16 June 2009

Ekonom Unair Dukung Penertiban Minimarket Bodong
Penertiban terhadap minimarket yang tak berizin oleh Pemerintah Kota Surabaya selayaknya dilakukan. Pemkot tidak perlu khawatir penertiban itu akan membuat takut investor.

Berdasar data yang ada, tercatat terdapat 72 titik dari 112 Indomart tak berizin, sedangkan Alfamart tercatat 86 titik dari total 106 titik yang tak berizin di Surabaya. Walikota Surabaya Bambang DH bahkan telah menegur Satpol PP yang belum juga menertibkan minimarket itu. "Secepatnya harus ditertibkan. Karena mereka merugikan pemkot," katanya, beberapa waktu lalu.

Ekonom Universitas Airlangga Suherman Rosyidi menyatakan dukungannya terhadap langkah Pemkot itu. "Mencari makan di kota ini boleh. Yang tidak boleh adalah melanggar aturan. Mart-mart itu kalau memang tidak punya izin dan ditertibkan, saya seratus persen setuju," katanya. Namun menertibkan bukan dalam arti menggusur.

Menurut Suherman, bisa saja langkah tegas Pemkot Surabaya akan berpengaruh terhadap investor. "Bisa saja. Tapi tidak akan besar, karena karena investor bukan hanya mart-mart itu. Tidak sedikit investor yang sudah mapan akan bersyukur, dan mengacungi jempol kepada Pemkot Surabaya," katanya.

Soal pembelaan diri dari minimarket yang menyatakan perizinan di birokrasi terlampau lamban, Suherman tak berani berkomentar banyak. "Watak semua manusia kalau disalahkan akan menuduh sana-sini. Tapi apakah tuduhan itu benar atau tidak, wallahualam (hanya Tuhan yang tahu)," katanya.

Suherman memandang, kehadiran minimarket jangan sampai mematikan toko-toko tradisional. Selama ini, toko-toko tradisional harus berhadapan dengan minimarket, dan akhirnya konsumen cenderung memilih ke minimarket.

"Bayangkan toko-toko itu, malamnya bagaikan siang. Pelayannya mesti bersepatu, berpakaian bagus diajari tersenyum. Konsumen dimanjakan, boleh pilih sendiri barang. Hebat sekali konsepnya. Ya mati klethes (toko tradisional). Yang penting bagaimana itu toko yang bawah tidak mati," kata Suherman.

Ahmad Erani Yustika, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Indonesia (Indef), mengatakan, pertumbuhan hipermart dan retail mencapai 30 persen per tahun. Sementara, pasar tradisional justru tumbuh minus 8 persen per tahun."Ini artinya, sektor ekonomi besar tumbuh dengan jalan mengguncang ekonomi tradisional. Rakyat kecil semakin tergusur," katanya. [wir]

No comments: