09 August 2008

MZA Jalal, 26 Tahun Mengabdi di Tepi Ring Tinju

Ada dua nama MZA menyaksikan enam partai tinju digelar di Gelanggang Olah Raga Kaliwates, Sabtu (9/8/2008) tadi malam. Satu nama duduk di kursi tamu kehormatan. Satu orang lagi duduk di tepi ring tinju, bersiaga membunyikan lonceng.

Yang duduk di kursi kehormatan adalah MZA Djalal, Muhammad Zainal Abidin Djalal, Bupati Jember. Sementara yang berada di tepi ring adalah MZA Jalal, Muhammad Zainal Abdi Jalal, seorang petugas time keeper atau penjaga waktu. Nama mereka nyaris sama, dengan nasib jauh berbeda.

Kemiripan nama MZA Jalal dengan nama sang bupati sering mengundang tawa dan gurauan. Pria berusia 62 tahun yang tak banyak menyisakan gigi depan ini hanya tersenyum, saat diingatkan soal kemiripan namanya. "Nama saya Jalal tidak pakai huruf 'd'," katanya.

Jalal mengawali karirnya di dunia tinju pada tahun 1961. Ia menjadi petinju amatir yang bertanding di pasar malam, di bawah naungan Persatuan Tinju dan Gulat (Pertigu). Salah satu pertandingan tinju yang berkesan adalah saat ia merobohkan Suprapto, petinju asal Situbondo, dalam waktu satu menit.

Pensiun sebagai petinju, pada usia 35 tahun, Jalal memutuskan menjadi time keeper atau sang penjaga waktu. Time keeper berjaga di tepi ring untuk membunyikan lonceng tanda satu ronde berakhir. Sejak tahn 1981, posisinya sebagai sang penjaga waktu tak tergantikan di Jember.

"Pernah ada yang nyoba menggantikan saya. Usianya lebih muda. Tapi tidak pas. Saya dipanggil lagi," kata Jalal.

Ternyata tak mudah menjadi penjaga waktu. "Kita nggak boleh terlena, harus konsentrasi penuh. Kalau time keeper keasyikan lihat pertandingan, kita bisa kelewatan ngentheng (membunyikan lonceng). Padahal sedetik itu dalam pertandingan tinju berharga," kata Jalal.

"Biasanya saya melihat pertandingan tiap ronde pada satu menit awal. Setelah itu lihat stop watch, jangan sampai kelewatan waktunya. Kadang hanya lirik-lirik ke ring," kata Jalal lagi. Ia mengaku pernah terlambat 1 - 2 detik untuk membunyikan lonceng.

Soal bayaran sebagai time keeper, Jalal mengatakan nominal tak selalu sama. "Paling besar Rp 400 ribu dikasih Pak Zaenal Thayib (promotor tinju). Tapi standarnya sih Rp 300 ribu per pertandingan," katanya.

Puluhan tahun menggeluti dunia tinju, Jalal masih berharap menyaksikan para petinju Jember berjaya. Saat ini dunia tinju Jember belum sesuai harapan karena kepedulian pengusaha sebagai penyokong dana kurang. "Kalau tak dapat sponsor ya merugi terus," katanya.

Akibat tak bergairahnya dunia tinju Jember, banyak petinju yang pindah ke daerah lain. Menurut Jalal, jika ingin meningkatkan prestasi tinju Jember, minimal dalam waktu tiga bulan harus ada satu pertandingan. (*)

1 comment:

anieqfardah said...

Mas Oriza... You're so Un Official..