30 May 2009

Pasar Tradisional Daerah Tunggu Sentuhan Kallanomics

Janji calon presiden Muhammad Jusuf Kalla di hadapan para pengusaha anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) beberapa waktu lalu, banyak dinanti masyarakat di daerah-daerah. Saat itu, Kalla menyatakan, saatnya pemerintah memperhatikan pasar-pasar tradisional sebagai barometer dan penguatan ekonomi, dan bukan hanya pasar modal.

"Memang seharusnya begitu. Saya orang daerah. Di daerah, kalau bicara soal ekonomi, ya bicara soal pasar tradisional," kata pengajar Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember Abdul Muis Thabrani, kepada beritajatim.com, Sabtu (30/5/2009).

Thabrani melihat, visi Jusuf Kalla - Wiranto lebih jelas dalam memberdayakan masalah perekonomian di daerah. Saat ini di daerah, pembangunan ekonomi sebagian besar berbenturan dengan kepentingan pemerintah untuk melakukan penertiban. Akhirnya, pedagang kecil tergeser atas nama penertiban.

Konsep ekonomi JK yang bisa disebut Kallanomics bakal mendamaikan pertempuran antara 'penertiban' dan 'kepentingan ekonomi kerakyatan'. "Kallanomics menekankan pragmatisme dalam pembangunan," kata Herdi Sahrasad, peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina, dalam salah satu artikelnya.

Pragmatisme yang dimaksud adalah prioritas tertinggi pembangunan ekonomi ditempatkan pada kepentingan rakyat, terutama untuk pemberantasan kemiskinan d an pengangguran.

Dalam Kallanomics, penghargaan terhadap peran warga dalam perekonomian penting. "Semua warga masyarakat merasa istimewa, dan berkepentingan untuk terlibat membangun Indonesia secara bersama-sama," kata Kalla dalam suatu kesempatan. Pedagang di pasar tradisional pun menempati posisi istimewa itu.

Ketua asosiasi pedagang kaki lima di Jember, Mochammad Iksan, mengatakan, pedagang pasar rakyat harus diperhatikan oleh siapapun yang kelak menjadi presiden. "Sekarang pedagang pasar rakyat kalah dengan mart-mart (toko swalayan). Barang dagangan mereka sama, tapi harga di mart lebih murah sehingga orang lari ke sana," katanya dengan logat Madura yang kental.

Akibat pertumbuhan toko swalayan yang takl terkendali, banyak pedagang tradisional di perkampungan yang mati. Iksan meminta presiden terpilih mendatangi sebaiknya mengurangi jumlah toko swalayan hingga 60 persen. "Tolong pasar rakyat ini dibina dan dilindungi," kata Iksan. (wir)

No comments: