Menanti Raisya
Cerita seorang dokter muda yang melahirkan melalui bedah cesar.
RABU PAGI, 22 MARET 2006, DI JEMBER.
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Mas Ryza. Dari Ibu. “Say, ibu SMS, katanya Dik Kiki mau melahirkan. Ibu tanya, kapan mau ke Surabaya. Aku bilang, besok kamis,” kata Mas Ryza.
“Lho, iya ta? Kiki sudah mau melahirkan,” sahut Mbak Heni, istri Mas Ryza, dari dapur.
Lalu Mas Ryza menghubungi Dik Arif. Arif sebenarnya baru saja pulang ke Jember. Selama dua pekan lebih sebelumnya ia ada di Surabaya, menungguku melahirkan. Tapi karena aku tak juga melahirkan, ia memutuskan balik ke Jember. Apalagi tugas kuliah menantinya.
Arif ternyata sudah dihubungi Ibu. Ia pun berencana pulang setelah kuliah. “Aku bareng, Mas,” katanya via SMS kepada Mas Ryza.
Mas Ryza, nama lengkapnya Oryza Ardyansyah Wirawan. Ia kakakku, anak pertama dalam keluarga Ahmad Budi Wirawan. Lahir di Situbondo, 5 Mei 1977. Dua tahun lebih tua dariku. Sekarang tinggal di Jember, sebuah kota yang terletak 200 kilometer dari Surabaya. Ia kuliah di Universitas Jember. Begitu lulus memutuskan untuk tinggal di Jember, dan bekerja di harian Radar Jember milik Jawa Pos Group. Menikah dengan Heni Agustini, adik kelasnya saat kuliah.
Arif Budi Wicaksono, adalah adikku yang pertama. Anak ketiga dalam keluarga Wirawan. Kuliah di Universitas Jember, di Fakultas Ekonomi. Seorang yang baik hati dan ringan tangan, meski kadang suka marah-marah. Sedikit. Tapi, sungguh, ia baik hati dan suka menolong.
Mbak Heni, kakak iparku. Ia dua tahun lebih muda daripada aku. Mbak Heni lahir 14 Agustus 1981, dan aku 8 Agustus 1979. Kami sama-sama lahir di Situbondo, sebuah kota kecil yang mayoritas penduduknya bersuku Madura. Mbak Heni keturunan Madura, sementara aku asli Jawa.
Tiga saudaraku itu berangkat ke Surabaya dengan bus patas. Dik Arif yang baru saja sampai di Jember hari Selasa, dan harus balik lagi ke Surabaya, bercerita lucu. “Aku diledek teman-teman. Kata mereka, Raisya lahir nunggu aku pulang ke Jember. Soalnya dia takut sama aku. Nggak sopan,” katanya, nyengir.
JUMAT PAGI, 24 MARET 2006. PUKUL 07.45. Rumah sakit Bersalin Sayang Ibu Surabaya. Rumah sakit yang terletak di Jalan Cimanuk ini sepintas tak seperti rumah sakit dalam pengertian banyak orang. Tidak besar, rumah sakit ini seperti rumah biasa dari depan. Rumah sakit ini didirikan dokter Subandi. Ia seorang dokter spesialis kandungan yang sukses, dan mempunyai sejumlah klinik di lain tempat. Konon, dia punya lima klinik bersalin.
Aku memilih melahirkan di sini, karena aku mendengar rumah sakit ini bermutu. Yang penting lagi, dokternya perempuan. Beberapa kawanku kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dulu, Hadnah, Erlinda, dan Ica juga melahirkan di sini. Aku ngamar sejak Kamis pagi kemarin. Dan, pagi ini aku harus bersiap melahirkan melalui bedah cesar, karena air ketubanku pecah duluan.
Di ruang VK, aku terbujur di atas ranjang rawat dengan berselimut putih lurik. Selang infus yang mengalirkan cairan ringer lactat terpasang di pergelangan tangan kananku. Di sebelahku Mas Rifki berdiri menanti, saat pintu ruangan mendadak terbuka. Mas Ryza dan istrinya Mbak Heni, Bu Apit, Ibu, masuk ke dalam ruangan. Disusul Dik Pipit dan Dik Arif.
Dik Pipit, nama lengkapnya Rizka Paramita Safitri. Putri bungsu keluarga Wirawan. Sekarang kuliah di Universitas Airlangga Fakultas Ekonomi Jurusan Studi Pembangunan. Adikku satu ini manja, tapi seorang yang suka mengalah. Hitam manis, dan wajahnya paling fotogenik dibandingkan tiga saudaranya yang lain.
“Hei, Maaaas…Kapan kamu datang? Mbak Heniiii…Kalian datang bareng Dik Arif ya?” Aku menyapa. Dengan tekanan nada yang selalu sama
“Iya, kemarin sore,” jawab Mas Ryza.
Mbak Heni lalu mendekat dan mengelus-elus perutku. Lalu perutnya yang juga melendung, karena hamil tujuh bulan. Aku tersenyum. “Neo, ini Dik Raisya. Dik Raisya mau lahir,” katanya, mengelus-elus perutnya sendiri.
Neo (dibaca: Niyo) adalah panggilan untuk jabang bayi Mas Ryza dan Mbak Heni, yang diperkirakan bakal lahir pada bulan Juni tahun ini juga. Menurut dokter berdasar hasil USG di usia kehamilan enam bulan, jabang bayi itu berkelamin laki-laki. Ini anak pertama setelah mereka menikah selama dua tahun.
“Iya, tapi adiknya lahir duluan,” jawabku.
Mas Ryza berdiri di samping kanan tempat tidur. Ia memperhatikan tabung besar oksigen yang dialirkan melalui slang yang ditempelkan di bawah lubang hidungku.
Tangannya membawa kamera digital merek Nikon 2200 yang terbungkus. Kamera itu pemberian kantor tempat Mas Ryza bekerja sebagai wartawan. Saat resepsi pernikahan di Surabaya dan Jombang, Mas Ryza jadi fotografer dengan kamera itu.
“Bagaimana perasaanmu, Dik? Sudah tidak sakit lagi,” tanyanya.
“Tidak. Sekarang aku malah deg-degan,” jawabku.
Bu Apit dan Ibu berdiri di sisi kiri ranjang, bersebelahan dengan Mas Rifki. Bu Apit adalah bibiku. Ia istri Pak Pri, Ahmad Budi Priyatmoko, adik kandung Bapak. Orangnya periang dan pintar masak. Pak Pri dan Bu Apit punya dua anak, Aan dan Ian.
Aan kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang dan Ian besekolah di SMUN 20 Surabaya.
Keluargaku dan keluarga Pak Pri sangat dekat. Aku dan Aan juga akrab. Saat diberitahu Bu Apit bahwa aku akan melahirkan, dia menangis. Ia ingin ikut menemani, tapi tak bisa.
Ibu dan Bu Apit mengobrol sendiri, sementara aku mulai bercerita tentang betapa sakitnya, ketika kandunganku harus dirangsang dengan menggunakan obat supaya berkontraksi, dan bisa melahirkan secara normal.
Arif lalu keluar dari ruangan.
“Aduuh sakit. Akhirnya Mas Rifki memutuskan berhenti, dan operasi cesar saja,” kataku.
“Aku kan sudah bilang, ‘operasi saja ta?’. Tapi Adik nggak mau,” sahut Mas Rifki.
Mbak Heni mengelus-elus perutnya mendengar ceritaku. Mungkin ia khawatir juga.
“Mas, kamu di sini sampai kapan?” tanyaku pada Mas Ryza.
“Insya Allah seminggu,” jawab Mas Ryza.
“Lho, kerjaanmu menggarap koran Dewan sudah selesai?” tanyaku.
“Majalah Dewan. Sudah beres,” jawab Mas Ryza, membetulkan.
“Hore, aku ada temannya. Mas, aku ada temannya,” ujarku pada Mas Rifki. Mas Rifki tersenyum.
Mas Ryza lalu mengeluarkan kameranya dari tas kecil. Ia lantas mengarahkan moncong kameranya untuk menjepretku. Aku tertawa. Mas Ryza mengambil kali enam jepretan. Terakhir, aku berfoto bareng Pipit, Mbak Heni, Mas Rifki, Ibu, dan Bu Apit.
Pukul 08.05, seorang perawat masuk ke ruangan. “Minta tolong ya, yang lainnya keluar dulu. Mbaknya mau dibawa ke ruang operasi,” katanya.
Ibu mengelus-elus kepalaku. Aku tersenyum. “Doakan yaaa…” Mereka lalu berjalan keluar dari ruangan VK. Ini adalah ruangan di Rumah Sakit Bersalin Sayang Ibu tempat di mana pasien sebelum menjalani operasi cesar. Di ruang ini pasien masih diizinkan berjumpa dengan sanak kerabatnya, sebelum masuk ruang persiapan operasi.. Tinggal Mas Rifki yang menemani.
Perawat mendorong ranjangku menuju ruang persiapan operasi di sebelah. Pakaianku dicopoti, dan tubuhku dipasangi kateter. Lalu dokter Vita Maya, dokter kandungan yang akan mengoperasiku datang.
Mas Rifki beranjak hendak meninggalkan ruangan. Aku lantas menyalaminya, mencium tangan dan pipinya. “Salam buat Bapak Ibu. Doakan aku ya,” kataku.
Perawat menempelkan kabel-kabel yang tersambung dengan monitor operasi di tubuhku. Monitor itu untuk memantau kondisi bagian-bagian vital di tubuhku selama operasi. Untuk tahu, apakah aku baik-baik saja.
Lalu pintu ruangan terbuka. Ibu masuk dengan pakaian yang sama dikenakan dengan para perawat saat berada di ruang operasi. Warnanya hijau muda. Aku Ibu mencium pipiku. Aku sudah tidak bisa mencium kedua tangan Ibu, karena kedua tanganku sudah diikatkan pada penyangga lengan di kaki meja operasi.
“Ya sudah, baca Bismillah. Baca Al Fatihah, Al Ikhlash,” kata Ibu membesarkan hatiku. Aku mengangguk, dan Ibu lantas meninggalkan ruangan.
Dokter Vita menyapaku. Ia menanyakan kondisiku.
“Bagaimana?”
“Aduh, saya jadi nggak kuat,” jawabku.
“Sampai jam berapa OD?”
“Cuma sampai jam sebelas malam, dok,” Aku berkata dengan nada sesal.
Tak lama setelah Dokter Vita, Dokter Bambang masuk ruang operasi. Dia ahli Atesi. Dalam operasi ini memang ada dua dokter: dokter kandungan yang bekerja membedahku, dan dokter Atesi yang memastikan bius bekerja di tubuhku, sehingga tajamnya pisau bedah tak menyakitiku.
“Bu, dibius dari belakang, ya,” katanya.
Aku mengangguk. Lalu ia menyuntikkan obat bius di punggungku. Dan aku merasa tiba kakiku merasa tebal. Kesemutan. Aku merasa lemah. Lumpuh.
“Bagaimana, Dok? Sudah siap?” tanya Dokter Vita Maya kepada rekannya.
“Sip,” sahut Dokter Bambang. Dia termasuk yang memegang kendali dalam operasi meski bukan operator.
MALAM, 10 FEBRUARI 2006. Rumah Sakit X sedang ramai. Sejak jam 01.00 dini hari hingga pagi pukul 07.00 saja, ada delapan pasien. Berarti setiap jam ada satu pasien.
Rumah sakit ini salah satu rumah sakit yang dikenal publik bagus di Mojokerto, meski dari fisik tak terlampau besar. Aku mulai bekerja di sana sejak 1 November 2005 sebagai dokter tidak tetap, setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga 17 Desember 2004. Aku ingin melanjutkan kuliah dan menjadi spesialis kandungan. Jumlah dokter perempuan spesialis kandungan di Indonesia masih belum sebanding dengan dokter spesialis kandungan lelaki.
Hari itu aku dapat giliran jaga malam di Unit Gawat Darurat, bersama seorang resepsionis dan dua perawat. Untunglah tidak ada kasus yang terlampau gawat. Tapi tetap saja malam panjang yang melelahkan. Aku memang seharusnya hanya bertugas di UGD. Tapi karena aku satu-satunya dokter yang bertugas malam hari, maka aku juga bertanggungjawab atas semua pasien di seluruh rumah sakit. Aku berada di garis depan.
Malam itu nyeri di vaginaku menghebat. Nyeri ini muncul sejak usia kandunganku tujuh bulan. Ada varises di vaginaku. Kalau sakit itu sudah mendera, untuk jalan pun aku kesulitan, termasuk malam itu.
Aku sempat menelpon Ibu. “Bu, kok nyeri banget ya.”
“Kenapa sih kamu nggak ngambil cuti duluan,” jawab Ibu.
“Tidak mungkin boleh,” sahutku. Aturan di rumah sakit memang ketat. Untuk cuti hamil selama tiga bulan, yakni satu bulan sebelum melahirkan dan dua bulan sesudahnya. Aku sebenarnya baru akan cuti tanggal 1 Maret nanti, karena dokter kandunganku memperkirakan aku bakal melahirkan tanggal 25 Maret.
“Iya, daripada kesakitan terus begitu,” jawab Ibu.
Aku lalu memutuskan untuk tiduran di salah satu kamar yang disediakan untuk dokter jaga. Saat aku tiduran, datanglah Mbak Nina, bidan jaga malam itu. Ia hendak meminta resep kepadaku.
“Sebentar, Mbak,” aku berjalan pelan-pelan, turun dari ranjang. Sakit sekali, hingga mataku berair.
Mbak Nina tampak heran. “Lho, Dok, kenapa?”
Sambil meringis, aku menjawab, “Vaginaku nyeri, Mbak.”
Mbak Nina memegang-megang perutku. “Hamil berapa bulan? Lho kok kenceng?” Perut yang kencang pertanda terjadinya kontraksi rahim.
“Delapan bulan,” aku masih kesakitan.
“Dulu waktu saya hamil, juga mengalami nyeri pada vagina. Jangan-jangan ada bukaan, Dok. Saya lihat, ya?”
Seorang yang hendak melahirkan biasanya mengalami sepuluh bukaan. Bukaan pada mulut rahim sampai dengan 10 centimeter disebut bukaan lengkap. Saat itu sang ibu diminta mengejan. Tapi ini jika usia kandungan sudah 9 bulan 10 hari.
“Biasanya periksa dengan dokter siapa?” tanya Mbak Nina.
“Dokter Sumadi,” jawabku.
“Saya periksa, terus saya telponkan Dokter Sumadi, ya,” kata Mbak Nina.
Aku kontan menolak. “Tidak usah, Mbak. Sungkan.”
Mbak Nina tampak bimbang. “Ya sudah pokoknya saya periksa dulu, nanti kalau hasilnya mengkhawatirkan baru lapor ke Dokter Sumadi,” katanya memutuskan.
Perempuan muda yang baik itu lalu mengambil alat-alat periksanya. Ia periksa kondisi tubuhku. Kata Mbak Nina, denyut jantung calon anakku bagus.
Ia lalu memeriksa bagian dalam vaginaku yang nyeri luar biasa. “Ada darah, Dok,” katanya.
Aku berdebar-debar. Aku pun meminta agar Mbak Nina menelponkan Dokter Sumadi untukku.
Dokter Sumadi menanyakan kondisiku. “Sudah kamu minum obat dulu. Lalu segera bed rest. Segera pulang, dan tak usah jaga. Kalau rumahmu jauh, ngamar saja di situ. Saya tidak mau ambil risiko. Bayimu sebentar lagi lahir. Eman-eman, kalau lahir prematur,” katanya. Ia juga memintaku memasang infus, bila obat yang diresepkannya jarak jauh tak meredakan kontraksi dan pendarahan.
Mbak Nina diminta untuk mengawasiku. “Kalau ada apa-apa beritahu saya,” kata Dokter Sumadi.
Aku lantas menghubungi Dokter A, Kepala Bagian Pelayanan Medis rumah sakit X, untuk minta izin pulang. Dia atasanku. Tapi dokter itu tak meloloskan permintaanku begitu saja. Ia memintaku mencari dokter pengganti untuk berjaga.
Sesuatu hal yang mustahil dilakukan. Rumah dua dokter yang biasanya bertugas jaga malam jauh dari Rumah Sakit X. Satu orang di Surabaya, satu lagi di Jombang. Tak mungkin aku memaksa mereka datang menggantikanku dini hari begini.
Dokter A memintaku menghubungi Dokter Dian, salah satu dokter jaga rumah sakit X yang tinggal di Jombang. Namun ponselnya tak diangkat. Telpon rumahnya diblokir atas permintaan pelanggan
Aku lalu kembali menghubungi Dokter A. “Dok, Tidak bisa dihubungi.”
Dokter A berkeras. “Tak mungkin. Kan ada HP-nya. Telponkan rumahnya,” tukasnya.
“Tidak bisa, Dok.”
“Cari ganti teman-temanmu yang rumahnya dekat sana,” kata Dokter A.
Aku mencoba menahan diri. “Dok, daripada begitu, saya minta tolong agar digantikan salah satu dokter tetap yang rumahnya dekat sini.”
Suara Dokter A meninggi. “Tidak bisa. Prosedurnya tidak begitu.”
Tak mau berdebat, akhirnya aku menghubungi Titin, salah satu rekan sejawatku yang tinggal di Balung Bendo, Sidoarjo. Namun, bisa ditebak, ia menolak. “Aduh, suamiku sedang tidak ada di rumah. Lagian jam segini gimana caranya,” katanya mengingatkan, bahwa saat itu pukul satu dini hari.
Kesulitan Titin aku jelaskan kepada Dokter A. Tapi dokter itu tetap saja keras kepala. “Bilang ke dia, kalau hambatannya transportasi, akan dijemput dengan mobil rumah sakit,” katanya.
Aku meneruskan pesan ini ke Titin. Tapi dengan suara ragu, antara tidak enak untuk menolak dan enggan menerima, ia berujar: “Aduh, bagaimana ya Kik. Suamiku tidak ada di rumah.”
Aku memahami kesulitan Titin. Seorang perempuan dengan satu anak yang masih kecil, dan suami sedang tak ada di rumah, apa lagi yang bisa diharapkan darinya?
Aku lantas memutuskan untuk menghubungi Dokter A kembali. Tapi seperti kusangka, dokter itu masih bertahan dengan pendapatnya.
“Lho, tadi katanya hambatan kendaraan. Mau dijemput kok dia nggak mau,” katanya.
Aku tak tahu Dokter A ini benar-benar tidak mengerti atau pura-pura tak paham, bego atau pura-pura bloon. Tapi aku sudah jengkel sekali. Betapa berbelitnya birokrasi, ketika aku harus menanggung risiko keselamatan anakku dalam kandungan.
“Begini lho, Dok, saya tak perlu tahu alasan Titin kenapa tidak mau. Dia itu perempuan berkeluarga dengan anak satu dan suami sedang tidak di rumah.Itu yang penting, dan saya tak mau memaksa,” suaraku meninggi. Emosiku sudah sampai ubun-ubun. Birokrasi...birokrasi….birokrasi…
Dokter A lalu menyuruhku menghubungi Anggi, salah satu temanku yang dulu melama ke rumah sakit X. Tapi aku sontak menolak. “Dia sudah kerja di Rumah Sakit B. Kenapa bukan Pak Darus dan Bu Elis,” sahutku. Keduanya dokter tetap yang tinggal di Mojokerto.
Dokter A tak mau tahu. “Tidak, hubungi temanmu dulu.”
Tapi cukup satu kali menelpon, dan Anggi menolak. “Aku harus jaga pagi besok di Gatul,” katanya.
Dokter A tidak ambil pusing. Ia lantas menyuruhku tetap menghubungi Dokter Dian untuk menggantikanku berjaga. “Pokoknya bagaimanapun caranya, harus hubungi Pak Dian, sampai bisa,” katanya dingin, dan menutup telpon.
Aku berusaha meredakan kegeramanku. Aku meminta tolong kepada operator untuk terus menghubungi Dokter Dian. Aku akan menunggu hasilnya di kamar. Namun, setelah mencoba hampir satu jam, hasilnya nihil.
Aku lantas mengumpulkan semua perawat jaga. Aku meminta mereka menggantikanku sementara sebagai dokter. “Mas Hendra, sampeyan periksa pasiennya. Lihat gejalanya, lalu laporkan ke saya. Nanti kalau butuh resep, aku yang bikin,” kataku kepada salah satu perawat.
Dan, malam itu, aku tetap berjaga sembari menahan sakit hingga pukul tujuh pagi. Aku bersyukur para perawat mau menolongku. Setiap tidak ada pasien, mereka berkunjung ke kamarku untuk mengulurkan tangan, sembari mengumpati Dokter A yang dinilai tidak toleran dan punya rasa empati. “Padahal anaknya sudah empat. Dia kan juga dokter kandungan…”
Setelah itu aku mencoba beristirahat ditemani Mas Rifki yang datang ke rumah sakit X beberapa saat kemudian untuk menemani.
Pagi hari, Dokter Dian menelponku. “Ada apa sih kok telpon aku tadi malam,” tanyanya.
Lalu teman yang menerima telpon itu bercerita tentang kejadian semalam. “Kebacut Pak A ini. Bagaimana Bu Kiki? Tidak apa-apa kan? Syukurlah kalau begitu,” katanya.
DI LUAR RUANG OPERASI, ketegangan tampak di wajah-wajah anggota keluargaku. Bapak tampak tepekur di kursi kayu ruang lobi rumah sakit bersalin. Diam. Garis-garis di wajahnya yang keriput tampak menggurat lebih jelas dari hari-hari sebelumnya.
Mas Rifki, suamiku, tampak gelisah. Sesekali matanya menatap televisi di ruang lobi yang dihidupkan dengan volume rendah. Ada film India.
Di dalam kamar rawat inap yang biasa kutempati, Ibu berbincang dengan Mas Ryza. “Adikmu itu sebenarnya ingin melahirkan secara normal. Tapi ia kesakitan sekali, saat diberi OD. Akhirnya harus cesar. Tapi tidak apa-apa, toh ia sudah membuktikan berusaha lahir normal,” kata Ibu.
Usai bercakap dengan Mas Ryza, Ibu mengambil air wudhu. Ia hendak salat sunnah Dhuha. Salat Dhuha adalah salat yang dianjurkan di pagi hari sebelum Dhuhur. Tuhan berjanji mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya yang sembahyang di pagi hari.
Bu Apit menyusul masuk kamar. “Aku juga mau salat dulu,” katanya.
Tidak ada sajadah, akhirnya Bu Apit menggunakan koran sebagai alas salat. Ia berdiri di belakang Ibu yang mulai berdoa. Mengatupkan tangan, dan berbicara lirih. Memohon keselamatan untuk anak dan cucu pertamanya.
Setelah itu, Ibu mengambil sebuah buku surat Yasin. Ia lalu membacanya dengan suara yang tak terdengar. Begitu pelan. Bu Apit belum selesai salat. Mas Ryza sudah memutuskan untuk memotret momen-momen bahagia nantinya.
AKU TAK BISA MELIHAT apa yang dilakukan Dokter Vita. Mataku hanya bisa menatap langit-langit dan sorot lampu operasi yang benderang. Aku juga tidak bisa merasakannya, karena bius yang bekerja di tubuhku. Namun aku bisa menerka apa yang tengah dilakukannya. Aku pernah ikut melakukan operasi, mendampingi dokter yang lebih senior.
Aku akrab dengan suara gunting dan pisau operasi yang bekerja. Menyayat kulit. Memotong. Halus. Lembut. Penuh kehati-hatian. Operasi bedah tak ubahnya sebentuk seni di dunia kedokteran. Ia membutuhkan ketelatenan, kesabaran, keuletan, kecekatan, dan ketangkasan berpikir.
Operasi selain aman juga harus indah. Dokter Puruhito dalam salah satu tulisannya di Buku Ajar Ilmu Bedah menjelaskan, “tindakan membedah tidak seperti melakukan coretan atau sapuan pada lukisan oleh seorang pelukis; apa yang dihasilkan oleh pembedah merupakan produk yang tidak akan dapat dicoret, disapu, atau diulang kembali..Dia harus dapat melakukannya dengan penuh keyakinan pada diri sendiri.”
Bedah sesar sendiri dikenal sebagai seksio sesarea. Ini persalinan buatan untuk melahirkan janin melalui insisi pada dinding perut dan dinding rahim. Syaratnya, rahim dalam keadaan utuh dan berat janin di atas 500 gram.
Sebenarnya, seorang ibu yang melahirkan tak perlu dioperasi bedah atau dikenal sebagai bedah cesar. Jika normal, seorang ibu bisa melahirkan melalui vaginanya. Dengan dibantu kontraksi pada sang ibu dan janin serta dilicinkan dengan air ketuban, maka kelahiran bisa terjadi.
Namun, di dunia ini, tak semuanya berjalan sempurna. Ada film bagus, judulnya Jewel in The Palace yang bercerita tentang seorang dokter perempuan pertama dalam sejarah Korea: Seo Jang Geum. Saat itu abad 15, dan dunia kedokteran Korea yang dikuasai para pria tak mengenal tubuh manusia yang diiris. Apalagi oleh seorang wanita.
Namun Jang Geum melakukannya. Dalam gua tepi pantai, ia menemukan seorang perempuan hamil tua dan kesakitan. Bayinya akan lahir sungsang. Maka Jang Geum meminta izin kepada sang suami untuk membedah sesar perempuan itu. Ibu dan bayinya selamat.
Aku tak tahu sudah berapa lama operasi berjalan. Rasanya lama sekali. Sunyi. Bau antiseptik menyengat hidung. Aku merasa kedinginan. Tubuhku telanjang dan hanya ditutupi selimut.
“Dok, dada saya kok sesak,” kataku memecah kesunyian.
“Oh, tidak apa-apa. Memang begitu,” sahut Dokter Bambang.
“Saya mual, saya mau muntah,” aku merasa lemah.
“Tidak apa-apa,” Dokter Bambang berusaha meyakinkanku.
Aku tidak tahu apa yang menyebabkan ingin muntah. Belakangan aku ketahui, kawan-kawanku yang pernah dibedah sesar bahkan muntah di tengah operasi. Aku beruntung tidak separah itu.
Dalam sunyi aku berdoa: “Ya Allah, semoga anakku bisa lahir selamat dan dalam kondisi sehat tak kurang apapun. Biarkan ia hidup. Berilah aku kesempatan untuk melihat anakku…”
AKU MEMANGGILMU RAISYA. Mulanya pada usia awal kandunganku, aku memanggilmu Billy. Mas Rifki memang mengharapkan seorang bayi laki-laki.
“Lho, terus kalau bayinya perempuan bagaimana?” tanyaku.
Mas Rifki tidak menjawab. Aku minta dia mencari nama untuk bayi perempuan. Tapi, ia tak juga beranjak.
“Gampang. Nanti,” katanya.
Aku tidak memaksa. Mungkin ia masih berharap aku bakal melahirkan bayi laki-laki.
“Bagaimana kalau Billa?” kata Ibu dan Dik Pipit mengusulkan, pada suatu hari.
Nama yang bagus. Tapi aku belum memutuskan, sampai pada suatu hari di bulan Februari, Mas Rifki mengusulkan sebuah nama: Raisya. Artinya, gelar kebangsawanan. Dalam bahasa Arab, Rais artinya pemimpin. Mungkin kalau dalam bahasa Jawa Raisya setara dengan raden ayu. “Kelihatannya bagus,” katanya.
Memang bagus. Mas Rifki tampaknya sreg betul dengan nama itu. Ia senantiasa menyapa bayi dalam perutku dengan nama itu. Saat salin kirim pesan pendek via ponsel, ia juga menanyakan kabarku dan kabarmu yang ada dalam rahimku dengan sapaan Raisya.
Jadilah kami memanggilmu Raisya, nak.
Kami lalu melengkapi nama belakangmu: Paramesthi. Nama itu kami temukan, saat mencari buku nama-nama indah di Gramedia, sepuluh hari menjelang kelahiranmu. Paramesthi, artinya yang berdiri terdepan. Kamu memang anak pertamaku, anak terdepan. Kelak, aku berharap kamu juga menjadi pemimpin.
Setelah kamu lahir, kami menambahkan nama ‘Dyah’ sebagai nama tengah. Jadi nama lengkapmu: Raisya Dyah Paramesthi.
Aku menaburkan harapan di atas kepalamu, anakku. Oleh sebab itu, aku memilih untuk segera cuti 13 Februari, yang berarti lebih awal sebagaimana saran Dokter Sumadi beberapa hari setelah mengalami pendarahan. Aku langsung memutuskan istirahat total. Tidak ada yang lebih penting dari keselamatan Raisya.
Aku tak sabar menunggu kelahiran Raisya. Aku segera ingin tahu wajah anak manusia yang selama berbulan-bulan menendang-tendang di dalam rahimku.
“Insya Allah anakmu lahir Jumat ini,” sahut Ibu.
Aku tersenyum. “Kucatat ya, Bu. Bener atau tidak,” kataku.
Aku menuliskan di atas secarik kertas kecil: “21 Maret 06. Kata Ibu, insya Allah anakku lahir Jumat ini. Doakan ya… Amin.” Kertas itu aku tanda tangani.
Selama masa istirahat menjelang persalinan, kakiku membengkak. Gejala normal bagi perempuan hamil, meski harus tetap diwaspadai. Aku jadi lebih banyak tiduran, dan jarang berjalan-jalan. Aku lebih banyak di dalam rumah.
Satu-satunya yang menyenangkan adalah aku masih bisa memasak makanan enak-enak yang aku sukai. Aku selalu ingin mencoba resep baru. Bahan-bahan makanan apapun aku beli. Padahal, aku bukan tipe perempuan yang mencintai dapur. Kata orang, kegemaranku ini bawaan bayi. Bawaan Raisya.
Semuanya aku rasa baik-baik saja, hingga tanggal 23 Maret. Pagi itu, perutku kembung dan merasa ingin kentut. Ada Pipit di kamarku.
“Pit, awas aku mau ngentut.”
“Iih, nggilani iki,” sahutnya.
Tapi tiba-tiba cairan mengalir deras dari antara dua kakiku. Aku bingung. Ciaran itu mengalir tanpa aku mampu menahannya. Warnanya bening, agak kuning.
“Lho, Mbak. Kok keluar airnya,” kata Pipit.
Aku bertanya kepada Ibu. “Bu, aku nggak kebelet kencing. Tapi kok mengalir terus. Aku nggak bisa menahannya,” suaraku cemas.
“Ki, jangan-jangan ketubanmu pecah,” kata Ibu.
Aku tak merasa kesakitan. Aku mencoba berpikir tenang. Aku hapal prosedur kelahiran di luar kepala. Malam sebelumnya saat aku kontrol ke dokter, diperkirakan aku baru melahirkan tiga hari lagi atau tanggal 25 Maret. Obatku kemudian ditambah dosisnya dan aku diminta terus merangsang kontraksi rahim.
Namun belum lagi obatku kuminum, ketubanku pecah duluan. Aku heran, kenapa ketubanku pecah duluan.
Aku minta diantar ke Rumah Sakit Sayang Ibu. Namun, Bapak lebih suka aku diantar dengan taksi daripada diantar sendiri dengan mobil pribadi. Bapak takut panik. Dalam situasi begini, kepanikan mudah terjadi, karena dalam kondisi darurat, jalanan di Surabaya adalah hambatan. Kemacetan di mana-mana. Apalagi Sayang Ibu terletak di daerah pusat kota yang sibuk.
Aku mulai menjalani rawat inap di salah satu kamar. Dokter memutuskan untuk menginjeksikan oksitosin melalui selang infus, dikenal dengan Oxytocin Drip (OD), setelah sebelumnya mengobservasi selama 12 jam untuk melihat kemajuan persalinan.
Namun tidak ada kemajuan. Oksitosin diinjeksikan ke tubuhku untuk merangsang kontraksi di rahimku. Untuk mempermudah kelahiran. Seharusnya, obat ini diberikan dua kali melalui infus dalam jangka waktu 16 jam.
Tapi reaksi obat ini menyakitkan. Aku tidak kuat menahannya. Baru dua jam, aku sudah kesakitan sekali. Aku meraung tertahan menahan sakit yang sangat.
Mas Rifki tampak menangis melihatku kesakitan. “Lelaki macam apa Mas ini, membiarkan istri Mas kesakitan.”
Tak tahan melihatku kesakitan, Mas Rifki memutuskan agar aku melahirkan melalui jalan bedah sesar. Pemberian oksitosin lantas dihentikan, karena tidak ada perkembangan bahwa aku bisa melahirkan normal.
Aku merasa menyesal. “Maafkan aku, ya,” kataku. Mas Rifki tersenyum.
TELEVISI DI RUANG TUNGGU MASIH MENYIARKAN FILM INDIA. Ibu biasanya suka menonton film India. Kadang ia dan Mas Ryza berdebat kecil soal film Bollywood. Mas Ryza tidak senang menonton film India. Katanya, “Tidak mendidik, bikin orang tidak pintar.”
Menurut Mas Ryza, film India kadang tidak logis. “Sejak awal diceritakan bahwa tokohnya adalah manusia biasa. Tapi kenapa saat berkelahi, ia bisa membuat lawan terpelanting hingga bermeter-meter jaraknya, seperti orang sakti.”
Kalau sudah begitu, Ibu pasti bilang: ‘Yo wis, biarin.”
Namun pagi itu tidak ada perdebatan. Tidak ada yang memperhatikan film di televisi. Ibu baru keluar dari kamar rawat. Habis salat.
Mas Rifki mengambil buku Yasin. Ia lalu menjauh dari depan televisi dan mulai membaca. Mas Ryza mengambil fotonya beberapa kali. Hasilnya, gambar itu kabur. “Goyang,” kata Mas Ryza, singkat.
AKU BERUSAHA MENATAP DOKTER VITA. Namun gagal. Aku merasa perutku didorong.
“Dok, saya diapakan?”
Dokter Bambang menyahut, “Ini bayinya sedang dikeluarkan. Tidak apa-apa.”
Lalu, tangis itu memecah kesunyian. Tangis bayi yang lama kurindukan.
“Wah, gendhuk,” sahut Dokter Vita. Gendhuk adalah sebutan untuk anak perempuan.
“Bayinya perempuan,” tambah Dokter Bambang.
Aku tersenyum. Lemah. Tak bisa bergerak. Perasaaanku campur aduk…
PUKUL 08.40, SUARA TANGIS DARI KAMAR OPERASI membuat Arif dan Pipit terloncat dari tempat duduknya. Bapak pun bangkit. “Itu suaranya,” kata Mas Ryza.
Hati Ibu mencelos. Lega, seperti lepas dari tumpukan ribuan batu. “Alhamdulillah,” katanya.
Ibu lantas memanggil Mas Rifki. “Mas, bayinya sudah lahir,” katanya.
Mas Rifki menutup buku Yasin dan berjalan mendekati Ibu.
Mata Ibu tampak berkaca-kaca. Sebutir air mata menetes ke pipi kanannya. Pipit pun tampak menahan tangis. Mata Dik Arif memerah.
Film India masih berputar. Seorang perempuan menyanyi-nyanyi dengan bahasa Urdu. “Burung gagak hitam terbang tinggi…” Mas Ryza melihat sekilas teks terjemahan di layar kaca.
Bapak berjalan menuju kamar rawat inap. Ia langsung sujud syukur di sana. Bu Apit juga. Arif dan Pipit bersujud syukur di depan pintu kamar rawat inap. Pipit benar-benar menangis.
Semuanya nyaris tanpa kata-kata.
Bapak memeluk Ibu lama sekali. Keduanya menangis sunyi. Mencium pipi Ibu kiri dan kanan. Bapak juga memeluk dalam-dalam Mas Rifki yang sudah bisa tersenyum. Semua saling bersalaman dengan wajah lega. Mas Ryza menjepretkan kamera digitalnya berkali-kali.
“Itu suaranya keras sekali,” kata Ibu. Semua tertawa. Benar-benar lega.
Dokter Mia, seorang dokter spesialis anak, keluar dari ruang operasi. “Mana suaminya?”
Mas Rifki maju. “Ya, ada apa Dok?”
“Bayinya perempuan lahir sehat, sekarang sedang dibersihkan,” katanya.
“Bisa saya…” Mas Rifki mengangkat tangannya seperti orang menimang.
“Ya, bisa. Nanti setelah dibersihkan,” jawab Dokter Mia.
“Terima kasih, Dok,” kata Mas Rifki.
Ibu tampak sibuk mengirimkan pesan pendek ke sanak kerabat lainnya, memberitakan kelahiran Raisya. Ia juga menerima telpon beberapa kali. “Wah, besar ya beratnya hampir empat kilogram. Makanya sulit keluar,” kata Ibu.
AKU MELIHAT RAISYA DILARIKAN KE KAMAR SEBELAH. Beberapa saat kemudian, seorang perawat berkata dengan suara keras: “perempuan, 3,9 kilogram, 52 centimeter, lengkap.”
Aku merasa lega.
Lalu salah satu perawat membawa Raisya yang tubuhnya sudah dibungkus kepadaku. Diperlihatkan kepadaku. Tapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena belum berani bergerak.
Perawat itu kemudian menyentuhkan pipi Raisya ke bibirku. Dan, aku pun menangis.
Terima kasih, ya Allah.
Tubuhku lantas dibersihkan, dan dokter mulai menutup dengan jahitan. “Sudah, Bu, tinggal nutup,” kata Dokter Bambang.
Namun aku merasa ada rasa sakit yang mencubit-cubit di daerah perutku. Aku merasa seperti ada yang linu. Nyeri. Aku mengira Dokter Vita tinggal menyelesaikan jahitan luar ternyata. Ternyata, “Masih jahitan dalam,” katanya.
“Dok, kok kemeng ya,” kataku, dengan suara hati-hati.
“Tidak apa-apa. Tidur saja, ya, Bu,” sahut dokter anestesi.
Ia lalu memasukkan obat lewat infus. Aku pun merasa ngantuk sekali. Lalu tertidur.
Aku tidak tahu berapa lama tertidur. Tapi aku tiba-tiba bangun dengan rasa sakit yang semakin mencubit-cubit. Dokter Bambang lantas menginjeksikan kembali obat bius lewat infus, dan aku terlelap lagi.
RAISYA DIBAWA KELUAR RUANGAN dalam gendongan seorang perawat. Mas Rifki mendekat dan mengambilnya.Bapak dan Ibu berdiri di sampingnya. Dengan lirih dan hati-hati, suamiku itu lantas membacakan azan dan iqomah ke telinga kanan dan kiri Raisya.
Mata Raisya membuka dan mengerjap-kerjap. Sepertinya ia mengerti. Dik Arif terus menyorotkan handy cam-nya ke arah Mas Rifki.
Kami tertawa, saat tiba-tiba Raisya bersin. “Ha ha ha…” Gelak tawa menyambut bersin Raisya.
Perawat kemudian mengambil Raisya dari pelukan Mas Rifki. “Sudah mau dihangatkan dulu,” katanya. Ibu dan Bu Apit mengelus-elus pipi Raisya, sebelum dibawa berlalu ke lantai atas.
Ibu, Pipit, Mas Rifki, Bu Apit, Arif lalu menjenguk Raisya yang dimasukkan sejenis boks penghangat di lantai atas. Mbak Mus, bibiku istri Pak Bambang adik Ibu, yang datang belakangan bersama dua anaknya, Leli dan Putri, juga ikut menengok anak pertamaku itu.
Raisya sedang tertidur tenang. “Heeh, menggemaskan,” kata Bu Apit.
“Hidungnya nyeprok,” kata Ibu.
RASA SAKIT TAK BERPERI MENGGIGIT TUBUHKU SETELAH OPERASI. Mulanya aku tak begitu merasakan, saat dipindahkan dari ruang operasi ke kamar rawat inap dengan hanya ditutupi sepotong kain bermotif batik. Bius masih bekerja di tubuhku.
Seorang perawat berjilbab memasangkan sebuah infus di pergelangan tanganku. Mas Rifki mencium keningku di bawah kilatan blitz kamera digital Mas Ryza dan sorotan handycam Arif.
Aku tertawa tertahan mendengar cerita Ibu dan Mas Rifki bahwa Raisya bersin saat diazani. “Bersin, bau rokok Bapaknya,” kata Ibu.
Rasa sakit perlahan mencubit-cubit daerah perutku. Aku mendesis, dan mengeluarkan air mata. Menahan rasa sakit itu.
Aku tersenyum senang melihat seorang perawat membawa Raisya ke kamar. “Masya Allah, cantiknya,” kataku.
Sang perawat lalu menggendong dan menyorongkan bibir Raisya ke payudaraku, mencoba untuk disusui. Aku mengelus-elus ubun-ubunnya dengan jemariku. Namun, air susu tak juga keluar. Setelah beberapa saat, perawat memutuskan mengembalikan Raisya ke dalam boks dan di bawa ke kamar depan untuk disusui dengan botol.
Dan, rasa sakit itu mencubit kian keras, kian kuat. Aku menangis. Mengerang.
“Aduuh, Bu. Sakiiit, aku tidak tahan.”
“Aku mau dibius terus. Sakiittt. Ya Allah, sakit sekali.”
Bu Apit, Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku hanya terdiam. Kasihan. Tidak tega melihat aku kesakitan. Sangat.
“Iya, Ki. Iya. Sakitnya dipindahkan ke Ibu saja, ya,” kata Ibu, dengan nada dalam, menahan diri untuk tidak ikutan menangis.
Mas Rifki mengernyitkan dahi. Ia tak bisa berbuat apa-apa.
Dik Arif memanggil perawat. Saat perawat datang, Mas Rifki langsung menyemprot, “Ini bagaimana sih, Mbak?”
“Sudah saya beri penahan rasa sakit. Dobel malah. Mungkin belum bekerja. Baru setengah jam. Mbaknya tidak tahan sakit,” kata perawatnya, sembari memeriksa kondisiku.
Perawat itu lantas menawarkan untuk memberikan morfin, analgesik yang paling topcer. “Tapi saya konsultasikan dulu,” katanya. Namun dokter menyuruh paha kananku disuntik pethidin yang biasa digunakan di ruang operasi.
“Nggak apa-apa, nangis saja, biar nanti waras,” kata Ibu.
Aku terus-menerus beristighfar. “Kenapa sakitnya nggak ilang-ilang, Bu. Sakit ya, allah.”
Aku menderita, hingga kemudian rasa lelah meremasku. Mungkin biusnya bekerja. Mungkin aku capek menangis terus. Mungkin. Entahlah. Aku tertidur. Tertidur.
MATA RAISYA MENGERJAP-KERJAP, saat aku membacakannya dongeng dari sebuah buku cerita: fabel tentang sekumpulan binatang yang bersahabat. Sudah dua hari setelah aku pulang dari rumah sakit. Kini Raisya tidur di atas ranjangku di rumah Surabaya. Mendengar dongeng. Mas Rifki pulang pergi Jombang – Surabaya untuk bisa menengoknya, karena disibukkan oleh urusan pekerjaan.
Kondisi tubuhku masih lemah. Aku belum bisa menggendong anakku sendiri. Untuk mandi pun, Raisya dimandikan oleh Ibu, neneknya sendiri. Jika Raisya menangis karena mengompol, maka Pipit, Ibu, Mbak Heni, Bapak, Mas Ryza ikutan datang. Ikut menggoda, dan mengelus-elus kulitnya yang halus.
Air susuku belum keluar banyak. Beberapa kali aku mencoba menyusuinya sendiri dengan dibantu Ibu. Tapi air susuku sulit keluar, sehingga Raisya menangis keras. Mungkin ia marah. Ia baru diam, setelah diminumi susu dari botol.
Dongeng itu terus kubacakan di bawah temaram lampu bohlam di kamarku.
“Paman Ajah pelan-pelan mengambil kaleng berisi Emut dan sepotong roti dengan belalainya yang panjang…Apa yang terjadi kemudian? Mio dan kawan-kawannya langsung berteriak kegirangan. Emut masih hidup! Ia keluar sambil melambaikan tangan.”
Aku menguap. “Kok Ibu yang jadi ngantuk, ya Dik.”
Aku menengok ke arah Raisya. Matanya masih terbuka, tapi mengerjap-kerjap mau tertidur.
“Ayo, bobo yo, sama Ibu,” kataku.
Mataku sudah mengantuk. Raisya menjadi samar-samar. Aku lelah, dan kulihat Raisya samar-samar juga mulai tertidur. Selamat tidur, anakku sayang. (***)
Catatan:
Tulisan ini khusus saya buat untuk adinda tercita Dwi Rizky Wulandari (Kiki). Seorang dokter muda yang kelak bertekad membuka klinik di desa, setelah menjadi spesialis anak.
Tulisan naratif ini direkonstruksi dari pengalaman penulis saat menanti persalinan sasar Kiki, keterangan Kiki saat menjalani persalinan, dan pengalaman Kiki saat menjalani kehamilan usia tua. Saya menggunakan teknik yang dipakai Norman Mailer, yang memposisikan narator sebagai orang pertama.
02 December 2013
26 June 2011
Akhirnya Nanik Tak Lagi Sesak Napas
Selama belasan tahun Nanik Irianti mengabdikan hidupnya untuk membuat gula merah dari nira pohon kelapa. Selama itu pula, napasnya sesak tak karuan.
Gula merah tradisional memang menggunakan sulfit untuk lebih mencerahkan warna yang kehitaman karena proses produksi. Selain itu sulfitasi juga lebih memperpanjang usia simpan komoditas.
Padahal, penggunaan sulfit di atas ambang batas berbahaya bagi kesehatan. "Konsumsi berkepanjangan gula merah yang menggunakan sulfit bisa membuat ginjal terganggu, karena adanya tumpukan residu," kata Arief Wicaksono, Manajer Kebun Kalisepanjang PT Perkebunan Nusantara 12.
Sementara itu, bagi pekerja yang mengolah gula tersebut, sulfit menyebabkan sesak dan asma. "Dada saya sering sakit dulu. Saya kalau sudah sakit, sampai tiga hari tak bekerja," kata Nanik. Ia menunjuk penggunaan obat sulfit sebagai biangnya.
Nanik tak lagi sesak napas, setelah pengelola Kebun Kalisepanjang tak lagi menggunakan bahan sulfit dalam proses pembuatan gula merah. Saya bertemu dengan dia saat mengunjungi tempat produksi gula merah itu, Kamis (23/6/2011) lalu. Bau manis kelapa terhirup dari kepulan asap tumang berisi cairan kental coklat nira.
Sejumlah perempuan mengenakan baju kerja bertuliskan Indofood, perusahaan makanan dan minuman yang menjadi pasar gula merah PTPN 12. Anak-anak bermain dan menyaksikan ibu dan ayah mereka bekerja di sekitar tumang. Di sini terdapat 70 orang pekerja dan 46 tumang untuk pengolahan. Setiap hari, proses produksi memakan waktu 5 jam, dan selesai pada pukul 15.00.
Sepintas tidak ada perbedaan antara gula merah non-sulfit produksi Kebun Kalisepanjang dengan gula merah sulfit di pasaran. Arief menjelaskan, gula merah non-sulfit memiliki tekstur lebih lembut. "Rasanya manis khas gula kelapa," katanya. [wir]
26 January 2011
Tentang Julius dan Ibunya
Tunggu dulu. Dari mana sebaiknya saya memulai cerita tentang keluarga ini? Dari rasa dukanya? Saya tidak terlalu suka mengungkit duka dan tangis. Dan saya kira perempuan di hadapan saya ini juga sudah terlalu sering menangis. Suaranya parau kini.
Jadi, baiklah, saya akan memulainya dari sebuah lukisan Bunda Maria yang tengah menggendong bayi Yesus di dinding yang mulai kusam rumah keluarga ini. Lukisan itu, kata perempuan di hadapan saya (namanya Widyawati), dibuat oleh seorang kerabat. Maria melahirkan Yesus, merawatnya dalam keteguhan.
Gambar setangkup tangan yang berdoa tertempel di dinding sebelah pintu masuk, bertuliskan "Berkatilah rumah ini Ya Tuhan baik siang maupun malam". Mereka hanya menginginkan berkah, bukan harta kekayaan berlimpah. 'Berkatilah', karena kesialan atau keberuntungan hanyalah urusan bagaimana manusia memberikan makna.
Kesialankah? Keberuntungankah? Widyawati menikahi Sugeng Widharta, seorang awak bus. Ia melahirkan lima anak, dan pada usia 35 tahun, Sugeng terserang stroke. Widyawati menduga, suaminya terlalu banyak merokok dan tak banyak menjaga kesehatan. Kini Sugeng hanya bisa berjalan pelan.
Anak keempat mereka, Julius Bintang, terkena tumor otak. Ia lahir normal, sebenarnya, pada 17 Juli 1992. Ia tumbuh riang gembira di Sekolah Dasar Katolik Maria Fatimah Jember, hingga kemudian pusing dan mual sering menyergapnya saat usia sebelas tahun. Pandangan matanya kian kabur, dan berikutnya, ia hidup dalam gelap.
Julius menjalani hari-hari sekolah menengah pertamanya di sebuah sekolah luar biasa. Widyawati berjualan nasi campur untuk menambah pemasukan keluarga, selain ada kiriman dari anak-anaknya di luar kota. Sugeng sesekali membantu mengantarkan ke beberapa pembeli. "Sekalian membiasakan untuk berjalan," kata Widyawati.
Namun kondisi Julius memburuk. Syaraf kontrolnya kurang bekerja. Ia mudah lupa, dan rahangnya sering menganga sendiri. Sebelum tidur, ia memakai pampers, popok pencegah ngompol untuk bayi.
Pusing semakin sering menyergap kepalanya. Dokter menyarankan agar dilakukan operasi di kepalanya.Seorang suster Gereja Katolik Santo Yusuf, Paulin, memberikan bantuan, termasuk mengumpulkan sumbangan dari para donatur. Lima tahun silam, Paulin meninggal dunia setelah terserang stroke.
Empat kali operasi memang membuat kondisi Julius agak mendingan, namun tak sepenuhnya sembuh. Widyawati mengenang, anaknya itu pernah terjatuh saat masih bayi dan membuat kepalanya agak meneleng. Mungkin itu yang membuat gangguan di otak Julius.
Setelah lebaran lalu, Julius agak pikun, bahkan lupa terhadap ayahnya sendiri. Pertumbuhannya lambat. Seharusnya ia sudah lulus SMA, namun kini sama-sama kelas tiga SMP seperti adiknya. Julius menyayangi adik laki-lakinya. "Ini, Ma, uang untuk adik," katanya, suatu saat memberikan uang hasil berjualan kue dan mi di sekolahnya. Ia ingin adiknya dibelikan ikan untuk lauk makan.
Widyawati memutuskan untuk tak berjualan lagi dan merawat Julius dan suaminya. Ia mengandalkan kiriman uang dari anak-anaknya yang lain. Julius sejak sakit kepalanya makin parah sudah cuti sekolah. Kapasitas syarafnya menurun. "Dia sering blank," katanya, menyebut kondisi Julius yang sering lupa.
Lalu datanglah suatu hari di Januari 2011. Di rumah sakit di Surabaya untuk mengecek kondisi tubuhnya, Julius mengalami kejang-kejang dan pingsan di kamar mandi. Ia habis menjalani operasi kembali. Kondisi tubuhnya drop, namun sempat sadar dan makan enak.
"Ma, aku ingin pulang," kata Julius. Ia capek berada di rumah sakit. Ia ingin melanjutkan pendidikan di Malang menjadi seorang tukang pijat tuna netra. "Dia enak kalau memijat," kata Rahman, salah satu gurunya.
Widyawati menjaga Julius seorang diri. Ia tak berani mengajak Sugeng Widharta. Setelah terserang stroke, kondisi suaminya itu tak benar-benar sembuh.
Senin dinihari, 17 Januari lalu, Julius mengembuskan napas terakhir dalam tidurnya. "Saya sempat berpikir, bagaimana kalau saya meninggal duluan. Siapa yang akan merawat dia. Memang ada kakaknya, tapi kan tetap saja tidak sama kalau yang merawat ibunya sendiri. Ternyata, dia mendahului saya," kata Widyawati.
Mungkin berpikir buruk pun memang kita tidak boleh, kata dia.
Pemakaman Julius dihadiri banyak orang, lebih banyak dari yang diperkirakan Widyawati. Teman-teman komuni di gereja hadir semua. Teman-teman sekolahnya, juga para guru sekolah luar biasa. "Mungkin kalau saya yang mati, tak akan sebanyak ini," katanya. Hari itu suaranya parau, terlalu sering menangis.
Saya dan seorang kawan kembali mendatangi rumah Widyawati beberapa hari setelah pemakaman itu. Ada foto Julius di kala sehat di ruang tengah. Foto yang digunakan saat prosesi pemakaman. Ruang tamu rumahnya berantakan. Sunyi.
Widyawati baru saja tiba dari rumah ibunya. Nenek Julius, kata dia, kondisinya drop. Tekanan darah naik. Pembuluh di otaknya ada yang pecah, setelah mendengar sang cucu meninggal dunia.
Widyawati menangis lagi, dan kawan saya menyodorkan tisyu.
Kesialankah? Keberuntungankah? Saya selalu terpesona melihat bagaimana takdir bekerja. Widyawati tak menganggapnya nasib buruk. Lukisan Bunda Maria masih di sana, tertempel di dinding yang mulai kusam, juga sepotong doa: "Berkatilah rumah ini Ya Tuhan baik siang maupun malam". [wir]
22 October 2010
Nyala Lilin dan Botol Susu di Makam Yovan
Hujan turun deras saat saya bersama teman-teman wartawan tiba di rumah Edi Winoto dan Samiwati, di Dusun Kraton, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Jumat (22/10/2010).
Edi tersenyum melihat kami. Kantung mata Samiwati masih terlihat agak bengkak. Di lantai ruang tamu rumah itu, karpet merah dibentangkan. Dari sana, saya bisa melihat di atas meja rias yang tak memiliki kaca cermin, foto Yovan Piter Edi Putra diletakkan. Ada beberapa mainan mobil-mobilan, dan sebatang lilin yang menyala. Lilin itu hampir habis.
"Sejak tadi malam saya menyalakan lilinnya. Sudah habis tiga batang lilin," kata samiwati. Menurut kepercayaan lama yang didengar Samiwati, lilin itu untuk membantu menerangi jalan Yovan di alam baka.
"Saya sudah ikhlas. Sekarang anak saya sudah tenang di alam sana," Samiwati sempat seperti menahan sesuatu ketika mengucapkan itu.
Yovan memang pergi terlampau cepat. Lahir 9 maret 2007, bocah tampan itu mengembuskan napas terakhir di ranjang RS Daerah dr. Soebandi, Kamis (21/10/2010) siang. Tumor yang menggerogoti rongga perut membuat tubuh Yovan kurus kering, karena kekurangan gizi. Tumor itu pula yang menggangsir keceriaannya, hingga saat terakhir.
Tragedi Yovan adalah potret tentang betapa rumitnya birokrasi pelayanan kesehatan di Indonesia. Ayah Yovan, Edi, adalah seorang buruh kebun. Ibunya hanya perempuan desa biasa. Ia pernah bekerja di Arab Saudi selama dua tahun, dan uangnya digunakan untuk memperbaiki rumah ibunya yang saat ini ditinggali oleh keluarga kecil ini.
Sakit yang diderita Yovan saat Ramadan beberapa bulan lalu menghajar perekonomian keluarga ini. Usaha mi ayam Edi bangkrut. Keluarga ini menjual harta benda yang ada untuk menyembuhkan sang anak. Terakhir, Edi terpaksa mencuri 15 butir kelapa dari perkebunan tempatnya bekerja.
Petugas pos pelayanan terpadu sempat mengunjungi mereka, dan menyarankan Samiwati untuk membawa Yovan ke rumah sakit. Namun di sinilah masalahnya. Tiada jatah pengobatan gratis untuk Yovan, karena keluarga ini tak masuk kriteria keluarga miskin. petugas pendata langsung tak memasukkan mereka dalam daftar orang miskin, karena melihat rumah yang layak dibandingkan kriteria rumah warga miskin.
Edi trauma mengurusi tetek-bengek administrasi warga miskin. Apalagi, ia mendengar cibiran dari aparat publik yang melayaninya, bahwa usianya masih cukup muda untuk bekerja. Harga diri Edi terusik, dan ia memilih merawat Yovan di rumah. Yovan baru dibawa ke RS Daerah dr. Soebandi setelah mendapat jaminan dari anggota DPRD Jember. Dan di sanalah, keluarga itu berpisah dengan Yovan selama-lamanya.
Kepada Edi dan Samiwati, saya mewakili wartawan yang selama ini meliput kondisi Yovan, meminta maaf. Saya dan beberapa wartawan juga menyerahkan 25 kilogram beras dan uang tanda empati titipan dari Wakil Kepala Badan Urusan Logistik Jember, Subali Agung, yang terenyuh membaca berita tentang Yovan.
Saya sempat menanyakan nasib mainan-mainan Yovan. "Ya nanti tujuh hari (setelah kematian Yovan), mainan-mainan itu akan dibagi-bagi ke anak-anak kecil tetangga. Saya sendiri sudah pasrah kepada Yang Kuasa," kata samiwati.
Hujan masih turun deras, saat kami berpamitan pulang kepada Edi dan Samiwati. Kami sempat mampir ke makam Yovan yang hanya berjarak sepelemparan batu dari rumah mereka. Dan, di dekat batu nisan putih itu, saya melihat satu buah botol susu dan dot. [wir]
21 October 2010
Kisah Kemanusiaan
Yovan Meninggal Dunia
Yovan Piter Edi Putra, bocah yang mengalami gizi buruk karena terkena tumor di rongga perut, akhirnya meninggal dunia, Kamis (21/10/2010). Dia mengalami sesak napas.
Yudi Nugroho, Humas RS Daerah dr. Soebandi, mengatakan, Yovan mengalami sesak napas pada pukul 10.30. Pukul 12.30, bocah itu mengembuskan napas terakhir. "Saat masuk ke rumah sakit (Selasa, 19/10/2010), kondisinya selain kurang gizi juga ada tumor di perutnya," katanya. Dokter sudah melakukan perawatan dan melakukan penambahan darah.
Edi Winoto dan Samiwati, orang tua Yovan, tenggelam dalam hening. Hanya isak tangis terdengar pelan-pelan. Samiwati beberapa kali mencium dahi sang anak. Tubuh Yovan ditutupi selendang merah.
Yovan, lahir 9 Maret 2007. Ayahnya buruh kebun, ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Tubuh Yovan kurus kering dan perutnya membesar di luar kewajaran. Yovan sempat dibawa ke Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi. Namun karena pasangan Edi dan Samiwati tak punya uang, maka bocah itu dibawa pulang.
Samiwati mengatakan, sudah habis cukup banyak harta untuk menyembuhkan Yovan. Bahkan, sang ayah sempat mencuri 15 butir kelapa di perkebunan untuk pengobatan sang anak.
Namun, sejumlah anggota DPRD Jember yang bersimpati, meminta kepada Edi dan Samiwati agar membawa Yovan kembali ke rumah sakit. Bahkan, Yuli siap menjamin dan menelpon langsung pengelola RS dr. Soebandi.
Yovan memang kembali ke rumah sakit. Namun para dokter bukan Tuhan. Yovan pergi selama-lamanya, meninggalkan kenangan dan juga sebuah foto besar di dinding rumah keluarga miskin yang tinggal di Dusun Kraton, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo ini. [wir]
Kaskuser Jember Mulai Bergerak, Yovan Terlanjur Pergi
Yovan Piter Edi Putra pergi begitu cepat, tepat ketika orang banyak mulai peduli dengan nasibnya. Anggota forum diskusi Kaskus Regional Jember telah membuat gerakan Kaskus eRJe Peduli Cinta Kasih untuk Yovan.
Kepedulian Kaskus Regional Jember dipantik oleh Andhi Mahligai, seorang anggota Kaskus dari Jakarta yang memposkan berita dari beritajatim.com yang berjudul Buruh Kebun Itu Curi Kelapa Demi Anaknya, Selasa (19/10/2010).
Posting berita tersebut mendapat respons luar biasa dari para Kaskuser. Tak lama, para anggota Kaskus Regional Jember saling kontak dan melakukan rapat di Warung Prenk, Rabu malam (20/10/2010). Lima belas orang Kaskuser Jember sepakat untuk menggalang donasi buat Yovan.
"Kami sepakat membuat dua model donasi, yakni untuk Kaskuser dan masyarakat umum," kata Meilisa saptaning Tyastuti, salah satu Kaskuser Jember.
Kamis siang, Melisa dan Yuga Ferdoni, anggota Kaskus Regional Jember lainnya, ke RS Daerah dr. Soebandi untuk melakukan survei. "Kami ingin mengambil foto kondisi terbaru Yovan," kata Yuga.
Melisa terkejut ketika mengetahu kabar Yovan telah meninggal dunia. "Tadi kami sampai jam sepuluh pagi di rumah sakit," katanya.
Donasi awal sebenarnya sudah terkumpul sekitar Rp 100 ribu. Diperkirakan, Senin pekan depan, donasi yang terkumpul lebih banyak lagi untuk diberikan kepada keluarga Yovan. Namun takdir bicara lain. Yovan pergi sebelum tangan-tangan itu datang menolongnya.
Dengan kematian Yovan ini, Kaskuser Regional Jember mengubah tujuan donasi. "Nantinya hasil donasi akan kami berikan ke keluarga sebagai wujud rasa simpati atas kematian Yovan," kata Yuga.
Pengumpulan dana akan dilakukan mulai Kamis ini, dan kemungkinan besar akan diserahkan langsung ke pihak keluarga Senin mendatang. Jumlah Kaskuser Jember sendiri lumayan besar, sekitar 50 orang anggota.
Yovan, lahir 9 Maret 2007. Ayahnya buruh kebun, ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Tubuh Yovan kurus kering dan perutnya membesar di luar kewajaran. Yovan sempat dibawa ke Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi. Namun karena pasangan Edi dan Samiwati tak punya uang, maka bocah itu dibawa pulang.
Samiwati mengatakan, sudah habis cukup banyak harta untuk menyembuhkan Yovan. Bahkan, sang ayah sempat mencuri 15 butir kelapa di perkebunan untuk pengobatan sang anak.
Namun, sejumlah anggota DPRD Jember yang bersimpati, meminta kepada Edi dan Samiwati agar membawa Yovan kembali ke rumah sakit. Bahkan, Yuli siap menjamin dan menelpon langsung pengelola RS dr. Soebandi.
Yovan memang kembali ke rumah sakit. Namun para dokter bukan Tuhan. Yovan pergi selama-lamanya, meninggalkan kenangan dan juga sebuah foto besar di dinding rumah keluarga miskin yang tinggal di Dusun Kraton, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo ini. [wir]
20 October 2010
Kisah Kemanusiaan
Ada Tumor di Rongga Perut Anak Buruh Kebun Itu
Apa penyakit Yovan Piter Edi Putra, putra pasangan Edi dan Samiwati? Diagnosa dokter menunjukkan adanya tumor di rongga perut bocah berusia 3,5 tahun itu.
Yovan ditangani oleh dr. Ramzy Syamlan, seorang spesialis anak di RS Daerah dr. Soebandi, dan dirawat di ruang khusus anak-anak. Tumor itu sudah menjalar hingga liver. Inilah yang kemudian berdampak pada buruknya gizi sang anak.
