Selengkapnya..

02 January 2015

1 Januari dan Matinya Gary Ablett

SELAMAT tahun baru. Tanggal 1 Januari adalah saat untuk mengenang Gary Ablett, seorang pemain sepak bola yang menyatukan dua klub sekota yang terlibat 'rivalitas bersahabat' (friendly derby): Liverpool dan Everton.

Bagi Liverpool, Ablett tak hanya dikenang karena jasanya mempersembahkan dua gelar juara liga (1987/1988 dan 1989/1990) dan satu gelar juara Piala FA (1989) selama enam musim masa pengabdiannya. Dia juga akan dikenang sebagai pemain belakang yang menunjukkan bagaimana mentalitas berjuang melawan penyakit kanker.

Pemain asli kawasan Aigburth, Liverpool, ini mulai bermain untuk klub pujaannya pada musim 1986/87. Saat itu usianya baru 21 tahun, dan Liverpool tengah dilatih Kenny Dalglish. Dia dikenal sebagai bek tengah dan bek kiri pekerja keras.

Debut kandang pertamanya melawan Nottingham Forest pada 18 April 1987 membuat terkesan banyak orang. The Times menyebut Ablett berhasil menunaikan tugas bertahan dengan elegan dan mencetak gol voli pada menit 68. Kelak hingga akhir hayatnya, ini akan dikenang satu-satunya gol selama 147 kali memperkuat Reds.

Ablett pindah ke rival sekota Liverpool, Everton, pada Januari 1992 dengan nilai transfer 750 ribu pound. Bersama Everton, ia menjuarai Piala FA pada 1995 dengan mengalahkan Manchester United dan bermain 156 kali. Ia juga sempat menjadi pelatih di Akademi Everton, dan pada 2006 menjadi manajer Tim Cadangan Liverpool.

Sebagai manajer, Ablett berhasil membawa Tim Cadangan Liverpool menjuarai Liga Tim Cadangan Primer Utara pada April 2008. Ia juga berhasil mengalahkan Juara Liga Tim Cadangan Selatan, Aston Villa.

Ablett sebenarnya lebih merasa menjadi seorang Liverpudlian. Ia mencintai Liverpool, namun dikecewakan karena ditendang Manajer Graeme Souness dan hanya bermain 23 kali di semua ajang musim 1991-1992. "Jadi saya fokus di Everton dan ingin membuktikan jika Liverpool salah melepas saya," katanya.

Liverpool sebenarnya dua kali membuatnya patah hati. Terakhir, ia terpinggir dari posisi manajer tim cadangan oleh restrukturisasi Rafael Benitez, Manajer Liverpool.

Ablett mencoba peruntungan sebagai manajer Stockport County, klub League One (setara Divisi III). Sial, klub itu malah terdegradasi pada musim 2009-2010. Dia sempat ditawari menjadi staf pelatih Ipswich Town oleh Roy Keane, mantan bintang Manchester United. Namun kanker melahap tubuhnya.

Ablett didiagnosa terkena kanker limfoma, penyakit yang menewaskan pemain Arsenal David Rocastle pada 2001. Ablett berjuang keras untuk sembuh. Dia menjalani semua yang menyakitkan selama 16 bulan: kemoterapi, tranfusi darah, hingga transplantasi sumsum tulang. Namun ia tak bertahan dan pergi selamanya pada 1 Januari 2012. Usianya baru 46 tahun.

"Saya beruntung telah melatih dua klub terbaik di dunia," kata Ablett, sebelum meninggal dunia.

Liverpool dan Everton beruntung memiliki seorang Ablett, yang senantiasa mengingatkan bahwa rivalitas tak selamanya berbuah kebencian. (Wir)

Baca Selengkapnya..

21 December 2012

Revolusi Harapan dari Ledokombo

Reporter : Oryza A. Wirawan

Suara perubahan bisa hadir dari mana saja, termasuk dari sebuah rumah di pelosok Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Di sebuah rumah dengan pelataran luas layaknya rumah khas desa, anak-anak bermain dan belajar. Revolusi harapan disemai di sana.

Mulanya adalah Farha Ciciek dan suaminya, Suporahardjo. Sekitar tahun 2009, ia bertemu tiga bocah yang menjadi teman bermain dua anaknya. Iseng-iseng, Ciciek bertanya kepada mereka. “Ibu kalian di mana?”

Salah satu bocah itu bercerita, ibu dan ayah mereka bekerja di luar negeri. Selama ini, mereka dititipkan kepada sang nenek yang juga sibuk berjualan sayur-mayur. Ledokombo memang salah satu daerah pengirim buruh migran di Jember. Anak-anak buruh migran itu dititipkan untuk 'dibesarkan oleh alam'. "Mereka dititipkan ke tetangga, kakek, nenek," kata Ciciek.

Ciciek tercengang dengan fakta itu. “Oh, my God,” pikirnya saat itu.

Semula, ia pulang kampung dari Jakarta ke desa kelahiran sang suami di Jember, karena ingin merawat sang ibu mertua yang telah renta. Namun gejala sosial di Ledokombo membuatnya tergerak. Selama di Jakarta, Ciciek bersama Suporahardjo adalah aktivis sosial organisasi non pemerintah. Ciciek pernah bekerja sebagai dosen Universitas Nasional Jakarta, dan aktif di beberapa lembaga seperti Rahima dan Kalyanamitra.

Perempuan kelahiran Ambon 26 Juni 1963 ini lantas memutuskan bersama Suporaharjo: saatnya untuk bertindak untuk melakukan perubahan, setidaknya untuk anak-anak itu. Mereka merasa itu adalah panggilan alam. Ciciek melihat anak-anak buruh migran adalah yatim piatu secara sosial. Anak-anak para tenaga kerja Indonesia mengalami persoalan sosial yang lebih besar daripada anak-anak biasa.

Ciciek pernah bertemu dengan seorang anak yang malah susah hati, saat sang ibu hendak pulang ke tanah air. Pertanyaan si anak sederhana: akankah si ibu masih mengenalnya, setelah pergi bertahun-tahun? Apakah sang ibu masih sayang? Apakah sang ibu tak akan pergi lagi. Sederhana, tapi sulit dijawab untuk meyakinkan si anak.

"Banyak yang memperhatikan persoalan buruh migran, tapi sedikit yang memperhatikan anak-anak mereka. Kita bisa mengalami bunuh diri generasi kalau mereka dibiarkan begitu saja," kata alumnus IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan lulusan pascasarjana Sosiologi Universitas Gajah Mada ini.

“Bagaimana bersama-sama membangun ruang bermain bagi anak-anak. Pelan-pelan, bagaimana orang tua susah, tapi anak-anak harus bahagia,” tambah Supo. Dengan kebahagiaan dan memori menyenangkan di masa kecil, anak-anak para buruh migran itu bisa tumbuh dewasa menjadi orang yang lebih baik.

Maka, Ciciek dan Supo mengawalinya dengan membentuk sebuah kelompok belajar dan bermain bernama Tanoker. Dalam bahasa Madura Pendalungan, tanoker berarti kepompong. Tanoker, kepompong, sebuah bagian dari transformasi kehidupan kupu-kupu.

Supo menggunakan permainan egrang sebagai alat perekat sosial dalam kelompok itu. Semula Supo tak meniatkan itu. Ia hanya memperkenalkan egrang kepada dua anaknya, Mokhsa Imanahatu Atolu yang waktu itu masih berusia 12 tahun, dan Zen Zerozona yang waktu itu masih berusia 7 tahun.

Dua anak itu dibesarkan di Jakarta. Selama bertahun-tahun, mereka lebih mengenal modernitas, dan di Ledokombo, modernitas tidak hadir dengan riuh dan gemerlap. Suasana desa yang lengang membuat mereka ditelan bosan. Maka, Supo menarik kenangan masa kecilnya. “Kebetulan di kebun belakang banyak pohon bambu,” katanya.

Supo mengajari dua anaknya cara membuat dan menggunakan egrang. Egrang adalah permainan anak tradisional, yakni semacam kaki panjang buatan dari bambu yang membuat para pemakainya lebih jangkung. Di perkotaan, permainan ini nyaris tak tampak. Di desa seperti Ledokombo, egrang sebenarnya bagian dari tradisi dan kehidupan sosial. Saat Ledokombo diterpa banjir pada masa lalu, warga menggunakan egrang sebagai alat transportasi. Namun, di desa pun, permainan ini nyaris hilang dengan semakin populernya tempat-tempat penyewaan play station.

Supo dan Ciciek membersihkan pelataran belakang rumah mereka, untuk dijadikan tempat bermain dan belajar. Mulanya tidak ada yang serius. “Saya bikin dua, tiga egrang. Lalu anak-anak sini ikut-ikutan main. Kita bikinin saja. Anak-anak bemain dengan semangat. Kita kasih hadiah. Juara I kita kasih Rp 5.000. Kalau Minggu, kita bikin lomba sama-sama anak-anak. Minimal cuma Rp 5000 keluar, anak-anak sudah ramai di sini,” kata Supo.

Melalui permainan tradisional, Ciciek dan Supo mengajarkan makna sportivitas, keberanian menaklukkan tantangan, dan kemauan untuk berbagi. “Permainan anak tradisional memiliki filosofi luar biasa, ramah lingkungan, dan mengajarkan team work," kata Ciciek.

Ciciek tersenyum melihat halaman belakang rumahnya mulai dipenuhi anak-anak kecil. Ia meyakini, anak-anak akan membawa perubahan sosial. Hasilnya? “Waktu anak-anak bermain playstation berkurang banyak. Mereka malah senang bermain egrang, bakiak,” katanya.

Belakangan, Tanoker membuat festival yang digelar setiap tahun, dan mengelola egrang sebagai sarana hiburan modern. Moksha banyak menyembangkan gerakan-gerakan baru dalam seni bermain egrang. Ia membuat koreografi menari dengan egrang.

Dari hari ke hari, anak-anak itu datang ke rumah Ciciek dan Supo bukan hanya untuk bermain. Mereka ke sana untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah. “Mereka disuruh oleh guru di sekolah. Akhirnya, saya beri PR menulis karangan esai tentang pengalaman mereka saat lebaran, dan mereka menulis dengan bagus sekali," kata Ciciek.

Ciciek membangun kedekatan dengan anak-anak melalui hubungan emosional seorang ibu. Saya pernah melihat dia memarahi beberapa orang anak sembari menangis. Anak-anak yang dimarahi itu juga ikut menangis.

Ciciek dan Supo melatih anak-anak itu untuk berani berpendapat dan mengeluarkan argumentasi kritis di depan siapa saja. Ini terlihat saat Bupati Jember Muhmmad Zainal Abidin Djalal berkunjung ke Tanoker, dan berdialog dengan anak-anak di sana. Mokhsa dengan enteng bertanya, "Pak, kenapa Ketua RT, RW, sampai bupati, kalau datang kenapa suka telat dan hobinya kok korupsi?"

Mokhsa menyinggung Djalal yang datang terlambat ke Tanoker. Sejumlah pejabat yang hadir dalam acara itu tersenyum. Mungkin mereka cemas, bupati akan tersinggung mendengar pertanyaan tanpa tedeng aling-aling seperti itu.

Namun, Djalal tersenyum. Tak ada tanda-tanda kemarahan di wajahnya. "Wah kalau pertanyaan itu, tanyakan kepada yang korupsi. Kalau saya korupsi, datang ke saya dan tegur saya. Bilang agar saya jangan korupsi,” katanya.

Djalal meminta maaf, karena datang terlambat. “Saya tidak akan beralasan. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Mudah-mudahan saya dimaafkan ya?"

Ciciek sempat diprotes salah satu birokrat, kenapa tidak mempersiapkan dan melatih pertanyaan yang bakal ditanyakan anak-anak. Istilah kerennya, merekayasa. Ia tidak suka melakukan pengondisian model kelompencapir Orde Baru. “Saya jawab, biar sajalah,” katanya, enteng.

Ada kalanya, Ciciek dan Supo diuji oleh kritisisme anak-anak yang mereka tanamkan sendiri. Suatu kali, anak-anak pernah menyatakan keinginan untuk mengikuti acara ‘Indonesia Mencari Bakat’ di Trans TV. Mereka ingin memperkenalkan egrang dan Tanoker ke publik yang lebih luas.

Tujuan anak-anak itu baik. Namun, biaya jadi kendala. Tak semua orang tua anak-anak yang bergabung dan belajar di Tanoker berasal dari kelompok kelas ekonomi yang beruntung. Ciciek dan Supo bisa saja membiayai, namun bagaimana dengan yang lain? Mereka mencoba meredam keinginan anak-anak itu.

Bukannya menurut, anak-anak itu malah menolak untuk membatalkan niat tersebut. Perlawanan justru dipimpin oleh Mokhsa. Mokhsa mengeluarkan uang dari tabungan pribadi untuk membiayai keberangkatan mereka ke Jakarta. Sementara, anak-anak lainnya merengek pada orang tua masing-masing, meminta jatah duit jajan diberikan kepada mereka. Ada juga yang meminta jatah biaya khitanan diberikan saat itu juga.

Kegigihan anak-anak itu akhirnya meluluhkan Ciciek dan para orang tua. Mereka sepakat memberangkatkan anak-anak ke Jakarta dengan biaya hemat. Ini bukan perjalanan yang mewah. Anak-anak itu berhasil menahan diri untuk tidak jajan selama perjalanan dan saat berada di Jakarta. Semua perbekalan makanan sudah disiapkan dari rumah.

Di Jakarta, anak-anak belajar bagaimana industri tontonan memperlakukan mereka. Mereka sudah mempersiapkan diri untuk tampil sebaik mungkin. Namun apa yang dalam benak mereka tak seindah apa yang terjadi. Anak-anak itu harus bersabar menanti berjam-jam untuk proses pengambilan gambar. Mereka kelelahan, dan gagal menembus babak final. Mereka kapok.

Namun, harapan mereka untuk tampil di televisi tak bertepuk sebelah tangan. Rumah Produksi Set Film Workshop milik Garin Nugroho, seorang sutradara tenar Indonesia, menjadikan Tanoker sebagai salah satu tema film pendek berdurasi 48 menit untuk program televisi Pustaka Anak Nusantara Seri II. Dosy Umar, sang sutradara, mengatakan, tayangan itu semacam ensiklopedimedia televisi tentang tradisi permainan anak-anak di beberapa daerah di Indonesia.

Egrang memang tak hanya ada di Ledokombo. Namun di mata Dosy, egrang yang dimainkan anak-anak Tanoker memiliki nilai lebih, karena lebih mengarah ke penampilan atraksi yang memiliki pesan. “Kerja tim lebih didahulukan daripada individualitas. Ego dilebur,” katanya,

Dosy dan kawan-kawan mengambil gambar pada Juli 2011. Mereka menggelar casting atau pemilihan pemain yang membuat para orang tua di Ledokombo bersemangat mendaftarkan anak mereka. Tak semua puas dengan hasil casting itu. Ada yang menggerutu, lalu bermuara pada gosip.

Ciciek bisa memahami itu semua. “Di Ledokombo ada label negatif, bahwa orang sini tak bisa maju, orangnya keras kepala, egois. Mohon maaf, aparat pemerintah daerah kalau under qualified, di bawah rata-rata atau orang hukuman, kalau jelek, dibuang ke sini,” katanya.

Perubahan harus dimulai perlahan. Jika ada perlombaan yang digelar Tanoker, Ciciek memilih juri dari luar daerah untuk menjaga netralitas. “Orang tua bisa rebutan. Kalau anaknya tidak dipilih, mereka bisa saja melarang anaknya belajar. Kita harus sabar,” katanya.

Tak sekali dua kali Ciciek mengalami perlakuan tak mengenakkan hati dari warga sekitar, karena persoalan sepele. Kadang ia lelah. Namun Supo mengatakan, “It’s your people. I love them.”

Anak-anak membuat Ciciek dan Supo tetap yakin. Anak-anak menunjukkan bahwa stigma bukan takdir. “Anak-anak bisa memaksa guru dan orang tua mereka berubah,” kata Ciciek.

“Anak-anak lebih genuine, jujur, terbuka terhadap perubahan. Handicap di orang tua. Kalau orang tua tak berubah, ini jadi batu yang menghadang perubahan anak-anak. Tapi ini gerakan bersama, kerja kebudayaan,” kata Ciciek.

Gusti Kanjeng Ratu Hemas, istri Sri Sultan Hamengkubuwono X, Raja Jogjakarta, memuji Tanoker saat menyaksikan acara Festival Egrang Tanoker III, Juli 2012 silam. “Mulai dari Jember sini, akan mengalir perhatian pada pertumbuhan, perkembangan, sampai pada posisi anak Indonesia ke depan. Kalau pemerintah tak melakukan kegiatan, kitalah masyarakat memulai dari yang terkecil,” katanya.

Ciciek optimistis perubahan sosial berasal dari desa, dengan anak-anak sebagai agen sosial. “Kita harus mempertanyakan lagi kepercayaan, bahwa perubahan berasal dari kota besar, elite, dan orang dewasa,” katanya. Sebuah perubahan, sebuah revolusi harapan. [wir/ Beritajatim.com, 21 Desember 2012 06:17:01 WIB ]

Baca Selengkapnya..

21 June 2012

Mokhsa

Reporter : Oryza A. Wirawan

Bupati Muhammad Zainal Abidin Djalal sudah hendak menutup dialog, saat tiba-tiba remaja lelaki itu menukas. "Sebentar, Pak, terakhir. Mau tanya?"

Djalal pun menoleh dan mempersilakan. Mendapat lampu hijau, remaja berusia 15 tahun itu berdiri dan bertanya dengan yakin: "Pak, kenapa Ketua RT, RW, sampai bupati, kalau datang kenapa suka telat dan hobinya kok korupsi?"

Di sebuah tanah lapang di Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Rabu (20/6/2012) siang, beberapa orang tersenyum-senyum mendengar pertanyaan itu. Begitu juga sejumlah pejabat pemerintah daerah. Entah tersenyum karena pertanyaan itu begitu lugu, atau tersenyum dengan hati kecut karena khawatir sang bupati tersinggung.

Siang tadi, Djalal bersama sejumlah pejabat datang ke kelompok bermain dan belajar Tanoker di Ledokombo untuk menyaksikan dari dekat kegiatan anak-anak, terutama dalam mengembangkan permainan tradisional egrang. Ia juga menyempatkan diri berdialog dengan anak-anak di sana.

Pertanyaan tadi meluncur dari Mokhsa Imanahatu Atolu, putra sulung pasangan Suporahardjo dan Farha Ciciek yang menggagas dan membina Tanoker selama ini. Mendengar pertanyaan itu, Djalal tersenyum. "Wah kalau pertanyaan itu, tanyakan kepada yang korupsi. Sekarang saya mau tanya, Pak Djalal korupsi tidak?" katanya.

"Tidaaaaaakkk," jawab anak-anak itu kompak.

Djalal menyatakan, jika dirinya korupsi, maka lebih baik diberitakan di koran saja. "Kalau saya korupsi, datang ke saya dan tegur saya. Bilang agar saya jangan korupsi. Saya senang kalau ada rakyat saya yang mau ngandani (memberitahu). Tidak boleh ngerasani (bergunjing)," katanya.

Djalal menjelaskan, bahwa setiap Kamis pagi, dirinya membuka kesempatan bertemu langsung dengan masyarakat di kantor Pemerintah Kabupaten Jember. "Kalau Mokhsa mau datang ke kantor saya, silakan," katanya.

Pertanyaan kedua, soal pejabat yang suka terlambat, Djalal tidak memberikan penjelasan. Ia malah meminta maaf, karena dirinya datang terlambat dari yang dijadwalkan ke acara di Ledokombo tersebut. "Kenapa suka terlambat, termasuk saya, karena mental kita masih seperti itu. Saya tidak akan beralasan. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Mudah-mudahan saya dimaafkan ya?"

Kritisisme. Itulah yang berhasil dibangun Ciciek dan Supohardjo melalui Tanoker. "Saya sempat ditanya sama salah satu orang: kenapa anak-anak tidak dilatih dulu pertanyaannya. Saya jawab, biar sajalah. Saya tidak suka mengondisikan begitu," kata Ciciek.

Salah satu siswa kelas 6 sekolah dasar, Fifin Anggraini, tanpa malu-malu meminta kepada Djalal untuk menggelar sepakbola untuk perempuan. "Panitianya Pak Bupati," katanya, disambut tawa beberapa orang yang hadir.

Djalal terkejut. "Wah, bisa main bola? Siapa yang melatih"

"Kami pernah mengadakan pertandingan persahabatan sepakbola putri, antara putri-putri di Ledokombo dengan mahasiswa asing yang datang," kata Ciciek.

"Oke, saya turuti. Saya yang membiayai konsumsi dan hadiahnya. Tapi ketua panitianya Fifin ya? Kalau bukan Fifin, saya tidak mau. Kalau kamu panitia, kamu bisa memerintah Pak Camat. Kalau Pak Camat tidak mau diperintah kamu, lapor saya," kata Djalal.

Dialog singkat itu sudah cukup menunjukkan betapa Tanoker merupakan salah satu embrio perubahan sosial di Ledokombo. Ciciek meyakini, perubahan sosial bisa berawal dari anak-anak, karena anak-anak memiliki keterbukaan dan toleran terhadap segala sesuatu yang baru. Supo dan Ciciek mengawali perubahan itu melalui permainan egrang, sebuah permainan tradisional yang nyaris tenggelam dari pengalaman sehari-hari anak-anak.

Sejauh ini, mereka berhasil. Jumlah anak-anak yang belajar bersama di Tanoker bisa mencapai seratus orang. Para orang tua tak ragu-ragu mengirimkan anak-anak belajar di sana cuma-cuma. Dinas Pendidikan dan sekolah memberikan dukungan. Apalagi, melalui akses jaringan sebagai aktivis organisasi nonpemerintah, Ciciek dan Supo berhasil menarik perhatian aktivis sosial dan mahasiswa luar negeri untuk hadir ke Ledokombo.

Tanoker bergerak tanpa bantuan pemerintah. Camat Ledokombo Heri Setiawan mengatakan, Supo dan Ciciek tak pernah meminta bantuan apapun. "Bahkan saat kami menawarkan diri untuk membantu menyediakan konsumsi bagi Pak Bupati dan para tamu, mereka menolak," katanya.

Bagi Ciciek, kehadiran seorang pemimpin daerah seperti Djalal sudah lebih dari cukup. Ia senang akhirnya Djalal bisa hadir di rumahnya yang menjadi pusat kegiatan belajar Tanoker. Djalal sendiri tampak senang berada di Ledokombo. Kendati rangkaian acara sudah selesai, ia masih asyik mengobrol bersama Supo dan tamu lainnya. "Tadi Supo senang, karena Pak Djalal tidak merokok selama di lingkungan Tanoker, karena itu area anak-anak," kata Ciciek.

Perubahan sosial memang bisa berasal dari mana saja. Bahkan dari sebuah kebun yang jauh dari kota, dan dari sebuah pertanyaan Mokhsa. [wir/beritajatim.com, 21 Juni 2012 02:21:58 WIB]

Baca Selengkapnya..

26 May 2011

Abah Samsul Masih Ingin Jadi Wartawan

Mantan Bupati Jember Samsul Hadi Siswoyo sempat bikin kejutan kemarin. Ia mendatangi gedung DPRD Jember, gedung parlemen yang selama ini tak pernah dikunjunginya sejak tak menjabat dan berada dalam lembaga pemasyarakatan.

Samsul ditemani salah satu staf distributor pupuk CV Tiga Daya Satama bertemu dengan Komisi B Bidang Perekonomian. Tubuhnya lebih kurus dibandingkan saat menjadi bupati. Selama beberapa tahun ia harus menjalani hukuman penjara terkait perkara korupsi dana kas daerah kabupaten.

Samsul masih ramah kepada wartawan. Namun ia ogah berbicara soal politik dan kebijakan pemerintahan. "sejak dulu aku bilang, aku ingin jadi wartawan kayak sampeyan," katanya, disambut tawa beberapa wartawan yang mewawancarainya.

"Saya jangan didorong-dorong ke politik dulu. Ini bisnis dulu, cari uang," kata Samsul.

Saat ditanya soal kelanjutan pembangunan Bandara Notohadinegoro, Samsul mengatakan, ingin agar warga Jember bisa mudah ke Surabaya dan Jakarta. "Saya tidak boleh komentar dulu. Saya tidak masuk politik. Harapannya kalau itu (bandara) berfungsi lancar, kalau ke Surabaya kan bisa setengah jam," katanya. [wir]

Baca Selengkapnya..

11 May 2011

Lima Tahun, 80 Kota, 18 Sepatu, 1 Belahan Jiwa

Berawal dari mimpi, Sudarmin melihat bencana itu. Dan, ia memutuskan menjadi sang petualang, melangkahkan kaki dari kota ke kota, dengan keyakinan untuk melihat Indonesia yang lebih baik.

Sebelumnya, warga Bekasi ini bekerja sebagai pemandu wisata. Lalu suatu hari di tahun 2006, ia bermimpi dan melihat banyak bencana di Indonesia. Semula, Sudarmin menganggapnya bunga tidur. Namun seorang ulama yang menjadi gurunya menyatakan: 'Kamu dipilih untuk melakukan perjalanan ini.'

Orang tuanya merestui, dengan catatan di setiap kota Sudarmin memberi kabar. Maka pria kelahiran 2 Juni 1968 ini memutuskan memulai perjalanannya dari Bandung, 22 Agustus 2006. Berbekal awal Rp 200 ribu dan ransel pemberian kawan, Sudarmin berjalan kaki dari kota ke kota. Misinya: menyerukan bahaya penyalahgunaan narkoba dan pelestarian alam.

Sudarmin memilih dua misi itu karena melihat dua hal itu yang mengancam Indonesia. "Di Indonesia, bandar narkoba tak dihukum mati. Hanya dihukum 15 tahun penjara. Di Penjara masih ngedarin juga. Kita kalah sama Malaysia dan Singapura," katanya. Ia membawa poster-poster dari Badan Narkotika Nasional (BNN).

Misi lingkungan sesuai dengan mimpinya. "Pulau Jawa ini, sekitar 70 persen hutannya sudah berubah," kata Sudarmin.

Setiap hari ia menghabiskan waktu 13 jam untuk berjalan sejauh 40 kilometer. Saat lelah dan malam tiba, ia menghampiri rumah Tuhan yang membuka pintu bagi pengembara seperti dirinya untuk beristirahat.

"Saya di Jember sudah tiga hari ini, tidur di musola kantor Pemkab Jember. Nyamuknya banyak," kata Sudarmin, tertawa.

Di setiap kota, Sudarmin memutuskan menetap beberapa saat. Terlama saat di Lebak, Banten. Ia tinggal di kampung orang Baduy selama sebulan. "Di setiap kota saya tinggal di masjid, bisa dakwah tentang lingkungan. Kita tak menyadari lingkungan sudah rusak parah."

Sudarmin juga menghampiri komunitas anak jalanan, untuk mengingatkan bahaya narkoba. Ia tak berdaya menyaksikan salah satu remaja tewas karena over dosis obat-obatan. Ia datangi sekolah-sekolah. "Jakarta, Surabaya, Bali, dan Medan paling parah (ancaman bahaya narkoba)," katanya.

Sepanjang pengembaraannya, Sudarmin telah menghabiskan Rp 10 juta. Dari mana uang untuk biaya hidup? "Dari simpatisan. Saya juga membuka praktik terapi zikir," katanya.

Salah satu simpatisan itu adalah Ketua DPRD Jember Saptono Yusuf. Sudarmin mendatangi kantornya. Ekspresi wajah Saptono terkejut saat mendengar cerita Sudarmin. "Sudah ke kantor Pemkab?" tanyanya.

Sudarmin nyengir. "Sudah ke bupati, dilempar ke sekda (sekretaris daerah), dilempar lagi kayak bola," katanya dengan logat Sunda kental.

Sudarmin menjelaskan misi pengembaraannya. Ia memberikan beberapa poster kepada Saptono, dan menyodorkan sebuah buku besar yang dipenuhi stempel dan tanda tangan beberapa pejabat kota-kota yang dikunjunginya selama lima tahun.

Saptono lantas menuliskan pesan di buku itu:

"Saya ketua DPRD Jember sangat haru dan bangga, bahwa di negara kita masih ada orang yang peduli kepada orang lain, bahkan mengabaikan kebahagiaan dan kesenangan pribadi untuk mencegah bagaimana bahayanya penggunaan narkoba bukan pada tempatnya. Semoga kita bisa mencontoh dan menirukan niat yang mulia ini. Amin."

Saptono lantas menyodorkan selembar amplop berisi uang. "Jangan dilihat isinya. Ini untuk beli es di jalan," katanya kepada Sudarmin.

Agustus nanti, perjalanan Sudarmin genap lima tahun. Ia masih jauh dari selesai. Namun apa saja yang sudah diperolehnya selama perjalanan itu?

"Saya sudah habis 18 pasang sepatu. Ada sepatu yang saya beli jebol dalam waktu tiga bulan. Ada sepatu yang diberi orang bertahan awet sampai setahun," kata Sudarmin.

Ponselnya rusak. "Jatuh kelindes motor. Habis sudah."

Saat Sudarmin mengembara, sang ayah meninggal dunia. "Saya sempat pulang."

Namun, perjalanan panjang itu tak hanya menghadirkan duka, tapi juga cinta. Ia bertemu dengan Tutik, seorang perempuan yang terpaut dua tahun dengan usianya, di Cilacap. Mulanya berkenalan, lalu saling tanya soal pribadi.

"Saya bilang, saya punya kerja begini. Kalau kamu mau menerima apa adanya, saya akan terima kamu apa adanya. Dia bekerja di supermarket. Doakan tahun depan saya menikah," kata Sudarmin. Pernikahan tak akan membatalkan niat awalnya menyelesaikan perjalanan.

Sudarmin masih butuh 15 tahun lagi untuk menyelesaikan perjalanannya. Lima tahun ini, ia baru berkutat di 80 kota di Jawa. Sebentar lagi, ia akan menyeberang ke Bali dan melanjutkan perjalanannya di beberapa pulau, sebelum akhirnya menuju Malaysia dan Singapura.

Perjalanannya akan diakhiri di Lampung. Dan jika kalkulasi Sudarmin benar dan Tuhan masih memberinya usia panjang, maka perjalanan itu akan berakhir saat umurnya 58 tahun.

"Ini panggilan jiwa. Perjalanan ini ilham, petunjuk dari Yang Kuasa."

Dan, Sudarmin pun bergerak kembali, meninggalkan gedung DPRD Jember.

Petualang bergerak tenang
Melihat diri untuk pergi lagi

Petualang merasa sepi...merasa sunyi
Sendiri di kelam hari
Petualang jatuh terkulai
Namun semangatnya bagai matahari...

(Sang Petualang, Iwan Fals dan Kantata Takwa) [wir]

Baca Selengkapnya..

22 April 2011

Jika Beli Hamburger adalah Kejahatan Kultural...

Mendengarkan Sri-Edi Swasono berpidato tentang neoliberalisme, saya seperti mendapat mendapat kiriman alarm bahaya: globalisasi masuk ke perut Anda. Namun, ia juga mengirimkan secercah optimisme: ekonomi kerakyatan belum saatnya mati.

Saya datang terlambat, sekitar pukul dua siang, di aula Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mandala, Jumat (22/4/2011). Swasono berada di podium, dan sampai pukul setengah empat, segel botol air mineral miliknya belum tersentuh.

Tahun ini, 16 September nanti, usianya 71 tahun. Namun suara ekonom lulusan University of Pittsburgh itu masih lantang. Ia masih singa podium, saya kira. "Kalau seorang pemimpin mengatakan: 'Amerikat Serikat adalah negara kedua saya', maka dia harus turun tahta."

Swasono menyebut neoliberalisme sebagai marabahaya. "Henry Kissinger sendiri mengatakan, globalisasi adalah nama lain untuk dominasi Amerika," katanya. Dan, ia menyesalkan, pemerintah Indonesia saat ini cenderung menyerah kepada kemauan asing. Indonesia is for sale, demikian ia mengutip salah satu kesimpulan disertasi anak didiknya di Universitas Indonesia: privatisasi adalah 'asingisasi'.

Menantu Bung Hatta ini mengeluh, betapa mudahnya orang Indonesia terpesona dengan produk Barat. Di bandara internasional Jakarta dan Surabaya, yang terpampang hanya makanan Barat, macam hamburger. Satu-satunya makanan Indonesia yang ada, kata Swasono, hanya bakso Malang.

Anaknya dibiasakan tak makan hamburger. "Kalau saya makan hamburger, berarti saya melakukan kejahatan kultural," katanya.

Swasono bukannya membenci hamburger. Saat masih menjadi mahasiswa 'kere' di Amerika, hamburger adalah makanan murah meriah yang bisa dibelinya sebagai camilan saat berkencan. Namun di Indonesia, ia memilih makan setandan pisang rebus daripada sepotong hamburger. "Uang yang saya peroleh untuk beli pisang rebus, bisa digunakan ibu penjual pisang untuk membayar SPP anaknya yang makin tinggi."

Jika Anda membeli hamburger hari ini, kata Swasono, maka di lain hari, Anda akan membayar kejunya untuk Denmark, membayar terigunya ke Australia, membayar dagingnya ke New Zealand, dan membayar saus tomatnya ke Amerika Serikat. "Lalu apa yang tersisa di Indonesia? Mungkin hanya keringat kuli-kuli."

Hari-hari ini, Swasono memilih membeli sayur daun pepaya dari seorang tukang sayur yang biasa disapa Mat Item. "Namanya Ireng. Tapi di Jakarta tidak ada Ireng, jadi disebut saja Mat Item. Dia tukang sayur keliling. Dulu pakai gerobak, sekarang gerobaknya pakai sepeda motor."

Swasono suka makan sayuran dan pecel. Namun, ia tetap menyuruh pembantunya membeli daging ayam dan tahu di pasar swalayan. Tidak ada ayam tiren (ayam bangkai) dan tahu boraks di supermarket, tentu.

Swasono sinis, namun tak sepenuhnya keliru. Saya teringat reportase Pietra Rivoli dalam buku The Travels of a T-Shirt in the Global Economy (2005). Rivoli seorang profesor, dan melakukan perjalanan dari Texas hingga China untuk mengetahui bagaimana dari sebuah kaus, ia menyingkap perdagangan global. Kapas milik Nelson Reinsch di Texas masuk ke Shanghai, digulung, dijahit, dan dirajut dengan label 'Made in China' untuk dikepak kembali ke Amerika.

Selama bertahun-tahun, kelas-kelas dan kampus-kampus fakultas ekonomi di Indonesia mengajarkan paradigma besar tentang pasar. Dalam pasar, idealnya yang terjadi adalah persaingan sempurna. Pasar adalah hal yang bajik, karena mengatur dirinya sendiri melalui sebuah tangan yang tak tampak.

Swasono menampik itu. Persaingan memiliki akar kuat ideologi liberalisme dan indvidualisme. Satu hal dalam ekonomi yang seharusnya dipelihara di Indonesia adalah kerjasama. Dengan kerjasama, ada pemberdayaan, dan ini yang alpa dilakukan pemerintah.

Swasono pernah membantah Mubyarto, ekonom kerakyatan terkemuka Indonesia. Mubyarto menyatakan, pemerintah harus memiliki pemihakan kepada rakyat. Swasono menampik pilihan kata 'pemihakan'. Kemakmuran rakyat bukan urusan pemihakan, tapi kewajiban.

"Undang-Undang Dasat pasal 33 menyatakan perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. 'Disusun' tidak dibiarlan 'tersusun'. Ada campur tangan negara. Nasib rakyat tak boleh dititipkan kepada pasar." Apalagi pasar yang menuntut kepuasan maksimal. Pasar, yang menurut Gordon Gekko dalam film 'Wall Street', rakus: karena rakus itu bagus.

Menyerahkan rakyat kepada pasar akan mengulang tragedi 1812 di Gujarat, Asia Selatan. Jutaan orang mati kelaparan, karena gubernur Bombay melarang bantuan pangan dikirim ke daerah yang tengah dilanda krisis ekonomi.

Sang gubernur mengimani 'The Wealth of Nations' karya Adam Smith: tangan tak tampak (invinsible hands) pasar pasti akan mengatasi kelaparan rakyat sendiri. Sebuah elucon intelektual yang tidak lucu, kata Swasono.

Bisakah perekonomian rakyat diberdayakan? Swasono meminta kepada pemerintah tak meremehkan kemampuan rakyat. "Saya punya pembantu, saya ajari untuk menghapalkan 20 kata Bahasa Inggris per minggu. Dia saya ajari menerima telpon dan menjawabnya dengan bahasa Inggris (tentu yang dimaksud jika si penelpon berbahasa itu). Bisa tuh ternyata. Malah yang paling pandai adalah pembantu yang cuma lulusan SD."

Jadi, tugas pemerintah bukan menitipkan rakyat kepada pasar. Pemerintah justru harus mengupayakan pasar harus ramah kepada rakyat. Swasono tak ingin mendengar pernyataan seorang koleganya yang mengamini penindasan pasar bebas kepada rakyat: 'lebih baik jadi jongos tapi kaya'.

Swasono menjawab lantang seraya mengutip Joan Robinson: "Orang tak hanya butuh roti untuk perut. Tapi dia juga butuh harga diri..." [wir]

Baca Selengkapnya..

11 April 2011

Hikayat Yahudi Tamansari

Kami bertemu di kafe Campus Resto, di Jalan Jawa, dekat kampus Universitas Jember di suatu sore. Suasana ramai. Kafe dipenuhi anak-anak remaja pendukung Arema yang sedang nonton tim pujaannya bertanding.

Selain saya, ada lima orang lagi yang meriung di meja bersama Benjamin Ketang. Ketang berkacamata, berpakaian batik dengan dibalut jaket 'army look' warna coklat kehijauan. Ada badge bendera Israel di bagian dada jaket.

"Saya kira baru pekan depan ke Jember," kata salah satu kawan.

Benjamin tersenyum. "Waktu saya kontak Sampeyan, saya sudah di Jember. Memang begitu. Saya harus pindah-pindah. Kalau saya bilang ada di Jakarta di HP, sebenarnya saya sudah di Bandung. Banyak yang menyadap."

Banyak yang menyadap. Benjamin mengucapkannya dengan enteng betul. Ia tak mau menjelaskan siapa saja yang menyadap. Tapi dengan posisinya sebagai direktur eksekutif Indonesia-Israel Public Affairs Committe (IIPAC), sebuah organisasi lobi ekonomi pro-Israel di Indonesia, tak berlebihan jika dia menjadi target penyadapan.

IIPAC mengupayakan agar Indonesia menjalin hubungan dengan Israel. Selama ini, secara kenegaraan, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Indonesia mendukung perjuangan rakyat Palestina agar lepas dari penjajahan Israel.

Saya pertama kali mengetahui dan membaca nama Ketang di majalah Warta Ekonomi yang mengangkat liputan utama soal bisnis Israel di Indonesia. Mulanya, saya mengira dia keturunan Indonesia timur. Tak saya sangka, dia asli warga Jember. Tepatnya di Desa Tamansari Kecamatan Wuluhan, sebuah kecamatan yang terletak sekitar 40 kilometer selatan pusat kota Jember.

Ketang tertawa, waktu saya menyebut dugaan asal-muasal dia. "Ya, mungkin juga saya ada keturunan dari sana (Indonesia timur)," katanya, ringan.

Ketang menyebutkan, ada darah Yahudi mengalir di urat nadinya. Saya setengah tak percaya. Apalagi, saya pernah mendapat cerita dari salah satu kawan, Ketang semasa kecil dan remaja biasa disapa Hamid. Nama Ketang adalah nama orang tua.

Namun Ketang yakin betul dengan asal-muasal darahnya. Di Indonesia, darah Yahudi mengalir dari orang Belanda dan Portugis yang pernah menjajah Indonesia. Ketang mendapat darah Yahudi dari generasi kelima moyangnya yang bernama Darinah. Darinah ini Yahudi Portugis.

Seberapa banyak jumlah warga keturunan Yahudi di Indonesia? Ketang menyebut angka 6.600 orang. Soal angka populasi warga keturunan Yahudi di Indonesia memang tak ada versi seragam. World Jewish Congress memperkirakan ada 20 orang.

"Kita komunikasi tertutup. Satu komunitas dengan komunitas lain tidak saling mengetahui," kata Ketang. Menjadi Yahudi di tengah mayoritas muslim seperti Indonesia memang tak lazim.

Ketang mengatakan, sebagian keturunan Yahudi itu ada di daerah Kembang Kuning Surabaya. Di Surabaya, memang terdapat sinagog, rumah ibadah kaum Yahudi, peninggalan masa kolonial Belanda. Tahun 1950-an, sebagaimana ditulis majalah Latitudes, jumlah Yahudi di Surabaya mencapai ribuan orang.

Isi botol Coca Cola yang diteguk Benjamin Ketang tinggal separuh. Siaran langsung pertandingan Arema di televisi layar besar di kafe Campus Resto baru saja selesai. Kini giliran lagu-lagu Dewa 19 mengentak dari perangkat audio kafe. Ahmad Dhani, pentolan band ini, disebut-sebut sebagai keturunan Yahudi dan sempat mendapat ancaman teror bom.

Ketang mengatakan, darah Yahudi Dhani mengalir dari salah satu klan di Eropa. "Saya lupa, Jerman atau Belanda."

Dhani sendiri kepada sejumlah media massa mengaku mempunyai garis keturunan Yahudi dari kakeknya, Jan Pieter Fredrich Kohler asal Jerman. Namun ia membantah, jika menganut agama Yahudi.

Ada beberapa tokoh di Indonesia yang diidentifikasi keturunan Yahudi. Ada yang pejabat, tanya saya. Ketang tersenyum, tak menjawab.

Ada kegiatan yang selalu dilakukan Ketang sejak tahun 2003 silam hingga saat ini. "Kalau ada keturunan Yahudi di mana pun di Indonesia, akan saya cari dan temui. Ya sekadar silaturahmi," katanya.

Sebelumnya kepada Warta Ekonomi, Ketang mengungkapkan, pengusaha keturunan Yahudi di Indonesia bergerak di berbagai sektor, mulai dari perkebunan hingga asuransi. IIPAC nantinya akan memberikan perlindungan hukum kepada mereka.

Senja sudah menelan Jember. Kafe Campus Resto masih didatangi banyak orang. Saya sudah selesai menghabiskan telur dadar di piring, dan bertanya kepada Benjamin Ketang soal agama. Ia lahir dari kalangan muslim, jadi saya penasaran, apakah tak ada pertentangan batin.

Suara Ketang agak meninggi. Tangannya bergerak-gerak. "Ini, ini, di Eropa, hal begini tak sopan untuk ditanyakan."

Ketang menampik menjelaskan lebih lanjut soal latar belakang dirinya sebagai muslim. Ia hanya bersedia menjelaskan ketertarikannya kepada Yahudi dan Israel. Semua berawal tahun 2001, saat ia menjadi bagian dari tim negosiasi kerjasama Indonesia-Israel.

Ketang mengatakan, IIPAC terbentuk setelah dirinya menjadi bagian dari tim negosiasi internasional Indonesia-Israel tahun 2001. Di Israel, Ketang sempat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Simon Peres, dan berdiskusi tentang peluang proyek yang dikembangkan di Indonesia.

Ketang lantas menyerahkan surat dari Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia saat itu. Dari situ, ada gagasan untuk membentuk semacam tim kerjasama. Ketang bersama kawan-kawannya lantas membentuk IIPAC yang berkonsentrasi pada urusan lobi bisnis. Jaringan ini mendapat rekomendasi dari Amerika Serikat dan Australia.

Di salah satu kota di Israel, Ketang bertemu dengan seorang rabi, pemimpin agama Yahudi. "Anda beruntung bisa ke sini," kata sang rabi.

Sang rabi lalu meminta kopiah hitam Ketang. "Saya suka songkok Anda."

Ketang mendapat lampu hijau dari Simon Peres, untuk belajar di Israel tahun 2002. Pilihannya adalah Hebrew University di Yerusalem, jurusan Peradaban Yahudi. Melenceng dari pendidikan strata satunya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Jember yang dimasukinya tahun 1993.

Ketang tak bisa langsung masuk ke Israel. Ia diharuskan belajar bahasa Ibrani selama dua tahun. Ia baru bisa kuliah tahun 2004 hingga 2006.

Ketang tak merasa ada pertentangan internal dalam dirinya. Ia menolak menjelaskan soal urusan keberagamaannya. "Biarlah itu urusan saya dengan Tuhan. Bagi saya masalah teologi sudah selesai," katanya.

"Orang Yahudi tidak pernah mengajak orang lain masuk agama mereka. Mereka sangat tertutup. Kalau mau belajar silakan belajar. Agama Yahudi sendiri agama tauhid (monoteis). Di Taurat disebutkan, 'katakanlah Israel, Tuhan itu satu'. Itu saat Musa bertemu dengan Tuhan di Gunung Sinai."

Selama di Israel, Ketang lebih banyak belajar sebagai ahli taurat. Di sana, ia banyak mengenal kultur keberagamaan Yahudi, salah satunya Hari Sabat. "Di Israel, kalau malam sabtu (jumat malam), orang tak boleh susah. Mereka diminta bergembira. Sabtu pagi hingga sabtu malam, public transportation off semua, seperti Nyepi."

Anak pertama Ketang diberi nama untuk mengingatkan Hari Sabat ini: Atikah Shabad Kadisha. Usianya baru setahun.

Bagaimana pendapat keluarga Ketang? Ketang punya seorang kakak perempuan. "Kakak saya menentang. Tapi ya sudahlah, saya sudah besar."

IIPAC bergerak bawah tanah sejak berdirinya. Kelompok lobi pro-Israel ini sadar, publik Indonesia belum akan menerima mereka dengan tangan terbuka.

Tahun 2007, sepulang dari belajar di Israel, Benjamin Ketang yang ditugaskan menjadi direktur eksekutif mulai mengembangkan IIPAC bersama kawan-kawannya. Mereka mencoba melakukan lobi bisnis agar investasi dari Israel bisa masuk dan diterima pengusaha Indonesia. "Tapi kami underground dulu," katanya.

Sebagai gerakan bawah tanah, IIPAC ternyata lumayan cepat mengembangkan sayap. Kini sudah ada cabang organisasi ini di delapan provinsi, salah satunya di Jawa Timur. Banyak yang menawarkan diri ingin menjadi anggota, kata Ketang.

Namun jangan tanyakan di mana markas IIPAC. Organisasi ini berpindah-pindah alamat. Ketang menyodorkan kartu nama kepada saya. Dan saya terkejut, di kartu nama itu, markas IIPAC terdapat di tempat yang sangat jauh di luar Jakarta. "Kami mengantisipasi keamanan. Kami sangat hati-hati. Tapi kami punya kantor di Jakarta," katanya.

Sehari sebelum bom buku di Utan Kayu, 15 Maret lalu, Ketang berangkat ke Israel. Ia berada di Tel Aviv hingga 22 Maret. Namun, ia juga memantau perkembangan berita soal teror bom itu.

Tak khawatir jadi sasaran teror bom buku, tanya saya.

"Saya tak merasa jadi sasaran. Aku sih terserah kepada Yang Bikin Hidup," kata Ketang. Isi botol Coca-Cola di depannya nyaris tandas.

Benjamin Ketang mengeluarkan dua buku soal Yahudi di Indonesia. Satu buku karya Eggi Sudjana mengenai spekulasi hubungan Susilo Bambang Yudhoyono dan Israel, berjudul 'SBY Antek Yahudi AS?'. Satu lagi buku yang belum diterbitkan resmi, soal Yahudi di Indonesia, terutama Indonesia-Israel Public Affairs Committe (IIPAC).

"Saya diwawancarai untuk buku Eggi Sudjana, juga buku satunya," kata Ketang. Di dalam buku soal Yahudi di Indonesia, tercantum lampiran protokol organisasi IIPAC.

Dalam pasal 5 tercantum: IIPAC mendukung pencalonan presiden, para menteri, gubernur, bupati dengan pendanaan dari 10% dana Social Corporate Responsibility dan hibah/dana grant dari pendukung internasional Kerjasama bisnis dan investasi di Indonesia untuk kepentingan Indonesia dan rakyat Indonesia demokrasi, anti kekerasaan, pluralisme.

"Tahun 2014, kami akan mencari calon presiden atau partai mana yang bisa mendirikan diplomasi Indonesia-Israel. Yang kita butuhkan adalah siapa yang mau bekerjasama mendirikan kedutaan besar Indonesia-Israel," kata Ketang.

Ketang belum mau buka kartu partai atau calon presiden mana yang didekati. "Nantilah kita cari," katanya.

Ketang berharap, dengan adanya IIPAC, segera ada semacam kamar dagang Israel di Indonesia. Beberapa bulan ke depan, ia juga berharap pemerintah Indonesia membuka kesempatan investasi dari Israel masuk. Selama ini kamar dagang Israel untuk Indonesia bermarkas di Singapura.

Diketuai Emmanuel Shahaf, seorang CEO Technology Asia Consulting Ltd., kamar dagang ini didirikan tahun 2009. Sebagaimana dikutip dari wawancara dengan Warta Ekonomi, ekspor Indonesia ke Israel mencapai 800 juta dollar Amerika Serikat. Sementara impor Indonesia dari Israel hanya 16 juta dollar AS.

Masalah Palestina diakui menjadi hambatan. "Selama Israel tidak menyelesaikan konflik dengan Palestina, terdapat sedikit atau tidak ada kesempatan bagi hubungan diplomatik antara Israel dan Indonesia," kata Shahaf.

Benjamin Ketang berharap, tokoh-tokoh di Indonesia mau terbuka membuka kerjasama dengan tokoh Yahudi atau Israel untuk kemakmuran rakyat. "Jangan perdebatkan masalah teologi dan agama. Tak ada habisnya sampai dunia berantakan," katanya.

"Saya punya harapan, kekuatan investasi Israel bisa disinergikan untuk kesejahteraan Indonesia. Kekuatan Indonesia dengan sumber daya alam melimpah harus diintegrasikan dengan sistim internasional. Kuncinya Israel."

"Orang Yahudi di mana-mana tetap sama, memiliki solidaritas terhadap Israel Raya."

Saya bersalaman dengan Benjamin Ketang dan pamit bersama beberapa orang yang sedari tadi ngobrol bareng. Campus Resto masih ramai, walau tak seramai sorenya. Hari sudah gelap. [wir]

Baca Selengkapnya..

09 April 2011

Arek Jember Pimpin Lobi Pro-Israel


Nama Benjamin Ketang mungkin masih terdengar asing di masyarakat umum. Arek asli Desa Tamansari Kecamatan Wuluhan ini yang memimpin sebuah organisasi lobi Indonesia dan Israel.

Nama organisasi itu adalah Indonesia-Israel Public Affairs Committe (IIPAC), yang didirikan 21 Januari 2002. "IIPAC ini lembaga lobi pro-Israel. Posisi saya direktur eksekutif," kata Ketang saat berbincang-bincang dengan reporter beritajatim.com.

IIPAC ini mengupayakan agar Indonesia menjalin hubungan dengan Israel. Selama ini, secara kenegaraan, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Indonesia mendukung perjuangan rakyat Palestina agar lepas dari penjajahan Israel.

Ketang mengatakan, IIPAC terbentuk setelah dirinya menjadi bagian dari tim negosiasi internasional Indonesia-Israel tahun 2001. Di Israel, Ketang sempat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Simon Peres, dan berdiskusi tentang peluang proyek yang dikembangkan di Indonesia.

Ketang lantas menyerahkan surat dari Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia saat itu. Dari situ, ada gagasan untuk membentuk semacam tim kerjasama. Ketang bersama kawan-kawannya lantas membentuk IIPAC yang berkonsentrasi pada urusan lobi bisnis. Jaringan ini mendapat rekomendasi dari Amerika Serikat dan Australia.

"Saya punya harapan, kekuatan investasi Israel bisa disinergikan untuk kesejahteraan Indonesia. Kekuatan Indonesia dengan sumber daya alam melimpah harus diintegrasikan dengan sistim internasional. Kuncinya Israel," kata alumnus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Jember ini.

Bukankah Keberadaan Israel masih ditentang mayoritas rakyat Indonesia? "Saya ingin masyarakat lebih dewasa berpikir," kata Ketang.

Diakui atau tidak, pengaruh bisnis Israel sudah masuk ke Indonesia. Dalam majalah Warta Ekonomi nomor 4/2010, disebutkan ada sejumlah perusahaan yang merupakan investasi Israel di Indonesia. "Bakrie Group juga bekerjasama dengan Rothschild. Rothschild ini keluarga Yahudi di Prancis," kata Ketang.

Sebagaimana dikutip dari Kompas.com (16/11/2010), PT Bakrie and Brothers Tbk dan beberapa perusahaan dalam Kelompok Usaha Bakrie menandatangani perjanjian jual beli saham dengan Vallar Plc—perusahaan investasi milik Rothschild, salah satu keluarga bankir terkaya di dunia.

PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) akan melepas sekitar 5,2 miliar saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kepada Vallar. Harga penjualan saham BUMI yang dikenal sebagai salah satu anak perusahaan terbesar BNBR itu Rp 2.500 per saham.

Besarnya pengaruh Israel ini tak bisa ditampik dalam hal telekomunikasi juga. "Setiap kita membeli dan memakai kartu SIM HP merek apapun, 10 persen akan masuk ke Israel sebagai royalti, karena itu dianggap hak cipta Israel," kata Ketang.

Kendati kartu chip bukan murni temuan negara Israel, namun selama itu milik atau temuan warga Yahudi, maka tetap akan masuk ke Israel. "Orang Yahudi di mana-mana tetap sama, memiliki solidaritas terhadap Israel Raya," kata Ketang. [wir]

Baca Selengkapnya..

08 March 2011

Pawang Singo Edan Bernama Jacksen F. Tiago

Jacksen F. Tiago memiliki sejarah unik dalam urusan berhadapan dengan Arema, saat sebagai pemain dan pelatih. Mengulangi kemenangan 6-1 di dua tim yang berbeda.

Jacksen layak disebut sebagai pawang Singo Edan. Sebagai pemain, saat bergabung dengan Persebaya di tahun 1997, dia pernah ikut melumat Arema di Stadion Gelora 10 Nopember dengan skor telak 6-1. Kini, 14 tahun kemudian, ia mengulanginya lagi dengan skor sama sebagai pelatih Persipura Jayapura.

"Kayaknya aku mencetak gol (waktu Persebaya melawan Arema). Tapi saya lupa," kata Jacksen kepada beritajatim.com via pesan pendek.

Jacksen mengaku senang tim asuhannya bisa mengalahkan salah satu rival dalam perburuan gelar juara Liga Indonesia. "Saya berharap kebetulan yang terjadi dengan hasil akhir kompetisi tahun 1997 dan tahun ini bisa sama. Baru aku akan bersyukur dan bangga," katanya.

Tahun 1997, sebagai ujung tombak, Jacksen berhasil membawa Persebaya menjadi juara Liga Indonesia untuk pertama kalinya. Kini sebagai pelatih Persipura, ia berpotensi menciptakan rekor baru: membawa Persipura menjadi juara Liga Indonesia untuk ketiga kalinya, melebihi Persebaya Surabaya dan Persik Kediri.

Kebetulan juga, saat melatih Persebaya tahun 2004, Jacksen juga mencetak rekor dengan membawa tim Bajul Ijo sebagai juara Liga Indonesia untuk kedua kalinya. Sesuatu yang kemudian disamai Persik dan Persipura.

Jacksen F. Tiago mengaku tidak bisa melupakan Surabaya. Pelatih asal Brasil ini meminta dukungan doa dari Bonek agar Persipura bisa menjadi juara Liga Indonesia musim ini.

Diwawancarai via ponsel oleh beritajatim.com setelah mengalahkan Arema 6-1, Senin (7/3/2011), Jacksen menyatakan tersanjung dan berterima kasih atas dukungan Bonek.

"Saya tidak mungkin akan melupakan kota Surabaya. Sampai saat ini, kalau saya berlibur, saya tetap memilih Surabaya, bukan kota lain. Itu karena saya seperti merasa berada di rumah sendiri," katanya.

Jacksen memang mengukir sejarah manis di Surabaya. Sebagai pemain, dia membawa Persebaya menjadi juara Liga Indonesia sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak pada 1997. Ia mengawali karir kepelatihan di klub Assyaabaab.

Sebagai pelatih, Jacksen membawa Persebaya juara Divisi I (sekarang Divisi Utama) tahun 2003 dan juara Liga Indonesia tahun 2004. Majalah TEMPO saat itu menulis judul 'Mukjizat di Tambaksari', karena Persebaya baru bisa memastikan menjadi juara hingga laga akhir kompetisi, setelah mengalahkan Persija 2-1. Kompetisi Liga Indonesia tahun 2004 adalah kompetisi terketat sepanjang sejarah, karena peringkat 1 hingga 3 klasemen (Persebaya, PSM, Persija) sama-sama memiliki nilai 68.

"Saya mohon dukungan doa teman-teman Bonek, supaya Persipura tetap diberkati sampai akhir perjuangan kami nanti. Salam hormat," kata Jacksen.

Jacksen berharap kemenangan 6-1 atas Arema menjadi pertanda baik bagi Persipura. "Kunci (kemenangan) adalah pemain meningkatkan kolektivitas bermain, dan menghemat tenaga. Selain itu kesabaran dalam bermain," katanya. (*)

Baca Selengkapnya..