Showing posts with label Korespondensi. Show all posts
Showing posts with label Korespondensi. Show all posts

24 July 2008

Burger Kill Terilhami Eksekusi Mati

Sebuah surat elektronik dari Eben, gitaris Burger Kill kepada saya. Ia mengatakan, tersentuh dengan eksekusi mati Sumiarsih dan Sugeng. Mereka ingin membuat sebuah lagu.

Saat tengah menanti detik-detik eksekusi mati terhadap dua jagal keluarga Purwanto, Sumiarsih dan Sugeng, iseng-iseng saya membuka website Burger Kill. Ini band metal asal Ujungberung Bandung yang membuat saya terkesan dengan lagu Tiga Titik Hitam.
Saya menulis email untuk mereka:
Bung,

Kenalkan saya Oryza Ardyansyah Wirawan, reporter beritajatim.com, sebuah media online terbesar di Jawa Timur.

Saya mengetik surat untuk Anda pukul 23:35, Jumat malam, 18 Juli 2008. Saat ini, kami semua, wartawan di Surabaya tengah tegang menantikan detik-detik eksekusi dua terpidana mati Sumiarsih dan Sugeng. (Anda bisa baca di media massa).

Anda tahu, saya menulis kisah detik-detik kematian kedua orang itu di tangan eksekutor dengan mendenmgarkan lagu Anda:

TIGA TITIK HITAM

Barusan ini, pintu gerbang Rumah Tahanan Medaeng sudah terbuka. TIGA TITIK HITAM langsung saya setel keras-keras di kantor.

Saya menghayati, dua orang dengan oenuh rasa takut berjalan masuk ke mobil. Menuju tempat eksekusi.

Mata ditutup.

Menghadap regu tembak

dan BERTERIAKKK...

TERIAKKAN NAMAMU
DI KESUNYIAN HATIKU
MERABA MERANGKUL SURYAMU
DI KEHANGATAN JIWAMU...

Kematian mengerikan, Bro...
Mengerikan, Bro...

Saya akan selalu terkenang momen ini.... Dan salah satunya dengan lagu Anda....

NB:
Salam untuk semua, jangan sungkan balas email saya.

Warm regard
Di kehangatan jiwamu


Email saya dibalas oleh Eben, gitaris Burger Kill. Dia mengatakan:

Hi Oryza...

Sebelumnya terimakasih untuk waktunya menuliskan cerita ini kepada kami, mmmm... jujur saja kami sedikit kaget membacanya, benar2 kejadian yang sangat memilukan hati dan sangat menyentuh. Kami sempat membahas cerita ini bersama2 dan coba kami angkat menjadi sebuah wacana untuk penulisan lirik. Yah mudah2an saja mereka yang telah pergi bisa mendapat tempat terbaik disisi-Nya dan diampuni segala dosa2nya.

Sekali lagi terimakasih banyak untuk segalanya, mudah2an kita bisa bertemu di lain waktu dan membahasnya bersama2 :) ok! Please keep in touch, Take care...
(*)

Baca Selengkapnya..

14 April 2008

Kritik Andreas, Pujian Linda

Andreas Harsono menelponku, Rabu siang. Ia agaknya sudah membaca artikel Peruntungan Joey, Kesialan Joey yang dimuat di www.pantau.or.id. Dengan terang-terangan, ia menyatakan tidak sreg dengan artikel itu.

“Kamu tidak kritis terhadap Mark Bowden,” kecamnya.

Kritik Andreas lumayan menyengat. Aku garuk-garuk kepala.

“Kamu sudah baca buku dia soal interogasi tawanan?” Andreas mengatakan, Bowden memperbolehkan penggunaan kekerasan dalam menginterogasi tawanan yang diduga teroris.

“Bukan buku, Mas. Itu artikel. The Dark Art of Interrogation,” kataku.

“Ah, ya benar. Artikel majalah Atlantic Monthly.”

Aku menjelaskan bahwa artikelku adalah resensi buku Finders Keepers. Buku itu adalah buku pertama Bowden yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Buku itu juga buku yang berbeda dengan buku Bowden lain yang berisi politik, perang, dan perang terhadap kejahatan.

Namun Andreas bersikukuh, seharusnya aku lebih kritis. Tidak mudah jadi wartawan. Kami berbicara agak lama di telpon. Andreas juga menyinggung soal kekerasan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina.

“Saya tidak keberatan dengan negara Israel. Tapi cara dia menduduki tanah milik Palestina, itu menjadi suatu masalah buat saya,” demikian kira-kira Andreas.

Kritik Andreas bagiku menyenangkan. Selalu menyenangkan jika sebuah artikel mengundang reaksi pembaca: positif atau negatif, kritik atau pujian.

Seingatku, Peruntungan Joey, Kesialan Joey adalah artikelku di Pantau yang mendapat respons dari Andreas maupun Linda Christanty, editor utama Pantau. Ada juga respons dari Eko Rusdiato, kolegaku di Pantau Jakarta.

Eko mengirim pesan pendek: “Ampun saya. Seperti menjadi Bowden. Luar biasa. Salut, tulisan mas cakep sekali. Angkat tanga saya, seperti FK yang sederhana…”

Sementara Linda melalui surat elektronik mengucapkan selamat atas kesabaranku menanti jawaban surat dari Bowden.

“Oryza yang baik, selamat ya, Oryza sudah berhasil memperoleh jawaban Bowden dan itu juga merupakan hasil dari kesabaran Oryza. Kesabaran, seperti halnya ketelitian, adalah hal yang amat penting bagi wartawan.”

“Ibaratkan juru kamera yang mengabadikan perkembangan kepompong jadi kupu-kupu untuk saluran tentang alam di televisi, wartawan juga harus punya sikap dan stamina yang sama. Tapi bagaimana dengan wartawan yang bekerja di harian? Selain sabar, harus juga cepat kali ya? Hahahahaha....”

“Mungkin analoginya yang tepat adalah wartawan harus seperti elang, sabar dalam mengintai sasaran dan begitu saatnya, langsung menyambar dengan cepat. Hahahahaha....”

Wartawan harus seperti elang yang siap menyambar. Saya suka analogi itu. (*)

Baca Selengkapnya..

12 April 2008

Surat Somasi Kedua Untuk Jatim Mandiri

Kepada yth.
Imron Mawardi
Pemimpin Redaksi Harian Jatim Mandiri
Di Surabaya


Salam hormat,

Dengan ini, saya kirimkan surat somasi yang kedua (Surat Somasi II) untuk Saudara, terkait belum terpenuhinya hak-hak saya sebagai wartawan Jatim Mandiri yang diputus hubungan kerja secara sepihak. Dalam surat terdahulu via email, saya sudah meminta agar hak-hak normatif saya diselesaikan selambatnya tanggal 15 Maret 2008 dan 5 April. Namun belum juga ada tanggapan.

Saya mulai bekerja di Jatim Mandiri bulan April 2006 dan mendapat kabar pemutusan hubungan kerja 1 Maret 2008. Ini berarti saya telah bekerja selama 1 tahun 10 bulan.

Sesuai Undang-Undang nomor 13 tahun 2003 pasal 156, pegawai dengan masa kerja satu tahun atau lebih tetapi kurang dari dua tahun, mendapat pesangon dua bulan upah.

Berarti dengan demikian, saya seharusnya berhak menerima uang Rp 1.750.000 dengan rincian:
- pesangon dua bulan upah (2 x Rp 500 ribu)
- gaji bulan Januari Rp 500 ribu
- gaji masa kerja setengah bulan (15 Februari – 1 Maret 2008) sebesar Rp 250 ribu.

Saya meminta dengan hormat, agar uang yang menjadi hak normatif saya sudah saya terima selambatnya 17 April 2008 melalui transfer ke rekening saya, sebagaimana pembayaran gaji sebelumnya, di Bank BNI dengan nomor rekening 0035334738.

Demikian surat ini saya buat dengan sesadar-sadarnya untuk memperjuangkan hak-hak saya. Terima kasih atas perhatiannya.


Jember, 12 April 2008
Yakin Usaha Sampai,



Oryza Ardyansyah Wirawan
HP: 08155914398
Blog: manifesto-padi.blogspot.com

Baca Selengkapnya..

28 March 2008

Surat Somasi Pertama untuk Jatim Mandiri


Kepada yth.
Imron Mawardi
Pemimpin Redaksi Harian Jatim Mandiri
Di Surabaya


Salam hormat,

Dengan ini, saya kirimkan surat somasi yang pertama (Surat Somasi I) untuk Saudara, terkait belum terpenuhinya hak-hak saya sebagai wartawan Jatim Mandiri yang diputus hubungan kerja secara sepihak. Dalam surat terdahulu via email, saya sudah meminta agar hak-hak normatif saya diselesaikan selambatnya tanggal 15 Maret 2008.

Saya mulai bekerja di Jatim Mandiri bulan April 2006 dan mendapat kabar pemutusan hubungan kerja 1 Maret 2008. Ini berarti saya telah bekerja selama 1 tahun 10 bulan.

Sesuai Undang-Undang nomor 13 tahun 2003 pasal 156, pegawai dengan masa kerja satu tahun atau lebih tetapi kurang dari dua tahun, mendapat pesangon dua bulan upah.

Berarti dengan demikian, saya seharusnya berhak menerima uang Rp 1.750.000 dengan rincian:
- pesangon dua bulan upah (2 x Rp 500 ribu)
- gaji bulan Januari Rp 500 ribu
- gaji masa kerja setengah bulan (15 Februari – 1 Maret 2008) sebesar Rp 250 ribu.

Saya meminta dengan hormat, agar uang yang menjadi hak normatif saya sudah saya terima selambatnya 5 April 2008 melalui transfer ke rekening saya, sebagaimana pembayaran gaji sebelumnya, di Bank BNI dengan nomor rekening 0035334738.

Demikian surat ini saya buat dengan sesadar-sadarnya untuk memperjuangkan hak-hak saya. Terima kasih atas perhatiannya.


Jember, 26 Maret 2008
Yakin Usaha Sampai,



Oryza Ardyansyah Wirawan
HP: 08155914398
Blog: manifesto-padi.blogspot.com

Baca Selengkapnya..

03 March 2008

Surat untuk Imron Mawardi

Kepada yth.
Imron Mawardi
Pemimpin Redaksi Harian Jatim Mandiri
Di Surabaya

Salam hormat,

Perlu saya sampaikan, Sabtu sore tanggal 1 Maret 2008, saya mendapat telpon dari saudara Ribut Wijoto, salah satu redaktur, yang memberitahukan bahwa saya sudah dilepas dari Harian Jatim Mandiri. Kata ‘dilepas’ bisa dimaknai banyak hal. Namun dari penjelasan saudara Ribut, saya ketahui, bahwa perusahaan memutus hubungan kerja dengan saya selaku wartawan areal korespondensi Jember dan sekitarnya.

Keterangan ini tentu saja mengejutkan saya. Selama ini saya tidak pernah mendapatkan surat peringatan tiga kali berturut-turut mengenai kesalahan saya. Yang lebih saya sesalkan, tidak ada pemberitahuan resmi perusahaan mengenai pemberhentian tersebut.

Saya justru sempat dibuat bingung, karena tidak memperoleh gaji bulan Januari yang seharusnya saya terima paling lambat pertengahan Februrari sebesar Rp 500 ribu. Setelah saya cek ke saudari Anik via telpon, ternyata nama saya sudah hilang dari daftar penerima gaji. Tanpa pemberitahuan apapun.

Maka, dengan ini saya mempertanyakan status kerja saya di Harian Jatim Mandiri. Jika memang saya diberhentikan, maka harus ada surat pemberitahuan resmi kepada saya (bisa lewat email). Ini menunjukkan keseriusan perusahaan dalam memperlakukan pekerjanya secara manusiawi.

Saya juga menuntut agar hak-hak normatif berupa pesangon plus gaji bulan Januari dan setengah gaji bulan Februari dipenuhi. Saya mulai bekerja di Jatim Mandiri bulan April 2006 dan mendapat kabar pemutusan hubungan kerja 1 Maret 2008. Ini berarti saya telah bekerja selama 1 tahun 10 bulan.

Sesuai Undang-Undang nomor 13 tahun 2003 pasal 156, pegawai dengan masa kerja satu tahun atau lebih tetapi kurang dari dua tahun, mendapat pesangon dua bulan upah.

Berarti dengan demikian, saya seharusnya berhak menerima uang Rp 1.750.000 dengan rincian:
- pesangon dua bulan upah (2 x Rp 500 ribu)
- gaji bulan Januari Rp 500 ribu
- gaji masa kerja setengah bulan (15 Februari – 1 Maret 2008) sebesar Rp 250 ribu.

Saya meminta dengan hormat, agar uang yang menjadi hak normatif saya sudah saya terima selambatnya 15 Maret 2008 melalui transfer ke rekening saya, sebagaimana pembayaran gaji sebelumnya, di Bank BNI dengan nomor rekening 0035334738.

Demikian surat ini saya buat dengan sesadar-sadarnya untuk memperjuangkan hak-hak saya. Terima kasih atas perhatiannya.


Jember, 3 Maret 2008
Yakin Usaha Sampai,



Oryza Ardyansyah Wirawan
HP: 08155914398
Blog: manifesto-padi.blogspot.com

Baca Selengkapnya..

06 February 2008

Diskusi mengenai Sampul TEMPO Edisi Khusus Soeharto
Setelah Leonardo Da Tempo Terbit

TEMPO kembali menuai kontroversi. Kali ini yang dijadikan perdebatan adalah sampul edisi khusus Soeharto, Nomor 50/XXXVI/04. Sampul edisi khusus itu memang indah: memelesetkan lukisan Leonardo da Vinci berjudul The Last Supper yang mengadaptasi perjamuan terakhir dalam Injil.

Jika dalam The Last Supper, Yesus dikelilingi 12 muridnya, maka dalam sampul majalah itu, Soeharto dikelilingi enam anaknya. Dibandingkan dengan sampul media massa lain yang juga memajang laporan khusus soal kematian Soeharto, sampul TEMPO adalah yang terbaik.

Namun, sebagian Umat Katolik memprotes sampul tersebut. Selasa (5/2) siang, sejumlah perwakilan organisasi Katolik tingkat nasional, mendatangi kantor Tempo di
Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Mereka menilai, bahwa TEMPO telah melakukan pelecehan agama dengan memelintir Perjamuan terakhir yang sakral.

Mereka menganggap posisi Yesus yang digantikan Soeharto dalam perjamuan itu tidak layak. Ini sama saja menganalogikan Yesus dengan mantan penguasa Orde Baru yang berlumur darah dan korupsi.

TEMPO segera meminta maaf. Menurut Toriq, sama sekali tidak ada niat melecehkan agama dengan ilustrasi tersebut. “Kami membuat gambar itu sebagai interpretasi atas lukisan Da Vinci, bukan mengilustrasikan kejadian di Kitab Suci,” kata Toriq kepada Tempo Interaktif.

Namun tak pelak diskusi di milis mantan aktivis pers mahasiswa Jember soal topik ini lumayan hangat. Berikut korespondensinya:

Oryza Ardyansyah menulis:

Salam...

Saya baru mendengar kalau ada protes soal sampul
Tempo. Tapi memang sampul Tempo saya nilai sangat
ekspresif dan indah. Ini edisi khusus tentang Suharto
dengan sampul mengadaptasi The Last Supper (Perjamuan
Terakhir) karya Leonardo Da Vinci.

Kalau mengadaptasi dari Da Vinci, posisi Soeharto di
tengah tak ubahnya posisi Yesus di antara para
muridnya sebelum mangkat. Bedanya, para murid Soeharto
adalah anak-anaknya dan kroninya.

Kalau ada protes dari umat Nasrani, mungkin karena
yang diadaptasi adalah perjamuan terakhir Yesus.
Posisi Suharto di kursi itu sama dengan posisi Yesus.
Bedanya, gambar kover Tempo tidak crowded. Cawan
diganti dengan gelas-gelas indah.

Saya tentunya tidak berhak membenarkan atau
menyalahkan protes kaum Nasrani terhadap TEMPO. Itu
hak mereka.

Pertanyaan saya, mungkin bisa dijawab Madamme Helena,
apakah lukisan berisi interpretasi atas sesuatu yang
suci dengan sendirinya bisa dianggap suci?

Lukisan itu dibuat Da Vinci sebagai tafsir seni atas
kitab suci, dan bukan kitab suci. Ia hanya
menggambarkan kembali perjamuan terakhir. Khayalan.
Samalah kiranya dengan gambar para sahabat Nabi yang
dimejengkan di poster-poster dan ada di rumah sebagian
umat Islam.

Namun lepas dari itu semua, kover Tempo sangat tepat.
Tanpa bermaksud menyinggung, posisi Soeharto terhadap
anak-anaknya memang tak ubahnya posisi Yesus terhadap
muridnya. Mereka meninggalkan legasi yang tak
ternilai. Bedanya, Yesus meninggalkan legasi moralitas
dan nilai-nilai kemanusiaan. Suharto meninggalkan
legasi persoalan moralitas dan perdebatan kemanusiaan.

Edisi khusus Tempo saya kira juga lebih bagus
ketimbang edisi khusus KOMPAS, JAWA POS, SINDO, SURYA,
yang diterbitkan tepat sehari setelah Suharto
meninggal.

Dalam TEMPO kita seperti diajak untuk melihat Suharto
hitam dan putih, rasional dan klenikal. Saya kira,
saya baru baca soal dukun Suharto secara enak di
Tempo. Ingat laporan ini sudah dirancang selama tujuh
tahun.

Jadi, dalam posisi ini, TEMPO telah berhasil
menyajikan sosok Suharto dengan bagus. Rugilah mereka
yang nggak beli. (hehehehe)

Saya kira begitu


Hadi Winarto menulis

Saya justeru tertarik untuk melihat sisi lain dari
soal cover ini.

Sahabatku, Johanes Donbosko, produser program
expedition, anak Ngada-Flores, yang lulusan sekolah
Seminari, ngeliat persoalan ini rada cuek.

Bung John cerita, suatu ketika ada pastur muda yang
baru pulang dari Roma setelah menuntaskan studi.

Terdorong oleh cara berpikirnya yang kritis, ia
berpendapat, bahwa perjamuan dengan anggur dan roti
merupakan sesuatu yang "incrementally europen" alias
khas Eropa, dan karena itu berarti juga Barat dengan
culture-nya yang unik.

Di Flores, dengan budaya yang berbeda dari Eropa, sang
pastur berpendapat bahwa roti bisa dirubah dengan
jagung dan anggur dengan sejenis minuman dari pohon
lontar yang bisa menjadi tuak. Dengan cara itu misi
pengabaran Injil akan lebih dekat ke masyarakat
setempat.

Kabar tentang "improvisasi" ini menyebar hingga ke
Eropa dan akhirnya sang pastur muda ini terkena
"excommunicate" sehingga dia harus mengakhiri tugas
pelayanan karena dianggap membuat bid'ah terhadap
ajaran resmi Katolik.

Bagaimana jika dikaitkan dengan cover Tempo?

Sambil tersenyum Bung John hanya bilang: Secara
Katolik ini nggak prinsip banget, tapi memang bisa
menimbulkan reaksi. Yakh... moga-moga sebentar aja
dah.

Nah... seorang kawan di TPI kirim sms, menyatakan ikut
sedih dengan kejadian ini.

Ia katakan bahwa ia mengagumi kedewasaan umat Katolik
selama ini, yang terkenal dengan sikap teguh sekaligus
luwes dalam menampilkan imannya di masyarakat.

"Aduh, kenapa ya rekan-rekan Katolik tergoda untuk
demo? Itu memang hak mereka. Tapi jangan-jangan mereka
secara tidak sadar meniru cara orang-orang Islam
radikal yang suka demo itu?"

Kawan TPI ini orang muslim, malahan dari keluarga
muslim yang puritan, tetapi ia mengakui kagum dengan
saudara-saudaranya dari golongan Katolik yang dia
anggap matang, teguh, cerdas, tetapi juga rendah hati.

Saya sendiri tidak terlalu tertarik memberi respon.

Mungkin lebih baik jika sahabat-sahabat saya seperti
Niams Helena dan Bung Felix yang kasih respon.

Itupun kalo mereka berdua merasa perlu memberi respon.

Personally, seperti rekan saya di TPI, saya termasuk
orang yang mengagumi kematangan rekan-rekan Katolik
dalam menampilkan imannya di masyarakat.

Sedangkan tentang Tempo.... ah, pandangan saya telah
banyak sekali berubah.

Salam hangat,

Hadiwin


Helena Dewi Justicia menulis:

Cilukbaaa...

Pertama, tolong dicek kembali yaaa... (soalnya aku sendiri nggak sempet ngecek, hehehe...) kalo gak salah, Leonardo da Vinci itu nggambar Perjamuan Terakhir atas pesanan Gereja Katolik... meski aku juga nggak tau lukisan yang asli itu ada di mana... Yang jelas, lukisan The Last Supper itu (= maksudnya gambarnya, mengingat udah digambar ulang dengan berbagai versi dan genre) punya makna yang sangat dalam buat orang Katolik.

Maknanya simbolis buanget, tapi ya itulah inti kepercayaan kami, yakni Yesus yang menyerahkan diri-Nya bagi penebusan manusia. So, dalam Perayaan Ekaristi (atau 'misa' buat gampangnya.. .), kami selalu mengulang-ulang adegan Perjamuan Terakhir itu. Tujuannya supaya kami sendiri pun meneladani Yesus, menyerahkan diri kami secara utuh dan total bagi keselamatan dunia & semua orang. Pendek kata, maknanya emang dalem buanget dehhh...

Keluargaku juga punya The Last Supper, tapi bukan lukisan reproduksi, melainkan sulaman yang dikerjakan Mamaku sendiri dengan termehek-mehek. .. Lha wong ukurannya 1 meter x 0,5 meter... buset dah, siapa yang gak termehek-mehek bikin sulaman segede itu? Aku njahit kancing lepas aja bisa muntah-muntah? ! (ups, maap...).

So, kalo ada orang Katolik yang merasa terluka, lalu mengkomunikasikan luka itu dalam bentuk demo, protes, somasi atau apapun, ya wajar laaahh... Kita anggap aja pernyataan sikap. Sikap kan bisa macem-macem. Mungkin ada yang tersinggung, ada yang marah, ada yang cuek, ada yang biasa-biasa aja.

Kedua... Kalo sikapku? Mmmmm... aku sih kasian sama Tempo. Soalnya, mereka itu kan gemar mem-'plesetkan' lukisan toh? Mmmm... sebagai seseorang yang juga seneng nggambar, kalo aku ada di posisi Tempo, aku akan sangat berhati-hati dengan karya yang aku 'plesetin'. Bagaimanapun, dalam setiap karya seni (termasuk lukisan), selalu terkandung simbol-simbol, unsur-unsur yang simbolistis, dan kaitan-kaitan antarunsur-antarsim bol yang tidak mudah begitu saja dipahami...

Nah, lukisan-lukisan da Vinci, trus Michael Angelo yang suka di-'plesetin' Tempo itu kan baru 'nendang' kalo mereka lihai mentransformasi simbol-simbol yang ada di dalamnya... Tapi mereka gak ngerti dan gak bisa, lho! Makanya, kegagapan menangkap dan mentransformasi simbol itu (yang jadinya nggak pas), menuai reaksi yang negatif. Aku haqul yakin, kalo mereka jenius, mampu mem-'plesetkan' lukisan, puisi, drama dsbnya deh dengan 'pas', nggak bakal ada yang tersingung.. . Lha kan kaitan-kaitannya bener? So, si Tempo itu, untuk sebuah majalah populer dan komersil sih udah berhasil menjadi sensasional. Tapiiii... sebagai sebuah karya 'seni' yang bernas, maap-maap aja, sangat menyedihkan. .. hehehe... (jangan-jangan lebih pinter aku... uhuy...)

Jadi, Bung Oryza... Anda yakin kalo gambarnya Tempo itu 'tepat'? Hehehe... coba dikaji ulang... hihihi... Apa Soeharto layak menggantikan posisi Yesus di gambar The Last Supper? Hayoooo.... Menurutku, yang tepat untuk menggantikan posisi Yesus di gambar itu ya Munir, Marsinah dan para pejuang HAM lainnya.... Hayoooo... hehehe...

Ketiga, setauku, kami yang Katolik ini nggak pernah menganggap suci benda-benda rohani (patung, salib, rosario, Kitab Suci, dll), apalagi kalo cuma lukisan... Semua benda itu kan bikinan manusia? Jadi, kesemuanya hanya dianggap sarana untuk menjumpai Allah. (Catatan: ada perbedaan dengan Saudara-saudara Muslim, kan... karena Al Qur'an dianggap suci sehingga kalo mau menyentuhnya harus ambil air wudhu dulu...) Nah, dalam Sepuluh Perintah Allah yang kami taati, ada satu pasal yang berbunyi: jangan memuja berhala. Jadi, kalo sampai kami melekatkan cinta mati pada benda-benda mati, hohoho... sama aja memuja berhala dong...

Yang kami hormati adalah 'benda-benda' yang kami percaya suci, seperti relikui para martir/orang kudus. Relikui itu misalnya jenazah yang nggak bisa hancur meski udah dimakamkan lama banget, darah yang tetap cair meski udah berabad-abad dsb. Dan jangan salah, menetapkan seseorang sebagai kudus/suci itu juga butuh puluhan, bahkan ratusan tahun, tentu saja melalui penyelidikan yang intensif dan cermat. (Ssssttt... yang jelas, aku termasuk yang ngabur kalo ketemu relikui... syerem ah...)

Yang paling kami hormati adalah Hosti Kudus, karena kami percaya bahwa melalui Perayaan Ekaristi, hosti itu (yang asalnya dari tepung dan air) telah diubah menjadi tubuh dan darah Yesus sendiri. Eeee... tapi jangan dikira kami punya bakat kanibal ya... Itu kan simbol juga dari penyerahan diri secara utuh dan total bagi kehendak Allah dan bagi kesejahteraan sesama...

Keempat, masa-masa sekarang ini adalah masa-masa yang sulit bagi kami yang Katolik. Banyak sekali gereja kami yang ditutup, sehingga banyak umat yang nggak bisa beribadah. Sebagai informasi saja, sebuah Gereja Katolik hanya bisa didirikan dengan perhitungan yang matang, seperti jumlah umat. Kalo nggak memenuhi kuota, ya nggak bakal didirikan. Masih banyak lagi pertimbangan lain yang njelimet sekali, termasuk AMDAL (hehehe...). ..

Jujur saja, kami sangat prihatin dengan Saudara-saudara Kristen (bukan Katolik), yang dengan begitu mudahnya membangun gereja. Di gang pun jadi! Ya ampun... Pantesan aja umat agama lain jadi gelisah dan nggak nyaman, karena cemas kalo-kalo sedang berlangsung kristenisasi di daerahnya...

So, meskipun--kata temennya Mas Win--orang Katolik itu matang, teguh, cerdas dan rendah hati... (termasuk gue dong, hehehe...), situasi mungkin 'memaksa' kami untuk bereaksi 'lebih'. Soal penutupan paksa gereja-gereja, kami sudah ke Komnas HAM. Nah, pas lagi seru-serunya timing ini, kurasa wajar jika ada orang Katolik yang 'bereaksi lebih' terhadap hal-hal yang 'kurang penting' jika dibandingin dengan kekerasan & penutupan gereja. Terbawa suasana aja, kaleee...

Kelima, ketika kita bicara soal religiusitas, kita nggak boleh lupa kalo setiap orang pasti punya motivasi beragama, juga tahap perkembangan religiusitas, yang beeeeeerbeda- beda. Ada orang yang tulus beragama, ada yang cuma manfaatin agama demi keuntungan pribadi/kelompok. Ada orang yang tahap perkembangan religiusitasnya masih awal, ada yang udah jauh. Contohnya, orang yang tahap perkembangan religiusitasnya masih awal, doanya kira-kira begini: Tuhan, mbok ya aku dicariin pekerjaan yang gajinya gede, sesuai dengan bakat dan kemampuanku, supaya aku bisa kerasan, dapet gaji terus, bisa beli rumah dan mobil, trus mbayarin anakku sekolah di sekolah internasional, lalu.... (dan seterusnya deh...). Lho, Tuhan kok didikte? Kalo orang yang tahap perkembangan religiusitasnya udah lanjut, doanya justru makin sederhana: Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu, apapun itu... karena aku percaya bahwa Engkau selalu merencanakan yang terbaik untukku... Haiyaaa... gak heran kalo orang yang sudah 'matang' religiusitasnya, dia adalah orang yang tenang, damai, dan menyejukkan sekitarnya.. .

So, kalo ada orang Katolik yang marah tapi juga ada yang cuek dengan kasus Tempo, mungkin ya karena mereka beda motivasi beragama & tahap perkembangan religiusitasnya aja... Yang protes itu kan nggak merepresentasikan semua orang Katolik, toh? Mereka kan cuma ormas. Akan beda kalo Konferensi Waligereja Indonesia yang bicara, atau Kardinal, karena mereka-lah suara hierarki Katolik yang link-nya ke Paus. Nah, kalo sampai mereka yang bicara, artinya sudah ada hal-hal krusial yang dogmatis dan teologis yang perlu disikapi.

Keenam, tentang hal-hal yang berkaitan dengan Allah (atau iman), selalu saja ada ruang bagi 'misteri'. Maka, mungkin nggak akan terulas atau terjawab dengan tuntas oleh manusia. Tuhan, gitu loh... apa ya kita bisa menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan-Nya? Misalnya, masa iya sih lukisan gitu doang punya makna dalam... Hmmm... haloooo... kita bicara soal keyakinan, kan? Lha kalo mereka yakin itu bermakna alam? Yo biarin aja toh? Hehehe... itu udah urusan dia sama Tuhannya...

Ketujuh, aku udah pantes apa belom jadi humas Gereja Katolik? Hahaha!!! (cape deeeh...)


salam,
hdj

nb: Gong Xi Fat Choy, ngungsi yuk coy... (banjir, euy..)


