19 January 2017

Chelsea Juara, Liverpool Runner-Up Liga Inggris

Manajer legendaris klub sepak bola Liverpool, Bill Shankly, pernah mengatakan: 'First is first, second is nothing'. Orang tak akan mengenang nomor dua. Namun apa boleh buat, pada Liga Inggris 2016-2017, Liverpool kemungkinan akan mengulangi capaian musim 2013-2014: runner-up. Juara liga akan disabet Chelsea secara meyakinkan.

Pasukan London Biru akan memimpin klasemen akhir dengan selisih 10 angka atas Liverpool yang berada di peringkat kedua. Ramalan ini saya dasarkan pada perhitungan statistik sederhana laju perolehan poin klub penghuni enam besar Liga Inggris saat ini setelah pekan ke-21.

Chelsea saat ini memimpin klasemen sementara dengan mengantongi 52 angka. Sementara berada di posisi kedua dan ketiga adalah Tottenham Hotspurs dan Liverpool yang sama-sama memiliki 45 angka. Berikutnya berturut-turut adalah Arsenal (44 angka), Manchester City (42 angka), dan Manchester United (40 angka).

Chelsea, Arsenal, dan Manchester City masih menyisakan sembilan laga kandang dan delapan laga tandang. Spurs dan United menyisakan delapan laga kandang dan sembilan laga tandang. Liverpool lebih beruntung dengan memiliki stok 10 laga kandang dan tujuh laga tandang.

Jika berpikir linier bahwa laga kandang adalah garansi tiga angka, Liverpool bakal melaju di 17 sisa laga musim ini. Siapapun tahu, Anfield adalah benteng tak terkalahkan selama Jurgen Klopp melatih. Musim ini bersama Spurs, The Reds tak tersentuh kekalahan di kandang. Namun persoalannya, jika membaca laju perolehan angka, sulit menggaransi semua laga kandang berujung kemenangan.

Jika melihat rata-rata perolehan angka pertandingan kandang hingga pekan ke-21, Liverpool tidak lebih baik dibandingkan Chelsea dan Spurs. Chelsea memang pernah sekali kalah di kandang dan Liverpool yang menodai rekor kandang di Stamford Bridge dengan skor 2-1. Namun secara statistik, rata-rata perolehan angka Chelsea tertinggi di antara tim penghuni enam besar yakni 2,7.

Raja kandang berikutnya adalah Spurs dengan rata-rata angka 2,63 dan Liverpool dengan rata-rata angka 2,55. Rata-rata poin Arsenal di kandang 2,3, rata-rata angka City 2,1, dan United yang terburuk yakni 1,82.

Sementara untuk laga tandang selama 21 pekan, Chelsea memiliki rata-rata perolehan angka terbaik, yakni 2,27. Arsenal dan City berada di urutan berikutnya dengan rata-rata 1,9. United memiliki rata-rata perolehan dua angka.

Mari kita asumsikan rata-rata perolehan angka ini stabil dalam 17 laga ke depan. Asumsi stabil ini didasarkan pada fakta, bahwa setelah melewati pekan ke-21, semua tim sudah menemukan ritme permainannya. Ritme ini tak hanya berupa taktik, tapi juga formasi pemain.

Dari sisi taktik, Chelsea sudah stabil dengan formasi 3-4-3. Kemenangan demi kemenangan diraih dengan komposisi tiga pemain bertahan. Hanya Spurs yang bisa menghadang laju kemenangan racikan Antonio Conte. Chelsea juga relatif tak terganggu dengan gelombang cedera pemain. Tidak bermain di kompetisi Eropa membuat Conte bisa lebih rileks memanajemen penampilan para pemain. Satu-satunya problem adalah absennya Diego Costa karena cedera punggung. Namun dalam pertandingan tandang melawan Leicester, absennya Costa tak terlampau berpengaruh dan Chelsea tetap unggul 3-0.

Bandingkan dengan Liverpool yang terganggu dengan gelombang cedera dan faktor non-teknis silih berganti. Lallana, Coutinho, Henderson, Sturridge sempat menikmati masa istirahat karena cedera. Terbaru adalah bek kanan Nathaniel Clyne. Sadio Mane memperpanjang daftar absensi karena harus memperkuat tim nasional Senegal dalam Piala Afrika. Sementara Joel Matip tak bisa dimainkan menyusul protes tim nasional Kamerun karena si pemain menolak panggilan negara.

Spurs memang berbahaya dan bisa menjadi batu sandungan Chelsea. Namun klub Lili Putih ini tak bisa diandalkan jika harus bermain tandang, terutama melawan tim-tim besar. Rata-rata perolehan angka Spurs dalam pertandingan tandang adalah yang terburuk di antara tim penghuni enam besar yakni 1,6. Dari sisa 17 tandang, anak asuh Pochettino masih harus bertandang ke Anfield, menghadapi Si Merah yang tak pernah bisa mereka kalahkan selama enam tahun terakhir. Spurs terakhir menang di Anfield pada 15 Mei 2011 dalam Liga Primer dengan skor 2-0.

Spurs juga masih harus melawat ke kandang Man City dan Leicester. Jangan lupa, mereka juga masih harus ke kandang Burnley. Ini jelas bukan laga anjangsana yang bakal enteng saja dimenangkan Spurs. Burnley boleh jadi tak mentereng dan terpaut 19 angka dari Spurs di klasemen sementara. Namun klub ini menduduki peringkat ketiga dalam klasemen laga kandang hingga pekan ke-21. Dari 12 laga kandang, Burnley meraup 25 angka di Turf Moor. Jauh lebih baik daripada duo Manchester, City dan United, yang berada di peringkat tujuh dan delapan.

Bagaimana dengan Arsenal? Arsene Wenger masih belum bisa membawa Gudang Peluru stabil dengan sepak bola orkestra (penyebutan dari Klopp). Enam orang Prancis dalam skuad Arsenal belum sepenuhnya bisa membawa performa klub ini seperti era Untouchables 49, era di mana Arsenal menjadi juara musim kompetisi 2003-2004 dengan rekor sonder kekalahan. Namun sebagai tim tertajam kedua musim ini (Liverpool mencetak 49 gol dan Arsenal 48 gol), potensi Arsenal untuk memburu Chelsea masih terbuka.

Man City? Ah, agak kasihan melihat Pep Guardiola musim ini. Kekalahan 0-4 di kandang Everton dan 1-3 dari Chelsea di kandang sendiri bagaikan hantaman batu besar di kepalanya yang mungkin masih berisi bayangan kejayaan di La Liga dan Bundesliga. Bangun, Bung! Ini bukan liga yang hanya dikuasai satu klub (Bayern Munchen di Jerman) atau dua klub (Barcelona dan Real Madrid di Spanyol).

Pep tak bisa berharap hanya oper sana oper sini, mengurung lawan hingga gol terjadi. Louis van Gaal sudah mencobanya di United musim lalu dan gagal. Brendan Rodgers pernah mereplika Barca di Liverpool pada 2013-2014. Menghibur tapi tak sepenuhnya berhasil, karena Liverpool hanya berada di peringkat kedua di bawah City. Rodgers mencobanya musim berikutnya dan gagal. 'Sepak bola oper sana oper sini' rupanya hanya berhasil jika ada pemain sekelas Iniesta dan Messi di Barca atau Gerrard dan Suarez di Liverpool. City belum memilikinya, atau tepatnya, Pep belum menemukan pemain itu.

Bagaimana dengan Man United? Realistis saja. Saat memimpin United, Alex Ferguson tak pernah berharap bisa menyusul pemuncak klasemen jika terpaut lebih dari delapan angka. Ini Liga Inggris. Tugas Mourinho adalah memastikan satu tiket di Liga Champions musim depan.

Dengan perpaduan statistik sederhana dan fakta tadi, saya memperkirakan, di akhir musim Chelsea akan memimpin dengan 94 angka. Lengkapnya seperti ini:

1. Chelsea 94. Prediksi tambahan poin berasal dari laga kandang 24 angka, laga tandang 18 angka

2. Liverpool 84. Prediksi tambahan poin berasal dari laga kandang 26 angka, laga tandang 13 angka

3. Spurs 80. Prediksi tambahan poin berasal dari laga kandang 21 angka, laga tandang 14 angka

4. Arsenal 80. Prediksi tambahan poin berasal dari laga kandang 21 angka, laga tandang 15 angka

5. Man City 76. Prediksi tambahan poin berasal dari laga kandang 19 angka, laga tandang 15 angka

6. Man United 73. Prediksi tambahan poin berasal dari laga kandang 15 angka, laga tandang 18 angka

Klasemen ini bisa berubah, karena enam besar masih saling berhadapan. Kekalahan Chelsea akan membantu tim-tim di bawahnya. Rekor Chelsea menghadapi klub enam besar tak sebaik Liverpool. Setelah bertandang ke Anfield, Chelsea masih harus menjamu Arsenal. City, dan United. Di putaran pertama, Chelsea kalah 0-3 dari Arsenal, menang 3-1 atas City, dan 4-1 atas United. Performa terbaru mereka kalah 0-2 dari Spurs di White Hart Lane.

Masalahnya, kendati Chelsea kalah, Liverpool sebagai rival terdekat juga harus memastikan kemenangan melawan Spurs, City, dan Arsenal. Beruntung, rekor Liverpool menghadapi tiga klub itu sedang bagus. Klopp berhasil menyuntik kepercayaan diri kepada pemain Liverpool agar setara dengan para rival itu. Namun Liverpool harus memastikan pula, bahwa tak akan ada kejutan model Burnley (kalah 0-2) atau Bournemouth (kalah 3-4 setelah memimpin skor dua kali).

Dalam 17 pertandingan tersisa, Liverpool saya prediksi paling sedikit menangguk angka dari pertandingan tandang (13 angka dari tujuh pertandingan). Ini artinya ada delapan poin hilang. Tugas Klopp adalah memastikan poin yang hilang di jalan tak sebesar itu. [oryza a. wirawan]

No comments: