Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

08 August 2015

Hikayat Seorang Bupati, 10 Tahun, 300 Kilometer

Gerak jalan Tanggul-Jember Tradisional 30 kilometer yang diselenggarakan pada Sabtu (8/8/2015) adalah momentum terakhir bagi keikutsertaan Bupati Jember MZA Djalal. Djalal mengakhiri jabatannya pada September mendatang, setelah memimpin Jember selama dua periode, 2005-2010 dan 2010-2015. Selama sepuluh tahun, tak sekalipun Djalal absen mengikuti Tajemtra.

Djalal tak hanya membuka acara seremonial. Setiap tahun, ia juga ikut berjalan sejauh 30 kilometer dari alun-alun Kecamatan Tanggul hingga alun-alun pusat kota Jember. Jika ditotal, pria asli Jember ini sudah berjalan kaki menempuh 300 kilometer. Sebagai perbandingan: jarak Banyuwangi dengan Surabaya adalah 272 kilometer.

Sejumlah orang dekatnya bercerita, jika Djalal berjalan kaki dengan kecepatan relatif konstan. Bahkan, beberapa kepala satuan kerja yang mencoba setia mendampinginya sampai garis akhir akhirnya angkat tangan. Mereka menyerah dan memilih berhenti pada kilometer tertentu.

Djalal hanya berhenti cukup lama untuk menunaikan salat Asar di masjid tepi jalan. Dalam suatu kesempatan, ia memang meminta kepada semua masjid untuk buka selama pelaksanaan Tajemtra dan menjadi tempat untuk salat. "Jangan sampai salat dilupakan," katanya beberapa tahun lalu.

Stamina Djalal diakui Pimpinan Kantor Bank Indonesia Perwakilan Jember Achmad Bunyamin. "Saya jadi ingin tahu apa rahasia stamina beliau," katanya.

Usia Djalal hendak memasuki kepala enam. Namun, ia masih giat mengikuti kegiatan olahraga fisik seperti bersepeda dan bersepeda motor trail melintasi alam. Bahkan ia pernah bersepeda angin dari Jember menuju Madura sejauh 400 kilometer. Sesuatu yang membuat Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengacungkan jempol.

Saat hendak menerima penghargaan sebagai salah satu tokoh olahraga dari Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Timur, Djalal memilih menuju Surabaya dengan bersepeda angin.

Djalal adalah sedikit kepala daerah yang keranjingan olahraga, dalam arti sebenarnya. Ia pernah menggelontorkan Rp 5 miliar untuk klub sepak bola Persid Jember. Namun ia kecewa setelah pengelolaan manajemen Persid tak berjalan bagus. Bahkan pemain sempat berunjukrasa karena terlambat digaji.

Saat Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ), sebuah agenda pariwisata tahunan pada 2008, Djalal membiayai pendirian klub bola voli Jember Pemkab Indomaret dan menjadikan Jember tuan rumah kompetisi Proliga. Tujuannya: mempromosikan Jember, melalui siaran langsung pertandingan bola voli di televisi.

Kegilaan Djalal terhadap olahraga sempat diprotes pendukung Persid Jember. Ini gara-gara ia menyulap Stadion Notohadinegoro menjadi sirkuit motokros. Rumput lapangan sepak bola rusak, dan Persid terpaksa menjalani laga kandang kompetisi sepak bola Divisi I di Lumajang.

Namun Djalal membayar impas kesalahannya kepada suporter dengan mendirikan stadion baru di Kecamatan Ajung berkapasitas 20 ribu penonton. Suporter yang tadinya kecewa dan antipati pun berbalik arah dan mengusulkan agar stadion itu dinamakan MZA Djalal Stadium.

Jelang lengser, Djalal menginstruksikan agar Jember menjadi sentra pembinaan sepak bola. Ia terilhami dengan sukses klub Jember United menjuarai turnamen yunior Piala Suratin. Para pemain sepak bola berprestasi seperti Sabeq Fahmi Fachrezy, Paulo Sitanggang, dan Cakra Yudha mendapat beasiswa untuk kuliah ke perguruan tinggi negeri di Jember.

Hari ini, Tajemtra terakhir bagi seorang bupati bernama MZA Djalal. Siapa bupati Jember kelak yang bakal berjalan 30 kilometer setiap tahun seperti dia? Siapa pemimpin daerah Jember yang kelak akan menjaga api olahraga di kota ini?

Waktu akan menjawab. Kepala daerah datang dan pergi. Namun Tajemtra tak boleh mati. Ini salah satu simbol bahwa olahraga, rakyat, dan peran negara hadir dalam satu sinergi. Begitulah. (wir)

Baca Selengkapnya..

06 April 2015

Cerita dari Gardu Timur

Saya bertemu dengan suami-istri Suyono, di Dusun Gardu Timur, Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada suatu siang. Saya menikmati durian di dusun yang berdekatan dengan Gunung Raung itu.

Dari mereka, saya tahu, loyalitas dalam politik tak selamanya terkait urusan duit. Suami-istri Suyono adalah orang terpandang di desa itu. Mereka kaya raya dari hasil berjualan kayu mahoni, mindi, dan jati olahan untuk bahan bangunan.

Mereka memulai bisnis dari berjualan kayu berukuran kecil. Mereka pernah mengalami kerugian besar karena dirampok. Namun sebagaimana halnya kisah-kisah klise di sisi dunia manapun, keuletan membawa mereka sukses.

Sukses berbisnis kayu tak mengubah penampilan suami-istri itu. Pakaian dan cara bicara mereka jauh dari kesan sosok warga desa yang memiliki usaha dengan penghasilan Rp 400 juta setiap tahun. Sang suami lebih kalem, sang istri lebih ceplas-ceplos jika bicara.

Pernah suatu kali Nyonya Suyono pergi ke kota untuk membeli ponsel baru. Melihat sosok yang tak necis, pelayan toko pasang tampang cemberut. Mungkin dipikirnya: nih orang paling banter hanya beli ponsel harga di bawah satu juta rupiah. Hanya cari yang murah.

Nyonya Suyono jengkel. Dengan logat Madura yang kental, ia meminta ponsel terbaru dan termahal kepada sang pelayan. Tak cukup itu, ia juga mengeluarkan segepok duit dan menyodorkan kepada sang pemilik toko. "Mana kertasnya (sertifikat kepemilikan bangunan dan tanah toko)? Biar saya beli sekalian dengan HP-nya," katanya, keras.

Sang pelayan tak menampakkan batang hidung lagi. Saya tertawa mendengar cerita Nyonya Suyono. Sambil menggigit daging durian yang lembut bak mentega, saya bisa membayangkan, betapa malunya sang pelayan itu.

Pernah pula suatu saat Nyonya Suyono datang ke sebuah restoran waralaba modern. Ia tetap tampil tak necis, walau tak bisa disebut berantakan atau kumuh. Lama memesan, tak juga dilayani. Tak sabar, Nyonya Suyono melabrak sang pelayan sembari mengeluarkan setumpuk uang. "Apa uang saya beda dengan uang orang-orang itu," tanyanya menunjuk sejumlah pembeli yang terlihat jelas seperti punya banyak duit.

Nyonya Suyono kaya dari bisnis sendiri tanpa kongkalikong dengan pejabat. Mungkin itu yang membuatnya percaya diri, termasuk saat berurusan dengan pejabat pemerintah desa.

Dalam sebuah pemilihan kepala desa, Nyonya Suyono memilih salah satu kandidat. Ia tidak dibayar dan justru mengeluarkan uang untuk kampanye sang kandidat. Alasannya sederhana: cocok di hati.

Singkat kata: kandidat itu menang. Dalam perjalanannya, kepala desa terpilih mulai tak disiplin. Ia kadang terlambat masuk kantor, saat yang lain sudah mulai bekerja pada pukul tujuh pagi.

Nyonya Suyono pun mendatangi istri pak kades. "Yu (sapaan kakak perempuan dalam bahasa Madura), saya memilih suami sampeyan karena ingin dia bekerja baik. Kalau tidak beres bekerja, saya sendiri yang akan menurunkannya," katanya.

Hubungan Nyonya Suyono dengan sang kades pun semakin bagus. Suami-istri itu yang kemudian mendukung sang kades mencalonkan diri dalam pemilu legislatif 2014 setelah pensiun dari pemerintahan desa.

Tuan dan Nyonya Suyono tidak dibayar atau diberi janji imbalan proyek. Bahkan mereka justru keluar duit untuk menggelar tasyakuran begitu sang kades terpilih menjadi anggota DPRD Jember. Lagi-lagi alasannya sederhana: sudah terlanjur cocok di hati.

Iseng-iseng, salah satu kawan saya bertanya: kenapa Tuan atau Nyonya Suyono tidak mencalonkan diri sendiri jadi kades atau legislator ketimbang hanya jadi pendukung?

Pak Suyono tidak menjawab. Sang istri menyahut dengan lantang (sekali lagi dengan logar Madura kental): 'Ya rugi saya, tidak bisa berdagang lagi. Enakan begini, jadi pengusaha kayu.' Nah. [wir]

Baca Selengkapnya..

21 December 2012

Revolusi Harapan dari Ledokombo

Reporter : Oryza A. Wirawan

Suara perubahan bisa hadir dari mana saja, termasuk dari sebuah rumah di pelosok Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Di sebuah rumah dengan pelataran luas layaknya rumah khas desa, anak-anak bermain dan belajar. Revolusi harapan disemai di sana.

Mulanya adalah Farha Ciciek dan suaminya, Suporahardjo. Sekitar tahun 2009, ia bertemu tiga bocah yang menjadi teman bermain dua anaknya. Iseng-iseng, Ciciek bertanya kepada mereka. “Ibu kalian di mana?”

Salah satu bocah itu bercerita, ibu dan ayah mereka bekerja di luar negeri. Selama ini, mereka dititipkan kepada sang nenek yang juga sibuk berjualan sayur-mayur. Ledokombo memang salah satu daerah pengirim buruh migran di Jember. Anak-anak buruh migran itu dititipkan untuk 'dibesarkan oleh alam'. "Mereka dititipkan ke tetangga, kakek, nenek," kata Ciciek.

Ciciek tercengang dengan fakta itu. “Oh, my God,” pikirnya saat itu.

Semula, ia pulang kampung dari Jakarta ke desa kelahiran sang suami di Jember, karena ingin merawat sang ibu mertua yang telah renta. Namun gejala sosial di Ledokombo membuatnya tergerak. Selama di Jakarta, Ciciek bersama Suporahardjo adalah aktivis sosial organisasi non pemerintah. Ciciek pernah bekerja sebagai dosen Universitas Nasional Jakarta, dan aktif di beberapa lembaga seperti Rahima dan Kalyanamitra.

Perempuan kelahiran Ambon 26 Juni 1963 ini lantas memutuskan bersama Suporaharjo: saatnya untuk bertindak untuk melakukan perubahan, setidaknya untuk anak-anak itu. Mereka merasa itu adalah panggilan alam. Ciciek melihat anak-anak buruh migran adalah yatim piatu secara sosial. Anak-anak para tenaga kerja Indonesia mengalami persoalan sosial yang lebih besar daripada anak-anak biasa.

Ciciek pernah bertemu dengan seorang anak yang malah susah hati, saat sang ibu hendak pulang ke tanah air. Pertanyaan si anak sederhana: akankah si ibu masih mengenalnya, setelah pergi bertahun-tahun? Apakah sang ibu masih sayang? Apakah sang ibu tak akan pergi lagi. Sederhana, tapi sulit dijawab untuk meyakinkan si anak.

"Banyak yang memperhatikan persoalan buruh migran, tapi sedikit yang memperhatikan anak-anak mereka. Kita bisa mengalami bunuh diri generasi kalau mereka dibiarkan begitu saja," kata alumnus IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan lulusan pascasarjana Sosiologi Universitas Gajah Mada ini.

“Bagaimana bersama-sama membangun ruang bermain bagi anak-anak. Pelan-pelan, bagaimana orang tua susah, tapi anak-anak harus bahagia,” tambah Supo. Dengan kebahagiaan dan memori menyenangkan di masa kecil, anak-anak para buruh migran itu bisa tumbuh dewasa menjadi orang yang lebih baik.

Maka, Ciciek dan Supo mengawalinya dengan membentuk sebuah kelompok belajar dan bermain bernama Tanoker. Dalam bahasa Madura Pendalungan, tanoker berarti kepompong. Tanoker, kepompong, sebuah bagian dari transformasi kehidupan kupu-kupu.

