Hikayat Ratna di Negeri Blambangan (1)
Kuda Hitam di Tengah Dua Gajah
Ani Widyani Soetjipto, seorang dosen kajian perempuan Universitas Indonesia pernah menilai, Ratna Ani Lestari merupakan contoh sukses kandidat perempun dalam pilkada.
Saat pilkada, Ratna berhasil berhasil memikat rakyat Banyuwangi dengan program-program nyata, dan menyalip kandidat-kandidat dari partai-partai besar.
Namun, sesungguhnya kisah sukses Ratna tak sesederhana itu. Kemenangan Ratna saling pilin dengan intrik-intrik politik di Banyuwangi. Ia tak ubahnya kuda hitam di tengah pertarungan dua gajah saat itu: Ketua PKB Banyuwangi Achmad Wahyudi dan Bupati Samsul Hadi yang berniat mencalonkan diri lagi.
Tak ada yang memperhitungkan Ratna sejak awal. Ia mulanya masuk bursa pilkada dengan mengikuti konvensi di PDI Perjuangan. Berhasil. Tapi Dewan Pimpinan Pusat partai tak merestuinya.
Ilham Juanda, anggota Dewan Pakar Forum Penegak Demokrasi Rakyat Semesta berpendapat, keputusan itu lumrah, jika melihat ketokohan dan popularitas Ratna. “Mayoritas pelaku politik memandang sebelah mata,” paparnya.
Ratna lalu melirik Gabungan Parpol Non Parlemen (GPPNP). Aliansi 18 partai itu sepakat mencalonkan Ratna dan mendaftarkannya ke Komisi Pemilihan Umum Banyuwangi. Ini aliansi pelangi yang tak diperhitungkan bakal menang.
Sementara itu, di saat bersamaan, pertarungan Wahyudi versus Samsul makin keras. Samsul yang pernah terganjal saat mencalonkan diri sebagai ketua DPC PKB, gagal masuk bursa pilkada dari partai itu. Padahal dukungan Gus Dur sudah di tangan.
Samsul adalah kandidat kuat dalam pilkada. Dengan tidak masuknya dia dalam bursa calon, maka di atas kertas Wahyudi bakal melenggang menjadi nomor wahid.
Namun politik bukan hanya bicara hitung-hitungan di atas kertas. Kubu Samsul mengalihkan dukungan ke Ratna. Simpul-simpul massa pendukung Samsul, terutama di desa-desa yang sudah disiapkan jauh-jauh hari, menjadi tambang suara Ratna. Ratna pun berjaya.
Juanda menyebutkan, kemenangan Ratna merupakan puncak kausalitas peristiwa politik politik sebelumnya, dan diakibatkan beberapa faktor.
Pertama, konflik berkepanjangan dan pecahnya parpol besar seperti PKB. Kedua, kejenuhan massa pemilih terhadap performance politisi-politisi populer yang terjaring oleh konvensi parpol.
“Rakyat bosan dengan perilaku politik yang menerjemahkan metode konflik sebagai media pendewasaan dan pematangan situasi,” kata Juanda.
Faktor ketiga, strategi politik Ratna efektif, realistis, dan menyentuh keinginan publik. Ia membombardir publik dengan kampanye ongkos kesehatan dan pendidikan gratis, seperti ingin meniru Jembrana.
Tema kampanye Ratna memang datar dan kering tanpa slogan akademis. Tapi rakyat memang butuh hal-hal yang realistis, dan Ratna pun menekuk kandidat-kandidat bupati lainnya. (bersambung)
23 January 2007
Labels: Politik
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment