02 March 2008

Kilatan Blitz di Tengah Musik

Menonton konser musik bersama seorang fotografer lokal yang mengatasi semua keterbatasan untuk mengabadikannya.

Topi pet warna coklat krem sudah nangkring di kepala Heru Putranto. Tas ransel hitam besarnya sudah dicangklongkan. “Kita berangkat sekarang saja,” katanya kepada saya.

Malam baru saja mulai. Di stadion Notohadinegoro, Ari Lasso dan Bunga Citra Lestari akan tampil satu pentas.

Ari, bekas vokalis kelompok musik asal Surabaya, Dewa 19. Ia keluar dari grup tersebut setelah mengalami ketergantungan terhadap narkoba. Kini, ia bersih dan comeback menjadi solois pria papan atas.

Bunga selama ini dikenal sebagai pemain sinetron muda. Suaranya yang indah dan wajahnya yang permai membuat karirnya melesat sebagai penyanyi solo wanita. Namanya mulai dikenal, saat hadir dalam salah satu lagu di album kelompok rock Pas Band. Kini, Bunga berduet dengan Ari dalam album ‘The Best of Ari Lasso’.

Ini konser gratis. Jadi, Heru memperkirakan penonton bakal membanjiri Notohadinegoro. Kami datang lebih awal untuk mencari lokasi yang enak buat mengambil gambar. Heru sudah hapal lagak laku panitia lokal konser musik di Jember.

“Panitia lokal masih belum bisa menghargai fotografer. Daerah masih memandang wartawan ecek-ecek. Kalau konser besar di Jakarta, fotografer ada ruang sendiri, bebas untuk eksplorasi. Kalau di daerah, harus berpacu dengan waktu, keadaan, dan mepet. Belum lagi model keamanan yang sok garang, kuasa.”

Ketiadaan ruang khusus untuk memotret membuat Heru harus pandai-pandai bersiasat.

Apa yang dikatakan Heru betul. Kami bisa melewati petugas kepolisian yang berjaga. Namun untuk melewati pagar agar bisa berada di bawah panggung, seorang petugas dari panitia lokal langsung melarang.

Heru tidak bisa menunjukkan ID card dari panitia. “Kata panitia yang aku temui, nggak usah ID card nggak apa-apa.” Kartu pers Radar Jember tidak dikantonginya, karena belum jadi.

Ia lalu mendekati Rodik Sugiantoro, komandan satuan samapta kepolisian Jember. Ia tak bisa berbuat banyak. “Nggak bisa. Panitianya yang baju cokelat,” katanya. Kepolisian hanya berjaga.

“Telemu kan kuat?” tanya Rodik. Maksudnya, lensa tele yang dipegang Heru.

Inilah masalahnya. Heru tak punya lensa tele. Ia memang mendapat kamera baru dari kantor, Nikon tipe D-200, dengan lensa zoom 18 – 35 milimeter. Ia menyebut, lensa itu cocok untuk fotografer pemula yang sedang belajar.

“Kalau momen diam bagus. Tapi kalau untuk momen bergerak, sulit.”

Heru memperhatikan pagar jeruji setinggi 150 centimeter yang dipasang mengelilingi panggung. Siapa tahu bisa diterobos. Ia mencoba menyusupkan kepalanya di antara jeruji. Sia-sia. Saya tertawa.

“Ini agak pusing,” matanya menatap dua pembawa acara berpakaian kuning pesta yang ngoceh tiada henti.

Heru bergerak, dan bergabung dengan deretan penonton di bagian depan panggung. Deretan penonton ini dipisahkan pagar jeruji berjarak sekitar dua meter. Dia mencoba menguji kameranya.

Ini posisi maksimal. Dia tahu akan kesulitan memotret dari penonton, ketika konser berlangsung. Penonton yang bergoyang-goyang akan membuatnya kesulitan mengambil gambar. Tubuhnya akan tersenggol kerumunan penonton.

“Bisa dari sini. Yang penting penontonnya diam. Tapi kalau penonton sudah loncat-loncat, aku pilih lompat pagar saja,” kata Heru. Cengengesan.

Kami lantas meninggalkan bagian depan panggung. Heru masih berharap ada keajaiban yang memungkinkannya memotret dari bawah panggung persis. Tapi ia tak tahu keajaiban yang bagaimana.

Fotografer memang harus percaya dengan keajaiban, dan momentum. Momentum tidak datang dua kali. Seorang fotografer kadang harus nekat dan nakal untuk mengambil momentum itu. Namun, fotografer juga harus bisa berpikir dingin untuk memilih angle.

Boleh jadi fotografer musik tak seprestisius fotografer di medan perang. Namun di Indonesia, tantangan bagi fotografer musik juga cukup berat. Dalam diskusi di fotografer.net, saya baru tahu bahwa memotret konser tak semudah dibayangkan. Di daerah maupun di Jakarta problemnya nyaris sama.

Di Jakarta, manajemen artis luar negeri justru terbilang cerewet soal fotografer. Konser Beyonce sempat menuai protes karena keterbatasan fotografer mengambil gambar. Beyonce adalah solois perempuan nan seksi dan bersuara bening, mantan personil kelompok vokal Destiny Child.

Di lain konser, ada cerita soal fotografer ‘tak resmi’ yang nekat menyelundupkan kamera untuk bisa menjepret artis favoritnya. Berhasil.

“Foto artis selalu punya nilai komersial tinggi. Maka, jangankan yang gak pakai ID, wartawan resmi aja umumnya cuma dikasih 3 lagu pertama untuk motret. Setelah itu boleh masuk lagi asal tanpa kamera....,” kata Arbain Rambey, wartawan foto kenamaan Harian Kompas dalam diskusi di forum www.fotografer.net

”Kalau mau nyolong motret sebagai penonton, belilah tiket festival (untuk musik pop atau rock). Bawa kamera yang ringkas (misal D200 dengan lensa 70-300) diumpetin di dalam baju....Itu kalau bisa lolos yah....,” sambungnya.

Jadi, intinya adalah semangat bonek. Bondo nekat. Modal nekat. Hidup Bonek!

Kini kami duduk di atas rumput, menjauh dari panggung utama. Band pembuka sudah memainkan lagunya.

“Sebelum memfoto, aku merokok sebatang dulu. Lalu maju. Dapat foto bagus, mundur lagi. Rokokan lagi.”

“Begini ini tidak dipaksa. Harus santai.”

Heru mengagumi ketenangan seorang James Nachtwey. Nachtwey adalah fotografer spesialis perang dan bencana kemanusiaan. Ia tak pernah menggunakan lensa panjang, dan lebih suka memotret dari jarak dekat.

Memotret dari jarak dekat tak gampang. Tak semua objek suka difoto dari jarak yang begitu dekat. Mereka akan merasa terganggu. Di sinilah ketenangan dan kenekatan Nachtwey bercampur menjadi satu.

Heru suka cerita soal Nachtwey yang memotret kerusuhan di Ketapang, Jakarta. Saat itu seorang preman Ambon dikejar-kejar massa. Nachtwey mengabadikan peristiwa itu dari jarak sangat dekat. Ia sempat dilarang massa. Ada nada ancaman. Tapi Nachtwey jalan terus. Klik. Klik. Klik.

“Maju. Mundur. Maju. Mundur. Tidak boleh keburu. Memotret dari jarak dekat, kita bisa merasakan aura objek. Kita terlibat.”

Terobsesi Nachtwey, Heru sangat menyukai tantangan memotret konflik berdarah-darah. Ia masih ingat saat Hari TNI tahun 1999, sejumlah aktivis mahasiswa melakukan aksi unjukrasa.

“Saya dengar anak PMII (Pergerekan Mahasiswa Islam Indonesia) yang demo pertama, dibubarkan, dipukuli dan ditembaki. Aku tertantang. Dengar-dengar, di double way Unej aktivis GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) bikin aksi kedua.”

“Mereka jalan ke markas Kodim. Situasi seperti mencekam. Di markas Kodim, tentara sudah jejer-jejer dengan siaga tembak. Tapi anak-anak semangat berdemo. Jumlah yang demo sekitar 30-an orang. Aku santai saja.”

Tiba-tiba, ada instruksi tentara untuk menembak. Dor dor dor dor dor dor….

Para mahasiswa semburat lari ke mana-mana.

