02 December 2013


Menanti Raisya

Cerita seorang dokter muda yang melahirkan melalui bedah cesar.

RABU PAGI, 22 MARET 2006, DI JEMBER.
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Mas Ryza. Dari Ibu. “Say, ibu SMS, katanya Dik Kiki mau melahirkan. Ibu tanya, kapan mau ke Surabaya. Aku bilang, besok kamis,” kata Mas Ryza.

“Lho, iya ta? Kiki sudah mau melahirkan,” sahut Mbak Heni, istri Mas Ryza, dari dapur.

Lalu Mas Ryza menghubungi Dik Arif. Arif sebenarnya baru saja pulang ke Jember. Selama dua pekan lebih sebelumnya ia ada di Surabaya, menungguku melahirkan. Tapi karena aku tak juga melahirkan, ia memutuskan balik ke Jember. Apalagi tugas kuliah menantinya.

Arif ternyata sudah dihubungi Ibu. Ia pun berencana pulang setelah kuliah. “Aku bareng, Mas,” katanya via SMS kepada Mas Ryza.

Mas Ryza, nama lengkapnya Oryza Ardyansyah Wirawan. Ia kakakku, anak pertama dalam keluarga Ahmad Budi Wirawan. Lahir di Situbondo, 5 Mei 1977. Dua tahun lebih tua dariku. Sekarang tinggal di Jember, sebuah kota yang terletak 200 kilometer dari Surabaya. Ia kuliah di Universitas Jember. Begitu lulus memutuskan untuk tinggal di Jember, dan bekerja di harian Radar Jember milik Jawa Pos Group. Menikah dengan Heni Agustini, adik kelasnya saat kuliah.

Arif Budi Wicaksono, adalah adikku yang pertama. Anak ketiga dalam keluarga Wirawan. Kuliah di Universitas Jember, di Fakultas Ekonomi. Seorang yang baik hati dan ringan tangan, meski kadang suka marah-marah. Sedikit. Tapi, sungguh, ia baik hati dan suka menolong.

Mbak Heni, kakak iparku. Ia dua tahun lebih muda daripada aku. Mbak Heni lahir 14 Agustus 1981, dan aku 8 Agustus 1979. Kami sama-sama lahir di Situbondo, sebuah kota kecil yang mayoritas penduduknya bersuku Madura. Mbak Heni keturunan Madura, sementara aku asli Jawa.

Tiga saudaraku itu berangkat ke Surabaya dengan bus patas. Dik Arif yang baru saja sampai di Jember hari Selasa, dan harus balik lagi ke Surabaya, bercerita lucu. “Aku diledek teman-teman. Kata mereka, Raisya lahir nunggu aku pulang ke Jember. Soalnya dia takut sama aku. Nggak sopan,” katanya, nyengir.

JUMAT PAGI, 24 MARET 2006. PUKUL 07.45. Rumah sakit Bersalin Sayang Ibu Surabaya. Rumah sakit yang terletak di Jalan Cimanuk ini sepintas tak seperti rumah sakit dalam pengertian banyak orang. Tidak besar, rumah sakit ini seperti rumah biasa dari depan. Rumah sakit ini didirikan dokter Subandi. Ia seorang dokter spesialis kandungan yang sukses, dan mempunyai sejumlah klinik di lain tempat. Konon, dia punya lima klinik bersalin.

Aku memilih melahirkan di sini, karena aku mendengar rumah sakit ini bermutu. Yang penting lagi, dokternya perempuan. Beberapa kawanku kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dulu, Hadnah, Erlinda, dan Ica juga melahirkan di sini. Aku ngamar sejak Kamis pagi kemarin. Dan, pagi ini aku harus bersiap melahirkan melalui bedah cesar, karena air ketubanku pecah duluan.

Di ruang VK, aku terbujur di atas ranjang rawat dengan berselimut putih lurik. Selang infus yang mengalirkan cairan ringer lactat terpasang di pergelangan tangan kananku. Di sebelahku Mas Rifki berdiri menanti, saat pintu ruangan mendadak terbuka. Mas Ryza dan istrinya Mbak Heni, Bu Apit, Ibu, masuk ke dalam ruangan. Disusul Dik Pipit dan Dik Arif.

Dik Pipit, nama lengkapnya Rizka Paramita Safitri. Putri bungsu keluarga Wirawan. Sekarang kuliah di Universitas Airlangga Fakultas Ekonomi Jurusan Studi Pembangunan. Adikku satu ini manja, tapi seorang yang suka mengalah. Hitam manis, dan wajahnya paling fotogenik dibandingkan tiga saudaranya yang lain.

“Hei, Maaaas…Kapan kamu datang? Mbak Heniiii…Kalian datang bareng Dik Arif ya?” Aku menyapa. Dengan tekanan nada yang selalu sama

“Iya, kemarin sore,” jawab Mas Ryza.

Mbak Heni lalu mendekat dan mengelus-elus perutku. Lalu perutnya yang juga melendung, karena hamil tujuh bulan. Aku tersenyum. “Neo, ini Dik Raisya. Dik Raisya mau lahir,” katanya, mengelus-elus perutnya sendiri.

Neo (dibaca: Niyo) adalah panggilan untuk jabang bayi Mas Ryza dan Mbak Heni, yang diperkirakan bakal lahir pada bulan Juni tahun ini juga. Menurut dokter berdasar hasil USG di usia kehamilan enam bulan, jabang bayi itu berkelamin laki-laki. Ini anak pertama setelah mereka menikah selama dua tahun.

“Iya, tapi adiknya lahir duluan,” jawabku.

Mas Ryza berdiri di samping kanan tempat tidur. Ia memperhatikan tabung besar oksigen yang dialirkan melalui slang yang ditempelkan di bawah lubang hidungku.

