02 March 2008

Hujan di Sana, Banjir di Sini…

Menyaksikan banjir bandang menenggelamkan Situbondo untuk kedua kalinya.

Bondowoso, delapan Februari. Malam belum larut. Petir. Guntur. Hujan deras sekali. Tidak seperti hari kemarin. Oryza Ardyansyah segera memasuki bus antar kota di terminal. Penumpang tidak sebanyak biasanya.

Oryza tidak melihat ada bus lain di terminal kecil itu. Ini bus menuju Situbondo. Situbondo dan Bondowoso adalah dua kabupaten kecil yang bertetangga di Jawa Timur. Jaraknya tak seberapa jauh, hanya butuh waktu satu jam jika naik bus.

Dua kabupaten ini berada di wilayah tapal kuda. Kultur keduanya sama, karena mayoritas penghuninya beretnis Madura.

Bus melaju pelan menembus gelap. Hujan yang deras membuat sopir memacu kendaraannya lebih lambat dari biasanya. Air, entah dari sungai yang mana, meluber masuk jalan raya di kecamatan Prajekan, Bondowoso.

Beberapa orang berdiri di tepi jalan. Mereka memberi kode dan berteriak dalam bahasa Madura, meminta agar bus tidak terlalu ke tepi. “Agak tengah, agak tengah,” kata kondektur bus kepada sopir.

Sebuah truk teronggok miring hampir terguling di tepi jalan. Mungkin terperosok parit.

Ponsel Oryza menjerit. Heni Agustini, istrinya, menelpon.

“Say, sudah sampai di mana? Di sini air sungai sudah mulai naik,” suara Heni terdengar panik. Ia setengah berteriak.

“Tenang. Jangan terburu-buru. Pelan-pelan kalau bicara. Aku masih sampai Prajekan. Ada apa?”

“Kayaknya banjir lagi. Sudah ada sirine. Aku mau ngungsi dulu sama Neo.”

Neo adalah anak Oryza dan Heni. Nama lengkapnya, Muhammad Neo Ardyansyah Guerin. Usianya baru satu setengah tahun.

Neo tengah berada di rumah orang tua Heni di perkampungan Capore, kelurahan Ardirejo, Situbondo. Rumah itu berjarak sekitar 30 meter dari sungai Sampeyan Baru.

Hati Oryza meremang. Mengungsi. Kata-kata itu langsung melemparkan kenangan enam tahun silam. Saat itu, air sungai Sampeyan Baru pasang dengan cepat dan menciptakan banjir bandang yang menelan Situbondo.

Banjir bandang, di banyak tempat di Indonesia, terjadi di daerah pinggiran kota, di desa yang berdekatan dengan gunung. Tapi tidak dengan di Situbondo. Di sini, banjir bandang menghantam wilayah pusat kota, selain daerah-daerah pinggiran.

Sebagaimana layaknya kota-kota yang berdekatan dengan pesisir, Situbondo dialiri banyak anak sungai. Sungai terbesar adalah Sampeyan Baru, yang dimanfaatkan oleh sebagian warga untuk mencuci, mandi, dan buang air. Air juga mengaliri berhektare-hektare sawah.

Warna sungai Sampeyan Baru coklat, bukan hitam jorok, dan mengalir membelah pusat kota. Air yang berhulu di pegunungan Argopuro, kabupaten Bondowoso, mengalir jauh hingga laut lepas di kecamatan Panarukan.

Tahun 2002, empat Februari malam, Sampeyan Baru menjadi mimpi buruk. Banyak korban jiwa. Rumah-rumah hancur. Jembatan ambruk. Sawah-sawah terbenam. Akankah mimpi buruk kembali malam ini?

Sejak banjir tahun 2002, pemerintah Situbondo memasang alat pendeteksi ketinggian air yang bisa menyalakan sirine di dam Sampeyan Lama. Sudah lama sirine itu tak terdengar.

Jalan menuju Situbondo terasa lebih panjang bagi Oryza. Ia memikirkan Neo, maupun Heni yang tengah hamil tiga bulan. Bus seperti merambat, karena hujan kian lebat.

Melewati jembatan Capore, Oryza terpana. Sampeyan Baru seperti arus lautan yang berpusar, menerjang. Jika normal, ketinggian permukaan jembatan dari permukaan sungai sekitar delapan meter. Namun, malam ini air sungai terus pasang mendekati bibir jembatan.

Turun dari bus, Oryza melihat orang-orang sudah berkumpul di atas jembatan, memperhatikan amuk sungai. Banyak sepeda motor yang menepi.

Oryza berlari menuju sebuah gang yang tak jauh dari sungai untuk melihat kondisi keluarganya. Jarak antara mulut gang dengan rumah mertuanya tak sampai seratus meter. Namun, air sungai menghadang. Air yang berpusar sudah masuk ke jalanan kampung, setinggi tiga puluh centimeter, dan terus pasang.

Seseorang dari atas jembatan berteriak kepada Oryza, “Hei. Jangan lewat sana. Airnya besar.”

Kepanikan ada di mana-mana. Sebagian orang berlari menjauhi sungai. Namun banyak juga yang berlari mendekati jembatan. Mereka agaknya tidak takut, jembatan bakal ambruk seperti enam tahun silam.

Oryza yakin, Situbondo akan tenggelam seperti dulu, dan ia akan menjadi reporter pertama yang bisa mengabarkan ini ke penjuru Indonesia melalui media online tempatnya bekerja.

Sebuah pesan pendek dilayangkannya kepada Dwi Eko Lokononto, pemimpin redaksi Beritajatim.com. Ini portal berita yang mulai tayang di jagat maya sejak 1 Mei 2006. Berita pertama mengenai kepanikan warga online pada pukul sepuluh malam.

Oryza bertemu dengan istrinya yang dibonceng Dewi Agustini. Neo berada dalam gendongan Heni. Dewi adalah adik kandung Heni.

Mereka baru saja dari Paraaman, sebuah wilayah di tengah kota Situbondo. Paraaman, pada tahun 2002, terselamatkan oleh pintu dam yang tidak dibuka. Saat itu, aparat kepolisian bersitegang dengan warga yang menginginkan pintu dam dibuka, agar air yang menggenangi wilayah lain perkotaan lebih surut.

Aparat menolak. Jika pintu dam dibuka, maka wilayah pusat kota bakal terbandang banjir. Risikonya: tak ada lagi tempat yang aman bagi sukarelawan dan bala bantuan memberikan pertolongan kepada korban banjir.

Oryza meminta Heni untuk mengungsi ke rumah kerabatnya di Paraaman. “Di sana aman,” katanya.

Heni menolak. “Neo menangis terus, karena tidak ada Ibu. Lebih baik mengungsi di bukit.”

“Ini peristiwa besar. Situbondo banjir seperti dulu. Aku harus reportase langsung. Aku nggak bisa kerja tenang, kalau kalian belum selamat.”

Dengan tak sabar, Oryza meminta Dewi menjemput ibunya. Tutik, ibunda Heni, berkumpul dengan warga kampung lainnya, di tempat yang lebih tinggi yang tak jauh dari Capore.

“Bu, Ibu mengungsi dulu ke Paraaman bareng Heni. Neo nangis terus,” kata Oryza. Tutik mengangguk.

“Tapi tolong cari Bapak, Say. Nggak tahu Bapak ada di mana,” kata Heni. Hamin, ayah Heni, berusia kurang lebih 65 tahun. Kata beberapa orang, terakhir ia masih di rumah, menunggu, mengamankan barang-barang.

Oryza berjanji. Istri dan ibu mertuanya mau mengungsi ke Paraaman. Dewi menemaninya mencari Hamin.

Di dekat jembatan, air semakin tinggi. Jalan protokol sudah digenangi air. Semakin banyak orang pergi membawa barang. Mendadak sebagian orang berlari menjauhi jembatan. Oryza ikut berlari menjauh. Pakaiannya basah kuyup. Keringat bercampur air hujan.

Drang!

Sebuah atap dari seng ambruk. Kayu-kayu yang menopangnya digasak air yang berpusar.

Beberapa orang nekat berdiri di tengah jalan, menghadapi terjangan air sungai, hanya untuk mengambil barang-barang yang mengapung. Sebagian besar barang rumah tangga.

Kabel listrik bergoyang. Entah bagaimana. Orang-orang berlari menjauhi air. “Kalau kena setrum bahaya,” kata salah satu orang.

Oryza beberapa kali mengontak sahabatnya, Syaiful Kusmandani, reporter TV7. Malam itu ia tidak melihat satu pun reporter televisi.

Ipung, sapaan akrab Syaiful, ternyata tengah meluncur ke Situbondo dari kabupaten Jember. “Istriku sudah aku suruh ngungsi ke (kecamatan) Panji,” katanya dengan nada panik. Nasib mereka setali tiga uang.

Ini bakal menjadi malam yang panjang. Dalam hati, Oryza melemparkan sumpah serapah kepada orang-orang yang menebangi pohon di pegunungan Argopuro di Bondowoso. Situbondo selamanya akan selalu terancam banjir bandang, gara-gara pohon ditebangi digantikan jagung.

Hujan deras di Bondowoso. Banjir di Situbondo. Jika gunung dibiarkan gundul, maka itulah yang akan selalu terjadi, karena secara geografis Situbondo lebih rendah dibandingkan kota tetangganya.

Oryza masuk ke kampung untuk mencari Hamin. Di bagian kampung yang agak atas, ketinggian air baru 20 centimeter. Bagian kampung yang berdekatan dengan sungai tentu sudah terbenam.

Beberapa tetangga mengatakan, Hamin sudah mengungsi ke PLN. Gardu induk Perusahaan Listrik Negara tidak jauh dari kampung Capore, dan terletak di dataran yang lebih tinggi. Tahun 2002, banyak warga mengungsi ke sana. Tempat pengungsian lain adalah Bukit Salju. Ini sebuah bekas bukit yang sekarang sudah diubah menjadi perumahan warga korban banjir tahun 2002.

Orang-orang sudah berkumpul di depan gang menuju gardu induk PLN. Oryza tidak melihat Hamin di sana.

Oryza tidak tahu bagaimana kondisi di bagian lain pusat kota. Ia terjebak, tak bisa keluar dari Ardirejo karena air sudah pasang dan menenggelamkan jalan raya. Namun, Oryza tahu, kepanikan juga tengah menghinggapi Bupati Ismunarso.

Melalui ponselnya, Ismunarso menjelaskan, dirinya tengah berkeliling ke tempat-tempat yang terkena banjir. “Pokoknya saya minta warga mengungsi dulu.”

Belakangan, Oryza tahu, rumah dinas Ismunarso pun jadi korban. Pusat kota benar-benar terendam air setinggi satu meter. Markas kepolisian. Rumah dinas para pejabat. Penjara. Markas militer. Kantor pemerintah. Rumah sakit. Ini bukan air yang menggenang, tapi mengalir dengan deras dan membawa lumpur.

Bala bantuan tak bisa masuk kota. Sekitar seratus personil kepolisian wilayah Besuki dan kota tetangga Bondowoso terpaksa menunggu air surut.

Di tengah kota, kepolisian hanya punya satu perahu karet. Wakil Bupati Suroso dievakuasi dengan perahu karet itu, setelah tertahan di rumahnya.

Banjir menyebabkan tembok rumah sakit Elizabeth, sebuah rumah sakit swasta, jebol. Para pasien kabur menyelamatkan diri masing-masing. Mulanya ada 42 orang pasien tengah dirawat inap.

“Saya hitung tak sampai sepuluh pasien yang melewati malam bersama banjir di rumah sakit,” kata Arif Wiyanto, direktur Elizabeth. Salah satunya adalah seorang bayi bersama ibunya.

Mendekati tengah malam, listrik padam. Semakin sulit mencari Hamin. Oryza berhenti sejenak di depan sebuah sekolah. Kakinya pegal. Sekolah ini pada tahun 2002 menjadi salah satu tempat pengungsian dan dapur umum.

Dalam gelap, seorang lelaki setengah baya dengan pakaian kuyup berjongkok. “Habis, habis.” Suaranya lemah.

Oryza hanya bisa memandang lelaki itu, saat ia dikejutkan oleh sebuah sapaan. “Kapan datang?”

Oryza memicingkan mata. “Lho, Pak?”

Hamin yang dicarinya dari tadi ternyata sudah di hadapannya. Oryza merasa lega. “Mari, Pak. Kita mengungsi ke bukit. Heni dan Ibu sudah mengungsi ke Paraaman.”

Oryza tidak tahu apakah urat takut mertuanya sudah putus. Dicari ke mana-mana saat semua orang berlari mengungsi, ternyata Hamin masih sempat bersantai di sebuah warung dekat sungai sembari memperhatikan air yang pasang.

Warung itu sendiri lantas hancur dibandang banjir. Hamin masih sempat pergi, setelah diajak mengungsi oleh salah satu tetangganya.

Orang masih berlalu-lalang membawa barang-barang menuju Bukit Salju. Puluhan ekor sapi dan kambing diikat di pohon-pohon, tak jauh dari sejumlah mobil berbagai merek yang diparkir di tepi jalan.

Oryza dan Hamin berjalan menuju salah satu rumah mantan korban banjir tahun 2002. Di sebuah musola, sejumlah perempuan dan anak-anak mereka tengah tidur-tiduran atau duduk-duduk.

Sebuah papan yang sudah agak lapuk menuliskan keterangan bahwa perumahan itu dibangun dengan bantuan tenaga dari Tentara Nasional Indonesia.

Rumah yang mereka tuju tidak terlalu besar. Rumah itu milik seseorang bernama Rachmad. Sebagian rumah terbuat dari tembok bata, bagian lainnya dari papan triplek. Dewi sudah di sana.

Listrik di sana tidak padam. Belakangan Oryza tahu pemadaman listrik tidak merata.

Beberapa orang pengungsi duduk melingkar di atas lantai bertikar di ruang tamu. Mereka mengenang banjir tahun 2002 dan membandingkannya dengan banjir saat ini.

“Waktu itu air sungai sudah naik habis magrib. Jam sepuluh malam, air sudah mencapai empat meter. Atap rumah saya sampai tenggelam. Rumah habis. Saya lari ke gardu PLN dan kemudian ke SD Ardirejo III,” kata Sriyana.

Sriyana adalah warga Capore yang mengungsi bersama tiga anak dan suaminya. “Waktu itu ngungsi masih tak enak.” Saat itu memang belum dibangun perumahan. Bukit Salju hanya berupa bukit. Orang-orang mengungsi di sebuah rumah di dekat gardu PLN. Berjejal hingga puluhan orang.

Dulu, warga tak bersiap menghadapi banjir bandang. Air datang dengan cepat, menyapu apa saja dengan lekas. Tak ada barang yang tersisa.

Kini, mereka bisa bersiap begitu mendengar bunyi sirine. Namun kendati sirine terdengar, tak ada orang yang mengira banjir bandang bakal terjadi lagi. Banjir tahun 2002 telah membuat sungai bertambah lebar, sehingga diperkirakan bisa menampung luapan air.

Sriyana sedang menonton sinetron Azizah, sembari menggoreng nasi, ketika air sungai pasang. Ia diberitahu oleh Rahwiyanto, suaminya, namun tak risau.

“Seberapa tingginya, Pak?

“Sampai undak-undakan (tangga di tepi sungai),” sahut Rahwiyanto.

Sriyana terus menggoreng nasi. Beres, ia bermaksud ke sungai untuk melihat ketinggian air. “Sebentar, Nak, aku mau melihat air,” katanya kepada anaknya, Wawan Siswanto.

Tak perlu ke sungai untuk melihat, karena air sudah mulai masuk kampung. Sriyana segera membangunkan Eko dan Sari, dua anaknya yang tengah tertidur, dan menyelamatkan apa yang bisa dibawa ke bukit.

Sriyana beruntung, karena masih sempat mengungsi ke Bukit Salju. Puluhan orang yang mengungsi di dalam area gardu PLN mengalami kepanikan. Air pasang dan mencapai area itu. Mereka tak bisa lagi keluar dari pintu masuk semula.

Dengan tergopoh-gopoh, warga menjebol pagar samping yang memungkinkan mereka menuju Bukit Salju.

“Banjir kali ini lebih hebat daripada tahun 2002. Dulu gardu PLN aman, tidak ada air. Gedung sekolah bisa buat ngungsi. Sekarang gedung sekolah tenggelam,” kata Budi Surono, warga Capore lainnya.

Ia memetakan titik-titik kehancuran. Karangasem. Wringin Anom. Panarukan. Korban bisa lebih banyak daripada enam tahun silam. “Ini seperti ulang tahunnya banjir,” kata Budi, tersenyum pahit. Ia berharap rumahnya tak bakal hancur.

Karangasem adalah salah satu wilayah pusat kota sebelah barat yang berada di daerah aliran sungai. Kendati tidak ada banjir bandang, wilayah ini sudah terkenal sebagai langganan banjir kecil-kecilan karena posisi geografisnya yang lebih rendah daripada daerah sekitarnya.

Budi menuding pemerintah Situbondo yang tak tanggap mengantisipasi kemungkinan kembali datangnya banjir. Sungai Sampeyan Baru yang melebar tidak dikeruk setelah peristiwa tahun 2002, sehingga terjadi pendangkalan.

Kalkulasi Budi, tangkis di selatan pintu dam jebol. “Kalau tidak jebol, air sungai tidak mungkin naik mencapai PLN.”

Cerita terhenti, saat seseorang masuk ke rumah dan memberitahu, Rahwiyanto tengah menuju daerah banjir untuk melihat sungai.

Sriyana cemas. “Bapak’e sakit perutnya.” Tapi tak ada yang bisa mencegah Rahwiyanto. Ia sama nekatnya dengan Hamin, kalau urusan melihat banjir.

Di luar hujan masih turun. Deras. Reda. Deras. Reda. “Ini tak akan lama. Jam dua, air akan surut. Tapi selang sehari ada banjir susulan,” kata Budi, belajar dari enam tahun lalu.

Seorang pejabat Dinas Pengairan kabupaten Jember pernah mengatakan, bahwa karakteristik cepat surut ini adalah karakteristik banjir di wilayah Jawa Timur bagian timur. Banjir ini disebut banjir bandang, dan memakan korban jiwa dan benda begitu cepat.

Karakter ini jauh berbeda dengan banjir di wilayah Jawa Timur bagian barat yang cenderung lambat pasang, tapi menggenang karena surutnya pun lambat.

Oryza menggigil. Baju dan celananya tak juga mengering. Tubuhnya lelah. Perutnya belum terisi sama sekali.

Muhammad Wahyu Hardiyanto tidur di hadapannya. Anak berusia tiga tahun itu terlelap diselimuti sarung berwarna biru dan dibungkus jaket kuning.

“Dia tadi rindu sama gulingnya,” kata Fajar Surowiharjo, paman Wahyu.

Fajar baru saja datang dari Jogjakarta. Ia lama tinggal di sana, dan sempat merasakan gempa bumi. Kali ini, beberapa pekan setelah kembali ke Situbondo, ia berhadapan dengan banjir bandang.

“Saya berdoa jembatannya roboh lagi seperti dulu,” kata Fajar.

Oryza heran mendengar doa jelek itu. Tahun 2002, jembatan Capore pernah ambruk sebagian dan memakan korban jiwa.

“Kenapa?”

“Kalau roboh, laju air sungai tak akan ada yang menghambat,” kata Fajar. Ia mengecam rancangan konstruksi jembatan.

Ikhwanudin, kawan Fajar yang berada di sebelah Oryza, tersenyum mendengar doa itu. Tapi pikirannya lebih tertuju pada hal lain: nasib cakram master rekaman lagu dangdut karyanya. “Saya sempat menaruhnya di lantai dua. Tapi rumah kos saya dekat sekali dengan sungai posisinya di bawah jembatan,” katanya.

Dari Ciamis, Jawa Barat, Ikhwanudin datang ke Situbondo untuk mencari uang sebagai bekal ke Surabaya. Ia pencipta lagu dangdut yang belum lama melakukan rekaman di kabupaten Banyuwangi, kabupaten terujung di Jawa Timur.

“Yang nyanyi saya dan Chika, anak mantan camat.” Master lagu itu berjudul Gendut Berdangdut.

“Rencananya lagu ini mau dinyanyikan Trio Macan. Saya bikin sepuluh lagu. Targetnya satu bulan rekaman. Tapi Trio Macan sudah dikontrak SCTV. Bos saya yang merekam juga kena masalah, truknya dilarikan orang. Akhirnya pakai penyanyi lokal.”

Ikhwanudin berharap masternya bisa diterima salah satu perusahaan rekaman di Surabaya. Uangnya hendak digunakan untuk membangun rumah di Ciamis. “Rumah saya mau ambruk. Gara-gara menggarap musik ini saya punya hutang dua juta rupiah. Pusing juga.”

Jika banjir benar-benar menghanyutkan cakram masternya, Ikhwanudin masih berharap pada data yang disimpan adiknya di Bandung. Kelak, ia juga berharap banjir bandang Situbondo akan mengilhaminya. “Saya sudah punya lagu ciptaan untuk tsunami dan gempa Jogja. Mudah-mudahan untuk Situbondo ada.”

Hampir jam dua malam. Salah seorang warga mengatakan, air sudah surut dari jalanan. “Orang-orang sudah banyak yang kembali ke rumah.”

Air sebenarnya belum sepenuhnya surut dari jalan raya. Alirannya masih kuat. Namun tingginya hanya beberapa centimeter. Jalanan dipenuhi lumpur. Ada bonggolan-bonggolan kayu besar melintang. Tembok pagar beberapa rumah hancur, menyisakan puing.

Suara gemuruh dari sungai masih jelas terdengar. Persis seperti suara air terjun yang bergolak.

Sabtu Pagi. Oryza melihat kerusakan di mana-mana. Rumah ambruk. Kandang sapi hanyut. Puing-puing. Tumpukan lumpur. Jembatan Capore memang tak ambruk. Namun beberapa bagian di atas jembatan hancur. Air sungai sempat menenggelamkan jembatan itu.

Rumah mertua Oryza masih bertahan. Namun, kulkas yang baru dibeli beberapa pekan lalu rusak.

Sambungan telpon, saluran air bersih, dan aliran listrik di sejumlah titik terputus.

Kerusakan parah juga terjadi di tengah kota. Tak satu pun rumah dinas pejabat yang selamat dari timbunan lumpur dengan ketinggian beragam. Semakin jauh dari daerah aliran sungai, semakin tipis tumpukan lumpur itu.

Oryza memutuskan berkeliling kota untuk melihat tingkat kehancuran. Ia bertemu Suroso, wakil bupati Situbondo.

Kelelahan tampak di wajah Suroso. Ia mengaku belum bisa menghitung kerugian. Namun, belakangan ia mengatakan kerugian sedikitnya mencapai dua ratus miliar rupiah. Pemerintah Situbondo hanya mampu berharap pada bantuan pusat dan pemerintah provinsi.

Jumlah korban jiwa juga simpang siur. Namun tak semua korban tewas hanyut terbawa banjir. Seorang pria setengah baya tewas karena syok, terkena serangan jantung saat melihat banjir. Ia pernah menjadi korban banjir tahun 2002.

“Ini nggak tahu kapan rumah yang rusak akan mulai dibangun. Rumah korban gempa bumi saja belum selesai dibangun,” kata Suroso. Situbondo sempat diguncang gempa September tahun lalu.

Kompas melansir data korban banjir bandang 11 orang meninggal, 681 rumah rusak dan hanyut, 40 hektare sawah terendam. Jawa Pos melansir 15 orang tewas dan ribuan rumah rusak berat.

Langit masih mendung. Jembatan Capore dijejali orang yang berwisata bencana: menjadikan rumah-rumah yang hancur di tepi sungai sebagai tontonan.

Oryza bertemu kembali dengan pria setengah baya yang berkali-kali mengucapkan kata ‘habis’ Jumat malam. Pria itu bernama Supri. Rumahnya hancur. Sebuah bangunan tempatnya membuat tempe tak tersisa. Mesin penggiling kedelai sudah lenyap entah ke mana.

“Membangun lagi dari bawah. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan hidup,” katanya, pelan.

Supri tidak menangis. Ia memilah-milah barang miliknya yang tertimbun lumpur. Ini kali kedua tempat usaha pembuatan tempe miliknya hancur terbandang banjir. Justru tetangganya, seorang perempuan tua, yang menangis pelan.

“Du kalle ya Allah, du kalle,” katanya dalam bahasa Madura. Maksudnya: dua kali ya Tuhan, dua kali.

Hari pertama setelah bencana adalah hari terberat. Tak ada bantuan makanan atau air di Capore yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari pendapa kabupaten.

Di jalan Merak yang berada di belakang pendapa, bantuan juga tak datang. Warga frustasi. “Sekarang yang penting adalah air untuk membersihkan lumpur. Ini PDAM mati semua,” kata Andik Tri Patmoko yang ditemui Oryza.

Sejak pagi hingga sore hari, warga membersihkan rumah masing-masing. Puing-puing disingkirkan. Lumpur dikeruk dengan cangkul. Tidak ada bantuan tenaga dari tentara dan polisi sebagaimana halnya di daerah lain.

“Ini lebih parah daripada tahun 2002 lalu. Dulu, begitu hari pertama setelah bencana, bantuan makanan dan air datang. Bahkan berlimpah. Ada dapur umum,” kata Heni Agustini.

Pemerintah tak mau disalahkan. Suroso mengatakan, koordinasi antar jajaran terputus. Aparat pemerintah juga sibuk menyelamatkan diri masing-masing.

Praktis, siang itu, Oryza hanya melihat serombongan mobil dermawan dengan foto besar wajah seorang pria yang terpampang di kaca kendaraan. Mereka memberikan bantuan makanan dan air minum ke salah satu sektor perkotaan.

Oryza membayangkan, andai Situbondo adalah Aceh saat tsunami. Di Aceh, bantuan datang begitu lekas. Memang banjir bandang tak sedahsyat bandang tsunami. Namun, siapa pula yang bisa memberikan peringkat pada penderitaan? Rasa kehilangan korban banjir di Situbondo sama otentiknya dengan rasa kehilangan korban tsunami di Aceh.

Penanganan darurat banjir bandang di Situbondo boleh lemah. Namun, menarik melihat bagaimana warga memandang bencana itu: tak ada histeria. Mereka membersihkan puing-puing yang hancur dengan sesekali saling melempar canda. Saling menghibur.

Salah satu tetangga menegur Oryza yang tidak menyapanya saat berjumpa di jalan. Tetangga yang lain menyahut, “Loh, ini bencana, bukan hari raya. Kalau hari raya ya pasti menegur, diajak salaman.”

Jalanan masih dipenuhi sampah, lumpur, dan kayu-kayu berbagai ukuran. Namun di tepi jalan sejumlah orang sudah mulai membuka pasar, seperti tak ada apa-apa. Tak jauh dari sana, seseorang tengah mengepel tokonya.

Pos pemungut amal dadakan bermunculan di mana-mana. Anak-anak kecil dan orang dewasa menyodorkan gelas air mineral kosong. “Buat makan,” kata salah satu dari mereka.

Pemerintah Situbondo terpaksa membiarkan warganya mengemis.

“Air mata orang-orang mungkin sudah habis,” kata Heni, saat ditanya soal reaksi warga yang tampak biasa saja.

Tapi ketakutan belum berakhir. Minggu malam, air kembali pasang. Heni teringat banjir susulan enam tahun silam. Ia berharap, jangan sampai ada banjir susulan lagi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika air berlumpur kembali menerjang rumahnya. Bakal dibutuhkan waktu berhari-hari untuk membersihkannya.

Warga kembali berlari ke Bukit Salju. Hujan mengguyur deras sebentar. Lalu gerimis. Heni tidak risau dengan hujan di Situbondo. “Asal Bondowoso tidak hujan deras, semua aman.”

Doa Heni terkabul. Tengah malam, air sungai kembali surut.

Kerabat Heni dari kecamatan Silo, kabupaten Jember, datang menengok dengan naik truk keesokan harinya. “Lebih baik pulang ke Silo saja. Di sini rumah sering banjir,” kata Jumani, bibi Heni.

Tutik menolak. Sebagaimana warga yang lain, ia memilih tetap tinggal di tepi sungai, di atas tanah tempat mencari rezeki. “Kalau saya pindah, saya mau makan apa? Wong kerjaan di sini.”

Tutik memilih meneruskan hidup, meski dalam rasa waswas. Sampai kapan warga Situbondo harus terus dihantam waswas? Tak ada yang tahu. Banjir datang hari ini. Banjir bisa datang esok hari. Selama pegunungan di wilayah Bondowoso masih ditanami jagung, tak ada yang bisa memastikan banjir bandang tidak terjadi. (*)

1 comment:

syaiful said...

wah tulisan ini mengingatkanku akan kehancuran...!! tp Bersyukur aku dan keluarga masih diberi keselamatan meski saat kejadian istriku mengungsi dg anakku yg masih berusia 10 hari...!!! trim's oris...!!!unkjb