Supo menggunakan permainan egrang sebagai alat perekat sosial dalam kelompok itu. Semula Supo tak meniatkan itu. Ia hanya memperkenalkan egrang kepada dua anaknya, Mokhsa Imanahatu Atolu yang waktu itu masih berusia 12 tahun, dan Zen Zerozona yang waktu itu masih berusia 7 tahun.

Dua anak itu dibesarkan di Jakarta. Selama bertahun-tahun, mereka lebih mengenal modernitas, dan di Ledokombo, modernitas tidak hadir dengan riuh dan gemerlap. Suasana desa yang lengang membuat mereka ditelan bosan. Maka, Supo menarik kenangan masa kecilnya. “Kebetulan di kebun belakang banyak pohon bambu,” katanya.

Supo mengajari dua anaknya cara membuat dan menggunakan egrang. Egrang adalah permainan anak tradisional, yakni semacam kaki panjang buatan dari bambu yang membuat para pemakainya lebih jangkung. Di perkotaan, permainan ini nyaris tak tampak. Di desa seperti Ledokombo, egrang sebenarnya bagian dari tradisi dan kehidupan sosial. Saat Ledokombo diterpa banjir pada masa lalu, warga menggunakan egrang sebagai alat transportasi. Namun, di desa pun, permainan ini nyaris hilang dengan semakin populernya tempat-tempat penyewaan play station.

Supo dan Ciciek membersihkan pelataran belakang rumah mereka, untuk dijadikan tempat bermain dan belajar. Mulanya tidak ada yang serius. “Saya bikin dua, tiga egrang. Lalu anak-anak sini ikut-ikutan main. Kita bikinin saja. Anak-anak bemain dengan semangat. Kita kasih hadiah. Juara I kita kasih Rp 5.000. Kalau Minggu, kita bikin lomba sama-sama anak-anak. Minimal cuma Rp 5000 keluar, anak-anak sudah ramai di sini,” kata Supo.

Melalui permainan tradisional, Ciciek dan Supo mengajarkan makna sportivitas, keberanian menaklukkan tantangan, dan kemauan untuk berbagi. “Permainan anak tradisional memiliki filosofi luar biasa, ramah lingkungan, dan mengajarkan team work," kata Ciciek.

Ciciek tersenyum melihat halaman belakang rumahnya mulai dipenuhi anak-anak kecil. Ia meyakini, anak-anak akan membawa perubahan sosial. Hasilnya? “Waktu anak-anak bermain playstation berkurang banyak. Mereka malah senang bermain egrang, bakiak,” katanya.

Belakangan, Tanoker membuat festival yang digelar setiap tahun, dan mengelola egrang sebagai sarana hiburan modern. Moksha banyak menyembangkan gerakan-gerakan baru dalam seni bermain egrang. Ia membuat koreografi menari dengan egrang.

Dari hari ke hari, anak-anak itu datang ke rumah Ciciek dan Supo bukan hanya untuk bermain. Mereka ke sana untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah. “Mereka disuruh oleh guru di sekolah. Akhirnya, saya beri PR menulis karangan esai tentang pengalaman mereka saat lebaran, dan mereka menulis dengan bagus sekali," kata Ciciek.

Ciciek membangun kedekatan dengan anak-anak melalui hubungan emosional seorang ibu. Saya pernah melihat dia memarahi beberapa orang anak sembari menangis. Anak-anak yang dimarahi itu juga ikut menangis.

Ciciek dan Supo melatih anak-anak itu untuk berani berpendapat dan mengeluarkan argumentasi kritis di depan siapa saja. Ini terlihat saat Bupati Jember Muhmmad Zainal Abidin Djalal berkunjung ke Tanoker, dan berdialog dengan anak-anak di sana. Mokhsa dengan enteng bertanya, "Pak, kenapa Ketua RT, RW, sampai bupati, kalau datang kenapa suka telat dan hobinya kok korupsi?"

Mokhsa menyinggung Djalal yang datang terlambat ke Tanoker. Sejumlah pejabat yang hadir dalam acara itu tersenyum. Mungkin mereka cemas, bupati akan tersinggung mendengar pertanyaan tanpa tedeng aling-aling seperti itu.

Namun, Djalal tersenyum. Tak ada tanda-tanda kemarahan di wajahnya. "Wah kalau pertanyaan itu, tanyakan kepada yang korupsi. Kalau saya korupsi, datang ke saya dan tegur saya. Bilang agar saya jangan korupsi,” katanya.

Djalal meminta maaf, karena datang terlambat. “Saya tidak akan beralasan. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Mudah-mudahan saya dimaafkan ya?"

Ciciek sempat diprotes salah satu birokrat, kenapa tidak mempersiapkan dan melatih pertanyaan yang bakal ditanyakan anak-anak. Istilah kerennya, merekayasa. Ia tidak suka melakukan pengondisian model kelompencapir Orde Baru. “Saya jawab, biar sajalah,” katanya, enteng.

Ada kalanya, Ciciek dan Supo diuji oleh kritisisme anak-anak yang mereka tanamkan sendiri. Suatu kali, anak-anak pernah menyatakan keinginan untuk mengikuti acara ‘Indonesia Mencari Bakat’ di Trans TV. Mereka ingin memperkenalkan egrang dan Tanoker ke publik yang lebih luas.

Tujuan anak-anak itu baik. Namun, biaya jadi kendala. Tak semua orang tua anak-anak yang bergabung dan belajar di Tanoker berasal dari kelompok kelas ekonomi yang beruntung. Ciciek dan Supo bisa saja membiayai, namun bagaimana dengan yang lain? Mereka mencoba meredam keinginan anak-anak itu.

Bukannya menurut, anak-anak itu malah menolak untuk membatalkan niat tersebut. Perlawanan justru dipimpin oleh Mokhsa. Mokhsa mengeluarkan uang dari tabungan pribadi untuk membiayai keberangkatan mereka ke Jakarta. Sementara, anak-anak lainnya merengek pada orang tua masing-masing, meminta jatah duit jajan diberikan kepada mereka. Ada juga yang meminta jatah biaya khitanan diberikan saat itu juga.

Kegigihan anak-anak itu akhirnya meluluhkan Ciciek dan para orang tua. Mereka sepakat memberangkatkan anak-anak ke Jakarta dengan biaya hemat. Ini bukan perjalanan yang mewah. Anak-anak itu berhasil menahan diri untuk tidak jajan selama perjalanan dan saat berada di Jakarta. Semua perbekalan makanan sudah disiapkan dari rumah.

Di Jakarta, anak-anak belajar bagaimana industri tontonan memperlakukan mereka. Mereka sudah mempersiapkan diri untuk tampil sebaik mungkin. Namun apa yang dalam benak mereka tak seindah apa yang terjadi. Anak-anak itu harus bersabar menanti berjam-jam untuk proses pengambilan gambar. Mereka kelelahan, dan gagal menembus babak final. Mereka kapok.

Namun, harapan mereka untuk tampil di televisi tak bertepuk sebelah tangan. Rumah Produksi Set Film Workshop milik Garin Nugroho, seorang sutradara tenar Indonesia, menjadikan Tanoker sebagai salah satu tema film pendek berdurasi 48 menit untuk program televisi Pustaka Anak Nusantara Seri II. Dosy Umar, sang sutradara, mengatakan, tayangan itu semacam ensiklopedimedia televisi tentang tradisi permainan anak-anak di beberapa daerah di Indonesia.

Egrang memang tak hanya ada di Ledokombo. Namun di mata Dosy, egrang yang dimainkan anak-anak Tanoker memiliki nilai lebih, karena lebih mengarah ke penampilan atraksi yang memiliki pesan. “Kerja tim lebih didahulukan daripada individualitas. Ego dilebur,” katanya,

Dosy dan kawan-kawan mengambil gambar pada Juli 2011. Mereka menggelar casting atau pemilihan pemain yang membuat para orang tua di Ledokombo bersemangat mendaftarkan anak mereka. Tak semua puas dengan hasil casting itu. Ada yang menggerutu, lalu bermuara pada gosip.

Ciciek bisa memahami itu semua. “Di Ledokombo ada label negatif, bahwa orang sini tak bisa maju, orangnya keras kepala, egois. Mohon maaf, aparat pemerintah daerah kalau under qualified, di bawah rata-rata atau orang hukuman, kalau jelek, dibuang ke sini,” katanya.

Perubahan harus dimulai perlahan. Jika ada perlombaan yang digelar Tanoker, Ciciek memilih juri dari luar daerah untuk menjaga netralitas. “Orang tua bisa rebutan. Kalau anaknya tidak dipilih, mereka bisa saja melarang anaknya belajar. Kita harus sabar,” katanya.

Tak sekali dua kali Ciciek mengalami perlakuan tak mengenakkan hati dari warga sekitar, karena persoalan sepele. Kadang ia lelah. Namun Supo mengatakan, “It’s your people. I love them.”

Anak-anak membuat Ciciek dan Supo tetap yakin. Anak-anak menunjukkan bahwa stigma bukan takdir. “Anak-anak bisa memaksa guru dan orang tua mereka berubah,” kata Ciciek.

“Anak-anak lebih genuine, jujur, terbuka terhadap perubahan. Handicap di orang tua. Kalau orang tua tak berubah, ini jadi batu yang menghadang perubahan anak-anak. Tapi ini gerakan bersama, kerja kebudayaan,” kata Ciciek.

Gusti Kanjeng Ratu Hemas, istri Sri Sultan Hamengkubuwono X, Raja Jogjakarta, memuji Tanoker saat menyaksikan acara Festival Egrang Tanoker III, Juli 2012 silam. “Mulai dari Jember sini, akan mengalir perhatian pada pertumbuhan, perkembangan, sampai pada posisi anak Indonesia ke depan. Kalau pemerintah tak melakukan kegiatan, kitalah masyarakat memulai dari yang terkecil,” katanya.

Ciciek optimistis perubahan sosial berasal dari desa, dengan anak-anak sebagai agen sosial. “Kita harus mempertanyakan lagi kepercayaan, bahwa perubahan berasal dari kota besar, elite, dan orang dewasa,” katanya. Sebuah perubahan, sebuah revolusi harapan. [wir/ Beritajatim.com, 21 Desember 2012 06:17:01 WIB ]

Baca Selengkapnya..

21 June 2012

Mokhsa

Reporter : Oryza A. Wirawan

Bupati Muhammad Zainal Abidin Djalal sudah hendak menutup dialog, saat tiba-tiba remaja lelaki itu menukas. "Sebentar, Pak, terakhir. Mau tanya?"

Djalal pun menoleh dan mempersilakan. Mendapat lampu hijau, remaja berusia 15 tahun itu berdiri dan bertanya dengan yakin: "Pak, kenapa Ketua RT, RW, sampai bupati, kalau datang kenapa suka telat dan hobinya kok korupsi?"

Di sebuah tanah lapang di Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Rabu (20/6/2012) siang, beberapa orang tersenyum-senyum mendengar pertanyaan itu. Begitu juga sejumlah pejabat pemerintah daerah. Entah tersenyum karena pertanyaan itu begitu lugu, atau tersenyum dengan hati kecut karena khawatir sang bupati tersinggung.

Siang tadi, Djalal bersama sejumlah pejabat datang ke kelompok bermain dan belajar Tanoker di Ledokombo untuk menyaksikan dari dekat kegiatan anak-anak, terutama dalam mengembangkan permainan tradisional egrang. Ia juga menyempatkan diri berdialog dengan anak-anak di sana.

Pertanyaan tadi meluncur dari Mokhsa Imanahatu Atolu, putra sulung pasangan Suporahardjo dan Farha Ciciek yang menggagas dan membina Tanoker selama ini. Mendengar pertanyaan itu, Djalal tersenyum. "Wah kalau pertanyaan itu, tanyakan kepada yang korupsi. Sekarang saya mau tanya, Pak Djalal korupsi tidak?" katanya.

"Tidaaaaaakkk," jawab anak-anak itu kompak.

Djalal menyatakan, jika dirinya korupsi, maka lebih baik diberitakan di koran saja. "Kalau saya korupsi, datang ke saya dan tegur saya. Bilang agar saya jangan korupsi. Saya senang kalau ada rakyat saya yang mau ngandani (memberitahu). Tidak boleh ngerasani (bergunjing)," katanya.

Djalal menjelaskan, bahwa setiap Kamis pagi, dirinya membuka kesempatan bertemu langsung dengan masyarakat di kantor Pemerintah Kabupaten Jember. "Kalau Mokhsa mau datang ke kantor saya, silakan," katanya.

Pertanyaan kedua, soal pejabat yang suka terlambat, Djalal tidak memberikan penjelasan. Ia malah meminta maaf, karena dirinya datang terlambat dari yang dijadwalkan ke acara di Ledokombo tersebut. "Kenapa suka terlambat, termasuk saya, karena mental kita masih seperti itu. Saya tidak akan beralasan. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Mudah-mudahan saya dimaafkan ya?"

Kritisisme. Itulah yang berhasil dibangun Ciciek dan Supohardjo melalui Tanoker. "Saya sempat ditanya sama salah satu orang: kenapa anak-anak tidak dilatih dulu pertanyaannya. Saya jawab, biar sajalah. Saya tidak suka mengondisikan begitu," kata Ciciek.

Salah satu siswa kelas 6 sekolah dasar, Fifin Anggraini, tanpa malu-malu meminta kepada Djalal untuk menggelar sepakbola untuk perempuan. "Panitianya Pak Bupati," katanya, disambut tawa beberapa orang yang hadir.

Djalal terkejut. "Wah, bisa main bola? Siapa yang melatih"

"Kami pernah mengadakan pertandingan persahabatan sepakbola putri, antara putri-putri di Ledokombo dengan mahasiswa asing yang datang," kata Ciciek.

"Oke, saya turuti. Saya yang membiayai konsumsi dan hadiahnya. Tapi ketua panitianya Fifin ya? Kalau bukan Fifin, saya tidak mau. Kalau kamu panitia, kamu bisa memerintah Pak Camat. Kalau Pak Camat tidak mau diperintah kamu, lapor saya," kata Djalal.

Dialog singkat itu sudah cukup menunjukkan betapa Tanoker merupakan salah satu embrio perubahan sosial di Ledokombo. Ciciek meyakini, perubahan sosial bisa berawal dari anak-anak, karena anak-anak memiliki keterbukaan dan toleran terhadap segala sesuatu yang baru. Supo dan Ciciek mengawali perubahan itu melalui permainan egrang, sebuah permainan tradisional yang nyaris tenggelam dari pengalaman sehari-hari anak-anak.

Sejauh ini, mereka berhasil. Jumlah anak-anak yang belajar bersama di Tanoker bisa mencapai seratus orang. Para orang tua tak ragu-ragu mengirimkan anak-anak belajar di sana cuma-cuma. Dinas Pendidikan dan sekolah memberikan dukungan. Apalagi, melalui akses jaringan sebagai aktivis organisasi nonpemerintah, Ciciek dan Supo berhasil menarik perhatian aktivis sosial dan mahasiswa luar negeri untuk hadir ke Ledokombo.

Tanoker bergerak tanpa bantuan pemerintah. Camat Ledokombo Heri Setiawan mengatakan, Supo dan Ciciek tak pernah meminta bantuan apapun. "Bahkan saat kami menawarkan diri untuk membantu menyediakan konsumsi bagi Pak Bupati dan para tamu, mereka menolak," katanya.

Bagi Ciciek, kehadiran seorang pemimpin daerah seperti Djalal sudah lebih dari cukup. Ia senang akhirnya Djalal bisa hadir di rumahnya yang menjadi pusat kegiatan belajar Tanoker. Djalal sendiri tampak senang berada di Ledokombo. Kendati rangkaian acara sudah selesai, ia masih asyik mengobrol bersama Supo dan tamu lainnya. "Tadi Supo senang, karena Pak Djalal tidak merokok selama di lingkungan Tanoker, karena itu area anak-anak," kata Ciciek.

Perubahan sosial memang bisa berasal dari mana saja. Bahkan dari sebuah kebun yang jauh dari kota, dan dari sebuah pertanyaan Mokhsa. [wir/beritajatim.com, 21 Juni 2012 02:21:58 WIB]

Baca Selengkapnya..

08 July 2011

Napi Jadi Peragawati Jember Fashion Carnaval

Jember Fashion Carnaval X, 23 Juli 2011, bakal diikuti lima orang narapidana dari Lembaga Pemasyarakatan Jember dan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Malang.

Tiga orang napi dari LPW Malang adalah Titik Machayaroh (napi psikotropika), Juntari (napi penipuan), Maisaroh (napi pencurian). Sementara Dua orang napi dari LP Jember adalah Ari Hermawan Yudianto (napi pencabulan anak) dan Mistur alias Pak Yayan (napi perkosaan). "Satu peserta lagi adalah pegawai Lapas Jember," kata Kepala Pengamanan LP Jember, Karno.

Karno mengatakan, partisipasi para narapidana ini dalam JFC merupakan perintah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur. "Di Jember kan ada even internasional. Alangkah baiknya, warga binaan lapas diikutsertakan," jelasnya.

JFC sudah membangun reputasi selama sepuluh tahun sebagai acara fesyen jalanan terbesar di dunia. Pesertanya ratusan warga kota yang mendesain sendiri baju mereka. Catwalk atau arena untuk berlenggak-lenggok adalah jalan raya kota Jember sepanjang 1,4 kilometer. setiap tahun, acara itu disaksikan ratusan ribu orang warga.

"Kami memilih narapidana yang sudah masuk dalam proses asimilasi, dan sudah menjalani separuh masa pidana. Umumnya mereka sudah diusulkan untuk mengikuti pembebasan bersyarat," kata Karno.

Karno menawarkan keikutsertaan ini kepada para napi yang memenuhi syarat tersebut. "Awalnya mereka masih buta apa itu JFC. Kita tunjuk beberapa orang, akhirnya mau," katanya.

Lima narapidana tersebut akan berdefile dalam tema fesyen Borneo dan Punk. Petugas LP Jember memfasilitasi mereka untuk merancang desain dan membuat pakaian untuk acara itu. Petugas mencarikan bahan-bahan pakaian. Petugas pula yang mengawal para narapidana untuk mengikuti latihan di markas JFC sejak April silam.

Saat mengunjungi Lapas Jember beberapa waktu lalu, saya melihat pernik pakaian penuh rumbai di salah satu ruang tahanan. Ada sebuah sketsa desain di atas kertas folio tertempel di dinding, di antara poster klub sepakbola Manchester United, AC Milan, dan AS Roma.

"Itu desain saya. Saya mendesain untuk defile Punk," kata Ari. Sebagai warga Jember, ia pernah menyaksikan JFC saat masih belum tersandung kasus pidana. Ini keikutsertaan pertamanya dalam acara tersebut. Ia berjanji akan menyimpan pakaian hasil desainnya sebagai kenang-kenangan. [wir]

Foto (kiri ke kanan): Juntari (napi penipuan), Titik Machayaroh (napi psikotropika), Maisaroh (napi pencurian), dan Ari Hermawan Yudianto (napi pencabulan anak).

Baca Selengkapnya..

06 June 2011

PKS dan PSK

"Kalau (Dolly) ditutup total, perlu persiapan dan solusi yang tepat, jika tidak, malah menambah dampak negatif yang lebih dahsyat bagi masyarakat."

Pernyataan ini bukan datang dari aktivis perempuan, aktivis AIDS, atau petinggi partai berbasis nasionalis alias sekuler. Pernyataan ini datang dari Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPRD Surabaya, Fatkur Rohman.

Bagi mereka yang mengenal PKS sebagai partai Islam 'garis keras' mungkin bakal terkaget-kaget mendengar pernyataan itu. Alih-alih menyerukan penutupan lokalisasi tempat mangkal pekerja seks komersial (PSK) dengan dalih syariat Islam, PKS justru kalem-kalem saja. PKS hanya menyatakan tetap mendukung upaya penertiban Dolly.

Adakah yang berubah dari PKS? Jika melihat perjalanan politik PKS, sebenarnya tak ada yang berubah dari ideologi mereka. Lahir dari rahim gerakan masjid kampus yang dipengaruhi terang gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir, PKS tetaplah partai 'kanan' (berbasis agama yang kuat).

Namun sejak kekalahan telak Partai Keadilan dalam pemilu 1999, partai kaum modernis ini agaknya mulai bersikap realistis. Ideologi tetap Islam, namun praktik politik mengharuskan mereka fleksibel. Kecenderungan masyarakat Indonesia yang walau mayoritas Islam tapi memilih partai-partai non-agama alias nasionalis, membuat PKS menyadari: langkah politik mereka tak lagi bisa mengandalkan jargon formalisme agama. Masyarakat tak memerlukan jargon agama formalistis, namun butuh solusi.

Maka, mulailah PKS membuka diri. PKS sadar, pemilu adalah urusan kursi, dan kursi adalah urusan massa. Partai mulai merekrut orang-orang di luar kaderisasi dakwah selama ini. Orang-orang ini bahkan tak punya ikatan ideologis dengan PKS, namun memiliki kekuatan massa besar. Dan orang-orang pun terheran-heran, bagaimana DPRD di daerah dengan mayoritas Nahdliyyin seperti Jember bisa ditembus dengan raihan lima kursi.

Keterbukaan struktur organisasi partai tentu saja memiliki konsekuensi keterbukaan pandangan politik praktis. PKS tidak bisa begitu saja memaksakan agenda-agenda yang oleh konstituen tradisionalnya sebagai agenda Islami, jika ternyata agenda itu justru berlawanan dengan keinginan konstituen lain. PKS harus pandai-pandai melakukan kompromi dalam mengelola isu politik agar menguntungkan dan bukannya berbalik menghantam mereka.

Dalam konteks inilah, kita bisa membaca pernyataan Ketua Fraksi PKS tersebut. PKS menjadi lebih 'bijak' dalam mengeluarkan pernyataan mengenai para PSK. Bisnis syahwat bisa dibilang bisnis abadi. Dosa karena syahwat adalah dosa tertua, sebagaimana dosa lainnya seperti ketamakan dan kebohongan, sebagaimana ditunjukkan dalam cerita putra-putra Nabi Adam.

Penutupan lokalisasi seperti Dolly begitu saja tidak menjamin terkuburnya prostitusi. Ini agaknya disadari benar oleh PKS. Program pemerintah di sejumlah daerah seperti membina mantan PSK setelah lokalisasi ditutup juga bukan solusi bagus. PSK tak ubahnya jamur, mati satu tumbuh seribu. Ini bukan lagi masalah ekonomi belaka, tapi juga kemudahan akses memperoleh uang.

Tak semua PSK memiliki beban moral saat bekerja di dunia hitam ini. Sebagian memilih dengan sadar dan menikmatinya, karena bisnis ini lebih mudah dan murah, dibanding mereka harus membuka usaha lain yang masih membutuhkan waktu untuk mendapatkan duit.

Mendukung tindakan keras seperti di Aceh juga tak menghapus prostitusi. Di permukaan prostitusi tak tampak dan justru seperti hantu. Tak mudah menjinakkan hantu.

Bisnis prostitusi mengikuti teori ekonomi sederhana: permintaan dan pemenuhan kebutuhan, ada uang ada barang. Persoalan justru bukan terletak pada para PSK, tapi pada para pria yang menjadi konsumen bisnis prostitusi. Faktor ekonomi tak akan menjadi alasan bagi para PSK ini untuk bekerja, selama tak ada permintaan dari para lelaki yang tak puas mengumbar syahwatnya.

Saya berprasangka, mungkin inilah yang dibaca politisi PKS. Menutup lokalisasi tak pas benar, karena ini solusi satu arah. Namun saya kira PKS masih akan berpikir seribu kali untuk terjun lebih serius dalam isu lokalisasi PSK ini. Selain mencari solusinya bisa bikin mumet, tak mudah mengelola isu ini antara tuntutan pemilih tradisional dengan pemilih non-lingkungan dakwah. Jadi, PKS akan mengikuti jejak partai lain: mengikuti saja apa program pemerintah daerah atau pusat dalam menangani isu prostitusi. [wir]

Baca Selengkapnya..

18 May 2011

Kementerian Agama dan Pancasila

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Asvi Warman Adam meminta agar Kementerian Agama diubah menjadi Kementerian Agama dan Pancasila.

Usulan ini dikemukakan Asvi, dalam acara seminar nasional dalam rangka Pekan Chairil Anwar 2011, yang digelar Fakultas Sastra Universitas Jember, di Gedung Sutardjo, Rabu (18/5/2011).

"Saya usulkan Kementerian Agama diubah menjadi Kementerian Agama dan Pancasila. Jadi Pancasila disosialisasikan di masyarakat oleh Kementerian. Misalkan ada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Pancasila. Jadi bukan hanya mengurus agama," kata Asvi.

