13 April 2011

Orang Buangan

Saya selalu merasa, birokrasi selalu menyediakan tempat buat ironi. Setidaknya di Jember, ironi itu ada di perpustakaan dan kesunyian tempat batu-batu kuno bersejarah ditata rapi.

"Dulu, perpustakaan dianggap sebagai tempat orang buangan," kata Mahfut Aslam, Kepala Perpustakaan Universitas Jember.

Di sebuah kampus seperti Unej, memang tak mudah memecat pegawai. Mereka yang dianggap tak berprestasi akan ditarik menjadi staf di perpustakaan: menjaga ratusan ribu buku. Orang bilang ini bukan sebuah tempat yang 'basah'.

Birokrasi, di kampus maupun pemerintahan, jelas jauh dari urusan air, kecuali mereka yang ke kamar mandi, atau bekerja di jawatan air minum. Namun 'basah' dan 'kering' menjadi terminologi khas birokrasi Indonesia yang tak disebutkan dalam literatur soal birokrasi negara macam 'The New Class' karya Milovan Djilas.

'Basah' dan 'kering' adalah pengidentifikasi, apakah sebuah posisi birokrasi memiliki banyak proyek atau anggaran melimpah. Proyek yang menumpuk dan anggaran besar menjanjikan tambahan pendapatan: baik dari jalur terang maupun reman-remang.

'Orang-orang buangan' dalam birokrasi tak pantas berada di tempat yang 'basah'. Parameter 'orang buangan' tak jelas juga, bagaimana seseorang dianggap berprestasi atau tak becus kadang sumir. Mereka yang tak bisa menjilat atau memikat hati atasan pun bisa dianggap tak berprestasi, atau mereka yang selalu kritis dan menentang keputusan atasan yang tak benar juga bisa dianggap lawan yang harus disingkirkan.

Birokrasi jadinya menjadi arena pertarungan mitos. Djilas menyebutnya: sebuah kelas baru yang solid dan kukuh bekerja untuk mempertahankan kepentingannya sendiri. Djilas memang bicara soal birokrasi di Uni Soviet. Tapi Djilas tepat, karena karakter birokrasi melintas batas.

Mitos 'orang buangan' ini sebenarnya merepotkan juga. Tempat yang menjadi penampungan orang-orang ini akhirnya menjadi tempat yang tanpa gairah. Mahfut mengakui, dirinya masih harus bekerja keras mendongkrak motivasi para pegawai perpustakaan. "Saya mencari cara, agar orang yang bekerja di perpustakaan mau bekerja tanpa disuruh," katanya.

Mahfut berniat mulia saya kira. Ia ingin teman-temannya merasa bahagia dan tak banyak mengeluh. Ia ingin teman-temannya tak terlalu banyak mengharapkan proyek: terlalu banyak berharap membuka lubang besar kekecewaan.

Tak mudah membangun keikhlasan, karena ini sama saja dengan menampik godaan. Sebuah upaya menjadi lebih bersahaja, menerima apa adanya. Orang bisa menyalahpahami ini sebagai sesuatu yang fatalistik: menyerah kepada nasib.

Tapi tidak, bukan begitu. Saya teringat Didik Purbandriyo, seorang koordinator Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Kementerian Budaya dan Pariwisata Jawa TImur.

Saya bertemu denganya di salah satu ruangan penyimpanan batu-batu tua, di samping kantor Dinas Pendidikan Jember. Ruangan itu sunyi, dan tak banyak orang yang berkunjung ke sana. Didik sudah bekerja selama bertahun-tahun, menjaga dan merawat batu-batuan itu.

Ini bukan pekerjaan yang lazim. Teman-temannya yang melesat jabatannya meledek Didik. "Tunggui terus itu batu."

Tak banyak yang bisa diharapkan dari menunggu batu-batuan dari masa lampau, memang. Tapi setidaknya Didik merasa tenang. Ia tak ingin berkubang uang namun tak nyenyak di malam hari, karena diburu palu keadilan. Ia tak merasa menjadi orang buangan, ia tak merasa dicampakkan.

Saya tak tahu di dunia birokrasi ada berapa banyak yang menyadari makna judul album kelompok musik rock Amerika Serikat Bon Jovi: Slippery When Wet. Awas basah, awas kepleset. [wir]

No comments: