Pacaran di Mata Avel
"Hiii.....bunda pacaran sama yanda" kata avel.
Kebetulan saya lagi dikamar sama suami, kami hanya senyum-senyum sambil mengeryitkan dahi....
"Lho, pacaran apa sih dek?" tanya saya.
"Pacaran itu bercinta."
"Haahhhh.."
"Lah, bercinta itu apa dek?"
"Bercinta itu ciuman," kata avel santai.
"Haaaahhhhh...."
Kami hanya bisa melongo mendengar jawaban Avel, sampai yandanya berbisik ke saya: "tau dari mana dia"
"Gak tau, dr film kartun mungkin"
Sungguh....gak pernah terlintas dibenak saya dan juga suami saya, si avel akan berkata seperti itu...masnya aja gak pernah berkata-kata seperti itu...
hmmmm, bahan renungan buat kami.....
Tulisan: Heni Agustini
21 March 2014
Labels: Keluarga, Pengalaman, Seksualitas
31 March 2013
MANIFESTO SAYA BUKAN ORANG PIKUN
(1) Saya bukan orang pikun, karena saya masih ingat bagaimana Persebaya didegradasikan paksa oleh PSSI pada kompetisi ISL 2010 dengan menghilangkan kesempatan klub ini bermain di babak play off
(2) Saya bukan orang pikun, karena saya masih ingat bagaimana NH membikin surat sakti untuk membentuk klub dadakan bin kloningan bernama Persebaya, setelah Persebaya yang asli memilih berlaga di LIga Primer Indonesia
(3) Saya bukan orang pikun, karena saya masih ingat bagaimana Persebaya made in NH ini diisi oleh pemain-pemain Persikubar Kutai Barat.
(4) Saya bukan orang pikun, karena saya masih ingat setelah Kongres PSSI Solo 2011, semua klub yang bermain di Liga Primer secara organisasi diakui dan diunifikasi dalam liga di bawah PSSI, dan Persebaya ada di dalamnya...
(5) Saya bukan orang pikun, karena saya masih ingat bahwa yang tercantum di website FIFA adalah Persebaya yang bermain di Liga Primer Indonesia dan bukan Divisi Utama Liga Super Indonesia
(6) Saya bukan orang pikun, karena saya masih ingat 27 ELEMEN BONEK SURABAYA DAN LUAR SURABAYA mengirimkan surat kepada Ketua Umum PSSI Johar Arifin untuk mencabut surat ketua umum PSSI NH yang mendirikan Persebaya tandingan.
(7) Saya bukan orang pikun, karena saya masih ingat bahwa setelah didegradasikan paksa, Persebaya kali ini coba dihapuskan paksa dari muka bumi Indonesia dengan kekuatan politik sepakbola dan bukan melalui cara-cara yang absah di lapangan hijau.
(8) Saya bukan orang pikun, karena masih jelas di pelupuk mata saya yang mulai berair saat mengetik manifesto ini, bahwa Persebaya yang hendak dihilangkan paksa itu adalah sebuah tim yang saya warisi kecintaannya dari ayah saya, dan saya dukung sejak saya masih kanak-kanak... Sebuah tim yang hari ini diperkuat oleh Andik Vermansyah, Mat Halil, Endra Pras, Taufik, Rendi, Evan Dimas, dan lain-lain
(9) Dan sekalipun kelak saya pikun, ingatan saya mungkin bisa dikalahkan, tapi hati saya akan selalu digerakkan untuk bisa memilih: mana persebaya yang sejati... karena nurani bagai cermin, dan dia tak akan pernah berdusta pada dirinya sendiri...
#Ditulis di Semarang, dalam kesendirian, 31 Maret 2013
PERSEBAYA ATAU TIDAK SAMA SEKALI...
Labels: Pengalaman, Sepakbola
29 June 2011
Kentang Madu, Bulan Madu yang Gagal,
dan Sebuah Rumah di Tahun 1927
Di ketinggian 1.550 meter di atas permukaan laut, rumah itu berdiri tegak sejak tahun 1927. Di tengah-tengah kebun Kalisat Jampit PT Perkebunan Nusantara 12, Desa Jampit Kecamatan Sempol, rumah ini dulu dihuni keluarga Belanda yang mengendalikan perkebunan kopi.
Bebatuan yang menyusun rumah itu masih asli. Lantainya terbuat dari kayu. Sebagian dindingnya demikian juga. Di depan rumah itu terhampar rerumputan dan taman bunga. Pohon cemara menjulang, dan sebuah pohon beringin berusia ratusan tahun tak terusik di sana. Gunung Raung terlihat dari sini.
Sejak tahun 1990, rumah itu disebut Guest House Jampit dan disewakan menjadi tempat peristirahatan bagi para wisatawan. Saya mengunjungi rumah itu Jumat pagi pekan lalu bersama beberapa jurnalis lainnya, dan disambut sebuah nyala api di perapian. Hangat di tengah udara dingin. Saat malam, suhu di sini bisa mencapai 3-6 derajat celcius.
Di meja, sudah tersedia dua teko kopi dan teh panas, dan segelas madu. Sebuah piring berisi kentang-kentang rebus yang belum terkupas dengan tekstur empuk. "Kentang madu adalah tradisi di sini. Madunya adalah madu kopi," kata Agus Supriadi, seorang pegawai PTPN 12 yang menemani para jurnalis.
Saya baru pertama kali menikmati kentang yang dicocolkan ke madu. Manis, lembut. "Thank you very much for the unforgettable welcoming. We loved guest house and also the potatoes with honey. No need to mention the coffee of course absolutely divinal," tulis pasangan Marlo Pereira dan Sara Wong, pasangan dari Lisbon Portugal, 10 Mei 2007, di buku kenangan para tamu.
Saya memuji manis madu kopi itu. "Madu ini tidak diproduksi masal, karena kelangkaan penting untuk wisata. Orang hanya mendapatkan madu ini jika berkunjung ke sini," kata Agus.
Saya mencium bau mi rebus. Tak lama, dari dapur, pelayan membawa nampan berisi beberapa piring mi rebus hangat.
Bagi sebagian orang, berkunjung ke rumah tua itu adalah untuk menyemai kenangan. Agus bercerita tentang Frans Aferleken, seorang warga Belanda, yang datang ke sana. Usianya sekitar 80 tahun, dan pernah tinggal di sana pada masa kecil. "Dia bercerita, di sini dulu ada semacam danau," katanya.
Pejabat dan pengusaha dari Jakarta menginap di sana untuk mencari ketenangan. Harga sewa Rp 2 juta per malam yang dipatok pengelola dinilai sangat murah. Mereka biasanya datang bersama keluarga besar. Rumah tersebut terdiri atas empat kamar dengan ranjang yang besar. Di sana mereka mengadakan pesta barbekyu.
Rumah besar ini juga menjadi tempat bulan madu bagi pasangan muda. "Dingin sekali. Bulan madunya gagal," tulis Asmy Utami, salah satu tamu, di buku kenangan. Saya tertawa membacanya.
Sebagian besar tamu menginginkan agar bentuk dan ornamen rumah itu dipertahankan, tidak dimodernisasi. Namun ada yang mengeluhkan gelapnya lampu di kamar mandi. Agus mengatakan, jika siang listrik memang dimatikan. "Jika malam, listrik di sini pakai genset," jelasnya.
Tamu juga mengeluhkan kondisi akses jalan menuju tempat itu yang rusak dan bergelombang. "Jalan masuk parah, penunjuk arah minim. Perlu ada fasilitas hiburan lain dan rute terdekat menuju gunung diperbaiki," tulis salah satu tamu.
Jalan dari Bondowoso menuju wilayah perkebunan memang rusak berat, saat melintasi wilayah perhutani. Perjalanan menjadi lambat, dan jarak Bondowoso hingga Jampit bisa memakan waktu tiga jam. Untuk soal ini, Agus tak bisa banyak berkomentar. Namun soal hiburan lain, ada perbedaan pendapat antara wisatawan asing dan lokal. Wisatawan asing cenderung lebih suka menikmati suasana.
"Ketika orang kita ingin ramai-ramai nonton televisi, wisatawan asing malah datang baca-baca sedikit, dan jam setengah sembilan malam masuk kamar," kata Agus. Pengelola tentu harus pandai-pandai berkompromi dengan permintaan yang berbeda-beda ini. [wir]
Labels: Pengalaman
16 January 2011
Antara Kalibaru dan Garahan dengan Kereta Mini
Neo, bocah berusia empat tahun itu, tertawa-tawa senang saat seekor ayam lari cepat-cepat menepi dari rel. Sementara itu, ibunya, Agustini, menjerit-jerit saat Argo Raung melewati jembatan dengan ketinggian puluhan meter dari atas rumah penduduk.
Ini hari yang menyenangkan. Langit mendung, namun tidak hujan. Agustini dan dua anaknya bersama beberapa wartawan menyusuri rel dari Stasiun Kalibaru Banyuwangi hingga Stasiun Garahan Jember dengan kereta Argo Raung. Ini sebuah kereta mini dengan kapasitas delapan penumpang.
Kereta ini sengaja didesain untuk perjalanan wisata transportasi. Awalnya, tahun 1995, PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 9 mengoperasikan kereta mini ini, setelah melihat tingginya minat turis mancanegara, khususnya Belanda. Mereka tertarik melihat perkebunan kopi Gunung Gumitir.
"Kami waktu itu lantas bekerjasama dengan Hotel Margo Utomo untuk menggelar one day tour sebagai bagian dari paket wisata," kata Burhan Sultoni, humas PT KAI Daop 9 Jember. PT KAI menyediakan dua unit kereta.
Jalur Kalibaru-Garahan memang potensial sebagai tempat wisata. Selama perjalanan yang memakan waktu kurang lebih satu jam ini, kereta melewati dua terowongan yang dibangun tahun 1910 dan 1923, masing-masing sepanjang 90 meter dan 790 meter. Kereta juga melewati tujuh jembatan, yang terpanjang 178 meter dan tertinggi dari permukaan tanah 43 meter.
Para wisatawan bisa meminta kereta berhenti di perkebunan kopi sekaligus melihat pengolahan biji kopi. "Kalau sedang musim kopi, bau kopi harum," kata Burhani.
Sepanjang perjalanan memang menyenangkan. Berukuran kecil, suara mesin kereta memang berisik. Getaran juga terasa. Untuk bercakap-cakap harus nyaris berteriak.
Namun, ukuran kereta yang kecil juga memungkinkan para penumpangnya lebih akrab dan bisa menikmati keindahan alam. Apalagi jalur Kalibaru-Garahan begitu menghijau. Indah. Segar.
"Kalau pas di atas jembatan yang tinggi, rasanya lebih menegangkan," kata Agustini. Beberapa kali, anaknya, Neo, juga melambaikan tangan, dan melihat beberapa orang melambaikan tangan pula, saat kereta lewat. Saat melewati terowongan nan gelap, Pak Paidi, sang masinis, beberapa kali membunyikan bel.
Para penumpang meminta kereta wisata berhenti, begitu keluar dari terowongan. Sejenak mereka berfoto bersama di depan kereta tersebut, atau dengan berlatar belakang terowongan. Tak semua jalur kereta api memiliki terowongan seperti itu. Jadi kapan lagi mau foto-fotoan?
Di masa jayanya, kereta wisata Argo Raung ini begitu diminati. Tahun 2001, Bali digoncang ledakan para teroris yang mengatasnamakan agama, dan mendadak masa kejayaan itu pun surut. Bisnis kereta wisata ini sempat vakum selama tiga tahun sejak tragedi bom itu. Hotel pun mulai menghilangkan paket kereta itu dari paket wisata hotel untuk mengurangi biaya.
Baru dua-tiga tahun belakangan ini, bisnis kereta wisata ini mulai menggeliat kembali. "Kami tidak punya jadwal tetap. Kalau ada satu keluarga yang ingin memesan, tinggal menghubungi pemasaran di kantor daop atau di stasiun-stasiun di wilayah Daop 9," kata Burhani, menyebut harga Rp 500 ribu untuk sewa satu kereta sekali pulang pergi dari Kalibaru ke Garahan. Promosi dilakukan lewat situs internet resmi milik PT KAI.
Stasiun Garahan. Perhentian terakhir. Salah satu penumpang kereta wisata bercerita, biasanya jika ada kereta api masuk ke stasiun ini, ada warga yang memberikan tanda dengan memukul tiang listrik keras-keras. Tak menunggu lama, pedagang-pedagang nasi pecel bermunculan menawarkan dagangannya kepada penumpang kereta.
Mungkin karena itu hari itu hanya kereta mini yang lewat, tak tampak ada pedagang nasi pecel. Beruntung ada seorang pedagang, dan ia bersedia mengambilkan nasi pecel dari rumahnya yang dekat stasiun. Perjalanan wisata hari itu diakhiri dengan menyantap nasi pecel Garahan yang terkenal pedasnya. [wir]
Labels: Keluarga, Pengalaman
25 March 2010
Wartawan Beritajatim.com Raih Piala Prapanca
Surabaya (beritajatim.com) - Portal berita online yang baru berusia empat tahun, Beritajatim.com, berhasil menempatkan salah satu wartawannya sebagai peraih penghargaan karya tulis jurnalisme Piala Prapanca. Ini pertama kali wartawan sebuah media online memenangkan penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Timur tersebut.
Penghargaan diberikan oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo kepada Oryza A. Wirawan, wartawan Beritajatim.com yang menempati wilayah liputan eks Karesidenan Besuki, dalam Resepsi Hari Pers Nasional dan HUT PWI, di Ballroom Hotel Shangri-La, Kamis (25/3/2010) malam.
Oryza menulis liputan mendalam berjudul Hikayat Bank Gakin: Bank Keluarga Miskin Bermodal Saling Percaya. Tulisan ini tentang Lembaga Keuangan Mikro Masyarakat (LKMM) yang dikembangkan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Jember. "LKMM ini disebut Bank Gakin, yang sedikit banyak mengadaptasi Grameen Bank Ahmad Yunus," katanya.
Nominator pemenang penghargaan antara lain: Achmad Supardi dan Arif Kurniawan dari Surabaya Post, M. Irfan dan Edy Jacub dari Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, serta Dzurriah Nisa dari Kabarbisnis.com.
Sementara itu, peraih penghargaan Piala Prapanca untuk karya foto adalah Suswantoro, fotografer Harian Surabaya Post. Ia memotret kerusuhan sepakbola dengan judul Nasib Pengadil yang Tidak Adil. Nominator penghargaan ini adalah Trisnadi (Harian Duta Masyarakat), Beki Subeki (Jawa Pos), Eric Siswanto (LKBN Antara), dan Dita Surendra (Jawa Pos). [kun]
Labels: Jurnalisme, Pengalaman, Peristiwa
05 August 2009
Setelah Banjir Datang…
Mengapa Anda butuh bank seperti BNI? Satu pertanyaan, banyak jawaban, tentu saja. Banyak motif untuk menabung ke BNI. Namun, bagi orang seperti Tutik, emak mertua saya, bank adalah ‘makhluk asing’ yang harus bisa menjawab satu hal mendasar: kepercayaan.
Tutik, perempuan sederhana. Sehari-hari dia menghidupi diri dan keluarganya dengan berdagang di sebuah toko kecil yang terletak di sebuah kampung tepi sungai, di Situbondo, Jawa Timur. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Oleh karena itu, ia enggan berurusan dengan birokrasi. Namun, ia mampu memahami angka-angka: sebuah kebutuhan fungsional untuk bertahan hidup.
Tutik mempercayai dirinya sendiri untuk mengurus bisnis kecil itu. Ia menyimpan semua uangnya di sebuah kotak di lemari pakaian. Ia tidak menyukai bank: urusan birokrasi rumit. Mungkin juga, ia merasa minder. Istri saya berusaha meyakinkan emaknya itu berkali-kali. Sampai suatu saat, kami yakin, bahwa emak menanti itu: kepercayaan.
Lalu, datanglah banjir itu. Suatu malam, 8 Februari 2008. Sungai yang berjarak selemparan batu dari rumah mertua saya bergolak. Kami semua melarikan diri menuju bukit terdekat. Ini banjir kedua terbesar di Situbondo, setelah enam tahun sebelumnya. Emak mertua saya menyelamatkan apa saja yang bisa dibawa. Kotak berisi uang diambilnya dari dalam lemari. Malam terasa panjang di pengungsian. Untunglah, air cepat surut, dan kami kembali ke kampung, ke rumah kami yang sudah dipenuhi lumpur.
Banjir bandang di Situbondo diakibatkan oleh gundulnya hutan di kabupaten tetangga, Bondowoso. Letak Bondowoso secara geografis lebih tinggi daripada Situbondo. Maka, aliran air dari hutan yang tak terserap oleh tanah akan meluncur ke sungai-sungai kecil yang semuanya mengarah ke Situbondo. Banjir Situbondo, wajah alam yang rusak.
Emak mertua saya pulang dari pengungsian dengan pandangan yang berubah. Uang simpanannya selamat, namun banjir masih bisa datang sewaktu-waktu. Entah besok, entah lusa, atau tahun depan. Selama hutan di Bondowoso dibiarkan hilang, maka ancaman banjir akan menjadi bagian dari hidup emak mertua saya itu hingga akhir hayat.
Dia membiarkan adik saya mengurus administrasi untuk menjadi nasabah BNI. Saya dan istri saya menyarankan dia untuk menjadi nasabah BNI saja, sama seperti kami. Emak saya, memang tidak tahu apa-apa soal bank. Dia hanya menitipkan pesan, tentang kepercayaan, sebuah bank yang bisa dipercaya, yang tak mudah runtuh dilibas krisis saya rasa. Uang emak saya mungkin tidak besar. Namun saya bisa membayangkan betapa berartinya uang hasil berdagang itu.
Jujur saja, sebenarnya saya sendiri tidak tahu persis, secara akademis, bagaimana sebuah bank bisa dipercaya. Apakah kapitalisasi pasar yang besar adalah acuan sebuah bank bisa dipercaya? Saya kira, BNI bukan yang terbesar. Kapitalisasi BNI Rp 26,9 triliun, masih kalah dibandingkan bank empat lain di Indonesia.
Apakah karena gebyar hadiahnya? Terus terang saja, bagi saya dan keluarga, hadiah dan bonus mobil tidak masuk dalam pertimbangan untuk menciptakan kepercayaan. Apalagi, BNI dalam urusan gebyar hadiah relatif ketinggalan dibandingkan bank-bank lainnya.
Saya hanya percaya: kepercayaan ada, ketika kita merasa aman. BNI memang punya sejarah terpuruk tahun 1999, saat krisis ekonomi. Namun, bank ini dalam jangka waktu 10 tahun sudah mampu pulih. Kedua, saya lebih mempercayai negara dalam mengurus uang saya, daripada pemodal asing. Saya tidak anti-asing. Namun, BNI menjadi salah satu bukti yang menginspirasi saya: bahwa orang Indonesia masih ada untuk mengurus dirinya sendiri. BNI, bank pertama pemerintah kita masih ada.
BNI memfokuskan pemberian kredit kepada sektor usaha kecil menengah, seperti usaha emak mertua saya (58 persen kredit untuk usaha kecil dibandingkan kredit korporasi). Tentu saja, saya berharap, kelak emak mertua saya itu tak hanya sekadar menjadi penyimpan uang. Saya berharap, ia bisa memperbesar usahanya.
Satu hal lagi yang mungkin sangat berarti bagi seorang yang selalu terancam bencana seperti emak mertua saya. BNI memiliki program Green Living. Pemberian satu pohon utnuk setiap nasabah griya BNI menunjukkan kepedulian sebuah bank terhadap persoalan lingkungan. Mungkin emak mertua saya tidak akan dalam waktu dekat menjadi nasabah kredit perumahan dari BNI. Namun setidaknya sebuah kepedulian menunjukkan bahwa semua kehidupan betul-betul berarti: termasuk sebatang pohon. (*)
Labels: Ekonomi, Keluarga, Pengalaman
01 April 2009
Tiga Tahun yang Lalu...
Saya masih ingat malam itu: 28 April 2006. Saya baru saja mendapat pesan pendek dari salah satu kawan. "Kamu ditunggu di Surabaya. Ada rapat dengan reporter seluruh Jatim di kantor."
Alamat kantor itu jelas: Jalan Ngagel Jaya Utara 170. Itu dekat sekolah saya saat kanak-kanak.
Saya berangkat dalam keadaan menggigil karena demam. Di Surabaya, pukul 23.30, saya tidak langsung beristirahat. Dengan kepala yang pusing, aku meluncur ke Ngagel. Sempat putar-putar mencari alamat itu.
Saya bersua dua orang kawan lama: Muhibudin Kamali dan Hari Tri Wasono. Saya lantas diperkenalkan kepada dua orang, Uglu dan Agus Supriyadi. Mereka berdua anggota dewan redaksi beritajatim.com.
Hari itu, saya berkenalan dengan beritajatim.com. Malam itu juga, saya menandatangani kontrak kerja di sana. Saya dipotret untuk pembuatan kartu identitas.
Sebagian awak Beritajatim.com adalah mantan anak-anak harian Surya dan Suara Indonesia. Di sana ada Teddy, mantan wartawan Surya yang dulu biasa ngepos di Polda Jatim, dan tiga kawan saya di Suara Indonesia.
Agus memberi penjelasan sedikit tentang media dotkom. "Nanti kita punya tiga deadline berita, jam 12.00, jam 16.00, dan jam 19.00. Kalau di lapangan ada kejadian menarik yang harus segera diberitakan, missed call saja aku. Nanti kutelpon balik, langsung report by phone," katanya.
"Kirimkan juga berita soal potensi daerah. Segmen kita berbeda, karena internet digunakan kalangan tertentu. Kriminal kecil-kecil nggak usah dikirim."
Sebelum pulang ke Jember, saya kongko-kongko di warung sebentar dengan Hari dan Muhibudin. Kami bicara soal prospek media massa. Soal Beritajatim.com, Hari pesimis bisa bertahan lama. Ramalannya masuk akal: di tengah budaya orang baca koran, seberapa lama sebuah media online yang bergantung semata-mata dari iklan bisa bertahan.
Saya tidak banyak menjawab ramalan Hari. Saya hanya bersyukur, saya bisa kembali bekerja sebagai jurnalis, menjelang kelahiran anak saya yang pertama. Tuhan memberi saya banyak jalan.
Pukul 02.30 dini hari. Saya pamit mundur. "Sampai jumpa lagi," kata saya kepada Hari dan Muhibudin. Lalu saya menghilang di kegelapan malam.
Saya masih ingat malam itu. Tiga tahun yang lalu. Kini, tak banyak yang berubah. Ada yang datang dan pergi. Sebagian besar yang masuk kantor ini bersama saya sudah pergi, berpindah kerja. Tak kembali. Ada wajah baru yang bergabung di kantor yang sederhana ini. Kantor itu tak lagi di Ngagel Jaya, tapi di Jalan Ciliwung.
Rabu pagi ini, 1 April 2009, di sebuah kantor yang sederhana di belakang Kebun Binatang Surabaya, saya tahu, bahwa sebuah ramalan tak selamanya benar. Seperti kata Denzel Washington dalam film Bone Collector: hanya kita sendiri yang bisa menulis cerita hidup kita. Tak lebih. [wir]
Labels: Esai, Jurnalisme, Pengalaman
09 March 2009
Ada Apa dengan beritajatim.com?
Setiap langkah selalu punya rehat. Tak harus kita terus berlari, karena kita butuh waktu untuk bercermin. Mematut-matut diri: mana yang pantas, mana yang tak pantas; mana yang elok, mana yang harus diperbaiki.
Itulah yang kami, keluarga besar beritajatim.com, lakukan selama dua hari ini, Minggu - Senin (8-9/3/2009). Pembaca, kami berlibur ke sebuah vila yang nyaman dan asri di lokasi wisata Songgoriti, di Kota Batu, Jawa Timur. Hampir seluruh reporter dan karyawan ikut serta dengan sukacita. Ada beberapa yang tak ikut, karena berhalangan. Sayang memang, walau tak menghilangkan semangat acara ini.
Sebenarnya kami mengalami dilema juga: menghabiskan waktu dua hari di Batu berarti kami tak akan maksimal menyajikan berita-berita dan informasi yang dinanti-nanti pembaca. Namun menjelang tiga tahun ulang tahun portal berita tercinta ini, rasanya tak salah jika kami harus berhenti sejenak. Tidak untuk bersantai, tapi justru untuk mengevaluasi diri selama ini.
Jadi, kami mohon maaf sebesar-besarnya kepada pembaca, jika selama Minggu dan Senin ini sajian berita dan informasi kami kurang maksimal. Namun percayalah, dua hari rehat justru mendatangkan semangat baru bagi kami untuk bekerja lebih baik, lebih keras, dan lebih baik lagi.
Kami menyadari, selama hampur tiga tahun 'bergentayangan' di dunia online, banyak sekali kekurangan yang harus selalu kami benahi dan kekuatan yang harus ditingkatkan. Beberapa di antaranya adalah masalah kecepatan, ketepatan, dan kelengkapan informasi yang dibutuhkan pembaca. Di sana-sini, beberapa kali, kami mungkin silap dan alpa. Kendati tidak ada malice intention (keinginan untuk melakukan pelecehan atau maksud tak baik), tapi tentu kami harus perbaiki.
Kami sadar, bisnis media massa adalah bisnis kepercayaan. Pembaca menitipkan kepercayaannya kepada sang messenger , sang pembawa pesan: wartawan itu sendiri. Maka, tentu sangatlah tak layak dan patut, jika kemudian kami menempuh tindakan yang justru mengingkari kepercayaan pembaca yang dititipkan kepada kami.
Ruang redaksi tentu bukanlah surga. Para wartawan tentu bukanlah para malaikat. Oleh sebab itu, diperlukan kritik dari para pembaca terhadap kerja-kerja kami. Percaya atau tidak, kritik dan pujian pembaca adalah salah satu yang membuat kami bertahan selama hampir tiga tahun ini.
Maka, dari sebuah vila yang asri di Kota Batu, untuk kepercayaan yang telah pembaca titipkan selama ini kepada beritajatim.com, kami ucapkan terima kasih. [wir/bj2]
Labels: Esai, Jurnalisme, Pengalaman
27 December 2008
Lima Tahun Pernikahan
Hari ini lima tahun pernikahan saya dengan Heni Agustini. Heni adalah adik kelas saya saat kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Usia kami terpaut empat tahun. Saya Jawa, dia Madura. Saya dibesarkan dalam kultur Islam modernis, dia dalam kultur Nahdliyyin.
Kata orang, lima tahun adalah fase pertama membuktikan cinta. Saya tidak tahu apakah pernyataan itu benar. Yang jelas, lima tahun pernikahan kami adalah lima tahun yang luar biasa. Kami banyak belajar menghadapi hidup bersama-sama.
Saya menikah, begitu Heni lulus kuliah. Saya sudah mengontrak rumah, namun saya belum punya cukup uang untuk merenovasinya, sehingga layak ditempati. Lalu April 2004, datanglah badai pertama dalam hidup kami.
Setelah sejak tahun 2002 meliput berita politik di Jember, saya dipindahkan ke Biro Bondowoso. Bondowoso sebuah kota kecil, 30 kilometer dari Jember. Sebuah kota yang tenang. Kota pensiun.
Banyak yang menganggap pemindahan ini adalah pembuangan. Itu benar. Saya dipindahkan setelah menulis berita tentang kontroversi penggunaan komputer dan sarana informasi teknologi milik Komisi Pemilihan Umum oleh Desk Pemilu Pemerintah Kabupaten Jember. Itu terungkap dalam rapat redaksi kilat yang dipimpin Andung Kurniawan, General Manager Radar Jember.
Di Bondowoso, karir saya tak berkembang. Bondowoso terlalu tenang. Pemindahan saya ke Bondowoso membuat semua rencana kami berantakan. Kami pernah hanya memiliki uang 5.000 perak di saku dalam sehari. Tapi kami bertahan, dan hidup bersama keluarga Suroso, pegawai iklan Radar Jember, yang tinggal di kantor Biro Radar Jember.
Puncak badai itu terjadi Juli 2004. Belum lagi sebulan aku merayakan resepsi pernikahan, saya sudah dipaksa hengkang dari Ahmad Yani 99. Karir pertama saya di dunia jurnalistik dibunuh dengan alasan aku tidak masuk kerja tanpa izin. Sebuah alasan yang dibuat-buat, karena izin cuti dengan alasan resepsi pernikahan, saya utarakan sendiri di hadapan Andung Kurniawan.
Saya keluar dengan uang gaji Rp 270 ribu. Tapi saya keluar dengan kepala tegak. Saya yakin orang-orang yang menzalimi saya akan menuai badai di kelak kemudian hari (pada akhirnya, Andung memang dilengserkan dari posisi GM Radar dan menjadi redaktur biasa di Radar Surabaya, dan beberapa pegawai Radar dikeluarkan dengan tidak hormat oleh Jawa Pos).
Saya tak punya pekerjaan. Kami tinggal di sebuah rumah kos, dengan kamar yang gelap. Suram. Rumah kami masih harus direnovasi. Selain menghabiskan uang tabungan, saya harus meminjam uang dari orang tua dan mertua.
Syukurlah, saya diterima menjadi wartawan di Harian Suara Indonesia yang dipimpin Dhimam Abror Djuraid. Saya dua tahun bekerja sebagai reporter di Jember, dan merasakan bagaimana sebuah koran yang menhdapai sakratul maut. Saya sempat tidak menerima gaji selama berbulan-bulan, karena koran ini dililit hutang di penerbitan.
April - Mei 2006, saya bekerja untuk dua media, Harian Jatim Mandiri dan Beritajatim.com. Inilah pertama kali saya merasakan bagaimana tahun-tahun awal sebuah media dotkom. Hingga saat ini, saya masih bertahan di Beritajatim. Namun saya diberhentikan dari Jatim Mandiri dengan alasan yang tak pernah diberikan secara resmi: tidak bisa mencari iklan.
Dulu, sewaktu masih belum memiliki anak, kami selalu berkhayal, dua anak kami akan bermain bersama-sama di alun-alun Jember. Kini kami dianugerahi dua anak, Neo dan Marvel. Mereka anugerah terindah dalam hidup kami. Hari-hari kami tak pernah sepi.
Lima tahun pernikahan, kami memang pernah bertengkar. Kami pernah berselisih paham. Tapi itu tak membuat kami terpisah. Pertengkaran dan perselisihan bukanlah penyebab kami harus saling berjarak.
Suatu pagi sebelum saya berangkat kerja, Heni mencium bibir saya: 'Terima kasih telah menjadi suami yang baik bagi seorang istri yang cerewet'. Saya rasa saya juga harus berterima kasih bagi lima tahun yang luar biasa kepada istri dan anak-anak saya. Saya belum bisaq memberikan banyak untuk mereka. (*)
Labels: Esai, Keluarga, Pengalaman
16 September 2008
Marvel di Rabu Pagi
Ketuban istriku pecah tengah malam, saat aku sedang bekerja meliput kisruh di KPUD Jember. Rabu pagi, putra keduaku lahir di hari dengan tanggal berangka cantik: 20-08-2008. Kuberi nama dia Muhammad Marvel Ardyansyah Hersey.
Selasa malam, 19 Agustus, pukul 20.50. Ketegangan mendadak menyergap kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah Jember, di jalan Kalimantan. Sekelompok orang yang beratribut Partai Kebangkitan Bangsa datang tanpa permisi.
Mereka berteriak. Ada yang menggebrak meja. Mereka bekerja ringkas, tangkas, merampas sejumlah berkas dokumen pencalonan legislator dari meja petugas penerima pendaftaran di lantai dua.
Aku ditelpon Hari Setiawan, wartawan Radar Jember, soal insiden tersebut. Segera saja aku meluncur secepat-cepatnya. Apalah daya, sepeda motor Yamaha merah bikinan tahun 1979 tak segesit sepeda motor baru. Aku menjadi wartawan pertama yang tiba di kantor KPUD, dan gerombolan itu sudah kembali ke kantor PKB Jember yang berjarak sekitar 500 meter.
Namun aku masih bisa mengumpulkan keterangan dari sejumlah narasumber dan meng-online-kan di Beritajatim.com, mendahului media lainnya. Ini letupan konflik internal PKB. Gerombolan itu merampas berkas pencalonan legislator yang disetorkan Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember yang didirikan Muhaimin Iskandar. Muhaimin tengah bertengkar dengan Gus Dur, dan ujungnya PKB terbelah.
Aku bertahan di kantor KPUD Jember, menulis beberapa angle berita, sebelum akhirnya keluar mencari warung nasi di Gladak Kembar bersama dua anggota KPUD Jember, Sudarisman dan Ketty Tri Setyorini, serta wartawan radio Elshinta dan Prosalina.
Sebelum kembali ke kantor KPUD, Sudarisman mengajakku ke stasiun untuk membeli tiket. Lalu telponku berdering. “Say, pulang dulu sebentar. Aku kok ngompol. Basah semua. Tapi kayaknya bukan air kencing,” kata Heni, istriku, dengan nada panik.
Aku langsung memperkirakan itu air ketuban. “Ya udah, tenang aja. Aku pulang bentar lagi,” kataku.
Perjalanan dari stasiun ke kantor KPUD serasa lama benar. Di luar kantor itu, polisi dan orang-orang yang aku kenali sebagai aktivis PKB. Mereka tidak tersenyum, kendati aku sapa. Ada yang tersenyum, walau agak terpaksa. Sebenarnya, bagus juga jika situasi itu ditulis sebagai berita. Namun aku tak ada waktu lagi.
Berangkat dari rumah ngebut, pulang pun ngebut. Setiba di rumah, aku bergegas masuk, dan melihat Heni berdiri di samping ranjang. Sebagian kain seprai sudah basah. Istriku bercerita mendadak dari vaginanya keluar air. Ia tidak bisa menahannya, seperti layaknya jika kita ingin menahan air kencing.
Lewat tengah malam. Istriku sudah mau melahirkan.
Kami ingin ke bidan Umi di jalan Jawa, di daerah kampus. Tapi rasa takut menyergap kami. Lagipula ini tengah malam. Aku berpikir, mungkin sebaiknya ke rumah sakit. Aku teringat Kiki yang dioperasi Cesar. Aku teringat proses lahirnya Neo, putra pertama kami, yang begitu sulit dan nyaris harus melalui operasi pula.
***
Muhammad Neo Ardyansyah Guerin, lahir 2 Juli 2006. Kelahirannya tidak diawali pecah ketuban di rumah. Tapi Heni kesakitan saat itu. Dini hari, rahimnya seperti diaduk dan ditonjok-tonjok. Ia menghabiskan malam dengan berjalan mondar-mandir di rumah sembari mengatur pernapasan. Aku menemani sembari nonton siaran langsung semifinal Piala Dunia di televisi. Kami menanti fajar, untuk kemudian berangkat ke bidan.
Bidan mengatakan, vagina Heni sudah memasuki fase pembukaan tiga. Namun karena istriku kesakitan, pagi itu juga kami segera ke rumah sakit dr. Subandi, sebuah rumah sakit milik negara. Bu Dartik, bibiku, mengantarkan kami dengan mobil pribadi.
Heni harus kesakitan selama belasan jam. Masuk Subandi pukul 7 pagi, Neo baru lahir pukul setengah delapan malam. Pada saat terakhir, aku pasrah jika istriku harus dioperasi cesar. Posisi kepala calon bayiku agak meneleng, sehingga kesulitan melewati gerbang gua garba.
Syukurlah, Tuhan menghendaki Neo lahir normal: dengan tanda lingkaran hitam tepat di bagian tengah dahinya. Aku merasa anakku sudah ditandai untuk masa depan. Entah ditandai untuk apa. Hari itu, aku berdoa tanda di dahinya adalah pertanda baik bagi masa depannya. “Anak ini presiden Republik Indonesia empat puluh tahun lagi,” kataku kepada Heni.
***
Pukul setengah satu dinihari. Aku tidak ingin Heni mengalami kesulitan lagi dalam proses persalinan. Aku menelpon taksi. Tapi rasanya taksi lambat sekali datang. Aku mengetuk pintu rumah Yakub Mulyono, wartawan harian Memo, yang bertetangga denganku.
Yakub menyalakan mobilnya. Neo yang masih terkantuk-kantuk aku gendong. Anakku itu baru melek sepenuhnya setelah melihat mobil Yakub dalam kantuknya. Ia cinta sekali dengan apapun yang disebut mobil. Setiap kali melihat mobil, baik di jalan raya atau di iklan yang terpampang di koran, ia selalu menunjuk dan berkata: ‘Obi’.
Aku memutuskan ke Rumah Sakit Bina Sehat, sebuah rumah sakit swasta di jalan Jayanegara. Sekitar dua ratus meter dari rumah, kami bertemu dengan taksi yang kami pesan, dan memutuskan untuk naik taksi itu saja ketimbang merepotkan Yakub lebih lama.
“Lewat mana, Pak?” kata sang sopir.
“Terserah, yang penting cepat dan aman,” jawabku.
Jember dinihari, jalanan lengang bak di sebuah kota mati. Taksi melaju kencang, begitu aku beri tahu bahwa istriku akan melahirkan. Tak butuh waktu lama, kami tiba di Bina Sehat.
Saat kami turun dari mobilnya, sopir taksi itu mengucapkan selamat. “Semoga berjalan lancar semua,” katanya.
Heni dibawa masuk ke ruang bersalin. “Sudah bukaan tiga,” kata salah satu perawat.
Aku baru sadar, bahwa kami tidak membawa barang apapun sebagaimana layaknya keluarga menghadapi persalinan. Neo pun memakai kaus kaki tanpa sendal atau sepatu. Agaknya Heni lupa memakaikan sepatu kepadanya.
Padahal, Heni sebenarnya sudah menyiapkan pakaian untuk bayi dan segala sesuatunya. Namun dia belum mengepaknya dalam tas. Kami tidak bersiap, karena Heni diperkirakan akan melahirkan 13 September mendatang. Tepat di bulan puasa.
Aku dan Neo duduk di atas lantai di luar ruang bersalin. Mulanya, Neo agak rewel dan memanggil bundanya. Ia ingin ikut masuk ke ruang bersalin. Neo baru agak tenang, setelah aku jelaskan kalau bundanya hendak melahirkan. Perhatian Neo tersita pada orang yang berlalu-lalang di depan ruang bersalin, dan tertegun saat mendengar suara tangis bayi.
Neo berusaha mengintip ke dalam ruang penitipan bayi melalui kaca. Aku menggendongnya agar bisa melihat lebih jelas. “Adik,” katanya.
Aku sempat masuk ke ruang bersalin dua kali untuk menemui Heni. Heni tampak agak takut. Tangannya sudah diinfus. Ia takut dioperasi.
Heni mencium dahi Neo, sebelum aku membawa anakku keluar ruangan. “Tolong hubungi Ibu, ya,” kata Heni.
“Besok pagi saja. Malam-malam begini Ibu ya sulit ke sini,” kataku.
Aku memesan kamar kelas III untuk Heni. Sebuah ranjang disiapkan di kamar C7. Aku mencoba menidurkan Neo. Aku usap-usap punggungnya hingga terlelap.
Aku ikut tertidur. Tidak nyenyak. Telingaku masih menyerap suara-suara di sekitarku. Atau mungkin itu suara dari mimpiku. Entahlah.
Aku terbangun beberapa kali. Aku lega Neo sudah tidur. Aku salat Isya sekitar pukul tiga dinihari. Lalu aku tidur sebentar kembali.
Di kamar C7 ada tiga ranjang. Dua ranjang sudah dipesan, dan satu ranjang tak berkain seprai. Di ranjang seberang ada seorang perempuan paruh baya baru masuk. Tubuhnya telanjang, hanya ditutupi kain jarik. Ia baru dioperasi cesar, begitu kata perempuan tua yang mendampinginya.
Bayinya perempuan, lahir tengah malam lewat beberapa menit. Belakangan aku mendengar, dokter menyebutnya bayi istimewa, karena lahir pada saat usia sang ibu tak loagi produktif, bahkan rentan. Aku jadi ingat adikku, Pipit, yang lahir saat umur Ibu tak lagi muda.
