02 June 2010

Bagaimana Juwariyah akan Dikenang?

Di rumah-rumah mewah, ketika lilin ditiup, dan nyanyian bernada harap agar usia dipanjangkan terdengar, apakah arti panjang umur? Sampai sebatas apa kita ingin menanti ajal mendekat dan menjemput di ujung waktu?

Maka izinkanlah saya bercerita tentang seorang perempuan yang berusia 130 tahun: Juwariyah. Saya tak tahu, apakah ia bisa disebut perempuan tertua di Indonesia. Tapi sejauh ini data Badan Pusat Statistik menyebutnya sebagai yang tertua di Jember.

Dalam usianya itu, wajah Juwariyah jernih. Tatapan matanya tak lamur. Pipinya kendur, tapi giginya tak semua tanggal. Ia tak ingat kapan persisnya dilahirkan, namun ia masih bisa mengingat: "Saya hidup di masa Ratu Wilhelmina dan Juliana."

Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau berkuasa di Kerajaan Belanda sejak 1890 hingga 1948. Juliana Louise Marie Wilhelmina van Oranje-NassaU, anak Wilhelmina, menggantikannya pada tahun 1947.

"Bapak saya Bahrum," kata Juwariyah dalam bahasa Madura. Namun ia berusaha mengingat keras nama ibunya. Juwariyah tak pikun, dan mengurut nama saudara-saudaranya sembari menghitung dengan jemarinya. Ia anak keempat dari tujuh bersaudara.

Juwariyah dilahirkan di Pacitan, namun sudah lama tinggal di Dusun Krajan Desa Karangsono Kecamatan Bangsalsari. Bersama suaminya, Siraj, ia berdagang untuk menyambung hidup, di sebuah masa di mana 'tuan-tuan' berkuasa. Demikianlah Juwariyah menyebut para aparatur kolonial Belanda di masa itu.

Tuan-tuan itu berbuat semaunya. "Sawanun mati di dekat kebun bambu sana. Dibedil sama Tuan." Juwariyah mengenang salah satu tetangganya.

'Tuan-tuan' itu pergi, dan datanglah Nippon. Orang-orang bertubuh pendek seperti dirinya. Dengan bedil pula, Nippon memaksa warga desa menjadi romusha. Tenaga rodi. Juwariyah tak bisa menakar, mana yang lebih kejam antara Nippon dengan Tuan-Tuan. Namun para serdadu Nippon itu memang benar-benar mudah naik darah, bahkan oleh siulan kentut.

"Nenek saya ini pernah bilang, orang-orang yang antre bayaran kerja tak akan dibayar kalau kentut," Munah, cucu Juwariyah, bercerita. Juwariyah ikut tertawa, saat Munah menceritakan itu kembali.

Juwariyah melewati masa-masa kelam di Republik ini dengan selamat, dan merasakan masa-masa di mana Sukarno, Suharto, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono bergantian memimpin. Ia selalu ikut pemilu dengan patuh, walau tak selalu tahu benar, siapa dan partai apa yang dipilihnya. Mungkin ia tak peduli, entahlah. Ia tak mengatakannya. Namun, ia tak tahu siapa presiden Indonesia hari ini. "Kalau Bung Karno, tahu."

Hari ini, usianya sudah 130 tahun. Bahagiakah Juwariyah karena panjang umur? Ia meneteskan air mata menyaksikan suaminya meninggal lebih dulu, tiga puluh lima tahun silam. Ia menyaksikan satu demi satu saudaranya mati, lima anaknya pergi, dan kawan-kawannya tak ada lagi.

Juwariyah tak pernah sakit parah. Saat orang-orang kaya itu dilarikan ke klinik luar negeri, ia hanya diantarkan ke puskesmas oleh cucunya. Kadang kepalanya hanya pusing, kadang pinggangnya sakit. Mungkin encok. Cucunya cemas, dan menangis, Juwariyah akan pergi sebentar lagi. Namun sang perawat klinik hanya tersenyum. "Kenapa menangis? Jantungnya masih kuat."

Seorang pasien dengan nada canda, mungkin kagum, mungkin juga iri, lantas berceletuk: "Mungkin Malaikat lupa, jadi nyawanya tak dicabut."

"Saya apa kata Yang Kuasa. Kalau saya minum obat (bunuh diri) lalu mati, nanti saya berdosa."

Juwariyah hanya menjalani hidup sederhana dan menerima apa adanya. Para tetangga masih memintanya untuk memijat anak-anak mereka yang sakit. Tangan dan jari jemarinya tak sekuat dulu. Namun, para tetangga itu mengharapkan doa dari perempuan tua yang menjalani hari-harinya dengan zuhud. Mereka memberikan beberapa ribu perak sebagai imbalan. Hari ini, ia menunjukkan selembar uang lima ribuan dan selembar sepuluh ribuan yang disimpannya di secarik kain yang dibuntal dan diikatkan di pinggang.

Juwariyah mencintai malam dibanding siang. Tengah malam, ia terjaga, menuju ke bilik mandi yang hanya ditutupi dengan kain kumal. Ia mengucapkan nama Tuhan, dan membiarkan air dingin membasahi tubuhnya. Lalu, ia menunaikan sembahyang. Sendirian. Doanya terdengar keras di keheningan: doa untuk anak-anak dan cucunya.

Fajar menyingsing, Munah membikinkannya segelas kopi hangat dan singkong. Ia menyukai kopi bubuk yang murni. pernah suatu kali dokter melarangnya minum kopi sementara waktu, dan Juwariyah pun menampik. Tiga hari tanpa pekat kafein, Juwariyah berkata kepada Munah yang mencoba menolak permintaannya: "Duh kah, dokternya saja mau mati."

Dalam sunyi, Juwariyah pernah tergoda untuk bertanya: "Kenapa saya masih dipelihara oleh Allah? Kenapa saya belum diambil."

Tak ada yang pernah tahu jawabnya tentu saja. Namun ia berbaik sangka: mungkin Tuhan memang menakdirkannya untuk menyaksikan zaman yang berubah. sang suami pernah berkata kepada Juwariyah: "Kelak kamu akan hidup di masa di mana ada suara tapi tak ada orangnya."

Juwariyah tak tahu apa yang dimaksud sang suami. Namun hari ini, kita tahu, apa yang dimaksudkan sang suami: radio. Dan, mungkin yang tak terpikir oleh sang suami: telpon seluler.

Hari mendekati sore. Senja kala akan datang, dan esok fajar akan datang lagi. Dan Juwariyah masih belum tahu kapan akan mengakhiri senja hidupnya, dan memasuki gelap.

Hari itu Juwariyah sudah 135 tahun hidup. Bagaimana ia akan dikenang jika meninggal dunia? Di mesin pencari Google, saya menemukan pria tertua berusia 155 tahun, dan perempuan tertua berusia 143 tahun. Nama Juwariyah belum terekam, namun ia dan cucu-cucunya agaknya tak peduli itu.

Jadi bagaimana ia akan dikenang? "Ia tidak pernah merepotkan kami, cucu-cucunya. Ia menyayangi semua cucunya. Kalau dia berdoa saat sembahyang, suaranya kedengaran, mendoakan cucu-cucunya," kata Munah. Dan dari Munah pun kita tahu, hanya cinta yang membedakan setiap keping kenangan manusia. [wir]

2 comments:

ekorusdianto said...

Ya senang dengan cerita ini...Sederhana dan indah.

Oh ya, setelah saban malam saya merenung ternyata sampailah aku pada kesimpulan bila manusia adalah generasi, orang adalah para individu.

Juwariyah adalah orang, tapi kenangan dan rekamannya dari orang-orang dan ceritanya kelak dari anak cucu adalah sisi manusianya.

bangrudy said...

Resepnya eyang Juwariyah : beliau selalu mengkonsumsi 'SS'. Bukan sabu-sabu, tapi 'Sabar dan Syukur'.