08 November 2008

Catatan
Persebaya, Bonek dan The Public...

Apa yang saya ramalkan sejak awal benar-benar terjadi. Persebaya ngos-ngosan karena kehabisan duit di tengah kompetisi. Tanpa kucuran APBD, Persebaya tak ubahnya mobil tanpa bensin. Mogok. Kondisi ini berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan nama besar Persebaya selama ini dan prestasinya di Divisi Utama saat ini.

Klub sebesar Persebaya 'hanya' dapat sponsor perusahaan biskuit yang itu pun gerojokan dananya tak sebanding dengan yang dibutuhkan. Sisanya, seperti biasa, lagu lama diputar lagi: manajemen dan pengurus Persebaya 'nodong' para pengusaha. Namun hasilnya tak seperti harapan. Lagu lama itu tak semerdu dulu.

Lalu jurus andalan dipakai: minta duit APBD. Alasannya ada celah, ada peluang. Klub bisa menggunakan dana APBD, asal tidak untuk menggaji dan mentransfer pemain.

Episode Persebaya musim ini adalah episode dua wajah. Wajah pertama adalah wajah yang elok nan tampan. Permainan Persebaya memukau dan patut disebut sebagai kandidat kuat jawara. Kemenangan demi kemenangan diraih.

Wajah lainnya adalah wajah yang buruk, wajah sebuah klub yang jauh dari profesionalisme. Saya memandang dengan 'menodong' pengusaha dan mengemis APBD, Persebaya tidak ditegakkan di atas sendi-sendi klub profesional. Klub ini diniatkan profesional. Namun para pengurusnya masih berparadigma klub perserikatan alias amatir.

Yang menyedihkan, saya tidak melihat adanya perasaan malu dan menyesal dari para pengurus karena mengingkari janjinya saat awal mula terpilih. Lebih menyedihkan, aroma kegagalan Persebaya menjadi profesional masih ditambah aroma politisasi segelintir pengurusnya. Bukan rahasia lagi jika klub legendaris ini dikendalikan oleh mereka yang berlatar belakang politik sama.

Apa yang ditunjukkan pengurus Persebaya semakin meruntuhkan kredibilitas dan reputasi mereka. Selama paradigma pengurus Persebaya tidak diubah, maka jangan harap ada investor yang mau merapat. Padahal jujur saja, sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya tak akan kekurangan investor, termasuk investor yang mau memasang duitnya untuk sepakbola profesional.

Dalam kondisi seperti ini, saya sebenarnya melihat Bonek, pendukung Persebaya, berpotensi mendobrak kebuntuan di Persebaya. Selama dua tahun terakhir, sejak peristiwa kerusuhan September 2006, suporter yang punya reputasi buruk ini sedikit demi sedikit berhasil mengubah diri menjadi lebih baik. Saat di tempat lain kerusuhan suporter terjadi, di Surabaya tak terdengar kabar serupa.

Namun ternyata segelintir elite suporter Bonek yang dianggap bisa menjadi rujukan, justru menunjukkan kebuntuan yang sama. Mereka malah mendukung jalan pintas amatiran pengurus dengan berniat berunjukrasa di DPRD Surabaya, agar duit daerah cair.

Saya berharap para Bonek tidak melakukan niatnya. Jika itu dilakukan, berarti untuk kesekian kalinya, Bonek menjadi kuda troya kepentingan jangka pendek. Kita masih ingat bagaimana segelintir elite Bonek menjadi salah satu elemen yang menginginkan kepengurusan Arif Affandi didongkel hanya karena Arif dianggap tidak mendukung Bonek. Padahal, saat itu Arif tengah meletakkan dasar-dasar profesionalisme di Persebaya.

Menurut saya, yang harus dilakukan Bonek adalah menggalang kekuatan untuk menuntut kembali janji awal pengurus yang bisa menjadikan Persebaya profesional. Bonek juga bisa menggalang kekuatan untuk mengulang sejarah manis 'The Public'.

Masih ingat The Public? Ini julukan klub Mitra Surabaya. Ini klub pertama di Indonesia yang berdiri benar-benar murni dengan mengandalkan kepemilikan publik, bukan investor tunggal. Saat itu, untuk mendorong agar Mitra (yang secara historis adalah Niac Mitra) tetap hidup, masyarakat Surabaya berbondong-bondong membeli saham. Harganya beragam disesuaikan kantong masing-masing.

Mitra tetap hidup, dan bahkan sempat berprestasi bagus di Liga Indonesia. Sayang, klub ini akhirnya harus boyongan ke Kutai Kartanegara. Namun setidaknya, arek-arek Surabaya pernah punya catatan bagus soal penyelamatan klub. Tidak perlu berguru ke tempat lain.

Bonek punya modal untuk itu. Apalagi, di salah satu media harian, pengurus pernah menyatakan bahwa komponen gaji pemain selama ini tidak telat dibayar, karena bisa diambilkan dari pemasukan tiket penonton. Nah, ini menunjukkan bahwa Bonek, kendati disebut si modal nekat, ternyata bisa membiayai klub. Tidak seperti stigma buruk selama ini.

Kondisi Bonek yang perlahan-lahan mau mengubah stigma negatif, setidaknya juga ikut membantu penegakan sendi-sendi profesionalitas Persebaya. Kita berharap Bonek tetap bisa meminimalisasi potensi kerusuhan yang setiap saat bisa muncul, kendati dalam kondisi persepakbolaan Indonesia saat ini itu hal yang sulit.

Jadi, saatnya menjadi Persebaya tidak hanya sebagai Green Force (Laskar Hijau), tapi juga Public Force (Laskar Publik). Sebagai laskar publik, intervensi politik harus dihilangkan. Klub profesional tidak butuh politik kekuasaan dan politisasi. Lebih penting lagi, hanya ada satu warna hijau di Persebaya, bukan warna lainnya. (*)

1 comment:

shava bejat said...

mau tau tentng Persebaya
baca ikishava.blogspot.com