“Ada anak aktivis yang cacat, jatuh, ditolong, tapi ditendangi tentara. Aku jepret. Ternyata yang menolong anak itu juga dipukuli. Aku jepret terus.”

Tidak sadar, Heru ternyata sudah terjebak. Tentara di mana-mana. Ia mencoba lari sebisanya, dan memutuskan masuk ke parit. Bersembunyi di sana. Berharap tidak ada yang tahu. Tapi harapannya sia-sia.

Seorang tentara berpakaian preman menodongkan pistol. “Ayo, mau lari ke mana kamu?” bentaknya.

Heru tak berkutik. Ia keder juga. “Aku ditendangi. Mereka mengambil kamera Nikon FM 10 yang kubawa.”

Kamera kesayangannya itu diberikan ke tentara. Ia sempat menanyakan ke markas Kodim 0824 Jember beberapa hari setelah insiden itu. Tapi nihil. Belakangan diketahui, insiden tersebut menyebabkan sejumlah mahasiswa terluka dan harus masuk rumah sakit. Komandan distrik militer 0824 Jember saat itu akhirnya dipindah.

Heru mulai menghadapi tantangan memotret konser musik, saat bekerja sebagai fotografer harian Radar Jember milik kelompok Jawa Pos. Menurutnya, foto bagus sebuah pertunjukan musik akan membuat perwajahan koran lebih hidup.

“Foto musik membuat wajah koran tampil beda. Ini punya nilai komersial. Musik universal. Tua sampai muda pasti senang. Apalagi artisnya lagi ngetop, ayu, ganteng.”

Ia membuktikan beberapa kali hasil karyanya saat meliput konser Peter Pan, Opick, Ada Band, dan Keris Patih mejeng di halaman pertama Radar Jember sebagai foto A. Foto A adalah foto utama di halaman pertama.

“Fotografi adalah seni, rasa, keindahan. Musik juga begitu. Jadi ada semacam ikatan. Ini dunia seni. Jika kamu suka mendengarkan musik, kamu akan bisa menyukai tantangan memotret show musik.”

Memotret sebuah pertunjukan musik memiliki tingkat kesulitan tinggi. Cahaya yang lemah dalam konser musik di malam hari, membuat penguasaan teknik fotografi dan fasilitas kamera harus benar-benar komplet.

Biasanya, dalam setiap konser musik, Heru punya tele pinjaman untuk memotret. Namun malam itu, ia tak punya ‘hidung panjang’ lagi. Ia harus benar-benar mengandalkan kemampuan teknis dan kameranya. Ia berhara banyak pada momentum panggung.

Seorang fotografer tidak bisa asal jepret, karena harus menunggu momentum yang benar-benat bagus. Heru sudah mempunyai angle untuk memotret Ari Lasso saat berduet mesra dengan Bunga Citra Lestari malam itu. Ia percaya, akan ada satu mementum puncak dan itu yang harus ditunggu dengan sabar.

Heru dan saya beruntung. Akhirnya, kami bisa masuk di venue tepat di depan panggung, berbekal satu kartu pers milik saya. Kami tidak boleh naik panggung. Tapi kami tepat berada di bawah panggung. Ada jarak sekitar dua meter antara penonton dengan bibir panggung, yang dibatasi pagar besi. Jadi ruang untuk memotret cukup bebas.

Gebukan drum yang gagah dan intro yang bertenaga membuat penonton bersorak. Ari Lasso kini ada di depan mereka. Mengejar Matahari, sebuah lagu untuk film layar lebar berjudul sama menjadi nomor pembuka.

“Tetes air mata mengalir di sela derai tawa. Selamanya kita, tak akan berhenti mengejar…Matahari.”

Saya begitu bersemangat ikut menyanyikan lagu ini mulai dari awal hingga akhir. Ini sebuah lagu tentang persahabatan.

Saya selalu suka Ari. Ia entertainer yang konsisten. Banyak yang menilai, termasuk saya, Ari lebih kinclong saat bersolo karir ketimbang bersama Dewa 19.

Saya melihat Heru diam sejenak. Bergerak memilih posisi. Mengarahkan lensanya, saat Ari melambaikan tangan.

Ari memang mangsa empuk untuk kamera. Wajahnya tampan. Penampilannya good looking. Malam itu ia memakai kaos bertuliskan Godfather, sebuah film legendaris arahan Coppola mengenai keluarga mafia Corleone.

Lagu demi lagu mengalir. Kamera Heru mengarah ke penonton. Ia suka sekali mengabadikan histeria.

Setiap konser musik pop selalu menghadirkan pertunjukan wajah histeria penonton. Ada yang menjerit. Menangis. Ikut menyanyi. Wajah manusia selalu akan menarik untuk diabadikan dalam sebuah pertunjukan musik pop.

Penonton adalah nyawa pertunjukan musik. Ini bukan hanya masalah hitung-hitungan duit tiket masuk. Musisi bisa main menggila di atas panggung, jika penonton di hadapannya menggila.

Itulah yang terjadi pada Ari Lasso. Ia sebenarnya tengah berada dalam kondisi tidak fit. Saat pertunjukan di Lumajang, kota tetangga Jember, tubuhnya meriang. “Saya harus disuntik. Tapi melihat kalian semua, saya seperti mendapat tenaga baru,” katanya di depan penonton.

Heru bekerja tanpa bersuara. Ia bergerak tak tertebak. Menurutnya, setiap momen adalah eksklusif bagi seorang fotografer. Satu momen tidak bisa berulang secara otentik. “Ini yang membedakan fotografer dengan wartawan tulis yang bisa merekonstruksi peristiwa,” katanya.

Momen yang ditunggu, Ari berduet dengan Bunga, datang juga. Saat saya terpesona dengan kecantikan Bunga (amboi, kulitnya licin rseperti pualam, giginya putih tak bercela), Heru sudah bergerak meminta seorang polisi bergeser dari sebuah kursi plastik.

Saya tidak tahu bagaimana Heru mengusir polisi itu. Yang jelas, menit selanjutnya ia sudah berdiri di atas kursi, mengarahkan kameranya ke atas panggung.

Ari dan Bunga seperti dua sejoli di atas panggung. Bunga tersipu. Mencubit pinggang Ari.

Ari tersenyum, menggandeng Bunga, berjalan dari menyusuri. Penonton berteriak senang. Cemburu juga, mungkin. Inilah momen yang dinanti itu.

Usai mengabadikan Ari dan Bunga, Heru kelihatan lega. Ia tidak menonton pertunjukan, dan memilih duduk di bawah bibir panggung, menghadap penonton. Ia bercakap-cakap dengan seorang petugas sekuriti dari panitia, dan menyalakan rokok.

Pertunjukan ditutup dengan Misteri Ilahi. Ari dan Bunga kembali satu panggung. Heru kembali mengarahkan kameranya. Ia berharap momentum terakhir bisa diabadikan dengan indah.

Tanpa encore, lagu tambahan, Ari menghilang ke balik panggung. Penonton tidak berteriak seperti layaknya penonton luar negeri: ‘Once more, sekali lagi.’ Mereka lebih terpana dengan kembang api yang meletup, meluncur ke langit.

Selamat malam Jember. Tugas sudah selesai. (*)

NB:
Foto-foto Heru Putranto bisa dilihat di www.heruputranto.blogspot.com.

2 comments:

Heru Putranto said...

Suwon seng akeh bro...ceritane terlalu apik gawe aku. Jadi gak enak soale koyok artis ae diliput. Opo maneh, bolo dewe...hehehe. Mari ngene awakmu tak foto bro. Njaluk model opo ae tak turuti, jengking oleh, gak kelambian ok, opo maneh meringis seng koyok nang Kebun binatang. Tapi, ngenteni aku duwe lensa tele yo, ok bro? Mari ngene aku arep nang ijen, awakmu melok gak?

Heru Putranto said...

Suwon seng akeh bro...ceritane terlalu apik gawe aku. Jadi gak enak soale koyok artis ae diliput. Opo maneh, bolo dewe...hehehe. Mari ngene awakmu tak foto bro. Njaluk model opo ae tak turuti, jengking oleh, gak kelambian ok, opo maneh meringis seng koyok nang Kebun binatang. Tapi, ngenteni aku duwe lensa tele yo, ok bro? Mari ngene aku arep nang ijen, awakmu melok gak?