Dwidjo Utomo Maksum menulis:

Salam,

Permintaan maaf Tempo kepada umat Katolik saya kira
lebih sebagai effort untuk tidak memperpanjang
polemik. Jika tidak segera diambil langkah taktis
berupa permintaan maaf secara terbuka, soal cover itu
justru akan mendegradasi message yang akan disampaikan
Tempo melalui edisi khusus Soeharto itu. Seperti yang
kerap terjadi di negeri ini, isu tertentu kerap
terlibas begitu saja oleh isu baru yang berada di
dekatnya. Bahkan kadang isu yang embedded jadi lebih
popular.

Mungkin jika Tempo tidak keburu minta maaf, orang
tidak bakal mentelengi secara jernih isi Tempo edisi
Soeharto itu, melainkan sibuk mengikuti aksi protes
serombongan kawan-kawan yang mengaku umat Katolik ke
kantor Tempo. Padahal kita semua tahu tidak semua umat
Katolik sudi meluangkan waktu ikut berduyun-duyun ke
Jalan Proklamasi 72 hanya untuk urusan yang
sesungguhnya cenderung menjadi bagian dari kajian
genre seni kontemporer.

Dengan kondisi seperti itu, tampaknya kawan-kawan
Tempo lebih memilih untuk mengambil posisi meminta
maaf agar public segera bisa kembali tekun membaca,
mereview dan mengingat kembali siapa Soeharto. Kita
tentu belum lupa, betapa selama hampir sebulan penuh
rumah-rumah kita diberondong oleh tayangan detik per
detik tentang Pak Jenderal Besar yang tergolek sakit
di ranjang RSPP.

Dan ketika pada akhirnya Soeharto berpulang, dan
gelontoran tayangan tentang meninggalnya Soeharto
semakin dramatis 24 jam non stop lengkap dengan
puja-puji di sana-sini tanpa menyentuh sekalipun soal
behind the scenes of tragedy 1965, Malari, Petrus,
Lampung, Priok, Kudatuli, DOM, Kedungombo, Nipah,
penculikan aktifis, Trisakti, etc, apa yang
sesungguhnya sedang disuguhkan kepada bangsa yang
rancak gendang ini? Bahkan tiada satupun obituary buat
Jusuf Ronodipuro, lelaki kelahiran 30 September 1919
yang wafat dua jam sebelum Soeharto. Padahal dia
adalah sosok yang mengumandangkan teks proklamasi 17
Agustus 1945 melalui corong RRI hingga terdengar di
seluruh pelosok negeri. Dia pulalah yang menolak
menurunkan bendera Merah Putih dari halaman gedung RRI
meskipun Belanda menodongkan senjata.

Hari Minggu (3/2) kemarin, saya kedatangan seorang
tamu, kawan lama sekaligus sahabat berdiskusi yang
baik, M Anis namanya, mantan jurnalis (alm) Tabloid
Detik. Di sela-sela kesibukannya mengelola portal
presiden di istana, dia menyempatkan untuk menengok
saya dan kawan-kawan di Kediri. Di tengah-tengah
perbincangan sambil ngopi ditemani Mas Hari Tri Wasono
(wartawan SINDO alumnus Imparsial FH Unej yang juga
anggota milis ini), dia berseloroh, “Saat ini setelah
Soeharto meninggal, hanya Majalah dan Koran Tempo yang
masih terus saja mengkritisi Soeharto dan
anak-anaknya. Tapi memang harus ada yang masih seperti
itu.”

Esok harinya, Senin (4/2) sahabat saya yang menjadi
salah satu commander di Biro MNC Jawa Timur di
Surabaya yang mengurusi RCTI, Global TV dan TPI
mengirim sms yang bunyinya, “Mas cover depan Tempo
menggugah umat Kritiani..perjamuan terakhir…”

Tak lama kemudian, seorang kawan saya yang kini
menjadi Romo di Beograd mengirim surat elektronik
kepada saya yang intinya mengatakan, “instsitusi media
tempat anda bekerja sangat kreatif sekali memproduk
karya.”

Sore harinya, sahabat saya seorang katekis di lereng
Gunung Wilis mengirim sms kepada saya, “Menurut saya
cover Tempo sama sekali tidak menyinggung kenapa ada
yang meributkan ya. Saya dan keluarga ini lagi
baca-baca tentang Pak Harto. Sehat-sehat kemawon tho
Dimas.”

Pagi ini, di bawah gerimis hujan Tahun Baru Imlek,
saya hanya bisa melihat tanpa bisa memberi tafsir
apa-apa lagi tentang adanya aksi memprotes cover Tempo
yang konon melukai umat Katolik. Saya hanya teringat
peristiwa 6 tahun silam, betapa ketika ada seorang
Romo muda di negeri ini mencoba mengoreksi kapitalisme
religi di dalam agama yang diimaninya dengan mengirim
surat domba, tidak ada khalayak yang memberinya
simpati terbuka. Bahkan ketika dia harus terpental
dengan mendapat vonis suspensi, tidak seorangpun yang
membelanya. Padahal dia sedang berbicara tentang umat
dimana dia menjadi pelayannya. Saya pun tergerak untuk
menulisnya di Rubrik Agama Majalah TEMPO Edisi.
32/XXXI/07 - 13 Oktober 2002, ketika tidak seorang
jurnalispun sudi mendekatinya.

Kediri, 7 Pebruari 2008
(Di dekat jendela sambil menyibak gerimis hujan Tahun
Baru Imlek 2559)
Wassalam,
Dwidjo U. Maksum


Hadi Winarto menulis:

Friends,

[Surat di bawah ini saya ambil dari milis
KAHMI_Network, yang notabene warganya sebagian besar
adalah anak-anak alumni HMI di Indonesia. Oryza juga
warga milis ini]

....

Sebagai umat Islam, kita pernah merasa sangat
tersinggung dengan adanya karikatur di koran Denmark
yang dianggap sebagai simbol yang melecehkan Nabi
Muhammad SAW, pdhl sbnrnya kita bisa aja cuek bebek,
menganggap itu karikatur orang lain yang gak ada
hubungannya dengan Baginda Rasulullah, krn mmg tak
seorang pun tahu gmna sosok visual beliau, tak ada
visualisasi Rasulullah baik dalam al-Qur'an maupun
hadist, bahkan tidak juga dari generasi tabiin. Tapi
krn ada indikasi koran itu ingin mengasosiasikan
karikatur jelek itu dengan sosok Kanjeng Nabi, umat
Islam tidak terima dan melakukan protes ....

Begitu pula kini, meski visualisasi perjamuan terakhir
hanyalah karya manusia biasa, seorang Leonardo Da
Vinci, bukan bagian dari kitab suci orang Nasrani,
namun lukisan tsb jelas menggambarkan salah satu
peristiwa itu dalam kehidupan Nabiullah Isa
alaihissalam, sosok yang harus kita hormati sebagai
salah satu Ulul Azmi dan diposisikan sebagai tuhan
atau anak tuhan oleh rekan-rekan kita yang Nasrani -
meski berbeda dalam keyakinan, marilah kita hormati
keyakinan mereka dan berempati atas perasaan orang
Nasrani. (shrsnya juga tersinggung dengan sampul itu
karena Nabiullah Isa juga nabi
kita .....)

Tempo mungkin memang tidak sengaja dan juga telah
menyampaikan permohonan maaf yang tulusTempo, marilah
kita ajak umat Nasrani untuk bersama-sama memaafkan
Tempo. Semoga Tempo tetap terus dapat berkhidmat
mencerdaskan dan mendukung kemajuan bangsa

......

Moral ceritanya adalah... banyak orang membaca TEMPO
karena alasan-alasan yang bersifat "personal" tetapi
secara umum karena "trust" kepada majalah itu karena
reputasinya. Hal seperti ini terjadi pada banyak
orang, tanpa memandang suku, agama, atau golongan. In
short, itulah salah satu fakta mengapa Tempo tetap
mendapatkan tempat di hati pembaca yang amat luas.
Tempo telah membuktikan dirinya menjadi contoh media
yang setia kepada kaidah jurnalistik, dan pada saat
yang sama menjadi semacam "simbol" bagi tegaknya
kebebasan pers di Indonesia.

Pilihan Tempo untuk minta maaf ke umat Katolik juga
membuktikan bahwa Tempo sensitif terhadap reaksi
sebagian umat Katolik. Tak diragukan bahwa dengan
minta maaf, banyak hal yang mengitari soal kontroversi
cover Tempo bisa dicairkan, dimengerti, dan pada
akhirnya didudukkan persoalannya dengan baik. Tentang
hal semacam itu, orang Indonesia bukan orang yang
sulit diajak untuk "menyelesaikan sesuatu dengan
damai."

Saya pribadi sebagai orang yang berlangganan majalah
Tempo secara rutin dalam tiga tahun terakhir -- dan
saya tidak ragu sedikitpun menyebut diri saya sebagai
pelanggan yang kritis -- saya membaca Tempo bisa
dikatakan sedikit sekali karena alasan personal, dan
sebagian besar, jika tidak seluruhnya, lebih karena
trust.

Pola hubungan semacam ini membuat saya tidak pernah
"terhegemoni" oleh informasi Tempo, juga media yang
lain, dan pada saat yang sama, saya senantiasa
memperlengkapi diri dengan aneka bacaan tentang
jurnalistik -- sebagian besar didorong oleh alasan
karena saya juga bekerja di pers selama hampir 11
tahun -- sehingga ikut merawat konteks hubungan yang
sehat antara "pembaca yang mengambil posisi kritis"
dengan "media yang diakui memiliki reputasi dan trust"
di masyarakat.

Interaksi semacam inilah yang membuat saya secara
personal berada dalam situasi "reading between the
lines" setiap kali membaca informasi dari media
manapun.

Terkait dengan isu cover Tempo, tulisan Nimas Helen,
Bung Dwidjo, dan Oryza telah dengan baik menjelaskan
sudut pandang masing-masing.

Saya hanya ingin menghadirkan "pembacaan" tambahan
saja, yang sebagian merupakan bagian dari diskusi kami
sesama rekan-rekan mantan wartawan Metro TV. Sekadar
diketahui, komunitas kecil kami ini sangat beragam,
dan memiliki latar belakan sebagai pekerja pers dari
aneka media, sebelum mereka gabung ke metro. Jadi
"tune in" banget jika kami berdiskusi soal-soal
terkait dengan jurnalistik, atau lebih luas lagi
tentang media. Sebagian besar dari kami bisa dikatakan
menggunakan buku "Elements of Journalism"- nya Bill
Kovach dan Tom Rosenthiel sebagai rujukan.

Salah satu isu hangat yang sering diomongin -- oleh
karena sebagian masalah ini dihadapi dalam pekerjaan
sehari-hari -- terkait dengan independensi, lebih
khusus lagi independensi editorial.

Tidak lagi menjadi rahasia bahwa dalam suasanha serba
kapitalistik, media tak bisa mengelak untuk
terpengaruh. Karena itu, demi menjaga independensi
editorial, baik dari, misalnya, tekanan partai politik
atau tekanan komersial, para jurnalis memperjuangakan
indepensi for its own sake. Singkat kata, independensi
untuk independensi. Efeknya, seperti kata Bill Kovach,
menarik diri dari tekanan di luar dapat menyebabkan
putusnya kaitan dengan masyarakat (community) yang
diberitakan.

Dampak lanjutan dari situasi di atas adalah berubahnya
"bunyi berita" (journalism' s tone). Ini terjadi karena
jurnalisme berkembang menjadi lebih subyektif dan suka
menjatuhkan penilaian (more subjective and
judgemental) .

Jadinya, lebih banyak coverage berita difokuskan untuk
menjembatani apa yang ada dalam benak publik dalam
mengatakan sesuatu, tinimbang melaporkannya kepada
publik secara langsung. Pada akhirnya, berita yang
bersifat "stright news" menurun, dan berita-berita
yang bernada penafsiran dan analitis (interpretive and
analytical news) meningkat.

Pada skala yang tertentu, tak sedikit jurnalis yang
"melintasi garis dari skeptis atau ragu menjadi sinis"
(crossing a line from skepticism to cynicism). Malahan
ada yang dengan bersemangat "nihilism" sedemikian rupa
sehingga mendasarkan kerjanya pada "filsafat tidak
mempercayai sesuatu" (the philosophy of believing of
nothing).

"It seems the worst thing a reporter or commentator
can be accused of in certain circles is not inaccuracy
or unfairness but credulousness" kata Phil Trounstein,
editor politik San Jose Mercury News.

Independensi yang mengalami proses isolasi ini juga
menghasilkan "spiral sinisme" (spiral cynicism), dan
terlihat dari perubahan yang amat terasa dari "what"
menjadi "why" dalam pemberitaan publik (khususnya
tokoh publik).

Hasil yang muncul dalam pemberitaan, karena itu, lebih
banyak terfokus ke diri para tokoh publik, daripada ke
persoalan kebijakan publik yang merupakan hasil kerja
para tokoh publik itu, yang berpengaruh langsung
terhadap kehidupan publik. Akibatnya, para jurnalis
membatasi (interiorized) isu yang diberitakan menjadi
sedemikian rupa sehingga membuat para jurnalis tidak
memiliki kaitan lagi dengan publik.

Isolasi independensi editorial ini dengan baik bisa
terlihat dari fakta bahwa surat kabar, majalah, radio,
dan televisi memperbanyak keuntungan finansial dengan
lebih memilih melayani para pembaca, pendengar, dan
penonton yang paling makmur, daripada melayani
pembaca-pendengar, dan penonton yang lebih luas.

Dengan begitu, jika cover Tempo tentang Soeharto dan
keluarganya yang ditampilkan dengan mengadopsi lukisan
The Last Supper itu hendak di-judgement, ukuran
judgment-nya, untuk yang pertama dan paling mendasar,
adalah dengan menggunakan kaidah jurnalisme.

Apakah, misalnya, ada kaitan antara independece to
isolation, dengan situasi aktual dimana pers
sedemikian rupa memanjakan Soeharto dalam pemberitaan,
sedemikian rupa sehingga secara interprtive, cover itu
muncul sebagai pilihan Tempo untuk menampilkan tafsir
(sebab sulit disebut opini) tentang akhir dari
"tragedi Soeharto" atau bukan?

Adakah, misalnya, pilihan membuat cover dengan
mengadopsi atau mungkin lebih tepatnya "memparodikan"
lukisan "The Last Supper" yang terkait dengan
kepercayaan umat Katolik itu sesuatu yang dipilih
untuk memberi efek tertentu pada edisi khusus,
sehingga para pembaca akan memiliki tafsir yang mirip
dengan yang dikehendaki Tempo, meski dengan
mengesampingkan kemungkinan perasaan sebagian umat
Katolik terlukai?

Atau pertanyaan sederhana saja, apa iya malah justeru
terjadi loose contact antara maksud dari cover itu
dengan pemahaman publik atas cover itu?

Pada tiga pertanyaan itu, sesungguhnya terselip elemen
kontroversi dalam cover Tempo.

Di dunia jurnalistik, ada yang disebut penyajian
berita dalam kerangka "memenangkan kontroversi. "

Cover Tempo memiliki elemen kontroversi, tetapi sangat
sulit untuk bisa masuk kategori "memenangkan
kontroversi. "

Saya pribadi berpendapat, berbekal "pembacaan" seperti
di atas, ada dua pertanyaan besar yang bisa
di-judgement secara terbuka saja.

Yaitu: apakah cover semacam itu bisa ditafsirkan akan
efektif menarik publik memiliki pemahaman yang sama
dengan Tempo tentang akhir kehidupan Soeharto, ataukah
sebaliknya, cover itu malah menjadi "titik lemah"
(bukan antiklimaks) dari edisi khusus Tempo yang
mengulas Soeharto dari berbagai sisi dengan
komprehensif itu?

Saya memilih menjawab bahwa tulisan Tempo tentang
Soeharto dalam edisi khusus itu merupakan karya
jurnalistik yang hebat, tetapi cover edisi khusus itu,
tidak untungnya, malahan menjadi titik lemah, justeru
karena sangat mungkin, baik langsung maupun tak
langsung, cover itu merupakan resultan dari situasi
yang equivalen dengan "independence to isolation" yang
lekat dengan daya interpretasi dan sinisme, sehingga
titik akhirnya bisa bermuara kepada BEYOND JOURNALISM.

Nah,

Baru akan muncul masalah besar jika ada sebagian dari
berita-berita Tempo dihasilkan dari posisi equivalen
dengan "independence to isolation".. .

Dengan posisi seperti itu, interpretasi dan sinisme
bisa menjadi unsur yang lebih kuat tinimbang fakta
dalam berita yang disajikan.

Itulah salah satu alasan kenapa saya masih
berlangganan Tempo, karena Tempo memang enak dibaca
dan perlu, termasuk dibaca untuk keperluan
mengembangkan daya baca saya secara jurnalistik.

Jadi ya wajar jika pandangan saya terhadap Tempo telah
banyak sekali berubah, sebagian ya karena pembacaan
secara jurnalistik dengan mengambil "posisi kritis"
itu.

Segitoe sadja

Teruslah Tempo Berkarya dan menyapa pembaca seluas
mungkin, dan saya berdoa moga-moga Tempo tidak tergoda
masuk perangkap beyond journalism.

Biarlah beyond journalism jadi mainan koran-koran
kuning (koran sensasional) atau koran organ partai
saja.

Segitoe sadja

Salam hangat,

Hadiwin

[Pekerja Pers]


Oryza Ardyansyah menulis:

Salam...

Sori, Madamme helena... kayaknya ada salah paham
deh...

yang saya maksudkan posisi Mbah harto di tengah dalam
lukisan Tempo bukanlah Mbah Harto berposisi tak
ubahnya Yesus dalam hal spiritualitas.

Maksud saya, posisi Yesus begitu penting bagi para
muridnya dan umat Nasrani (Muslim pun mengakui
kenabian Yesus). Nah, dalam konteks ini ke-maha
pentingan- ini, Mbah Harto juga begitu. Posisi di
tengah menunjukkan betapa sentralnya dia di mata
anak-anak dan kroninya. Ayat-ayat Suharto disiarkan
dan dikabarkan menjadi laku yang menggurita dan enak
untuk dinikmati mereka.

demikian.

salam hangat
RYZ
blog: www.manifesto- padi.blogspot. com


Helena Dwi Justicia menulis:

Salam juga...

Bung Oryza, kayaknya Anda salah paham juga deh, hihihi...

Justru itu... yakin kalo yang dikauw maksudkan itu tepat? Mmmm... atau kita bicara versi, ya? Maksudku, apa iya Pak Harto itu segitunya? Kayaknya enggak deh... Aku sih sekarang masih baca Tempo untuk tau sudut pandangnya/versinya dia... Kalo menurut aku sih, Pak Harto itu dikadalin abis sama orang-orang di sekitarnya, termasuk anak-anaknya sendiri. Aku bisa kok mencintai Pak Harto, karena ya dia emang begitu itu. Aku akan heran sekali kalo dia menampilkan tingkah yang beda. Malah nggak terintegratif, nggak nyambung.

Nah, makanya menurutku The Last Supper itu gak pas karena kaitan antar unsurnya yang beda. Itu kan gambar utuh, toh... Kita kan nggak bisa cuma ngambil posisi tengah si Yesus dan digantiin Pak Harto. Lha trus makna keseluruhannya gimana? Hehehe, ini jadi ribet karena kita nggak tau penjelasan si desainer grafisnya sih ya...

Yang jelas Bung Oryza, da Vinci itu nggak cuma nggambar, tapi juga sekaligus membuat simbol... So semua hal di lukisan itu sarat makna, termasuk juga langit yang jadi latar belakangnya. Mungkin hal-hal ini yang kelewat dari perhatian Tempo, sehingga upaya yang mereka lakukan untuk bikin gambar ulang itu, mmmm... jadi rada kontraproduktif sih... Apalagi kalo dibandingin ama tulisannya yang begitu komprehensif.