Fajar menyingsing. Perawat memintaku menyiapkan pakaian dan beberapa hal untuk menyambut kelahiran anakku yang kedua. Heni kian kesakitan. Aku membeli beberapa pakaian bayi di kantin rumah sakit. Sebenarnya kalau Ibu mertuaku sudah datang, aku bisa pulang ke rumah sebentar untuk mengambil pakaian untuk bayiku dan Heni.
Kiki menelpon menanyakan kondisi Heni. Ponsel aku berikan ke Heni. Entah apa yang mereka bicarakan. Sembari menahan rasa sakit, Heni hanya bilang, “Ya, dik. Gak papa. Doakan saja agar selamat.”
Saat ponsel beralih kepadaku barulah aku tahu kalau Kiki menangis. Ia minta maaf tidak bisa datang ke Jember untuk menjenguk dan mendampingi Heni. Belakangan dari Ibu aku tahu kalau Kiki merasa tidak enak. “Kamu dan Heni datang waktu Kiki melahirkan dan waktu Rara ulang tahun,” katanya.
Aku lupa pukul berapa. Heni sudah memasuki bukaan delapan. Ibu mertuaku datang bersama Dewi, adik Heni. Aku mohon pamit dan segera pulang bersama Dewi ke rumah untuk mengambil pakaian.
Aku minta bantuan Yeni, istri Yakub, untuk memilihkan pakaian dan tetek bengek yang dibutuhkan perempuan yang tengah melakukan persalinan. Butuh waktu setengah jam, dan saat aku kembali ke rumah sakit: anakku sudah lahir.
Alhamdulillah.
Laki-laki kecil itu lahir sekitar pukul 07.55, dengan berat 2.999 gram dan panjang 48 centimeter. Normal. Dia lahir normal.
Aku lega.
Aku minta waktu untuk membacakan azan dan qomat di telinga kanan dan kirinya. Tubuhnya lebih kecil daripada Neo waktu pertama lahir. Ia terpejam. Tidak seperti Neo yang memandang wajahku dengan matanya yang lebar itu saat aku membacakan panggilan kemenangan bagi umat Islam.
Butuh waktu dua jam sebelum Heni masuk ke kamarnya. Di ruang bersalin, Heni minta teh hangat. Wajahnya letih. Belakangan, ia bercerita, melahirkan Neo memang lebih sulit. Namun saat itu, kondisinya fit. Saat melahirkan anak kedua kami, kondisi Heni kurang fit, karena terkena diare selama dua hari.
Neo kelihatan girang mengetahui adiknya lahir. Entah apa dalam benak anak itu. Ia hanya tertawa senang.
Ruangan C7 sudah terisi lengkap: tiga perempuan yang baru melahirkan. Hanya istriku yang melahirkan melalui persalinan normal. Dua perempuan lain melalui persalinan bedah.
Siapa nama anak ini? Aku dan istriku berdiskusi lama. Aku ingin pokoknya ada nama wartawan di antara deretan namanya. Pilihanku adalah Hersey dan Ryszard Kapuscinski. John Hersey adalah reporter spesialis perang yang menulis untuk majalah The New Yorker, Life, dan Time. Karya terbesarnya berjudul Hiroshima dinobatkan sebagai karya jurnalisme terbaik abad ini.
Ryszard Kapuscinski adalah wartawan travelogue Polandia. Karya dahsyatnya berjudul Soccer War, bercerita tentang perang Honduras dan El Salvador yang dipicu pertandingan sepakbola kualifikasi Piala Dunia. Aku ingin mengambil nama Ryszard, tapi Heni menolak. “Mirip nama Irsyad, Icad,” katanya. Icad adalah nama panggilan anak tetanggaku.
Aku mengusulkan nama Dwi. Heni menolak.
Kami sebenarnya berharap memberi nama anak ini Ramadan karena diperkirakan lahir saat bulan suci itu. Tapi karena kelahirannya lebih cepat daripada perkiraan, batal sudah.
Akhirnya, aku mengusulkan nama Marvel. Marvel adalah kosakata bahasa Inggris, artinya: sesuatu yang sangat mengagumkan. Istriku setuju.
Jadilah kami memberinya nama: MUHAMMAD MARVEL ARDYANSYAH HERSEY.
Panggilannya: Avel.
Saat aku memberi kabar kepada keluargaku, rata-rata pertanyaannya adalah apa arti Marvel dan Hersey. Arif, adikku, tampak senang dengan nama Marvel. “Nanti anakmu aku panggil Kapten Marvel,” katanya.
Arif suka komik. Kapten Marvel adalah nama salah satu super hero, rekan Superman. Ia punya kekuatan sedahsyat Superman, berkostum merah, dan memiliki simbol lingkaran dengan petir di dada. Jika hendak mengubah diri dari manusia biasa menjadi manusia super, ia berkata: Shazam!
Neo tidak bisa bilang Avel. Ia selalu bilang: adik, atau Ave (huruf ‘e’ dibaca sama seperti ‘e’ pada kata ‘lemah’.
Arif mengirimkan SMS, memberitahu bahwa tanggal lahir anakku tak ubahnya nomor cantik. 20 Agustus 2008 sama dengan 20-08-2008.
Selamat datang, Marvel, anakku. (*)
Labels: Keluarga, Pengalaman
29 August 2008
Burung Besi Terbang dari Wirowongso
Jumat (29/8/2008) adalah hari bersejarah di Jember. Inilah hari perdana penerbangan komersial dari bandara Notohadinegoro. Untuk pertama kalinya saya bisa menikmati jalur transportasi Jember - Surabaya via angkasa. Naik pesawat tipe LET 410 buatan Cekoslowakia, perjalanan hanya butuh waktu setengah jam.
Bersama dua wartawan Radar Jember, seorang wartawan radio Prosalina, wartawan JTV, dan fotografer Kantor Berita Nasional Antara, saya memperoleh kesempatan mencicipi hari pertama penerbangan komersial bersama Kepala Dinas Perhubungan Sunarsono.
Penerbangan pertama dari Surabaya ke Jember pada pukul 07.30. Tidak ada penumpang bertiket. Hanya awak pesawat. Saya diberitahu ada penumpang dari Surabaya pada penerbangan pukul 10.30. Petugas tidak ada yang tahu nama penumpang pertama itu.
Ternyata, penumpang pertama itu adalah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jember Haryanto. Begitu keluar dari pesawat, ia tersenyum lebar. "Mana kalungan bunganya?" katanya kepada wartawan yang mendatanginya, tertawa.
"Saya baru dari Surabaya mengikuti pertemuan. Begitu tahu sekarang ada penerbangan komersial perdana, saya manfaatkan untuk pulang. Hanya 30 menit Jember - Surabaya," kata Haryanto.
Ditanya soal rasanya naik pesawat perintis, Haryanto membenarkan ada perbedaan dengan pesawat besar atau tipe boeing. Namun ia mengaku bisa menikmati perjalanan. "Saya beli tiket lho," katanya, menunjukkan tiket di tangannya," katanya.
Saya bersama kawan-kawan dijadwalkan berangkat pada pukul 11.45. Sebelum naik pesawat, antar sesama wartawan sudah saling sindir. Heru Putranto, fotografer Radar Jember, berkali-kali menyindir saya yang mulanya tidak hendak ikut. "Ayo, ikut saja. Aku nanti mau memfoto Semeru dari udara," katanya.
Sementara itu, reporter radio Prosalina Mochammad Dawud nyeletuk, "Sudah bikin surat wasiat?"
Gurauan ini ditirukan oleh Sunarsono ke wartawan lainnya. "Sudah kirim SMS wasiat belum," katanya, tersenyum-senyum.
Gurauan itu muncul karena melihat sosok pesawat LET 410 yang jauh lebih kecil dan ramping, jika dibandingkan pesawat jenis Boeing. Bagi orang yang terbiasa naik pesawat komersial jenis Boeing, pesawat kecil penerbangan perintis memang bikin bertanya-tanya.
Rauwolfie Yudianto, penumpang pertama yang berangkat bersama kami dari Notohadinegoro, juga mengatakan bahwa bagaimanapun kedua tipe berbeda. "Orang yang senang naik Boeing akan merasakan perbedaannya," katanya.
Namun berbeda bukan berarti tak aman. Co-pilot Bambang Ontoseno mengatakan dalam suatu kesempatan, bahwa pesawat LET 410 digunakan untuk penerbangan perintis di Papua. Ia menjelaskan, pesawat tersebut aman dan layak.
Apalagi, jika dilihat dari rute penerbangan, Jember - Surabaya tak seberat di Papua. "Landai saja. Lain dengan di Papua. Kalau di sana ancur-ancuran," katanya, usai penerbangan ujicoba bandara 13 Agustus lalu.
Di dalam pesawat, saya memilih duduk di deretan kursi ketiga dari depan. Jumlah penumpang sembilan orang di luar kru pesawat. Para wartawan diizinkan tidak meletakkan ransel yang dibawa di bagasi.
"Pesawat kita, karena penumpang istimewa, muter dulu keliling Jember, lalu langsung tembak ke Surabaya. Selamat menikmati penerbangan Jember - Surabaya," kata Wakijan, konsultan dari PT Aero Express.
Pukul 11.45, baling-baling pesawat mulai berputar. Mulanya pesawat berputar dulu dari ujung landasan sebelah utara, dan mendadak memacu kecepatan...melesat...up up and away. Pesawat mengangkasa, meninggalkan landasan pacu bandara Notohadinegoro di desa Wirowongso kecamatan Ajung.
Dan, bagi saya, seorang warga kota kecil seperti Jember, menyaksikan kota saya dari angkasa merupakan impian yang terwujud. Inilah wajah Jember dari udara. Sebuah kota dengan rumah-rumah yang terkepung hijau sawah. Gumuk atau bukit kecil di sana-sini. Sementara nun di sana, pegunungan Argopuro menjulang bersama awan.
Di tengah gemuruh mesin pesawat LET 410 yang saya tumpangi, perlahan saya bisa memetakan bahwa pembangunan di Jember memang masih terlampau terpusat di tengah kota.
Sebelum pesawat mengudara, tubuh saya lengket oleh keringat. Pesawat ini tanpa air conditioner (pendingin udara), sehingga terasa panas. Namun begitu sudah mengangkasa dan rumah-rumah di sana tinggal titik-titik kecil, panas tak terasa. Udara justru terasa sejuk dalam pesawat.
Begitu pesawat mengangkasa, Sunarsono yang duduk di kursi depan saya mengacungkan jempol. "Sip, jangan ndredeg (gemetar ketakutan)," katanya.
Sebelumnya, Sunarsono berkali-kali menyindir wartawan. "Kok pucat sampeyan, Mas," katanya kepada Badrus Yudosuseno, fotografer Antara.
"Dawud iki gayane, asline ndredeg (Dawud ini lagaknya saja berani, sesungguhnya takut)," kata Sunarsono kepada Mochammad Dawud.
Tapi sesungguhnya Sunarsono agak takut juga. Saat pesawat menerjang awan, terasa getaran seperti bus yang melewati jalan berlubang. Mungkin saya berlebihan. Tapi Dwi Satriyo, Avia Karya Manager, mengatakan: "Ini (anggap saja) seperti naik (bus) patas Pasuruan. Kan goyang-goyang."
Namun, Dwi meyakinkan bahwa ini aman-aman saja. "Pesawat besar juga guncang kalau nabrak awan. Awan kan mengandung butiran air. Jadi pesawat menyesuaikan diri," katanya.
Pesawat bergetar saat menerjang awan di atas gunung Semeru dan Bromo. Setelah keluar dari awan di kawasan itu, pesawat kembali tenang. Saat di bandara Juanda beberapa waktu kemudian, pilot Bambang Ontoseno mengatakan, dirinya hanya bisa berupaya menghindari awan yang tebal. Namun guncangan memang tak terelakkan.
"Pilotnya tenang, aku sing nggregres (saya yang khawatir)," kata Sunarsono. Ia sempat mencengkram kursi di depannya erat-erat, saat guncangan terasa. Kata seorang kawan, mulut Sunarsono komat-kamit, seperti mengucap doa.
Rauwolfie Yudianto mengatakan, baru pertama kali naik pesawat kecil seperti LET 410. "Ini kan tekanannya rendah, guncangan lebih keras, telinga agak sakit," katanya.
Yudianto sebelum berangkat berkali-kali menelpon seseorang via ponsel. Ia duduk tepat di belakang saya. Saya tidak tahu persis, mungkin ia menelpon kerabatnya. Berkali-kali, ia tertawa. "Penumpange aku tok, lainnya wartawan," katanya.
Yudianto tinggal di Jakarta. Ia ke Jember karena ada kepentingan keluarga. "Saya memang pernah mendengar ada rencana penerbangan Jember - Surabaya. Tapi belum ada realisasi," katamua.
Mulanya, Jumat ini, ia berencana ke Surabaya naik bus patas atau kereta api. "Saya sudah beli tiket Surabaya - Jakarta untuk jadwal jam tiga sore. Begitu tahu dari koran kalau hari ini penerbangan komersial perdana, saya langsung memilih naik pesawat," katan Yudianto.
Yudianto mengaku lebih senang naik pesawat karena waktu perjalanan lebih singkat. Jika naik kereta api, Jember - Surabaya butuh waktu empat jam.
"Saya belum pernah naik pesawat kecil, tadi agak kurang pede (pecaya diri) juga," kata Yudianto. Namun, ia tak kapok.
Soal harga tiket Rp 300 ribu, Yudianto tidak berani berkomentar. "Saya yakin harga itu sudah dihitung benar," kata pria yang mengaku bekerja di sektor swasta ini.
Saya sendiri, jujur saja, banyak berdoa saat naik pesawat ini. Perut saya mual saat pesawat mulai terguncang. Lubang telinga saya terasa mampat, penuh oleh udara. Saya berdoa bukan takut pesawat jatuh, karena saya percaya pesawat ini tak akan jatuh. Saya hanya berdoa tidak muntah.
Nasib saya lebih bagus daripada Heru Putranto. Setelah memfoto Semeru, ia muntah-muntah. Wajahnya pucat, dan akhirnya memilih memejamkan mata hingga pesawat mendarat di bandara Juanda. Semangatnya untuk bikin foto bagus mendadak hilang entah ke mana.
"Aku habis makan mi kuah tadi. Coba aku tidak makan mi," katanya, menggerutu.
Rasanya tak lama perjalanan ini, lalu saya melihat laut. Selat Madura. Sunarsono pernah mengatakan, lega kalau sudah melihat laut. Tandanya pesawat tak lama lagi akan mendarat.
Pukul Sekitar pukul 12.25, pesawat mendarat di bandara internasional Juanda. Kami tidak bisa ke mana-mana dan hanya menanti di sekitar LET 410, sembari tidur-tiduran di bawah bayang-bayang bentangan sayap pesawat. Bukan apa-apa. Kalau pun kami hendak keluar bandara, kami mau ke mana. Toh, ini penerbangan promosi.
Di Juanda, kami dihampiri dua cewek dan satu cowok agak gemuk. Mereka mengaku reporter Arek TV. Kami berkenalan, berbincang-bincang. Sunarsono sempat diwawancarai dengan latar belakang pesawat, tepat di bagian logo Pemerintah Kabupaten Jember.
Tak ada kegiatan yang lebih menyenangkan di Juanda ketimbang 'menguliti' Heru Putranto. Muntah di pesawat sama sekali tidak gagah. Diejek habis-habisan, ia hanya bisa pasrah dan mengumpat-umpat khas anak Surabaya.
Belakangan, ia mengumpati saya beberapa kali, karena gara-gara berita yang online di beritajatim.com, Pemimpin Redaksi Radar Jember menertawakannya. Saya memang melaporkan penerbangan komersial perdana ini via ponsel ke redaksi tempat saya bekerja.
Pukul 13.40, burung besi Ceko itu meluncur kembali ke angkasa. Tiga reporter Arek TV ikut bersama kami. Begitu juga seorang perempuan cantik, petugas dari maskapai Tri MG.
Kru Arek TV, sebuah televisi lokal di Surabaya, mengambil gambar pilot dan penumpang yang kali ini lebih rileks. Tak lagi tegang.
Heru Putranto tak lagi mabuk udara. Ia sempat memejamkan mata sejenak. Namun, terbangun saat Badrus, fotografer Antara, mengatakan, "Her, Semeru." Kawan-kawan saya itu memang terobsesi benar mengabadikan gunung Semeru, sebuah gunung dengan ketinggian 3.676 meter.
Puncak Semeru dari angkasa tak ubahnya negeri di atas awan. Jika beruntung, cuaca cerah, penumpang pesawat bisa menyaksikan puncak gunung tertinggi di Jawa itu, lengkap dengan kepulan asapnya. Dari udara, puncak gunung itu dikelilingi awan putih, bak di surga.
Tidak bisa tidak. Pemandangan Semeru dari angkasa adalah bonus bagi penumpang pesawat rute Jember - Surabaya.
Penerbangan terasa nyaman. Saat melewati Semeru, pesawat kembali menerjang awan. Ada guncangan tapi tak sekeras waktu perjalanan Jember menuju Surabaya. Perut saya tak terlampau diaduk-aduk. Tapi telinga masih terasa mampat dan bising.
Dwi Satriyo mengatakan, ada cara mudah untuk tidak mabuk saat naik pesawat kecil: pilih tempat duduk penumpang di deretan depan. Guncangan lebih terasa di deretan belakang daripada deretan depan.
Tapi jika sudah kehabisan tempat di deretan depan, ada cara lain lagi. "Coba bawa minuman manis, seperti teh kotak. Kalau sudah terasa mual, diseruput saja," kata Dwi.
Kalau kuping terasa mampat? "Tinggal tekan hidung, keluarkan nafas lewat mulut," katanya.
Kru Arek TV mewawancarai Mochammad Dawud, soal rasanya menjadi penumpang pesawat kecil itu. Saya tak begitu mendengar Dawud mengatakan apa.
Tak terasa, pesawat sudah memasuki kawasan udara Jember. Saya menunjukkan sejumlah gumuk (bukit kecil) kepada salah satu wartawati Arek TV. "Itu gumuk. Jumlahnya 997 buah yang terdata, bahkan mungkin seribu lebih. Itulah kenapa kota ini disebut kota Seribu Gumuk," kata saya.
Wartawati itu mengatakan sesuatu. Tapi saya tak begitu mendengar. Sementara, pesawat sudah mendarat di atas landasan pacu Notohadinegoro dengan selamat.
Sepuluh menit setelah pesawat mendarat, Kiai Haji Khotib Umar datang bersama istri dan seorang cucunya. Pemimpin pondok pesantren Raudlatul Ulum ini langsung disambut sejumlah petugas Dinas Perhubungan. Beberapa orang mencium tangannya. Berkali-kali ia mengucapkan, "alhamdulillah."
Sunarsono juga menyempatkan diri menemuinya. Kebetulan Khotib Umar datang saat pesawat dari Surabaya yang ditumpangi wartawan baru saja mendarat.
Khotib Umar juga sempat berbincang dengan dua pilot pesawat LET 410, Wahyudi Kurniawan dan Bambang Ontoseno. Ia sempat menanyakan jadwal penerbangan. "Kita berharap bisa ramai. Insya Allah berkah," kata Wahyudi.
Khotib Umar lantas dipersilakan masuk ke dalam pesawat dan mencoba tempat duduk di sana, dengan dituntun oleh pegawai Dishub Jember. Ia baru pulang, setelah melihat pesawat LET 410 mengangkasa dari dalam mobilnya.
Kepada wartawan, Khotib Umar mengaku datang karena ingin meninjau dan mensyukuri dibukanya bandara Notohadinegoro. "Saya tiap hari terus memantau (berita perkembangan bandara)," katanya.
Menurut Khotib Umar, bandara adalah amanat ayahnya, KH Umar, salah satu tokoh NU terpandang di Jawa Timur. "Katanya Abah, 'Saya ingin sekali di Jember ada lapangan terbang'. Waktu itu masih zaman (Bupati) Pak Abdul Hadi," katanya.
Khotib Umar menginginkan agar bandara Notohadinegoro bisa dijalankan dengan baik. Ia berharap kelak pembangunannya bisa lebih berkembang, dan memuji Bupati Muhammad Zainal Abidin Djalal sebagai yang akhirnya mewujudkan bandara di Jember.
Sunarsono memang menginginkan bandara itu berkembang. Jadwal sudah diatur, pesawat tipe LET 410 bertolak dari bandara Juanda menuju bandara Notohadinegoro pukul 07.30, 10.30, dan 13.30. Perjalanan dari Juanda ke Notohadinegoro membutuhkan waktu 32 menit.
Sementara dari bandara Notohadinegoro, pesawat berangkat pukul 08.45, 11.45, dan 14.45. Perjalanan dari Jember ke Surabaya butuh waktu sekitar 37 menit.
Penerbangan dilakukan setiap hari, kecuali hari Rabu. "Dari Jember ke Surabaya butuh waktu lebih lama lima menit, karena pesawat harus berputar lebih dulu," kata Dwi Satriyo.
Selama tiga bulan ke depan sejak hari ini, Pemerintah Kabupaten Jember memberlakukan tiket Rp 300 ribu per seat (tempat duduk). Pesawat itu memiliki kapasitas 18 seat.
Tiket hanya bisa dibeli di bandara Notohadinegoro, kantor Perusahaan Daerah Perkebunan Jember, dan ticket box di bandara Juanda. Pemesanan tiket di Jember bisa menghubungi nomor 0331 335534. Sementara untuk pemesanan tiket di Surabaya bisa menghubungi 031 72209863.
Wakijan mengatakan bahwa saat ini pembelian tiket belum perlu melalui sistem online. "Kalau penerbangan reguler memang persyaratannya ada penjualan tiket online. Kalau yang di Jember berbeda dengan penerbangan reguler," katanya. (*)
Labels: Pengalaman, Peristiwa
19 July 2008
Tiga Titik Hitam
(Soundtrack Eksekusi Mati Sumiarsih dan Sugeng)
Tiga Titik Hitam adalah lagu kelompok Burger Kill yang berkolaborasi dengan Fadly, vokalis Padi. Saya sering mendengarkan lagu ini saat di kantor beritajatim.com. Lagu ini menemani saya, saat mengedit dan menulis berita-berita yang dilaporkan dari lapangan oleh kawan-kawan reporter, yang meliput eksekusi mati Sumiarsih dan Sugeng.
Saya merinding, saat mendengarkan lagu ini, dan membayangkan bagaimana Sumiarsih dan Sugeng dibawa ke tempat eksekusi. Mata ditutup. Mereka terdiam. Peluru menerjang jantung. Kematian datang begitu dekat dan cepat.
Berikut, lirik lagu itu TIGA TITIK HITAM:
Ketika semua bayang menjauh dari tubuh
Dan ketika semua angan enggan menyapa
Terbaring aku, terjebak aku
Di keheningan dalam ketiadaan
Kucoba cahayai ruang jiwa ini
Terus berharap dan terangi
Kucoba sembunyikan suara hati
Terus menampik dan berlari
Kutenggelam dalam kelam
Dan menjauh tanpa bayang
Kucoba menelan luka yang tak kunjung usai
Teriakan namamu
Dikesunyian hatiku
Meraba, merangkul suryamu
Dikehangatan jiwamu
Saat kebenaran tak lagi bermakna
Aku tersandar dan terdiam
Kemana akan kubawa diriku pergi
Semakin jauh, semakin rapuh
Lepaskan diri, jatuh membusuk
Biarkan aku, hilang .. Muak !
Labels: Musik, Pengalaman
08 July 2008
Es Tebu dan Hongkong
Ada satu hal yang saya selalu sukai saat kembali ke Surabaya: es tebu dan hongkong. Saya kini menetap di Jember, sebuah kota yang terletak sekitar empat jam perjalanan kereta api dari Surabaya. Dan, saya selalu merindukan mereka.
Es tebu dan hongkong dijual di pinggir jalan raya. Saat saya masih duduk di bangku SMA, satu gelas es tebu dihargai Rp 500. Kini, ada penjual yang mematok tarif Rp 1.000 atau Rp 1.500 per gelas.
Es tebu sangat menyegarkan. Saat bersepeda motor menuju kantor saya di jalan Ciliwung di siang yang terik, mata saya terpancang pada seorang penjual es tebu. Saya menepi, dan mencoba bernostalgia dengan manis dan dinginnya minuman itu.
Tidak enak jika hanya meneguk es tebu. Saya suka jika menyelinginya dengan makan hongkong, sembari menggigit cabe yang pedas. Jika bibir belum mendesis karena lidah serasa terbakar, rasanya belum pas.
Hongkong yang saya maksud di sini adalah jajanan yang dalam bahasa Jawa disebut ote-ote. Hongkong adalah kosakata bahasa Madura. Orang Jember menyebut jajanan itu demikian. Ini sebenarnya jajanan berupa tepung basah yang diisi dengan sayuran dan kadang daging atau udang, lalu digoreng. Rasanya...mak nyus (meniru Bondan Winarno).
Saya heran, kenapa di Jember es tebu tidak mudah saya temui. Padahal Jember adalah salah satu produsen tebu. Maka, saya bersyukur bisa menikmati es tebu kembali setelah bertahun-tahunn tak mengecapnya. (*)
Labels: Kuliner, Pengalaman
21 May 2008
'Sempurna' untuk Istriku Tersayang
Aku menghadiahi istriku koor lagu 'Sempurna' dari stadion Notohadinegoro. Sebuah kejutan untuk istriku, karena telah bersedia melengkapi hidupku bersama Neo, anakku.
Rabu malam ini musik rock pulang ke Jember. Andra and The Backbone, sebuah band rock yang digawangi gitaris Dewa 19 Andra Junaidi, vokalis Dedy Lisan, dan gitaris kedua Stevie Item, tampil di stadion Notohadinegoro.
"Iki musik rock, bro," kata Heru Putranto, fotografer Radar Jember. Ia senang dengan lagu-lagu Andra and The Backbone. Setiap pagi, ia memutar album pertama kelompok ini dari MP3 di komputer.
Duo cewek T2 (Tiwi dan Tika) menjadi pembuka yang cukup menghibur. Dua alumnus Akademi Fantasi Indosiar ini dengan gaya nan centil bisa membuat penonton bergoyang. Terutama saat lagu Oke! yang oleh sejumlah penonton dipelesetkan menjadi poke! (sejenis kata-kata jorok dalam bahasa Madura).
Namun tak ada yang lebih dinanti kecuali Andra and The Backbone. It's time to rock!
Penonton menjerit, saat melihat gitaris Andra Junaedi, gitaris Stevie Item, dan vokalis Dedy Lisan berada di atas panggung. Mereka dibantu dua additional player di drum dan bass.
Andra adalah gitaris kelompok Dewa 19. Ia adalah salah satu gitaris terbaik di Indonesia. Kenal dekat dan terpikat dengan gaya permainan gitar Stevie Morley Item, ia bersepakat membentuk kelompok Andra and The Backbones. Ini solo project Andra.
Dedy terpilih sebagai vokalis setelah melalui audisi yang tak ruwet. Nama Dedy direkomendasikan oleh Ari Lasso, mantan vokalis Dewa 19. Dedy sebelumnya adalah jurnalis majalah HAI yang meliput konser-konser musik, termasuk konser Dewa 19.
Persenyawaan trio ini menghasilkan dua album, dan menghasilkan lagu-lagu hit yang mentereng seperti Musnah, Lagi Lagi dan Lagi, Sempurna, dan terakhir Main Hati.
Memilih jalur rock sejak awal, persenyawaan ini yang membuat kelompok tersebut tampil meledak di stadion Notohadinegoro. 'Muak' membuka reportoar mereka. Penonton berteriak dan berjingkrak.
Dedy sempat gagal mengambil nada yang pas di awal lagu. Namun, ia cepat menyesuaikan dan tampil garang.Dedy bisa melakukan improvisasi sehingga tak kehilangan elan lagu yang ber-beat cepat itu.
Kematangan aksi panggung Andra and The Backbone tampak di lagu kedua berjudul Sahabat. Teknik blocking yang dilakukan Stevie dan Andra dari ujung panggung timur ke ujung barat memantik emosi para penonton. Penonton tiada henti meneriakkan nama Andra, Dedy, dan Stevie.
"Katamu kau temanku, pasti bukan musuhku. Tapi kau tetap selalu menghalangiku, khianatiku. Lupakah dirimu akan janji setiamu? Sahabatku bersamaku, kita genggam dunia sampai hidup kita berhenti..." (Sahabat)
Aku bertemu dengan Dewi, jurnalis radio, di depan panggung. Ia salah satu The backboners (sebutan penggemar Andra and The Backbone). Kami berjingkrak bersama dan mengikuti lantunan Dedy. Aku paling suka liputan konser rock. It's the good time for a journalist.
Andra memang layak disebut sebagai salah satu gitaris terbaik Indonesia saat memainkan nomor instrumen berjudul Surrender. Warna gitaris Joe Satriani tampak di situ. Beberapa kali penonton mengacungkan tiga jari metal untuk aksi melodius Andra.
Stevie Item juga tak kalah asyik. Di beberapa lagu, ia mengambil melodic part dan giliran Andra yang menjadi gitaris pengiring. Berambut gondrong, Stevie menurutku lebih mirip the nice boy ketimbang tipikal rocker yang kumuh. Ia menarik simpati penonton dengan senyumnya yang menawan.
Namun tidak ada yang lebih dinanti penonton selain lagu Sempurna. “Lagu ini mempengaruhi dan menyentuh banyak orang,” kata Dedy kepada penonton.
Benar. Lagu ini menyentuh banyak orang. Aku dan istriku menyukai lagu ini. Anakku, Neo, menyukai lagu ini. Ia selalu nggeremeng sendiri, kalau mendengar lagu ini dari MP3 atau melihat klip di televisi.
Gita Gutawa menyanyikan kembali lagu ini untuk sebuah soundtrack film. Suara melengking Gita yang bening tentu berbeda dengan Dedy. Namun keduanya sama-sama memiliki warna yang kuat dalam lagu ini.
Aku langsung menelpon istriku, Heni Agustini, yang tengah berada di Situbondo bersama Neo.
"Halo, ada apa, Yanda?"
"Sayang, lagu ini untuk kamu. Dengerin..."
Aku langsung mengarahkan ponsel ke penonton yang menciptakan koor raksasa yang menjadi awal lagu: “Kau adalah darahku. Kau adalah jantungku. Kau adalah hidupku lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu…Sempurna.”
Aku tidak bisa mendengar ucapan istriku. Aku lantas menyanyikan bait pertama lagu itu melalui telpon. Bersama koor penonton di belakangku, dan permainan gitar Andra yang menyentuh.
"Kau begitu sempurna. Di mataku kau begitu indah. Kau membuat diriku akan selalu memujamu. Di setiap langkahku, ku kan selalu memikirkan dirimu. Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu."
"Janganlah kau tinggalkan diriku. Tak kan mampu menghadapi semua. Hanya bersamamu ku akan bisa."
“Kau adalah darahku. Kau adalah jantungku. Kau adalah hidupku lengkapi diriku, oh Sayangku, kau begitu…Sempurna.”
"Kau genggam tanganku. Saat diriku lemah dan terjatuh. Kau bisikkan kata yang hapus semua sesalku."
"Janganlah kau tinggalkan diriku. Tak kan mampu menghadapi semua. Hanya bersamamu ku akan bisa."
“Kau adalah darahku. Kau adalah jantungku. Kau adalah hidupku lengkapi diriku, oh Sayangku, kau begitu…Sempurna.”
Beberapa orang memandangku saat aku menyanyi di telpon. Tapi emang gue pikirin?
Sambungan telpon terputus. Pulsaku habis. Aku langsung menggunakan ponsel CDMA. Untunglah, Flexy tak ngadat seperti biasanya. Aku tersambung dengan ponsel istriku, dan kembali melanjutkan nyanyianku.
Sayang di pertengahan lagu ada gangguan noise (berisik) dari sound system. Dedy mengernyitkan dahi. Namun itu tak membuat penonton berhenti menyanyikan lagu itu.
Aku tak bisa membayangkan wajah istriku malam itu. "Sama siapa, Yanda, nonton konsernya?"
"Sama Heru. Udah ya, sayang," kataku.
Aku kembali berjingkrak dengan lagu penutup: Musnah. Koor kembali tercipta. Diiringi kembang api yang meletup-letup di atas panggung, Andra dan kawan-kawan mengakhiri penampilan enerjik mereka dengan memberi salam kepada semua penonton.
Yang tersisa hanya rasa capai. Tapi aku senang sekali.
Sebuah pesan pendek masuk ke ponselku. Dari istriku. "Trims lagunya, aku sayang yanda...muuahh...sayang Neo dah tidur, kalau gak pasti ikut nyanyi..." (*)
Labels: Keluarga, Musik, Pengalaman
07 May 2008
"Ya Allah, Sembuhkan Adik Saya..."
Hari ini aku tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Aku memang masih melakukan liputan di lapangan untuk beritajatim.com. Namun hatiku kacau. Adikku, Dwi Rizki Wulandari, dalam kondisi kritis di rumah sakit daerah Dr. Soetomo.
Kiki, demikian sapaan akrab adikku itu, terserang demam berdarah. Mulanya dia dirawat di rumah sakit Hasanah Mojokerto, tempat dia bekerja sebagai dokter sejak Ahad lalu (4 Mei). Namun Selasa malam, kondisinya mendadak kritis.
Adik bungsuku Rizka Paramita Safitri menelponku Selasa malam itu. Ia menangis. "Mas, Mbak Kiki kritis. Dia mau dibawa ke Surabaya sekarang. Ibu masih nunggu disana."
"Kamu nggak usah bilang Bapak dulu. Bapak lagi nganterin Mas Arif ke stasiun," kata Pipit, nama panggilannya.
Hatiku mencelos. Meremang. Lidahku tercekat. Dengan susah payah, aku memintanya tenang. "Sudah, sekarang kamu salat dan berdoa. Insya Allah Mbak Kiki nggak apa-apa."
Istriku, Heni Agustini, kebingungan. Dia memaksaku menelpon Arif Budi Wicaksono, adikku yang hendak pulang ke Jember. "Arif jangan disuruh pulang dulu. Biar dia di Surabaya dulu," katanya.
Aku setuju. Namun nomor telpon Arif tak aktif. dia pakai nomor yang lain. Saat ditelpon, ternyata dia sudah berada di atas kereta api, menuju Jember.
Aku mengatakan, Arif sebaiknya dibiarkan pulang ke Jember dulu. "Sekarang pukul setengah sebelas malam. Kalau dia nanti turun di Bangil Pasuruan, belum tentu dia dapat kendaraan kembali ke Surabaya," kataku.
Bapak menelponku, memberitahukan kondisi Kiki. "Doakan adikmu," katanya, lirih.
Aku menelpon Ibu untuk mengetahui kondisi Kiki sebenarnya. "Sekarang dia mau dibawa ke Surabaya. Perutnya sudah tidak keisi makanan. Trombositnya naik cuma sedikit," suara Ibu seperti menahan tangis. Ada rasa capek.
Selama sakit, Kiki memang kesulitan makan. Setiap kali makan, selalu muntah. Lambungnya menolak benda asing. Tubuhnya lemah. Trombositnya merosot cepat. "Tapi semangat adikmu untuk sembuh besar," kata Bapak suatu kali.
Tidak ada yang bisa aku lakukan malam itu. Kami semua dilanda ketegangan. Anakku, Neo, bahkan tidak rewel. Ia seperti tahu kedua orangtuanya gelisah. Aku mencium dahi Neo, mencoba meredakan gundah.
"Yang'e wudu dulu, terus salat isya," kataku kepada Heni.
Aku menidurkan Neo di kamar. Malam ini ia benar-benar tenang, dan membiarkan dada dan punggungnya aku gosok sampai tertidur. Biasanya, Neo selalu menolak jika aku gosok, dan lebih suka memilih tangan ibunya.
Aku salat isya setelah Neo tidur.
Aku tak pernah menangis. Terakhir kali aku menangis adalah saat melihat Neo lahir dua tahun lalu dan saat meminta maaf kepada Bapak tahun lalu. Tapi malam itu aku benar-benar menangis setelah salat.
Aku sebenarnya tak ingin menangis. aku hanya mengucapkan, "Ya Allah, nyuwun adik kula diparingi sehat...Ya Allah, nyuwun adik kula diparingi sehat..."
Berulang kali. Lagi. Lagi. Lagi. Tak ubahnya mantera.
Semakin dalam bibirku mengucapkannya, semakin menangislah aku. Aku terisak. Mungkin cukup keras, sehingga istriku yang berada di ruang tamu masuk kamar dan memelukku. Dia mencium dahiku.
"Sudah, Dik Kiki nggak papa. Dia akan ke Surabaya," katanya.
Aku tak berkata apa-apa. Aku hanya mengulang kalimat yang sama dalam hati.
Aku tidak tahu berapa lama duduk di atas sajadah. Aku bersandar di lemari, dan sedikit tertidur.
Aku mencopot sarung, dan mencoba tidur di kasur. Aku harus istirahat. Tidak ada yang bisa aku lakukan malam ini, kecuali berdoa. Pukul setengah tiga dinihari, aku harus ke stasiun Jember menjemput Arif.
Tapi aku tidak bisa tertidur lelap. Aku tidak bermimpi. Tapi sekian gambar, sekian wajah datang dan pergi dalam benakku. Kiki. Bapak. Ibu. Rara. Kiki. Heni. Pipit. Berseliweran.
Ponselku berbunyi. Aku terbangun dengan kepala sedikit pusing. Heni masih tidur. Neo juga.
"Halo?"
"Aku sudah sampek Rambipuji, Mas," suara Arif menerpa telingaku.
Lima belas menit kemudian, aku melaju di atas sepeda motor, membelah malam. Dingin. Jaketku tak kukancingkan. Benakku masih dipenuhi bayangan macam-macam.
Aku sempat melayangkan pesan pendek ke Ibu sebelum berangkat. "Sudah di IRD, masih diobservasi. Alhamdulillah semua teman-temannya membantu. Belum tahu kamarnya di mana. Nanti kalau pasti kamarnya tak kabari lagi. doain semua lancar. Amin."
Aku bertekad tak menyampaikan kabar soal kondisi Kiki kepada Arif sebelum tiba di rumah. Sepanjang perjalanan kami hanya bicara soal sepakbola, website, dan lain-lain.
Arif terdiam saat aku beritahu kondisi Kiki di rumah. Hening sebentar. "Aku pulang Jumat saja ke Surabaya," dia memutuskan mempercepat jadwal acaranya di Jember.
Pesan pendek dari Ibu masuk ke ponselku. "Sekarang (Ibu) sama Pipit n bapak. (Kiki) masih di IRD. Tapi nanti masuk ROI (Ruang Observasi Intensif). Dia sadar kok. Tapi sesak napas."
Kami menghabiskan sisa malam dengan gelisah.
Aku dan Heni sebenarnya ingin segera ke Surabaya. Aku ingin Heni berada di sana untuk membantu Ibu. Aku yakin Ibu dan Bapak butuh bantuan. Di Surabaya, hanya ada Pipit dan Rifki.
Tapi kondisi Heni tidak memungkinkan. Usia kehamilannya sudah memasuki enam bulan dan kandungannya sempat ada masalah. Plasentanya belum stabil berada di posisi rahim bagian atas. Masih ada kemungkinan plasenta itu berada di rahim bagian bawah dan bisa menutupi jalan keluar bayi di vagina.
Rencananya, pekan ini aku hendak mengantarkan Heni ke Situbondo bersama Neo. Aku akan membiarkan mereka beristirahat di sana.
Rabu pagi, aku menelpon Bapak. Ibu yang menjawab. Ibu menangis. Suaranya tak jelas, di antara isak. Namun aku menangkap, bahwa Kiki memiliki daya juang yang luar biasa. Dia sendiri yang menjelaskan kenapa kondisinya kritis kepada Ibu.
