16 September 2008

Marvel di Rabu Pagi

Ketuban istriku pecah tengah malam, saat aku sedang bekerja meliput kisruh di KPUD Jember. Rabu pagi, putra keduaku lahir di hari dengan tanggal berangka cantik: 20-08-2008. Kuberi nama dia Muhammad Marvel Ardyansyah Hersey.

Selasa malam, 19 Agustus, pukul 20.50. Ketegangan mendadak menyergap kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah Jember, di jalan Kalimantan. Sekelompok orang yang beratribut Partai Kebangkitan Bangsa datang tanpa permisi.

Mereka berteriak. Ada yang menggebrak meja. Mereka bekerja ringkas, tangkas, merampas sejumlah berkas dokumen pencalonan legislator dari meja petugas penerima pendaftaran di lantai dua.

Aku ditelpon Hari Setiawan, wartawan Radar Jember, soal insiden tersebut. Segera saja aku meluncur secepat-cepatnya. Apalah daya, sepeda motor Yamaha merah bikinan tahun 1979 tak segesit sepeda motor baru. Aku menjadi wartawan pertama yang tiba di kantor KPUD, dan gerombolan itu sudah kembali ke kantor PKB Jember yang berjarak sekitar 500 meter.

Namun aku masih bisa mengumpulkan keterangan dari sejumlah narasumber dan meng-online-kan di Beritajatim.com, mendahului media lainnya. Ini letupan konflik internal PKB. Gerombolan itu merampas berkas pencalonan legislator yang disetorkan Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember yang didirikan Muhaimin Iskandar. Muhaimin tengah bertengkar dengan Gus Dur, dan ujungnya PKB terbelah.

Aku bertahan di kantor KPUD Jember, menulis beberapa angle berita, sebelum akhirnya keluar mencari warung nasi di Gladak Kembar bersama dua anggota KPUD Jember, Sudarisman dan Ketty Tri Setyorini, serta wartawan radio Elshinta dan Prosalina.

Sebelum kembali ke kantor KPUD, Sudarisman mengajakku ke stasiun untuk membeli tiket. Lalu telponku berdering. “Say, pulang dulu sebentar. Aku kok ngompol. Basah semua. Tapi kayaknya bukan air kencing,” kata Heni, istriku, dengan nada panik.

Aku langsung memperkirakan itu air ketuban. “Ya udah, tenang aja. Aku pulang bentar lagi,” kataku.

Perjalanan dari stasiun ke kantor KPUD serasa lama benar. Di luar kantor itu, polisi dan orang-orang yang aku kenali sebagai aktivis PKB. Mereka tidak tersenyum, kendati aku sapa. Ada yang tersenyum, walau agak terpaksa. Sebenarnya, bagus juga jika situasi itu ditulis sebagai berita. Namun aku tak ada waktu lagi.

Berangkat dari rumah ngebut, pulang pun ngebut. Setiba di rumah, aku bergegas masuk, dan melihat Heni berdiri di samping ranjang. Sebagian kain seprai sudah basah. Istriku bercerita mendadak dari vaginanya keluar air. Ia tidak bisa menahannya, seperti layaknya jika kita ingin menahan air kencing.

Lewat tengah malam. Istriku sudah mau melahirkan.

Kami ingin ke bidan Umi di jalan Jawa, di daerah kampus. Tapi rasa takut menyergap kami. Lagipula ini tengah malam. Aku berpikir, mungkin sebaiknya ke rumah sakit. Aku teringat Kiki yang dioperasi Cesar. Aku teringat proses lahirnya Neo, putra pertama kami, yang begitu sulit dan nyaris harus melalui operasi pula.

***

Muhammad Neo Ardyansyah Guerin, lahir 2 Juli 2006. Kelahirannya tidak diawali pecah ketuban di rumah. Tapi Heni kesakitan saat itu. Dini hari, rahimnya seperti diaduk dan ditonjok-tonjok. Ia menghabiskan malam dengan berjalan mondar-mandir di rumah sembari mengatur pernapasan. Aku menemani sembari nonton siaran langsung semifinal Piala Dunia di televisi. Kami menanti fajar, untuk kemudian berangkat ke bidan.

Bidan mengatakan, vagina Heni sudah memasuki fase pembukaan tiga. Namun karena istriku kesakitan, pagi itu juga kami segera ke rumah sakit dr. Subandi, sebuah rumah sakit milik negara. Bu Dartik, bibiku, mengantarkan kami dengan mobil pribadi.

Heni harus kesakitan selama belasan jam. Masuk Subandi pukul 7 pagi, Neo baru lahir pukul setengah delapan malam. Pada saat terakhir, aku pasrah jika istriku harus dioperasi cesar. Posisi kepala calon bayiku agak meneleng, sehingga kesulitan melewati gerbang gua garba.

Syukurlah, Tuhan menghendaki Neo lahir normal: dengan tanda lingkaran hitam tepat di bagian tengah dahinya. Aku merasa anakku sudah ditandai untuk masa depan. Entah ditandai untuk apa. Hari itu, aku berdoa tanda di dahinya adalah pertanda baik bagi masa depannya. “Anak ini presiden Republik Indonesia empat puluh tahun lagi,” kataku kepada Heni.

***

Pukul setengah satu dinihari. Aku tidak ingin Heni mengalami kesulitan lagi dalam proses persalinan. Aku menelpon taksi. Tapi rasanya taksi lambat sekali datang. Aku mengetuk pintu rumah Yakub Mulyono, wartawan harian Memo, yang bertetangga denganku.

Yakub menyalakan mobilnya. Neo yang masih terkantuk-kantuk aku gendong. Anakku itu baru melek sepenuhnya setelah melihat mobil Yakub dalam kantuknya. Ia cinta sekali dengan apapun yang disebut mobil. Setiap kali melihat mobil, baik di jalan raya atau di iklan yang terpampang di koran, ia selalu menunjuk dan berkata: ‘Obi’.

Aku memutuskan ke Rumah Sakit Bina Sehat, sebuah rumah sakit swasta di jalan Jayanegara. Sekitar dua ratus meter dari rumah, kami bertemu dengan taksi yang kami pesan, dan memutuskan untuk naik taksi itu saja ketimbang merepotkan Yakub lebih lama.

“Lewat mana, Pak?” kata sang sopir.

“Terserah, yang penting cepat dan aman,” jawabku.

Jember dinihari, jalanan lengang bak di sebuah kota mati. Taksi melaju kencang, begitu aku beri tahu bahwa istriku akan melahirkan. Tak butuh waktu lama, kami tiba di Bina Sehat.

Saat kami turun dari mobilnya, sopir taksi itu mengucapkan selamat. “Semoga berjalan lancar semua,” katanya.

Heni dibawa masuk ke ruang bersalin. “Sudah bukaan tiga,” kata salah satu perawat.

Aku baru sadar, bahwa kami tidak membawa barang apapun sebagaimana layaknya keluarga menghadapi persalinan. Neo pun memakai kaus kaki tanpa sendal atau sepatu. Agaknya Heni lupa memakaikan sepatu kepadanya.

Padahal, Heni sebenarnya sudah menyiapkan pakaian untuk bayi dan segala sesuatunya. Namun dia belum mengepaknya dalam tas. Kami tidak bersiap, karena Heni diperkirakan akan melahirkan 13 September mendatang. Tepat di bulan puasa.

Aku dan Neo duduk di atas lantai di luar ruang bersalin. Mulanya, Neo agak rewel dan memanggil bundanya. Ia ingin ikut masuk ke ruang bersalin. Neo baru agak tenang, setelah aku jelaskan kalau bundanya hendak melahirkan. Perhatian Neo tersita pada orang yang berlalu-lalang di depan ruang bersalin, dan tertegun saat mendengar suara tangis bayi.

Neo berusaha mengintip ke dalam ruang penitipan bayi melalui kaca. Aku menggendongnya agar bisa melihat lebih jelas. “Adik,” katanya.

Aku sempat masuk ke ruang bersalin dua kali untuk menemui Heni. Heni tampak agak takut. Tangannya sudah diinfus. Ia takut dioperasi.

Heni mencium dahi Neo, sebelum aku membawa anakku keluar ruangan. “Tolong hubungi Ibu, ya,” kata Heni.

“Besok pagi saja. Malam-malam begini Ibu ya sulit ke sini,” kataku.

Aku memesan kamar kelas III untuk Heni. Sebuah ranjang disiapkan di kamar C7. Aku mencoba menidurkan Neo. Aku usap-usap punggungnya hingga terlelap.

Aku ikut tertidur. Tidak nyenyak. Telingaku masih menyerap suara-suara di sekitarku. Atau mungkin itu suara dari mimpiku. Entahlah.

Aku terbangun beberapa kali. Aku lega Neo sudah tidur. Aku salat Isya sekitar pukul tiga dinihari. Lalu aku tidur sebentar kembali.

Di kamar C7 ada tiga ranjang. Dua ranjang sudah dipesan, dan satu ranjang tak berkain seprai. Di ranjang seberang ada seorang perempuan paruh baya baru masuk. Tubuhnya telanjang, hanya ditutupi kain jarik. Ia baru dioperasi cesar, begitu kata perempuan tua yang mendampinginya.

Bayinya perempuan, lahir tengah malam lewat beberapa menit. Belakangan aku mendengar, dokter menyebutnya bayi istimewa, karena lahir pada saat usia sang ibu tak loagi produktif, bahkan rentan. Aku jadi ingat adikku, Pipit, yang lahir saat umur Ibu tak lagi muda.

Fajar menyingsing. Perawat memintaku menyiapkan pakaian dan beberapa hal untuk menyambut kelahiran anakku yang kedua. Heni kian kesakitan. Aku membeli beberapa pakaian bayi di kantin rumah sakit. Sebenarnya kalau Ibu mertuaku sudah datang, aku bisa pulang ke rumah sebentar untuk mengambil pakaian untuk bayiku dan Heni.

Kiki menelpon menanyakan kondisi Heni. Ponsel aku berikan ke Heni. Entah apa yang mereka bicarakan. Sembari menahan rasa sakit, Heni hanya bilang, “Ya, dik. Gak papa. Doakan saja agar selamat.”

Saat ponsel beralih kepadaku barulah aku tahu kalau Kiki menangis. Ia minta maaf tidak bisa datang ke Jember untuk menjenguk dan mendampingi Heni. Belakangan dari Ibu aku tahu kalau Kiki merasa tidak enak. “Kamu dan Heni datang waktu Kiki melahirkan dan waktu Rara ulang tahun,” katanya.

Aku lupa pukul berapa. Heni sudah memasuki bukaan delapan. Ibu mertuaku datang bersama Dewi, adik Heni. Aku mohon pamit dan segera pulang bersama Dewi ke rumah untuk mengambil pakaian.

Aku minta bantuan Yeni, istri Yakub, untuk memilihkan pakaian dan tetek bengek yang dibutuhkan perempuan yang tengah melakukan persalinan. Butuh waktu setengah jam, dan saat aku kembali ke rumah sakit: anakku sudah lahir.

Alhamdulillah.

Laki-laki kecil itu lahir sekitar pukul 07.55, dengan berat 2.999 gram dan panjang 48 centimeter. Normal. Dia lahir normal.

Aku lega.

Aku minta waktu untuk membacakan azan dan qomat di telinga kanan dan kirinya. Tubuhnya lebih kecil daripada Neo waktu pertama lahir. Ia terpejam. Tidak seperti Neo yang memandang wajahku dengan matanya yang lebar itu saat aku membacakan panggilan kemenangan bagi umat Islam.

Butuh waktu dua jam sebelum Heni masuk ke kamarnya. Di ruang bersalin, Heni minta teh hangat. Wajahnya letih. Belakangan, ia bercerita, melahirkan Neo memang lebih sulit. Namun saat itu, kondisinya fit. Saat melahirkan anak kedua kami, kondisi Heni kurang fit, karena terkena diare selama dua hari.

Neo kelihatan girang mengetahui adiknya lahir. Entah apa dalam benak anak itu. Ia hanya tertawa senang.

Ruangan C7 sudah terisi lengkap: tiga perempuan yang baru melahirkan. Hanya istriku yang melahirkan melalui persalinan normal. Dua perempuan lain melalui persalinan bedah.

Siapa nama anak ini? Aku dan istriku berdiskusi lama. Aku ingin pokoknya ada nama wartawan di antara deretan namanya. Pilihanku adalah Hersey dan Ryszard Kapuscinski. John Hersey adalah reporter spesialis perang yang menulis untuk majalah The New Yorker, Life, dan Time. Karya terbesarnya berjudul Hiroshima dinobatkan sebagai karya jurnalisme terbaik abad ini.

Ryszard Kapuscinski adalah wartawan travelogue Polandia. Karya dahsyatnya berjudul Soccer War, bercerita tentang perang Honduras dan El Salvador yang dipicu pertandingan sepakbola kualifikasi Piala Dunia. Aku ingin mengambil nama Ryszard, tapi Heni menolak. “Mirip nama Irsyad, Icad,” katanya. Icad adalah nama panggilan anak tetanggaku.

Aku mengusulkan nama Dwi. Heni menolak.

Kami sebenarnya berharap memberi nama anak ini Ramadan karena diperkirakan lahir saat bulan suci itu. Tapi karena kelahirannya lebih cepat daripada perkiraan, batal sudah.

Akhirnya, aku mengusulkan nama Marvel. Marvel adalah kosakata bahasa Inggris, artinya: sesuatu yang sangat mengagumkan. Istriku setuju.

Jadilah kami memberinya nama: MUHAMMAD MARVEL ARDYANSYAH HERSEY.

Panggilannya: Avel.

Saat aku memberi kabar kepada keluargaku, rata-rata pertanyaannya adalah apa arti Marvel dan Hersey. Arif, adikku, tampak senang dengan nama Marvel. “Nanti anakmu aku panggil Kapten Marvel,” katanya.

Arif suka komik. Kapten Marvel adalah nama salah satu super hero, rekan Superman. Ia punya kekuatan sedahsyat Superman, berkostum merah, dan memiliki simbol lingkaran dengan petir di dada. Jika hendak mengubah diri dari manusia biasa menjadi manusia super, ia berkata: Shazam!

Neo tidak bisa bilang Avel. Ia selalu bilang: adik, atau Ave (huruf ‘e’ dibaca sama seperti ‘e’ pada kata ‘lemah’.

Arif mengirimkan SMS, memberitahu bahwa tanggal lahir anakku tak ubahnya nomor cantik. 20 Agustus 2008 sama dengan 20-08-2008.

Selamat datang, Marvel, anakku. (*)

5 comments:

ekorusdianto said...

Membaca kisah Marvel, membuatku iri, ingin cepat menikah saja.

Marvel selamat datang. Katakan padanya jika kelak dia mampu mendengar. Nama Hersey akan membuat ayahnya tersenyum.

Selamat...Selamat. Mas saya kehilangan nomer kontaknya. Kematrin HP saya rusak. Sekarang sudah baik, celakanya semua nomer lenyap. Di kirim ulang ya Mas.

Ditunggu....

Salam juga sama istrinya dan Neo.OCRE...

Dhita said...

Meski terlambat, saya ucapkan selamat berbahagia atas kelahiran putra keduanya. Semoga menjadi anak yang bermanfaat untuk lingkungannya.

Anonymous said...

Selamat ya mas, semoga Marvel bisa jadi orang hebat apapun profesi pilihannya kelak.

Salam, Insaf Albert Tarigan

dedy said...

rekan rekan yg tahu nama dan nomer hp wartawan atau perwakilan media di jember tolong sms saya di 0819801899 dedy

Eric Chris said...

Infox yg tau nmor tlpon bidan umi soemarno, bisa inbox saya, thanks