14 April 2008

Peruntungan Joey, Kesialan Joey

Bagaimana Mark Bowden menuliskan hikayat Joey Coyle menjadi narasi yang memikat.

Philadelphia. Kamis, 26 Februari 1981. Di tengah badai sakaw methamphetamine, Joseph William Coyle merasa menemukan peruntungannya. Ia mengawali pagi dengan terkapar di kasur. Tubuhnya bergetar sepanjang malam, menagih cairan itu.

Namun, kini Joey – begitu ia disapa – seperti melihat masa depan gemilang. Selama ini ia merasa sudah cukup menderita bekerja sebagai buruh pelabuhan. Sekarang, dua buah kantong kanvas bertuliskan Federal Reserve Bank di hadapannya. Isinya pecahan seratus dollar Amerika. Satu juta dollar.

Uang itu ia temukan dalam sebuah kotak di di Swanson Street, dalam perjalanan pulang ke rumah bersama dua kawannya. Joey hanya berharap barang bekas mulanya. Namun, ternyata ia menemukan sebuah kotak keberuntungan.

“Sweet Jesus,” teriak Joey.

Dua sobatnya, John Behlau dan Jed Pennock, terpana. Joey menertawakan peruntungannya. Ia terus tertawa, dan gigi palsunya copot.

Di lain tempat, detektif Pat Laurenzi pusing tujuh keliling. Sebuah kotak metal berisi kantong uang dilaporkan jatuh di sekitar Front Street. Uang itu jatuh dari mobil jasa pengamanan uang milik Purolator Armored Company.

Uang itu hasil perjudian milik sebuah kasino. Bendel uang tak berurutan. Begitu hilang, jelas tak akan terlacak, jika seseorang ingin menggunakannya. Jumlahnya: 1,2 juta dollar Amerika.

Sangkaan awal dialamatkan kepada dua sopir yang bertugas saat itu, Bill Proctor dan Ralph Saracino. Proctor ketakutan setengah mampus. Dialah orang terakhir yang mengunci pintu mobil boks tempat penyimpanan uang. Saracino membela rekannya, dan menegaskan Proctor sudah melaksanakan tugasnya dengan benar.

Jadi di mana uang itu? Sebuah pertanyaan ini sudah cukup untuk membuat para jurnalis di Philadelphia mengendus adanya berita bagus. Mark Bowden adalah salah satu jurnalis yang meliput peristiwa hilangnya uang tersebut. Ia baru berusia tiga puluh tahun, dan bekerja sebagai reporter staf di Philadelphia Inquirer, sebuah koran terkenal di kota itu.

Bowden adalah seorang penulis naratif yang berbakat. Ia tahu ini bakal jadi cerita bagus. “Saya memutuskan ketika ini semua selesai, saya akan menyatukannya semua dalam sebuah tulisan naratif,” katanya kepada saya melalui surat elektronik, dua puluh tujuh tahun setelah kejadian itu.

Saya menemukan alamat surat elektronik Bowden di internet. Kami beberapa kali saling berbalas surat elektronik. Ia senang mengetahui saya telah membaca Finders Keepers: The Story of a Man Who Found $1 Million, kisah peruntungan dan kesialan Joey, sang penemu uang 1,2 juta dollar. Ia juga terkejut, buku itu sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Saya meminta kepada Bowden agar bersedia diwawancarai via surat elektronik mengenai buku itu. Finders Keepers berbeda dengan buku-buku Bowden lainnya. Dalam kariernya, ia lebih dikenal karena buku-buku reportase naratif mengenai politik, perang, dan perang terhadap kejahatan.

Bowden menulis buku tentang perburuan gembong narkoba Pablo Escobar dalam Killing Pablo: The Hunt for the World's Greatest Outlaw (2001). Namanya berkibar saat menulis Black Hawk Down, sebuah kisah pertempuran kota antara pasukan Amerika Serikat dengan milisi di Mogadishu, ibu kota Somalia.

Saya tertarik dengan Finders Keepers, karena berkisah tentang cerita orang kebanyakan yang memperoleh peruntungan di suatu hari. Di Indonesia, sosok Joey bisa siapa saja. Bowden membuat narasi tentang sosok manusia yang memikat. Suatu hal yang jarang bisa dilakukan oleh jurnalis Indonesia yang rata-rata dididik sebagai beat reporter (reporter harian) yang selalu dikejar tenggat.

Namun dengan rendah hati, kepada saya, Bowden mengatakan, “FK (Finders Keepers) adalah kisah yang lebih sederhana ketimbang yang saya tulis tahun-tahun berikutnya, dan karena saya terlibat dalam peliputannya saat terjadi, saya memulai karya ini dengan tinjauan yang kuat…Tapi secara keseluruhan ini kisah yang paling sederhana.”

Dalam website www.creativenonfiction.org, Bowden memandang cerita ini sebagai permainan yang menggembirakan, dengan sosok Joey yang kikuk, nakal, menyenangkan.

Tantangan utama yang dihadapi Bowden adalah bagaimana memahami Joey: mengapa ia menyimpan uang yang ditemukannya di jalan, menjelaskan perilaku tak ternalar dari seorang Joey.

Joey memang sosok yang tak tertebak dan berwarna. Sebagaimana ditulis Bowden, setelah menemukan uang sejuta dollar, ia melakukan langkah-langkah pengamanan yang ceroboh, justru membuatnya gampang ketahuan.

Di Philadelphia, jangan pernah bicara soal temuan uang. Joey melakukan kesalahan pertamanya dengan bercerita kepada Carl Masi, seorang pensiunan petinju kelas ringan. Usianya lima puluh empat tahun.

Nama Masi muncul di benak Joey, setelah kebingungan memecah nominal seratus dollar ke pecahan dollar yang lebih kecil membekapnya. Joey sudah bertekad memiliki uang itu. Finders keepers. Yang menemukan, berhak memiliki.

“Aku menemuimu untuk minta bantuan,” kata Joey kepada Masi.

Masi bersikeras meminta Joey mengembalikan uang itu. Polisi sudah tahu ciri-ciri mobil tersangka pengambil uang. Hubungi pengacara, kembalikan uang. “Dan kau akan dapat imbalan dari mereka,” katanya.

Tapi Joey menolak. “Kau gila,” kata Masi. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk membantu Joey.

Keputusan ini kelak akan membuat Joey semakin menderita, karena berhubungan dengan dunia mafia Philadelphia: Mario “Sonny” Riccobene.

Riccobene prototip mafia Italia. Pendek. Gemuk. Berkacamata hitam. Berjidat lebar, dengan suara yang parau dan berat.

Joey berjanji memberi sepertiga uang temuannya. Sonny berjanji memenuhi keinginan Joey. Ia akan membawa uang itu ke kasino dan memainkannya. Memutar uang itu dalam kekalahan dan kemenangan. “Satu dua hari beres,” katanya.

Awalnya, Joey merasa, melibatkan Riccobene adalah ide cemerlang. Ia bisa bersenang-senang dengan Linda Rutter, pacarnya. Agenda harian mereka tak jauh dari urusan obat bius, seks, dan alkohol.

Namun, berikutnya, rasa takut menguntitnya. Joey cemas, Masi dan mafia yang diharap menjadi dewa penolongnya justru berbalik berkhianat. Sisa uang ratusan ribu dollar yang ada padanya terlalu menarik untuk dilewatkan.

Ia curiga dua sobatnya, Pannock dan Behlau, juga mengincar uang temuannya. Keduanya mendorongnya untuk mengembalikan uang temuan yang masih ada. Apalagi Purolator menjanjikan hadiah lima puluh ribu dollar bagi siapapun penemu uang itu. Joey takut, tapi ia bersikeras menolak usul tersebut.

Obat bius menggandakan ketakutannya. Ia takut terhadap polisi. Polisi tidak bodoh melacak jejak Joey, yang hampir kepada setiap orang yang dikenalnya selalu berkata dengan bangga, “Akulah orangnya.”

Joey lebih takut terhadap Riccobene. Namun ketakutan itu tak terucapkan kepada siapapun. Ia memutuskan segera ke luar negeri: Acapulco, Mexico.

Ketakutan bakal dibunuh mafia tak terbukti. Polisi lebih dulu menjangkau Joey. Rumah Carl Masi digeledah. Selanjutnya, John Behlau dan Jed Pannock mendapat giliran. Nama Joey segera diperoleh dan dalam hitungan jam, ia menjadi buronan.

Rabu, 4 Maret 1981. Joey berada di dalam antrean penumpang di bandara John F. Kennedy, saat seseorang menegurnya. “Namamu Joey Coyle?”

“Ya.”

Sebuah tanda pengenal keluar dikeluarkan: FBI. Biro investigasi federal Amerika.

“Oh, sial.” Joey mengerang.

Petualangan Joey berakhir. Ia ditangkap bersama 105 ribu dollar yang disimpan dalam 21 amplop. Masing-masing amplop berisi lima ribu dollar. Polisi melacak ke mana larinya uang Purolator yang ditebarkan Joey, termasuk aliran ke Riccobene.

Masi membantah keterlibatan mafia dalam kehebohan uang Purolator. Sosok Riccobene menjadi sosok misterius, dan Masi membantah orang itu pernah datang ke rumahnya. “Bohong. Seratus persen salah,” katanya kepada Joey setelah semua reda. Lagipula, andai cerita Joey benar, Riccobene tak akan mau hanya kebagian jatah sepertiga.

Bowden mengatakan dalam suratnya kepada saya, bahwa sosok Riccobene diperdebatkan. Ia tidak pernah bisa mewawancarai Riccobene. Namun, ia menerapkan disiplin verifikasi yang ketat untuk menceritakan kembali adegan kehadiran sang mafioso.

“Saya mencatat sumber-sumber saya dengan beragam versi – sebagian bilang dia ada, sebagian bilang tidak. Saya pribadi percaya dia ada. Catatan saya mengenai apa yang dia katakan dan lakukan terutama berdasarkan wawancara saya dengan Joey, Pennock, dan Behlau.”

Bowden sangat disiplin melakukan verifikasi. Ia mewawancarai semua tokoh dalam tulisan tersebut. Ia juga menggunakan catatan kepolisian, transkrip persidangan, pernyataan Joey dan saksi-saksi.

“Saya merunutnya kembali dan mewawancarai semua karakter utama yang mau bicara. Saya merekam semua wawancara itu dengan tape recorder,” kata Bowden kepada saya.

Bill Kovach dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme meletakkan disiplin verifikasi sebagai salah satu dari elemen jurnalisme. Disiplin verifikasi adalah ihwal yang memisahkan jurnalisme dari hiburan, propaganda, fiksi, atau seni. Melalui verifikasi, wartawan harus membuka sebanyak mungkin sumber berita untuk mengungkap sebuah peristiwa.

Kendati Bowden menyatakan Finders Keepers adalah buku yang paling sederhana dibandingkan buku lainnya, bukannya tidak ada kesulitan dalam proses penulisan. “Saya kesulitan memilah-milah apa yang sebenarnya terjadi dari hari ke hari setelah Joey menemukan uang itu, karena ingatannya payah,” katanya.

“Lalu bagaimana Anda menanganinya?” tanya saya.

“Saya tetap menguntitnya, dan menggunakan informasi dari wawancara (narasumber) lain untuk memproduksi dan mengorganisir ingatannya,” jawab Bowden.

Dalam wawancara yang dimuat di website www.creativenonfiction.org, Bowden menjelaskan, bahwa cerita itu sejak awal hingga akhir diwarnai kisah kecanduan Joey terhadap narkoba. Ia melihatnya, seluruh cerita itu sebagai persoalan kecanduan.

“Uang hanyalah sebuah simbol slapstick idaman Joey. Saya sadar, saat duduk menuliskannya, kisah tentang Joey Coyle adalah sebuah perumpamaan tentang kecanduan,” kata Bowden.

Bowden menghabiskan waktu empat atau lima bulan untuk menggarap hikayat Joey. Ia mengumpulkan semua materi tulisan, membuat outline (kerangka tulisan), dan baru menulis. Ia memilih struktur tulisan kronologis, tapi bergerak maju mundur dengan sedikit cerita terpisah apa yang dilakukan kepolisian dengan apa yang diperbuat Joey.

Tulisan naratifnya diterbitkan pertama kali secara bersambung tiga episode di The Philadelphia Inquirer Sunday Magazine. Judul aslinya: Joey Coyle Story. Tahun 2002, artikel tadi baru diterbitkan dalam bentuk buku.

“Secara esensial, isi buku sama dengan artikelnya, dengan tambahan satu bab persidangan dan vonis bebas Joey Coyle, dan sebuah epilog buntut kejadian itu, pembuatan film yang sangat buruk dan kematian Joey,” kata Bowden kepada saya.

Finders Keepers tidak dipersiapkan untuk menjadi sedramatis In Cold Blood yang ditulis Truman Capote. In Cold Blood awalnya adalah narasi bersambung yang dimuat di majalah The New Yorker pada tahun 1965, mengenai dua orang pemuda yang membantai sebuah keluarga di Holcomb.

Capote mengikuti perkembangan kasus tersebut sekitar lima tahun. Ia ikuti persidangan kedua pembunuh berdarah dingin itu. Ia lantas membuat bab penutup dengan menceritakan bagaimana Richard Hickock dan Perry Smith mati di tali gantungan.

Bowden mengikuti persidangan Joey yang alot. Ada pertarungan opini apakah Joey bersalah atau tidak. Daily News menyebut Joey romantis dan pahlawan pujaan masyarakat. Philadelphia Inquirer menyebutnya ramah, tampan, disukai wanita, dan tidak pernah melanggar hukum.

Joey populer karena dermawan. Jill Porter dari Daily News dalam buku itu menyesalkan sikap Joey yang tidak mengembalikan uang temuannya segera. Namun ia juga mengatakan, tak ada juri yang bakal mendakwa Joey bersalah dalam insiden yang dialaminya.

Bowden menceritakan adegan di persidangan dengan detail. Menceritakan detail memang keahlian yang menjadikannya salah satu jurnalis naratif garda depan. Black Hawk Down merupakan pameran kemampuan Bowden dalam menceritakan detail berdasarkan wawancara dengan banyak narasumber dan dokumen sumber.

“Saya menggunakan setiap teknik yang saya pernah baca dan kagumi. Saya menggunakannya untuk membuat tulisan saya semenarik mungkin, karena itulah intinya. Tak satu pun orang tergerak oleh sesuatu yang mereka tidak baca,” katanya dalam www.creativenonfiction.org.

Sidang menghasilkan klimaks yang menyenangkan semua orang dan khas Hollywood. Februari 1982, Dewan juri membebaskan Joey.

Sepuluh tahun setelah persidangan, Aktor John Cussack menemui Joey dan Tish Konowal, pacar Joey. Joey menjamu Cussack dengan kielbasa, makanan khas Polandia. Ia mengira sang aktor keturunan Polandia. Mereka tertawa saat tahu Cussack berdarah Irlandia.

Tahun 1992, kisah Joey difilmkan dengan judul Money for Nothing dengan Cussack sebagai bintangnya. Tampaknya semua akan baik-baik saja, hingga 15 Agustus 1993.

Takdir membuat Finders Keepers akhirnya berujung dramatis. Delapan tahun setelah penayangan artikel Joey Coyle Story, harian The New York Times memuat berita mengejutkan: Joseph William Coyle ditemukan tewas di rumahnya di Philadelphia. Usianya 40 tahun.

Joey Coyle ditemukan gantung diri dengan menggunakan kabel listrik. Sebelum meninggal, Joey masih belum bisa menyembuhkan ketergantungannya terhadap narkoba dan sudah enam kali masuk ruang pengadilan karena obat bius.

Joey mati sebulan sebelum Money for Nothing ditayangkan.

Sutradara film itu Ramon Menendez, sebagaimana dikutip The New York Times, filmnya ingin mengilustrasikan “apa arti menemukan uang bagi bocah seperti dia.” Namun, bagi saya, karya paling sederhana Bowden merupakan ilustrasi bagaimana sebuah kisah manusia biasa bisa menjadi narasi yang luar biasa.

Apa kunci Bowden? Simak pernyataannya dalam sebuah website.

“Saran saya untuk para penulis muda: berhentilah membaca seperti pembaca, dan mulailah membaca seperti penulis. Baca kembali cerita, buku, dan bagian dari buku yang cocok untuk Anda. Bedah prosa itu. Tulis sendiri dengan tangan Anda. Masuki pikiran sang penulis. Gambarkan kenapa ini berhasil. Lalu maju dan lakukan hal yang sama.” (*)


Penulis mewawancarai Mark Bowden via email untuk membuat tulisan ini, selain ditambah bahan wawancara dari website www.creativenonfiction.org. Tulisan serupa dalam bentuk yang sudah teredit juga dimuat di website www.pantau.or.id.

1 comment:

Anonymous said...

Mas Orzy yang baik,perkenalkan saya Roli Maulidiansyah. Saat ini saya aktif di Lembaga Pers Mahasiswa INOVASI UIN Malang, kebetulan saya dipercaya untuk mengemban tanggung jawab sebagai Pemimpin Umum. Bulan Desember tahun lalu kami mengadakan Pelatihan Jurnalisme Sastrawai, Mas Buset dan Pak Ariestides Katoppo sebagai pengampu. Sejak itulah saya memfokuskan pada penulisan-penulisan dengan gaya sastra. Bahkan saat ini saya banyak membaca karya-karya nonfiksi sebagai acuan. Salah satunya buku-buku yang ditulis oleh Mark Bowden. Jika Mas tidak keberatan, saya mohon diberi alamat e-mail Mark Bowden. Saya ingin wawancara dengan beliau. Mohon maaf sebelumnya jika merepotkan Mas dan saya minta izin untuk ng-link bloknya. Terimaksih sebelumnya.