Tangannya membawa kamera digital merek Nikon 2200 yang terbungkus. Kamera itu pemberian kantor tempat Mas Ryza bekerja sebagai wartawan. Saat resepsi pernikahan di Surabaya dan Jombang, Mas Ryza jadi fotografer dengan kamera itu.

“Bagaimana perasaanmu, Dik? Sudah tidak sakit lagi,” tanyanya.

“Tidak. Sekarang aku malah deg-degan,” jawabku.

Bu Apit dan Ibu berdiri di sisi kiri ranjang, bersebelahan dengan Mas Rifki. Bu Apit adalah bibiku. Ia istri Pak Pri, Ahmad Budi Priyatmoko, adik kandung Bapak. Orangnya periang dan pintar masak. Pak Pri dan Bu Apit punya dua anak, Aan dan Ian.

Aan kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang dan Ian besekolah di SMUN 20 Surabaya.
Keluargaku dan keluarga Pak Pri sangat dekat. Aku dan Aan juga akrab. Saat diberitahu Bu Apit bahwa aku akan melahirkan, dia menangis. Ia ingin ikut menemani, tapi tak bisa.

Ibu dan Bu Apit mengobrol sendiri, sementara aku mulai bercerita tentang betapa sakitnya, ketika kandunganku harus dirangsang dengan menggunakan obat supaya berkontraksi, dan bisa melahirkan secara normal.

Arif lalu keluar dari ruangan.

“Aduuh sakit. Akhirnya Mas Rifki memutuskan berhenti, dan operasi cesar saja,” kataku.

“Aku kan sudah bilang, ‘operasi saja ta?’. Tapi Adik nggak mau,” sahut Mas Rifki.

Mbak Heni mengelus-elus perutnya mendengar ceritaku. Mungkin ia khawatir juga.

“Mas, kamu di sini sampai kapan?” tanyaku pada Mas Ryza.

“Insya Allah seminggu,” jawab Mas Ryza.

“Lho, kerjaanmu menggarap koran Dewan sudah selesai?” tanyaku.

“Majalah Dewan. Sudah beres,” jawab Mas Ryza, membetulkan.

“Hore, aku ada temannya. Mas, aku ada temannya,” ujarku pada Mas Rifki. Mas Rifki tersenyum.

Mas Ryza lalu mengeluarkan kameranya dari tas kecil. Ia lantas mengarahkan moncong kameranya untuk menjepretku. Aku tertawa. Mas Ryza mengambil kali enam jepretan. Terakhir, aku berfoto bareng Pipit, Mbak Heni, Mas Rifki, Ibu, dan Bu Apit.

Pukul 08.05, seorang perawat masuk ke ruangan. “Minta tolong ya, yang lainnya keluar dulu. Mbaknya mau dibawa ke ruang operasi,” katanya.

Ibu mengelus-elus kepalaku. Aku tersenyum. “Doakan yaaa…” Mereka lalu berjalan keluar dari ruangan VK. Ini adalah ruangan di Rumah Sakit Bersalin Sayang Ibu tempat di mana pasien sebelum menjalani operasi cesar. Di ruang ini pasien masih diizinkan berjumpa dengan sanak kerabatnya, sebelum masuk ruang persiapan operasi.. Tinggal Mas Rifki yang menemani.

Perawat mendorong ranjangku menuju ruang persiapan operasi di sebelah. Pakaianku dicopoti, dan tubuhku dipasangi kateter. Lalu dokter Vita Maya, dokter kandungan yang akan mengoperasiku datang.

Mas Rifki beranjak hendak meninggalkan ruangan. Aku lantas menyalaminya, mencium tangan dan pipinya. “Salam buat Bapak Ibu. Doakan aku ya,” kataku.
Perawat menempelkan kabel-kabel yang tersambung dengan monitor operasi di tubuhku. Monitor itu untuk memantau kondisi bagian-bagian vital di tubuhku selama operasi. Untuk tahu, apakah aku baik-baik saja.

Lalu pintu ruangan terbuka. Ibu masuk dengan pakaian yang sama dikenakan dengan para perawat saat berada di ruang operasi. Warnanya hijau muda. Aku Ibu mencium pipiku. Aku sudah tidak bisa mencium kedua tangan Ibu, karena kedua tanganku sudah diikatkan pada penyangga lengan di kaki meja operasi.

“Ya sudah, baca Bismillah. Baca Al Fatihah, Al Ikhlash,” kata Ibu membesarkan hatiku. Aku mengangguk, dan Ibu lantas meninggalkan ruangan.

Dokter Vita menyapaku. Ia menanyakan kondisiku.

“Bagaimana?”

“Aduh, saya jadi nggak kuat,” jawabku.

“Sampai jam berapa OD?”

“Cuma sampai jam sebelas malam, dok,” Aku berkata dengan nada sesal.

Tak lama setelah Dokter Vita, Dokter Bambang masuk ruang operasi. Dia ahli Atesi. Dalam operasi ini memang ada dua dokter: dokter kandungan yang bekerja membedahku, dan dokter Atesi yang memastikan bius bekerja di tubuhku, sehingga tajamnya pisau bedah tak menyakitiku.

“Bu, dibius dari belakang, ya,” katanya.

Aku mengangguk. Lalu ia menyuntikkan obat bius di punggungku. Dan aku merasa tiba kakiku merasa tebal. Kesemutan. Aku merasa lemah. Lumpuh.

“Bagaimana, Dok? Sudah siap?” tanya Dokter Vita Maya kepada rekannya.

“Sip,” sahut Dokter Bambang. Dia termasuk yang memegang kendali dalam operasi meski bukan operator.

MALAM, 10 FEBRUARI 2006. Rumah Sakit X sedang ramai. Sejak jam 01.00 dini hari hingga pagi pukul 07.00 saja, ada delapan pasien. Berarti setiap jam ada satu pasien.

Rumah sakit ini salah satu rumah sakit yang dikenal publik bagus di Mojokerto, meski dari fisik tak terlampau besar. Aku mulai bekerja di sana sejak 1 November 2005 sebagai dokter tidak tetap, setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga 17 Desember 2004. Aku ingin melanjutkan kuliah dan menjadi spesialis kandungan. Jumlah dokter perempuan spesialis kandungan di Indonesia masih belum sebanding dengan dokter spesialis kandungan lelaki.

Hari itu aku dapat giliran jaga malam di Unit Gawat Darurat, bersama seorang resepsionis dan dua perawat. Untunglah tidak ada kasus yang terlampau gawat. Tapi tetap saja malam panjang yang melelahkan. Aku memang seharusnya hanya bertugas di UGD. Tapi karena aku satu-satunya dokter yang bertugas malam hari, maka aku juga bertanggungjawab atas semua pasien di seluruh rumah sakit. Aku berada di garis depan.

Malam itu nyeri di vaginaku menghebat. Nyeri ini muncul sejak usia kandunganku tujuh bulan. Ada varises di vaginaku. Kalau sakit itu sudah mendera, untuk jalan pun aku kesulitan, termasuk malam itu.

Aku sempat menelpon Ibu. “Bu, kok nyeri banget ya.”

“Kenapa sih kamu nggak ngambil cuti duluan,” jawab Ibu.

“Tidak mungkin boleh,” sahutku. Aturan di rumah sakit memang ketat. Untuk cuti hamil selama tiga bulan, yakni satu bulan sebelum melahirkan dan dua bulan sesudahnya. Aku sebenarnya baru akan cuti tanggal 1 Maret nanti, karena dokter kandunganku memperkirakan aku bakal melahirkan tanggal 25 Maret.

“Iya, daripada kesakitan terus begitu,” jawab Ibu.

Aku lalu memutuskan untuk tiduran di salah satu kamar yang disediakan untuk dokter jaga. Saat aku tiduran, datanglah Mbak Nina, bidan jaga malam itu. Ia hendak meminta resep kepadaku.

“Sebentar, Mbak,” aku berjalan pelan-pelan, turun dari ranjang. Sakit sekali, hingga mataku berair.

Mbak Nina tampak heran. “Lho, Dok, kenapa?”

Sambil meringis, aku menjawab, “Vaginaku nyeri, Mbak.”

Mbak Nina memegang-megang perutku. “Hamil berapa bulan? Lho kok kenceng?” Perut yang kencang pertanda terjadinya kontraksi rahim.

“Delapan bulan,” aku masih kesakitan.

“Dulu waktu saya hamil, juga mengalami nyeri pada vagina. Jangan-jangan ada bukaan, Dok. Saya lihat, ya?”

Seorang yang hendak melahirkan biasanya mengalami sepuluh bukaan. Bukaan pada mulut rahim sampai dengan 10 centimeter disebut bukaan lengkap. Saat itu sang ibu diminta mengejan. Tapi ini jika usia kandungan sudah 9 bulan 10 hari.

“Biasanya periksa dengan dokter siapa?” tanya Mbak Nina.

“Dokter Sumadi,” jawabku.

“Saya periksa, terus saya telponkan Dokter Sumadi, ya,” kata Mbak Nina.

Aku kontan menolak. “Tidak usah, Mbak. Sungkan.”

Mbak Nina tampak bimbang. “Ya sudah pokoknya saya periksa dulu, nanti kalau hasilnya mengkhawatirkan baru lapor ke Dokter Sumadi,” katanya memutuskan.

Perempuan muda yang baik itu lalu mengambil alat-alat periksanya. Ia periksa kondisi tubuhku. Kata Mbak Nina, denyut jantung calon anakku bagus.
Ia lalu memeriksa bagian dalam vaginaku yang nyeri luar biasa. “Ada darah, Dok,” katanya.

Aku berdebar-debar. Aku pun meminta agar Mbak Nina menelponkan Dokter Sumadi untukku.

Dokter Sumadi menanyakan kondisiku. “Sudah kamu minum obat dulu. Lalu segera bed rest. Segera pulang, dan tak usah jaga. Kalau rumahmu jauh, ngamar saja di situ. Saya tidak mau ambil risiko. Bayimu sebentar lagi lahir. Eman-eman, kalau lahir prematur,” katanya. Ia juga memintaku memasang infus, bila obat yang diresepkannya jarak jauh tak meredakan kontraksi dan pendarahan.

Mbak Nina diminta untuk mengawasiku. “Kalau ada apa-apa beritahu saya,” kata Dokter Sumadi.

Aku lantas menghubungi Dokter A, Kepala Bagian Pelayanan Medis rumah sakit X, untuk minta izin pulang. Dia atasanku. Tapi dokter itu tak meloloskan permintaanku begitu saja. Ia memintaku mencari dokter pengganti untuk berjaga.
Sesuatu hal yang mustahil dilakukan. Rumah dua dokter yang biasanya bertugas jaga malam jauh dari Rumah Sakit X. Satu orang di Surabaya, satu lagi di Jombang. Tak mungkin aku memaksa mereka datang menggantikanku dini hari begini.

Dokter A memintaku menghubungi Dokter Dian, salah satu dokter jaga rumah sakit X yang tinggal di Jombang. Namun ponselnya tak diangkat. Telpon rumahnya diblokir atas permintaan pelanggan

Aku lalu kembali menghubungi Dokter A. “Dok, Tidak bisa dihubungi.”

Dokter A berkeras. “Tak mungkin. Kan ada HP-nya. Telponkan rumahnya,” tukasnya.

“Tidak bisa, Dok.”

“Cari ganti teman-temanmu yang rumahnya dekat sana,” kata Dokter A.

Aku mencoba menahan diri. “Dok, daripada begitu, saya minta tolong agar digantikan salah satu dokter tetap yang rumahnya dekat sini.”

Suara Dokter A meninggi. “Tidak bisa. Prosedurnya tidak begitu.”

Tak mau berdebat, akhirnya aku menghubungi Titin, salah satu rekan sejawatku yang tinggal di Balung Bendo, Sidoarjo. Namun, bisa ditebak, ia menolak. “Aduh, suamiku sedang tidak ada di rumah. Lagian jam segini gimana caranya,” katanya mengingatkan, bahwa saat itu pukul satu dini hari.

Kesulitan Titin aku jelaskan kepada Dokter A. Tapi dokter itu tetap saja keras kepala. “Bilang ke dia, kalau hambatannya transportasi, akan dijemput dengan mobil rumah sakit,” katanya.

Aku meneruskan pesan ini ke Titin. Tapi dengan suara ragu, antara tidak enak untuk menolak dan enggan menerima, ia berujar: “Aduh, bagaimana ya Kik. Suamiku tidak ada di rumah.”

Aku memahami kesulitan Titin. Seorang perempuan dengan satu anak yang masih kecil, dan suami sedang tak ada di rumah, apa lagi yang bisa diharapkan darinya?

Aku lantas memutuskan untuk menghubungi Dokter A kembali. Tapi seperti kusangka, dokter itu masih bertahan dengan pendapatnya.

“Lho, tadi katanya hambatan kendaraan. Mau dijemput kok dia nggak mau,” katanya.

Aku tak tahu Dokter A ini benar-benar tidak mengerti atau pura-pura tak paham, bego atau pura-pura bloon. Tapi aku sudah jengkel sekali. Betapa berbelitnya birokrasi, ketika aku harus menanggung risiko keselamatan anakku dalam kandungan.

“Begini lho, Dok, saya tak perlu tahu alasan Titin kenapa tidak mau. Dia itu perempuan berkeluarga dengan anak satu dan suami sedang tidak di rumah.Itu yang penting, dan saya tak mau memaksa,” suaraku meninggi. Emosiku sudah sampai ubun-ubun. Birokrasi...birokrasi….birokrasi…

Dokter A lalu menyuruhku menghubungi Anggi, salah satu temanku yang dulu melama ke rumah sakit X. Tapi aku sontak menolak. “Dia sudah kerja di Rumah Sakit B. Kenapa bukan Pak Darus dan Bu Elis,” sahutku. Keduanya dokter tetap yang tinggal di Mojokerto.

Dokter A tak mau tahu. “Tidak, hubungi temanmu dulu.”

Tapi cukup satu kali menelpon, dan Anggi menolak. “Aku harus jaga pagi besok di Gatul,” katanya.

Dokter A tidak ambil pusing. Ia lantas menyuruhku tetap menghubungi Dokter Dian untuk menggantikanku berjaga. “Pokoknya bagaimanapun caranya, harus hubungi Pak Dian, sampai bisa,” katanya dingin, dan menutup telpon.

Aku berusaha meredakan kegeramanku. Aku meminta tolong kepada operator untuk terus menghubungi Dokter Dian. Aku akan menunggu hasilnya di kamar. Namun, setelah mencoba hampir satu jam, hasilnya nihil.

Aku lantas mengumpulkan semua perawat jaga. Aku meminta mereka menggantikanku sementara sebagai dokter. “Mas Hendra, sampeyan periksa pasiennya. Lihat gejalanya, lalu laporkan ke saya. Nanti kalau butuh resep, aku yang bikin,” kataku kepada salah satu perawat.

Dan, malam itu, aku tetap berjaga sembari menahan sakit hingga pukul tujuh pagi. Aku bersyukur para perawat mau menolongku. Setiap tidak ada pasien, mereka berkunjung ke kamarku untuk mengulurkan tangan, sembari mengumpati Dokter A yang dinilai tidak toleran dan punya rasa empati. “Padahal anaknya sudah empat. Dia kan juga dokter kandungan…”

Setelah itu aku mencoba beristirahat ditemani Mas Rifki yang datang ke rumah sakit X beberapa saat kemudian untuk menemani.

Pagi hari, Dokter Dian menelponku. “Ada apa sih kok telpon aku tadi malam,” tanyanya.

Lalu teman yang menerima telpon itu bercerita tentang kejadian semalam. “Kebacut Pak A ini. Bagaimana Bu Kiki? Tidak apa-apa kan? Syukurlah kalau begitu,” katanya.

DI LUAR RUANG OPERASI, ketegangan tampak di wajah-wajah anggota keluargaku. Bapak tampak tepekur di kursi kayu ruang lobi rumah sakit bersalin. Diam. Garis-garis di wajahnya yang keriput tampak menggurat lebih jelas dari hari-hari sebelumnya.

Mas Rifki, suamiku, tampak gelisah. Sesekali matanya menatap televisi di ruang lobi yang dihidupkan dengan volume rendah. Ada film India.

Di dalam kamar rawat inap yang biasa kutempati, Ibu berbincang dengan Mas Ryza. “Adikmu itu sebenarnya ingin melahirkan secara normal. Tapi ia kesakitan sekali, saat diberi OD. Akhirnya harus cesar. Tapi tidak apa-apa, toh ia sudah membuktikan berusaha lahir normal,” kata Ibu.

Usai bercakap dengan Mas Ryza, Ibu mengambil air wudhu. Ia hendak salat sunnah Dhuha. Salat Dhuha adalah salat yang dianjurkan di pagi hari sebelum Dhuhur. Tuhan berjanji mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya yang sembahyang di pagi hari.
Bu Apit menyusul masuk kamar. “Aku juga mau salat dulu,” katanya.

Tidak ada sajadah, akhirnya Bu Apit menggunakan koran sebagai alas salat. Ia berdiri di belakang Ibu yang mulai berdoa. Mengatupkan tangan, dan berbicara lirih. Memohon keselamatan untuk anak dan cucu pertamanya.