Asvi mengatakan, bukan agama yang memersatukan Indonesia, namun Pancasila. Ironisnya, saat ini Pancasila sudah seperti diabaikan sebagai ideologi bangsa. "Ideologi diperlukan bangsa ini. Kalau ideologi ini tak diisi, maka akan diisi oleh ideologi lain," jelasnya.

Selama ini, bangsa Indonesia terkesan longgar dan sangat tidak peduli terhadap ideologi. Dengan adanya penggabungan itu, maka biaya besar yang ada pada Kementerian Agama bisa digunakan untuk sosialisasi dan penelitian mengenai Pancasila. Selain itu, agama dan Pancasila, dua hal yang selama ini dinilai saling meniadakan, bisa berdampingan. [wir]

Baca Selengkapnya..

Mari Kita Bicara Soal Anak Kucing di Loteng Rumah Saya

Mari kita bicara soal anak kucing di loteng rumah saya. Saya lagi bosan ngomong soal politik atau intrik perebutan ketua umum PSSI. Jadi ngomong soal kucing tampaknya lebih menenangkan hati.

Begini. Tiga hari lalu, istri saya yang cantik dan baik hati menemukan empat ekor kucing kecil di dalam bak plastik yang lama tak terpakai. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, istri saya sering memergoki kucing betina yang tengah hamil seliweran di dalam rumah.

Empat ekor kucing yunior itu dua di antaranya berwarna hitam pekat. Dua sisanya berwarna loreng abu-abu alias kembang telon, orang Jawa bilang. Kelihatannya mereka baru saja dilahirkan. Ini dilihat dari ukuran tubuh yang masih mungil dan mata mereka masih tertutup rapat.

Saya lantas berinisiatif memindahkan bak berisi empat kucing yunior itu ke loteng rumah. Saya tak menyentuh kucing-kucing itu sama sekali. Saya ingat kata orang-orang: jangan sentuh kucing yang masih bayi, karena emak kucing nantinya tak akan mau menyentuhnya. Mungkin kalau ada bau manusia, emak kucing agak alergi. Memindahkan empat anak kucing sukses.

Keesokan harinya saya cek keberadaan empat kucing yunior itu. Saya menyebut mereka Four Brothers (seperti judul film yang bercerita soal empat anak yatim yang diasuh seorang emak di kawasan pinggiran kota).

Aduh, saya hanya menemukan satu kucing yunior yang berbulu hitam pekat yang tersisa. Tiga kucing yunior lainnya sudah tak berada di tempatnya. Istri saya bilang: mungkin tiga kucing yunior itu dipindahkan ke tempat lain oleh emak mereka. Tapi kenapa si hitam ditinggal? Tidak ada yang bisa menjawab.

Setiap hari, setiap malam, si hitam yunior hanya mengeong-meong, mencari sang emak. Istri saya belum berani memberi susu. "Nanti kalau emaknya balik bagaimana?" katanya, berharap ini hanya masalah kelupaan. Maksudnya, si emak kucing lupa kalau punya anak empat.

Namun setelah tiga hari, yakinlah kami, memang si emak kucing sengaja menelantarkan si hitam yunior. Istri saya yang baik itu akhirnya memberikan sedikit susu formula anak saya untuk diminum si hitam yunior.

Kami tak tega membuang si hitam yunior. Kasihan masih belum bisa melihat. Lagipula kini anak-anak saya sudah akrab dengan suara kucing itu.

Namun saya selalu penasaran kenapa pula emak kucing meninggalkan si hitam yunior ya? Saya ingat dengan reporter Majalah The New Yorker, Malcolm Gladwell. Reporter berambut mirip Giring Nidji itu punya angle nyeleneh dalam tulisannya. Ia hendak menulis kisah tentang Cesar Millan tentang pawang anjing. Bedanya dengan penulis lain: ia ingin tahu apa yang dipikirkan si anjing saat melihat Millan menjinakkannya.

Tapi bagaimana pula saya bisa mengetahui apa motif si emak kucing meninggalkan anaknya? Biasanya yang meninggalkan para kucing yunior setelah dilahirkan justru bukan emak kucing, tapi para kucing jantan. Para kucing jantan dan kucing betina menjengkelkan di kala musim kawin, karena bisa sangat berisik di malam hari.

Teman-teman saya di Facebook mencoba memberi jawaban soal motif emak kucing, walau saya tahu mereka bukan kucing. Salah satu teman berkata di Facebook saya: mungkin anak haram. ("Tapi memangnya ada anak halal kucing?")

Teman Facebook saya lainnya berkata: "Maknya pasti asli Jember tuh, khan Jember termiskin Se-Jawa Timur." (Teman saya satu ini aktivis LSM, selalu protes masalah kemiskinan di Jember. Mungkin saja memang emak kucing ini tersensus sebagai bagian dari kelompok kelas miskin yang patut dapat subsidi).

Yang paling menyentuh, tentu saja komentar teman saja, Si Maria Ulfa. "Nyaris sama dengan anak manusia yang dibuang di atas genteng oleh ibunya sendiri." Ia habis menontonnya di tayangan berita di salah satu stasiun televisi.

Saya memang pada akhirnya teringat dengan beberapa kasus pembuangan anak di Jember beberapa waktu lalu. Ada anak yang ditemukan dalam keadaan hidup di halaman rumah orang. Ada pula anak yang tewas dalam keadaan telanjang di dalam parit. Semua anak itu masih berstatus bayi, alias baru saja dilahirkan dan umurnya masih dalam hitungan hari atau pekan setelah dilahirkan.

Mereka yang membuang bayi-bayi mereka, setelah diusut polisi, ternyata sebagian besar (untuk tidak mengatakan semua) dikarenakan rasa malu. Bayi-bayi itu lahir di luar hubungan nikah resmi. Alangkah malangnya bayi-bayi itu. Diakui sebagai anak, jika dilahirkan berdasarkan hubungan seksual yang disahkan surat berstempel otoritas negara.

Apa emak kucing juga punya rasa malu ya? Entahlah. Yang terang, si hitam yunior masih mengeong-meong di loteng rumah saya. [wir]

Post Factum
Beberapa hari setelah esai ini dimuat di beritajatim.com, 18 Mei, kucing kecil itu mati. Saya menguburnya di sebuah tanah kosong, di bawah pohon pisang. Istri saya membungkusnya dengan sebuah kain, karena kasihan.

Baca Selengkapnya..

17 May 2011

TV Swasta Lebih Baik Tak Gratis

Tayangan televisi menyumbangkan persoalan moral yang kompleks terhadap bangsa ini. Perlu dipikirkan, sebaiknya siaran televisi swasta tidak digratiskan.

Pemikiran ini disampaikan Dekan Fakultas Sastra Universitas Jember Syamsul Anam dan Dekan Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Alexandri Luthfi R., di sela-sela acara Pekan Chairil Anwar 2011, di aula FS Unej, Selasa (17/5/2011).

"Kita lihat, perkembangan pertelevisian di luar negeri (diawasi) sangat ketat, ketika membagi mana televisi publik dan mana televisi komersial," kata Lutfhi.

Stasiun televisi komersial memberikan tayangan tidak gratis. Orang harus berlangganan agar bisa mengakses. Ini berbeda dengan stasiun televisi publik yang biasanya dimiliki negara, seperti TVRI.

Mereka yang benar-benar membutuhkan hiburan alternatif dari stasiun televisi sawasta adalah orang yang secara sosial ekonomi mampu. Sementara, warga lainnya yang tidak mampu atau tidak mau membeli tayangan swasta, cukup mengakses informasi dari stasiun televisi milik pemerintah.

Ini memang terkesan membatasi. Namun, menurut Luthfi, pembatasan memang diperlukan. Saat ini, tayangan stasiun televisi swasta begitu mudah masuk ke rumah tangga. Berbagai model tayangan program atau iklan komersial membombardir anak-anak hingga orang dewasa dan menimbulkan dampak psikologi yang tak sepenuhnya positif. Apalagi, stasiun televisi cenderung lebih suka menayangkan tayangan berbau sensasional.

Syamsul mencontohkan tayangan bunuh diri dengan cara melompat dari menara. "Di-blow up sedemikian rupa oleh televisi. Bahkan momen-momen mau loncatnya itu diabadikan. Ini akhirnya gampang ditiru dan jadi tren," katanya.

Namun agak sulit berharap dari pengelola stasiun televisi agar mau menyadari dampak negatif itu. Luthfi mengeluhkan minimnya sumber daya manusia pertelevisian yang berlatar belakang akademis dunia televisi. Rata-rata tenaga produser adalah alumnus dari fakultas dengan bidang ilmu yang tak sama dengan yang mereka geluti di dunia televisi. Ini juga memengaruhi idealisme dalam menayangkan program televisi. [wir]

Baca Selengkapnya..

03 May 2011

Kue Tar untuk Buruh

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jember Moch. Thamrin menyambut aksi unjuk rasa ratusan aktivis Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) di halaman kantornya, Selasa (3/5/2011), dengan kue tar.

Ratusan aktivis Sarbumusi mendatangi kantor Disnakertrans Jember untuk memperingati Hari Buruh Sedunia. Mereka menuntut agar Disnakertrans tegas menindak setiap pelanggaran aturan ketenagakerjaan.

Di luar dugaan, Thamrin justru menyiapkan kue tar untuk para aktivis buruh itu. Dengan didampingi Kepala Bidang Perselisihan Hubungan Industrial Budi Utami, ia memberikan kue tar itu kepada salah satu aktivis.

"Ini ucapan simpati ulang tahun Hari Buruh Internasional. Harapannya ke depan dalam mengurus bangsa ini menjadi lebih efektif dan lebih nyaman, tidak perlu bersitegang," kata Thamrin.

Budi Utami mengamini Thamrin. "Maknanya pemerintah ikut berjuang bersama-sama buruh menegakkan aturan untuk kesejahteraan buruh," katanya.

Kue tar ini jadi taktik baru Disnakertrans menghadapi unjuk rasa, setelah sehari sebelumnya Thamrin diteriaki aktivis mahasiswa dan buruh, di halaman kantornya.

Para pengunjukrasa tergabung dalam Aliansi Buruh Jember, yang berasal dari sejumlah organisasi seperti Serikat Buruh Migran Indonesia, Aliansi Jurnalis Independen, Studi Kebijakan dan Transformasi Sosial (Sketsa), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, dan Himpunan Mahasiswa Islam.

Pengunjukrasa menyampaikan sepuluh tuntutan, yakni ratifikasi konvensi migran tahun 1990 mengenai perlindungan hak-hak pekerja migran dan anggota keluarganya; amandemen UU Nomor 39/2004 tetang PPTKILN; revisi perda Nomor 5/2008 tentang pelayanan dan perlindungan TKI asal Jember; menyeriusi penanganan kasus-kasus buruh migran Jember; dan penempatan buruh migran dilakukan oleh pemerintah dan bukan swasta.

Tuntutan lainnya adalah penghapusan outsourcing, upah layak untuk jurnalis, peningkatan kesejateraan buruh, pemenuhan hak-hak buruh, dan pemberian upah sesuai upah minimum kabupaten.

Thamrin setuju dan bisa memahami tuntutan para demonstran. "Ke depan akan diterapkan pemberian upah per sektor pekerjaan. Soal outsourcing saya setuju dengan tuntutan Anda," katanya.

Terkait penanganan persoalan buruh migran, Thamrin memuji Achmad Mufti, Ketua SBMI Jember yang menjadi koordinator aksi. Ia merasa terbantu oleh Mufti. "Oleh sebab itu, dalam buku saya, nama Mas Mufti ini akan saya masukkan dalam ucapan terima kasih," katanya.

Mendengar pernyataan Thamrin, beberapa aktivis berteriak: 'Gak penting!' Mendapat teriakan itu, Thmrin tersenyum. "Gak penting ya," katanya, kemudian melanjutkan penjelasannya mengenai hal lain. [wir]

Baca Selengkapnya..

22 April 2011

Jika Beli Hamburger adalah Kejahatan Kultural...

Mendengarkan Sri-Edi Swasono berpidato tentang neoliberalisme, saya seperti mendapat mendapat kiriman alarm bahaya: globalisasi masuk ke perut Anda. Namun, ia juga mengirimkan secercah optimisme: ekonomi kerakyatan belum saatnya mati.

Saya datang terlambat, sekitar pukul dua siang, di aula Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mandala, Jumat (22/4/2011). Swasono berada di podium, dan sampai pukul setengah empat, segel botol air mineral miliknya belum tersentuh.