Mmmm... trus kalo ada anggapan bahwa Perjamuan Terakhir itu begitu mencekamnya, karena ada konflik tentang siapa yang akan nerusin dinasti 'Yesus', itu 'bullshit'. Kan itu toh yang digembar-gemborkan buku Da Vinci Code? Bahwa Petrus sebenernya ngancem Maria Magdalena pake pisau? Hahaha... enggak segitunya lageee...

Pas Perjamuan Terakhir itu, murid2 Yesus itu nggak ngerti apa-apa saking dodolnya... Wong mereka cuma bertahan sampai Yesus ditangkep. Setelah Yesus mulai disiksa, semuanya pada ngacir. Boro-boro ada yang nerusin 'dinasti' Yesus... apalagi bikin agama baru, hehehe... Petrus, murid yang kabarnya 'anak emas' Yesus bahkan ngabur jauh-jauh dan balik lagi jadi nelayan... just on ordinary people gitu. Jadi, kalopun The Last Supper itu punya makna dalam, ya karena perkara pecah-pecahin roti & bagi-bagiin anggur itu... simbol penyerahan diri secara total.

Mungkin akan lebih baik kalo Tempo nemuin gambar lain yang kaitan antar unsurnya itu lebih pas. Dwidjo mungkin bisa kasih bocoran kenapa The Last Supper yang dipilih untuk dipelesetin? Jangan-jangan 'termakan' sensasionalitas Da Vinci Code? Hehehe... Trims...


hdj
blog:www.helenadjus ticia.blogspot. com
(yang isinya teteeeeep aja 1 artikel, hehehe...)


Dwidjo Utomo Maksum menulis:

Salam,

Soal cover Tempo, bagi saya kok sudah expired ya.
Tempo secara institusi sudah meminta maaf dan sebagian
orang yang mengaku Nasrani dan memprotes ke Proklamasi
72 juga sudah bisa menerima permintaan maaf itu. Tapi
kalau mau diperdebatkan terus ya gak papa juga, bisa
buat melatih ketajaman apresiasi seni kontemporer.

Nah, buat nambah materi bagi yang masih suka berdebat
tentang itu, ini ada tulisan Sabam Sinaga (Wapempred
Lampung Post) yang dimuat Lampung Post edisi Jumat
(8/2). Sabam Sinaga adalah seorang pemeluk Nasrani.

Pis,
Dwidjo U. Maksum
------------ ----
Leonardo Da 'Tempo'
SEBUAH pesan singkat (SMS) mengusik pikiran saya,
Senin (4-2) sore. Pesan itu dikirim seorang kenalan,
pengurus sebuah parpol. Isi SMS itu cukup panjang,
tapi intinya menyatakan parpol-nya mengecam cover
Tempo yang memakai lukisan "The Last Suffer"
(maksudnya "The Last Supper") untuk menggambarkan
Soeharto dan kroninya. Dia menganggap cover itu
pelecehan terhadap orang Kristen sehingga harus
disikapi.
Besoknya, Selasa (5-2), SMS soal serupa di-forward
teman sekantor ke ponsel saya. SMS itu dikirim seorang
aktivis pemuda dan isinya lebih keras dari SMS
pertama. Aktivis itu menilai cover majalah Tempo edisi
4--10 Februari 2008 menghina dan menyakiti hati umat
kristiani. Gambar perjamuan kudus itu melecehkan
Yesus.
Isi SMS pertama dan kedua mendorong saya melihat cover
Tempo itu. Di sampul itu dilukiskan Pak Harto duduk di
meja panjang dan diapit keenam putra-putrinya. Setelah
melihat itu, saya spontan tertawa.
Saya coba berpikir, mencari dalih atau teori untuk
menyalahkan gambar itu, tapi tidak berhasil. Saya sama
sekali tidak terusik, apalagi dilecehkan. "Apa yang
salah pada gambar ini," tanya saya dalam hati.
Kalaulah gambar itu meniru pose perjamuan kudus Yesus
dan ke-12 murid-Nya (karya Leonardo da Vinci yang
diberi judul "The Last Supper"), apakah itu bisa
dikatakan melecehkan Yesus atau orang Kristen?
Saya kok tidak merasa dilecehkan. Kalau saya tidak
merasa dilecehkan, apa saya bukan orang Kristen?
Saya tanya lagi diri sendiri, apakah karena saya
jarang ke gereja sehingga tidak merasa disakiti jika
Yesus dilecehkan? Apa karena saya tidak rajin ikut
kebaktian sehingga tidak sensitif lagi soal-soal
kekristenan? Apa karena saya wartawan sehingga
menoleransi Tempo? Banyak pertanyaan muncul di benak
saya dan semua saya jawab sendiri. Tapi, saya tidak
juga merasa disakiti oleh Tempo.
Ada tiga hal membuat saya tidak merasa dilecehkan.
Pertama, saya bukan keluarga Leonardo da Vinci. Saya
tahu persis nenek-moyang saya orang Batak dan tidak
pernah menikah atau punya affair dengan pelukis Italia
itu. Jadi, kalau pun lukisan itu diplagiat Tempo, saya
tidak berhak menggugat. Lagi pula saya bukan kolektor
atau pencinta lukisan Da Vinci.
Kedua, menurut saya, kemuliaan Yesus takkan berubah
meski dilecehkan, dihujat atau dipuja-puji manusia.
Misi-Nya sudah final, terserah pada manusia apakah
mengikuti ajaran-Nya itu atau tidak.
Ketiga, lukisan Da Vinci atau gambar cover Tempo itu
adalah hasil imajinasi atau olah pikir. Jadi, nggak
patut dikaitkan dengan iman kristiani.
Saya malah kepengin membingkai cover Tempo itu dan
memajangnya di ruang kerja saya. Mungkin bisa saya
kasih judul "Warisan Pak Harto" karya Leonardo da
Tempo. Kira-kira ada nggak yang merasa dilecehkan?( *)


Helena Dewi Justicia menulis:

Tau gak sih... aku kok jadi khawatir sama kita ya... Apa karena 'bagaimanapun' , kita punya pihak-pihak yang kita rasa perlu untuk dibela, sehingga obrolan sahut-sahutan kita di Milis ini nggak nyambung? He'eh lho, aku kok merasa kita ini nggak nyambung... Apa karena kita makin tua ya? Atau makin hati-hati? Atau makin tegas mengenai garis masing-masing? Atau makin berjaga-jaga supaya gak menyakiti yang lain? Coba deh renungkan... sahut-sahutan kita beda dengan beberapa tahun silam, dan ya emang harus beda supaya keliatan ada dinamika... tapi akan baik kalo kita cukup sadar mengenai prosesnya, kan?

Mmmm... meski banyak yang menghujat Soeharto, dan aku tau juga kalo dia emang dodol, tapi kok aku jadi mikir-mikir. ..

Ini gara-gara cover Tempo juga... mengingatkan pada Yesus... Kalo kurenungkan, Yesus itu kan pemberontak juga ya. Zaman Yesus itu, yang namanya rakyat ya sengsara juga kayak zaman Soeharto. Malahan lebih menyedihkan, lha wong orang kusta aja diasingkan.. . orang yang dianggap berdosa secara sosial (PSK, pemungut pajak dll) gak dapet tempat di rumah ibadah... orang sakit gak diurus... perempuan ditindas... Lha tapi si Yesus itu apa ya ngumpulin tentara, lalu memberontak melawan pemerintah?

Enggak, tuh. Dia kan kerjaannya cuma jalan-jalan keliling kampung, dongengin orang, nyembuhin yang sakit, menghibur yang teraniaya... malah cinta-cintaan ama PSK segala. Buset deh. Orang kayak begitu ternyata malah yang bikin kekuasaan meradang... cuma karena mampu merebut hati rakyat kecil...

Aku trus mengingat-ingat. .. apa ya yang sudah kulakukan untuk rakyatku? Jawabnya bisa kuperoleh dengan cepat: nggak ada! Huah, padahal aku kalo abis nulis sesuatu yang heroik, rasanya udah banggaaaaaa. ... banget... Tapi.... tetep aja Jakarta banjir... sampah numpuk... macet... orang sakit ampe mati... anak kecil gak punya peluang minum susu... Alamakkk...

Kayaknya aku mau bener-bener bertobat deh. Rada bersyukur karena udah mulai praktik pake komposter sehingga mengurangi sampah. Menghijaukan lingkungan. Bentar lagi aku mau nyari dana biar bisa ngasih subsidi tetangga-tetanggaku untuk beli komposter. Mungkin trus bikin koperasi, merintis akses buat baksos pengobatan rutin bagi mereka yang nggak pernah bisa menyisihkan uang buat obat.

Wah, banyak yang harus dilakukan ternyata.


hdj

nb: Eh Dwidjo, tulisan Sabam Sinaga itu nggak ngefek buat kita, karena kurasa kita sudah melampaui itu deh... Atau Anda sendiri yang masih merasa bersalah? Hehehe... Ayolah Bung, kurasa kita nggak sebegitunya kok. Aku aja cengengesan. Tuhan nggak perlu dibela, kata Gus Dur. Aku ho'oh aja, malah membayangkan Tuhan itu kayak Gus Dur... (tentu saja dengan versi yang jauh lebih sempurna...) Buatku, yang harus dilakukan itu ya membela kemanusiaan, memperjuangkan agar semua orang mendapatkan kembali harkat dan martabatnya yang mulia... bukannya digebukin, ditindas, dianiaya, dinistakan.. .


Dwidjo Utomo Maksum menulis:

Salam,

Ini ada tambahan materi buat yang masih suka
mendiskusikan perjamuan cover Tempo, tulisan Goenawan
Mohammad. Semoga berkenan dan bermanfaat.

Wassalam,
Dwidjo U. Maksum

Goenawan Mohamad wrote:
KULITMUKA TEMPO

Tentu tidak ada maksud majalah TEMPO untuk melukai
hati orang
Kristen, tetapi tidak berarti tidak ada yang salah
dalam gambar itu.
Menurut hemat saya, menggunakan tema "Perjamuan
Terakhir" dalam
karya Leonardo da Vinci jadi dasar tema kepergian
Suharto
sama sekali tidak tepat. Tema dan suasana "Perjamuan
Terakhir"
dalam lukisan itu adalah kesedihan, keprihatinan
dan kerelaan di antara mereka yang tak punya apa-apa.
Sedang justru itu yang tak ada di hari terakhir Suharto. Suharto
tidak mati disalib.
Juga saya ragu apakah kematiannya akan melahirkan keyakinan
baru. Dan yang jelas, yang dibagi-bagikannya (dan dinikmati
anak-anaknya) bukanlah potongan roti dan beberapa reguk anggur, melainkan
kekayaan yang berlimpah-limpah, yang didapat karena kekuasaan
politik.

Saya senang bahwa ada protes tapi tak ada kekerasan. Saya senang bahwa dengan tulus pimpinan TEMPO minta maaf, dan Sekjen KWI memberikan maafnya. Itu tanda kita masih bersedia menjaga peradaban.


Felix St. Lamuri menulis


Aloo...

Kayaknya kok rada saru...eh seru ngomongkan soal cover
majalah. Padahal aku sempat baca edisi tsb sblm ke
luar kota en menurutku nggak ada sesuatu yg mengganggu
mataku. Bisa jadi aku udah 'tumpul' atau tua (versi
Helena) atau emang gak tau apa2. Bagaimanapun juga
Last Supper merupakan fakta yang kerap mengilhami
ribuan episode kehidupan manusia. Jadi kalau ada yg
merasa terganggu soal itu artinya memang
penghayatannya udah luar biasa, mungkin saking luar
biasanya kerap kejebak dalam perpektif sempit (kalau
dulu Dwidjo n SGH kerap pake jargon 'mental block').
Kalau kebablasan konsepnya mencuat jadi
fundamentalisme. Semua di luar konsep Kristiani
dianggap tidak ada yang beneh... Mungkin itu yang
melatarbelakangi protes berlebihan dari satu kelompok
masyarakat.

Sepakat dgn Helena, kalau nggak jelas jatuhnya pasti
kontraproduktif.

Rgds,
SFL

Baca Selengkapnya..

20 January 2008

Mark Bowden Menepati Janji

Setelah sekian lama, jurnalis Mark Bowden akhirnya membalas surat saya. Saya mulanya mengira, ia lupa terhadap janjinya mengirimi saya artikel Joey Coyle Story. Ternyata dia masih ingat.

Dalam emailnya, dia mengatakan:

I am having a hard time locating the original magazine articles, Oryza. They are very much like the final version, only very small differences. I will try to hunt up electronic copies and email them.
MB


Baca Selengkapnya..

29 December 2007

Surat untuk Mark Bowden

Aku melayangkan surat kepada Mark Bowden kepada Black Hawk Down. Ia terkejut bukunya diterjemahkan.

Berbekal bahasa Inggris yang pas-pasan, aku melayangkan surat elektronik kepada Mark Bowden. Ia salah satu jurnalis naratif yang saya kagumi. Pernah lihat film Black Hawk Down? Film itu diangkat dari hasil reportasenya.

‘Black Hawk Down’ mulanya sebuah artikel yang dimuat secara bersambung selama sebulan penuh pada November – Desember 1997, di surat kabar Philadelphia Inquirer. Bowden menceritakan kembali perang kota selama 17 jam yang dialami pasukan Amerika Serikat di Mogadishu, ibu kota Somalia, pada Oktober 1993.

Perang itu adalah perang modern yang brutal. Sebuah misi untuk menculik sejumlah perwira penguasa perang Mohamed Farah Aidid diperkirakan hanya memakan waktu sejam. Namun, Amerika salah. Pasukan yang dikirimkan justru remuk redam dihajar gerilyawan Somalia.

Dua helikopter canggih Black Hawk ditembak jatuh (inilah kenapa film dan artikel Bowden berjudul Black Hawk Down). Sementara, 18 serdadu tewas dan 73 lainnya terluka.

Tak ada media Amerika yang memberitakan perang terkeras yang dihadapi serdadu mereka, hingga Bowden melakukan reportase intensif untuk merekonstruksi peristiwa itu.

Untuk menulis cerita ini, Bowden harus membolak-balik ribuan halaman dokumen resmi dan memutar ulang rekaman video dan audio berisi pertempuran Mogadishu selama berjam-jam.

Guna mendapatkan detail, Bowden mewawancarai lebih dari 50 orang serdadu yang terlibat perang itu. Ia juga datang ke Mogadishu untuk mewawancarai berlusin-lusin serdadu Somalia yang juga terlibat dalam pertemputan tersebut.

Hasilnya? Dahsyat. Setelah menonton filmnya, aku mengopi soft file cerita itu dari website Inquirer. Sebuah cerita yang mencengangkan. Black Hawk Down tak jarang juga menjadi bahan dalam kelas naratif dan jurnalisme sastrawi yang digelar Pantau.

Saya ingin berkenalan dengan Bowden dan bermaksud mewawancarainya. Saya hendak menulis jurnalisme naratif dalam media online. Kebetulan juga, salah satu buku Bowden berjudul Finders Keepers sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Joey Si Frustasi yang Beruntung.

Selasa, 25 Desember 2007 saya menulis surat pertama saya, berjudul Regard from Indonesia.

Hi, Mark...

I am sorry if I am not good in English. I just wanna
say that I love your narrative writting.

I am a young reporter and work for news online
www.beritajatim.com. Your work, Black Hawk Down,
inspired me so much. I read it in philly website. I am
sorry because Black Hawk Down doesn't translated yet
in Indonesia languange.

I love your work, Finders Keepers: The Story of a Man
Who Found $1 Million. This book has been translated in
Indonesia and called: 'Joey: Si Frustasi yang
Beruntung'.

I've met Janet Steele, a professor od George
Washington University, and she taught me a lot about
narratives in Jakarta. From her, I know that you so
gigantic.

Oke, that's it. I just wanna say that I would be happy
if I can know you closer.

Regard,
Your Fans from Indonesia

Oryza Ardyansyah

PS:
Can I have a soft copy your article The Joey Coyle
Story. I just wanna know how you make an article to be
a book. Thanks a lot.


Jawaban Mark Bowden saya terima lekas, dan saya baca pada 26 Desember 2007-12-29

Thank you for your very nice note, Oryza. Your English is a lot better than my Indonesian. I am delighted that "Finders Keepers" has found its way into your language. I would be happy to send you a copy of the "Joey Coyle" articles. Please give me your address. Good luck in your own writing!
MB


Lalu saya berkirim surat lagi dengan judul It’s Surprise Me, Pak Mark pada 26 Desember juga.

Salam hangat... (it's mean warm regard in Indonesian)

Wow... I can't say anything. You answer my letter so
fast, it's surprising me. It's honour for me, Pak Mark
(Pak is mister in Indonesian).

Thanks for your kind to send me a copy of the "Joey
Coyle" articles (and please give me your signature).
My address is:

Oryza Ardyansyah Wirawan
Perum Taman Gading Blok MM - 2,
kelurahan Tegal Besar kecamatan Kaliwates
Jember city, East Java province, Indonesia
kode pos 68132

In the future, I wanna do some interview with you via
email, if you're OK. I wanna make writing about you
and your some works, espescially Black Hawk Down on
online, for Pantau and beritajatim.com. Pantau is
feature news service in Indonesia (www.pantau.or.id)

I wanna write about narrative reporting prospect for
news online. I Have some interview with Janet Steele
about narrative reporting prospect for news online.
She called your 'Black Hawk Down' is good example. You
and Philly Inquirer made breakthru in journalism.

In Indonesia, narrative reporting, i.e. your works,
Susan Orlean, Gay Talese, Mark Kramer, or Tom Wolfe,
is not popular, especially in online.

I feel disappoint for that fact. You know, we have
strong storytelling culture. Oral culture. But in
writing, mass medias love straight news so much.

Maybe I'll review your works: Black Hawk Down and
'Joey Si Frustasi yang Beruntung', as examples.
Because, I just have that writings only. (I am really
sorry because I can't read your other works in
Indonesia. Difficult to see your works here.)

I think my letter too long and maybe boring you. But I
really hope could keep in touch with you. I really
like to learn your techniques and your works.

Thanks for your kindness. I'm exciting to wait for you
coming to Indonesia and make some reporting here. God
bless you.

Salam hangat,
your fans

Oryza Ardyansyah Wirawan



Surat itu aku lanjutkan dengan surat lainnya pada 28 Desember dengan judul My Writing about Black Hawk Down in Indonesia.

Hi, Mr. Bowden...

I am sorry if I disturb you, It's me again. I just
wanna let you know about my writing on
http://beritajatim.com. I write about narrative
journalisme future in Indonesia, especially online
news.

I am sorry, because I write it in Indonesian. I wanna
write a long story about narrative journalisme future
in Indonesia, especially online news, for
pantau.or.id. It's news feature service.

So, please let me know if you could give me a time for
some interview via email about that topic. Thank you
very much for your kindness. Once again, I am sorry,
if my letter disturb you.

Your Fan,
Oryza A. W.


PS: below is my writing about Black Hawk Down on
www.beritajatim.com.


Jumat, 28/12/2007 13:10 WIB
Masa Depan Jurnalisme Naratif di Indonesia (6)
Black Hawk Down Terbang Tinggi dalam Jurnalisme Online

Reporter : A Wirawan

Jakarta - Bagaimana sebaiknya jurnalisme naratif
disajikan dalam sebuah media online di Indonesia?
Jawaban itu bisa merujuk pada Black Hawk Down.

Janet Steele, profesor jurnalisme dari George
Washington University mengatakan, Black Hawk Down
adalah eksperimen yang baru saja terjadi di Amerika
Serikat, dan dilakukan oleh suratkabar Philadelphia
Inquirer.

Black Hawk Down adalah karya reportase naratif Mark
Bowden, seorang jurnalis senior Amerika. Tulisan ini
dimuat bersambung setiap hari selama kurang lebih satu
bulan di harian Philadelphia Inquirer. Ceritanya
tentang pasukan Amerika yang terkepung di Mogadishu,
ibu kota Somalia, selama 17 jam, pada tahun 1994.

Karya Bowden ini menjadi salah satu pembahasan dalam
kelas jurnalisme sastrawi dan kelas naratif di Pantau.
Steele sempat menyinggung Black Hawk Down dalam kelas
jurnalisme sastrawi yang saya ikuti, 10 - 21 Desember
silam.

Untuk membuat tulisan ini, Bowden mewawancarai para
tentara Amerika yang menjadi saksi mata peristiwa
berdarah tersebut. Ia terbantu oleh rekaman audio
antara pilot di helikopter Black Hawk yang tertembak
jatuh dengan markas besar militer Amerika.

Tulisan bersambung itu menjadi terobosan dalam
jurnalisme online setelah dimuat secara online dalam
website Inquirer. "Surat kabar seperti di Philadelphia
Inquirer memakai banyak multimedia dalam website
mereka," kata Steele.

Dalam website tersebut, Inquirer menyertakan rekaman
wawancara dan rekaman audio dari helikopter Black
Hawk. Selain itu disajikan dokumen lain seperti peta
Mogadishu untuk menggambarkan meda pertempuran saat
itu. "Internet punya kapasitas luar biasa. Di berita
tradisional, saya akan melakukan reporting kemudian
menulis berita. Tapi kalau saya menulis untuk
internet, saya akan bisa menguatkan dokumen bukti.
Sangat transparan, atau link ke artikel lain," kata
Steele.

Mungkin bisa menjawab pertanyaan dari pembaca. Mungkin
bisa menjawab pertanyaan secara hidup, live chatting.

"Sekarang (di Amerika) semua wartawan muda diberi
kamera video. Ada ekspektasi mereka menulis untuk
website dulu. kalau ada breakingnwes di website dulu,
lalu dimuat di koran," kata Steele.[wir/te
d]


Dua surat terakhir belum dijawab oleh Mark. (*)







Baca Selengkapnya..

27 December 2007

Tanggapan Para Mentor terhadap 'Bertemu Andreas Harsono'

Tulisan Oryza Ardyansyah Wirawan tentang sekilas profil Andreas Harsono mendapat tanggapan dari tiga mentor narasi: Janet Steele, Linda Christanty, dan Andreas Harsono sendiri. Oryza Senang sekali membaca tanggapan mereka terhadap tulisan tersebut.

Linda dalam pesan pendeknya tanggal 27 Desember 2007.

Linda Christanty: "Oryza, aku sudah baca tulisanmu ttg kursus Jurnalisme Sastrawi dan Mas Andreas. Wah, bagus sekali! Itu bisa jadi profil Andreas. Tapi Pantau tak bs memuatnya. Itung2 latihan nulis profil ya. Terus nulis!"

Oryza Ardyansyah: "Hehe.gk pa2 kok mbak. Tulisan itu memang sngaja kubuat sbg smacam LPJ buat mbak, mas Andreas, Janet,dan Pantau. Kbetulan Dayu jg minta aku buat kesan dan manfaat ngikutin kursus ini. aku lg buat resensi covering oil."

Linda Christanty: "Ok, kutunggu resensi 'Recovering Oil' Oryza. Trims!"


Dari Janet Steele, Oryza mendapat pesan via surat elektronik. Isinya:

Hi Mas Oryza,

Tulisannya tentang Andreas sudah saya baca -- menarik sekali melihat
kesan Oryza tentang apa yang dialami di Jakarta. Pasti Andreas akan
sangat senang.

Terima kasih atas tulisan bagi saya saya! Saya akan membaca nanti dan
membalas, ya?

salam dari Jakarta,

Janet

PS Saya juga suka gagasan Orzya menulis tentang fenomena Bonek!

Janet Steele
Associate Professor
School of Media and Public Affairs
George Washington University
Washington, DC 20052
202-994-2004


Andreas juga melayangkan surat elektronik kepada Oryza:

Dear Oryza,

Saya kira cerita menarik. Saya jadi mengerti, "Oh gini toh cara orang
melihat saya."

Kalau Anda ingin menerbitkannya, saya usul diperpendek. Ada beberapa
bagian
yang repetitif serta mungkin kurang menarik perhatian pembaca. Ini akan
membuat naskah bergerak lebih cepat.

Soal kutipan dari Linda Christanty misalnya, saya kira bisa dibahasakan
dengan kalimat tak langsung. Obrolan dengan Sukidi dan Anda, soal
Pontianak
dan Jember, juga bisa dikurangi. Ada beberapa bagian lain yang juga
bisa
dikurangi.

Terima kasih.


--
Andreas Harsono
Email aharsono@cbn.net.id
Mobile +62 815 9509000
Skype andreasharsono
Weblog www.andreasharsono.blogspot.com


Baca Selengkapnya..

06 December 2007

Kabar Sedih dari Agus

Hari Ini, Agus, redaktur beritajatim, berkirim surat. Bukan surat cinta. Tapi surat perpisahan. Ini surat itu


Assallammualaikum wr wb

Salam sukses selalu buat seluruh kru beritajatim.com

Sejak pertengahan Maret 2006, Saya telah bergabung dengan situs berita www.beritajatim.com. Dan, mulai hari ini, 6 Desember 2007 saya menyatakan muncur dari www.beritajatim.com.

Terima kasih atas segala kesempatan dan kerjasama yang kita jalin selama ini dan saya juga memohon maaf atas seluruh kesalahan yang pernah saya perbuat.


Agus

oriza, salut saya untukmu
sita, sepertinya ini dia yang akan jadi editor, heheheee...
mustakim, sip, maen bola lagi yuk...(jgn lagi salah kirim pake nama orang lain.....hihihiiii)
ted, kutitipkan negeri ini padamu
kun, .........
pandu, ayo serbu......ser.....
aul, gimana keludnya
hari, mantab...
rahmad, masih bingung...
heru....
rois, jangan kaku2 kalo nulis kriminal
arif, mana ekspresinya....
fadel, sori aku gak seberapa paham berta ekonomi

================================================

Ini surat pengunduran diri yang saya kirim ke Pak Ainur Rokhim


Surabaya, 6 Desember 2007

Kepada
Yth
Direktur Utama CV Portal Jatim Media
Bpk Ainur Rokhim
di
Tempat

Dengan hormat,
Bersama surat ini Saya mengajukan permohonan sebagai karyawan di CV Portal Jatim Media pengelola situs berita www.beritajatim.com, terhitung tanggal 6 Desember 2007.

Saya menghaturkan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan untuk belajar dan bekerja di beritajatim.com sebagai Redaktur Pelaksana selama kurang lebih 19 bulan.

Tak lupa saya mohon maaf kepada seluruh karyawan serta jajaran manajemen apabila terdapat hal-hal yang tidak baik yang telah saya lakukan selama bekerja.

Saya berharap dan berdo'a agar situs berita www.beritajatim.com menjadi perusahaan yang terus maju dan sukses.


Hormat saya



Agus Supriyadi

Baca Selengkapnya..

25 April 2006

Ucapan Selamat dari Choirul Arifin

Aku mendapat ucapan selamat dari Choirul Arifin di milis mantan persma Jember.

Selamat bergabung di media baru, Oryza!

Kamu tidak sendirian dengan kata Mandiri-mu. Di Pekanbaru, Riau ada koran harian dengan nama Riau Mandiri.

Grup media ini sudah nyaris meraksasa seperti grup media Riau Pos milik Jawa Pos di sana.

Mereka punya radio komersial di jalur FM, namanya Mandiri FM. Mereka juga sudah melebarkan sayap bisnisnya ke Kota Batam dengan mendirikan Sijori Mandiri, harian pulak.
Ada eks awak Sijori Mandiri dan Riau Mandiri yang jadi sohib saya di Jakarta dan Batam.

Slamat atas kelahiran jabang bayi Jatim Mandiri !

Baca Selengkapnya..

23 April 2006

Surat dari Maya soal Jatim Mandiri

Tulisanku yang 'menggugat' dan resah dengan nama Jatim Mandiri di milis sedulur_indonesia dapat jawaban dari Maya Herawati. Dia ini mantan wartawan Suara Indonesia desk internasional. Sekarang juga kerja di Jatim Mandiri. Ini isi suratnya :

hari ini ada pak andrizal pimrush jatim mandiri aku bertanya:"Pak kok namanya jatim mandiri sih." katanya ya itu kan kesepakatan kita bersama.

awalnyajatim mandiri ini hanya diberi nama mandiri. lalu adayang menambahkan jatim untuk menunjukkan identitasnya.identitas komunitas.

trus...aku cerita tentang mas oryza. Pak, wartawan kita yang dijember itu sering dirasanisama anak anak wartawan lainnya. katanya nama korannyamirip bank. atau koran merger bank.

dia menjawabnya biar saja. wong image building itu juga tak mudah. kita bahkan memang mau menembusi bank mandiri kok. kalo dia mau jadi investor tunggal ya nanti jatimnyadi ilangi. begitu.....

Sekedar info.....jatim mandiri belum punya investor tetap.pihakplatinum masih belum mau. bahkan mereka penginsearching investor baru kok.

hiiiiii....kok mirip SI

Baca Selengkapnya..

21 April 2006

Jawaban Dharma Dewangga Soal Jatim Mandiri

Berikut jawaban singkat Dharma Dewangga, redaktur Jatim Mandiri, seputar identitas koran baru ini.

Tanya :
Bagaimana asal-usul berdirinya JM.
Jawab :
KONON, dana JM itu diambilkan dari dana SI yang ketikaitu tidak sempat dipakai dari investor Platinum.

Tanya :
Kenapa diberi nama JM? Siapa yang ngusulkan?
Jawab :
MAUNYA si pemilik, sesuai akte notaries yang dimilikioleh Dirut Tatang Istiawan yang juga salah satudireksi di Platinum

Tanya :
Model korannya seperti apa?
Jawab :
TIDAK jauh berbeda dengan SI, cuman 16 halaman saja.

Tanya :
Susunan redaksinya siapa saja?
Jawab :
PEMRED Imron Mawardi, eks JP, Manager Adrizal juga eks JP

Tanya :
Apakah sudah beredar di pasaran atau baru uji coba
Jawab :
SUDAH meski tidak banyak, sebab mau ditekankan dipelanggan.

Terima kasih.
KEMBALI kasih. dd

Baca Selengkapnya..