Dr. Yuli Priyanto, Sekretaris Komisi D DPRD Jember yang memantau terus kondisi Yovan di rumah sakit, mengatakan, bocah itu terkena hepatomegati atau pembesaran hati, ditambah ascites atau perut yang berisi cairan.
Saat ini, RS dr. Soebandi mengambil langkah-langkah untuk mengembalikan kondisi dan status gizi Yovan. "Tadi kadar albuminnya bermasalah, sehingga sedang diupayakan mencari albumin. Tranfusi darah sudah siap kalau dibutuhkan," kata Yuli.
Yovan Piter Edi Putra, lahir 9 Maret 2007. Tubuhnya kurus kering dan perutnya membesar di luar kewajaran. Yovan sempat dibawa ke Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi. Namun karena orang tuanya tak punya uang, maka bocah itu dibawa pulang.
Samiwati mengatakan, sudah habis cukup banyak harta untuk menyembuhkan Yovan. Bahkan, sang ayah sempat mencuri kelapa di perkebunan untuk sang anak.
Namun, sejumlah anggota DPRD Jember yang bersimpati, meminta kepada Edi dan Samiwati agar membawa Yovan kembali ke rumah sakit. Bahkan, Yuli siap menjamin dan menelpon langsung pengelola RS dr. Soebandi. [wir]
19 October 2010
Kisah Kemanusiaan
Perut Yovan Melembung, Ortu Takut Masuk Rumah sakit
Orang tua Yovan Piter Edi Putra, Edi Winoto dan Samiwati, menemui anggota Komisi D DPRD Jember, Selasa (19/10/2010). Para anggota Dewan meminta Yovan segera dibawa ke rumah sakit.
Edi dan Samiwati ditemui Ketua Fraksi Partai keadilan Sejahtera Yuli Priyanto, Ketua Fraksi PDI Perjuangan Bukri, dan Ketua Fraksi Partai Demokrat Ayub Khan. Mereka terenyuh membaca nasib Yovan di media massa.
Yovan Piter Edi Putra, lahir 9 Maret 2007. Tubuhnya kurus kering dan perutnya membesar di luar kewajaran. Yovan sempat dibawa ke Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi. Namun karena pasangan Edi dan Samiwati tak punya uang, maka bocah itu dibawa pulang.
"Saya ngurusi kartu keterangan miskin sudah pusing," kata Edi. Ia tersinggung dengan pernyataan salah satu aparat kesehatan tingkat desa saat mengurus surat itu. "'Sampeyan kan masih muda'," kata Edi menirukan ucapan si aparat.
Padahal, keluarga ini tak memiliki apa-apa. Mereka tinggal di rumah ibu Samiwati. Usaha jual mi ayam yang dirintis Edi harus gulung tikar, karena harus berkonsentrasi merawat sang anak. Kini Edi bekerja sebagai buruh perkebunan.
Edi dan Samiwati mengaku trauma di rumah sakit. Sehari di rumah sakit, dua bulan lalu, Yovan terlihat tertekan, tak mau makan sama sekali. Kedua orang tuanya merasa iba. Selain itu, Samiwati merasa takut diperlakukan diskriminatif oleh pegawai rumah sakit karena tak punya uang.
Yuli, Ayub, dan Bukri meminta kepada Samiwati dan Edi agar tak memikirkan masalah biaya. "Kalau sampeyan punya kartu jamkesmas, mau ke rumah sakit? Jangan takut ke rumah sakit. Kalau alasannya jamkesmas belum punya, tidak usah dipikirkan," kata Yuli.
"Saya kira satu-satunya jalan adalah membawa Yovan ke rumah sakit. Kasihan," kata Ayub, dibenarkan Bukri.
Yuli mengatakan, pihaknya siap memfasilitasi keberangkatan Yovan ke Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi. Rumah sakit pun sudha siap menerima kembali. Pasalnya, pihak rumah sakit memang melarang Yovan dibawa pulang, karena diagnosa belum tuntas. "Komisi D siap membantu. Intinya, harus dibawa ke rumah sakit," katanya.
Edi dan Samiwati akhirnya setuju membawa Yovan ke rumah sakit. Hingga berita ini ditulis, bocah itu tengah berada dalam perjalanan dari rumahnya di Dusun Kraton, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo ke rumah sakit dr. Soebandi. [wir]
Mobil PKS Antarkan Balita Gizi Buruk ke RS
Yovan Piter Edi Putra, balita anak buruh kebun yang terkena gizi buruk dan diduga mengidap tuberkulosa paru itu, akhirnya kembali masuk ke RS Daerah dr. Soebandi, Selasa (19/10/2010) sore. Biaya siap ditanggung anggota DPRD Jember.
Yovan, lahir 9 Maret 2007. Tubuhnya kurus kering dan perutnya membesar di luar kewajaran. Yovan sempat dibawa ke Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi beberapa pekan lalu. Namun karena pasangan Edi dan Samiwati tak punya uang, maka bocah itu dibawa pulang.
Hari ini Yovan diantarkan dengan mobil layanan kesehatan milik Partai Keadilan Sejahtera. "Dia langsung masuk ke Intensive Care Unit (ICU), karena memang membutuhkan pertolongan segera," kata Sahroni, anggota Komisi D DPRD Jember dari Fraksi PKS.
Kepada petugas rumah sakit dan dokter yang menerima, Sahroni berpesan agar tidak membenani keluarga Edi Winoto dan Samiwati, warga Dusun Kraton, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo. "Hal-hal teknis pembiayaan jangan sampai mengganggu tindakan medis. Yang penting sekarang adalah menyelamatkan jiwa anak ini," katanya.
Masalah biaya akan ditanggung oleh DPRD Jember. "Komisi D dan Fraksi PKS siap menanggung biaya perawatan dan pengobatan," kata Sahroni. [wir]
19 March 2010
Wigand
Sepuntung rokok, sebuah fatwa: mana yang lebih memengaruhi hidup kita. Yang pertama bicara tentang hasrat; yang terakhir soal sebuah upaya penyampaian tafsir kebenaran, sebuah kelanjutan tradisi parrhesia. Dan, ketika keduanya harus dipertarungkan, maka kita teringat Jeffrey Wigand.
Wigand bukan pejabat politik yang banyak dikutip, artis yang banyak diperhatikan, atau pahlawan nan pemberani. Tapi, tulis Marie Brenner, dia adalah 'lelaki yang terlalu banyak tahu'. Dia hanya ditakdirkan sebagai seorang ayah yang bekerja keras agar istrinya bisa hidup layak, dan anaknya mendapat pendidikan dan pelayanan kesehatan yang baik, serta berdiam di sebuah rumah yang nyaman.
Dan, Wigand mendapatkan itu semua saat bekerja sebagai kepala riset dan pengembangan sebuah perusahaan rokok nomor tiga terbesar di Amerika Serikat: Brown and Williamson Tobacco Corporation (B&W). B&W juga menguasai British American Tobacco, sebuah konglomerasi yang menghasilkan laba miliaran dollar Amerika dalam setahun. Gaji Wigand di atas rata-rata orang Amerika: 300 ribu dollar setahun.
Wigand bahagia dengan hidupnya, namun nurani memiliki jalannya sendiri. Suatu kala, dia membaca The Journal of the Americal Medical Association: tiga juta anak muda Amerika Serikat yang belum lagi berusia 18 tahun telah menghabiskan satu miliar pak rokok, dan 26 juta kontainer snuff setiap tahun. Snuff adalah tembakau bubuk yang dikemas sedemikian rupa, sehingga berbentuk permen. Snuff dipasarkan untuk anak-anak, untuk memerluas pasar rokok sejak usia dini. "If you don't get them before they are 18 or 20, you never get them," kata Wigand.
Thomas Sandefur, bos B&W bersaksi di depan Kongres bersama enam perusahaan besat tembakau: "Saya percaya nikotin tidaklah bikin kecanduan." Perusahaannya mengendalikan level nikotin di sigaret, tapi itu hanya untuk memperbaiki cita rasanya.
Namun, Wigand terusik dengan laporan yang menyebutkan, rata-rata bocah Amerika mulai merokok pada usia 14 tahun. Ia selalu merasa pulang ke rumah dalam keadaan tak berkutik. "Anak saya akan berkata kepada saya, 'Hey, Ayah, apakah Ayah membunuh orang?' Saya tidak suka hal-hal yang saya lihat. Saya merasa kotor," kata Wigand, sebagaimana dikutip Brenner dalam artikel The Man Who Knew Too Much.
Maka, Wigand pun memilih untuk menjadi seorang parrhesias: mengambil risiko untuk dihukum, diasingkan, dan bahkan dibunuh, karena keberaniannya mengatakan sesuatu yang benar. Ia bocorkan kebusukan industri rokok tempatnya bekerja kepada seorang jurnalis investigatif, Lowell Bergman. Hidupnya pun berada di bawah ancaman: kehilangan pekerjaan, penyadapan, pembobolan, dan gugatan hukum yang bisa membangkrutkan.
Istrinya, Lucretia Wigand, ketakutan, dan tak bisa memahami: mengapa sang suami memilih menjadi martir melawan industri rokok. Ia marah, dan khawatir kehilangan klaim paket layanan kesehatan keluarga yang selama ini mereka nikmati. Mereka bertengkar hebat. Badai menghantam rumah tangga kecil itu. "Lucretia memukul punggungku dengan gantungan jaket yang terbuat dari kayu, dan berlari menaiki tangga masuk kamar," kata Wigand.
Wigand sebenarnya juga takut. Putus asa. Ia hanya orang biasa, bukan pahlawan. Apalagi ternyata media massa yang sempat diharapkannya membantu membongkar kebohongan industri rokok juga tersensor. Sepuluh tahun ia hidup di bawah tekanan. "Saya harus tetap melawan," katanya.
Menang? Kalah? Bukan soal. Hari ini, bisnis rokok tetap berjalan. Miliaran batang rokok tetap dikonsumsi, dan sebagian remaja yang belum cukup umur mengembuskan asap dari mulut dan hidung mereka. Hidup tak banyak berubah. Namun, mengubah dunia memang bukan tugas seorang parrhesias.
Mungkin, seperti halnya Socrates, orang-orang seperti Wigand hanyalah lalat-lalat pengganggu. Namun, lalat-lalat itu tetap dibutuhkan: untuk mengetahui bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dan dibersihkan dalam hidup kita. Bahwa hidup kita tidaklah turun dan tertata begitu saja dari langit, tapi berada dalam proses panjang dialog antar kepentingan manusia.
Saya kira, dalam konteks itulah, fatwa soal pengharaman rokok semestinya dipahami. Fatwa itu tidak akan pernah, dan tidak akan mungkin mematikan industri rokok. Namun setidaknya, seperti halnya Wigand, fatwa antirokok yang dikeluarkan Muhammadiyah adalah bagian dari ikhtiar bersama, agar kita tak selamanya berada dalam comfort zone (zona nyaman) yang bebas dari kritik. Apa yang kita punyai hari ini, harus senantiasa kita koreksi dan perbaiki terus-menerus: termasuk itu industri yang menyangkut putaran uang triliunan rupiah dan kesehatan ratusan juta warga negara yang membayar pajak. [wir]
Labels: Esai, Kesehatan, Obrolan Kota
04 January 2009
Bapak sudah Pulang ke Rumah
Bapakku sudah sehat lagi dan pulang ke rumah. Satu ring (cincin) yang disebut Tsunami Stand sudah terpasang di saluran darah menuju jantungnya. Saluran darah ini tersumbat oleh kerak, yang kemungkinan disebabkan oleh kebiasaan merokok yang sudah tak dilakukan lagi 20 tahun lalu.
Betapa berbahayanya rokok... (tak heran jika sebagian orang bersikeras melarang rokok).
Bapak pulang, dan disambut makanan kupang dari Mbak Mus. Enak sekali. Mbak Mus adalah istri adik kandung Ibu, Bambang Priambodo.
Ada banyak cerita dan fakta selama Bapakku dirawat di rumah sakit yang sebenarnya bagus untuk ditulis sebagai kritik bagi dunia kedokteran. Tapi aku menghormati keinginan Bapak agar tidak menuliskannya, demi kebaikan semua orang.
Tapi suatu saat aku tetap akan menuliskannya. Entah kapan. Bisa satu tahun lagi atau bahkan 20 tahun lagi. Selama aku masih hidup dan menjadi wartawan yang meliput pelayanan publik, aku akan tetap akan menuliskannya suatu saat kelak.
Karena aku yakin itulah fungsi jurnalisme: mengingatkan semua orang, apapun harga yang harus dibayar. Termasuk harga untuk diriku sendiri. Ini sesuatu prinsip, dan prinsip itulah yang dulu diajarkan ayahku: mengatakan apapun yang dianggap benar, walau itu pahit. (*)
29 December 2008
Bapak Masuk Rumah Sakit
Ayahku masuk rumah sakit. Minggu dinihari, Bapak mengalami kesakitan teramat sangat di dada. Napasnya sesak. Ia membangunkan Ibu. Bapak harus ke Instalasi Rawat darurat untuk diobservasi. Bahasa awam, jantung Bapak kekurangan pasokan oksigen. Ini bisa disebabkan karena pembuluh darah menuju jantung tersumbat.
Tidak ditemukan hasil negatif dalam pemeriksaan darah dan sebagainya. Bapak diizinkan pulang. Dalam perjalanan pulang, aku sempat menelponnya, dan ia tertawa-tawa. "Wong gak apa-apa begini, Lho," katanya.
Namun, Minggu malam, Bapak terserang rasa sakit yang lebih hebat lagi. Tak ada yang tahu Bapak kesakitan saat itu. Semua tidur. Adikku, Arif Budi Wicaksono, yang hendak salat Isya yang menemukan Bapak tengah kesakitan. Pipit, adikku yang bungsu, bilang, Bapak sempat tak sadarkan diri.
Bapak kembali harus masuk RSUD dr. Sutomo. Ada kemungkinan, ia mengalami penyakit jantung koroner.
Observasi tak menemukan apapun. Akhirnya, adikku, Kiki, yang juga seorang dokter, memutuskan Bapak masuk ke Graha Rawat Inap Utama (Griu). Kami takut Bapak mendadak anfaal lagi.
Bapak setahuku tak punya riwayat penyakit jantung. Tapi entahlah. Usia Bapak sudah 60 tahun pada 5 Desember 2008. Siapa yang tahu penyakit orang tua?
Aku, Heni, dan dua anak kami berangkat ke Surabaya Senin siang, 29 Desember. Selasa, 30 Desember, Bapak harus menjalani pemeriksaan lebih serius. Kiki mengatakan, ada kemungkinan dada Bapak harus dibelah. (*)
16 September 2008
Busung Lapar Habiskan Uang BLT Mereka...
Ruang rawat anak RSUD dr. Soebandi, Rabu (17/9/2008) siang. Susilowati duduk termenung. Anaknya yang baru 16 bulan, Angga Ferdiansyah, tertidur nyenyak dengan infus menancap. Angga adalah salah satu pasien gizi buruk yang dirawat di bulan puasa.
Mistarum, suami Susilowati, tak tampak batang hidungnya. "Dia lagi ngambil BLT (Bantuan Langsung Tunai)," kata perempuan warga kelurahan Jumerto kecamatan Patrang itu. Hari ini memang giliran warga miskin kecamatan Patrang yang mendapat jatah duit BLT Rp 300 ribu.
Susilowati tak terlalu bahagia menerima BLT. Berapapun duit yang diterima keluarga itu, bisa dipastikan bakal habis untuk keperluan penyembuhan sang anak. Angga sudah enam hari menginap di rumah sakit. Berat badannya hanya 6,3 kilogram.
"Dia tidak mau makan sejak kecil. Kalau makan harus dipaksa. Saya hanya menyusuinya," kata Susilowati.
Nasib Angga setali tiga uang dengan Mohammad Abdiansyah. Bocah berusia 5,5 tahun ini sudah dirawat di RSUD dr. Soebandi karena gizi buruk selama tiga hari. "Dia mencret-mencret. Kalau dikasih minum air dan makanan selalu muntah," kata Syaiful, sang ayah yang sehari-hari bekerja sebagai penarik becak.
Berat badan Abdiansyah hanya 10,4 kilogram. Saat saya datang bersama sejumlah wartawan, ia berada dalam pangkuan sang ibu, Suryani. Ia hanya diam menatap kamera televisi yang menyorot wajahnya. Kantung matanya cekung. Mulutnya terbuka.
Syaiful tak lagi berpikir bagaimana cara mereka merayakan lebaran. Persediaan uang seadanya sudah digunakan untuk kebutuhan sang anak selama di rumah sakit. Ia tak banyak berharap dari BLT. "Rp 300 ribu ya habis buat anak saya ini. Rencananya kalau anak saya tidak sakit, uang BLT buat lebaran. Sekarang apa adanya saja. Yang penting anak saya sembuh," katanya.
Syaiful masih bisa bersyukur, anak pertamanya Mohammad Ardiansyah tidak ikut sakit. "Dia kembarannya Abdi. Sekarang sama neneknya," katanya.
***
Tuberkulosis (TBC) memperparah kondisi gizi buruk yang diderita para bocah miskin. TBC biasanya dikarenakan faktor keturunan atau faktor lingkungan.
Demikian disampaikan dr Melisa Anggraeni, dokter anak RSUD dr. Soebandi Jember, Rabu (17/9/2008). "Sebagian besar menderita infeksi TBC dan ini mengurangi nafsu makan mereka. Selain itu, orang tua juga kurang telaten," kata Melisa.
Menurut Melisa, jika dalam sebuah keluarga ada yang mengidap TBC, otomatis sang anak akan rentang mengalami hal serupa. Namun untuk dua pasien yang saat ini dirawat di RSUD dr Soebandi, tidak ditemukan riwayat TBC dalam keluarga mereka. Jadi kemungkinan mereka tertular oleh lingkungan.
Daya tahan anak-anak memang belum bagus. Diperlukan perlindungan imunisasi dan air susu ibu. "Namun kesadaran masyarakat kita untuk mengimunisasi anak masih rendah. Akibatnya daya tahan saat terserang penyakit pun berkurang," kata dokter berwajah ayu ini.
Gizi buruk adalah penyakit yang biasa menimpa anak-anak dari keluarga miskin. Jumlah warga miskin di Jember versi Pemerintah Kabupaten mencapai 682.299 orang. Belum bisa diketahui berapa jumlah anak-anak warga miskin penderita gizi buruk sepanjang tahun ini. Pihak RSUD dr. Soebandi keberatan memberikan data jumlah penderita gizi buruk sepanjang tahun ini.
Dokter dan petugas yang berjaga di ruang anak cenderung tertutup. Entah kenapa, tidak seperti biasanya, wartawan dihambat persoalan birokratis untuk meliput pasien gizi buruk. Padahal, dalam beberapa kasus, pihak dokter RSUD bahkan antusias menerima kedatangan wartawan untuk meliput. (*)
09 August 2008
Pengkhianatan Kaum Dokter
Sejak lama, saya terpikat dengan narasi tentang dokter. Saya mengopi artikel-artikel naratif Atul Gawande, seorang dokter cum jurnalis, di situs majalah The New Yorker. Saya suka buku berjudul Dokter Berhati Malaikat karya Tracy Kidder, atau Blind Eye karya jurnalis James B. Stewart. Saya bercita-cita menulis tentang pengkhianatan kaum dokter.
Saya akui, judul ini terinspirasi judul buku Julien Benda: Pengkhiatan Kaum Cendekiawan. Saya katakan ‘pengkhianatan’, karena senyata-nyatanya apa yang dilakukan para dokter melawan sumpah Hipokrates.
Semua berawal, saat seorang kawan saya, sebutlah dia John, bercerita tentang pengalamannya sebagai medical representative perusahaan farmasi. John berpindah beberapa kali dari perusahaan farmasi satu ke perusahaan farmasi lainnya. Selama itu pula koceknya selalu tebal terisi.
Kepada saya, John bercerita, bagaimana dia ‘mencetak’ uang jutaan rupiah dari pekerjaan menjual obat-obatan mahal. Kliennya adalah para dokter. “Tapi aku merasa uang itu tak barokah,” katanya.
Tak barokah? Saya mengernyitkan dahi. Tak barokah berarti tak membawa berkah. Itu uang yang didapat dari kerja keras. Tapi tidak melalui jalan yang benar secara moral agama.
Para dokter diperlakukan bak raja. Permintaan mereka beragam, dari yang normal hingga yang aneh-aneh. “Ada kawan saya yang diminta untuk membersihkan mobil seorang dokter,” kata John. Ada dokter yang minta dibelikan mobil baru. Sebagian lainnya dibiayai untuk bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Yang terakhir ini biasanya dijanjikan untuk dokter-dokter muda atau dokter yang belum menempuh pendidikan spesialis.
Ada dokter yang dibiayai untuk dugem, bersenang-senang. Komplit, semua ditraktir oleh para pedagang obat itu: mulai dari biaya minuman hingga ongkos tidur dengan perempuan.
Namun, semuanya tak gratis. Semua tawaran dan perlakuan bak raja itu tak ubahnya perangkap bagi sang tabib. “Perusahaan farmasi akan memenuhi permintaan dokter-dokter itu, asalkan para dokter bersedia menjual obat-obat yang diproduksi perusahaan itu sesuai target,” kata John.
Salah satu kawan John, juga mantan representatif farmasi, mengatakan, pernah menyodorkan semacam surat perjanjian kepada seorang dokter yang bakal ditraktir dugem. Dokter itu harus mau menjual sekian dos obat merek tertentu, jika ingin hepi-hepi gratis.
Semua obat-obatan itu berharga mahal. Dan, di sinilah pengkhianatan itu terjadi. Mengikat perjanjian dengan perusahaan farmasi, tak ubahnya menjual jiwa kepada iblis demi kekayaan. Saya tak bermaksud mengatakan perusahaan farmasi adalah iblis. Tapi dari perselingkuhan sang tabib dan sang saudagar obat, masyarakat menjadi korban.
Karena terikat perjanjian itu, seorang dokter akan memberikan resep berisi merek-merek obat perusahaan farmasi tersebut untuk ditebus pasien di apotik. Harganya bisa membuat seorang pasien dengan uang pas-pasan berkeringat dingin. Padahal, jika mau jujur, bisa saja merek obat tersebut diganti dengan merek generik yang jauh lebih murah atau dengan merek obat lain.
Perusahaan farmasi memang mulanya mengeluarkan duit besar untuk merayu para dokter agar mau menjual obatnya. Namun, pada akhirnya, konsumenlah yang harus menanggung biaya itu. Ironis.
Mendengar penuturan John, saya teringat pengalaman berobat di dokter spesialis. Seingat saya, setiap kali memberikan resep, dokter-dokter itu tak pernah bertanya apakah saya ingin obat generik. Hanya ada satu dokter spesialis yang menanyakan itu. Dengan sukarela, ia akan memberikan resep obat generik saat saya meminta.
Seorang dokter, sebut saja Rini, membenarkan adanya perselingkuhan tersebut. Ia berkali-kali menolak beberapa representatif farmasi yang mencoba membujuknya dengan imbalan menggiurkan.
Seorang representatif penasaran dengan penolakan itu dan menanyakannya kepada Dokter Rini. “Ini duit nggak bener. Cara begini nggak bener. Saya tidak akan membuat perjanjian dengan Anda,” jawab Rini.
Menurut Rini, di luar negeri, seorang dokter bahkan tidak meresepkan obat yang bermacam-macam untuk pasiennya. Namun di Indonesia, masih ada dokter yang meresepkan obat yang tidak begitu dibutuhkan pasien dengan merek tertentu, atau yang sebenarnya bisa diganti dengan merek lain yang memiliki khasiat sama dan lebih murah.
“Peresepan itu sebenarnya sebuah seni,” kata Rini. Ia tak setuju jika kemudian itu membebani si sakit.
Seorang mantan pengelola apotik juga mengetahui permainan mata dokter dan pedagang farmasi. Ia tak segan mengganti merek obat dalam sebuat resep dengan merek lain yang lebih murah, namun dengan khasiat dan komposisi kandungan yang sama. Tidak ada komplain dari pasien.
“Aku berharap, anakku besok tidak jadi dokter,” kata John. Uang yang diperoleh para dokter dengan ‘membunuh pasien’ akan membuat hidup tak tenang.
Saya tak setuju, Selalu ada kemungkinan untuk menolak perselingkuhan itu. Toh, tanpa harus ‘menjual jiwa kepada pedagang farmasi’, para dokter akan tetap hidup dan dicari, karena di Indonesia, populasi kaum tabib memang terbatas.
Saya mencontohkan Rini.
Namun, John mengatakan, “Rini masih muda usia. Semoga saja dia tetap seperti itu. Tapi jika dia tetap seperti itu, dia tak akan kaya raya.”
Saya berdoa dan berharap John terlalu berlebihan dalam memandang seorang dokter. Saya selalu punya pandangan optimistis dan percaya, bahwa para dokter adalah kaum berhati mulia. Ibu saya pernah bilang, dokter adalah profesi yang komplit. “Dokter menolong orang dan mendapat pahala. Dokter juga bisa memperoleh bayaran yang layak dari profesinya,” demikian kira-kira ibu saya.
Namun, saya harus jujur mengatakan, kaya-raya adalah kata kunci untuk menjelaskan perselingkuhan tersebut. Motivasi kekayaan sudah terbentuk tanpa sadar sejak para dokter ini belajar di fakultas kedokteran. Sejak awal kuliah, mereka harus menanggung biaya tak murah. Di sebuah fakultas kedokteran sebuah perguruan tinggi negeri kelas medioker, ongkos masuk minim bisa Rp 10 juta.
Mereka rela mengeluarkan duit puluhan bahkan ratusan juta rupiah, karena memiliki harapan bakal mendapat duit berlipat sebagai gantinya saat bekerja menjadi dokter. Perselingkuhan yang mereka lakukan dengan saudagar obat adalah salah satu jalan untuk memperoleh kekayaan dan kejayaan.
Tingginya biaya pendidikan dokter juga membuat profesi dokter menjadi profesi untuk kelas sosial tertentu. Ini membuat feodalisme dengan gaya baru terbentuk. Hanya ‘para tuan tanah dan pemilik modal’ yang berpeluang besar menjadi aparat penjaga kesehatan rakyat seluruh negeri.
Jumlah dokter yang sedikit di Indonesia ini memungkinkan perselingkuhan terjadi. Jika mau diibaratkan dengan sedikit kasar, para dokter adalah para maesenas yang menguasai ribuan ekar tanah. ‘Tanah’ di sini adalah rakyat.
Lalu saya teringat Kuba dalam tulisan dua jurnalis Pantau, Coen Husein Pontoh dan Imam Shofwan. Tulisan mereka menyinggung dokter Kuba dan Fidel Castro yang menggratiskan pendidikan di seluruh Kuba, sehingga rakyat bisa menikmatinya tanpa harus dibatasi kelas sosial tertentu.
Pontoh menulis, bebas biaya pendidikan diberlakukan juga untuk sekolah yang menempa kemampuan profesional. Jumlah tenaga dokter per kapita Kuba tertinggi di dunia. Ada 130 ribu tenaga medis profesional, 25.845 tenaga dokter Kuba bekerja di 66 negara atas nama misi kemanusiaan. Melalui Latin American School of Medicine, rezim Castro memberikan beasiswa pendidikan kesehatan untuk kaum muda miskin di Amerika Latin, Afrika, dan Amerika Serikat.
Saya lantas membayangkan Che Guevara. Ernesto mengembara keliling Amerika Selatan. Ia dokter, lahir dari kalangan berpunya. Di atas sepeda motornya, ia melihat rakyat papa dan jelata butuh pertolongan. Ia menjadi tabib kehidupan.
Adakah dokter seperti itu? Rini pernah bercerita tentang sepasang suami istri dokter dengan mata berbinar-binar. Anak pasangan itu juga dokter brilian dan berkawan dengannya. Menurut Rini, sang dokter pria adalah orang penting yang turut membangun sebuah paviliun rumah sakit negeri.
Namun lihatlah rumahnya. “Ia tinggal di rumah sederhana di sebuah perkampungan yang sempit. Setiap hari istri dokter itu berangkat kerja dengan naik becak. Aku merasa di rumah jika bertemu dan bercakap-cakap dengan mereka.”
Apa yang menentramkan hati, dalam kebersahajaan sekalipun, agaknya memang pantas disebut rumah. Seperti apa yang dikatakan seorang staf Gedung Putih yang mengundurkan diri karena tak ingin terlibat skandal Presiden Richard Nixon. “Setidaknya ini rumah yang jujur.” Begitulah. (*)
01 March 2008
Derita Manusia Kutil asal Jember
Awalnya bercak merah seperti caplak. Namun hal itu mengubah hidup Yustinus Cokro Hadi Kusumo. Ia menjelma menjadi manusia kutil.
Sekujur tubuh Hadi, panggilan akrabnya, dipenuhi oleh bintil-bintil seperti kutil dalam berbagai ukuran. Kutil terbesar di bagian pinggang, menggelambir. Wajahnya juga penuh bintil, bahkan ada bintil yang membuat bibirnya sedikit menggelantung ke bawah.
"Tidak gatal, tidak sakit," kata Hadi, saat ditanya bagaimana rasanya jika kutil-kutil itu terpegang. Saya menemuinya di sebuah warung, tempat dia bekerja di jalan Letjen Suprapto III, Sabtu (1/3/2008).
Maria Sunarti, ibu Hadi, mengatakan anaknya lahir tanpa kutil. œNamun pada bagian pinggangnya ada semacam to (tanda merah). Waktu umurnya 13 tahun, dari situ tumbuh kutil, membesar. Lalu di bagian wajah dan badan lainnya juga muncul kutil, katanya.
Tidak cukup kutil. Di kepala bagian belakang terdapat semacam tumor yang membesar, yang sakit jika tersenggol. Tanda-tanda bakal munculnya tumor sudah terbaca sejak kecil. Tapi orang tua Hadi abai.
Sunarti pernah memeriksakan kondisi anak ketiganya itu ke mantri kesehatan. Ia disarankan membawa Hadi ke RSUD dr. Soebandi untuk dioperasi. Operasi itu tak butuh biaya, karena keluarga Hadi terkategori warga miskin.
Tapi ayah Hadi, Yosep Samian, menolak memberangkatkan sang anak ke RSUD. "Kata bapaknya, meski gratis, masa tidak pegang uang sama sekali," kata Sunarti.
Kutil di tubuhnya membuat kehidupan sosial pemuda kelahiran 1974 itu agak terganggu. Sebelum terkenal kutil pun, hidup Hadi sudah berbeda dengan anak seumurnya.
Selama enam tahun, ia menikmati bangku pendidikan dasar di sekolah luar biasa (SLB) di Malang, karena kesulitan untuk memahami sesuatu dengan baik.
Hadi jarang keluar rumah, pelesir ke tempat-tempat umum. Tempat yang paling sering ditujunya adalah gereja Santo Yusup. Itu pun setahun sekali, setiap perayaan natal.
Hadi mengaku tak pernah diejek siapapun. œTapi anak-anak kecil lari ketakutan kalau lihat saya, katanya.
Sunarti berharap dapat membawa Hadi ke RSUD untuk mengobati penyakitnya. Keluarga ini berharap perhatian dari pemerintah. [*]
25 July 2007
Kisah Satu Keluarga yang Tewas Terkena AIDS (1)
Hn Dikuburkan Dekat Sang Anak
Suasana lengang melingkupi sebuah rumah di dusun Karangsukun kelurahan Bintoro kecamatan Patrang, Rabu siang (25/7/2007). Tak ada tanda-tanda bahwa keluarga yang tinggal di rumah itu tengah berduka, setelah salah satu anggotanya meninggal dunia Senin lalu.
Beritajatim.com disambut oleh seorang perempuan tua bernama Siamah dan seorang lelaki muda yang memperkenalkan diri sebagai Rifai. “Saya kakak Hn. Kalau ini ibunya,” kata lelaki muda ini.
Rifai menjelaskan, bahwa sang adik meninggal setelah sempat sakit demam dan diare selama dua bulan. Ia tidak tahu persis penyakit apa yang menggerus tubuh ringkih Hn. Ia tidak membawa Hn ke rumah sakit.
“Tapi ada dokter yang ke sini. Namanya Pak Nengah. Kata Pak Nengah, adik saya sakit tipus,” kata Rifai. Ia sama sekali tidak menyebut bahwa Hn mengidap penyakit AIDS.
Hn lantas meninggal Senin siang (23/7/2007). Ia dimakamkan di sebuah pekuburan yang tak jauh dari rumahnya. Rifai mengatakan, bayi Hn bernama Us yang meninggal beberapa bulan setelah dilahirkan juga dikuburkan di sana.
Jumal, salah satu tetangga dekat Hn membenarkan, bahwa Hn hidup sebatang kara setelah sang suami berinisial No dan bayi perempuannya yang dipanggil Us meninggal beberapa tahun lalu.
“No meninggal di Situbondo. Dia tukang ojek. Saya tidak tahu dia pernah kerja di luar negeri. Tapi waktu meninggal, ada luka parah di lehernya,” kata Jumal.
Kepala Dinas Kesehatan Jember dr. Oolong Fajri Maulana mengatakan, gejala seseorang terkena AIDS memang seperti terkena tipus. “Suhu tubuh yang bersangkutan tinggi dan mengalami diare. Sepintas seperti sakit tipus. Tapi sebenarnya itu dikarenakan kekebalan tubuhnya menurun,” katanya. (*)
Labels: Kesehatan
Kisah Satu Keluarga yang Tewas Terkena AIDS (2)
Tetangga Buang Peralatan Makan Hn Seusai Kenduri
Nama Hn sebagai penderita AIDS ternyata cukup terkenal di wilayah Bintoro kecamatan Patrang. Kendati tidak mengucilkan, ternyata warga juga ada yang ketakutan dengan penyakit Hn.
Saat beritajatim.com menanyakan alamat Hn ke salah satu warga, dengan tanggap warga tersebut menjawab, “Oh, yang kena AIDS itu, ya? Di sana, Mas.”
Hafid, salah satu warga dusun Krajan mengatakan, nama Hn memang dikenal luas. Bahkan, nasib malang Hn pun sudah didengar warga. Namun ia terkejut saat diberitahu bahwa Hn telah meninggal Senin lalu. “Loh, masa? Saya baru tahu dari sampeyan,” katanya.
Menurut Hafid, Hn menikah dengan No, warga Situbondo, yang dikenal di Bali. No sendiri meninggal beberapa saat setelah menikah dengan Hn. Hn kemudian menikah dengan seseorang berinisial Shn, warga Bintoro juga.
Pihak keluarga menolak jika dikatakan Hn pernah ke Bali. “Kalau ke Kalimantan memang pernah. Ia bekerja di perkebunan selama tiga bulan. Tapi pulang lagi karena ibu saya kangen,” kata Rifai, kakak Hn.
Namun, Dinas Kesehatan Jember menerangkan bahwa Hn berkenalan dengan No di Bali. “No sempat bekerja di luar negeri sebagai TKI. Kemungkinan Hn tertular dari No,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jember dr. Oolong Fajri Maulana.
Sebenarnya Dinkes berusaha merahasiakan tentang kondisi Hn yang terkena AIDS. Namun, rahasia itu bocor juga. Warga sekitar curiga, karena Dinkes sempat membantu keluarga Hn dengan membangun fasilitas mandi cuci kakus (MCK).
Setelah ketahuan menderita AIDS, warga tidak mengucilkannya. Namun, menurut Hafid, warga juga sempat takut ketularan. “Namanya saja tidak mengerti, Mas. Bahkan ada tetangga yang langsung membuang piring, gelas, sendok yang telah dipakai Hn saat diundang di acara kenduri,” katanya.
Pengucilan terhadap penderita AIDS seperti Hn ini yang disesalkan Oolong Fajri Maulana. Penderita HIV AIDS tak perlu diperlakukan diskriminatif, karena penularan HIV/AIDS hanya melalui hubungan seksual berisiko, injeksi suntik, dan penularan dari ibu ke janin. (*)
Labels: Kesehatan
Kisah Satu Keluarga yang Tewas Terkena AIDS (3-Habis)
Keluarga Hn Tertutup terhadap Petugas Kesehatan
Tewasnya satu keluarga di Jember akibat AIDS adalah sebuah tragedi kemanusiaan. Dinas Kesehatan Jember tak bisa banyak membantu, karena keluarga Hn tertutup terhadap petugas kesehatan.
Kepala Humas Dinkes Jember Jumarlis mengatakan, begitu berhasil mengidentifikasi adanya HIV/AIDS pada tubuh Hn, pihaknya sudah mewanti-wanti agar perempuan itu dijaga betul.
“Hn tertutup, dan tidak mau melaporkan sakit apa. Tapi dia sudah masuk ke fase AIDS. Kondisi badannya kurus,” kata Jumarlis. Keluarga Hn telah ikut dimotivasi agar tidak terjadi penularan lebih lanjut.
Bukannya mendengarkan saran itu, Hn malah dibiarkan keluarganya merantau ke Kalimantan selama tiga bulan. Setelah masa perantauan itu, Dinkes kehilangan jejak. Perawatan rutin terhadap Hn pun terhenti.
“Kami bahkan tidak tahu persis kapan dia pulang ke rumah. Tahu-tahu sudah kritis dan meninggal,” kata Jumarlis saat ditemui beritajatim.com, Rabu (25/7/2007).
Kini, Dinkes berupaya melacak keberadaan suami kedua Hn. Menurut informasi yang dibenarkan oleh sang kakak Rifai, Hn sempat menikah kembali setelah ditinggal mati oleh sang suami No dan sang anak Us. Suami baru berinisial Shn ini adalah warga Bintoro juga.
Pernikahan Hn dengan Shn hanya bertahan setahun dan tidak dianugerahi anak. “Shn ternyata sudah punya istri. Hn tentu saja tidak mau dijadikan istri kedua,” kata Jumal, tetangga Hn.
Adakah kemungkinan Shn juga tertular HIV/AIDS? Ini yang masih menjadi tanda tanya. Namun, sebagai suami Hn, Shn tentu saja berisiko terkena melalui hubungan seksual. Jumarlis sendiri masih berupaya mencari Shn untuk diperiksakan di klinik Voluntary and Consulting Test). (*)
Labels: Kesehatan