Setelah itu, Ibu mengambil sebuah buku surat Yasin. Ia lalu membacanya dengan suara yang tak terdengar. Begitu pelan. Bu Apit belum selesai salat. Mas Ryza sudah memutuskan untuk memotret momen-momen bahagia nantinya.

AKU TAK BISA MELIHAT apa yang dilakukan Dokter Vita. Mataku hanya bisa menatap langit-langit dan sorot lampu operasi yang benderang. Aku juga tidak bisa merasakannya, karena bius yang bekerja di tubuhku. Namun aku bisa menerka apa yang tengah dilakukannya. Aku pernah ikut melakukan operasi, mendampingi dokter yang lebih senior.

Aku akrab dengan suara gunting dan pisau operasi yang bekerja. Menyayat kulit. Memotong. Halus. Lembut. Penuh kehati-hatian. Operasi bedah tak ubahnya sebentuk seni di dunia kedokteran. Ia membutuhkan ketelatenan, kesabaran, keuletan, kecekatan, dan ketangkasan berpikir.

Operasi selain aman juga harus indah. Dokter Puruhito dalam salah satu tulisannya di Buku Ajar Ilmu Bedah menjelaskan, “tindakan membedah tidak seperti melakukan coretan atau sapuan pada lukisan oleh seorang pelukis; apa yang dihasilkan oleh pembedah merupakan produk yang tidak akan dapat dicoret, disapu, atau diulang kembali..Dia harus dapat melakukannya dengan penuh keyakinan pada diri sendiri.”

Bedah sesar sendiri dikenal sebagai seksio sesarea. Ini persalinan buatan untuk melahirkan janin melalui insisi pada dinding perut dan dinding rahim. Syaratnya, rahim dalam keadaan utuh dan berat janin di atas 500 gram.

Sebenarnya, seorang ibu yang melahirkan tak perlu dioperasi bedah atau dikenal sebagai bedah cesar. Jika normal, seorang ibu bisa melahirkan melalui vaginanya. Dengan dibantu kontraksi pada sang ibu dan janin serta dilicinkan dengan air ketuban, maka kelahiran bisa terjadi.

Namun, di dunia ini, tak semuanya berjalan sempurna. Ada film bagus, judulnya Jewel in The Palace yang bercerita tentang seorang dokter perempuan pertama dalam sejarah Korea: Seo Jang Geum. Saat itu abad 15, dan dunia kedokteran Korea yang dikuasai para pria tak mengenal tubuh manusia yang diiris. Apalagi oleh seorang wanita.

Namun Jang Geum melakukannya. Dalam gua tepi pantai, ia menemukan seorang perempuan hamil tua dan kesakitan. Bayinya akan lahir sungsang. Maka Jang Geum meminta izin kepada sang suami untuk membedah sesar perempuan itu. Ibu dan bayinya selamat.

Aku tak tahu sudah berapa lama operasi berjalan. Rasanya lama sekali. Sunyi. Bau antiseptik menyengat hidung. Aku merasa kedinginan. Tubuhku telanjang dan hanya ditutupi selimut.

“Dok, dada saya kok sesak,” kataku memecah kesunyian.

“Oh, tidak apa-apa. Memang begitu,” sahut Dokter Bambang.

“Saya mual, saya mau muntah,” aku merasa lemah.

“Tidak apa-apa,” Dokter Bambang berusaha meyakinkanku.

Aku tidak tahu apa yang menyebabkan ingin muntah. Belakangan aku ketahui, kawan-kawanku yang pernah dibedah sesar bahkan muntah di tengah operasi. Aku beruntung tidak separah itu.

Dalam sunyi aku berdoa: “Ya Allah, semoga anakku bisa lahir selamat dan dalam kondisi sehat tak kurang apapun. Biarkan ia hidup. Berilah aku kesempatan untuk melihat anakku…”

AKU MEMANGGILMU RAISYA. Mulanya pada usia awal kandunganku, aku memanggilmu Billy. Mas Rifki memang mengharapkan seorang bayi laki-laki.

“Lho, terus kalau bayinya perempuan bagaimana?” tanyaku.
Mas Rifki tidak menjawab. Aku minta dia mencari nama untuk bayi perempuan. Tapi, ia tak juga beranjak.

“Gampang. Nanti,” katanya.

Aku tidak memaksa. Mungkin ia masih berharap aku bakal melahirkan bayi laki-laki.

“Bagaimana kalau Billa?” kata Ibu dan Dik Pipit mengusulkan, pada suatu hari.

Nama yang bagus. Tapi aku belum memutuskan, sampai pada suatu hari di bulan Februari, Mas Rifki mengusulkan sebuah nama: Raisya. Artinya, gelar kebangsawanan. Dalam bahasa Arab, Rais artinya pemimpin. Mungkin kalau dalam bahasa Jawa Raisya setara dengan raden ayu. “Kelihatannya bagus,” katanya.

Memang bagus. Mas Rifki tampaknya sreg betul dengan nama itu. Ia senantiasa menyapa bayi dalam perutku dengan nama itu. Saat salin kirim pesan pendek via ponsel, ia juga menanyakan kabarku dan kabarmu yang ada dalam rahimku dengan sapaan Raisya.

Jadilah kami memanggilmu Raisya, nak.

Kami lalu melengkapi nama belakangmu: Paramesthi. Nama itu kami temukan, saat mencari buku nama-nama indah di Gramedia, sepuluh hari menjelang kelahiranmu. Paramesthi, artinya yang berdiri terdepan. Kamu memang anak pertamaku, anak terdepan. Kelak, aku berharap kamu juga menjadi pemimpin.

Setelah kamu lahir, kami menambahkan nama ‘Dyah’ sebagai nama tengah. Jadi nama lengkapmu: Raisya Dyah Paramesthi.

Aku menaburkan harapan di atas kepalamu, anakku. Oleh sebab itu, aku memilih untuk segera cuti 13 Februari, yang berarti lebih awal sebagaimana saran Dokter Sumadi beberapa hari setelah mengalami pendarahan. Aku langsung memutuskan istirahat total. Tidak ada yang lebih penting dari keselamatan Raisya.

Aku tak sabar menunggu kelahiran Raisya. Aku segera ingin tahu wajah anak manusia yang selama berbulan-bulan menendang-tendang di dalam rahimku.

“Insya Allah anakmu lahir Jumat ini,” sahut Ibu.

Aku tersenyum. “Kucatat ya, Bu. Bener atau tidak,” kataku.

Aku menuliskan di atas secarik kertas kecil: “21 Maret 06. Kata Ibu, insya Allah anakku lahir Jumat ini. Doakan ya… Amin.” Kertas itu aku tanda tangani.

Selama masa istirahat menjelang persalinan, kakiku membengkak. Gejala normal bagi perempuan hamil, meski harus tetap diwaspadai. Aku jadi lebih banyak tiduran, dan jarang berjalan-jalan. Aku lebih banyak di dalam rumah.

Satu-satunya yang menyenangkan adalah aku masih bisa memasak makanan enak-enak yang aku sukai. Aku selalu ingin mencoba resep baru. Bahan-bahan makanan apapun aku beli. Padahal, aku bukan tipe perempuan yang mencintai dapur. Kata orang, kegemaranku ini bawaan bayi. Bawaan Raisya.

Semuanya aku rasa baik-baik saja, hingga tanggal 23 Maret. Pagi itu, perutku kembung dan merasa ingin kentut. Ada Pipit di kamarku.

“Pit, awas aku mau ngentut.”

“Iih, nggilani iki,” sahutnya.

Tapi tiba-tiba cairan mengalir deras dari antara dua kakiku. Aku bingung. Ciaran itu mengalir tanpa aku mampu menahannya. Warnanya bening, agak kuning.

“Lho, Mbak. Kok keluar airnya,” kata Pipit.

Aku bertanya kepada Ibu. “Bu, aku nggak kebelet kencing. Tapi kok mengalir terus. Aku nggak bisa menahannya,” suaraku cemas.

“Ki, jangan-jangan ketubanmu pecah,” kata Ibu.

Aku tak merasa kesakitan. Aku mencoba berpikir tenang. Aku hapal prosedur kelahiran di luar kepala. Malam sebelumnya saat aku kontrol ke dokter, diperkirakan aku baru melahirkan tiga hari lagi atau tanggal 25 Maret. Obatku kemudian ditambah dosisnya dan aku diminta terus merangsang kontraksi rahim.

Namun belum lagi obatku kuminum, ketubanku pecah duluan. Aku heran, kenapa ketubanku pecah duluan.

Aku minta diantar ke Rumah Sakit Sayang Ibu. Namun, Bapak lebih suka aku diantar dengan taksi daripada diantar sendiri dengan mobil pribadi. Bapak takut panik. Dalam situasi begini, kepanikan mudah terjadi, karena dalam kondisi darurat, jalanan di Surabaya adalah hambatan. Kemacetan di mana-mana. Apalagi Sayang Ibu terletak di daerah pusat kota yang sibuk.

Aku mulai menjalani rawat inap di salah satu kamar. Dokter memutuskan untuk menginjeksikan oksitosin melalui selang infus, dikenal dengan Oxytocin Drip (OD), setelah sebelumnya mengobservasi selama 12 jam untuk melihat kemajuan persalinan.

Namun tidak ada kemajuan. Oksitosin diinjeksikan ke tubuhku untuk merangsang kontraksi di rahimku. Untuk mempermudah kelahiran. Seharusnya, obat ini diberikan dua kali melalui infus dalam jangka waktu 16 jam.

Tapi reaksi obat ini menyakitkan. Aku tidak kuat menahannya. Baru dua jam, aku sudah kesakitan sekali. Aku meraung tertahan menahan sakit yang sangat.

Mas Rifki tampak menangis melihatku kesakitan. “Lelaki macam apa Mas ini, membiarkan istri Mas kesakitan.”

Tak tahan melihatku kesakitan, Mas Rifki memutuskan agar aku melahirkan melalui jalan bedah sesar. Pemberian oksitosin lantas dihentikan, karena tidak ada perkembangan bahwa aku bisa melahirkan normal.

Aku merasa menyesal. “Maafkan aku, ya,” kataku. Mas Rifki tersenyum.

TELEVISI DI RUANG TUNGGU MASIH MENYIARKAN FILM INDIA. Ibu biasanya suka menonton film India. Kadang ia dan Mas Ryza berdebat kecil soal film Bollywood. Mas Ryza tidak senang menonton film India. Katanya, “Tidak mendidik, bikin orang tidak pintar.”

Menurut Mas Ryza, film India kadang tidak logis. “Sejak awal diceritakan bahwa tokohnya adalah manusia biasa. Tapi kenapa saat berkelahi, ia bisa membuat lawan terpelanting hingga bermeter-meter jaraknya, seperti orang sakti.”

Kalau sudah begitu, Ibu pasti bilang: ‘Yo wis, biarin.”

Namun pagi itu tidak ada perdebatan. Tidak ada yang memperhatikan film di televisi. Ibu baru keluar dari kamar rawat. Habis salat.

Mas Rifki mengambil buku Yasin. Ia lalu menjauh dari depan televisi dan mulai membaca. Mas Ryza mengambil fotonya beberapa kali. Hasilnya, gambar itu kabur. “Goyang,” kata Mas Ryza, singkat.

AKU BERUSAHA MENATAP DOKTER VITA. Namun gagal. Aku merasa perutku didorong.

“Dok, saya diapakan?”

Dokter Bambang menyahut, “Ini bayinya sedang dikeluarkan. Tidak apa-apa.”

Lalu, tangis itu memecah kesunyian. Tangis bayi yang lama kurindukan.

“Wah, gendhuk,” sahut Dokter Vita. Gendhuk adalah sebutan untuk anak perempuan.

“Bayinya perempuan,” tambah Dokter Bambang.

Aku tersenyum. Lemah. Tak bisa bergerak. Perasaaanku campur aduk…

PUKUL 08.40, SUARA TANGIS DARI KAMAR OPERASI membuat Arif dan Pipit terloncat dari tempat duduknya. Bapak pun bangkit. “Itu suaranya,” kata Mas Ryza.

Hati Ibu mencelos. Lega, seperti lepas dari tumpukan ribuan batu. “Alhamdulillah,” katanya.

Ibu lantas memanggil Mas Rifki. “Mas, bayinya sudah lahir,” katanya.
Mas Rifki menutup buku Yasin dan berjalan mendekati Ibu.

Mata Ibu tampak berkaca-kaca. Sebutir air mata menetes ke pipi kanannya. Pipit pun tampak menahan tangis. Mata Dik Arif memerah.

Film India masih berputar. Seorang perempuan menyanyi-nyanyi dengan bahasa Urdu. “Burung gagak hitam terbang tinggi…” Mas Ryza melihat sekilas teks terjemahan di layar kaca.

Bapak berjalan menuju kamar rawat inap. Ia langsung sujud syukur di sana. Bu Apit juga. Arif dan Pipit bersujud syukur di depan pintu kamar rawat inap. Pipit benar-benar menangis.

Semuanya nyaris tanpa kata-kata.

Bapak memeluk Ibu lama sekali. Keduanya menangis sunyi. Mencium pipi Ibu kiri dan kanan. Bapak juga memeluk dalam-dalam Mas Rifki yang sudah bisa tersenyum. Semua saling bersalaman dengan wajah lega. Mas Ryza menjepretkan kamera digitalnya berkali-kali.

“Itu suaranya keras sekali,” kata Ibu. Semua tertawa. Benar-benar lega.

Dokter Mia, seorang dokter spesialis anak, keluar dari ruang operasi. “Mana suaminya?”

Mas Rifki maju. “Ya, ada apa Dok?”

“Bayinya perempuan lahir sehat, sekarang sedang dibersihkan,” katanya.

“Bisa saya…” Mas Rifki mengangkat tangannya seperti orang menimang.

“Ya, bisa. Nanti setelah dibersihkan,” jawab Dokter Mia.

“Terima kasih, Dok,” kata Mas Rifki.

Ibu tampak sibuk mengirimkan pesan pendek ke sanak kerabat lainnya, memberitakan kelahiran Raisya. Ia juga menerima telpon beberapa kali. “Wah, besar ya beratnya hampir empat kilogram. Makanya sulit keluar,” kata Ibu.

AKU MELIHAT RAISYA DILARIKAN KE KAMAR SEBELAH. Beberapa saat kemudian, seorang perawat berkata dengan suara keras: “perempuan, 3,9 kilogram, 52 centimeter, lengkap.”

Aku merasa lega.

Lalu salah satu perawat membawa Raisya yang tubuhnya sudah dibungkus kepadaku. Diperlihatkan kepadaku. Tapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena belum berani bergerak.

Perawat itu kemudian menyentuhkan pipi Raisya ke bibirku. Dan, aku pun menangis.

Terima kasih, ya Allah.

Tubuhku lantas dibersihkan, dan dokter mulai menutup dengan jahitan. “Sudah, Bu, tinggal nutup,” kata Dokter Bambang.

Namun aku merasa ada rasa sakit yang mencubit-cubit di daerah perutku. Aku merasa seperti ada yang linu. Nyeri. Aku mengira Dokter Vita tinggal menyelesaikan jahitan luar ternyata. Ternyata, “Masih jahitan dalam,” katanya.

“Dok, kok kemeng ya,” kataku, dengan suara hati-hati.

“Tidak apa-apa. Tidur saja, ya, Bu,” sahut dokter anestesi.

Ia lalu memasukkan obat lewat infus. Aku pun merasa ngantuk sekali. Lalu tertidur.

Aku tidak tahu berapa lama tertidur. Tapi aku tiba-tiba bangun dengan rasa sakit yang semakin mencubit-cubit. Dokter Bambang lantas menginjeksikan kembali obat bius lewat infus, dan aku terlelap lagi.


RAISYA DIBAWA KELUAR RUANGAN dalam gendongan seorang perawat. Mas Rifki mendekat dan mengambilnya.Bapak dan Ibu berdiri di sampingnya. Dengan lirih dan hati-hati, suamiku itu lantas membacakan azan dan iqomah ke telinga kanan dan kiri Raisya.

Mata Raisya membuka dan mengerjap-kerjap. Sepertinya ia mengerti. Dik Arif terus menyorotkan handy cam-nya ke arah Mas Rifki.

Kami tertawa, saat tiba-tiba Raisya bersin. “Ha ha ha…” Gelak tawa menyambut bersin Raisya.

Perawat kemudian mengambil Raisya dari pelukan Mas Rifki. “Sudah mau dihangatkan dulu,” katanya. Ibu dan Bu Apit mengelus-elus pipi Raisya, sebelum dibawa berlalu ke lantai atas.

Ibu, Pipit, Mas Rifki, Bu Apit, Arif lalu menjenguk Raisya yang dimasukkan sejenis boks penghangat di lantai atas. Mbak Mus, bibiku istri Pak Bambang adik Ibu, yang datang belakangan bersama dua anaknya, Leli dan Putri, juga ikut menengok anak pertamaku itu.

Raisya sedang tertidur tenang. “Heeh, menggemaskan,” kata Bu Apit.

“Hidungnya nyeprok,” kata Ibu.

RASA SAKIT TAK BERPERI MENGGIGIT TUBUHKU SETELAH OPERASI. Mulanya aku tak begitu merasakan, saat dipindahkan dari ruang operasi ke kamar rawat inap dengan hanya ditutupi sepotong kain bermotif batik. Bius masih bekerja di tubuhku.

Seorang perawat berjilbab memasangkan sebuah infus di pergelangan tanganku. Mas Rifki mencium keningku di bawah kilatan blitz kamera digital Mas Ryza dan sorotan handycam Arif.

Aku tertawa tertahan mendengar cerita Ibu dan Mas Rifki bahwa Raisya bersin saat diazani. “Bersin, bau rokok Bapaknya,” kata Ibu.

Rasa sakit perlahan mencubit-cubit daerah perutku. Aku mendesis, dan mengeluarkan air mata. Menahan rasa sakit itu.

Aku tersenyum senang melihat seorang perawat membawa Raisya ke kamar. “Masya Allah, cantiknya,” kataku.

Sang perawat lalu menggendong dan menyorongkan bibir Raisya ke payudaraku, mencoba untuk disusui. Aku mengelus-elus ubun-ubunnya dengan jemariku. Namun, air susu tak juga keluar. Setelah beberapa saat, perawat memutuskan mengembalikan Raisya ke dalam boks dan di bawa ke kamar depan untuk disusui dengan botol.

Dan, rasa sakit itu mencubit kian keras, kian kuat. Aku menangis. Mengerang.

“Aduuh, Bu. Sakiiit, aku tidak tahan.”

“Aku mau dibius terus. Sakiittt. Ya Allah, sakit sekali.”

Bu Apit, Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku hanya terdiam. Kasihan. Tidak tega melihat aku kesakitan. Sangat.

“Iya, Ki. Iya. Sakitnya dipindahkan ke Ibu saja, ya,” kata Ibu, dengan nada dalam, menahan diri untuk tidak ikutan menangis.

Mas Rifki mengernyitkan dahi. Ia tak bisa berbuat apa-apa.

Dik Arif memanggil perawat. Saat perawat datang, Mas Rifki langsung menyemprot, “Ini bagaimana sih, Mbak?”

“Sudah saya beri penahan rasa sakit. Dobel malah. Mungkin belum bekerja. Baru setengah jam. Mbaknya tidak tahan sakit,” kata perawatnya, sembari memeriksa kondisiku.

Perawat itu lantas menawarkan untuk memberikan morfin, analgesik yang paling topcer. “Tapi saya konsultasikan dulu,” katanya. Namun dokter menyuruh paha kananku disuntik pethidin yang biasa digunakan di ruang operasi.

“Nggak apa-apa, nangis saja, biar nanti waras,” kata Ibu.

Aku terus-menerus beristighfar. “Kenapa sakitnya nggak ilang-ilang, Bu. Sakit ya, allah.”

Aku menderita, hingga kemudian rasa lelah meremasku. Mungkin biusnya bekerja. Mungkin aku capek menangis terus. Mungkin. Entahlah. Aku tertidur. Tertidur.

MATA RAISYA MENGERJAP-KERJAP, saat aku membacakannya dongeng dari sebuah buku cerita: fabel tentang sekumpulan binatang yang bersahabat. Sudah dua hari setelah aku pulang dari rumah sakit. Kini Raisya tidur di atas ranjangku di rumah Surabaya. Mendengar dongeng. Mas Rifki pulang pergi Jombang – Surabaya untuk bisa menengoknya, karena disibukkan oleh urusan pekerjaan.

Kondisi tubuhku masih lemah. Aku belum bisa menggendong anakku sendiri. Untuk mandi pun, Raisya dimandikan oleh Ibu, neneknya sendiri. Jika Raisya menangis karena mengompol, maka Pipit, Ibu, Mbak Heni, Bapak, Mas Ryza ikutan datang. Ikut menggoda, dan mengelus-elus kulitnya yang halus.

Air susuku belum keluar banyak. Beberapa kali aku mencoba menyusuinya sendiri dengan dibantu Ibu. Tapi air susuku sulit keluar, sehingga Raisya menangis keras. Mungkin ia marah. Ia baru diam, setelah diminumi susu dari botol.

Dongeng itu terus kubacakan di bawah temaram lampu bohlam di kamarku.

“Paman Ajah pelan-pelan mengambil kaleng berisi Emut dan sepotong roti dengan belalainya yang panjang…Apa yang terjadi kemudian? Mio dan kawan-kawannya langsung berteriak kegirangan. Emut masih hidup! Ia keluar sambil melambaikan tangan.”

Aku menguap. “Kok Ibu yang jadi ngantuk, ya Dik.”

Aku menengok ke arah Raisya. Matanya masih terbuka, tapi mengerjap-kerjap mau tertidur.

“Ayo, bobo yo, sama Ibu,” kataku.

Mataku sudah mengantuk. Raisya menjadi samar-samar. Aku lelah, dan kulihat Raisya samar-samar juga mulai tertidur. Selamat tidur, anakku sayang. (***)


Catatan:
Tulisan ini khusus saya buat untuk adinda tercita Dwi Rizky Wulandari (Kiki). Seorang dokter muda yang kelak bertekad membuka klinik di desa, setelah menjadi spesialis anak.

Tulisan naratif ini direkonstruksi dari pengalaman penulis saat menanti persalinan sasar Kiki, keterangan Kiki saat menjalani persalinan, dan pengalaman Kiki saat menjalani kehamilan usia tua. Saya menggunakan teknik yang dipakai Norman Mailer, yang memposisikan narator sebagai orang pertama.

2 comments:

Heri M Cahyo said...

kok gak tau diupdate maneh za?

Dewi Aja said...

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)