Aku mencoba menjelaskan penyebab Kiki kritis semampuku kepada kalian yang membaca tulisan ini. Trombosit Kiki yang anjlok membuat darahnya tidak tidak mampu mengikat air, dan akibatnya air berlimpah masuk ke lambung dan menerabas paru-parunya. Banyaknya air di lambung ini yang membuat Kiki kesulitan makan.
Air dalam lambung dan paru-paru adikku itu yang harus disedot. Aku membayangkan kengerian Ibu dan Bapak di sana.
Ibu mengatakan, sebenarnya keluarga tidak boleh masuk ruang observasi untuk menjenguk Kiki. Namun kawan-kawan Kiki yang menjadi dokter di RSUD Dr. Soetomo memberikan keringanan. Boleh sesekali Ibu, Bapak, atau Rifki (suami Kiki) masuk, namun tak boleh tinggal lama.
Siang hari, aku menelpon Bapak. Aku mendengar suara alat bantu medis berdetik-detik. "Aku berada di kamar adikmu. Adikmu belum bisa bicara."
Bapak mengatakan, penyedotan cairan belum dilakukan.
Aku matikan ponsel. Aku mengirimkan SMS: "Pak, tolong sampaikan salam sayang dan doaku, Heni, dan Neo untuk Bulik Kiki. Semoga cepat sembuh, Bulik. Insya Allah setelah nganter Heni ke Situbondo Ahad ini, aku ke Surabaya." (*)
Labels: Keluarga, Pengalaman
05 May 2008
Aku dan Marx pada 5 Mei…
Terima kasih, Tuhan. Aku 31 tahun. Tiga puluh satu tahun menikmati hidup. Tapi apakah hidup itu? Apakah semua cita-citaku sudah tunai?
Aku lahir di Situbondo, Indonesia, 5 Mei 1977. Karl Marx, lahir di Trier, Jerman, 5 Mei 1818. Kami lahir di tanggal yang sama, tahun yang berbeda. Tempat yang berbeda. Kultur yang lain lubuk lain ilalang.
Saat Marx sudah mencapai usia 23 tahun, ia sudah berkenalan dengan filsafat Hegel, dan membuat disertasi doktoral berjudul The Difference between the Philosophies of Nature in Democritus and Epicurus.
Pada usia 23 tahun, tepatnya tahun 2000, aku belum pernah ke Jerman, tapi terpikat dengan permainan Jerman dalam Piala Eropa. Namun Prancis yang menjadi juara.
Aku masih ingat, nonton sepakbola Piala Eropa bersama sejumlah kawan, dan menyebut Tim Jerman sebagai kesebelasan yang diperkuat Marx, Immanuel Kant, Jurgen Habermas. Sementara Prancis kami sebut sebagai kesebelasan yang dipenuhi filsuf Roland Barthes, Michel Foucault, Derrida. Kami memadukan kecintaan kami pada filsafat dengan sepakbola.
Aku menulis untuk majalah dan tabloid kampus, menjadi ketua Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa Universitas Jember. Aku jatuh kepayang dengan esai, dan menjadi murid Goenawan Mohamad yang setia dengan membaca esai-esainya di Catatan Pinggir.
Usia 24 – 25 tahun, Marx bekerja menjadi wartawan, dan menjabat editor surat kabar Cologne, Rheinische Zeitung. Ia menulis banyak soal kebebasan pers dan perlindungan rakyat kecil. Ia lalu terjun ke filsafat setelah medianya ditekan pemerintah, dan menulis The Critique of Hegel’s Philosophy of Right.
Aku mulai bekerja sebagai jurnalis pada 12 Februari 2002. Usiaku menjelang 25 tahun, dan aku bekerja di harian terbesar di Jember, Radar Jember. Aku meliput masalah sosial politik. Memberitakan intrik. Aku belum menulis buku seperti Marx. Tapi dengan gajiku Rp 200 ribu per bulan selama enam bulan, aku mengupayakan membeli buku-buku sebagai santapan rohani. Buku tentang Marx, salah satunya.
Tahun 1848, dalam usia 30 tahun, Marx bersama Engels menulis salah satu karya legendaris Manifesto Komunis. Ini manifesto berisi tinjauan historis gerakan komunis dan sejarah pergerakan peradaban. Doktrin teori alienasi dan materialisme historis terbangun hari-hari itu.
Aku juga menekuni manifesto sendiri pada usia 30 tahun. Manifesto Padi. Ini sebuah blog yang berisi karya-karya jurnalistikku, pemikiranku, pengalamanku, serta kekecewaan, kesedihan, dan kemarahanku. Aku menyebut Manifesto karena ini manifes, pernyataan diriku. ‘Padi’ adalah terjemahan dari namaku yang berbau latin, Oryza.
Mulanya, aku berencana Manifesto Padi adalah tulisan panjang semua pemahamanku tentang hidup. Aku sempat menuliskan salah satu bagiannya sebagai halaman pengantar di skripsiku, saat mengakhiri masa kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian Jember.
Mei 1849, saat berusia 31 tahun, Marx diasingkan dari Jerman dan pindah ke Inggris. Dia dipaksa meninggalkan dunia politik aktif selama 15 tahun. Semua gara-gara artikel-artikel Marx saat menjadi editor di Neue Rheinische Zeitung, yang menyemangati para borjuis Jerman untuk melakukan revolusi demokratis. Korannya juga tutup buku pada Mei itu setelah terbit 300 edisi.
Mei 2008, usiaku 31 tahun. Hidupku tak seheroik Marx. Aku tidak pernah diasingkan, meski aku harus berganti-ganti tempat kerja setelah ditendang dari Radar Jember (tahun 2004), merasakan sebuah koran bangkrut di Suara Indonesia (tahun 2006), dan dipecat dari Jatim Mandiri dengan alasan yang tidak jelas (tahun 2008).
Namun aku masih bisa bekerja sebagai jurnalis di beritajatim.com. Menulis untuk Pantau, sebuah kantor layanan berita feature bermutu, menjadi kontributor beberapa media.
Aku pernah menyusun daftar sepuluh cita-citaku dalam hidup. Ada yang tak terkabul. Ada yang tercapai dengan bentuk lain yang lebih baik. Istriku pernah membaca daftar yang aku tulis di sesobek kertas kecil itu dan kusimpan di dompet. Ia tertawa geli.
Aku tak ingat persis apa saja sepuluh keinginan itu. Namun aku sudah cukup bersyukur dengan apa yang kumiliki: sebuah keluarga. Seorang istri yang baik dan anak yang lucu dan pintar. Aku bersyukur masih bisa mengerjakan apa yang menjadi kesukaanku sejak dulu: menulis. Aku menggantungkan hidup dari pena. Sebuah pengibaratan: aku tak ubahnya seorang yang hidup dengan hobi yang dibayar.
Kadang aku merasa, kian tua banyak kesalahan yang aku lakukan. Di mata Tuhanku. Di mata orang lain. Tak mudah menghapus dosa memang, dalam arti sebenarnya.
Jika hidup tak ubahnya sebuah papan tulis yang mencatat dosa, maka aku agaknya harus bekerja keras: menghapus apa yang aku tulis, aku coretkan.
Tapi jika hidup adalah sebuah papan tulis yang mencatat karya dan ouvre, maka agaknya aku harus bekerja keras untuk memenuhinya dengan tulisan dan coretan yang bermutu, bukan coretan sampah.
Maka izinkanlah aku memanjatkan pengharapan di usiaku yang 31:
“Tuhan, aku bukan Karl Marx yang hidup dan telah meninggalkan catatan raksasa bagi peradaban manusia, entah itu catatan hitam atau putih. Aku tak ingin menjadi Karl Marx. Aku mungkin hanya akan menjadi catatan kaki dari karya-karya besarnya. Kami lahir di tanggal yang sama, 5 Mei. Tapi izinkanlah aku membuat catatanku sendiri, menghapus papan tulis dosaku, dan memenuhi papan tulis kebajikan yang bakal dirujuk oleh orang-orang terdekat dan tercintaku kelak. Dan dengan catatan itu, aku akan selalu diingat sebagai orang yang mereka kasihi.”
Hanya itu pintaku. (*)
Labels: Esai, Pengalaman, Sosok
14 April 2008
Kritik Andreas, Pujian Linda
Andreas Harsono menelponku, Rabu siang. Ia agaknya sudah membaca artikel Peruntungan Joey, Kesialan Joey yang dimuat di www.pantau.or.id. Dengan terang-terangan, ia menyatakan tidak sreg dengan artikel itu.
“Kamu tidak kritis terhadap Mark Bowden,” kecamnya.
Kritik Andreas lumayan menyengat. Aku garuk-garuk kepala.
“Kamu sudah baca buku dia soal interogasi tawanan?” Andreas mengatakan, Bowden memperbolehkan penggunaan kekerasan dalam menginterogasi tawanan yang diduga teroris.
“Bukan buku, Mas. Itu artikel. The Dark Art of Interrogation,” kataku.
“Ah, ya benar. Artikel majalah Atlantic Monthly.”
Aku menjelaskan bahwa artikelku adalah resensi buku Finders Keepers. Buku itu adalah buku pertama Bowden yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Buku itu juga buku yang berbeda dengan buku Bowden lain yang berisi politik, perang, dan perang terhadap kejahatan.
Namun Andreas bersikukuh, seharusnya aku lebih kritis. Tidak mudah jadi wartawan. Kami berbicara agak lama di telpon. Andreas juga menyinggung soal kekerasan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina.
“Saya tidak keberatan dengan negara Israel. Tapi cara dia menduduki tanah milik Palestina, itu menjadi suatu masalah buat saya,” demikian kira-kira Andreas.
Kritik Andreas bagiku menyenangkan. Selalu menyenangkan jika sebuah artikel mengundang reaksi pembaca: positif atau negatif, kritik atau pujian.
Seingatku, Peruntungan Joey, Kesialan Joey adalah artikelku di Pantau yang mendapat respons dari Andreas maupun Linda Christanty, editor utama Pantau. Ada juga respons dari Eko Rusdiato, kolegaku di Pantau Jakarta.
Eko mengirim pesan pendek: “Ampun saya. Seperti menjadi Bowden. Luar biasa. Salut, tulisan mas cakep sekali. Angkat tanga saya, seperti FK yang sederhana…”
Sementara Linda melalui surat elektronik mengucapkan selamat atas kesabaranku menanti jawaban surat dari Bowden.
“Oryza yang baik, selamat ya, Oryza sudah berhasil memperoleh jawaban Bowden dan itu juga merupakan hasil dari kesabaran Oryza. Kesabaran, seperti halnya ketelitian, adalah hal yang amat penting bagi wartawan.”
“Ibaratkan juru kamera yang mengabadikan perkembangan kepompong jadi kupu-kupu untuk saluran tentang alam di televisi, wartawan juga harus punya sikap dan stamina yang sama. Tapi bagaimana dengan wartawan yang bekerja di harian? Selain sabar, harus juga cepat kali ya? Hahahahaha....”
“Mungkin analoginya yang tepat adalah wartawan harus seperti elang, sabar dalam mengintai sasaran dan begitu saatnya, langsung menyambar dengan cepat. Hahahahaha....”
Wartawan harus seperti elang yang siap menyambar. Saya suka analogi itu. (*)
Labels: Jurnalisme, Korespondensi, Pengalaman
30 March 2008
Jurnalisme Sastrawi di Retorika
Saya baru saja masuk kerja, setelah selama dua pekan lebih terkapar karena sakit, saat seorang mahasiswa Universitas Airlangga menghubungi saya melalui ponsel. Ia mengaku dari majalah mahasiswa FISIP Retorika.
Ia mengaku tahu nama saya dari Ribut Wijoto, redaktur harian Jatim Mandiri. "Saya berharap Mas Oryza bisa memberi materi jurnalisme sastrawi hari Minggu, 30 Maret nanti," katanya.
Saya tidak langsung berjanji. Namun akhirnya saya sanggupi juga. Saya ke Surabaya.
Sebelumnya, saya minta izin kepada Andreas Harsono dan Linda Christanty untuk bisa menggunakan materi kursus jurnalisme sastrawi Pantau. Saya sebenarnya percaya mereka bakal memempersilakan tanpa harus minta izin. Tapi secara etika, lebih santun kiranya jika saya minta izin.
Andreas membalas pesan pendek saya: "Go ahead. Sudah saatnya kamu tampil. Saya senang membaca pesan ini."
Linda pun mempersilakan. "Sukses ya," katanya dalam pesan singkat.
Saya mengirimkan sejumlah materi tulis ke panitia pelatihan jurnalistik via surat elektronik. Saya minta kepada panitia agar menggandakan materi tulis lebih dulu agar bisa dibaca peserta. Jadi, nantinya saat materi jurnalisme sastrawi diberikan, otak peserta tak kosong.
Di kampus FISIP, tak ada yang menyambut saya. Saya memilih duduk di salah satu sudut kampus dan senang melihat dua orang mahasiswa membaca fotokopian materi jurnalisme sastrawi dari saya. Mereka berdiskusi.
Saya duduk saja memperhatikan. Sang mahasiswa, belakangan saya tahu namanya Sigit, berbicara dengan penuh semangat. Sementara kawannya seorang mahasiswi berjilbab dengan wajah menawan hati membaca artikel Jurnalisme Sastrawi yang ditulis Andreas Harsono. Sesekali ia mengisap sebatang rokok.
Seorang panitia melayangkan pesan pendek ke ponsel saya, dan kami bertemu. "Acaranya di lantai tiga, Mas," katanya. Ia memperkenalkan diri Andrian.
"Berapa pesertanya?"
"Empat puluh. Ada yang izin."
Di lantai tiga, saya bertemu Munip. Ia mantan aktivis pers kampus. Sekarang bekerja sebagai redaktur di Duta Masyarakat. Kami ngobrol soal pers kampus dan saya cerita-cerita soal Pantau. Munip berminat menjadi kontributor Pantau. Saya berikan nomor ponsel dan email Andreas.
"Coba saja kirim tulisan. Aku dulu juga begitu," kata saya.
Saya tampil di sesi terakhir, sebagai penutup acara pelatihan jurnalistik. Saya tahu para peserta kecapekan. Tentu cukup berat memberikan materi pengantar jurnalisme sastrawi dalam kondisi begitu. Saya katakan kepada peserta, di Pantau, materi kursus ini diberikan dalam waktu dua pekan.
Saya bicara tentang Tom Wolfe. Truman Capote. Jimmy Breslin. New journalism. Robert Vare. Sebenarnya saya masih ingin bicara tentang Hiroshima karya John Hersey. Saya sudah mengirimkan powerpoint tentang Hiroshima milik Pantau ke panitia. Sayang, waktu terlampau singkat.
Seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran bertanya tentang penerimaan media massa cetak di Indonesia terhadap jurnalisme sastrawi dan prospek genre ini. "Orang sekarang ingin informasi lebih cepat," katanya.
Saya katakan, media massa cetak di Indonesia masih belum banyak menerapkan genre ini. "Saya tidak tahu mengapa begitu. Seharusnya peluang itu ada. Kompas Minggu memiliki satu halaman untuk cerpen. Seharusnya itu bisa digunakan untuk naskah naratif."
Saya tetap optimistis genre ini bakal punya pembaca. "Ayat-Ayat Cinta hari ini terjual 400 ribu kopi. Laskar Pelangi karya Andrea Hirata begitu booming. Jadi saya pikir orang masih punya kesempatan baca novel yang panjang."
Jurnalisme sastrawi memiliki struktur novel. Bedanya, karena ini jurnalisme, maka isinya faktual bukan fiksional. Persoalannya, kata saya, masih sedikit jurnalis di Indonesia yang bikin buku jurnalisme naratif.
"Anda silakan ke Gramedia. Di sana novel non fiksi karya Sonia Nazario dan Mark Bowden dijejerkan satu rak dengan novel fiksi," kata saya.
Saya tidak tahu kenapa jurnalis Indonesia masih sedikit bikin karya naratif non fiksi. Saya percaya jurnalis Indonesia mampu. Persoalannya: mau atau tidak.
Sigit, seorang peserta, mengatakan penggarapan jurnalisme sastrawi butuh energi dan ongkos operasional lebih besar. Saya membenarkan. Boleh jadi itu pula yang membuat media massa cetak enggan menginstruksikan wartawannya melakukan reportase naratif yang serius.
"Wartawan Indonesia ini kan dididik menjadi beat reporter. Wartawan harian yang selalu dikejar deadline dan jumlah berita," kata saya.
Ulfa, seorang mahasiswi Fakultas Sastra menanyakan, apakah buku-buku novel non fiksi bisa disebut jurnalisme sastrawi. Saya katakan tidak semuanya. Karena jurnalisme sastrawi adalah jurnalisme, maka harus ada kerja pengumpulan fakta melalui reportase.
"Laskar Pelangi karya Andrea Hirata boleh jadi non fiksi karena itu kisah hidup dia. Tapi itu bukan jurnalisme sastrawi, karena Andrea hanya menuliskan kenangannya tanpa ada proses reportase. Itu lebih layak disebut memoar. Tapi ada juga memoar yang dibuat dengan metode reportase naratif seperti karya Julius Pour soal Benny Moerdani," kata saya.
Waktu berjalan begitu cepat. Saya sendiri kurang puas. Tapi saya pikir sebagai pengantar, semoga apa yang saya jelaskan sudah cukup membantu mereka. Saya sarankan mereka untuk membaca novel-novel non fiksi yang sudah diterjemahkan: Mark Bowden, Joan Didion, Truman Capote, Sonia Nazario. Mereka juga saya sarankan browsing di internet karya-karya naratif.
Sebelum pulang, saya sempatkan mengobrol dengan panitia. saya bertemu dengan Ribut Wijoto. Ini tatap muka kami yang pertama. Seperti dugaan saya, Ribut sosok low profile. Sayang, kami tak bisa berlama-lama ngobrol. "Anakku rewel, sakit demam dan mencret," katanya, mohon diri.
Saya juga mohon pamit. Dari Retorika, saya sempatkan diri mampir ke toko buku Uranus. Uang honor dari panitia saya belikan Ayat-Ayat Cinta pesanan istri saya dan sebuah buku berjudul The Heart Against Al-Qaeda.
Heni ingin baca Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. "Aku nggak mau nonton filmnya dulu. Aku mau baca bukunya dulu," katanya.
Ayat-Ayat Cinta memang sudah difilmkan dan dalam waktu singkat ditonton dua juta orang. Sejumlah tokoh seperti Jusuf Kalla dan Habibie juga ikutan nonton.
The Heart Against Al-Qaeda adalah karya Marianne Pearl, diterjemahkan dari A Mighty Heart: The Inside Story of The Al-Qaeda Kidnapping Danny Pearl.
Marianne adalah istri Daniel Pearl, jurnalis The Wall Street Journal yang tewas dipenggal di Pakistan oleh sekelompok radikalis. Saya selalu terpikat dengan buku-buku mengenai kisah jurnalis. Marianne juga menuliskan narasi memoar itu dengan bagus.
Buku ini juga sudah difilmkan dengan judul A Mighty Heart yang dibintangi Angelina Jolie. (*)
28 March 2008
Tak Mudah Memperjuangkan Hak di Jatim Mandiri
Ternyata tak mudah memperjuangkan hak normatif di sebuah perusahaan media. Setidaknya itu saya rasakan setelah diputus hubungan kerja oleh harian Jatim Mandiri, tanpa alasan resmi.
Saya melayangkan surat permintaan agar hak-hak normatif saya diselesaikan secara baik-baik. Ini pertanda itikad baik saya. Meski banyak dirugikan karena PHK dilakukan tanpa kejelasan, saya tetap menginginkan semua diselesaikan secara damai dan tenang.
Namun nyatanya, surat saya tidak digubris. Hingga 15 Maret 2008, hak-hak normatif saya berupa pesangon dan gaji belum juga dibayarkan via rekening. Saya terlambat tahu, karena sakit selama dua pekan.
Lalu saya melayangkan surat somasi pertama. Saya mengingatkan kepada Jatim Mandiri agar tak lepas tangan dan menjadi pengecut. Jumlah uang itu tak seberapa, tak sampai dua juta perak dibandingkan apa yang saya tanggung akibat kehilangan pekerjaan tanpa alasan yang terang dan profesional.
Saya tetap beritikad baik dengan mengirimkan somasi pertama via surat elektronik. Sebagai tanda niat baik saya, saya juga meminta tolong Ferry Ismirza. Saya bisa menyapanya Bang Fim. Dia mantan wartawan Jawa Pos.
Dalam pesan pendek tanggal 26 Maret lalu, saya katakan:
"Bang, saya ingin minta tolong sampeyan sebagai senior saya. Saya diberhentikan oleh Jatim Mandiri yang dipimpin Imron Mawardi. Namun hak normatif saya dua bulan gaji dan pesangon tidak dibayar. Jumlah total Rp 1,75 juta. saya sudah surati dia, tapi ternyata hasilnya nihil. Hari ini saya akan kirim somasi pertama. Saya benernya gak mau rame-rame, asal hak saya menafkahi anak istri terpenuhi. Saya minta tolong Bang Fim beritahu Imron. Terima kasih atas bantuan Abang."
Bang Fim menjawab:
"Subhanallah. Baik Mas, akan saya urus dan Mas Imron akan saya ajak omong. Ini harus diselesaikan, karena menyangkut hak dan kewajiban. Demikian terima kasih wassalam."
Belum ada kabar lagi dari Bang Fim.
Saya mendapat dorongan dari teman-teman Serikat Pekerja Pers Independen (SPPI). Ini organisasi serikat pekerja media massa yang didirikan sejumlah wartawan Jember, dan terdaftar resmi di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jember. Martin Rachmanto, sang ketua, siap memberikan dukungan.
"Kawan-kawan ABJ (Aliansi Buruh Jember) juga siap mendukung," kata Rachmanto.
Andreas Harsono, direktur PANTAU, sempat menelpon saya. Ia memberi semangat agar saya tak patah arang. "Sudahlah, nggak usah mikiri ruwet-ruwet Jatim Mandiri. Menjengkelkan memang. Tapi kamu lebih besar daripada mereka."
Andreas menyarankan saya agar lebih berkonsentrasi membuat reportase-reportase panjang yang bagus. Setelah itu, dalam waktu dua tahun, saya disarankan untuk sekolah lagi, mengikuti pendidikan jurnalisme.
Saya sadar, perjuangan ini bakal tak mudah. Ribut Wijoto, redaktur Jatim Mandiri, sempat membalas pesan pendek saya. "Sepertinya Pak Imron gak bisa apa-apa, Mas. Semua tergantung pada Pak Anki, Direktur Keuangan."
Saya mendadak teringat tetralogi Pulau Buru. Saya teringat Nyai Ontosoroh. Saya teringat Minke. "Kita telah melawan. Sebaik-baiknya melawan."
Melawan. (*)
Labels: Pengalaman
18 March 2008
Ketika Saya Sakit...
Ketika saya sakit, saya menyadari betapa banyaknya cinta orang-orang di sekitar saya. Selama ini saya menganggap mereka ada sebagai sesuatu yang biasa saja dan memang seharusnya ada. Namun, saat saya sakit, saya tahu bahwa mereka bagian dari eksistensi saya.
Ceritanya: Sabtu pagi dua pekan lalu, tubuh saya menggigil hebat. Suhu tubuh saya tinggi. Lidah kelu.
Sabtu malam, saya ke dokter. Saya diduga terkena demam berdarah. Kecutlah hati ini. Dokter meminta saya banyak minum dan segera cek darah Senin pagi. "Anda harus bed rest," katanya.
Saya melewati malam penuh derita. Saya kirimkan pesan pendek ke Dwi Eko Lokononto atau Pak Lucky, pemimpin redakasi www.beritajatim.com. Saya minta izin off. Saya tidak tahu sampai kapan harus off. Penyakit saja belum jelas.
Terus terang, saya agak trauma, pasca pemecatan saya dari Harian Jatim Mandiri. Saya khawatir juga Pak Lucky tidak bisa memahami. Ternyata, ia menelpon dan menanyakan kondisi saya. Ia meminta saya beristirahat, agar saya cepat sembuh.
"Kalau memerlukan sesuatu untuk berbagi, jangan malu-malu untuk menghubungi saya," kata Pak Lucky.
Saya lega mendengarnya. Sepanjang karir saya bekerja di sejumlah media, terus terang baru Pak Lucky pemimpin redaksi yang mau menelpon dan menanyakan kondisi reporter yang sakit.
Saya beruntung memiliki pemimpin redaksi seperti Pak Lucky. Saat sakit saya memasuki pekan kedua, dia menelpon saya dan menyuruh agar beristirahat. Lagi-lagi ia mengingatkan agar saya tak segan memberitahu apa yang bisa dilakukannya. Terus terang, saya segan. Saya sakit selama dua pekan dan tak bisa melakukan reportase untuk beritajatim.
Sakit saya memang aneh. Berdasarkan dua kali cek darah, trombosit saya normal. Artinya, saya tak terkena demam berdarah. Alhamdulillah.
Setelah sepekan dihajar suhu badan tinggi, naik turun, bagian dalam mulut saya ditumbuhi jamur alias candida begitu banyak. Orang awam bilang sariawan. Ini lebih menyiksa daripada penyakit panas yang saya derita. Saya nyaris tak bisa makan. Saya kadang keluar keringat dingin karena merasa kelaparan.
Dokter menduga jamur disebabkan infeksi dalam mulut saya. Saya mengambil sejumlah uang tabungan untuk berobat ke dokter dan menebus resep yang ternyata mahalnya alamak.
Selama dua pekan, saya merasakan betapa beruntungnya memiliki istri seperti Heni Agustini. Dalam kondisi hamil muda, ia mendapat tugas tambahan merawat saya. Belum lagi kalau anak kami, Neo, rewel waktu malam.
Saya juga beruntung punya adik Arif Budi Wicaksono. Dia bersedia mengantarkan saya ke dokter atau ke mana pun. Saya tahu dia capek. Tapi dia masih mau menolong saya.
Saat saya sakit, orang-orang seperti Heru Putranto, Ahmad Halim, Nova, dan Narto datang menghibur. Halim mengulurkan tangan saat saya membutuhkan dan tanpa saya meminta.
Saya juga beruntung memiliki adik seperti Kiki. Dia dokter lulusan Universitas Airlangga, dan mau saya repoti dengan pertanyaan-pertanyaan cerewet dari saya. Dari jarak jauh, dia yang memprediksi bahwa saya mengalami infeksi. Saya mungkin masih harus cek darah lagi, untuk memastikan bahwa penyakit saya tak dipicu diabetes. Semoga bukan.
Saya memang kesakitan. Tapi sakit semakin membuka mata saya tentang perlunya syukur. (*)
Labels: Pengalaman