Tahun ini, 16 September nanti, usianya 71 tahun. Namun suara ekonom lulusan University of Pittsburgh itu masih lantang. Ia masih singa podium, saya kira. "Kalau seorang pemimpin mengatakan: 'Amerikat Serikat adalah negara kedua saya', maka dia harus turun tahta."

Swasono menyebut neoliberalisme sebagai marabahaya. "Henry Kissinger sendiri mengatakan, globalisasi adalah nama lain untuk dominasi Amerika," katanya. Dan, ia menyesalkan, pemerintah Indonesia saat ini cenderung menyerah kepada kemauan asing. Indonesia is for sale, demikian ia mengutip salah satu kesimpulan disertasi anak didiknya di Universitas Indonesia: privatisasi adalah 'asingisasi'.

Menantu Bung Hatta ini mengeluh, betapa mudahnya orang Indonesia terpesona dengan produk Barat. Di bandara internasional Jakarta dan Surabaya, yang terpampang hanya makanan Barat, macam hamburger. Satu-satunya makanan Indonesia yang ada, kata Swasono, hanya bakso Malang.

Anaknya dibiasakan tak makan hamburger. "Kalau saya makan hamburger, berarti saya melakukan kejahatan kultural," katanya.

Swasono bukannya membenci hamburger. Saat masih menjadi mahasiswa 'kere' di Amerika, hamburger adalah makanan murah meriah yang bisa dibelinya sebagai camilan saat berkencan. Namun di Indonesia, ia memilih makan setandan pisang rebus daripada sepotong hamburger. "Uang yang saya peroleh untuk beli pisang rebus, bisa digunakan ibu penjual pisang untuk membayar SPP anaknya yang makin tinggi."

Jika Anda membeli hamburger hari ini, kata Swasono, maka di lain hari, Anda akan membayar kejunya untuk Denmark, membayar terigunya ke Australia, membayar dagingnya ke New Zealand, dan membayar saus tomatnya ke Amerika Serikat. "Lalu apa yang tersisa di Indonesia? Mungkin hanya keringat kuli-kuli."

Hari-hari ini, Swasono memilih membeli sayur daun pepaya dari seorang tukang sayur yang biasa disapa Mat Item. "Namanya Ireng. Tapi di Jakarta tidak ada Ireng, jadi disebut saja Mat Item. Dia tukang sayur keliling. Dulu pakai gerobak, sekarang gerobaknya pakai sepeda motor."

Swasono suka makan sayuran dan pecel. Namun, ia tetap menyuruh pembantunya membeli daging ayam dan tahu di pasar swalayan. Tidak ada ayam tiren (ayam bangkai) dan tahu boraks di supermarket, tentu.

Swasono sinis, namun tak sepenuhnya keliru. Saya teringat reportase Pietra Rivoli dalam buku The Travels of a T-Shirt in the Global Economy (2005). Rivoli seorang profesor, dan melakukan perjalanan dari Texas hingga China untuk mengetahui bagaimana dari sebuah kaus, ia menyingkap perdagangan global. Kapas milik Nelson Reinsch di Texas masuk ke Shanghai, digulung, dijahit, dan dirajut dengan label 'Made in China' untuk dikepak kembali ke Amerika.

Selama bertahun-tahun, kelas-kelas dan kampus-kampus fakultas ekonomi di Indonesia mengajarkan paradigma besar tentang pasar. Dalam pasar, idealnya yang terjadi adalah persaingan sempurna. Pasar adalah hal yang bajik, karena mengatur dirinya sendiri melalui sebuah tangan yang tak tampak.

Swasono menampik itu. Persaingan memiliki akar kuat ideologi liberalisme dan indvidualisme. Satu hal dalam ekonomi yang seharusnya dipelihara di Indonesia adalah kerjasama. Dengan kerjasama, ada pemberdayaan, dan ini yang alpa dilakukan pemerintah.

Swasono pernah membantah Mubyarto, ekonom kerakyatan terkemuka Indonesia. Mubyarto menyatakan, pemerintah harus memiliki pemihakan kepada rakyat. Swasono menampik pilihan kata 'pemihakan'. Kemakmuran rakyat bukan urusan pemihakan, tapi kewajiban.

"Undang-Undang Dasat pasal 33 menyatakan perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. 'Disusun' tidak dibiarlan 'tersusun'. Ada campur tangan negara. Nasib rakyat tak boleh dititipkan kepada pasar." Apalagi pasar yang menuntut kepuasan maksimal. Pasar, yang menurut Gordon Gekko dalam film 'Wall Street', rakus: karena rakus itu bagus.

Menyerahkan rakyat kepada pasar akan mengulang tragedi 1812 di Gujarat, Asia Selatan. Jutaan orang mati kelaparan, karena gubernur Bombay melarang bantuan pangan dikirim ke daerah yang tengah dilanda krisis ekonomi.

Sang gubernur mengimani 'The Wealth of Nations' karya Adam Smith: tangan tak tampak (invinsible hands) pasar pasti akan mengatasi kelaparan rakyat sendiri. Sebuah elucon intelektual yang tidak lucu, kata Swasono.

Bisakah perekonomian rakyat diberdayakan? Swasono meminta kepada pemerintah tak meremehkan kemampuan rakyat. "Saya punya pembantu, saya ajari untuk menghapalkan 20 kata Bahasa Inggris per minggu. Dia saya ajari menerima telpon dan menjawabnya dengan bahasa Inggris (tentu yang dimaksud jika si penelpon berbahasa itu). Bisa tuh ternyata. Malah yang paling pandai adalah pembantu yang cuma lulusan SD."

Jadi, tugas pemerintah bukan menitipkan rakyat kepada pasar. Pemerintah justru harus mengupayakan pasar harus ramah kepada rakyat. Swasono tak ingin mendengar pernyataan seorang koleganya yang mengamini penindasan pasar bebas kepada rakyat: 'lebih baik jadi jongos tapi kaya'.

Swasono menjawab lantang seraya mengutip Joan Robinson: "Orang tak hanya butuh roti untuk perut. Tapi dia juga butuh harga diri..." [wir]

Baca Selengkapnya..

13 April 2011

Orang Buangan

Saya selalu merasa, birokrasi selalu menyediakan tempat buat ironi. Setidaknya di Jember, ironi itu ada di perpustakaan dan kesunyian tempat batu-batu kuno bersejarah ditata rapi.

"Dulu, perpustakaan dianggap sebagai tempat orang buangan," kata Mahfut Aslam, Kepala Perpustakaan Universitas Jember.

Di sebuah kampus seperti Unej, memang tak mudah memecat pegawai. Mereka yang dianggap tak berprestasi akan ditarik menjadi staf di perpustakaan: menjaga ratusan ribu buku. Orang bilang ini bukan sebuah tempat yang 'basah'.

Birokrasi, di kampus maupun pemerintahan, jelas jauh dari urusan air, kecuali mereka yang ke kamar mandi, atau bekerja di jawatan air minum. Namun 'basah' dan 'kering' menjadi terminologi khas birokrasi Indonesia yang tak disebutkan dalam literatur soal birokrasi negara macam 'The New Class' karya Milovan Djilas.

'Basah' dan 'kering' adalah pengidentifikasi, apakah sebuah posisi birokrasi memiliki banyak proyek atau anggaran melimpah. Proyek yang menumpuk dan anggaran besar menjanjikan tambahan pendapatan: baik dari jalur terang maupun reman-remang.

'Orang-orang buangan' dalam birokrasi tak pantas berada di tempat yang 'basah'. Parameter 'orang buangan' tak jelas juga, bagaimana seseorang dianggap berprestasi atau tak becus kadang sumir. Mereka yang tak bisa menjilat atau memikat hati atasan pun bisa dianggap tak berprestasi, atau mereka yang selalu kritis dan menentang keputusan atasan yang tak benar juga bisa dianggap lawan yang harus disingkirkan.

Birokrasi jadinya menjadi arena pertarungan mitos. Djilas menyebutnya: sebuah kelas baru yang solid dan kukuh bekerja untuk mempertahankan kepentingannya sendiri. Djilas memang bicara soal birokrasi di Uni Soviet. Tapi Djilas tepat, karena karakter birokrasi melintas batas.

Mitos 'orang buangan' ini sebenarnya merepotkan juga. Tempat yang menjadi penampungan orang-orang ini akhirnya menjadi tempat yang tanpa gairah. Mahfut mengakui, dirinya masih harus bekerja keras mendongkrak motivasi para pegawai perpustakaan. "Saya mencari cara, agar orang yang bekerja di perpustakaan mau bekerja tanpa disuruh," katanya.

Mahfut berniat mulia saya kira. Ia ingin teman-temannya merasa bahagia dan tak banyak mengeluh. Ia ingin teman-temannya tak terlalu banyak mengharapkan proyek: terlalu banyak berharap membuka lubang besar kekecewaan.

Tak mudah membangun keikhlasan, karena ini sama saja dengan menampik godaan. Sebuah upaya menjadi lebih bersahaja, menerima apa adanya. Orang bisa menyalahpahami ini sebagai sesuatu yang fatalistik: menyerah kepada nasib.

Tapi tidak, bukan begitu. Saya teringat Didik Purbandriyo, seorang koordinator Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Kementerian Budaya dan Pariwisata Jawa TImur.

Saya bertemu denganya di salah satu ruangan penyimpanan batu-batu tua, di samping kantor Dinas Pendidikan Jember. Ruangan itu sunyi, dan tak banyak orang yang berkunjung ke sana. Didik sudah bekerja selama bertahun-tahun, menjaga dan merawat batu-batuan itu.

Ini bukan pekerjaan yang lazim. Teman-temannya yang melesat jabatannya meledek Didik. "Tunggui terus itu batu."

Tak banyak yang bisa diharapkan dari menunggu batu-batuan dari masa lampau, memang. Tapi setidaknya Didik merasa tenang. Ia tak ingin berkubang uang namun tak nyenyak di malam hari, karena diburu palu keadilan. Ia tak merasa menjadi orang buangan, ia tak merasa dicampakkan.

Saya tak tahu di dunia birokrasi ada berapa banyak yang menyadari makna judul album kelompok musik rock Amerika Serikat Bon Jovi: Slippery When Wet. Awas basah, awas kepleset. [wir]

Baca Selengkapnya..

11 April 2011

Hikayat Yahudi Tamansari

Kami bertemu di kafe Campus Resto, di Jalan Jawa, dekat kampus Universitas Jember di suatu sore. Suasana ramai. Kafe dipenuhi anak-anak remaja pendukung Arema yang sedang nonton tim pujaannya bertanding.

Selain saya, ada lima orang lagi yang meriung di meja bersama Benjamin Ketang. Ketang berkacamata, berpakaian batik dengan dibalut jaket 'army look' warna coklat kehijauan. Ada badge bendera Israel di bagian dada jaket.

"Saya kira baru pekan depan ke Jember," kata salah satu kawan.

Benjamin tersenyum. "Waktu saya kontak Sampeyan, saya sudah di Jember. Memang begitu. Saya harus pindah-pindah. Kalau saya bilang ada di Jakarta di HP, sebenarnya saya sudah di Bandung. Banyak yang menyadap."

Banyak yang menyadap. Benjamin mengucapkannya dengan enteng betul. Ia tak mau menjelaskan siapa saja yang menyadap. Tapi dengan posisinya sebagai direktur eksekutif Indonesia-Israel Public Affairs Committe (IIPAC), sebuah organisasi lobi ekonomi pro-Israel di Indonesia, tak berlebihan jika dia menjadi target penyadapan.

IIPAC mengupayakan agar Indonesia menjalin hubungan dengan Israel. Selama ini, secara kenegaraan, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Indonesia mendukung perjuangan rakyat Palestina agar lepas dari penjajahan Israel.

Saya pertama kali mengetahui dan membaca nama Ketang di majalah Warta Ekonomi yang mengangkat liputan utama soal bisnis Israel di Indonesia. Mulanya, saya mengira dia keturunan Indonesia timur. Tak saya sangka, dia asli warga Jember. Tepatnya di Desa Tamansari Kecamatan Wuluhan, sebuah kecamatan yang terletak sekitar 40 kilometer selatan pusat kota Jember.

Ketang tertawa, waktu saya menyebut dugaan asal-muasal dia. "Ya, mungkin juga saya ada keturunan dari sana (Indonesia timur)," katanya, ringan.

Ketang menyebutkan, ada darah Yahudi mengalir di urat nadinya. Saya setengah tak percaya. Apalagi, saya pernah mendapat cerita dari salah satu kawan, Ketang semasa kecil dan remaja biasa disapa Hamid. Nama Ketang adalah nama orang tua.

Namun Ketang yakin betul dengan asal-muasal darahnya. Di Indonesia, darah Yahudi mengalir dari orang Belanda dan Portugis yang pernah menjajah Indonesia. Ketang mendapat darah Yahudi dari generasi kelima moyangnya yang bernama Darinah. Darinah ini Yahudi Portugis.

Seberapa banyak jumlah warga keturunan Yahudi di Indonesia? Ketang menyebut angka 6.600 orang. Soal angka populasi warga keturunan Yahudi di Indonesia memang tak ada versi seragam. World Jewish Congress memperkirakan ada 20 orang.

"Kita komunikasi tertutup. Satu komunitas dengan komunitas lain tidak saling mengetahui," kata Ketang. Menjadi Yahudi di tengah mayoritas muslim seperti Indonesia memang tak lazim.

Ketang mengatakan, sebagian keturunan Yahudi itu ada di daerah Kembang Kuning Surabaya. Di Surabaya, memang terdapat sinagog, rumah ibadah kaum Yahudi, peninggalan masa kolonial Belanda. Tahun 1950-an, sebagaimana ditulis majalah Latitudes, jumlah Yahudi di Surabaya mencapai ribuan orang.

Isi botol Coca Cola yang diteguk Benjamin Ketang tinggal separuh. Siaran langsung pertandingan Arema di televisi layar besar di kafe Campus Resto baru saja selesai. Kini giliran lagu-lagu Dewa 19 mengentak dari perangkat audio kafe. Ahmad Dhani, pentolan band ini, disebut-sebut sebagai keturunan Yahudi dan sempat mendapat ancaman teror bom.

Ketang mengatakan, darah Yahudi Dhani mengalir dari salah satu klan di Eropa. "Saya lupa, Jerman atau Belanda."

Dhani sendiri kepada sejumlah media massa mengaku mempunyai garis keturunan Yahudi dari kakeknya, Jan Pieter Fredrich Kohler asal Jerman. Namun ia membantah, jika menganut agama Yahudi.

Ada beberapa tokoh di Indonesia yang diidentifikasi keturunan Yahudi. Ada yang pejabat, tanya saya. Ketang tersenyum, tak menjawab.

Ada kegiatan yang selalu dilakukan Ketang sejak tahun 2003 silam hingga saat ini. "Kalau ada keturunan Yahudi di mana pun di Indonesia, akan saya cari dan temui. Ya sekadar silaturahmi," katanya.

Sebelumnya kepada Warta Ekonomi, Ketang mengungkapkan, pengusaha keturunan Yahudi di Indonesia bergerak di berbagai sektor, mulai dari perkebunan hingga asuransi. IIPAC nantinya akan memberikan perlindungan hukum kepada mereka.

Senja sudah menelan Jember. Kafe Campus Resto masih didatangi banyak orang. Saya sudah selesai menghabiskan telur dadar di piring, dan bertanya kepada Benjamin Ketang soal agama. Ia lahir dari kalangan muslim, jadi saya penasaran, apakah tak ada pertentangan batin.

Suara Ketang agak meninggi. Tangannya bergerak-gerak. "Ini, ini, di Eropa, hal begini tak sopan untuk ditanyakan."

Ketang menampik menjelaskan lebih lanjut soal latar belakang dirinya sebagai muslim. Ia hanya bersedia menjelaskan ketertarikannya kepada Yahudi dan Israel. Semua berawal tahun 2001, saat ia menjadi bagian dari tim negosiasi kerjasama Indonesia-Israel.

Ketang mengatakan, IIPAC terbentuk setelah dirinya menjadi bagian dari tim negosiasi internasional Indonesia-Israel tahun 2001. Di Israel, Ketang sempat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Simon Peres, dan berdiskusi tentang peluang proyek yang dikembangkan di Indonesia.

Ketang lantas menyerahkan surat dari Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia saat itu. Dari situ, ada gagasan untuk membentuk semacam tim kerjasama. Ketang bersama kawan-kawannya lantas membentuk IIPAC yang berkonsentrasi pada urusan lobi bisnis. Jaringan ini mendapat rekomendasi dari Amerika Serikat dan Australia.

Di salah satu kota di Israel, Ketang bertemu dengan seorang rabi, pemimpin agama Yahudi. "Anda beruntung bisa ke sini," kata sang rabi.

Sang rabi lalu meminta kopiah hitam Ketang. "Saya suka songkok Anda."

Ketang mendapat lampu hijau dari Simon Peres, untuk belajar di Israel tahun 2002. Pilihannya adalah Hebrew University di Yerusalem, jurusan Peradaban Yahudi. Melenceng dari pendidikan strata satunya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Jember yang dimasukinya tahun 1993.

Ketang tak bisa langsung masuk ke Israel. Ia diharuskan belajar bahasa Ibrani selama dua tahun. Ia baru bisa kuliah tahun 2004 hingga 2006.

Ketang tak merasa ada pertentangan internal dalam dirinya. Ia menolak menjelaskan soal urusan keberagamaannya. "Biarlah itu urusan saya dengan Tuhan. Bagi saya masalah teologi sudah selesai," katanya.

"Orang Yahudi tidak pernah mengajak orang lain masuk agama mereka. Mereka sangat tertutup. Kalau mau belajar silakan belajar. Agama Yahudi sendiri agama tauhid (monoteis). Di Taurat disebutkan, 'katakanlah Israel, Tuhan itu satu'. Itu saat Musa bertemu dengan Tuhan di Gunung Sinai."

Selama di Israel, Ketang lebih banyak belajar sebagai ahli taurat. Di sana, ia banyak mengenal kultur keberagamaan Yahudi, salah satunya Hari Sabat. "Di Israel, kalau malam sabtu (jumat malam), orang tak boleh susah. Mereka diminta bergembira. Sabtu pagi hingga sabtu malam, public transportation off semua, seperti Nyepi."

Anak pertama Ketang diberi nama untuk mengingatkan Hari Sabat ini: Atikah Shabad Kadisha. Usianya baru setahun.

Bagaimana pendapat keluarga Ketang? Ketang punya seorang kakak perempuan. "Kakak saya menentang. Tapi ya sudahlah, saya sudah besar."

IIPAC bergerak bawah tanah sejak berdirinya. Kelompok lobi pro-Israel ini sadar, publik Indonesia belum akan menerima mereka dengan tangan terbuka.

Tahun 2007, sepulang dari belajar di Israel, Benjamin Ketang yang ditugaskan menjadi direktur eksekutif mulai mengembangkan IIPAC bersama kawan-kawannya. Mereka mencoba melakukan lobi bisnis agar investasi dari Israel bisa masuk dan diterima pengusaha Indonesia. "Tapi kami underground dulu," katanya.

Sebagai gerakan bawah tanah, IIPAC ternyata lumayan cepat mengembangkan sayap. Kini sudah ada cabang organisasi ini di delapan provinsi, salah satunya di Jawa Timur. Banyak yang menawarkan diri ingin menjadi anggota, kata Ketang.

Namun jangan tanyakan di mana markas IIPAC. Organisasi ini berpindah-pindah alamat. Ketang menyodorkan kartu nama kepada saya. Dan saya terkejut, di kartu nama itu, markas IIPAC terdapat di tempat yang sangat jauh di luar Jakarta. "Kami mengantisipasi keamanan. Kami sangat hati-hati. Tapi kami punya kantor di Jakarta," katanya.

Sehari sebelum bom buku di Utan Kayu, 15 Maret lalu, Ketang berangkat ke Israel. Ia berada di Tel Aviv hingga 22 Maret. Namun, ia juga memantau perkembangan berita soal teror bom itu.

Tak khawatir jadi sasaran teror bom buku, tanya saya.

"Saya tak merasa jadi sasaran. Aku sih terserah kepada Yang Bikin Hidup," kata Ketang. Isi botol Coca-Cola di depannya nyaris tandas.

Benjamin Ketang mengeluarkan dua buku soal Yahudi di Indonesia. Satu buku karya Eggi Sudjana mengenai spekulasi hubungan Susilo Bambang Yudhoyono dan Israel, berjudul 'SBY Antek Yahudi AS?'. Satu lagi buku yang belum diterbitkan resmi, soal Yahudi di Indonesia, terutama Indonesia-Israel Public Affairs Committe (IIPAC).

"Saya diwawancarai untuk buku Eggi Sudjana, juga buku satunya," kata Ketang. Di dalam buku soal Yahudi di Indonesia, tercantum lampiran protokol organisasi IIPAC.

Dalam pasal 5 tercantum: IIPAC mendukung pencalonan presiden, para menteri, gubernur, bupati dengan pendanaan dari 10% dana Social Corporate Responsibility dan hibah/dana grant dari pendukung internasional Kerjasama bisnis dan investasi di Indonesia untuk kepentingan Indonesia dan rakyat Indonesia demokrasi, anti kekerasaan, pluralisme.

"Tahun 2014, kami akan mencari calon presiden atau partai mana yang bisa mendirikan diplomasi Indonesia-Israel. Yang kita butuhkan adalah siapa yang mau bekerjasama mendirikan kedutaan besar Indonesia-Israel," kata Ketang.

Ketang belum mau buka kartu partai atau calon presiden mana yang didekati. "Nantilah kita cari," katanya.

Ketang berharap, dengan adanya IIPAC, segera ada semacam kamar dagang Israel di Indonesia. Beberapa bulan ke depan, ia juga berharap pemerintah Indonesia membuka kesempatan investasi dari Israel masuk. Selama ini kamar dagang Israel untuk Indonesia bermarkas di Singapura.

Diketuai Emmanuel Shahaf, seorang CEO Technology Asia Consulting Ltd., kamar dagang ini didirikan tahun 2009. Sebagaimana dikutip dari wawancara dengan Warta Ekonomi, ekspor Indonesia ke Israel mencapai 800 juta dollar Amerika Serikat. Sementara impor Indonesia dari Israel hanya 16 juta dollar AS.

Masalah Palestina diakui menjadi hambatan. "Selama Israel tidak menyelesaikan konflik dengan Palestina, terdapat sedikit atau tidak ada kesempatan bagi hubungan diplomatik antara Israel dan Indonesia," kata Shahaf.

Benjamin Ketang berharap, tokoh-tokoh di Indonesia mau terbuka membuka kerjasama dengan tokoh Yahudi atau Israel untuk kemakmuran rakyat. "Jangan perdebatkan masalah teologi dan agama. Tak ada habisnya sampai dunia berantakan," katanya.

"Saya punya harapan, kekuatan investasi Israel bisa disinergikan untuk kesejahteraan Indonesia. Kekuatan Indonesia dengan sumber daya alam melimpah harus diintegrasikan dengan sistim internasional. Kuncinya Israel."

"Orang Yahudi di mana-mana tetap sama, memiliki solidaritas terhadap Israel Raya."

Saya bersalaman dengan Benjamin Ketang dan pamit bersama beberapa orang yang sedari tadi ngobrol bareng. Campus Resto masih ramai, walau tak seramai sorenya. Hari sudah gelap. [wir]

Baca Selengkapnya..

07 March 2011

Kalkulator Bentham

Tanah itu luasnya 2,7 hektare. Ada bangunan: vila, padepokan, musola, dan rumah tamu. Ada kebun dengan berbagai tanaman (400 batang pohon tin, mengingatkan pada surat At-tin di kitab suci) dan sumur-sumur. Kolam ikan dikeringkan tanpa air mancur, karena bocor. Di dekatnya sebuah bangunan bundar berbentuk tubuh kura-kura raksasa.

Ada bekas kandang kambing yang belum dibongkar. Sekitar 250 ekor kambing etawa sudah diungsikan ke tempat lain, untuk mempermudah pencarian pangan mereka.

Di salah satu bagian, ada bangunan serupa menara dengan empat tingkat mewakili tahapan-tahapan keimanan: syariat, tarikat, hakikat, dan di puncak adalah ma'rifat. Tembok setinggi tiga meter menjadi pembatas keliling, memiliki relief perjalanan manusia: lahir, hidup, mati, dan menuju Tuhan. Relief bertuliskan terjemah ayat-ayat Al Quran: tentang kehidupan dan kematian, serta hari penghabisan.

Tanah itu milik Pak H. Saya mengenalnya secara tak sengaja. Tanah itu, beserta bangunan di dalamnya, kelak akan diwakafkan. Ia bermimpi bermimpi: di atas tanah ini akan dibangun sebuah pesantren, sekolah, bahkan lembaga pendidikan tinggi. Pak H sudah menyiapkan sebelas lubang kubur untuk dirinya dan anak-anaknya di sini, dan berada di sebuah lingkungan yang selalu ramai oleh suara orang membacakan ayat-ayat suci.

Pak H tidak meminta apapun dari mereka yang berniat mendirikan pesantren di atas tanah ini, kecuali tiga syarat: pesantren ini untuk anak yatim-piatu, gratis, dan harus mandiri, tidak boleh meminta-minta sumbangan dari siapapun karena tanah ini cukup luas untuk dikelola. Tiga syarat yang seharusnya mudah, namun ternyata belum ada yang menyanggupi. Mereka yang datang menemui saya ternyata tak mampu jika harus hidup mandiri, tanpa meminta sumbangan lagi.

Hari ini, orang memburu kekuasaan untuk mencari kebahagiaan. Jika pada satu titik kita sudah merasa bahagia dengan apapun kondisi kita, maka kekuasaan tak berguna. Kekuasaan hanya menyisakan godaan.

Apakah kebahagiaan itu? Berabad-abad para filsuf utilitarianisme yang menjadi dasar individualisme memperdebatkan 'apa yang disebut bahagia'. Jeremy Bentham menyebut manusia sebagai organisme yang menyenangi suka dan menghindari duka. Saya sendiri menganggap suka dan duka adalah dua sisi satu mata uang.

Bentham menciptakan 'kalkulus kebahagiaan': mempertanyakan seberapa kuat kebahagiaan dan daya tahannya. Ia membuat kebahagiaan sebagai sesuatu yang bisa dikuantitatifkan saja, layaknya telur-telur ayam di kandang. Para utilitarianis pada akhirnya tidak mampu mengukur kebahagiaan pribadi, tapi kebahagiaan umum, seperti mendirikan dengan baik layanan kesehatan, pendidikan. Apapun yang baik bagi umum, baik juga untuk individu.

Bagi Pak H, kebahagiaan adalah satu titik, di mana dia sudah bisa mengikhlaskan sebagian apa yang dipunyainya pergi sewaktu-waktu, atau dimiliki orang lain. Pada titik ini Pak H bahagia, karena dia bisa melakukan sesuatu untuk orang lain, dia merasa berkecukupan, dan tidak kekurangan. Pencarian materi jika terus diperturutkan seperti menenggak air laut yang tak pernah bisa menghilangkan dahaga, dan justru membuat semakin haus.

Seseorang yang menemukan bahagia sejati tidak akan mau tersandera oleh hal-hal yang membuatnya kembali berduka. Ia berdaulat atas dirinya sendiri. Ia lebih otonom.

WS Rendra menyampaikan hubungan antara manusia, kebahagiaan, dan kepemilikan atas benda-benda dengan bagus dalam "Makna Sebuah Titipan."

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?

....Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,

....Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku...

Membaca petikan puisi Rendra itu, saya merasa kita tak butuh Bentham untuk menghitung dan menakar kebahagiaan dengan kalkulatornya. Apalah arti kebahagiaan, jika tanpa keselamatan. Sebab pada akhirnya, seperti kata Rendra, "ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja." [wir]

Baca Selengkapnya..

15 February 2011

'Kontrasmu Bisu' di Kampus Universitas Jember

Selasa siang (15/2/2011). Rumah-rumah itu berdempetan dengan tembok setinggi empat meter. Di balik tembok, ada gedung-gedung tinggi.

Saya tak sedang bicara tentang lagu 'Kontrasmu Bisu' yang dinyanyikan Iwan Fals. Saya bicara tentang kampus Universitas Jember, kampus milik pemerintah dengan 20 ribu mahasiswa.

Perkembangan kampus Universitas Jember boleh dibilang luar biasa dibandingkan 15 tahun lalu, saat saya pertama kali berkuliah di sana. Kini fakultas-fakultas baru dengan bertumbuhan di wilayah Tegalboto, kawasan kampus tersebut. Fakultas Pertanian bukan lagi satu-satunya fakultas bidang eksakta.

Namun, di tengah kemajuan luar biasa, ada 'kontras bisu'. Di tengah area kampus, mudah ditemui perkampungan penduduk dengan mutu rumah yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan mutu bangunan kampus Unej. Mereka warga asli Tegalboto, yang tinggal selama bergenerasi-generasi, jauh sebelum kampus Unej ada. Mereka menyebut diri 'wong kampungan' atau orang kampung.

Beberapa di antaranya membuka warung di dalam area kampus. Rumah mereka juga dijadikan tempat kos mahasiswa dengan harga lebih miring.

Pak Wakik, seorang warga kampung yang berada di area kampus, menyadari keberadaan perumahan warga setempat di area kampus akan terlihat aneh. Dari dulu sebenarnya ia siap saja pindah, namun tak ada tawaran pembelian yang layak untuk rumah dan tanah keluarganya.

"Unej tidak pernah ke saya langsung. Tapi lewat orang-orang (makelar). Tawarannya hanya Rp 600 ribu per meter persegi. Aduh, di daerah sekitar kampus saja, dekat jalan besar sudah Rp 2 juta per meter persegi," kata Wakik.

Menurut Wakik, banyak warga yang masih belum menjual tanah dan rumahnya dan berada di dalam area kampus. Semuanya menanti tawaran yang bagus. Ia sendiri saat akn pikir-pikir lagi, jika ada tawaran menjual tanah dan rumah.

"Harus rundingan dulu seluruh keluarga. Jangan sampai nanti dijual, tapi uangnya tak cukup untuk membeli tanah dan membangun rumah baru," kata Wakik.

Seperti layaknya warga Madura, Wakik dan keluarga besarnya tinggal di sepetak tanah yang terdiri atas beberapa rumah dan sebuah musola. Tak mudah baginya dan keluarganya untuk membangun tempat tinggal serupa, jika tanah miliknya dijual.

Andang Subaharijanto, Pembantu Rektor III Universitas Jember, mengatakan, semestinya tidak boleh ada rumah warga di dalam kampus. "Berarti kan harus dibeli. Tapi kalau tawar-menawar belum ada, kesepakatan kan belum bisa," katanya, mengaku tidak tahu sejauh mana proses pembelian tanah milik warga.

Ayu Sutarto, guru besar Fakultas Sastra Universitas Jember, menyebut adagium: ombak besar selalu memakan ombak kecil. Dalam perkembangannya, warga lokal Tegalboto di sekitar kampus Unej adalah ombak kecil itu.

Tak mudah meminta kepada 'wong kampunganan' untuk pindah. Sejak lama mereka menganggap rumah dan tanah sebagai pusaka. "Ada orang yang tetap bertahan tak mau menjual tanahnya, apalagi jika belum cocok harga. Ketika harga tanah makin tinggi, kini mereka jadi pemenang," kata Sutarto.

Sutarto menyarankan Unej melakukan pendekatan, tak hanya material tapi juga sentimen primordial. "Hargai mereka. Beli tanahnya dengan harga bagus, lalu jadikan sebagian mereka sebagi karyawan," katanya. [wir]

Baca Selengkapnya..

Resureksionis

Ehem.

(nguung... suara feedback dari pelantang suara)

Selamat malam, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu.

Terima kasih telah berkumpul malam ini. Ini saat yang cukup gawat. Ada puluhan mayat bayi yang dicuri dari makamnya. Kita yang tergabung dalam Persatuan Mayat Seluruh Dunia mengutuk peristiwa ini. Kita belum tahu apa-apa mengenai pelakunya. Burung hantu dan kelelawar di kuburan belum memberikan informasi apapun.

Tapi ini tidak bisa diterus-teruskan. Sudah cukup citra kita, sebagai mayat yang tenang di pemakaman, diperburuk dengan film-film Indonesia yang tak karuan itu: pocongan, kuntilanak, wewe gombel. Kita tak dihargai sebagai penanda terakhir seseorang pernah hidup di alam fana. Tidak bisakah kita dibiarkan hilang, lenyap bersama waktu, tertelan bersama tanah: dari debu kembali menjadi debu, namun tak dilupakan.

Pencurian mayat bayi menunjukkan bahwa kaum resureksionis sama sekali tidak menghargai keberadaan kita sebagai mayat. Kaum resureksionis, tak ada kaitannya dengan komunis, zionis, atau ereksi. Tapi kita pernah mendengar kerja kaum gali kubur ini: tulang-belulang anak-anak dikirim ke Calcutta, India, untuk diolah dan diekspor. Tulang-tulang tua dan berlumut itu, sebagian ada yang digali dari China atau diambil dari ladang pembantaian di Kamboja.

Di Eropa abad pertengahan, tubuh kita, para mayat, telah menjadi sasaran perburuan dengan alasan medis. Suatu ketika di London, tepatnya di tahun 1828, sebuah sekolah kedokteran menyewa sepuluh orang untuk menggali makam-makam untuk mengambil mayat di dalamnya. Mereka dibayar seribu dollar per tahun, dan sudah tiga ratus lebih mayat diambil. Merekalah kaum resureksionis.

Ehem. Kita bisa tahu ini dari buku jurnalis Mary Roach, Stiff: The Curious Lives of Human Cadavers.

Kita masih menghargai siswa di Kandahar, Afganistan, yang menggali kuburan neneknya, dan mengambil tulang-belulangnya untuk digunakan bersama-sama kawan kuliahnya di Fakultas Kedokteran, seperti yang ditulis New York Times.

Tapi kita sangat marah, saat mayat-mayat dirampas paksa, tanpa etika oleh para perampok resureksionis. Para perampok ini (ya mereka adalah perampok yang mengganggu ketenangan) tak perlu menggali seluruh makam. Sekolah kodekteran hanya butuh mayat yang segar dan tak begitu berbau. Tukang gali cukup membuka ujung atas makam, dan menarik mayat itu dengan tali yang dilingkarkan ke leher atau bawah lengan. Hanya butuh waktu satu jam untuk mengeluarkan mayat yang dikehendaki.

Ahli anatomi dan bedah, Astley Cooper, mengutuk kaum resureksionis. Namun, kurang ajarnya, ia memerintahkan bawahannya untuk menggali makam dan mencari mayat-mayat baru untuk dibedah. Ia berbaik-baik dengan keluarga pasiennya. Ketika sang pasien itu meninggal dunia, maka ia memerintahkan bawahannya untuk menggali makam dan mengambil mayatnya.

Abad pertengahan adalah masa awal kelam bagi kita para mayat. Di Skotlandia, beberapa sekolah kedokteran bersedia membuka peluang biaya kuliah dibayar dengan mayat, dan bukannya uang tunai. Thomas Sewell, seorang dokter tenar dihukum di tahun 1818, karena menggali mayat perempuan muda.

Betapa malangnya orang-orang miskin. Kaum resureksionis menawarkan mayat-mayat segar orang-orang yang mati dalam kemiskinan. Mereka memperjualbelikan mayat seseorang yang tidak bisa membayar uang sewa semasa hidupnya. Ya, alangkah malangnya.

Sekarang, mari kita bicarakan apa motif pencurian mayat-mayat bayi di Sidoarjo itu. Adakah ini seperti sebuah teori ekonomi: ada keuntungan material yang diperoleh dengan memanfaatkan nalar-nalar takhayul, tak rasional, sebagian orang Indonesia. Ada uang ada barang, ada permintaan ada suplai. Ada dupa, ada ilmu gaib.

Kita para mayat tidak bisa membentuk tim investigasi sendiri (bayangkan betapa hebohnya dunia jika bisa). Kita harus ikhlas menyerahkan urusan ini kepada para polisi Indonesia yang kadang aneh (tangkas mengusut terorisme, namun tak lekas mengantisipasi kerusuhan bermotif agama).

Terakhir, sebelum kita menutup pertemuan darurat malam ini: rapatkan barisan. Jangan tertawa, mari kita serukan: mayat-mayat sedunia bersatulah.

Terima kasih. Selamat malam. [wir]

Baca Selengkapnya..

02 February 2011

Telpon dari Anak di Mesir Membuatnya Ingin Menangis

Ketegangan selama beberapa hari akhirnya pecah juga. Adnan nyaris menangis, Rabu (2/2/2011), saat mendengar suara anak sulungnya yang menelpon dari Mesir.

Sejak insiden kerusuhan yang menuntut Presiden Hosni Mobarak terjadi Mesir, 25 Januari silam, Adnan putus kontak dengan Muhammad Dafir. Anak hasil perkawinannya dengan Siti Aminah itu saat ini tengah menyelesaikan kuliah pascasarjana di jurusan syariah Universitas Al-Azhar.

"Mulanya saya biasa-biasa saja, sebelum tahu ada kejadian di Mesir. Setelah tahu, saya menangis tok," kata Aminah.

Dafir, alumnus Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember itu, sudah kuliah di Mesir sejak tahun 2006. Ia mendapat beasiswa untuk menggapai gelar sarjana di sana. Setelah lulus, pria kelahiran 22 Desember 1989 ini langsung melanjutkan kuliah pascarsajana.

Biasanya, setiap bulan, tanggal 7-8, Dafir selalu menelpon untuk menanyakan kabar keluarga di Dusun Curahrejo Desa Cangkring Wedian Kecamatan Jenggawah. Kerusuhan Mesir membuat tidur Adnan tak nyenyak. Ia mencoba menelpon sang anak, dan selalu gagal.

Peruntungannya tiba Rabu pagi tadi. Berbekal pulsa Rp 50 ribu, Adnan berhasil mengontak Dafir. "Bagaimana kabarmu, le?" tanyanya.

Mendengar suara Dafir, Adnan hampir tak bisa membendung tangis. Kecemasannya selama beberapa hari belakangan luluh sudah. "Alhamdulillah, saya selamat. Rencananya, kata Kedutaan di sini, disuruh pulang dulu," kata Dafir, sebagaimana ditirukan kembali oleh Adnan.

Adnan pun meminta anaknya segera kembali ke tanah air. "Tidak apa-apa. Yang penting kamu selamat," katanya.

Dafir belum pernah pulang ke Indonesia sejak tahun 2006. Rencananya, siang tadi ia bertolak dengan pesawat ke Indonesia. "Kalau nanti datang dan menghubungi rumah, saya akan menjemput," kata Adnan. Ia berencana menyiapkan acara selamatan kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan sang anak.

Selain Dafir, masih ada lagi satu mahasiswa asal Jember di Mesir, yakni Raisul. Ia berdomisili di Kecamatan Tanggul, dan dikenal sebagai salah satu putra tokoh agama di sana. [wir]

Baca Selengkapnya..

05 January 2011

Liyan

Di negeri ini, kaum buta dikalahkan dua kali dalam hidup mereka. Mereka mengalami kebutaan, dan masyarakat maupun negara tak banyak memberikan ruang kepada kaum tuna netra untuk menjalani hidup dengan nyaman.

Suatu hari di depan Sekolah Luar Biasa Jember, seorang siswa yang tak bisa melihat tengah menyeberang. Seorang pengendara sepeda motor yang tergesa-gesa (mungkin karena dia kebelet pipis) menabrak siswa yang malang itu.

Saya mendapat cerita ini dari Rahman Hadi, Sekretaris Persatuan Tuna Netra Indonesia Jember. Ia menceritakannya dengan nada biasa, seolah-olah nasib malang siswa itu adalah bagian yang lazim diterima oleh kaum buta di Indonesia. Mereka ada, tapi seolah dianggap warga negara kelas dua.

Kota semakin sesak. Jalan-jalan semakin padat dan teraspal baik. Namun, kaum buta ini sunyi di tengah keramaian. Trotoar, daerah khusus pedestrian, bukanlah tempat yang ramah.

Trotoar adalah zona bahaya bagi mereka. Lapak-lapak pedagang kaki lima membentang, menghabiskan badan trotoar, membuat para kaum buta kehilangan orientasi arah untuk berjalan. Begitu pula kaum difabel lain yang harus turun ke tubuh jalan dengan risiko disambar kendaraan.

Gedung-gedung pemerintahan, bahkan gedung parlemen yang dihuni oleh para legislator terhormat pilihan kaum difabel, bukanlah tempat bagi mereka. Hanya rumah sakit yang memiliki stuktur bangunan yang mudah diakses oleh kaum cacat, kata Rahman.

Braille menemukan huruf khusus bagi kaum buta. Namun, di negeri ini, sekolah-sekolah yang mendidik tuna netra tak semuanya memiliki mesin untuk mencetak bahan-bahan baca yang diunduh dari internet. Menjadi seorang siswa tuna netra berlipat-lipat lebih susah daripada siswa biasa, terutama saat mereka ingin satu atap di sebuah sekolah yang disebut normal.

Namun, apakah yang normal, apakah yang abnormal? Michel Foucault, filsuf Prancis berkepala plontos itu, menyebut itu hanyalah permainan bahasa, permainan wacana pengetahuan yang menindas. Abnormalitas ada, sesuatu yang dianggap tak normal dianggap lazim, untuk meneguhkan yang dianggap normal. Jika normalitas adalah pusat, maka abnormalitas adalah periferi. Tanpa titik-titik tepi, tidak ada pusat. Namun, nyatanya, yang tidak normal selalu dianggap liyan (the others), sesuatu yang diremehkan.

Maka beruntungnya kaum tuna netra dan kaum difabel di negeri ini. Rahman mengatakan, sudah berkali-kali mengajukan usul kepada pemerintah dan DPRD, agar membangun fasilitas umum yang mudah diakses. "Tapi semuanya ditampung," katanya, masih dengan nada wajar, seolah-olah ketidakberuntungan itu memang hal yang lazim diterima olehnya.

Mereka disingkirkan diam-diam, dan tak bisa melawan. Para pedagang kaki lima bisa memberontak, melawan, menghajar petugas satuan polisi pamong praja yang membersihkan mereka dari trotoar dan berteriak tentang ketidakadilan. Namun, bagaimana kaum difabel harus menyeru bagi ketidakadilan di jalanan?

Karl Marx berteriak 'kaum buruh sedunia bersatulah' ratusan tahun silam. Tapi saya rasa teriakan serupa bagi kaum difabel hanyalah 'nyanyi sunyi orang bisu'. Selamat Hari Braille sedunia 4 Januari 2011. [wir]

Baca Selengkapnya..

01 January 2011

Daftar

Satu Januari pagi. Saya tidak ke mana-mana tadi malam. Jember diguyur hujan lebat. Lagipula, saya juga tak terlampau suka keramaian yang tak beraturan. Apalagi di antara semua ketakberaturan itu, semuanya tertebak dengan muda di ujungnya: orang-orang meniup terompet dan menyalakan kembang api saat jarum jam tepat di angka 12 tengah malam.

Satu Januari pagi. Langit masih mendung. Sisa-sisa hujan semalam. Saya tidak tahu, apakah Anda berpikir sama seperti saya: saya memikirkan orang-orang. Majalah Time memiliki tradisi edisi khusus akhir tahun yang bicara soal orang terpenting tahun ini (person of the year). Mark Zuckerberg, penemu Facebook, menjadi orang terpenting tahun 2010 karena membuat jejaring sosial yang diminati ratusan juta orang. Zuckerberg dan Facebook mengubah wajah interaksi sosial kita.

Tapi saya tak sedang memikirkan Zuckerberg. Saya memikirkan orang-orang yang ada dan hadir dalam hidup saya sepanjang tahun 2010. Mereka bisa saja musuh, kawan, saudara, anak, istri, atau rekan sekerja, maupun narasumber. Seberapa penting mereka, saya yakin kita tidak pernah membuat list atau daftar orang-orang dan seberapa penting mereka dalam hidup kita.

Kita membuat petisi, janji, itikad, atau apapun namanya, bahwa kita akan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Tahun 2011 lebih baik daripada tahun 2010. Kita berjanji tentang pencapaian: pekerjaaan, gaji, prestasi, cita-cita pernikahan, dan banyak lagi. Tapi kita selalu bicara tentang diri kita sendiri, kita tak pernah bicara tentang orang lain.

Orang lain tak masuk dalam petisi kita. Padahal, petisi kita, tentang perbaikan nasib kita, berhadapan dengan peluang dan kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan-kemungkinan ini hadir acak, dan selalu dikonstruksi berdasarkan interaksi kita dengan yang lain. Saya jadi ingat teori chaos, butterflies effect: bahwa kepak sayap kupu-kupu di sebuah negara bisa menyebabkan dampak global bagi negara lain.

Kita tak hidup sendiri. Maka petisi atau janji kita di tahun baru ini akan selalu bicara tentang sesuatu yang jamak, tak pernah tunggal. Dan, jika saya harus menyusun daftar orang-orang yang hadir dalam hidup saya pada tahun 2010, maka saya akan meletakkan orang-orang kepada siapa saya berutang pada tempat teratas.

Utang di sini tak selamanya berupa materi atau uang, namun bisa janji. Bisa pula harapan, atau laku baik dan utang budi. Orang-orang ini, kepada siapa kita berutang, adalah orang yang memberikan kesempatan kepada kita untuk bertahan pada tahun 2010. Tanpa kehadiran mereka 'memberikan utang' kepada kita, ada rantai yang hilang dalam hidup kita: mungkin kita tak akan melakukan tindakan yang lebih baik atau meneruskan hidup kita.

Marilah kita bayangkan: di saat kita tak punya uang untuk membeli nasi, seseorang datang meminjamkan uang. Kita membeli nasi, hari itu perut kita terisi, dan bisa bekerja lagi. Bagaimana jika tak ada orang yang bersedia meminjamkan uang kepada kita untuk membeli nasi?

Marilah kita bayangkan pula: saat kita menghardik bawahan kita atau membuat hati kita terluka atas silap yang kita perbuat, kita berutang maaf kepadanya. Bagaimana jika maaf itu tak juga terucap, dan kawan atau bawahan kita itu kelak turut andil dalam langkah kita?

Atau lebih maju lagi: jika saya seorang pemimpin yang menjanjikan kesejahteraan, rakyat banyak berharap, tapi saya belum bisa memenuhi harapan itu. Rakyat mengutangkan harapan kepada saya, agar saya bisa bertahan lebih lama. Bagaimana jika rakyat sudah bosan menitipkan harapan itu kepada saya?

Jadi, tak ada salahnya, mulai hari ini kita mulai menyusun daftar orang-orang kepada siapa kita berutang untuk mulai melunasinya tahun ini. Selamat tahun baru 2011. [wir]

Baca Selengkapnya..

18 December 2010

Bila Anak Semua Bangsa Bertemu

Saya teringat judul novel Pramoedya Ananta Toer: 'Anak Semua Bangsa', saat menghadiri Seminar On Cross Cultural Understanding di Unit Pelayanan Terpadu Bidang Studi dan Pusat Bahasa Universitas Jember, Sabtu (18/12/2010).

Anak Semua Bangsa. Judul yang indah. Sabtu itu, sejumlah mahasiswa dari berbagai negara yang tengah kuliah di Universitas Jember berbagi cerita tentang negara mereka masing-masing.

Andre dari Timor Leste mengawali acara dengan bercerita tentang negaranya. Ia memakai bahasa Indonesia dengan fasih. Puluhan tahun Timor Leste pernah menjadi bagian dari Indonesia sebelum akhirnya berpisah.

Telinga ini geli juga kadang mendengarkan beberapa mahasiswa dari negara di Asia Tenggara menggunakan bahasa Inggris. Kalau meniru istilah orang Jawa, medoknya kelihatan. Beberapa pelafalan juga tidak jelas. Namun yang patut dipuji: mereka berani mencoba.

T. Sideth dari Kamboja sempat tertatih-tatih membaca luas negaranya dalam bahasa Inggris. Namun, dengan yakin, ia tetap menjelaskan tentang tempat-tempat wisata di negaranya.

Salah satu mahasiswa Kamboja malah ikut mengajak Madamme Elizabeth, pengajar lintas budaya dari Amerika Serikat, menari bersama dengan diiringi musik tradisional negara itu. Elizabeth yang sejak awal antusias menyaksikan paparan tersebut, merespons ajakan itu dengan gembira. Tepuk tangan pun bergema.

Mahasiswa dari Laos sempat mencoba memasukkan beberapa kosakata Bahasa Indonesia, ketika memaparkan profil negaranya. Kamvanth, salah satu mahasiswa, menjelaskan betapa negaranya menjadi jajahan Prancis dan Amerika Serikat. "Tapi rakyat kami berjuang dengan gagah berani," katanya.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan Kamvanth dan perasaan Elizabeth, saat sejarah kelam itu disebutkan. Namun, anak-anak masa depan seharusnya tak terbebani dendam masa lalu. [wir]

Baca Selengkapnya..